| ID ↓ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1672816 | #8960 | PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TYPE GROUP INVESTIGATION UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR GULING BELAKANG |
Ertanti, Dian Noviana Nugroho, Djoko |
Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar guling belakang peserta didik kelas XI-IPS 2 SMA N 2 Surakarta tahun ajaran 2016/2017.Penelitian inimerupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian dilaksanakan dua siklus. Setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas XI-IPS 2 SMA N 2 Surakarta tahun ajaran 2016/2017 yang berjumlas 25 peserta didik. Sumber data adalah peserta didik, guru, dan peneliti. teknik pengumpulan data adalah dengan  observasi dan tes. Validitas data dengan menggunakan teknik trianggulasi. Teknik analisis data menggunakan teknik kualitatif dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam proses pembelajaran.Pelaksanaan tindakan pada  siklus I dan siklus II terjadi proses pembelajaran yang aktif, efektif, efisien, dan menyenangkan sehingga dapat mendukung terjadinya pembelajaran yang berkualitas. Hasil penelitian menunjukkan dari kondisi awal ke siklus I dan dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan persentase ketuntasan. Ketercapaian ketuntasan hasil belajar guling belakang siklus I sebesar 40% atau 10 dari 25 peserta didik dan pada siklus II ketercapaian ketuntasan hasil belajar mencapai 80% atau 20 dari 25 peserta didik, sedangkan 5 peserta didik tidak tuntas sehingga hasil belajar sudah melampaui target capaian yang ditetapkan dalam penelitian ini yaitu 80%. Simpulan penelitian ini adalah melalui model pembelajarana cooperative learning tipe group investigation dapat meningkatkan hasil belajar guling belakang pada peserta didik kelas XI-IPS 2 SMA N 2 Surakarta tahun ajaran 2016/2107.
|
hasil belajar; guling belakang; cooperative learning; group investigation | 2021-05-30 | oai:jurnal.uns.ac.id:article/50549 buka_link ↗ Highlight_link 10.20961/phduns.v14i1.50549 |
| 1672815 | #8960 | Students' mental toughness in physical education in schools: narrative literature review |
Nurfauziyah, Dea Meisya Hambali, Burhan Rahmat, Alit |
This study aims to determine the results of theoretical and practical studies to determine students' mental toughness in physical education at school. A literature search was carried out using Google Scholar, then the article would be further analyzed using the PRISMA method and then identified using the Narrative Literature Review method. The results showed that the mental toughness of men was higher than that of women, while the leadership role of the PJOK teacher had on the mental toughness of students in participating in middle-class sports competitions with a percentage of 72%. It can be concluded that the higher a person's mental resilience, the level of anxiety they tend to have low.
|
Ketangguhan Mental, Pendidikan Jasmani | 2023-11-08 | oai:jurnal.uns.ac.id:article/74568 buka_link ↗ Highlight_link 10.20961/phduns.v20i2.74568 |
| 1672814 | #6191 | Functional, ergonomic, and usability testing of the dental hypnosis monitoring device: Study experimental |
Muttaqin, Akmal Yubiliana, Gilang Suryani, Mira |
ABSTRACTIntroduction: The Dental Hypnosis Monitoring Device (DHMD) is a tool designed to monitor patients' consciousness levels during dental hypnosis, with the aim of reducing anxiety during dental procedures. This study was conducted to evaluate the functionality, ergonomics, and usability of the DHMD through a series of structured tests. This study aims to evaluate the functionality, ergonomics, and usability of the DHMD in relation to patient anxiety during dental treatment procedures. Methods: The research employed a quantitative approach, with functional testing based on Black Box Testing, ergonomic evaluation utilized a Likert-scale questionnaire, and usability testing was performed using the User Experience Questionnaire (UEQ). The study took place at the LADOKGI R.E. Martadinata Dental and Oral Hospital from January to February 2024, involving 11 patients aged 20–58 years as respondents. Results: The Dental Hypnosis Monitoring Device successfully performed its primary functions, including the display of brainwaves, visual output, and audio features, meeting the expectations of all respondents. The ergonomic assessment yielded a feasibility percentage of 84.85%, classified as highly feasible, though some improvements in physical design are still required. The usability test produced excellent scores across most scales, such as attractiveness, efficiency, and clarity, with a comparatively lower score in novelty. Conclusion: The Dental Hypnosis Monitoring Device has demonstrated functionality, ergonomic suitability, and effectiveness in helping to manage patient anxiety during dental treatments. This study recommends further advancements in design and technology to enhance the user experience.KEYWORDS: Dental hypnosis monitoring device (DHMD), dental hypnosis patient anxiety, functional testing, ergonomic testing, usability testingUji Fungsional, ergonomis, dan usabilitas dental hypnosis monitoring device dalam mengelola kecemasan pasien selama prosedur perawatan gigi: Studi experimentalABSTRAK Pendahuluan: Dental Hypnosis Monitoring Device (DHMD) merupakan alat yang dirancang untuk memantau tingkat kesadaran pasien selama hipnosis gigi, bertujuan mengurangi kecemasan pasien pada prosedur perawatan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi fungsionalitas, ergonomis, dan usabilitas DHMD dalam kecemasan pasien selama prosedur perawatan gigi Metode: penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan uji fungsional berbasis Black Box Testing, uji ergonomi melalui kuesioner skala Likert, dan uji usabilitas menggunakan user Experience Questionnaire (UEQ). Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut LADOKGI R.E Martadinata pada Januari-Februari 2024, dengan melibatkan 11 pasien berusia 20-58 tahun sebagai responden. Hasil: Dental Hypnosis Monitoring Device berhasil menampilkan fungsi utama, seperti gelombang otak, visual, dan audio, sesuai harapan ketika digunakan oleh semua responden. Tingkat ergonomi mendapat persentase kelayakan 84,85%, tergolong sangat layak, meskipun masih ada potensi peningkatan pada aspek desain fisik. Sementara itu, uji usabilitas menunjukkan skor ”excellent” pada hampir semua skala, seperti daya tarik, efisiensi, dan kejelasan, dengan skor kebaruan relatif lebih rendah. Simpulan: Dental Hypnosis Monitoring Device terbukti dari aspek fungsional, ergonomis, dan kegunaan dapat membantu pengelolaan kecemasan pasien selama perawatan gigi. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan lebih lanjut pada aspek inovasi desain dan teknologi untuk meningkatkan pengalaman pengguna. KATA KUNCI: Dental hypnosis monitoring device (DHMD), hipnosis gigi, kecemasan pasien, uji fungsional, uji ergonomis, uji usabilitas
|
Dental hypnosis monitoring device (DHMD), hipnosis gigi, kecemasan pasien, uji fungsional, uji ergonomis, uji usabilitas; Dental hypnosis monitoring device (DHMD), dental hypnosis patient anxiety, functional testing, ergonomic testing, usability testing | 2025-06-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/60596 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i1.60596 |
| 1672813 | #6191 | Hubungan antara Persepsi dengan Minat Calon Dokter Gigi terhadap Desain Tata Letak Ruang Klinik Gigi Praktik Swasta (Kajian pada Co-asisten di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Unjani, Cimahi) | Pengaruh persepsi terhadap minat desain tata letak ruang klinik praktik gigi swasta pada mahasiswa profesi dokter gigiThe effect of perception on the interest to the layout design of private dental clinics at dental profession students |
Himawati, Marlin Fadilah, Rina Putri Noer |
ABSTRAK Pendahuluan : Desain tata letak ruang klinik praktik gigi swasta yang menarik dan nyaman merupakan salah satu strategi pemasaran yang bisa menarik pasien dan memberi kepuasan pada pasien. Desain tata letak ruang juga memegang peranan penting dalam efektifitas dan efisiensi kegiatan operasional praktik dokter gigi. Tempat praktik yang terencana dan terorganisasi dengan baik akan membuat para pekerja melakukan aktivitas seminimal mungkin, efisien, dan tanpa stress. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi dengan minat calon dokter gigi terhadap desain tata letak ruang klinik praktik gigi swasta. Metode : Penelitian merupakan penelitian survei dengan menggunakan rancangan cross sectional, subjek penelitian berjumlah 100 orang calon dokter gigi, yang diambil secara purposif. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner dengan metode Likert, yang telah memenuhi uji validitas (nilai korelasi ≥0,30) dan reliabilitas (α>0,60). Kuesioner diperlukan untuk mengukur persepsi dan minat terhadap desain tata letak ruang klinik praktik gigi swasta. Analisis data dengan menggunakan analisis univariat, korelasi product moment dan regresi. Hasil : Rerata persepsi calon dokter gigi di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Unjani, Cimahi terhadap desain tata letak ruang klinik gigi adalah 26,96 (kategori tinggi), sedangkan rerata minat calon dokter gigi sebesar 33,23 (kategori tinggi). Hasil dari uji korelasi menunjukkan ada hubungan antara persepsi dengan minat calon dokter gigi terhadap desain tata letak ruang klinik praktik gigi swasta dengan p=0,00. Analisis dilanjutkan dengan uji regresi dan didapatkan persamaan linear berupa Y = 12,068 + 0,785X. Simpulan : terdapat hubungan antara persepsi dengan minat calon dokter gigi terhadap desain tata letak ruang klinik praktik gigi swasta. | Pendahuluan: Desain tata letak ruang klinik praktik gigi swasta yang menarik dan nyaman merupakan salah satu strategi pemasaran yang bisa menarik pasien dan memberi kepuasan pada pasien. Desain tata letak ruang juga memegang peranan penting dalam efektifitas dan efisiensi kegiatan operasional praktik dokter gigi. Tempat praktik yang terencana dan terorganisasi dengan baik akan membuat para pekerja melakukan aktivitas seminimal mungkin, efisien, dan tanpa stress. Tujuan penelitian menganalisis pengaruh persepsi terhadap minat desain tata letak ruang klinik praktik gigi swasta mahasiswa profesi dokter gigi. Metode: Jenis penelitian cross-sectional. Subjek penelitian 100 orang mahasiswa profesi dokter gigi, yang diambil secara purposive. Kriteria inklusi sampel adalah memiliki waktu dan bersedia menjadi responden melalui informed consent, dan sudah menjadi co-ass di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Jenderal Achmad Yani lebih dari 6 bulan. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner dengan metode Likert, dan telah memenuhi uji validitas (nilai korelasi=0,308-0,713) dan reliabilitas (α=0,760). Analisis data dengan menggunakan univariat, korelasi Pearson dan regresi. Hasil: Rerata persepsi mahasiswa profesi dokter gigi terhadap desain tata letak ruang klinik gigi adalah 26,96 (kategori tinggi), sedangkan rerata minat mahasiswa profesi dokter gigi sebesar 33,23 (kategori tinggi). Hasil uji korelasi menunjukkan terdapat korelasi antara persepsi dengan minat mahasiswa profesi dokter gigi terhadap desain tata letak ruang klinik praktik gigi swasta dengan p=0,001. Analisis dilanjutkan dengan uji regresi dan didapatkan persamaan linear berupa Y=12,068 + 0,785X. Simpulan: Terdapat pengaruh persepsi terhadap minat desain tata letak ruang klinik praktik gigi swasta mahasiswa profesi dokter gigi.Kata kunci: mahasiswa profesi dokter gigi; desain tata letak ruang; minat; persepsi ABSTRACT Introduction: An attractive and comfortable private dental clinic layout design is one of the marketing strategies that can attract and satisfy patients. Room layout design also plays an essential role in the effectiveness and efficiency of dental practice activities. A well-planned and well-organised place will allow practitioners and teams to perform activities minimally, efficiently, and in no stressful manner. This study aimed to analyse the effect of perception on the interest to the layout design of private dental clinics at dental profession students. Methods: A cross-sectional was conducted on 100 dental profession students, which were taken purposively as samples. The inclusion criteria for the sample had spare time and willingly participating as respondents, stated through informed consent, and has been a co-ass at the Jenderal Achmad Yani University Dental Hospital (RSGM Unjani) for more than six months. The measuring instrument used was a questionnaire with the Likert scale, which has met the validity (correlation value = 0.308-0.713) and reliability (α = 0.760) tests. Data analysis were performed using univariate, Pearson correlation, and regression. Results: The average perception of dental profession students on the layout design of the dental clinic was 26.96 (high category), while the average interest was 33.23 (high category). The correlation test results showed a relationship between perception and interest of dental profession students on the layout design of private dental clinics with p = 0.001. The analysis continued with the regression test and obtained a linear equation of Y = 12.068 + 0.785X. Conclusions: There is an effect of perception on the interest to the layout design of private dental clinics at dental profession students.Keywords: dental profession students; room layout design; interest; perception
|
Kata kunci: calon dokter gigi, desain tata letak ruang, minat, persepsi mahasiswa profesi dokter gigi; desain tata letak ruang; minat; persepsi; dental profession students; room layout design; interest; perception | 2022-02-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/36647 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i1.36647 |
| 1672812 | #6191 | General Dentist's knowledge in determining radiodiagnosis of lucent lesions through panoramic radiography: Study descriptive |
Rahmadona, Suci Epsilawati, Lusi Damayanti, Merry Annisa Jasrin, Tadeus Arufan Susilawati, Sri Zakiawati, Dewi |
ABSTRACT Introduction: Radiology in dentistry plays an important role in diagnosis and treatment planning through radiographic examinations, such as panoramic radiography which provides a broad view of the bone and tooth structure. Mistakes in radiographic interpretation can lead to misdiagnosis, as shown by previous study which found a high percentage of misdiagnosis by practitioners. The aim of this study was to determine whether general dentists were able to interpret properly and correctly. Methods: This type of research was descriptive with a convenience sampling technique. The study was conducted on 96 general dentists using an instrument in the form of a questionnaire with 15 questions. Results: Based on the distribution of respondents, the majority were women domiciled outside the city of Bandung, most of whom worked in independent clinics (24,8%) and hospitals (21,4%). A total of 57 respondents (59,4%) were at the level of knowledge with a good category, then 36 people (37,5%) were in the sufficient category, and 3 people (3,1%) were in the less category; (4) Conclusions: The level of knowledge of general dentists in identifying the characteristics of lucent lesions is classified as good, but the ability to determine radiodiagnosis and differential radiodiagnosis is still lacking. Overall, the results of the study showed that the level of general dentists’ knowledge is categorized as adequate, with an average score of 10,8.KEY WORDS: Knowledge, radiodiagnosis, general dentist, lucent lesions, panoramic radiography Pengetahuan dokter gigi umum dalam menentukan radiodiagnosis lesi lusen melalui radiografi panoramik: deskriptif kualitatifABSTRAK Pendahuluan: Ilmu radiologi dalam kedokteran gigi berperan penting dalam diagnosis dan perencanaan perawatan melalui pemeriksaan radiografi, seperti radiografi panoramik yang memberikan gambaran luas struktur tulang dan gigi. Kesalahan dalam interpretasi radiografi dapat menyebabkan diagnosis yang keliru, sebagaimana ditunjukkan oleh peneliti sebelumnya yang menemukan persentase kesalahan diagnosis oleh praktisi cukup tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah dokter gigi umum sudah dapat melakukan interpretasi dengan baik dan benar. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan teknik pengambilan sampel convenience sampling. Penelitian dilakukan pada 96 dokter gigi umum menggunakan instrumen berupa kuesioner dengan 15 butir pertanyaan. Hasil: Berdasarkan distribusi responden, mayoritasnya merupakan perempuan dengan domisili di luar Kota Bandung yang sebagian besarnya bekerja pada klinik mandiri (24,8%) dan rumah sakit (21,4%). Sebanyak 57 responden (59,4%) berada pada tingkat pengetahuan dengan kategori baik lalu sebanyak 36 orang (37,5%) dengan kategori cukup, serta 3 orang (3,1%) dengan kategori kurang. Simpulan: Tingkat pengetahuan dokter gigi umum dalam mengidentifikasi karakteristik lesi lusen tergolong baik, tetapi kemampuan dalam menentukan radiodiagnosis dan radiagnosis banding masih kurang. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dokter gigi umum dikategorikan cukup dengan rerata perolehan nilai berada pada 10,8. KATA KUNCI: Pengetahuan, radiodiagnosis, dokter gigi umum, lesi lusen, radiografi panoramik
|
Pengetahuan, radiodiagnosis, dokter gigi umum, lesi lusen, radiografi panoramik, Knowledge, radiodiagnosis, general dentist, lucent lesions, panoramic radiography | 2025-06-15 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/62976 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i2.62976 |
| 1672811 | #6191 | Effect of mixed water and methanol solvents ratio on the CaCO3 characteristics via fine bubble diffuser as a dental biomaterial |
Febrida, Renny Ramadhan, Muhammad Farhan Karlina, Elin Andiesta, Niekla Survia |
ABSTRACTIntroduction: The application of calcium carbonate in dental biomaterial depends on the charcateristics after the synthesis process. This study aims to determine the effect of the ratio of methanol and water on the characteristics of the CaCo3 produced through the fine bubble diffuser method. Methods: Synthesis of calcium carbonate by CO2 carbonation method using fine bubble diffuser to produce fine CO2 bubbles (bubble size range 100-500 nm). The Ca(OH)2 precursor was dissolved in various ratios of water and methanol mixtures, namely: 25% water 75% methanol, 20% water 80% methanol, 15% water 85% methanol, 10% water 90% methanol, 5% water 95% methanol, and 100% methanol. The suspension was carbonated using CO2 fine bubbles for 2 hours to produce CaCO3 powder. The resulting calcium carbonate powder was tested with FTIR (Fourier Transform Infra Red), PSA (Particle Size Analyzer), and Zeta-Potential. Results: The FTIR test obtained the wave numbers of calcite (712 cm-1), vaterite (744, 873, 874, and 875 cm-1) and aragonite (848, 849, and 854 cm-1) phases in the six variations of the solvent used. The PSA test showed that the particle size produced was submicron with the smallest size being 191.1 nm and the largest being 576.2 nm. The ZetaPotential test showed that the particles were relatively stable in solution with a Zeta-Potential value range of -15.1 mV to -20.8 mV and particles with moderate stability -21.2 mV to -25.1 mV. Conclusion: The addition of the organic solvent methanol to water increases the solubility of CaOH and increases the formation of the vaterite phase. Increasing the amount of water decreases the amount of vaterite phase, increasing the particle size and zeta potential value. but the addition of 15% water decreases the particle size of CaCO3 KEY WORDSCaCO3, fine bubble diffuser, FTIR, PSA, zeta potential Pengaruh perbandingan campuran pelarut air dan metanol terhadap karakteristik CaCO3 melalui metode fine bubble diffuser sebagai biomaterial kedokteran gigiABSTRAKPendahuluan: Kalsium karbonat (CaCO3) merupakan salah satu sumber kalsium yang umum digunakan di bidang biomaterial kedokteran gigi. Aplikasi kalsium karbonat tergantung dari fasa dan ukuran partikelnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan metanol dan air terhadap karakteristik CaCO3 yang dihasilkan melalui metode fine bubble diffuser. Metode: Prekursor Ca(OH)2 dilarutkan dengan berbagai variasi campuran pelarut air dan metanol, yaitu: 25% air 75% metanol, 20% air 80% metanol, 15% air 85% metanol, 10% air 90% metanol, 5% air 95% metanol, dan 100% metanol. Suspensi Ca(OH)2 dikarbonasi menggunakan gelembung halus CO2 selama 2 jam untuk menghasilkan bubuk CaCO3. Bubuk CaCO3 yang dihasilkan diuji dengan FTIR (Fourier Transform Infra Red), PSA (Particle Size Analyzer), dan ZetaPotential. Hasil: Uji FTIR didapatkan bilangan gelombang fasa kalsit (712 cm-1 ), vaterit (744, 873, 874, dan 875 cm-1 ) dan aragonit (848, 849, dan 854 cm-1 ) pada keenam variasi pelarut yang digunakan. Uji PSA didapatkan ukuran partikel terkecil 191,1 nm dan terbesar 576,2 nm. Partikel relatif stabil dalam larutan berdasarkan Uji Zeta-Potential (-15,1 mV sampai -17,8 mV) dan stabilitas moderat (-20,8 mV sampai -25,1 mV). Simpulan: Penambahan pelarut organik methanol pada pelarut air meningkatkan kelarutan CaOH dan meningkatkan pembentukan fasa vaterite. peningkatan jumlah air menurunkan jumlah fasa vaterite, meningkatkan ukuran partikel dan nilai zeta potensial. namun pada penambahan 15% air dan seterusnya menurunkan ukuran partikel CaCO3. KATA KUNCI CaCO3, fine bubble diffuser, FTIR, PSA, zeta potential
|
Kalsium karbonat, fine bubble, FTIR, PSA, zeta potensial | 2023-03-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40418 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i1.40418 |
| 1672810 | #6191 | Jarak Sella tursica-Nasion-titik A (SNA) berdasarkan kelompok usia pada populasi Indonesia menggunakan radiografi sefalometri |
Rahimi, Mohammad Epsilawati, Lusi Suhardjo, Suhardjo |
AbstrakPendahuluan: Kebutuhan perawatan gigi seperti perawatan ortodonti makin diperlukan masyarakat. Untuk mencapai perawatan maksimal, diperlukan perencanaan sebelum memulai perawatan. Salah satu bentuk perencanaan adalah dengan menganalisa titik-titik yang telah disetujui menjadi Landmarks pada tengkorak, maksila maupun mandibula. Sella tursica-Nasion-titik A (SNA) merupakan salah satu pengukuran yang digunakan dari sekian banyak landmarks untuk menganalisa pertumbuhan tulang melalui radiografi sefalometri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa jarak SNA pada populasi Indonesia berdasarkan kelompok usia dan jenis kelamin dengan menggunakan radiografi sefalometri. Metode: Jenis penelitian adalah deskripsi. Populasi penelitian adalah semua data radiografi sefalometri dari tahun 2015-2016 dimana sampel yang terpilih berjumlah 60 orang dengan pembagian kelompok usia 18-25 tahun, 26-35 tahun dan 36-40 tahun dan masing-masing kelompok usia berjumlah 20 data. Hasil: penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata (χ mm) dari jarak SNA berdasarkan kelompok usia 18-25 tahun adalah 113.9 mm, kelompok usia 26-35 tahun bernilai 112.6 mm dan kelompok usia 36-40 tahun adalah 115.7 mm. Simpulan: Nilai SNA pada tiga kelompok usia terdapat perubahan pertumbuhan dimana nilai maksimal diperoleh pada usia 36-40 tahun serta jarak SNA pada pria terjadi lebih banyak pada ketiga kelompok usia.Kata kunci: Jarak Sella tursica-Nasion-titik A/SNA, usia, radiografi sefalometri, populasi Indonesia
|
Jarak Sella tursica-Nasion-titik A/SNA, usia, radiografi sefalometri, populasi Indonesia | 2017-10-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22296 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v1i1.22296 |
| 1672809 | #6191 | Denture patient’s dental anxiety level during the COVID-19 at RSGM Unpad: cross-sectional study |
Syarif, Siti Nur Aulia Damayanti, lisda Rosadi, Valentine |
ABSTRACT Introduction: Dental anxiety is a condition that dentists have faced for a long time. The COVID-19 pandemic was known to have increased dental anxiety in patients, leading to delays in treatment. According to Riskesdas (2018), the rate of tooth loss in Indonesia reached 51.8%. Denture treatment became an option to overcome cases of tooth loss. Dental anxiety was an influential factor in the success of denture treatment. This study aimed to provide an overview of the dental anxiety level of denture patients at RSGM Unpad during the COVID-19 pandemic. Methods: This research was quantitative descriptive research with a cross-sectional design. The sampling technique was simple random sampling. The research instrument was in the form of a questionnaire given online to denture care patients at RSGM Unpad during the COVID-19 pandemic in the period June 2021-June 2022. Result: The number of patients who met the study criteria was 567, and 85 patients were willing to be respondents. The results showed that 92.9% of patients had been vaccinated first in this period. The data showed 56 (65.9%) respondents felt mild anxiety, 23 (27.1%) felt moderate anxiety, and 6 (7%) felt severe anxiety. In the category of moderate and severe anxiety, the number of women was higher than that of men. Conclusion: The majority of dental anxiety experienced by denture care patients at RSGM Unpad was in the mild anxiety category. The causes of anxiety among the patients during the denture treatment process include the use of different materials during the manufacturing process, the fact that the dentures does not fit when used by the patients, and feeling nauseous during molding. The cost factor became the primary reason that discouraged patients from using dentures.KEY WORDS: Dental anxiety, denture, COVID-19Tingkat kecemasan pasien perawatan gigi tiruan saat pandemi COVID-19: Studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Kecemasan pasien merupakan kondisi yang sudah dihadapi oleh dokter gigi sejak lama. Terjadinya pandemi COVID-19 diketahui meningkatkan kecemasan pada pasien hingga penundaan perawatan. Menurut Riskesdas (2018) angka kehilangan gigi di Indonesia mencapai 51,8%. Perawatan gigi tiruan menjadi pilihan untuk menangani kasus kehilangan gigi. Kecemasan menjadi faktor yang berpengaruh dalam keberhasilan perawatan gigi tiruan. Studi ini bertujuan untuk melihat tingkat kecemasan pasien perawatan gigi tiruan saat pandemi COVID-19. Metode: Penelitian ini berjenis deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang diberikan secara daring kepada pasien perawatan gigi tiruan RSGM Unpad saat pandemi COVID-19 dalam periode Juni 2021-Juni 2022. Hasil: Sebanyak 92,9% pasien sudah vaksinasi pertama di periode ini. Data menunjukkan 56 (65,9%) responden merasakan kecemasan kategori ringan, 23 (27,1) kategori kecemasan sedang, dan 6(7%) kategori kecemasan berat. Pada kategori kecemasan sedang dan berat lebih banyak diisi oleh perempuan dibanding laki-laki. Simpulan: Kecemasan yang dialami pasien perawatan gigi tiruan mayoritas berada pada kategori kecemasan ringan. Penyebab pasien merasa cemas selama proses perawatan gigi tiruan meliputi, penggunaan bahan yang berbeda-beda saat proses pembuatan, gigi tiruan tidak pas saat digunakan oleh pasien, dan merasa mual saat pencetakan. Faktor biaya menjadi alasan tertinggi yang menghambat pasien untuk menggunakan gigi tiruanKATA KUNCI: Kecemasan dental, gigi tiruan, COVID-19
|
Kecemasan dental, gigi tiruan, COVID-19, Dental anxiety, denture, COVID-19 | 2023-11-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/48121 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i3.48121 |
| 1672808 | #6191 | Hubungan antara stres dengan gangguan sendi temporomandibula pada mahasiswa program profesi kedokteran gigiThe relationship between stress and temporomandibular joint disorders in dental profession students |
Husada, Laurensia Ericka susiana, Susiana Theresia, Ellen |
Pendahuluan: Gangguan pada sendi rahang (temporomandibular joint) yang sering disebut sebagai temporomandibular joint disorders (TMD) atau craniomandibular disorders (CMD) sampai sekarang masih belum banyak terungkap. Penyebab TMD multifaktorial, tidak hanya disebabkan oleh satu penyebab.2 Pertes et al menyatakan penyebab utama TMD adalah trauma, stres emosional dan penyakit sistemik. Stres dapat menyebabkan perubahan pada tubuh berupa peningkatan aktivitas otot (hiperaktivitas). Hiperaktivitas yang berlangsung lama dan terus – menerus akan memicu kelelahan otot termasuk otot di sekitar TMJ. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara stres dengan gangguan sendi temporomandibula pada mahasiswa program profesi kedokteran gigi. Metode: Penelitian ini merupakan analisis data yang digunakan yaitu analisis korelasi untuk menguji hubungan stres dengan gangguan sendi temporomandibula. Hasil: Penelitian ini pada 107 mahasiswa program profesi kedokteran gigi yang terdiri dari kelompok yang mengalami gangguan sendi temporomandibular sebesar 58,8% (63 orang). Karakteristik responden yang memiliki stres kategori sedang dengan presentase 96,8%. Analisis statistik korelasional dengan α sebesar 5%, pada hubungan gejala stres dengan gangguan sendi temporomandibula menyatakan bahwa H1 dapat diterima yang berarti terdapat hubungan antara stres dengan gangguan sendi temporomandibula. Simpulan: Terdapat hubungan antara stres terhadap gangguan sendi temporomandibula.Kata kunci: Kelainan sendi temporomandibula, stres, mahasiswa program profesi kedokteran gigi. ABSTRACTIntroduction: Temporomandibular joint disorders which are often referred to as temporomandibular joint disorders (TMD) or craniomandibular disorders (CMD) have not yet been discovered. The causes of TMD is multifactorial, not only caused by one cause. The main causes of TMD are trauma, emotional stress and systemic disease. Stress can cause changes in the body in the form of increased muscle activity (hyperactivity). Hyperactivity that lasts a long time and continuously will trigger muscle fatigue, including muscles around TMJ. The purpose of this study was to analyse the relationship between stress and temporomandibular joint disorders in dental profession students. Methods: This study was an analysis of data used which was correlation analysis to examine the relationship of stress with temporomandibular joint disorders. Results: The study was conducted on 107 dental professions student consisted of 58.8% of temporomandibular joint disorders (63 people) — characteristics of respondents with moderate stress category with a percentage of 96.8%. Correlational statistical analysis with α of 5%, the relationship between stress symptoms and temporomandibular joint disorders stated that H1 was acceptable, which means that there was a relationship between stress and temporomandibular joint disorders. Conclusion: There was a relationship between stress and temporomandibular joint disorders.Keywords: Temporomandibular joint disorders, stress, dental profession students.
|
Kata kunci : Kelainan Sendi Temporomandibula, stres, dokter gigi muda | 2019-11-09 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21891 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i2.21891 |
| 1672807 | #6191 | Frequency distribution of hypocalcification on permanent teeth in people with down syndrome at POTADS bandung foundation: A cross-sectional study | Frequency distribution of hypocalcification on permanent teeth in people with down syndrome at POTADS bandung foundation: A cross-sectional study |
Budiman, Amelia Ambarwati Andisetyanto, Prima Soewondo, Willyanti |
Introduction: Down Syndrome (Trisomy 21) is a genetic disorder, namely the presence of an extra chromosome on chromosome 21. Abnormalities in people with Down Syndrome can influence various factors and have distinctive physical characteristics, one of which is dental anomalies, including abnormalities in the structure of tooth enamel, enamel hypocalcification. The aim of this study was to determine the frequency distribution of hypocalcification of permanent teeth in people with Down Syndrome. Methods: This research uses descriptive methods with cross-sectional survey techniques. Subjects were obtained using the accidental sampling method, resulting in 30 children with Down Syndrome from POTADS Foundation, consisting of 13 boys and 17 girls. All children had been diagnosed with Down Syndrome by a pediatrician. Enamel hypocalcification is an abnormality in the structure of the enamel, characterized by the presence of opaque to whitish and brownish spots. Examination of enamel hypocalcification can be done through clinical examination with sufficient lighting. Data analysis used frequency dstribution. Results: The frequency of enamel hypocalcification on permanent teeth of people with Down Syndrome was 33.33%; consisting of 26.67% in central incisors, 3.33% in first molars, and 3.33% in central incisors and first molars. Distribution by gender showed 13.33% in boys and 20% in girls, based on age 3.33% at 7 years, 6.67% at 11 years, 3.33% at 12 years, 3.33% at 13 years, 3.33% at 14 years, 6.67% at 17 years, 3.33% at 21 years, and 3.33% at 22 years. Conclusions: The frequency distribution of enamel hypocalcification in the permanent teeth of individuals with Down Syndrome in Bandung was 33.33%. Hypocalcification was most common in central incisors and more prevalent in women.Distribusi frekuensi hipokalsifikasi gigi tetap pada penyandang sindrom down: studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Sindrom Down (Trisomi 21) merupakan kelainan genetik yaitu adanya kromosom ekstra pada kromosom 21. Kelainan pada penyandang Sindrom Down dapat memengaruhi berbagai faktor dan memiliki ciri fisik yang khas, salah satunya adalah anomali gigi, termasuk kelainan struktur email gigi yaitu hipokalsifikasi email. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi frekuensi hipokalsifikasi gigi tetap pada penyandang Sindrom Down. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik survei cross-sectional. Subjek yang diperoleh dengan metode accidental sampling menghasilkan sebanyak 30 anak penyandang Sindrom Down dari Yayasan POTADS, terdiri dari 13 laki-laki dan 17 perempuan. Anak penyandang Sindrom Down adalah anak yang telah didiagnosis mengalami Sindrom Down oleh dokter anak. Hipokalsifikasi email merupakan kelainan struktur email yaitu adanya bercak tidak tembus cahaya, buram sampai berwarna keputihan, dan berwarna kecoklatan. Pemeriksaan hipokalsifikasi email dapat dilakukan melalui pemeriksaan klinis dengan pencahayaan yang cukup. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi. Hasil: Frekuensi hipokalsifikasi email pada gigi tetap penyandang Sindrom Down sebesar 33,33%; terdiri dari 26,67% pada gigi insisivus sentral, 3,33% pada gigi molar pertama, dan 3,33% pada gigi insisivus sentral dan molar pertama. Berdasarkan jenis kelamin 13,33% pada laki-laki dan 20% pada perempuan, berdasarkan usia 3,33% pada 7 tahun, 6,67% pada 11 tahun, 3,33% pada 12 tahun, 3,33% pada 13 tahun, 3,33% pada 14 tahun, 6,67% pada 17 tahun, 3,33% pada 21 tahun, dan 3,33% pada 22 tahun. Simpulan: Distribusi frekuensi hipokalsifikasi email pada gigi tetap penyandang Sindrom Down sebesar 33,33%, Hipokalsifikasi paling banyak terjadi pada gigi insisivus sentral dan lebih banyak terjadi pada penderita berjenis kelamin perempuan. | ABSTRACTIntroduction: Down Syndrome (Trisomy 21) is a genetic disorder, namely the presence of an extra chromosome on chromosome 21. Abnormalities in people with Down Syndrome can influence various factors and have distinctive physical characteristics, one of which is dental anomalies, including abnormalities in the structure of tooth enamel, enamel hypocalcification. The aim of this study was to determine the frequency distribution of hypocalcification of permanent teeth in people with Down Syndrome. Methods: This research uses descriptive methods with cross-sectional survey techniques. Subjects were obtained using the accidental sampling method, resulting in 30 children with Down Syndrome from POTADS Foundation, consisting of 13 boys and 17 girls. All children had been diagnosed with Down Syndrome by a pediatrician. Enamel hypocalcification is an abnormality in the structure of the enamel, characterized by the presence of opaque to whitish and brownish spots. Examination of enamel hypocalcification can be done through clinical examination with sufficient lighting. Data analysis used frequency dstribution. Results: The frequency of enamel hypocalcification on permanent teeth of people with Down Syndrome was 33.33%; consisting of 26.67% in central incisors, 3.33% in first molars, and 3.33% in central incisors and first molars. Distribution by gender showed 13.33% in boys and 20% in girls, based on age 3.33% at 7 years, 6.67% at 11 years, 3.33% at 12 years, 3.33% at 13 years, 3.33% at 14 years, 6.67% at 17 years, 3.33% at 21 years, and 3.33% at 22 years. Conclusions: The frequency distribution of enamel hypocalcification in the permanent teeth of individuals with Down Syndrome in Bandung was 33.33%. Hypocalcification was most common in central incisors and more prevalent in women.Distribusi frekuensi hipokalsifikasi gigi tetap pada penyandang sindrom down: studi cross-sectionalABSTRAK Pendahuluan: Sindrom Down (Trisomi 21) merupakan kelainan genetik yaitu adanya kromosom ekstra pada kromosom 21. Kelainan pada penyandang Sindrom Down dapat memengaruhi berbagai faktor dan memiliki ciri fisik yang khas, salah satunya adalah anomali gigi, termasuk kelainan struktur email gigi yaitu hipokalsifikasi email. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi frekuensi hipokalsifikasi gigi tetap pada penyandang Sindrom Down. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik survei cross-sectional. Subjek yang diperoleh dengan metode accidental sampling menghasilkan sebanyak 30 anak penyandang Sindrom Down dari Yayasan POTADS, terdiri dari 13 laki-laki dan 17 perempuan. Anak penyandang Sindrom Down adalah anak yang telah didiagnosis mengalami Sindrom Down oleh dokter anak. Hipokalsifikasi email merupakan kelainan struktur email yaitu adanya bercak tidak tembus cahaya, buram sampai berwarna keputihan, dan berwarna kecoklatan. Pemeriksaan hipokalsifikasi email dapat dilakukan melalui pemeriksaan klinis dengan pencahayaan yang cukup. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi. Hasil: Frekuensi hipokalsifikasi email pada gigi tetap penyandang Sindrom Down sebesar 33,33%; terdiri dari 26,67% pada gigi insisivus sentral, 3,33% pada gigi molar pertama, dan 3,33% pada gigi insisivus sentral dan molar pertama. Berdasarkan jenis kelamin 13,33% pada laki-laki dan 20% pada perempuan, berdasarkan usia 3,33% pada 7 tahun, 6,67% pada 11 tahun, 3,33% pada 12 tahun, 3,33% pada 13 tahun, 3,33% pada 14 tahun, 6,67% pada 17 tahun, 3,33% pada 21 tahun, dan 3,33% pada 22 tahun. Simpulan: Distribusi frekuensi hipokalsifikasi email pada gigi tetap penyandang Sindrom Down sebesar 33,33%, Hipokalsifikasi paling banyak terjadi pada gigi insisivus sentral dan lebih banyak terjadi pada penderita berjenis kelamin perempuan.
|
sindrom down, kelainan struktur email, hipokalsifikasi email pada gigi tetap sindrom down, kelainan struktur email, hipokalsifikasi email pada gigi tetap | 2024-06-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/54130 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i2.54130 |
| 1672806 | #6191 | Efek pemberian seduhan kopi robusta (Coffea canephora) terhadap jumlah sel makrofag dan limfosit pada model tikus periodontitis kronisThe effect of brewed robusta coffee (Coffea canephora) on macrophage and lymphocyte cells in rat model of chronic periodontitis |
Prasetya, Rendra Chriestedy Praharani, Depi Fatimatuzzahro, Nadie Ermawati, Tantin Tsalats, Favinas Octa Nuri |
Pendahuluan: Periodontitis merupakan penyakit peradangan yang terjadi pada jaringan pendukung gigi dengan prevalensi tertinggi. Porphyromonas gingivalis merupakan bakteri utama penyebab periodontitis. Pada proses inflamasi terjadi infiltrasi sel mononuklear, yaitu makrofag dan limfosit. Makrofag dan limfosit adalah sel yang berperan penting dalam pertahanan tubuh terhadap patogen selama inflamasi, tetapi apabila makrofag dan limfosit teraktivasi secara berlebihan justru dapat menyebabkan kerusakan jaringan. Salah satu bahan alami yang dapat bertindak sebagai anti-inflamasi adalah kopi Robusta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh seduhan kopi Robusta terhadap jumlah sel makrofag dan limfosit pada tikus model periodontitis. Metode: Jenis penelitian eksperimen laboratorium, menggunakan 20 ekor tikus yang dibagi menjadi 5 kelompok secara acak yaitu kelompok kontrol (K); kelompok tikus yang diinduksi Porphyromonas gingivalis (P5-A); kelompok tikus yang diinduksi Porphyromonas gingivalis dan diberi seduhan kopi robusta (P5-B) dieutanasia pada hari ke-19; kelompok tikus yang diinduksi Porphyromonas gingivalis (P7-A); kelompok tikus yang diinduksi Porphyromonas gingivalis dan diberi seduhan kopi robusta (P7-B) dieutanasia pada hari ke-21. Seduhan kopi robusta yang diberikan sebanyak 3,6 ml selama 14 hari. Pemrosesan jaringan dan pewarnaan HE dilakukan pada preparat rahang bawah. Penghitungan makrofag dan limfosit pada area sekitar tulang alveolar bukal M1 bawah, kemudian dilakukan analisis statistik one-way ANOVA. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan jumlah sel makrofag dan limfosit antara kelompok kontrol dibandingkan kelompok perlakuan (p<0,05); tidak terdapat perbedaan yang siginifikan (p>0,05) jumlah sel limfosit diantara kelompok perlakuan (P5-A,P5-B,P7-A dan P7-B). Simpulan: Seduhan kopi robusta dapat mengurangi jumlah sel makrofag dan limfosit pada model tikus periodontitis.Kata kunci: Seduhan kopi robusta, makrofag, limfosit, periodontitis. ABSTRACTIntroduction: Periodontitis is an inflammatory disease that occurs in tooth-supporting tissues with a high prevalence. Porphyromonas gingivalis is the primary bacteria that cause periodontitis. In the inflammatory process, mononuclear cell, such as macrophages and lymphocytes, infiltrate. Macrophages and lymphocytes play an essential role in the body’s defence against pathogens during inflammation. However, excessively activated macrophages and lymphocytes can cause tissue damage. One of the natural ingredients that can act as an anti-inflammatory is Robusta coffee. This study was aimed to analyse the effect of brewed Robusta coffee on the number of macrophage and lymphocyte cells in the chronic periodontitis rat model. Methods: This research was a laboratory experiment towards 20 rats, which were randomly divided into five groups: the control group (K); group of mice induced by Porphyromonas gingivalis (P5-A); group of mice induced by Porphyromonas gingivalis and administered with brewed robusta coffee (P5-B), euthanised on the 19th day 19; group of mice induced by Porphyromonas gingivalis (P7-A); group of mice induced by Porphyromonas gingivalis and administered with brewed robusta coffee (P7-B), euthanised on the 21st day. Brewed robusta coffee was administered for as much as 3.6 ml during 14 days. Tissue processing and HE staining were performed on the mandibular preparations—calculation of macrophages and lymphocytes in the area around the lower M1 buccal alveolar. The results were then analysed with one-way ANOVA. Results: There was a significant difference in the number of macrophages and lymphocytes between the control and the treatment group (p<0.05). However, there was no significant difference (p>0.05) found in the number of lymphocytes between all treatment groups (P5-A, P5-B, P7-A, and P7-B). Conclusion: Brewed Robusta coffee can reduce the number of macrophage and lymphocyte cells in the chronic periodontitis rat model.Keywords: Brewed Robusta coffee, macrophage, lymphocyte, periodontitis.
|
seduhan kopi robusta; makrofag; limfosit; periodontitis; brewed Robusta coffee; macrophage; lymphocyte | 2021-04-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28591 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i1.28591 |
| 1672805 | #6191 | Prevalensi hiperpigmentasi gingiva pada pasien perokok di klinik periodonsia RSGM FKG Unpad |
Faruchy, Annisa Ghea Komara, Ira Pribadi, Indra Mustika Setia |
Pendahuluan: Hiperpigmentasi gingiva merupakan pewarnaan pada gingiva berupa warna kecoklatan atau kehitaman berbentuk unit soliter atau pita bersambung yang berasal dari granula melanin yang diproduksi oleh sel-sel melanoblas, yang dapat disebabkan oleh faktor endogen dan faktor eksogen. Salah satu penyebab terjadinya hiperpigmentasi gingiva adalah merokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi hiperpigmentasi gingiva pada pasien perokok di klinik Periodonsia RSGM FKG Unpad. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif potong lintang dengan jumlah sampel sebanyak 49 orang. Subjek penelitian yang memenuhi kriteria ditanya beberapa pertanyaan mengenai kebiasaan merokoknya kemudian diperiksa keadaan gingivanya dan ditentukan klasifikasi hiperpigmentasi gingivanya bedasarkan klasifikasi Hedin. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar subjek penelitian mengkonsumsi rokok 1-10 batang per hari dan telah merokok lebih dari 10 tahun. Jenis rokok yang banyak dikonsumsi oleh subjek dalam penelitian ini adalah rokok kretek. Nilai hiperpigmentasi gingiva dengan jumlah terbanyak adalah 4, dan jumlah terkecil adalah 0. Simpulan: prevalensi hiperpigmentasi gingiva pada pasien perokok di klinik Periodonsia RSGM FKG Unpad adalah 89,8%.Kata Kunci:Â Prevalensi, hiperpigmentasi gingiva, perokok
|
Prevalensi, hiperpigmentasi gingiva, perokok | 2018-03-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22304 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i1.22304 |
| 1672804 | #6191 | Relationship between menstrual cycle and recurrent aphthous stomatitis |
Arma, Utmi Bakar, Abu Yosmiryanti, Melin |
ABSTRACTIntroduction: Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS), also known as apthae or canker sores is an ulcerated lesion that occurs repeatedly on the oral mucosa. The etiology of RAS is not yet known for certain, but there are predisposing factors associated with the occurrence RAS, one of them is the menstrual cycle. The menstrual cycle is a sign of the maturation process of the reproductive organs which is influenced by the body's hormones. The menstrual cycle occurs in 4 phases, namely the menstrual phase, the follicular phase, the ovulation phase, and the luteal phase. The purpose of this study was to determine the relationship between the menstrual cycle and RAS. Methods: The type of this research is an analytic observational study using a cross-sectional design, the research was conducted in Kampung Jawa, Solok City, West Sumatra from September 2021 to March 2022 with 94 respondents who were taken by accidental sampling. Data collection was carried out by giving questionnaires/google forms to women aged 15-24 years to obtain data related to menstrual cycle and RAS. Data analysis was performed by Chi-Square test. Results: Most of the respondents are negative respondents to experiencing RAS during their menstrual cycle amounting to 54 respondents (57.4%), and followed by positive respondents experiencing RAS in the menstrual cycle amounting to 40 respondents (42.6%). The test results show a significant relationship between the menstrual cycle and RAS (p = 0.153). Conclusion: There is no relationship between the menstrual cycle and the occurrence of RAS. There are more respondents who negatively experience RAS in the menstrual cycle than positive respondents experiencing RAS in their menstrual cycle.KEY WORDS: Cycle, menstruation, aphthous stomatitis, recurrent, womenHubungan siklus menstruasi dengan stomatitis aftosa rekurenABSTRAKPendahuluan: Stomatitis Aftosa Rekuren yang dikenal dengan istilah apthae atau canker sore merupakan suatu lesi ulserasi yang terjadi berulang pada mukosa mulut. Etiologi SAR sampai saat ini belum diketahui secara pasti, namun ada faktor predisposisi yang berhubungan dengan terjadinya SAR, salah satunya adalah siklus menstruasi. Siklus menstruasi adalah tanda proses kematangan organ reproduksi yang dipengaruhi oleh hormon tubuh. Siklus menstruasi terjadi dalam 4 fase yaitu fase menstruasi, fase folikuler, fase ovulasi, dan fase luteal. Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan siklus menstruasi dengan SAR. Metode: Jenis penelitian observasional analitik menggunakan desain cross sectional, penelitian dilakukan di Kampung Jawa, Kota Solok, Sumatra Barat pada bulan September 2021 hingga Maret 2022 dengan 94 responden yang diambil secara accidental sampling. Pengambilan data dilakukan dengan memberikan kuesioner/google form kepada perempuan berumur 15-24 tahun. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square. Hasil: Sebagian besar responden negatif mengalami SAR pada siklus menstruasi yaitu sebanyak 54 responden (57,4%) dan diikuti responden yang positif mengalami SAR pada siklus menstruasi sebanyak 40 responden (42,6%).Hasil uji menunjukan hubungan bermakna antara siklus menstruasi dengan SAR (p=0,153). Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara siklus menstruasi dengan terjadinya SAR. Terdapat lebih banyak responden yang negatif mengalami SAR pada siklus menstruasi dibandingkan responden yang positif mengalami SAR pada siklus menstruasi.KATA KUNCI: Siklus, menstruasi, stomatitis aftosa, rekuren, wanita
|
2023-03-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/45586 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i1.45586 | |
| 1672803 | #6191 | The correlation between maternal education level and dental caries status among primary school students in West Jakarta:Study observational | The correlation between maternal education level and dental caries status among primary school students in West Jakarta: An observational study |
Panjaitan, Caesary Cloudya Lestari, Sri Oktiviani, Dwi |
ABSTRACTIntroduction: Oral health remains a public health concern in Indonesia, with dental caries being the most prevalent condition. The 2018 Basic Health Research (Riskesdas) reported high caries prevalence among school-aged children, reaching 92.6% in children aged 5–9 years and 73.4% in those aged 10–14 years. The role of parents, particularly mothers, is crucial in shaping children’s oral hygiene habits. Maternal education level may influence oral health knowledge and practices, as mothers with higher education levels generally provide better care for their children’s teeth. Objective: To analyze the correlation between maternal education level and dental caries status among 4th–6th grade students at SDN Tomang 01, West Jakarta. Methods: This analytical observational study employed a cross-sectional design involving 123 students. Data on maternal education level were collected via questionnaires, and children’s dental caries status was assessed using the DMF-T and def-t indices. Spearman’s correlation analysis was performed using SPSS v30. Results: Spearman correlation analysis revealed a significant negative correlation between maternal education level and children’s dental caries status (p < 0.05). The strength of the correlation ranged from moderate to weak, with the DMF-T index showing a moderate negative correlation (r = –0.449) and the def-t index showing a weak negative correlation (r = –0.258). Conclusion: There is a significant negative correlation, ranging from moderate to weak, between maternal education level and dental caries status in school-aged children. Higher maternal education levels are associated with lower dental caries in children.KEY WORDS: dental caries, DMF-T and def-t, primary school students, maternal education levelKorelasi tingkat pendidikan ibu dengan status karies gigi siswa sekolah dasar: Studi observasionalABSTRAKPendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan karies gigi sebagai penyakit yang paling banyak ditemui. Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi karies gigi pada anak sekolah lebih tinggi, yaitu 92,6% pada usia 5–9 tahun dan 73,4% pada usia 10–14 tahun. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh peran orang tua terutama ibu dalam membentuk kebiasaan pemeliharaan kesehatan gigi anak. Tingkat pendidikan ibu dapat mempengaruhi peningkatan pemahaman dan praktik kesehatan, sehingga ibu dengan tingkat pendidikan yang lebih baik umumnya lebih mampu menjaga kesehatan gigi dan mulut anak. Tujuan untuk menganalisis korelasi tingkat pendidikan ibu dengan status karies gigi siswa kelas 4–6 SDN Tomang 01 Jakarta Barat. Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional dengan sampel sebanyak 123 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan formulir tingkat pendidikan ibu dan pemeriksaan status karies gigi (DMF-T dan def-t) siswa. Dilakukan uji korelasi Spearman menggunakan SPSS v30 untuk melihat korelasi kedua variabel. Hasil: Analisis korelasi Spearman menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan status karies gigi siswa (p < 0,05). Nilai koefisien korelasi yang dihasilkan berada dalam rentang dari kekuatan sedang hingga lemah, dimana indeks DMF-T menunjukkan korelasi negatif dengan kekuatan sedang (r = –0,449) dan indeks def-t menunjukkan korelasi negatif yang lemah (r = –0,258). Simpulan: Tedapat korelasi negatif dengan kekuatan sedang hingga lemah antara tingkat pendidikan ibu dengan status karies gigi siswa, semakin tinggi tingkat pendidikan ibu maka semakin rendah status karies gigi anak.KATA KUNCI: status karies, DMF-T dan def-t, siswa sekolah dasar, tingkat pendidikan | ABSTRACTIntroduction: Oral health remains a public health concern in Indonesia, with dental caries being the most prevalent condition. The 2018 Basic Health Research (Riskesdas) reported high caries prevalence among school-aged children, reaching 92.6% in children aged 5–9 years and 73.4% in those aged 10–14 years. The role of parents, particularly mothers, is crucial in shaping children’s oral hygiene habits. Maternal education level may influence oral health knowledge and practices, as mothers with higher education levels generally provide better care for their children’s teeth. Objective: To analyze the correlation between maternal education level and dental caries status among 4th–6th grade students at SDN Tomang 01, West Jakarta. Methods: This analytical observational study employed a cross-sectional design involving 123 students. Data on maternal education level were collected via questionnaires, and children’s dental caries status was assessed using the DMF-T and def-t indices. Spearman’s correlation analysis was performed using SPSS v30. Results: Spearman correlation analysis revealed a significant negative correlation between maternal education level and children’s dental caries status (p < 0.05). The strength of the correlation ranged from moderate to weak, with the DMF-T index showing a moderate negative correlation (r = –0.449) and the def-t index showing a weak negative correlation (r = –0.258). Conclusion: There is a significant negative correlation, ranging from moderate to weak, between maternal education level and dental caries status in school-aged children. Higher maternal education levels are associated with lower dental caries in children.KEY WORDS: dental caries, DMF-T and def-t, primary school students, maternal education levelKorelasi tingkat pendidikan ibu dengan status karies gigi siswa sekolah dasar: Studi observasionalABSTRAKPendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan karies gigi sebagai penyakit yang paling banyak ditemui. Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi karies gigi pada anak sekolah lebih tinggi, yaitu 92,6% pada usia 5–9 tahun dan 73,4% pada usia 10–14 tahun. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh peran orang tua terutama ibu dalam membentuk kebiasaan pemeliharaan kesehatan gigi anak. Tingkat pendidikan ibu dapat mempengaruhi peningkatan pemahaman dan praktik kesehatan, sehingga ibu dengan tingkat pendidikan yang lebih baik umumnya lebih mampu menjaga kesehatan gigi dan mulut anak. Tujuan untuk menganalisis korelasi tingkat pendidikan ibu dengan status karies gigi siswa kelas 4–6 SDN Tomang 01 Jakarta Barat. Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional dengan sampel sebanyak 123 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan formulir tingkat pendidikan ibu dan pemeriksaan status karies gigi (DMF-T dan def-t) siswa. Dilakukan uji korelasi Spearman menggunakan SPSS v30 untuk melihat korelasi kedua variabel. Hasil: Analisis korelasi Spearman menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan status karies gigi siswa (p < 0,05). Nilai koefisien korelasi yang dihasilkan berada dalam rentang dari kekuatan sedang hingga lemah, dimana indeks DMF-T menunjukkan korelasi negatif dengan kekuatan sedang (r = –0,449) dan indeks def-t menunjukkan korelasi negatif yang lemah (r = –0,258). Simpulan: Tedapat korelasi negatif dengan kekuatan sedang hingga lemah antara tingkat pendidikan ibu dengan status karies gigi siswa, semakin tinggi tingkat pendidikan ibu maka semakin rendah status karies gigi anak.KATA KUNCI: status karies, DMF-T dan def-t, siswa sekolah dasar, tingkat pendidikan
|
dental caries, DMF-T and def-t, primary school students, maternal education level, status karies, DMF-T dan def-t, siswa sekolah dasar, tingkat pendidikan dental caries, DMF-T and def-t, primary school students, maternal education level, status karies, DMF-T dan def-t, siswa sekolah dasar, tingkat pendidikan | 2026-02-28 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/67699 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v10i1.67699 |
| 1672802 | #6191 | Perbedaan prevalensi kehilangan gigi molar pertama pada pasien umur 13-20 tahun |
Fatin, Adha Mardiati, Endah Malik, Isnaniah |
Pendahuluan: Kehilangan gigi molar pertama permanen terjadi di masyarakat yang kurang teredukasi mengenai pentingnya gigi tersebut. Kehilangan gigi ini disebabkan karena karies dengan akumulasi perawatan penambalan yang besar sehingga berakhir pada tindakan ekstraksi dini. Gigi molar pertama permanen ini dalam bidang ortodonti salah satu syarat terjadinya oklusi yang ideal untuk memperoleh data prevalensi dan perbedaan proporsi kehilangan gigi molar pertama permanen antara subyek laki-laki dan perempuan umur 13-20 tahun. Metode: Penelitian ini deskriptif cross sectional yang dilakukan dengan pemeriksaan gigi molar model studi pasien ortodonti RSGM FKG Unpad tercatat lima tahun terakhir. Sampel diambil dengan metode total sampling. Data diperoleh dengan melakukan pemeriksaan adanya gigi molar rahang atas dan bawah, juga bagian kiri dan kanan masing-masing rahang pada model studi pasien ortodonti RSGM FKG Unpad. Hasil: Hasil penelitian dari 1168 model studi yang diperiksa terdapat 103 model kehilangan gigi molar pertama permanen 8,81% dengan 35 diantaranya berumur 13-20 tahun. Hasil uji statistik perbedaan perempuan dan laki-laki menunjukan angka yang signifikan. Simpulan: Prevalensi yang didapatkan sebesar 2,99%. Terdapat perbedaan proporsi kehilangan gigi molar pertama pada pasien umur 13-20 tahun antara subyek laki-laki dan perempuan di RSGM Unpad bermakna berdasarkan uji statistik.Kata Kunci: Prevalensi, gigi molar permanen, laki-laki dan perempuan
|
Prevalensi, gigi molar permanen, laki-laki dan perempuan | 2018-10-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22308 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i1.22308 |
| 1672801 | #6191 | Correlation of the Severity of Crowding Measured with ALD Analysis Against the Plaque Accumulation Using O’Leary Plaque Index: adescriptive study |
Fauzia, Marlyana Gayatri, Gita Carolina, Dyah Nindita Harsanti, Andriani Zakaria, Myrna Nurlatifa |
ABSTRACT Introduction: Crowding is a condition where the length of the jaw arch is less than the length of the mesio-distal of the teeth summed. One of the methods to measure the severity of crowding is the Arch Length Discrepancy (ALD). Crowding may cause the plaque to accumulate more easily on the teeth surfaces, which can be measured by the O’Leary index. Thus, research will be done to see the impact of the crowding degree measured by the ALD analysis against the plaque accumulation measured by the O’Leary index. Methods: This research is a descriptive correlational study and the data collected is processed with Spearman’s rank correlation coefficient. 37 samples are acquired from patients of Periodontic Department in RSGM Unpad treated by co-assistant of FKG Universitas Padjadjaran year 2016 to 2019 from December 2020 to March 2021. Results: Based on the acquired data for ALD index, 2 people scored 5(ALD 0mm), 7 people scored 4(ALD 0mm until 3mm), 4 people scored 3(ALD -3mm until -5mm), 6 people scored 2(ALD -5mm until -10mm), 6 people scored 1(ALD below -10mm), 12 people scored -1(ALD above 0mm/positive). For O’Leary index, 1 person scored good, 8 people scored moderate, 11 people scored poor, 17 people scored very poor. Discussion: The data obtained was processed by Spearman’s rank correlation coefficient using the software SPSS Statistics 23 and resulted that the data obtained has a weak correlation of r = -0.352 and statistically significant by p = 0,033 (p<0,05). Conclusion: The result of the study shows that the effect of the severity of crowding as measured by the ALD index on plaque accumulation as measured by the O'Leary index is weak.KEY WORDS: crowding, plaque, ALD index, O’Leary index.Korelasi keparahan gigi berjejal diukur dengan analisis arch length discrepancy (ALD) terhadap akumulasi plak diukur dengan indeks plak o’leary: studi deskriptiABSTRAKPendahuluan: Crowding adalah suatu keadaan dimana lengkung rahang yang tersedia lebih sempit daripada jumlah panjang mesio-distal gigi geliginya. Salah satu cara mengukur tingkat keparahan crowding adalah dengan menggunakan Arch Length Discrepancy (ALD). Crowding dapat menyebabkan perawatan gigi lebih sulit sehingga plak mudah terakumulasi dan dapat diukur menggunakan analisis O’Leary. Pengaruh tingkat keparahan crowding terhadap akumulasi plak dapat diukur dengan analisis ALD terhadap indeks O’Leary. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional dan data yang terkumpul diolah dengan Uji Korelasi Spearman. Sampel penelitian berjumlah 37 data sekunder dengan rumus penentuan besar sampel minimal analisis korelatif dari pasien RSGM Unpad Departemen Periodonsia yang dirawat oleh koas FKG Universitas Padjadjaran tahun 2016 sampai 2019. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2020 sampai Maret 2021 di RSGM Unpad. Hasil: Berdasarkan data yang terkumpul untuk indeks ALD, terdapat skor 5 (pengukuran ALD 0 mm) sebanyak 2 orang, skor 4 (pengukuran ALD 0mm sampai -3mm)sebanyak 7 orang, skor 3 (pengukuran ALD -3mm sampai -5mm) sebanyak 4 orang, skor 2 (pengukuran ALD -5mm sampai -10mm) sebanyak 6 orang, skor 1 (pengukuran ALD dibawah -10mm) sebanyak 6 orang, dan skor -1 (pengukuran ALD lebih dari 0mm/positif) sebanyak 12 orang dan indeks O’Leary kategori baik 1 orang, sedang 8 orang, buruk 11 orang, dan buruk sekali 17 orang. Pembahasan: Data yang diperoleh dilakukan Uji Korelasi Spearman menggunakan software SPSS Statistik 23 dan didapatkan hasil yaitu data yang diperoleh berkorelasi lemah dengan nilai r = -0,352 dan signifikan secara statistik dengan nilai p = 0,033 (p<0,05). Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh tingkat keparahan crowding yang diukur dengan indeks ALD terhadap akumulasi plak yang diukur dengan indeks O’Leary berkorelasi lemah KATA KUNCI: crowding, plak, indeks ALD, indeks O’Leary
|
crowding, plaque, ALD index, O’Leary index, crowding, plak, indeks ALD, indeks O’Leary | 2023-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/50596 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i3.50596 |
| 1672800 | #6191 | Tingkat pengetahuan dan sumber informasi mengenai lesi ulserasi mulut pada siswa sekolah dasarLevel of knowledge and sources of information regarding oral ulcerations in elementary school students |
Witadiana, Harmonisa Sheilla Wahyuni, Indah Suasani Nuráeny, Nanan |
Pendahuluan: Lesi ulserasi mulut, atau sariawan, adalah lesi berbentuk cekung berbatas jelas dan berwarna putih kekuningan di mukosa mulut yang terasa sakit. Kondisi ini sering ditemukan pada anak-anak, sehingga pengetahuan tentang lesi ulserasi mulut perlu dimiliki. Tingkat pengetahuan seseorang mengenai lesi ulserasi mulut salah satunya dipengaruhi oleh informasi yang diterima. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan anak-anak siswa Sekolah Dasar dan sumber informasi mengenai lesi ulserasi mulut. Metode: Jenis penelitian deskriptif cross sectional. Alat ukur penelitian berupa kuesioner yang sudah valid dan reliabel, terdiri atas 12 pertanyaan mengenai pengetahuan dan enam pertanyaan sumber informasi tentang lesi ulserasi mulut. Sampel yang digunakan berjumlah 323 siswa kelas V SD, dengan teknik purposive sampling. Hasil: Sejumlah 51.08% siswa memiliki pengetahuan yang baik, 46.75% siswa pada tingkat pengetahuan sedang, serta 2.17% memiliki pengetahuan yang buruk mengenai lesi ulserasi mulut. Sumber informasi tentang lesi ulserasi mulut diperoleh sebagian besar dari televisi (55.72%) atau sekolah (54.48%). Siswa yang memiliki pengalaman pribadi pernah mengalami sariawan sejumlah 92.56%, sedangkan sumber cerita mengenai pengalaman sariawan paling banyak dari keluarga, sebesar 68.73%. Simpulan: Tingkat pengetahuan sebagian besar siswa adalah baik dan sedang dan sumber informasi mengenai lesi ulserasi mulut pada siswa sekolah dasar sebagian besar adalah dari televisi dan sekolah informasi mengenai pengalaman sariawan paling banyak dari keluarga.Kata kunci: Lesi ulserasi rongga mulut, sumber informasi, tingkat pengetahuan. ABSTRACTIntroduction: Oral ulcerations are painful, concave-shaped with clear border and yellowish-white lesions in the oral mucosa. This condition is often found in children; therefore, knowledge regarding this matter is needed. Children's level of knowledge about oral ulcerations is influenced by the source of information obtained. This study described the oral ulcerations knowledge in elementary school students in Jatinangor Subdistrict, Sumedang, Indonesia, and related-sources of information. Methods: This research was descriptive with a cross-sectional approach. The instrument of the study was a valid and reliable questionnaire that was consisted of twelve knowledge questions and six questions about sources of information concerning oral ulcerations. The sample used was 323 fifth grade elementary school students, with a purposive sampling technique. Results: As much as 51.08% of students had good knowledge, 46.75% of students at a moderate level of knowledge, and 2.17% had poor knowledge about oral ulcerations. Sources of information about oral ulcerations were obtained mostly from television (55.72%) or schools (54.48%). Students with personal experience of oral ulcerations were 92.56%, while 68.73% answered that the source of information about the oral ulcerations experience mostly came from the family. Conclusion: The level of knowledge of most students is good and moderate, and the source of information regarding oral ulceration lesions in primary school students is mostly from television and information schools about the most thrush experiences from families.Keywords: Knowledge level, information source, oral ulceration lesions.
|
Lesi ulserasi rongga mulut, sumber informasi, tingkat pengetahuan, knowledge level, information source, oral ulceration lesions. | 2020-05-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/25655 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v4i1.25655 |
| 1672799 | #6191 | The management of impacted mandibular third molars with coronectomy procedure: Rapid review |
Septiani, Tiara Ika Yuza, Abel Tasman Hadikrishna, Indra |
ABSTRACT Introduction: The extraction of impacted third molar teeth often experiences complications. Post-extraction complications of third molar teeth include pain, dry socket, and inferior alveolar nerve injury. Inferior alveolar nerve injury is a typical complication of extraction of mandibular third molars. Coronectomy is an alternative procedure used to treat impacted third molars. Coronectomy is considered a good procedure in reducing the injury to the inferior alveolar nerve (IAN). The purpose of this study was to determine the advantages and disadvantages of treating impacted mandibular third molars with coronectomy procedures. Methods: In this study, the researchers used a rapid review method that refers to the Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA) guidelines. Electronic search of articles was carried out on three electronic databases, namely the National Library of Medicine (Medline / PubMed), Cochrane Library, and Sciencedirect. Results: Of the 6 articles reviewed, 2 articles assessing the comparison between extraction and coronectomy showed that coronectomy was better in reducing the occurrence of complications. The other 4 articles have no or few case reports of neurological disorders. Other outcomes of coronectomy such as pain, infection, alveolar osteitis was equal or lower than those of complete extraction. The results of root migration after coronectomy were quite high and the results of teeth requiring reoperation were lower, with follow-up periods varying between articles. Conclusion: Coronectomy is indicated if the mandibular third molars are close to the inferior alveolar nerve and coronectomy has been shown to reduce the incidence of IAN and dry socket injuries.KEY WORDS: Coronectomy, impacted third molars, injury inferior alveolar nerve, rapid review.Tatalaksana impaksi gigi molar ketiga mandibula dengan prosedur coronectomy: rapid reviewABSTRAK Pendahuluan: Pencabutan impaksi gigi molar ketiga sering kali mengalami komplikasi. Komplikasi pasca pencabutan gigi molar ketiga diantaranya rasa nyeri, dry socket, dan cedera saraf alveolaris inferior. Cedera saraf alveolaris inferior adalah komplikasi khas dari pencabutan gigi molar ketiga rahang bawah. Coronectomy merupakan salah satu tindakan yang digunakan untuk perawatan impaksi gigi molar ketiga. Coronectomy dianggap sebagai prosedur yang baik dalam mengurangi terjadi cedera pada inferior alveolar nerve (IAN). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keuntungan dan kerugian dari perawatan impaksi gigi molar tiga rahang bawah dengan prosedur coronectomy. Metode: Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode rapid review yang mengacu pada panduan Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA). Pencarian artikel secara elektronik dilakukan pada tiga basis data elektronik yaitu National Library of Medicine (Medline/Pubmed), Cochrane Library, dan Sciencedirect. Hasil: Dari enam artikel yang ditinjau, dua artikel menilai perbandingan antara odontectomy dan coronectomy menunjukan bahwa coronectomy lebih baik dalam mengurangi terjadinya komplikasi pasca operasi. Empat artikel lainnya menunjukan tidak ada atau sedikit laporan kasus terjadinya cedera saraf. Hasil lain dari coronectomy seperti nyeri, infeksi, osteitis alveolar sama atau lebih rendah dibandingkan dengan odontectomy. Hasil terjadinya migrasi akar setelah tindakan coronectomy cukup tinggi dan hasil dari gigi yang memerlukan operasi ulang lebih rendah, untuk jangka waktu follow-up bervariasi setiap artikelnya. Simpulan: Coronectomy diindikasikan jika gigi molar ketiga mandibula dekat dengan saraf alveolaris inferior dan coronectomy terbukti mengurangi cedera IAN dan dry socket.KATA KUNCI: coronectomy, impaksi gigi molar ketiga, cedera saraf alveolar inferior, rapid review.
|
Koronektomi, impaksi gigi molar ketiga, cedera saraf alveolar inferior | 2024-11-08 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/56773 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i3.56773 |
| 1672798 | #6191 | Pengaruh penambahan kombinasi zat aditif pada gipsum tipe III daur ulang terhadap kekuatan tekan dan waktu pengerasanThe effect of adding combination of additives to recycled type III gypsum on compressive strength and hardening time |
Yandi, Satria Sari, Widya Puspita Hamonangan, Ihut |
Pendahuluan: Limbah gipsum tipe III (dental stone) dapat menimbulkan masalah pencemaran lingkungan karena sulit diuraikan serta dapat bercampur dengan limbah makanan. Permasalahan tersebut diatasi dengan mendaur ulang gipsum dengan cara menambahkan kombinasi zat aditif untuk mempercepat waktu pengerasan dan menambah kekuatan tekan gipsum. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh penambahan kombinasi larutan seng sulfat dan kalium sulfat terhadap kekuatan tekan dan waktu pengerasan pada gipsum tipe III daur ulang. Metode: Desain penelitian adalah eksperimental laboratorium. Penelitian ini dilakukan pengambilan masing-masing 4 sampel pada 3 kelompok perlakuan penambahan kombinasi zat aditif. Penelitian dilakukan di Laboratorium Universitas Baiturrahmah dan Laboratorium Teknik Metalurgi Universitas Andalas. Hasil: Kelompok 1 penambahan K2SO4 1,5% + ZnSO4 4,5% hasil kekuatan tekan 4,68 MPa dan waktu pengerasan 96 jam. Kelompok 2 penambahan K2SO4 2% + ZnSO4 5% hasil kekuatan tekan 3,12 MPa dan waktu pengerasan 91 jam. Kelompok 3 penambahan K2SO4 2,5% + ZnSO4 5,5% hasil kekuatan tekan 1,56 MPa dan waktu pengerasan 88 jam. Simpulan: Terdapat pengaruh penambahan larutan kalium sulfat dan seng sulfat terhadap kekuatan tekan dan waktu pengerasan pada gipsum tipe III daur ulang. Semakin tinggi jumlah penambahan zat aditif K2SO4 dan ZnSO4 pada gipsum daur ulang didapatkan nilai kekuatan tekan semakin rendah dan waktu pengerasan semakin singkat.Kata kunci: Gipsum daur ulang, kombinasi zat aditif, kekuatan tekan, waktu pengerasan. ABSTRACT Introduction: Gypsum waste type III (dental stone) can cause environmental pollution problems due to its difficulty in decomposing and potential mixed with food waste. This problem is overcome by recycling the gypsum by adding additives to speed up the hardening time and increase the compressive strength of the gypsum. The research objective was to analyse the effect of adding a combination of zinc sulfate and potassium sulfate solutions on the compressive strength and hardening time of recycled type III gypsum. Methods: The research design was laboratory experimental. This research was carried out by taking four samples each in 3 treatment groups with a combination of additives. The research was conducted at the Baiturrahmah University Laboratory and the Andalas University Metallurgical Engineering Laboratory. Results: Group 1: the addition of K2SO4 1.5% + ZnSO4 4.5% results in compressive strength of 4.68 MPa and a hardening time of 96 hours. Group 2: the addition of 2% K2SO4 + 5% ZnSO4 resulted in compressive strength of 3.12 MPa and a hardening time of 91 hours. Group 3: the addition of 2.5% K2SO4 + 5.5% ZnSO4 resulted in compressive strength of 1.56 MPa and a hardening time of 88 hours. Conclusion: There is an effect of adding potassium sulfate and zinc sulfate solutions on the compressive strength and hardening time of recycled type III gypsum. The higher the amount of K2SO4 and ZnSO4 additives added to recycled gypsum, the lower the compressive strength value and the shorter the hardening time.Keywords: Recycled gypsum, combination of additives, compressive strength, hardening time.
|
gipsum daur ulang; kombinasi zat aditif; kekuatan tekan; waktu pengerasan; recycled gypsum; combination of additives; compressive strength; hardening time | 2021-04-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/32255 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i1.32255 |
| 1672797 | #6191 | Pre-implant assessment of alveolar bone density using dental radiographs and DEXA: a scoping review |
Pramanik, Farina Jamaluddin, Rafiqah Rezky Amelia Inayah, Rifarana Wulansari, Daisy Anggraini, Jamas Ari Sukotjo, Cortino |
ABSTRAKIntroduction: Implant stability is strongly influenced by alveolar bone density, as higher density enhances primary stability and supports long-term osseointegration, making its evaluation a crucial component in presurgical planning. Radiological assessment offers a readily available, non-invasive approach for evaluating bone quality prior to implant placement. Commonly used imaging modalities include periapical, panoramic, and cone-beam computed tomography (CBCT), while dual-energy X-ray absorptiometry (DEXA) remains the gold standard for measuring bone mineral density. This review aims to assess alveolar bone density before dental implant placement using periapical, panoramic, CBCT, and DEXA. Methods: A scoping review was conducted across Science Direct, PubMed, PMC, Semantic Scholar, and Google Scholar using the search terms “Alveolar bone, density, presurgical, dental implant, radiograph”. Inclusion and exclusion criteria were applied to 408 retrieved records, yielding 17 relevant articles for analysis. Results: Multiple radiographic methods and measurement protocols were identified. Of the 17 included studies, 7 utilized CBCT, 2 panoramic, 2 periapical, 3 DEXA, and 3 combined modalities. Findings indicated that the mandibular bone, particularly in the anterior region, generally exhibits higher density than the maxillary sites. Substantial variability was noted in measurement techniques, reference points, and units, including HU, g/cm³, mmAleq, and GV. Conclusion: Radiographic evaluation of alveolar bone density is essential for implant treatment planning. CBCT emerged as the most widely used and informative modality. Studies show that the anterior mandibular region has the highest bone density among other regions, thereby affecting implant stability.KATA KUNCI: alveolar bone density, CBCT, DEXA, panoramic, periapical, radiographPenilaian densitas tulang alveolar sebelum perawatan implant menggunakan radiografi dental dan DEXA: a scoping reviewABSTRACT Pendahuluan: Stabilitas implan sangat dipengaruhi oleh densitas tulang alveolar, dimana densitas tulang yang tinggi akan meningkatkan stabilitas primer implan dan mendukung osseointegrasi, sehingga evaluasi densitas tulang merupakan tahap yang penting sebelum dilakukan pembedahan. Pemeriksaan radiografi untuk evaluasi kualitas tulang merupakan prosedur yang penting dalam perencanaan sebelum pembedahan implan, oleh karena mudah didapatkan dan tidak bersifat invasif. Radiografi periapikal, panoramik dan CBCT merupakan teknik yang paling sering digunakan untuk mengevaluasi kualitas tulang pada perawatan implant. Sedangkan, DEXA merupakan metode gold standard untuk mengukur densitas mineral tulang. Jurnal ini bertujuan untuk menilai densitas tulang sebelum pemasangan implan, menggunakan radiografi periapikal, panoramik, CBCT dan DEXA. Metode: Scoping review ini menggunakan database seperti Science Direct, PubMed, PMC, Semantic Scholar, dan Google Scholar, menggunakan kata kunci: “Alveolar bone, density, presurgical, dental implant, and radiograph”. Pencarian mendapatkan 408 artikel, dan total 17 artikel yang digunakan pada jurnal ini. Hasil: Berbagai pemeriksaan radiografi dapat digunakan untuk mengevaluasi densitas tulang. Dari total 17 artikel, 7 artikel menggunakan CBCT, 2 panoramik, 3 DEXA, dan 3 menggabungkan 2 modalitas. Hasil penelitian menemukan bahwa mandibula, terutama pada anterior, memiliki densitas tulang yang lebih tinggi dibandingkan maksila. Dari berbagai artikel ini juga didapatkan beberapa perbedaan dalam teknik pengukuran, titik referensi, dan satuan (HU, g/cm³, mmAleq, GV). Simpulan: Pemeriksaan radiografi untuk mengukur densitas tulang alveolar merupakan teknik yang penting dalam menentukan rencana perawatan implant, dengan CBCT menjadi modalitas yang paling sering digunakan dan memberikan informasi yang paling banyak. Penelitian menunjukkan regio anterior mandibula memiliki densitas tulang yang paling tinggi di antara regio lainnya, sehingga mempengaruhi stabilitas implanKEYWORDS: densitas tulang alveolar, CBCT, DEXA, panoramik, periapikal, radiografi
|
Alveolar bone density, CBCT, DEXA, panoramic, periapical, radiograph | 2025-12-29 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/65953 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i3.65953 |