| ID ↓ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1672776 | #6191 | Nilai facial index berdasarkan klasifikasi maloklusi angle pada sub ras deuteromelayuFacial index value based on angle’s classification of malocclusion on deuteromalay subrace |
Hanifah, Wafa Laviana, Avi Zenab, Yuliawati |
ABSTRAK Pendahuluan: Perawatan ortodonti bertujuan untuk mencapai oklusi yang ideal dengan konfigurasi wajah yang harmonis. Proporsi ideal wajah pada masyarakat suatu daerah harus diketahui untuk digunakan sebagai sumber data dalam menegakkan diagnosis dan membuat rencana perawatan yang tepat agar perawatan ortodonti memperoleh hasil terbaik. Tujuan penelitian ini adalah mengukur nilai facial index berdasarkan klasifikasi maloklusi Angle pada Sub ras Deuteromelayu. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian yaitu mahasiswa Program Studi Sarjana Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran sub ras Deuteromelayu. Metode pengambilan sampel yaitu total sampling dengan kriteria inklusi sampel berasal dari keturunan Suku Aceh, Suku Minangkabau, Suku Sunda, Suku Jawa, Suku Bali, Suku Bugis, dan Suku Makassar. Nilai facial index dihitung dari tinggi wajah dibagi lebar wajah lalu dikali 100. Hasil: Jumlah sampel total 115 orang, terdiri dari 17 pria dan 98 wanita. Data nilai facial index berdasarkan klasifikasi maloklusi Angle pada penelitian ini untuk pria terdapat 6 sub kelas maloklusi dengan 4 tipe wajah yang berbeda, sementara untuk wanita terdapat 6 sub kelas maloklusi dengan 5 tipe wajah yang berbeda. Klasifikasi Maloklusi Angle yang terbanyak pada pria dan wanita yaitu Kelas I Tipe 1 dan tipe wajah terbanyak yaitu mesoprosopic pada pria dan euryprosopic pada wanita. Rerata nilai facial index pada pria adalah 87,28 dan wanita adalah 84,16. Simpulan: Nilai facial index berdasarkan klasifikasi maloklusi Angle pada sub ras Deuteromelayu yang terbanyak pada pria yaitu Kelas I Tipe 1 dengan tipe wajah mesoprosopic dan leptoprosopic, dan pada wanita Kelas I Tipe 1 dengan tipe wajah euryprosopic.Kata kunci: Maloklusi; Nilai facial index; Sub Ras Deuteromelayu ABSTRACTIntroduction: Orthodontic treatment aims to achieve an ideal occlusion and a harmonious facial configuration. The ideal proportion of face in various area must be known for a data source in establishing a diagnosis and making the right treatment plan so that the orthodontic treatment achieves the best results. This study aimed to measure facial index based on Angle’s classification of malocclusion on Deuteromalay Subrace. Method: This research was a descriptive study with cross sectional approached. The research population were undergraduate students of Faculty of Dentistry, Padjadjaran University, Deuteromalay Subrace. The sampling method was total sampling with the inclusion criteria of samples were the descendants of the Acehnese, Minangkabau, Sundanese, Javanese, Balinese, Bugis, and Makassar ethnic groups. The facial index value was calculated from the height of the face divided by the width and then multiplied by 100. Results: The total sample was 115 people consisting of 17 men and 98 women. The facial index value data based on Angle’s classification of malocclusion in this study for men was 6 malocclusion subclasses with 4 different facial types, for women was 6 malocclusion subclasses with 5 different facial types. The most Angle’s classification of malocclusion in men and women were class I type 1 and the most facial types were mesoprosopic in men and euryprosopic in women. The average facial index in men was 87.28 and women was 84.16. Conclusions: The most facial type in men was mesoprosopic and euryprosopic in women, the most Angle’s classification of malocclusion was Class I Type 1.Keywords: Malocclussion; Facial Index; Deuteromayal subrace
|
Maloklusi; Nilai facial index; Sub Ras Deuteromelayu | 2022-06-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/32426 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i2.32426 |
| 1672775 | #6191 | Clear aligner versus twin block dalam perawatan maloklusi kelas II pada anak: ulasan sistematik |
Jayanti, Claudia Nur Rizky Primarti, Risti Saptarini |
ABSTRACT Pendahuluan: Maloklusi Kelas II merupakan salah satu masalah ortodontik yang paling umum dijumpai. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan aligner bening (clear aligner/CA) telah berkembang untuk menangani kasus-kasus yang lebih kompleks, termasuk maloklusi Kelas II dengan pendekatan kemajuan mandibula (CA dengan mandibular advancement/MA). Meskipun CA menawarkan alternatif modern terhadap alat fungsional tradisional, efektivitasnya dibandingkan dengan alat yang telah mapan seperti Twin Block (TB) belum diteliti secara menyeluruh. Ulasan sistematis ini bertujuan untuk membandingkan hasil perawatan dan efek dentoskeletal antara CA dengan MA dan TB dalam koreksi maloklusi Kelas II pada anak dan remaja. Metode: Kajian ini dilakukan berdasarkan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Artikel yang diterbitkan antara tahun 2014 hingga 2024 diambil dari basis data ScienceDirect, PubMed, dan Scopus menggunakan kata kunci yang telah ditentukan sebelumnya dan kerangka kerja Population-Intervention-Comparison-Outcome (PICO). Sebanyak enam studi diikutsertakan untuk mengevaluasi efektivitas kedua modalitas perawatan dalam memperbaiki hubungan sagital rahang, kenyamanan pasien, dan dimensi jalan napas. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa baik CA maupun TB efektif dalam meningkatkan hubungan sagital antara maksila dan mandibula. TB menunjukkan perubahan skeletal yang lebih besar, khususnya pada reposisi mandibula, sedangkan CA memberikan kenyamanan, estetika, dan tingkat kepatuhan pasien yang lebih baik. Simpulan: CA terbukti lebih efektif dalam meningkatkan dimensi jalan napas, terutama di area hipofaring. Meskipun kedua pilihan perawatan menunjukkan hasil yang menjanjikan, diperlukan uji coba terkontrol acak jangka panjang untuk mengevaluasi stabilitas dan efektivitas jangka panjangnya. Rencana perawatan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan spesifik pasien, kondisi klinis, dan luaran yang diharapkan.KATA KUNCI: Alat ortodonti, Maloklusi, Angle Kelas IClear aligner versus twin block in the treatment of class II malocclusion in children: a systematic reviewABSTRACTClass II malocclusions are among the most prevalent orthodontic problems. In recent years, clear aligner (CA) therapy has expanded its scope to include more complex cases, including the clear aligner with mandibular advancement (CA with MA) for treating Class II malocclusions. While CA provides a modern alternative to traditional functional appliances, their effectiveness in comparison to well-established devices like the Twin Block (TB) has not yet been thoroughly studied. This systematic review compares the treatment outcomes and dentoskeletal effects of CA with MA and TB appliances for Class II malocclusion correction in children and adolescents. This systematic review was conducted in accordance with the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines. The articles, which covered publications from 2014 to 2024, were taken from the databases of ScienceDirect, PubMed, and Scopus. The search used predefined keywords and a Population-Intervention-Comparison-Outcome (PICO) framework. Six studies were included, evaluating the effectiveness of both treatment modalities in improving sagittal jaw relationships, patient comfort, and airway dimensions. Both CA and TB appliances effectively enhanced the sagittal relationship between the maxilla and mandible. TB appliances showed greater skeletal changes, particularly in mandibular repositioning, while clear aligners offered superior patient comfort, aesthetics, and compliance. CA was also more effective in improving airway dimensions, particularly in the hypopharyngeal region. While both treatment options show promise, further long-term randomized controlled trials are needed to better assess their stability and effectiveness. The treatment plan should be tailored to the patient's specific needs, clinical condition, and desired outcomes.KEYWORDS: Orthodontic appliances, Malocclusion, Angle Class II
|
Alat ortodonti, Maloklusi, Angle Kelas I, Orthodontic appliances, Malocclusion, Angle Class II | 2025-06-29 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/62513 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i2.62513 |
| 1672774 | #6191 | Association of recurrent aphthous stomatitis (RAS) and student stress levels towards online learning : Study cross-sectional |
Majid, Alya Aqila Riolina, Ana |
ABSTRACTIntroduction: Recurrent aphthous stomatitis (RAS) is a disease that often occurs in the oral cavity. The etiology of RAS is not yet known, but several factors such as stress, systemic factors, immunity, allergies, genetics, and nutrition are often linked to trigger RAS. The purpose of this study was to examine the association between RAS and student stress levels and also show an overview of RAS predisposition factors, treatment, prevention efforts, and external factors that increase student stress towards online learning in Solo Raya (Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten) during the Covid-19 pandemic from March 2020 to December 2021. Methods: The type of research used was a cross-sectional study with purposive sampling technique. The instrument used is an online questionnaire given to students who are undergoing online learning in Solo Raya during 2020-2021 academic year for at least 1 semester, and have experienced RAS. A closed questionnaire was given to evaluate the predisposing factors for RAS, treatment, prevention efforts, and external factors that increase student stress, while the questionnaire to assess perceived stress is the perceived stress scale 10 (PSS-10). The data obtained were then analyzed by chi-square test using SPSS 27. Results: The results showed that out of 100 respondents, there were 58 students (58%) who experienced moderate stress and 42 students (42%) with severe stress. In addition, there were 49 students (49%) experiencing RAS and 51 students (51%) not experiencing RAS in the previous month. The results of the chi-square test showed a value of correlation p = 0,327. Conclusion: There is no relationship between RAS and the stress level of students towards online learning in Solo Raya.KEY WORDS: student, stress, recurrent aphthous stomatitis, online learning.Hubungan Stomatitis Aftosa rekuren (SAR) dan tingkat stres mahasiswa terhadap pembelajaran daringABSTRAK Pendahuluan: Stomatitis aftosa rekuren (SAR) merupakan penyakit yang sering terjadi di rongga mulut. Etiologi SAR hingga saat ini belum diketahui, namun beberapa faktor seperti faktor stres, sistemik, imunitas, alergi, genetik, dan nutrisi sering dihubungkan menjadi pemicu SAR.Tujuan penelitian mneganalisis hubungan stomatitis aftosa rekuren dan tingkat stres serta menunjukkan gambaran faktor predisposisi SAR, tindakan perawatan, tindakan pencegahan, dan faktor eksternal penambah beban stres mahasiswa terhadap pembelajaran daring. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah cross-sectional study dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner online yang diberikan kepada mahasiswa yang menjalani pembelajaran daring pada tahun 2020-2021 minimal 1 semester, dan pernah mengalami SAR. Kuesioner tertutup diberikan untuk mengevaluasi faktor predisposisi SAR, tindakan perawatan, tindakan pencegahan, dan faktor eksternal penambah beban stress, sedangkan kuesioner untuk menilai persepsi stres adalah perceived stress scale 10 (PSS-10). Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan uji chi-square menggunakan SPSS 27. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan dari 100 responden yang mengalami stres sedang sejumlah 58 mahasiswa (58%) dan stres berat sejumlah 42 mahasiswa (42%). Selain itu, terdapat 49 mahasiswa (49%) mengalami SAR dan 51 mahasiswa (51%) tidak mengalami SAR 1 pada bulan sebelumnya. Hasil uji chi-square menunjukkan nilai p sebesar 0,327. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara SAR dan tingkat stres mahasiswa terhadap pembelajaran daring.KATA KUNCI: mahasiswa, stres, stomatitis aftosa rekuren, pembelajaran daring.
|
Mahasiswa, stres, stomatitis aftosa rekuren Student, stress, recurrent aphthous stomatitis | 2023-03-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/45028 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i1.45028 |
| 1672773 | #6191 | Perbedaan tinggi dan lebar sinus maksilaris berdasarkan jenis kelamin menggunakan radiograf panoramik |
Ken, Lei Wei Epsilawati, Lusi Sitam, Suharjo |
Pendahuluan: Dimorfisme seksual adalah salah satu langkah awal dalam identifikasi untuk mayat dan tulang biasanya digunakan untuk penentuan jenis kelamin sering ditemukan sudah terfragmentasi terutama pada keadaan bencana seperti ledakan dan bencana massal lainnya. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan tinggi dan lebar dinding sinus maksilaris antara laki-laki dan perempuan pada radiografi panoramik. Metode: Jenis penelitian adalah deskriptif dimana akan diukur tinggi dan lebar dinding sinus maksilaris pada kelompok laki-laki dan perempuan yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian ini meneliti 50 radiograf panoramik laki-laki dan perempuan usia 20-40 tahun. Hasil: Rata-rata tinggi dan lebar kanan dan kiri dinding sinus maksilaris pada laki-laki lebih tinggi dari perempuan. Tinggi rata-rata dinding kiri dan kanan laki-laki (31,46 ± 3,09 mm dan 30,47 ± 3,18 mm) dan menunjukkan signifikan secara statistik lebih tinggi laki-laki dibanding dengan perempuan sekitar 26,41 ± 4,41 mm untuk sisi kanan dan 26,06 ± 4,49 mm untuk sisi kiri. Lebar sinus rata-rata untuk laki-laki adalah 26,57 ± 3,23 mm dan 26,3 ± 2,87 mm untuk sisi kanan dan kiri masing-masing yang hanya menunjukkan lebar kiri dinding sinus maksilaris pada pria secara signifikan lebih besar dari wanita dengan 24,82 ± 3,17 mm untuk sisi kanan dan 24,64 ± 2.85 mm untuk sisi kiri. Simpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna pada ketinggian dinding sinus maksilaris kanan dan kiri antara pria dan wanita yang diukur dengan menggunakan radiograf panoramik.Kata kunci: Sinus maksilaris, jenis kelamin, radiograf panoramik
|
Sinus maksilaris, jenis kelamin, radiograf panoramik | 2017-10-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22144 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v1i1.22144 |
| 1672772 | #6191 | Online skill lab training during COVID-19 pandemic in different dental schools in Indonesia: Study descriptive |
Sari, Morita Murika Sari, Nendika Dyah Ayu Habibi, Muhammad Yusuf Haykal, Shafira Annas |
ABSTRACT Introduction: COVID-19 is a general public health emergency. This situation required all teaching and learning activities to be conducted through online methods. The learning strategies and learning outcomes utcomes (LO) regarding laboratory skills activities (skill labs) were also affected. The objective of this research was to find out the online skill lab LO evaluation based on the LO Skill Lab and High Order Thinking Skill (HOTS) indicators from Bloom's Taxonomy. Methods: This research was a descriptive study with a proportional stratified random sampling technique. According to the restriction criteria, 164 respondents were obtained from 10 universities, with a total of 1735 undergraduate dental students. The Google Forms platform was used to distribute an online questionnaire for the online skill lab LO evaluation. The data were tested using univariate analysis to determine the description and distribution of the frequency of the variables in the study. Results: Most of the online Skill Lab LO indicators requiringmastery of student skills, still show ‘capable’ and ‘doubtful’ responses. In contrast, the online Skill Lab LO indicators on the ability of theory on average students show ‘capable’ and ‘competent' responses. Conclusion: The online skill lab learning outcome evaluation regarding theory mastery was better than skill mastery among undergraduate dental students in Indonesia during the COVID-19 pandemic.KEY WORDS: evaluation, online teaching, learning outcomes, skill Lab, COVID-19.Capaian pembelajaran skill lab daring pada mahasiswa program pendidikan sarjana kedokteran gigi Indonesia pada masa pandemi COVID-19: studi deskriptifABSTRAKPendahuluan: COVID-19 ditetapkan sebagai kasus darurat kesehatan masyarakat umum, sehingga seluruh kegiatan belajar mengajar wajib menggunakan metoda dalam jaringan(daring) atau online. Kondisi ini mempengaruhi strategi pembelajaran beserta capaian pembelajaran (CPL) yang wajib terpenuhi oleh Mahasiswa S1 Fakultas Kedokteran Gigi, terutama dalam hal kegiatan keterampilan laboratorium(skill lab). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui CPL skill lab yang dilakukan secara daring oleh mahasiswa S1 FKG di Indonesia di masa pandemi COVID berdasarkan indikator CPL skill lab dan High Order Thinking Skill (HOTS) dari Taksonomi Bloom. Metode: Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif dengan teknik sampling Proportionate Stratified Random Sampling. Terdapat 164 responden yang sesuai dengan kriteria restriksi dari 10 Universitas untuk populasi mahasiswa sebesar 1735 mahasiswa program pendidikan sarjana fakultas kedokteran gigi. Alat ukur yang digunakan kuesioner evaluasi CPL skill lab daring, disebar secara online menggunakan platform google form. Data diuji menggunakan analisis univariat untuk mengetahui deskripsi serta distribusi frekuensi variabel pada penelitian Hasil: sebagian besar indikator CPL skill lab dengan tuntutan penguasaan keterampilan mahasiswa, rata-rata masih menunjukkan respon mampu dan ragu-ragu, sedangkan indikator CPL skill lab dengan tuntutan penguasaan teori rata-rata mahasiswa menunjukkan respon mampu dan sangat mampu. Simpulan: CPL skill lab daring terkait penguasaan teori lebih baik daripada penguasaan keterampilan pada mahasiswa program pendidikan sarjana Kedokteran Gigi Indonesia di masa pandemi COVID-19.KATA KUNCI: capaian pembelajaran, skill lab, COVID-19, evaluasi, daring.
|
capaian pembelajaran, skill lab, COVID-19, evaluasi, daring,evaluation, online teaching, learning outcomes, skill Lab, COVID-19. | 2023-11-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/49975 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i3.49975 |
| 1672771 | #6191 | Uji daya antibakteri semen karbonat apatit terhadap Streptococcus mutansAntimicrobial Effect of Carbonate Apatite Cement Againts Streptococcus Mutans |
Zakaria, Myrna Nurlatifah Nurfauziah, Astrin Meita Sabiri, Indah Puti Rahmayani Cahyanto, Arief |
Semen karbonat apatit merupakan bahan biokeramik yang dapat menstimulasi perbaikan jaringan termineralisasi. Semen ini memiliki pH basa sehingga dapat bersifat antimikroba. Streptococcus mutans merupakan bakteri yang sering ditemukan pada infeksi endodontik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya antimikroba semen karbonat apatit khususnya terhadap Streptococcus mutans. Subjek pada penelitian ini terdiri dari 8 subjek semen karbonat apatit dengan 2 rasio bubuk/cairan berbeda, yaitu 0,5 dan 0,8 serta semen kalsium hidroksida sebagai kontrol. Penelitian dilakukan dengan metode sumuran difusi agar Kirby Bauer yang menggunakan medium agar Mueller Hilton dengan menghitung diameter zona hambat pertumbuhan Streptococcus mutans pada interval waktu 1, 3, dan 5 hari. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dan statistik menggunakan One-Way Anova. Hasil penelitian menunjukkan bahawa semen karbonat apatit memiliki daya antibakteri pada interval waktu 1, 3, dan 5 hari, namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05) antar kelompok semen karbonat apatit dengan rasio bubuk/cairan 0,5 dengan 0,8. Kesimpulan penelitian ini adalah semen karbonat apatit memiliki daya antimikroba terhadap Streptococcus mutans, namun daya antibakteri kalsium hidroksida lebih besar dibandingkan semen karbonat apatit.
|
Daya antimikroba, semen karbonat apatit, semen kalsium hidroksida, Streptococcus mutans | 2019-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/24767 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i2.24767 |
| 1672770 | #6191 | Differences in the reduction of bioaerosol bacterial colonies in preprocedural oral rinse using chlorhexidine gluconate 0,2% and povidone iodine 1% during ultrasonic scaling procedure: Experimental study |
Khairiah, Arifatul Malinda, Yuti Suciati, Ame |
ABSTRACTIntroduction: Dentists frequently come into direct or indirect contact with microorganisms from patients. Bioaerosols are formed during dental procedures involving rotary instruments. Infection control measures in dental practice are crucial to prevent cross-infection. Preprocedural oral rinsing is an infection control measure performed on patients before clinical procedures. This study aims to evaluate the difference in the reduction of bacterial bioaerosol counts using 0.2% Chlorhexidine Gluconate (CHX) and 1% Povidone Iodine (PV) as preprocedural oral rinses. Methods: The study used an experiment with a randomized controlled clinical trial (RCT) method involving 14 systemically healthy scaling patients diagnosed with gingivitis. Agar plates were positioned in three locations: the patient's chest, the dentist, and the assistant. Ultrasonic scaling was performed for 5 minutes without rinsing. Subjects were divided into two groups: patients who rinsed with 0,2% CHX and patients rinsing with 1% PV for 30 seconds. Agar plates were placed in the same three locations, and ultrasonic scaling was continued for 5 minutes. The agar plates were incubated at 36°C for 24 hours, and bacterial colonies were counted. Results: The number of bioaerosol bacterial colonies on agar plates placed on the patient's chest and the assistant decreased after rinsing with 0.2% CHX and 1% PV. Chlorhexidine gluconate reduced bacterial colonies by 17,11%, while povidone iodine increased it by 3,19%. There was a significant difference before and after rinsing with 0,2% CHX at all locations (p<0.05), while 1% PV showed no significant difference (p=0,182). Conclusion: Rinsing with 0,2% Chlorhexidine Gluconate reduces the number of bacterial bioaerosol colonies during ultrasonic scaling compared to povidone iodine.KEY WORDS: bioaerosol, preprocedural oral rinse, mouth rinses, ultrasonic scalingPerbedaan penurunan jumlah bakteri bioaerosol dalam tindakan preprocedural oral rinse menggunakan klorheksidin glukonat 0,2% dan povidone iodine 1% pada prosedur skeling ultrasonikABSTRAKPendahuluan: Dokter sering kali bersentuhan langsung atau tidak langsung dengan mikroorganisme dari pasien.Bioaerosol terbentuk selama prosedur gigi yang melibatkan rotary instrument. Langkah-langkah pengendalian infeksi dalam praktik kedokteran gigi sangat penting untuk mencegah infeksi silang. Preprocedural oral rinse merupakan salah satu langkah pengendalian infeksi yang dilakukan pada pasien sebelum tindakan klinis.Penelitian ini bertujuan menilai perbedaan penurunan jumlah bakteri bioaerosol dalam tindakan preprocedural oral rinse menggunakan Klorheksidin Glukonat (CHX) 0,2% dan Povidone Iodine (PV) 1%. Metode: Penelitian eksperimen dilakukan menggunakan metode randomized controlled clinical trials (RCT) yang melibatkan 14 subjek pasien skeling yang sehat secara sistemik dengan diagnosis gingivitis. Lempeng agar diposisikan di tiga lokasi yaitu, dada pasien, dokter gigi, dan asisten. Kemudian dilakukan skeling ultrasonik selama 5 menit tanpa berkumur. Subjek dibagi menjadi dua kelompok yaitu, pasien yang berkumur dengan CHX 0,2% dan pasien yang berkumur dengan PV 1% selama 30 detik. Lempeng agar ditempatkan pada tiga lokasi yang sama, dan skeling ultrasonik dilanjutkan selama 5 menit. Lempeng agar diinkubasi pada suhu 36°C selama 24 jam dan koloni bakteri yang terbentuk dihitung. Hasil: Jumlah koloni bakteri bioaerosol pada lempeng agar yang ditempatkan di dada pasien dan asisten menurun setelah berkumur dengan CHX 0,2% dan PV 1%. Klorheksidin glukonat menurunkan jumlah koloni bakteri sebesar 17,11%, sementara povidon iodine meningkat 3,19%. Terdapat perbedaan signifikan sebelum dan sesudah berkumur CHX 0,2% di semua lokasi (p<0,05), sedangkan PV 1% tidak menunjukkan perbedaan signifikan (p=0,182). Simpulan: Berkumur dengan klorheksidin glukonat 0,2% dapat menurunkan jumlah koloni bakteri bioaerosol saat skeling ultrasonik dibandingkan povidone iodine.KATA KUNCI: bioaerosol, preprocedural oral rinse, obat kumur, skeling ultrasonik
|
bioaerosol, preprocedural oral rinse, obat kumur, skeling ultrasonik, bioaerosol, preprocedural oral rinse, mouth rinses, ultrasonic scaling | 2024-06-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/56096 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i2.56096 |
| 1672769 | #6191 | Perubahan harmoni wajah pasca perawatan kelas II skeletal dengan pencabutan dua premolar satu atas menurut analisis Arnett dan BergmanChanges in facial harmony after skeletal class II treatment with extraction of two maxillary first premolars based on Arnett and Bergman analysis |
Yusuf, Muslim Harahap, Nurhayati Nasution, Dhita Kartika |
Pendahuluan: Arnett dan Bergman (1999) membuktikan bahwa perawatan ortodonti, analisis jaringan lunak wajah, diagnosis dan rencana perawatan memiliki parameter nilai harmoni sebagai kunci penetapan estetika wajah. Perawatan maloklusi klas II skeletal disertai proganotisme maksilaris umumnya dilakukan dengan pencabutan dua premolar satu atas untuk mengkoreksi profil wajah pasien. Tujuan penelitian untuk menganalisis perubahan nilai harmoni wajah pasca perawatan maloklusi kelas II dengan pencabutan premolar satu atas menurut analisa Arnett dan Bergman. Metode: Jenis penelitian analitik observasional dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Sampel penelitian 72 foto sefalometri lateral maloklusi kelas II skeletal sebelum dan setelah perawatan ortodonti. Penilaian harmoni jaringan lunak dibagi menjadi 4, yaitu harmoni intramandibular, harmoni antar rahang, orbita ke rahang dan keseimbangan wajah. Data menggunakan Shapiro Wilk menunjukkan tidak berdistribusi normal. Uji yang digunakan Shapiro Wilk dan analisis Spearman. Hasil: Terdapat perubahan harmoni intramandibular dan keseimbangan wajah pada maloklusi kelas II skeletal dengan pencabutan premolar satu atas sebelum dan setelah perawatan (p=0,025;p=0,032). Tidak terdapat perubahan nilai harmoni antar rahang dan orbita ke rahang pada maloklusi kelas II skeletal dengan pencabutan premolar satu atas sebelum dan setelah perawatan. Ada pengaruh besar retraksi gigi insisivus terhadap nilai harmoni wajah sebelum dan setelah perawatan pada perawatan kelas II dengan pencabutan dua premolar atas (p= 0.001). Simpulan: Perawatan maloklusi kelas II skeletal dengan pencabutan dua premolar satu atas memiliki hubungan antara besar retraksi dengan perubahan nilai harmoni wajah berdasarkan analisa Arnett dan Bergmann. Kata kunci: Maloklusi kelas II skeletal, pencabutan dua premolar pertama atas, nilai harmoni wajah. ABSTRACT Introduction: Arnett and Bergman (1999) have proved that orthodontic treatment, facial soft tissue analysis, diagnosis, and treatment plan have parameters of harmony values as the key to determining facial aesthetics. Treatment of skeletal class II malocclusion with maxillary prognathism is generally performed by extracting two maxillary first premolars to correct the patient’s facial profile. This study was aimed to analyse changes in the facial harmony values after class II malocclusion treatment with the extraction of the maxillary first premolar following Arnett and Bergman’s analysis. Methods: This research was observational analytic with a purposive sampling technique. The study sample was 72 images of skeletal class II malocclusion lateral cephalometry before and after orthodontic treatment. Assessment of soft tissue harmony was divided into four, namely intramandibular harmony, intermaxillary harmony, orbital to jaw harmony, and facial balance. Data was not normally distributed, as resulted from Shapiro Wilk analysis. The analysis in this study was conducted using Shapiro Wilk and Spearman’s analysis. Results: There were changes in intramandibular harmony and facial balance in skeletal class II malocclusion with the maxillary first premolar extraction before and after treatment (p=0.025 and p=0.032, respectively ). There was no change found in the value of intermaxillary harmony and the orbital to the jaw harmony in skeletal class II malocclusion with extraction of the maxillary first premolar before and after treatment. There was a high effect of incisor retraction on the facial harmony values before and after treatment in class II treatment with extraction of two maxillary premolars (p=0.001). Conclusion: Treatment of skeletal class II malocclusion with extraction of two maxillary first premolars has a relationship between the magnitude of retraction and changes in facial harmony values based on Arnett and Bergmann’s analysis.Keywords: Class II skeletal malocclusion, extraction of two maxillary first premolar, facial harmony.
|
maloklusi kelas II skeletal; pencabutan dua premolar pertama atas; nilai harmoni wajah; class II skeletal malocclusion; extraction of two maxillary first premolar; facial harmony | 2021-04-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28263 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i1.28263 |
| 1672768 | #6191 | Perubahan pengetahuan setelah edukasi foto ronsen di bidang kedokteran gigi pada siswa Sekolah Menengah Atas menggunakan media animasi |
Nazerin, Nur Alya Epsilawati, Lusi Suwargiani, Anne Agustina |
Pendahuluan: Radiografi gigi merupakan salah satu pemeriksaan wajib yang digunakan di kalangan dokter gigi untuk membantu dalam menentukan diagnosis yang tepat dalam rongga mulut. Namun, radiografi gigi menghasilkan bahaya yang tidak terduga yaitu radiasi sinar-X yang memberi dampak buruk ke tubuh manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan pengetahuan setelah edukasi radiografi gigi di kalangan siswa SMAN 1 Cipatat menggunakan media animasi. Metode:Penelitian ini dirancang dengan metode deskriptif. 32 siswa kelas VI MIPA 2 di SMAN 1 Cipatat dipilih menjadi responden berdasarkan teknik total sampling. Perubahan pengetahuan setelah edukasi menggunakan media animasi diukur dengan memberikan kuesioner sebelum dan sesudah edukasi. Hasil: Perubahan pengetahuan setelah menerima pendidikan radiografi gigi yang 24 responden (75%) meningkat karena mereka memperhatikan selama pendidikan dan memiliki perilaku yang menentukan untuk belajar. Selain itu,6 responden (18.75%) tidak mengalami perubahan pengetahuan radiografi gigi. Simpulan: Adanya peningkatan pengetahuan radiografi gigi yang signifikan setelah edukasi menggunakan media animasi.Kata kunci: Pengetahuan, radiologi kedokteran gigi, edukasi, media animasi
|
2018-03-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21428 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i2.21428 | |
| 1672767 | #6191 | The difference in soft tissue analysis before and after camouflage orthodontic treatment in Class II Division 1 skeletal malocclusion based on MC Namara analysis: comparative study |
Miranti, Diandra Audyla Mardiati, Endah Evangelina, Ida Ayu Laviana, Avi |
ABSTRACT Introduction: The camouflage treatment of Class II division 1 malocclusion was performed on patients who are no longer able to be treated with functional orthodontic devices but it is still possible to be treated with orthodontic camouflage treatment. One of the possible methods to evaluate the results of orthodontic camouflage treatment of class II division 1 skeletal malocclusion was done by manual McNamara cephalometric analysis. The aim of the study was to determine the difference before and after orthodontic camouflage treatment of class II division 1 malocclusion using manual McNamara cephalometric analysis. Methods: This research is cross sectional comparative analytic. Determination of the sample was done by purposive sampling, which obtained 11 samples. McNamara's cephalometric analysis uses the Frankfort Horizontal Plane as a horizontal reference and determines a perpendicular line through the Nasion as a vertical reference. Statistical analysis was performed by t-test (p<0.05)t. Results: There were significant differences in the results of soft tissue analysis of the nasolabial angle, upper lip cant, and the distance of the maxillary incisors to the A-Pog point (p<0.05). There were no significant differences in analysis of point A to N perpendicular, condylion to point A , condylion to point of gnation, LAFH, mandibular plane angle, facial axis angle, pogonion distance to N perpendicular, and mandibular incisor distance to point A-Pog (p >0.05). Conclusions:Orthodontic camouflage treatment of skeletal class II division 1 malocclusion results in changes in the soft tissue of the nasolabial angle, upper lip cant, and the distance of the maxillary incisors to the A-Pog point. While point A to N perpendicular, condylion to point A, condylion to point of gnation, LAFH, mandibular plane angle, facial axis angle, pogonion distance to N perpendicular, and the distance of the mandibular incisor to the A-Pog point did not change.KEY WORDS: Skeletal malocclusion, Class II division 1, orthodontic camouflage treatment, mcnamara cephalometric analysis.Perbedaan analisis jaringan lunak sebelum dan setelah perawatan ortodonti kamuflase pada maloklusi skeletal kelas II divisi 1 berdasarkan analisis MC Namara: studi komparatifABSTRAK Pendahuluan: Perawatan ortodonti kamuflase maloklusi kelas II divisi 1 dilakukan pada pasien yang sudah tidak mungkin dirawat dengan alat ortodonti fungsional tetapi masih mungkin dilakukan dengan perawatan ortodonti kamuflase. Salah satu cara evaluasi hasil perawatan ortodonti kamuflase maloklusi skeletal kelas II divisi 1, dilakukan dengan analisis sefalometri McNamara secara manual. Tujuan penelitian menganalisis perbedaan hasil analisa sefalometri jaringan lunak metode McNamara sebelum dan setelah perawatan kamuflase maloklusi skeletal kelas II divisi I Metode: Jenis penelitian cross sectional analitik komparatif. Penentuan sampel dilakukan secara purposive sampling, diperoleh 11 sampel. Analisis sefalometri McNamara menggunakan Frankfort Horizontal Plane sebagai referensi horizontal dan menentukan garis tegak lurus melalui Nasion sebagai referensi vertikal. Analisis statistik dilakukan dengan uji pairedt-test (p<0,05). Hasil: Terdapat perbedaan signifikan hasil analisis jaringan lunak sudut nasolabial, cant bibir atas, dan hubungan insisif rahang atas terhadap titik A-Pog (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan signifikan analisis titik A ke N perpendicular, condylion ke titik A, condylion ke titik gnation, LAFH, mandibular plane angle, facial axis angle, jarak pogonion ke N perpendicular, dan jarak gigi insisif rahang bawah ke titik A-Pog (p>0,05). Simpulan: Perawatan ortodonti kamuflase pada maloklusi skeletal kelas II divisi 1 menghasilkan perubahan jaringan lunak sudut nasolabial, cant bibir atas, dan jarak insisif terhadap titik A. Titik A ke N perpendicular, condylion ke titik A, condylion ke titik gnation, LAFH, mandibular plane angle, facial axis angle, jarak pogonion ke N perpendicular, sedangkan jarak gigi insisif rahang bawah ke titik A-Pog tidak mengalami perubahan.KATA KUNCI: Maloklusi skeletal, kelas II divisi 1, ortodonti kamuflase, analisis sefalometri jaringan lunak, McNamara.
|
Maloklusi skeletal, kelas II divisi 1, ortodonti kamuflase, analisis sefalometri jaringan lunak, McNamara, Skeletal malocclusion, Class II division 1, orthodontic camouflage treatment, mcnamara cephalometric analysis. | 2023-08-10 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/35884 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i2.35884 |
| 1672766 | #6191 | Correlation between dental and oral health knowledge and dental caries status through the HI BOGI application in elementary school children aged 11–12 years: Study cross-sectional |
Fadilah, Rina Putri Noer Endro, Hartanto Hizami, Muhammad Rifqi |
ABSTRACTIntroduction: Dental caries is a common disease in Indonesia, with a prevalence of 82.8%. School-aged children, especially elementary school students, generally have relatively low levels of knowledge about dental and oral health. This study aimed to analyze the correlation between dental and oral health knowledge and caries status in children aged 11-12 years in Cimahi City, through the use of the HI BOGI application. Methods: This study was a quantitative study with a cross-sectional design involving 300 public elementary school children aged 11-12 years from 9 selected schools in Cimahi City. The sample was selected using a cluster random sampling technique in three sub-districts, namely Central Cimahi, South Cimahi, and North Cimahi, followed by proportional sampling. Sample size determination was performed using a two-proportion hypothesis test formula based on sample size software, with a minimum of 250 respondents and a target of 290 respondents. Inclusion criteria included students aged 11-12 years who were actively registered and willing to participate, while exclusion criteria included absence during the study, as well as incomplete photo documentation. Data were collected using the HI BOGI application and a Google Form questionnaire, then analyzed using the Spearman correlation test. Results: The level of children's knowledge was in the high category with an average value of 13.55 ± 1.90, while the dental caries status was classified as low with an average DMF-T index value of 2.53 ± 1.80. The Spearman correlation test showed a value of r = -0.60 with p = 0.302, which indicates that there is no significant correlation between the level of knowledge and dental caries status. Conclusion: There is no correlation between oral health knowledge and dental caries status in children aged 11-12 years in Cimahi City based on the use of the HI BOGI application.KEY WORDS: elementary school children, HI BOGI, DMF-T index, dental caries, knowledgeKorelasi pengetahuan kesehatan gigi dan mulut terhadap status karies gigi melalui aplikasi HI BOGI pada anak SD usia 11-12 tahun: Studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Karies gigi merupakan penyakit yang umum di Indonesia, dengan prevalensi mencapai 82,8%. Anak usia sekolah, khususnya siswa sekolah dasar, umumnya masih memiliki tingkat pengetahuan yang rendah mengenai kesehatan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi antara pengetahuan kesehatan gigi dengan status karies pada anak usia 11-12 tahun di Kota Cimahi, menggunakan aplikasi HI BOGI. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain cross-sectional yang melibatkan 300 anak Sekolah Dasar Negeri usia 11-12 tahun dari 9 sekolah terpilih di Kota Cimahi. Sampel dipilih menggunakan teknik cluster random sampling pada tiga kecamatan, yaitu Cimahi Tengah, Cimahi Selatan, dan Cimahi Utara, yang dilanjutkan dengan proportional sampling. Penentuan jumlah sampel dilakukan menggunakan rumus uji hipotesis dua proporsi berdasarkan perhitungan software sample size, dengan jumlah minimal 250 responden dan target 290 responden. Kriteria inklusi meliputi siswa usia 11-12 tahun yang terdaftar aktif dan bersedia menjadi responden, sedangkan kriteria eksklusi meliputi ketidakhadiran saat penelitian, dan ketidaklengkapan dokumentasi foto. Data dikumpulkan menggunakan aplikasi HI BOGI dan kuesioner Google Form, kemudian dianalisis dengan uji korelasi Spearman. Hasil: Tingkat pengetahuan anak berada pada kategori tinggi dengan nilai rerata 13,55 1,9, sedangkan status karies gigi tergolong rendah dengan nilai rerata indeks DMF-T 2,53 1,8. Uji korelasi Spearman menunjukkan nilai r=-0,60 dengan p = 0,302, yang mengindikasikan tidak terdapat korelasi yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan status karies gigi. Simpulan: Tidak terdapat korelasi antara pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan status karies gigi pada anak usia 11-12 tahun di Kota Cimahi melalui penggunaan aplikasi HI BOGI. KATA KUNCI: anak SD, HI BOGI, indeks DMF-T, karies gigi, pengetahuan
|
Elementary school children, HI BOGI, DMF-T index, dental caries, knowledge, anak SD, HI BOGI, indeks DMF-T, karies gigi, pengetahuan | 2026-03-25 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/65214 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v10i1.65214 |
| 1672765 | #6191 | Efektivitas mengonsumsi keju Brie terhadap kenaikan pH salivaEffectiveness of consuming Brie cheese on increasing salivary pH |
Lazarus, Celia Mandalas, Henry Yonatan Suwindere, Winny |
Pendahuluan: Derajat keasaman (pH) saliva merupakan faktor kunci utama keseimbangan demineralisasi dan remineralisasi gigi. Demineralisasi email terjadi pada keadaan pH <5,5 dan terjadi dalam waktu beberapa menit setelah asupan sukrosa. Saliva memiliki peran signifikan dalam proses meningkatkan pH rongga mulut sehubungan dengan kemampuan buffering, yaitu kandungan bikarbonat yang dapat menetralkan pH sehingga mencegah enamel gigi dari demineralisasi. Tujuan penelitian ini untuk mengukur atau menilai peranan keju Brie dalam menaikan pH saliva. Metode: Penelitian ini merupakan eksperimental semu bersifat komparatif. Jumlah subjek penelitian adalah 32 orang yang dibagi menjadi kelompok perlakuan, yaitu mengonsumsi keju Brie dan kelompok kontrol, yaitu tidak mengonsumsi keju Brie. Subjek penelitian diukur nilai pH saliva awal dan akhir menggunakan pH test strip. Hasil: Rerata selisih nilai pH awal dan akhir pada kelompok perlakuan adalah sebesar 0,48 dan pada kelompok kontrol adalah sebesar -0,29. Rerata selisih pH saliva pada kelompok perlakuan, yaitu mengonsumsi keju Brie, lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol, dengan perbedaan yang signifikan (p<0,05). Simpulan: Mengonsumsi keju Brie efektif dalam meningkatkan pH saliva.Kata kunci: Efektivitas, keju Brie, pH saliva ABSTRACTIntroduction: Salivary acidity degree (pH) is the main key factor in the balance of tooth demineralisation and remineralisation. Enamel demineralisation occurs at the pH < 5.5 and occurs within minutes after sucrose intake. Saliva has a significant role in the process of pH increase in the oral cavity due to the buffering ability, which is the bicarbonate content which able to neutralise the pH value to prevent tooth enamel demineralisation. The purpose of this study was to measure or assess the effect of Brie cheese consumption in raising the salivary pH. Methods: This study is a quasi-experimental comparative. The number of research subjects was 32 people who were divided into treatment groups which consumed Brie cheese, and the control group which did not consume Brie cheese. Each research subject was measured the initial and final salivary pH values using a pH test strip. Results: The average difference in the initial and final pH values of the treatment group was 0.48, and in the control group was -0.29. The average difference of the salivary pH in the treatment group, which was consuming Brie cheese, was higher than the control group, with a significant difference (p < 0.05). Conclusion: Consuming Brie cheese is effective in increasing the salivary pH.Keywords: Effectiveness, Brie cheese, salivary pH
|
Efektivitas, keju Brie, pH saliva, effectiveness, Brie cheese, salivary pH | 2019-07-12 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22480 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i1.22480 |
| 1672764 | #6191 | Level of knowledge, attitude, and awareness of parents with non-syndromic cleft lip and palate patients towards orthodontic treatment: Study cross-sectional |
Syafitri, Kharlina Laviana, Avi Sayuti, Elih Evangelina, Ida Ayu Mardiati, Endah |
ABSTRACTIntroduction: Non-syndromic cleft lip and palate (nsCLP) is one of the commonest congenital craniofacial defects in populations around the world, including Indonesia. nsCLP patients generally undergo a long treatment process, requiring a multidisciplinary approach including orthodontic treatment, as well as parental support to achieve successful treatment. Knowledge, attitude, and awareness of both parents and patients have an important role in supporting the success of orthodontic treatment, especially in nsCLP patients. The purpose of this study was to measure the level of knowledge, attitudes, and awareness of parents in nsCLP patients regarding orthodontic treatment. Methods: This research method was quantitative cross sectional with a comparative analytic survey using the Wilcoxon-Mann Whitney non-parametric test. This research used a questionnaire divided into 3 parts; knowledge, attitudes, and awareness of orthodontic treatment. The scores were grouped into good, fair, and poor categories. Results: A total of 92 respondents: father (46) and mother (46) participated in this study. Knowledge level of the mother was in the ‘good’ category and was higher than the father’s (36,96% and 26,09%). The attitude levels of the mother and father were dominantly moderate with 28,26% and 27,17%. Awareness level of the mother in the ‘good’ category was almost the same as the father's (42,39% and 41,39%). Data were analyzed using the Wilcoxon-Mann Whitney test. The analytic results of knowledge level between the father and the mother were obtained with p-value = 0.0280 (p<0.05); attitude level with p-value = 0.8396 (p>0.05), and awareness level with p-value = 0.8550 (p>0.05). Conclusion: There is a difference in the level of knowledge between father and mother in nsCLP patients towards orthodontic treatment, but there is no difference in the level of attitude and awareness between the father and the mother towards orthodontic treatment.KEY WORDS: cleft lip and palate, knowledge, attitude, awareness, orthodontic treatment.Perbedaan tingkat pengetahuan, sikap, dan kesadaran ayah dan ibu pasien celah bibir dan celah langit-langit non sindromik terkait perawatan ortodonti: Studi cross sectionalABSTRAKPendahuluan: Celah bibir dan langit-langit non sindromik (CBLns) merupakan kondisi cacat kraniofasial kongenital yang umum terjadi pada populasi seluruh dunia termasuk Indonesia. Pasien CBLns umumnya menjalani proses perawatan cukup panjang, membutuhkan pendekatan multidisiplin termasuk perawatan ortodonti serta dukungan orang tua. Pengetahuan, sikap, dan kesadaran pada orang tua memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan perawatan ortodonti khususnya pada pasien CBLns. Penelitian bertujuan untuk menganalisis tingkat pengetahuan, sikap, dan kesadaran ayah dan ibu pasien CBLns terkait perawatan ortodonti. Metode: Metode penelitian kuantitatif cross sectional dengan survei analitik komparatif menggunakan uji non parametrik Wilcoxon-Mann Whitney. Populasi penelitian merupakan orang tua pasien CBLns yang terdaftar di Yayasan Pembina Penderita Celah Bibir dan Langit-Langit (YPPBCL) Bandung Jawa Barat (2017 - 2022) menggunakan teknik random sampling diperoleh besar sampel sebesar 51 orang. Penelitian menggunakan kuesioner pengetahuan, sikap, dan kesadaran terkait perawatan ortodonti kemudian skor dikelompokkan menjadi kategori baik, cukup, dan kurang. Hasil: Total 92 orang responden yaitu ayah (46) dan ibu (46). Persentase tingkat pengetahuan ibu pada kategori baik lebih tinggi dibanding pada ayah (36,96%;26,09%). Persentase tingkat sikap ibu dan ayah lebih dominan pada kategori cukup (28,26%;27,17%), persentase tingkat kesadaran ibu dan ayah dominan pada kategori baik (42,39%;41,39%). Hasil analitik tingkat pengetahuan ayah dan ibu diperoleh nilai p = 0,0280 (p<0,05), tingkat sikap mendapatkan nilai p = 0,8396 (p>0,05), dan tingkat kesadaran dengan nilai p = 0,8550 (p>0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan tingkat pengetahuan ayah dan ibu, namun tidak terdapat perbedaan tingkat sikap dan kesadaran ayah dan ibu pada pasien CBLns terkait perawatan ortodonti.KATA KUNCI: Celah bibir dan langit-langit, pengetahuan, sikap, kesadaran, perawatan ortodonti.
|
Celah bibir dan langit-langit; pengetahuan; sikap; kesadaran; perawatan ortodonti, cleft lip and palate, knowledge, attitude, awareness, orthodontic treatment. | 2024-03-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/51215 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i1.51215 |
| 1672763 | #6191 | Ambang pengecapan rasa asin pada wanita perokokSalty taste threshold in smoking women |
Farhan, Muhammad Tjahajawati, Sri Murniati, Nani |
Pendahuluan: Efek negatif panas asap dan kandungan rokok bagi perokok terjadi pada organ sensorik yang menyebabkan menurunnya fungsi pengecapan yang ditandai dengan peningkatan ambang pengecapan. Rokok membuat organ pengecapan atau taste buds berkontak dengan senyawa kimia yang terdapat dalam rokok dan cenderung membuat kemampuan taste buds menurun. Tujuan penelitian mengetahui ambang pengecapan rasa asin pada wanita perokok. Metode: Jenis penelitian deskriptif. Data yang diperoleh merupakan data sekunder dari penelitian Riset Fundamental Unpad (RFU) dimana pengambilan sampel pada penelitian data primer sebanyak 44 wanita perokok dan 91 wanita non perokok. Data objektif ambang pengecapan rasa asin diperoleh dengan meneteskan larutan NaCl pada permukaan lidah dengan berbagai konsentrasi. Data subjek lainnya diperoleh dari pengisian kuisioner. Hasil: Rata-rata ambang pengecapan rasa asin pada wanita perokok 0,025 M(> 0,01 M), ambang pengecapan rasa asin pada wanita non-perokok 0,023 M(>0,01 M), nilai ambang pengecapan rasa asin dengan konsumsi 10 batang rokok per hari selama 2-5 tahun dan lebih dari 6 tahun masing-masing 0,027 M dan 0,024 M. Rata-rata nilai ambang pengecapan rasa asin dengan konsumsi 20 batang rokok per hari selama 2-5 tahun dan lebih dari 6 tahun masing-masing 0,023 M dan 0,024 M. Rata-rata nilai ambang pengecapan rasa asin dengan konsumsi 25 batang rokok per hari selama lebih dari 6 tahun sebesar 0,03 M. Simpulan: Ambang pengecapan rasa asin pada wanita perokok dari nilai ambang normal.Kata kunci: Ambang pengecapan, rasa asin, wanita perokok. ABSTRACTIntroduction: The negative effect of cigarette smoke heat and its composition towards sensory organ includes decreasing taste sensibility that is indicated by an increase in the tasting threshold; thus, the function of taste decreases. Cigarettes causes taste buds to contact with chemical compounds composed in it and tends to caused insensitivity of taste buds. The objective of this study was to investigate the salty taste threshold in smoking women. Methods: The study was conducted by a descriptive method. The data obtained were secondary data from Universitas Padjadjaran Fundamental Research (RFU) consisted of 44 primary smokers and 91 non-smokers. The objective data of the salty taste tasting was obtained by dripping NaCl solution on the surface of the tongue with various concentrations. Other data subjects were obtained from filling out questionnaires. Results: The average salty taste threshold value obtained from smoking women was 0.025 M (> 0.01 M), and of non-smoking women was 0.023 M (> 0.01 M). The salty taste threshold value of women who consumed ten cigarettes per day for 2-5 years and more than 6 years were 0.027 M and 0.024 M, respectively. The average salty taste threshold value of women who consumed 20 cigarettes per day for 2-5 years and more than 6 years were 0.023 M and 0.024 M, respectively. The average salty taste threshold value of women who consumed 25 cigarettes per day for more than 6 years was 0.03 M. Conclusion: The salty taste threshold in smoking women had a higher tendency than normal.Keywords: Taste threshold, salty taste, smoking women.
|
Ambang pengecapan, rasa asin, wanita perokok, taste threshold, salty taste, smoking women. | 2020-04-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/24819 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v4i1.24819 |
| 1672762 | #6191 | The relationship between workload and the risk of musculoskeletal disorders in dentists practicing in padang city: Cross-sectional study |
Apriliyanti, Apriliyanti Surya, Leny Sang |
ABSTRACT Introduction: One of the factors that affect musculoskeletal disorders in dentists is workload. Workload is the number of patients handled by dentists at the practice. The purpose of the study was to determine the relationship between workload and the risk of musculoskeletal disorders in the practice of dentists in Padang City. Methods: This type of research is a quantitative analytical research using a cross-sectional design. The population in the study is all dentists in Padang City who already have a SIP PDGI Padang City branch in 2023 as many as 40 samples using a simple random sampling technique. The data analysis technique in this study used univariate and bivariate analysis which was analyzed using SPSS. Results: This study had 40 respondents who received the most workload frequency distribution of >5 patients/day, namely 28 people (70.0%) and the frequency distribution of the most musculoskeletal disorders risk was moderate, namely 22 people (55.0%) in the practice of dentists in Padang City. Conclusion: There is a relationship between workload and the risk of musculoskeletal disorders in dentists in Padang City as seen from the results of the chi square test.KEY WORDS: workload, dentist, musculoskeletalHubungan beban kerja dengan risiko gangguan muskuloskeletal pada dokter gigi yang berpraktik: studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Salah satu faktor yang mempengaruhi gangguan muskuloskeletal pada dokter gigi adalah beban kerja. Beban kerja adalah jumlah pasien yang ditangani oleh dokter gigi pada tempat praktik. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan beban kerja terhadap risiko gangguan muskuloskeletal pada praktek dokter gigi di Kota Padang. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif analitik dengan menggunakan desain cross-sectional. Populasi pada penelitian adalah seluruh dokter gigi di Kota Padang yang sudah mempunyai SIP PDGI cabang Kota Padang pada tahun 2023 sebanyak 40 sampel dengan menggunakan teknik simple random sampling. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis univariat dan bivariat yang dianalisis menggunakan SPSS. Hasil: Penelitian ini memiliki 40 responden yang mendapatkan distribusi frekuensi beban kerja terbanyak adalah >5 pasien/hari yaitu 28 orang (70,0%) dan distibusi frekuensi dari risiko gangguan muskuloskeletal terbanyak adalah sedang yaitu 22 orang (55,0%) pada praktek dokter gigi di Kota Padang. Simpulan: Ada hubungan beban kerja terhadap risiko gangguan musculoskeletal pada dokter gigi di Kota Padang dengan dilihat dari hasil uji chi square.KATA KUNCI: beban kerja, dokter gigi, muskuloskeletal
|
Kata Kunci : beban kerja, resiko gangguan muskuloskeletal, workload, dentist, musculoskeletal | 2024-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/57749 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i3.57749 |
| 1672761 | #6191 | Perbandingan kebutuhan perawatan ortodonti pada remaja perkotaan dan remaja pinggir kotaComparison of orthodontic treatment needs in urban and suburban adolescents |
Jelita, Dinda Tegar Krisnawati, Krisnawati Ismaniati, Nia Ayu |
ABSTRAKPendahuluan: Kebutuhan perawatan ortodonti seseorang dapat disebabkan oleh hubungan gigi geligi yang tidak sesuai, fungsi oral dan masalah psikososial. Sebelum melakukan perawatan ortodonti, operator perlu mengetahui keinginan pasien. Kebutuhan perawatan ortodonti cukup tinggi pada usia remaja. Kemungkinan terdapat perbedaan psikososial antara remaja perkotaan dan remaja pinggiran kota yang dapat mempengaruhi pengetahuan terhadap masalah kesehatan gigi, khususnya tentang ortodonti. Tujuan penelitian untuk menganalisis perbandingan kebutuhan perawatan ortodonti remaja perkotaan dan remaja pinggiran kota. Metode: Jenis penelitian analitik komparatif dengan desain potong lintang pada siswa-siswi SMPN 11 Jakarta dan SMPN 2 Tangerang Selatan yang berusia 12-15 tahun. Teknik pengambilan sampel menggunakan multi-stage random cluster sampling sehingga didapatkan lokasi pengambilan sampel dan subjek penelitian. Kuesioner penelitian menggunakan Indikator Kebutuhan Perawatan Ortodonti (IKPO). Analisis data menggunakan SPSS versi 24,0. Analisis data yang digunakan yaitu uji validitas kuesioner dengan pearson korelasi, uji reliabilitas kuesioner dengan Alpha-cronbach, uji reliabilitas inter-observer dan intra-observer dengan Cohen Kappa Examiner, dan analisis bivariat dengan Mann Whiteney. Subjek penelitian di SMPN 11 Jakarta sebanyak 110 orang, yang terdiri dari perempuan 74 orang dan subjek laki-laki 36 orang. Subjek penelitian di SMPN 2 Tangerang sebanyak 147, yang terdiri dari perempuan 88 orang dan subjek laki-laki 59 orang. Hasil: Hasil Uji Mann Whitney nilai p>0,05 yang berarti tidak ada perbedaan bermakna secara statistik kebutuhan perawatan ortodonti antara remaja perkotaan dan remaja pinggir kota. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan kebutuhan perawatan ortodonti antara remaja perkotaan dan remaja pinggir kota. Kata kunci: indikator kebutuhan perawatan ortodonti; remaja; perkotaan; pinggir kota ABSTRACTIntroduction: Individual orthodontic treatment needs can be caused by malocclusion, oral function disorder, and psychosocial problems. Before performing an orthodontic treatment, the operator needs to know the patient’s expectations. The need for orthodontic treatment is relatively high in adolescence. In addition, there may be psychosocial differences between urban adolescents and suburban adolescents that can affect knowledge of oral health problems, especially regarding orthodontics. This study aimed to analyse the comparison of orthodontic treatment needs in urban and suburban adolescents. Methods: This research was comparative analytics with a cross-sectional design, conducted on students of State Junior High School 11 Jakarta and State Junior High School 2 South Tangerang aged 12-15 years. The sampling technique used was multi-stage random cluster sampling to obtain the sampling locations and research subjects. The research questionnaire used was the Orthodontic Treatment Needs Indicator (IKPO). Data analysis was performed using SPSS version 24.0. The data analysis was conducted sequentially: questionnaire validity test with Pearson correlation; questionnaire reliability test with Cronbach alpha; inter-observer and intra-observer reliability tests with Cohen Kappa Examiner; and bivariate analysis with Mann Whitney. Respondents at State Junior High School 11 Jakarta were 110 students, consisting of 74 female and 36 male; while at State Junior High School 2 South Tangerang, there were 147 students, consisting of 88 female and 59 male. Results: Mann Whitney test results p>0.05, which means there was no statistically significant difference in the need for orthodontic treatment between urban and suburban adolescents. Conclusions: There is no difference in the need for orthodontic treatment between urban and suburban adolescents. Keywords: orthodontic treatment needs indicator; adolescent; urban; suburban
|
Indikator Kebutuhan Perawatan Ortodonti; remaja; perkotaan; pinggir kota; Orthodontic Treatment Needs Indicator; adolescent; urban; suburban | 2021-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/32002 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i2.32002 |
| 1672760 | #7252 | A Descriptive Study Of Diet In Family Of Patients With Diabetes Mellitus Type 2 |
Mambang Sari, Citra Windani Khotimah, Fitri Nurul Hartati, Sri Pratiwi |
Diet is one of the main factors related to various diseases including Diabetes Mellitus (DM). High carbohydrate, fat, protein, and low fiber diets can increase the risk of type 2 DM occurrence, especially in the patient’s family as a risk group. Previous research on students with DM families in Central Java still had a high-calorie food consumption pattern. The diversity of population, culture, and age may affect the results. Therefore, this study aimed to describe the diet in the family of patients with type 2 DM in the working area of Puskemas (Community Health Center) Garuda Bandung.This research used a quantitative descriptive method by purposive sampling technique. The respondents in this study involved 46 people who were the children of type 2 DM patients in the working area of Puskesmas Garuda. Dietary data obtained from the food record sheet for 3 days and was calculated using Nutrisurvey software in kilocalories (kcal) as the unit of measurement then the results were categorized based on Consensus Perkeni 2015. Data analysis was using frequency distribution.The results showed that 39 (84.8%) respondents in the diet category less than body requirements, 37 (80.4%) respondents in the category of sufficient carbohydrate intake, 39 (84.6%) respondents in the category of excess fat intake, 45 (97.8%) respondents in the category of adequate protein intake, and 41 (89.1%) respondents in the category of less fiber.The conclusions from this study that almost all families of patients with type 2 DM in the work area of Puskesmas Garuda were in the diet category less than body requirement but with the excess fat intake and less fiber. Based on these results, the nurses in Puskesmas are expected to optimize the outreach programs by addressing families of DM patients to make the diet as an attempt to prevent the risk in the family of patients with type 2 DM.Key words: Diet, DM patients’ families, food record. Gambaran Diet pada Keluarga Pasien Diabetes Melitus Tipe 2AbstrakDiet adalah salah satu faktor utama yang berhubungan dengan berbagai penyakit termasuk Diabetes Melitus (DM). Diet tinggi karbohidrat, lemak, protein, serta rendah serat dapat meningkatkan risiko kejadian DM tipe 2 terutama pada keluarga pasien sebagai kelompok berisiko. Penelitian sebelumnya pada mahasiswa dengan keluarga DM di Jawa Tengah masih memiliki pola konsumsi makanan yang tinggi kalori. Perbedaan populasi, budaya, serta usia mungkin akan mempengaruhi hasil. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini untuk menggambarkan diet pada keluarga pasien DM tipe 2 di wilayah kerja Puskemas Garuda Kota Bandung.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Responden dalam penelitian ini berjumlah 46 orang yang merupakan anak kandung pasien DM tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Garuda. Data diet diperoleh melalui lembar food record selama 3 hari dihitung mengunakan software Nutrisurvey dengan hasil ukur dalam kilokalori (kcal) yang kemudian hasilnya dikategorikan berdasarkan Konsensus Perkeni 2015. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi.Hasil penelitian menujukkan bahwa sebanyak 39 (84,8%) responden dalam kategori diet kurang dari kebutuhan, sebanyak 37 (80,4%) responden dalam kategori asupan karbohidrat cukup, sebanyak 39 (84,6%) responden dalam kategori asupan lemak berlebih, sebanyak 45 (97,8%) responden dalam kategori asupan protein cukup, dan 41 (89,1%) responden dalam kategori serat kurang.Simpulan dari penelitian ini bahwa hampir seluruh keluarga pasien DM tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Garuda berada pada kategori diet kurang dari kebutuhan tetapi dengan asupan lemak berlebih dan serat yang kurang. Berdasarkan hasil tersebut, maka perawat puskesmas diharapkan dapat mengoptimalkan program luar gedung dengan menyasar keluarga penderita DM untuk menjadikan diet sebagai upaya untuk mencegah risiko DM pada keluarga pasien DM tipe 2.Kata kunci : Diet, food record, keluarga pasien DM.
|
2018-02-12 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15772 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnc.v1i1.15772 | |
| 1672759 | #7252 | Slow Deep Breathing in Patients Following Double Lumen Catheter Insertion Experiencing Acute Pain Nursing Problems: A Case Report |
Muhtadini, Ruqi Permana, Ryan Hara |
Inserting a double-lumen catheter (CDL) in hemodialysis patients results in adverse effects, specifically pain. Pain is a disagreeable sensation caused by tissue injury involving sensory and emotional components. Pain management is a nursing care option for individuals experiencing pain. Pain can be managed by non-pharmacological methods, such as the Slow Deep Breathing (SDB) technique. This case study aims to assess the intervention for sleep-disordered breathing in patients with chronic renal disease following central venous catheter installation, focusing on acute pain nursing issues. This article used a case report style focused on a single patient in the treatment room. The effectiveness of the SDB intervention was evaluated by the Numeric Rating Scale (NRS) and by monitoring the patient's blood pressure, pulse, and respiration. The intervention resulted in a decrease in the NRS score from 2 to 0. Additionally, the blood pressure value decreased to normal, the pulse remained within the normal range, and there was no change in the patient's respiratory value for three days post-intervention. Expanding the use of SDB therapies to a more diverse group of patients will enhance the evidence supporting the effectiveness of these interventions.
|
Acute Pain, Nursing Intervention, Slow Deep Breathing | 2024-03-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/46126 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnc.v7i1.46126 |
| 1672758 | #7252 | Evidence-Based Practice: Community-Based Palliative Cancer Care |
Waluya, Jajang Ganjar Maziyya, Nur Nurlaela, Eva Vusfita, Ita Mz, Ihda Al Adawiyah Ibrahim, Kusman Nurhidayah, Ikeu Rahayuwati, Laili |
Prevalence of cancer is estimated will increase in the next two decades. Therefore, there is a challenge for health provider to encounter treatment and caring for the patients. Especially, the cancer patients face several problems not only physical but also psychological, emotional, spiritual and social cultural aspects.This study explored the evidence-based practice on community-based palliative cancer care. Literature study is done by making a summary of published articles related to the question. The searching method used several electronic databases such as Google Scholar, Proquest, and PubMed. Articles under the keywords of “Palliative Cancer Care”, “Community”, and “Nursing” reach as much as 1.804. The inclusion criteria for this literature review were articles that have been peer-reviewed, are in full-text, in either English or Indonesian, and publication year from 2008 to 2018. Meanwhile, the exclusion criteria include those that do not follow a standardized structure of an article (consisting of Abstract, Introduction, Method, Result, Discussion, Implication, and Reference), are in the form of a review, and whose content does not answer research questions.Results: The United States of America is on the highest place regarding palliative care service, following by community-based palliative cancer implementation in Europe. Asian countries had been applying palliative care service, integrated with national health care system. In the Middle East countries, palliative care program ranks the lowest, but in implementation, they have discreetly performed community-based palliative care. In Africa, it is not the main focus in the field of health. Palliative care for cancer patients that is potential for development in Indonesia is that of family-based.Conclusion: Community-based palliative care is a variant of palliative treatment long applied and being developed in many countries in the world. In continents such as America and Europe, the implementation of palliative care ranks the highest place. In Indonesia, it is done partially and only available in hospitals or non-governmental organization. In the level of community, family-based palliative care can be developed by involving trained family members.
|
Cancer, evidence-based practice, palliative care | 2019-06-29 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/18726 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnc.v2i2.18726 |
| 1672757 | #7252 | Assessment of Fall, Dependency, and Stroke Knowledge In CKD Patient With Comorbidities |
Pebriana, Tika Rifa Luthfiyah Kurniawan, Titis Nursiswati, Nursiswati |
Chronic kidney disease (CKD) is a global health problem that can lead to serious complications. In patients with CKD and diabetes mellitus (DM), there is an increased risk of falls, dependence in daily activities, and stroke. Although these risks are often associated with the elderly population, the phenomenon of multimorbidity is now also increasing trends among individuals of working age. This study aims to describe changes in fall risk levels, dependency levels, and stroke risk knowledge among CKD patients with DM and glaucoma during hospital care. Data collection was conducted through observation, interviews, physical examinations, and medical record reviews. The sample used was a 43 year old woman. The study results showed a significant improvement in reduced fall risk (MFS: 35 to 25), decreased dependency level (CDS: 53 to 66), and increased stroke risk knowledge (SRQ: 28 to 40). This study indicates that comprehensive interventions such as hemodialysis, wound care, pharmacological therapy, and education effectively improve functionality and understanding in productive aged patients with complex multimorbidity.
|
Medical Surgical Nursing Care Dependency Scale; Chronic Kidney Disease; Morse Fall Scale; Stroke Recognition Questionnaire Nursing Science | 2026-01-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/64537 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnc.v8i3.64537 |