| ID ↓ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1672576 | #5790 | TIPE ENDAPAN MINERAL PADA BATUAN METAMORF KUBAH BAYAH, BANTEN |
KHOLIS, NUR. Patonah, Aton. Barkah, Mochamad. Nursiyam |
Penelitian ini dilakukan di daerah Kubah Bayah, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, dengan tujuan untuk mengidentifikasi karakteristik, jenis, asosiasi mineral ubahan, mineral logam, dan tipe endapan mineral pada batuan induk berupa batuan metamorf. Petrografi dan mineragrafi adalah metode yang digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil petrografi, didapatkan 6 jenis batuan metamorf, yaitu sekis klorit, sekis biotit klorit, sekis muskvoit klorit, sekis biotit muskovit klorit, sekis garnet biotit muskovit klorit, dan sekis aktinolit klorit sebagai batuan induk. Berdasarkan hasil identifikasi mineral ubahan dan asosiasinya, alterasi daerah penelitian dibagi ke dalam 2 zona mineral alterasi, yaitu zona epidot – klorit ± kuarsa yang termasuk ke dalam tipe alterasi propilitik dan zona serisit ± pirit yang termasuk ke dalam tipe alterasi filik. Selanjutnya, hasil mineragrafi, menunjukkan bahwa terdapat 2 asosiasi mineralisasi logam bijih, yaitu pos-metamorfik dan sin-metamorfik. Mineral penyusun asosiasi mineralisasi pos-metamorfik terdiri atas pirit, kalkopirit, sfalerit, bornit, kovelit, dan hematit, sedangkan mineral penyusun asosiasi mineralisasi sin-metamorfik terdiri atas pirit. Selain itu, juga teridentifikasi mineral logam berharga berupa emas pada asosiasi mineral pos-metamorfik. Berdasarkan karakteristik di atas, maka tipe endapan yang terbentuk di daerah penelitian adalah didominasi oleh tipe endapan hidrotermal yaitu endapan epitermal sulfidasi menengah. Namun, sebagian kecil juga hadir, diduga sebagai endapan orogenik yang dicirikan oleh urat-urat paralel foliasi yang diisi oleh kuarsa sekunder, klorit sekunder, mineral lempung sekunder, dan mineral opak dan mineralisasi berupa mineral pirit yang terbentuk mengikuti foliasi pada mineral klorit.Kata kunci: Kubah Bayah, Zona alterasi – mineralisasi, batuan metamorf, epitermal sulfidasi menengah This research was conducted in the Bayah Dome area, Cihara District, Lebak Regency, Banten Province, with the aim of identifying the characteristics, types, associations of alteration minerals, metallic minerals, and types of metallic mineral deposits in metamorphic – hosted rocks. Petrography and mineragraphy are the methods used in this study. Based on the petrographic results, 6 types of metamorphic rocks were obtained, namely chlorite schist, chlorite biotite schist, chlorite muscovite schist, chlorite muscovite biotite schist, chlorite muscovite biotite garnet schist, and chlorite actinolite schist as the host rock. Based on the identification of alteration minerals and their associations, the alteration of the study area is divided into 2 zones of alteration minerals, namely the epidote - chlorite ± quartz alteration mineral zone which belongs to the propylitic alteration type and the sericite ± pyrite alteration mineral zone which belongs to the phyllic alteration type. Furthermore, mineragraphic results show that there are 2 ore metal mineralization associations, namely post-metamorphic and syn-metamorphic. The constituent minerals of the post-metamorphic mineralization association consist of pyrite, chalcopyrite, sphalerite, bornite, covellite and hematite, while the constituent minerals of the syn-metamorphic mineralization association consist of pyrite. In addition, valuable metal minerals in the form of gold were also identified in the post-metamorphic mineral association. Based on the above characteristics, the type of deposits formed in the study area is dominated by medium sulfidation epithermal deposits. However, a small part is also present, presumably as orogenic deposits characterized by foliation parallel veins filled with secondary quartz, secondary chlorite, secondary clay minerals, and opaque minerals and mineralization in the form of pyrite minerals formed following foliation on chlorite minerals.Keywords: Bayah Dome, Alteration-mineralization type, Metamorphic-hosted rock, Intermediate sulfide ephitermal
|
2024-04-26 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/48948 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v22i1.48948 | |
| 1672575 | #5790 | FASIES DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUGAMPING FORMASI KALIPUCANG DAERAH KARANGNUNGGAL, TASIKMALAYA JAWA BARAT |
Kotarumalos, Sitti Hafsa Abdurrokhim, . Sendjaja, Yoga A. |
Penelitian ini membahas fasies batugamping dan lingkungan pengendapan Formasi Kalipucang berumur Miosen Tengah, dan tersingkap di Karangnunggal, Tasikmalaya, Jawa Barat. Pengelompokkan fasies batugamping ini berdasarkan pada tekstur batuan dan komposisi skeletal (bioclast). Fasies batugamping Formasi Kalipucang dapat dikelompokkan menjadi 7 fasies, yaitu: (1) batugamping packstone berkomposisi dominan alga, (2) batugamping rudstone, (3) batugamping packstone berkomposisi dominan foraminifera, (4) batugamping wackestone – packstone berkomposisi foraminifera, (5) batugamping grainstone berkomposisi alga, (6) batugamping grainstone berkomposisi foramifera, dan (7) batugamping packstone berkomposisi coral. Batugamping Formasi Kalipucang ini diinterpretasikan diendapkan dalam lingkungan foreslope–deep shelf margin and barrier– shelf lagoon pada sebuah paparan yang terisolasi dari endapan volkanik.Kata kunci: batugamping, fasies, lingkungan pengendapan, Formasi Kalipucang, Tasikmalaya, Jawa Barat
|
2018-05-18 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/16773 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1672574 | #5790 | STRUKTUR SESAR DI PULAU JAWA BAGIAN BARAT BERDASARKAN HASIL INTERPRETASI GEOLOGI | -, Iyan Haryanto |
There are four major fault lines pattern that developed in Tertiary sedimentary rocks in the Western Part of Java Island, that are the east-west, north-south, northwest-southeast and northeast-southwest. Fault structures with the east-west direction generally existed as a reverse fault and as the main fault patterns that control the distribution of rocks on the surface. Regionally, together with structural folds, these fault structures has formed the thrust fold belt structure. The other faults direction, generally known as the secondary faults that formed simultaneously with the thrust fold belt structure. These faulst are generally as strike slip fault or oblique faults that are transtensional or transpressional. This fault pattern is formed when a horizontal force strength differences in each segment. From the Compilation of the fold structures data, faults and the stratigraphy, it can be concluded that the geological structure developed in Tertiary sedimentary rocks in the western part of Java Island, began formed at late Tertiary, under the main compressional system, which is north-south trending.
|
thrust folds, oblique, transtensional, transpressional, compressional | 2013-04-06 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8283 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v11i1.8283 |
| 1672573 | #5790 | STUDI BATUGAMPING BERDASARKAN KANDUNGAN FORAMINIFERA BESAR DI DAERAH CIRACAP, KABUPATEN SUKABUMI, PROVINSI JAWA BARAT, INDONESIA |
Silalahi, Natha Nuel Pratiwi, Santi Dwi Patonah, Aton |
Daerah penelitian secara geografis terletak pada koordinat 106°28'0“ BT - 106°30′30” BT dan 7°18'30“ LS - 7°21′0” LS, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Fokus penelitian ini adalah Batugamping Formasi Cibodas di daerah Ciracap dengan menggunakan analisis foraminifera bentonik besar dengan tujuan untuk menganalisis korelasi antara jenis batugamping dengan kelimpahan foraminifera besar. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi lapangan, termasuk pengukuran penampang, dan analisis petrografi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat dua litologi yang berbeda yang ditemukan pada Formasi Cibodas, yaitu Packstone dan Grainstone. Selain itu, dari hasil pengamatan petrografi, ditemukan 12 spesies foraminifera besar yang dapat diidentifikasi. Setelah dilakukan penarikan umur, didapatkan umur batugamping Formasi Cibodas berada pada kisaran Tf3-Th (Miosen Akhir-Pliosen Awal). Berdasarkan analisis data, dapat disimpulkan bahwa kelimpahan foraminifera secara signifikan lebih tinggi pada batugamping packstone dibandingkan dengan grainstone. Packstone terbentuk di lingkungan yang tenang dan berenergi rendah, dengan kandungan lumpur yang cukup banyak. Lumpur ini kaya akan nutrisi, sehingga mendukung kehidupan dan pelestarian foraminifera besar sedangkan grainstone terbentuk di lingkungan energi tinggi dengan arus dan gelombang kuat yang menghambat akumulasi lumpur serta kurang mendukung untuk pelestarian foraminifera bentonik besar. Lingkungan pengendapan berada di zona terumbu hingga dasar laut.Kata Kunci: Ciracap, Cibodas, Foraminifera Besar, Packstone, Grainstone, Terumbu
|
2025-04-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/62890 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v23i1.62890 | |
| 1672572 | #5790 | OSTRACODA MIOSEN DARI FORMASI CIMANDIRI, SUKABUMI, JAWA BARAT |
FAUZIELLY, LILI Winantris, . Jurnaliah, Lia Solihin, . Fitriani, Ria |
ABSTRAKLima belas spesies fosil ostracoda berumur Miosen dari Formasi Cimandiri telah dianalisis dari 6 conto sedimen yang berasal dari penampang stratigrafi lintasan S. Cimerang, Sukabumi. Analisis mikrofosil secara kuantitatif , memperlihatkan ostracoda Miosen tersebar pada litologi batulempung. Ostracoda yang melimpah pada lintasan ini adalah Hemicytheridea ornata, Cytherella hemipuncta, Hemicytheridea reticulata, Cytherelloidea excavata, Cyherella javaseanse, and Keijella carrirei.Berdasarkan kumpulan ostracoda, diketahui bahwa lingkungan pengendapan daerah penelitian adalah laut dangkal.Kata kunci: Ostracoda, Miosen, Cimandiri, Lingkungan Pengendapan, Batulempung.ABSTRACTFifteen species of fossil Ostracoda are describe from six sediment samples from Middle Miocene Cimandiri Formation, Sukabumi, West Java define from geological measure section profile Cimerang River. Microfossil Analysis based on quantitatively method, the distribution of Miocene Ostracoda be discovered in claystone lithology. Abundant ostracods are Hemicytheridea ornata, Cytherella hemipuncta, Hemicytheridea reticulata, Cytherelloidea excavata, Cyherella javaseanse, and Keijella carrirei. Based on the distribution of Ostracoda, it is known that the depositional environment of the study area is shallow sea.Keyword: Ostracoda, Miocene, Cimandiri, Depositional Environment, Claystone.
|
2019-08-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22735 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v17i2.22735 | |
| 1672571 | #5790 | LINGKUNGAN PENGENDAPAN SATUAN BATULEMPUNG SISIPAN BATUPASIR PADA FORMASI KEREK DAERAH JUWANGI DAN SEKITARNYA, BERDASARKAN KARAKTERISTIK LITOLOGI, ANALISIS STRUKTUR SEDIMEN, DAN KANDUNGAN FOSIL BENTONIK |
Morina, Hana Syafri, Ildrem Jurnaliah, Lia |
The research area is located in the Juwangi, Grobogan District, Central Java Province. Geographically located between 110o 44’ 19,536” BT – 110o 49’ 19,5384” BT dan 7o 13’ 53,2704” LS – 7o 8’ 53,2716” LS. Research using the method geological surface mapping. Determination of depositional environment unit based on the characteristic of lithology, sedimentary structures, and benthic foraminiferal. Based on the characteristic of lithology, this unit composed of mudstone and sandstone. Mudstone has a consideralable thickness, as sandstones insert. Sedimentary structures that are found in the form of parallel lamination and cross lamination shows that its transport medium is water. Benthic foraminiferal analysis result indicate that the bathymetry zone is outer neritic. So it can be estimated that the depositional environment of this unit are in the shallow marine.
|
2014-12-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8375 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v12i3.8375 | |
| 1672570 | #5790 | ANALISIS KIMIA BATUAN BASEMEN GRANITOID DI SUB CEKUNGAN JAMBI, SUMATRA SELATAN BERDASARKAN DATA DARI SUMUR JSB-3, JSB-4 DAN JSB-6 | -, Euis Tintin Yuningsih |
Research area located at Jambi sub basin, the northern part of South Sumatra Basin formed during Tertiary. The propose of the research is to determine petrological characteristics of pre-Tertiary basement rock based on major oxides analysis from the granitoid basement rock in research area with AAS method (Atomic Absorption Spectrophotometry) so the petrogenesis could be determined including kinds and characteristics of parent magma. Chemical rock analysis confirm the lithology of granitoid basement in Jambi sub basin are intermediate – acid magmas, calc-alkaline, medium – high K, metalluminous, subduction-related (orogen) at active continental margin. Granitoid at JSB-4 and JSB-6 shows magnetite series and I type. This Mesozoic granitoid probably as extension from the Thailand and Burma granite province, that underline the fact that there has been a history of subduction-related magmatism along Southwestern edge of Sundaland since earliest Mesozoic times.
|
granitoid, calc-alkaline, metalluminous, orogen, magnetite series, I-type | 2016-04-14 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8120 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v4i2.8120 |
| 1672569 | #5790 | Optimasi Lereng Highwall Tambang Batu Bara Terbuka Asam Asam Pit "X" Berdasarkan Mohr-Coulomb Failure Criterion |
Prajnanta, Aditya Bayu Sihombing, Felix M.H. Wusqa, Urwatul Risyana, Teten Bramantyo, Prima Laksana |
Kestabilan lereng merupakan aspek yang perlu diperhatikan dalam tambang batubara terbuka Asam Asam untuk mencegah terjadinya kelongsoran. Kestabilan lereng dapat dipelajari menggunakan analisis kesetimbangan batas yang didasarkan dari teori Mohr–Coulomb Failure Criterion untuk mengetahui respons dari material batuan terhadap suatu gaya yang diberikan. Dari analisa tersebut tingkat kestabilan di lereng pertambangan dapat dikuantifikasi dengan mengukur nilai faktor keamanan (FK) dari sebuah lereng. Pada penelitian ini, penulis melakukan analisis kestabilan lereng pada tiga desain lereng highwall tambang batu Bara terbuka Asam Asam di Pit “X” yang dioperasikan oleh PT. Arutmin Indonesia, dengan bantuan perangkat lunak Geostudio SLOPE/W dan metode perhitungan nilai kesetimbangan batas Morgenstern–Price. Analisis pada ketiga lereng menunjukkan bahwa faktor keamanan dari desain lereng masih relatif tinggi dibanding standar perusahaan, sehingga penulis dapat memberi rekomendasi berupa optimasi desain. Optimasi desain lereng tambang bertujuan untuk mengurangi jumlah material yang tidak diinginkan namun masih memperhatikan nilai standar faktor keamanan dari tiap lereng. Penulis menemukan bahwa memungkinkan dilakukan optimasi dari ketiga lereng dengan mengurangi lebar bench tiap lereng dari 10 meter menjadi 7 meter, sehingga pengurangan lebar bench membuat sudut keseluruhan masing-masing lereng menjadi semakin tegak dengan kenaikan sudut sebesar 4o. Dengan dilakukannya optimasi, maka pihak perusahaan dapat mengurangi jumlah material yang tidak diinginkan dalam proses pengupasan, sehingga dapat mengurangi waktu dan biaya yang dibutuhkan dalam kegiatan ekstraksi batu bara.
|
2021-01-06 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/29901 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v18i3.29901 | |
| 1672568 | #5790 | LANDSLIDE VULNERABILITY ZONE USING ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) METHOD IN BANYURESMI VILLAGE, SUKASARI DISTRICT, SUMEDANG, WEST JAVA |
Ryonaldo Rizqi, Muhammad Ibrahim Iskandarsyah, T. Yan Waliana Muda Athallah, Muhammad Nabiel Nahensa Renardi, Raditya Ahmad Ganjar Gani, Reza Mohammad |
Landslides are a common natural disaster in Indonesia, especially in Banyuresmi Village, Sukasari District, Sumedang Regency, which is a research area covering 9.58 . This study aims to identify landslide vulnerability zones using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method. This method is used in decision making by compiling a process hierarchy structure, a pairwise comparison matrix, class and subclass weighting analysis, and a consistency ratio (CR) test. The method was applied to evaluate and spatially overlay the controlling factors of landslide vulnerability, namely slope gradient, lithology, aspect (slope direction), land cover, and distance from streams. The results showed that the study area was predominantly classified as having moderate to high vulnerability, with the high vulnerability zone covering 60.94% of the area, the moderate vulnerability zone covering 38.38%, and the low vulnerability zone covering only 0.68%. Slope gradient was identified as the dominant factor, followed by lithology and aspect. Field validation confirmed a strong spatial correlation between the mapped high-risk zones and the actual locations of reported landslides, demonstrating the reliability of the method through field validation. Overall, this study provides a scientific basis and recommendations for land use planning, minimizing the risk of landslides, and mitigation strategies, especially in residential areas in Banyuresmi Village.Keywords: Analytical Hierarchy Process, Banyuresmi, Landslide, Sumedang, Slope
|
2026-04-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/69895 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v24i1.69895 | |
| 1672567 | #5790 | ASAL SEDIMEN BATUPASIR FORMASI JATILUHUR DAN FORMASI CANTAYAN DAERAH TANJUNGSARI DAN SEKITARNYA, KECAMATAN CARIU, KABUPATEN BOGOR, PROVINSI JAWA BARAT |
Widyastuti, Sari Abdurrokhim, Abdurrokhim Sendjaja, Yoga Adriana |
Administratively, Tanjungsari and its vicinity area lies within Bogor Subprovince, West Java – Indonesia. According to Java’s physiographic map by Van Bemmelen (1949), this area can be included as a part of the Bogor Zone. The goal of this research is to analysis samples of sandstone from Jatiluhur Formation and Cantayan Formation due to know the provenance of the formation. Sandstone from Jatiluhur Formation is Feldspathic Wacke and sandstone from Cantayan Formation is Lithic Arenite based on the sandstone classification by Pettijohn, 1975. According to the grain composition, the provenance of Jatiluhur Formation is the plutonic igneous rock, it shown by the quartz grain dominated by monocrystaline grain with non-undulatory extinction. Feldspar is dominated by Potassium Feldspar.  While the Cantayan Formation came from volcanic igneous rock, known by the abundance of igneous rock fragment with afanitic texture. The quartz grain is the less, consist of monocrystaline quartz with non – undulatory extinction. Based on the tectonic setting of the source rock, sandstone from Jatiluhur and Cantayan Formation came from the rock that part of Magmatic Arc area which the sediment source of Jatiluhur Formation is from Dissected Arc, while Cantayan Formation is from Transitional Arc – Undissected Arc area. Keyword:   Tanjungsari, Jatiluhur Formation, Cantayan Formation, sandstone, provenance. Secara administratif, daerah Tanjungsari dan sekitarnya termasuk kedalam wilayah Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat, dan terletak di dalam Zona Bogor menurut pembagian fisiografi oleh Van Bemmelen (1949). Tujuan penelitian ini yaitu melakukan analisis pada contoh batupasir Formasi Jatiluhur dan Formasi Cantayan guna mengetahui sumber sedimen pembentuk formasi tersebut. Batupasir Formasi Jatiluhur termasuk jenis Feldspathic Wacked dan batupasir Formasi Cantayan termasuk jenis Lithic Arenite berdasarkan klasifikasi batupasir oleh Pettijohn, 1975. Dari komposisi sedimen yang diamati, Formasi Jatiluhur berasal dari batuan beku plutonik ditunjukkan oleh butir kurasa yang didominasi oleh butiran monokristalin dengan sudut pemadaman lurus. Jumlah butir feldspar didominasi oleh K feldspar. Sedangkan batupasir Formasi Cantayan berasal dari batuan beku vulkanik, diketahui dari jumlah fragmen batuan yang sangat banyak berupa batuan beku bertekstur halus. Jumlah butir kuarsa ditemukan sangat sedikit berupa kuarsa monokristalin dengan sudut pemadaman lurus. Berdasarkan tatanan tektonik batuan sumber, batupasir Formasi Jatiluhur dan Formasi Cantayan berasal dari batuan yang berada pada tatanan tektonik busur magma (Magmatic Arc) yang mana Formasi Jatiluhur bersumber dari area Dissected Arc, sedangkan Formasi Cantayan berasal dari area Transitional Arc – Undissected Arc. Kata kunci: Tanjungsari, Formasi Jatiluhur, Formasi Cantayan, batupasir, sumber sedimen.
|
2016-10-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/9788 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v14i1.9788 | |
| 1672566 | #5790 | IDENTIFIKASI DAMPAK POTENSIAL PEMBANGUNAN TERMINAL TRANSIT DI BAU-BAU, PROPINSI SULAWESI TENGGARA | -, Achmad Sjafrudin |
Fuel needs that keeps on increasing in Makasar can not be fullfilled by the Makasar installation, therefore it is necessary to built Bau-Bau Transit Terminal in Southeast Sulawesi Province.The construction will raise effects towards environment. Hence the needs of EIA study is very crucial to minimize all the effects that will appear in the future to support sustainable development.
|
effect, enviromnent, EIA study | 2008-08-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8156 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v6i1.8156 |
| 1672565 | #5790 | KARAKTERISTIK GRANITOID DAERAH NYUKANG HARJO, KABUPATEN LAMPUNG TENGAH, LAMPUNG |
Brilian, Muhammad Alqori Dyah Hastuti, Endang Wiwik |
Daerah Nyukang Harjo Kabupaten Lampung Tengah Provinsi Lampung tersingkap batuan beku granitoid pada kondisi morfologi perbukitan rendah hingga perbukitan tinggi. Batuan beku pada daerah penelitian tersebar dengan cukup luas dan mempunyai karakteristik yang menarik baik secara megaskopis maupun secara petrografi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik, komposisi, dan tipe batuan beku daerah penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi lapangan dan analisis petrografi menggunakan sampel batuan yang telah diambil dari lokasi penelitian. Observasi lapangan mengidentifikasikan batuan granitoid pada daerah penelitian berupa syenite. Hal tersebut diinterpretasi berdasarkan komposisi mineral yang hadir pada batuan, dimana batuan syenite memiliki ciri warna segar putih krem dengan warna lapuk putih kecoklatan, hal tersebut dipengaruhi oleh komposisi penyusun syenite didominasi alkali-feldspar. Hasil analisis petrografi didapatkan penamaan batuan berupa quartz syenite dan quartz monzonite dimana kedua batuan ini merupakan kelompok batuan beku plutonik yang bersifat asam hingga intermediet. Mineral penyusun quartz syenite didominasi oleh alkali feldspar serta terdapat mineral plagioklas (An30-An34), dan sedikit kuarsa, biotit, muskovit serta mineral sekunder seperti klorit, serisit, dan opak dengan tekstur khusus berupa perhite dan graphic. Sedangkan quartz monzonite didominasi oleh mineral alkali-feldspar dan plagioklas (An38) serta sedikit kuarsa, mineral penyusun lainnya berupa, biotit, dan serisit dengan tekstur khusus berupa perhite dan myrmekite.
|
2022-05-09 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/39046 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v20i1.39046 | |
| 1672564 | #5790 | QUARTZ VEIN INFILL STRUCTURE MODE IN KENCANA DEPOSIT, GOSOWONG GOLDFIELD, INDONESIA |
Electricia, K.S. Rosana, Mega F. Yuningsih, Euis Tintin Syafri, Ildrem Viqnoriva, S.N. |
ABSTRACTGosowong province has economic mineralisation which is classified as low sulphidation epithermal veining system containing high-grade of gold and silver. It is characterizes by various veins hosted in Holocene Quaternary volcanic rocks, mineralisation generally occurs in host rock andesite. The Kencana epithermal vein system in Gosowong Au-Ag district hosted by two main sub-parallel North-West trending major fault structures, named Kencana One (K1) and Kencana Two (K2) with strike lenght extend up to 600m. Both structures joined by link structures, appears to be Kencana Link (K-Link) as the thickest link structure. The Kencana One (K1) is the first underground mine in Gosowong district. The nature of underground conditions at Kencana has a high variability of gold grades. Thus due to extremely high grades ore in Kencana, it is need to be precise and thoroughly handling to obtain best results. Primary mineralisation occurs in multistage veins, breccias and stockwork veins as infill structures. This study confirming that there is a strong correlation between quartz vein infill structure mode versus gold grade which classified into (1) 1.01-3.0g/t Au, dominated with wall-rock breccia and stockwork, (2) 3.01-6.0g/t Au, dominated with wall-rock breccia follows by stockwork, (3) 6.01-20.0g/t Au, dominated with wall-rock breccia follows by quartz lode and stockwork, (4) 20.01-80.0g/t Au, dominated by wall-rock breccia follows by vein breccia and quartz lode, (5) >80g/t Au, dominated by wall-rock breccia. In terms of production quartz vein infill mode together and quartz vein texture with gold grade has been used as the main reference for geologist to make a direction in the process of ore drive determination in underground mining operations. Keywords: Kencana, low sulphidation epithermal, quartz vein infill modeSARIGosowong memiliki mineralisasi ekonomis yang merupakan epitermal sulfida rendah yang mengandung emas dan perak dengan kadar tinggi. Cebakan dicirikan dengan kehadiran urat yang bervariasi dengan batuan vulkanik kuarter sebagai batuan induk berumur Holosen, mineralisasi umumnya terjadi di dalam batuan induk andesit. Kencana berada di dalam area Cebakan Au-Ag Gosowong. Kencana terdiri dari dua struktur besar yang berdampingan, dinamakan Kencana Satu (K1) dan Kencana Dua (K2) dengan arah jurus sepanjang 600m. Keduanya dihubungkan dengan struktur yang dinamakan Kencana Link (K-Link) yang merupakan struktur bukaan yang paling tebal. K1 adalah tambang bawah tanah pertama di Gosowong. Kondisi bawah tanah di Kencana menunjukkan variasi tubuh bijih emas yang mengandung kadar emas yang bervariasi. Dengan adanya kadar emas yang tinggi, maka penangannya harus tepat dan seksama untuk mendapatkan hasil terbaik. Secara umum mineralisasi terjadi secara bertahap dalam urat kuarsa, breksiasi, dan urat stockwork. Penelitian ini menegaskan bahwa terdapat korelasi yang kuat antara tipe struktur urat kuarsa dengan kadar emas yang diklasifikasikan menjadi (1) 1.01-3.0 g/t Au, didominasi oleh breksiasi batuan dinding dan stockwork, (2) 3.01-6.0 g/t Au, didominasi oleh breksiasi batuan dinding diikuti oleh stockwork, (3) 6.01-20.0 g/t Au, didominasi oleh breksiasi batuan dinding diikuti oleh quartz lode dan stockwork (4) 20.01-80.0 g/t Au, didominasi oleh breksiasi batuan dinding diikuti oleh breksiasi urat kuarsa dan quartz lode (5) > 80g/t Au, didominasi oleh breksiasi batuan dinding. Di dalam proses produksi, tipe struktur urat kuarsa dan  tekstur urat kuarsa bersama dengan kadar emas menjadi petunjuk untuk geolog dalam menentukan arah penambangan emas di dalam tambang bawah tanah.Kata kunci: epitermal sulfida rendah, Kencana, tipe struktur urat kuarsa
|
2017-04-10 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/11743 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1672563 | #5790 | VULKANISME DAN KARBONAT UMUR MIOSEN DI DAERAH BANJAR-PANGANDARAN, JAWA BARAT |
Haryanto, Iyan Ilmi, Nisa Nurul Adhiperdana, Billy G. Fauziely, Lili Sunardi, Edy |
Daerah Banjar-Pangandaran merupakan bagian dari Zona Pegunungan Selatan yang sebagian besar disusun batuan volkaniklastik Formasi Jampang. Batuannya didominasi oleh breksi, tuf dan batupasir kasar. Seluruhnya membentuk morfologi perbukitan sedang hingga terjal, dengan punggungan berarah barat-timur. Di bagian tepi dari lereng perbukitannya, tersingkap batugamping yang berumur lebih muda, yaitu Formasi Klapangunggal dan Formasi Pamutuan. Di lapangan tidak ditemukan kontak litologi, namun berdasarkan pada umur batuan yang menerus, serta kedudukannya di lapangan diduga keduanya memiliki hubungan stratigrafi yang selaras. Penelitian ini masih dalam tahap awal yang dilakukan hanya berdasarkan pada data singkapan. Analisis dilakukan dengan melakukan rekontruksi pola struktur (pola jurus), serta dipandu dengan interpretasi geologi melalui DEM.Hasil sementara menunjukan bahwa pertumbuhan carbonate mulai berlangsung ketika aktivitas volkanisma pawa waktu Miosen Bawah Berakhir. Pada saat itu di antara tinggian volkanik, memiliki lingkungan marin yang tenang dan dangkal, sehingga memungkinkan terbentuknya pertumbuhan carbonate. Di lihat dari peyebarannya, carbonate disimpulkan sebagai barrier kecil dan lainnya sebagai pitch reef.
|
2018-09-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/17293 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v16i2.17293 | |
| 1672562 | #5790 | DISTRIBUSI VERTIKAL OSTRACODA DAN HUBUNGANNYA DENGAN PERUBAHAN LINGKUNGAN DI PERAIRAN TELUK JAKARTA | -, Lili Fauzielly |
A vertical distributions from quantitative analysis of ostracods and Total Organic carbon (TOC) was recorded from short sediment core from inner part of Jakarta Bay. A total of 56 ostracod species were obtained from 9 core samples. The dominant species were Keijella carriei and Loxoconcha wrighti, which are common in areas with high TOC and TN contents. According to analysis of ostracod assemblages and CNS analysis, the site began to be influenced by organic contamination from around 1950. Although the population of Jakarta City has increased rapidly since then, TOC and TN contents which were low, have gradually increased (0.58%–0.9%). The increased sedimentation rate after 1950 resulted in an increasing TOC ratio.
|
Ostracoda, TOC, CNS analysis, Jakarta Bay | 2013-08-07 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8292 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v11i2.8292 |
| 1672561 | #5790 | FACIES AND PETROGRAPHIC CHARACTERISTICS OF CILETUH FORMATION IN THE MANDRAJAYA AREA, CIEMAS SUBDISTRICT, WEST JAVA |
Sayaf, Ival Umar Isnaniawardhani, Vijaya Hardiyono, Adi Natasia, Nanda |
The Eocene Ciletuh Formation, exposed within the Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark, provides a key record of syn-tectonic sedimentation in West Java. While its general submarine fan setting is known, detailed facies and petrographic studies in specific localities are limited. This study aims to characterize the sedimentology of the Ciletuh Formation sandstone in the Mandrajaya area through an integrated analysis of lithofacies, petrography, and their spatial distribution to reconstruct its depositional environment. The methodology involved geological mapping to document outcrop characteristics and collect samples, followed by petrographic analysis of sandstones and conglomerates. Four primary lithofacies were identified: (a) matrix-supported polymictic conglomerate, (b) graded sandstone, (c) parallel-laminated sandstone, and (d) massive sandstone. Petrographic analysis reveals that the sandstones are texturally immature Lithic Arenites, and the conglomerates contain polymictic clasts of gabbro and recycled sandstone within a similar lithic arenite matrix. The spatial distribution of these facies delineates a submarine fan architecture, characterized by channel-fill deposits (conglomerates and massive sandstones) flanked by associated levee and overbank deposits (graded and laminated sandstones). The lithofacies association and petrographic composition confirm deposition within a dynamic submarine fan system sourced from a "Recycled Orogenic" belt, specifically the uplifted Ciletuh mé‎lange complex, within a tectonically active Paleogene fore-arc basin.Keywords: Submarine Fan, Lithic Arenite, Conglomerate, Fore-arc Basin, Sedimentation, Turbidite, Eocene.
|
2025-08-07 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/65345 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v23i2.65345 | |
| 1672560 | #5790 | ANALISIS GEOLOGI TEKNIK PADA KESTABILAN LUBANG BUKAAN TAMBANG BAWAH TANAH MENGGUNAKAN METODE LEMEN HINGGA |
Adnyano, A.A Inung Arie Fallah, Rizqi Fahrizal |
Salah satu permasalahan yang sering dihadapi pada sistem penambangan bawah tanah adalah kestabilan lubang bukaan. Potensi ketidakstabilan yang terjadi pada lubang bukaan bawah tanah akan selalu membutuhkan penanganan khusus terutama untuk menjaga keselamatan pekerja, dan mencegah terganggunya produksi (Koesnaryo, 1999). Kestabilan lubang bukaan dan peranan ketebalan pilar yang ditinggalkan berkaitan erat dengan penggunaan sistem penyangga. Peranan pilar penting untuk aktifitas penambangan, semakin tipis pilar yang ditinggalkan, semakin besar perolehan bijih, akan tetapi potensi terjadi keruntuhan akan semakin besar. menunjukan bahwa pilar harus kuat dan mampu menahan beban dalam jangka waktu tertentu agar proses penambangan dapat berlangsung dengan baik. Maka dari itu, diperlukan analisis kestabilan dan dimensi pilar agar resiko akibat ketidakstabilan dapat teratasi. Penelitian ini dilakukan di CKN_975_XC12_STH PT. Cibaliung Sumberdaya, yang terletak di Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kekuatan batuan yang digali dengan memperkiran nilai Faktor Keamanan (FK) lubang bukaan. Pengklasifikasian batuan dilakukan dengan RMR system dan nilai FK diperoleh menggunakan kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb. Pemodelan lubang bukaan dengan menggunakan metode elemen hingga. Berdasarkan karakterisasi massa batuan disekitar lubang bukaan adalah terkekarkan kelas IV (poor) dengan kisaran nilai RMR 30 – 35. Lubang bukaan yang diteliti adalah Sistem penyangga existing CKN_975_XC12_STH double drift dengan jarak 5 meter layak digunakan.Kata Kunci : geoteknik, tambang bawah tanah, faktor keamanan.
|
2020-01-21 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/24900 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v17i3.24900 | |
| 1672559 | #5790 | SISTEM PANASBUMI BERDASARKAN ANALISIS GEOKIMIA AIR PANAS DAERAH AMOHOLA DAN SUMBERSARI, KECAMATAN MORAMO, KABUPATEN KONAWE SELATAN, PROVINSI SULAWESI TENGGARA |
Aprilia, Fitriani Dewi Yuningsih, Euis Tintin Patonah, Aton Rezky, Yuano Yushantarti, Anna Nurdin, Asep |
The research area is located in Amohola and Sumbersari, Moramo sub-district, Konawe South regency, Southeast Sulawesi Province. Geographically located between 122°35’6,07" – 122°45'58,94" BT dan 4°5'20,28" – 4°16'10,85" LS. The research areas have a stratigraphy consisted of Meta-limestones, Phylite, Schist, Quartzite, Conglomerates, Limestones, Carbonate Sandstone, Claystone, and sediment surface. Hot waters have temperatures ranging from 37,5oC to 50oC. The fluid geochemical data affirm that the Amohola area has Chloride type of water, which indicates it is close to the heat source, whereas in Sumbersari area has Bicarbonate water type, which indicates that the fluid has affected by meteoric water. Geothermal system in these two areas assumed that has separated by tectonic activity and the emersion of the lithology affected the chemical content of the hot fluid. The Geotermometer indicates that the subsurface of Amohola manifestations temperatures are around 146°C (medium enthalpy), whereas in Sumbersari 43°C (low enthalpy).
|
2015-04-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8391 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v13i1.8391 | |
| 1672558 | #5790 | STUDI PROVENANCE BATUPASIR FORMASI - FORMASI DI CEKUNGAN OMBILIN, SUMATRA BARAT | -, Euis Tintin Yuningsih |
Based on rock composition percentage of feldspar, quartz and rock fragment on Q-F-L triangle diagram, the sandstone provenance of Brani Formation is continental block, otherwise Sawahlunto and Sawahtambang Formations is recycled orogen. Qm-F-L triangle diagram shows the provenance of Brani, Sawahlunto and Sawahtambang Formations is continental block, Sangkarewang and Ombilin Formations is transitional magmatic arc placed in the Cretaceous orogen belt as a result of convergency of Mergui-Woyla microplates. Based on rock composition percentage on the Qp-Lv-Ls triangle diagram, the source for Brani and Sawahtambang Formations is mixed orogenic sand, Sawahlunto Formation is collision orogen and mixed orogenic sand, otherwise the source for Sangkarewang and Ombilin Formations is arc orogen where the zone of collision is the suturing of Mergui-Woyla microplates, Qm-P-K triangle diagram shows that Brani, Sawahlunto and Sawahtambang Formations have high maturity or stability from continental block indicated the source of stable micro continen (continental block provenances) as a part of Mergui-Woyla terrane, Sangkarewang Formation has low maturity or stability
|
continental block, recycled orogen, transitional magmatic arc, mixed orogenic sand, collision orogen, arc orogen, maturity, stability | 2007-01-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8132 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v5i1.8132 |
| 1672557 | #5790 | KORELASI BIOSTRATIGRAFI FORAMINIFERA PLANKTON DAN NANNOPLANKTON TERSIER INDONESIA BAGIAN TIMUR (Studi Kasus: Pulau Sumba) |
Isnaniawardhani, Vijaya Abdullah, Chalid Ilham Pratiwi, Santi Dwi |
ABSTRAKStudi korelasi biostratigrafi Tersier dilakukan di Pulau Sumba yang tersusun oleh batuan sedimen klastik hasil pengendapan di lingkungan laut dalam. Foraminifera plankton dan nannoplankton dijumpai melimpah pada singkapan-singkapan batuan yang secara stratigrafi bisa ditelusuri kemenerusannya. Zonasi biostratigrafi foraminifera plankton dan korelasinya dengan zonasi biostratigrafi nannoplankton ditentukan berdasarkan batas pemunculan dan kepunahan spesies indeks. Tatanan biostratigrafi foraminifera plankton Pulau Sumba dapat dikelompokkan menjadi 12 zona, yang berurutan dari tua ke muda sebagai berikut: (1) zona selang Globigerina tripartita - Globorotalia centralis, (2) zona kisaran Globorotalia mexicana, (3) zona kisaran Globorotalia centralis, (4) zona kisaran Globigerina tapuriensis, (5) zona kisaran Globigerina ampliapertura, (6) zona kisaran Globigerinoides quadrilobatus altiaperturus, (7) zona kisaran Praeorbulina glomerosa curva, (8) zona kisaran Sphaeroidinella subdehiscens, (9) zona selang Globorotalia acostaensis – Globorotalia plesiotumida, (10) zona selang Globorotalia plesiotumida - Globorotalia tumida, (11) zona selang Globorotalia tumida - Sphaeroidinella dehiscens, dan (12) zona kisaran Sphaeroidinella dehiscens. Tatanan biostratigrafi nannoplankton Pulau Sumba dapat dibedakan menjadi 11 zona, yaitu: (1) zona kisaran Discoaster tani nodifer, (2) zona selang Chiasmolithus oamaruensisSphenolithus pseudoradians, (3) zona selang Sphenolithus pseudoradians – Sphenolithus distentus, (4) zona selang Sphenolithus distentus – Discoaster druggi, (5) zona selang Discoaster druggi - Helicosphaera ampliapertura, (6) zona selang Helicosphaera ampliapertura - Sphenolithus heteromorphus, (7) zona kisaran Discoaster hamatus, (8) zona selang Discoaster hamatus – Discoaster quinqueramus, (9) zona kisaran Discoaster quinqueramus, (10) zona selang Discoaster quinqueramus - Discoaster asymmetricus, dan (11) zona kisaran Discoaster asymmetricus. Korelasi biostratigrafi berdasarkan foraminifera plankton dan nannoplankton pada urutan batuan Paleogen yang umumnya tersingkap di Sumba Barat; maupun Neogen yang tersingkap di Sumba Barat dan Timur menunjukkan resolusi yang baik dalam penentuan umur.Kata Kunci:biostratigrafi, foraminifera plankton, sumba barat, paleogen, penentuan umur.ABSTRACTTertiary biostratigraphy correlation studies were carried out on Sumba Island which is composed of clastic sedimentary rocks deposited in the deep-sea environment. Plankton foraminifera and nannoplankton are abundantly found in rock outcrops which can be traced stratigraphically. The plankton foraminifera biostratigraphy zonation and its correlation with the nannoplankton biostratigraphy zonation was determined based on the occurrence and extinct of index species. The plankton foraminifera succession on Sumba Island can be grouped into 12 zones, from old to young as follows: (1) Globigerina tripartita - Globorotalia centralis interval zone, (2) Globorotalia mexicana range zone, (3) Globorotalia centralis range zone, (4) ) Globigerina tapuriensis range zone, (5) Globigerina ampliapertura range zone, (6) Globigerinoides quadrilobatus altiaperturus range zone, (7) Praeorbulina glomerosa curva range zone, (8) Sphaeroidinella subdehiscens range zone, (9) Globorotalia acostaensis - Globorotalia plesiotumida interval zone, (10) Globorotalia plesiotumida - Globorotalia tumida interval zone, (11) Globorotalia tumida - Sphaeroidinella dehiscens interval zone, and (12) Sphaeroidinella dehiscens range zone. The nannoplankton biostratigraphic succession on Sumba Island can be divided into 11 zones, namely: (1) Discoaster tani nodifer range zone, (2) Chiasmolithus oamaruensis - Sphenolithus pseudoradians interval zone, (3) Sphenolithus pseudoradians - Sphenolithus distentus interval zone, (4) Sphenolithus distentus - Discoaster druggi interval zone, (5) Discoaster druggi - Helicosphaera ampliapertura interval zone, (6) Helicosphaera ampliapertura - Sphenolithus heteromorphus interval zone, (9) Discoaster hamatus range zone, (8) Discoaster hamatus - Discoaster quinqueramus interval zone, (9) Discoaster quinqueramus range zone, (10) Discoaster quinqueramus - Discoaster asymmetricus interval zone, and (11) Discoaster asymmetricus range zone. Biostratigraphic correlation based on foraminifera plankton and nannoplankton in Paleogene rock sequences which are generally exposed in West Sumba; and Neogene exposed in West and East Sumba show a good resolution in age determination.Keyword: biostratigraphy, plankton foraminifera, west sumba, paleogen, age determination.
|
2021-05-06 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/33039 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v19i1.33039 |