Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↓ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1670896 #6191 Faktor resiko tonsiloadenoitis kronis hipertrofi dengan karakteristik ekstra oral wajah pasienChronic hypertrophy tonsilloadenoiditis with extra-oral facial characteristics Darwis, Rudi Satria
Kristianti, Asti
Zalfa, Almi
ABSTRAKPendahuluan: Tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi adalah suatu peradangan pada adenoid dan tonsil yang sering terjadi pada anak, serta merupakan penyebab umum terjadinya obstruksi saluran pernafasan atas sehingga mengakibatkan penderita bernafas melalui mulut. Keadaan tersebut dapat menyebabkan terjadinya gangguan dentokraniofasial terutama pada anak-anak karena masih dalam usia tumbuh kembang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi dengan karakteristik wajah yaitu bentuk kepala, bentuk muka, serta proporsi wajah Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik cross sectional dengan melibatkan subjek penelitian sebanyak 45 orang, terdiri dari 22 orang pasien terdiagnosis tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi dan 23 orang pasien tanpa tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi. Data dianalisis dengan menggunakan uji chi-square dan analisis odd ratio. Hasil: Terdapat  faktor resiko pasien tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi sebanyak 31,8% memiliki bentuk kepala tidak sesuai nilai rerata (p=0,140 dengan OR 3,111), serta 77,3 % memiliki bentuk wajah yang tidak sesuai nilai rerata normal dan 68,2% mengalami proporsi wajah yang tidak proposional (p=0,099 dengan OR 2,786). Simpulan: Tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi dapat menjadi faktor risiko terjadinya perubahan ekstra oral dengan risiko tertinggi potensi perubahan pada bentuk wajah.Kata kunci: Dentokraniofasial; obstruksi saluran pernafasan atas; tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi. Chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis with extra-oral facial characteristics ABSTRACTIntroduction: Chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis is an inflammation of the adenoids and tonsils that usually occurs children, it also a common cause of upper respiratory tract obstruction, causing patients breathe through the mouth. This situation can cause dentocraniofacial deviation, especially in children because they still in the age of growth. This study aimed was to determine the risk of chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis with  the shape of the head, face shape, and the proportion of faces. Methods: This study was a cross sectional analytic study involving 45 research subjects, consisting of 22 patients diagnosed with chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis and 23 normal patients. Data were analyzed using chi-square and odd ratio analysis. Result: patients who were diagnosed with chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis as much as 31.8% has a head shape with uneven values (p = 0.140 with OR 3.111), 77.3% has facial morphologies with uneven values (p = 0.001 with OR 9.633), 68.2% had a disproportionate proportion of faces (p = 0.099 with OR 2.786). Conclusion: hypertrophy tonsilloadenoiditis can be a risk factor for dentocraniofacial growth disorders with the highest risk of facial  shape changes. Keywords: Dentocraniofacial; upper respiratory tract obstruction; chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis.
Dentokraniofasial; obstruksi saluran pernafasan atas; tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi.; Dentocraniofacial; upper respiratory tract obstruction; chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis. 2022-07-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40122 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i2.40122
1670895 #6191 Efektivitas pemasaran dari mulut ke mulut pengguna Paviliun Padjadjaran Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran Kusmulyandi, Yandi
Zubaedah, Cucu
Usri, Kosterman
Pendahuluan: Efektivitas Pemasaran merupakan hal yang penting dalam keberhasilan pelaksanaan jasa pemasaran khususnya pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Efetivitas Pemasaran dari Mulut ke Mulut Pengguna di Paviliun Padjadjaran Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran. Metode: metode dalam penelitian ini adalah survey dengan jenis penelitin deskriptif. Pengambilan sampel dengan cara consecutive sampling. Penelitian dilakukan di Paviliun Padjadjaran Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran dengan menggunakan kuisioner. Hasil: sebanyak 84 orang sampel menunjukan bahwa secara keseluruhan rata-rata efektivitas pemasaran pengguna Paviliun Padjadjaran Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran sebesar 67,5 %.Nilai tersebut termasuk kedalam kategori cukup efektif. Simpulan: Tingkat efektivitas pemasaran dari mulut ke mulut di bagian Paviliun Padjadjaran RSGM Unpad dalam hal ini meliputi pasien yang loyal, keluarga pasien, dan penunggu terhadap pelayanan yang diberikan di Paviliun Padjadjaran RSGM Unpad dinilai cukup efektif dengan persentase sebesar 67,5 %.Kata kunci: Pemasaran mulut ke mulut, pengguna, Paviliun Padjadjaran
Pemasaran mulut ke mulut, pengguna, Paviliun Padjadjaran 2018-03-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22303 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i1.22303
1670894 #6191 The relationship between PBI values in periodontitis patients based on gender: Study observational | The relationship between PBI values in periodontitis patients based on gender: Study observational Aprilita, Aweni Tria
Komala, Olivia Nauli
ABSTRACTIntroduction: Periodontitis is an inflammatory disease of the supporting teeth tissues. According to Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) in 2018, the prevalence of periodontitis in Indonesia reached 74.1%. Clinical signs of periodontitis include gingival inflammation, margin swelling, loss of attachment, periodontal pocket formation, and gingival bleeding on probing. The Papillary Bleeding Index (PBI) is a periodontal index used to measure the severity of gingival inflammation. The PBI value can be influenced by several factors, one of which is gender. Hormonal fluctuations in the body, especially in women, can be seen in the mouth. The aim of the study was to analyse the difference between PBI values in periodontitis patients based on gender. Methods: Analytical observational research with a cross-sectional research design. The sample is periodontal status examination sheets of patients treated at RSGM-P FKG Usakti for the period 2019 - 2022. Data analysis uses the Mann-Whitney statistical test. Results: The majority of periodontitis sufferers at RSGM-P FKG Usakti in 2019 -2022 had a PBI score in the range of 1 - 1.99 in both female and male genders. The results of the Mann-Whitney test showed that there was no significant difference (p = 0.12) between the female and male groups regarding the PBI value. Conclusion: There is no difference between PBI values and gender in periodontitis patients.KEY WORDS: Periodontitis, papillary bleeding index, gingival inflammation, genderPerbedaan nilai papillary bleeding index pada pasien periodontitis berdasarkan jenis kelamin: studi cross sectionalABSTRAKPendahuluan: Periodontitis adalah penyakit inflamasi pada jaringan pendukung gigi. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 prevalensi periodontitis di Indonesia mencapai 74,1%. Tanda klinis periodontitis berupa inflamasi gingiva, pembengkakan margin, kehilangan perlekatan, pembentukan poket periodontal, dan perdarahan gingiva saat probing. Papillary Bleeding Index (PBI) merupakan indeks periodontal yang digunakan untuk mengukur tingkat keparahan inflamasi gingiva. Nilai PBI dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya jenis kelamin. Fluktuasi hormon pada tubuh terutama pada perempuan, dapat mempengaruhi perubahan di dalam rongga mulut. Tujuan penelitian menganalisis perbedaan nilai PBI pada pasien periodontitis berdasarkan  jenis kelamin. Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Sampel berupa lembar pemeriksaan status periodontal pasien yang dirawat di RSGM-P FKG Usakti periode 2019 - 2022. Analisis data menggunakan uji statistik Mann-Whitney. Hasil: Penderita periodontitis di RSGM-P FKG Usakti tahun 2019 - 2022 mayoritas memiliki skor PBI dengan rentang 1- 1,99, baik pada jenis kelamin perempuan maupun laki-laki. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,12) antara kelompok perempuan dengan laki-laki terhadap nilai PBI. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan antara nilai PBI dengan jenis kelamin pada pasien periodontitis.KATA KUNCI: Periodontitis, papillary bleeding index, inflamasi gingiva, jenis kelamin | ABSTRACTIntroduction: Periodontitis is an inflammatory disease of the supporting teeth tissues. According to Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) in 2018, the prevalence of periodontitis in Indonesia reached 74.1%. Clinical signs of periodontitis include gingival inflammation, margin swelling, loss of attachment, periodontal pocket formation, and gingival bleeding on probing. The Papillary Bleeding Index (PBI) is a periodontal index used to measure the severity of gingival inflammation. The PBI value can be influenced by several factors, one of which is gender. Hormonal fluctuations in the body, especially in women, can be seen in the mouth. The aim of the study was to analyse the difference between PBI values in periodontitis patients based on gender. Methods: Analytical observational research with a cross-sectional research design. The sample is periodontal status examination sheets of patients treated at RSGM-P FKG Usakti for the period 2019 - 2022. Data analysis uses the Mann-Whitney statistical test. Results: The majority of periodontitis sufferers at RSGM-P FKG Usakti in 2019 -2022 had a PBI score in the range of 1 - 1.99 in both female and male genders. The results of the Mann-Whitney test showed that there was no significant difference (p = 0.12) between the female and male groups regarding the PBI value. Conclusion: There is no difference between PBI values and gender in periodontitis patients.KEY WORDS: Periodontitis, papillary bleeding index, gingival inflammation, genderPerbedaan nilai papillary bleeding index pada pasien periodontitis berdasarkan jenis kelamin: Studi cross sectionalABSTRAKPendahuluan: Periodontitis adalah penyakit inflamasi pada jaringan pendukung gigi. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 prevalensi periodontitis di Indonesia mencapai 74,1%. Tanda klinis periodontitis berupa inflamasi gingiva, pembengkakan margin, kehilangan perlekatan, pembentukan poket periodontal, dan perdarahan gingiva saat probing. Papillary Bleeding Index (PBI) merupakan indeks periodontal yang digunakan untuk mengukur tingkat keparahan inflamasi gingiva. Nilai PBI dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya jenis kelamin. Fluktuasi hormon pada tubuh terutama pada perempuan, dapat mempengaruhi perubahan di dalam rongga mulut. Tujuan penelitian menganalisis perbedaan nilai PBI pada pasien periodontitis berdasarkan  jenis kelamin. Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Sampel berupa lembar pemeriksaan status periodontal pasien yang dirawat di RSGM-P FKG Usakti periode 2019 - 2022. Analisis data menggunakan uji statistik Mann-Whitney. Hasil: Penderita periodontitis di RSGM-P FKG Usakti tahun 2019 - 2022 mayoritas memiliki skor PBI dengan rentang 1- 1,99, baik pada jenis kelamin perempuan maupun laki-laki. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,12) antara kelompok perempuan dengan laki-laki terhadap nilai PBI. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan antara nilai PBI dengan jenis kelamin pada pasien periodontitis.KATA KUNCI: Periodontitis, papillary bleeding index, inflamasi gingiva, jenis kelamin
Periodontitis, papillary bleeding index, inflamasi gingiva, jenis kelamin Periodontitis, papillary bleeding index, inflamasi gingiva, jenis kelamin 2024-03-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/53101 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i1.53101
1670893 #6191 Efek konsumsi kopi arabika selama masa laktasi pada tikus Wistar terhadap erupsi gigi anak tikusThe effect of Arabica coffee consumption during lactation of breastfeeding Wistar rats on the tooth eruption of the offsprings Choirunnisa, Luthfia
Apriyono, Dwi Kartika
Shita, Amandia Dewi Permana
Pendahuluan: Kopi merupakan minuman yang sering dikonsumsi masyarakat, biasanya diminum 1-3 cangkir per hari dengan kandungan kafein 60-200mg.  Konsumsi kafein lebih dari 300mg perhari akan mengganggu kesehatan, khususnya saat masa laktasi. Kafein menyebabkan terhambatnya absorpsi kalsium, sehingga jumlah kalsium dalam tubuh ibu dan bayinya akan berkurang.  Apabila saat masa laktasi ibu mengonsumsi kopi berlebihan, diperkirakan bayi akan mengalami gangguan pertumbuhan gigi berupa keterlambatan erupsi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsumsi kopi Arabika saat masa laktasi terhadap erupsi gigi anak tikus. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratoris. Penelitian ini menggunakan 12 tikus Wistar betina yang sedang menyusui, yang terbagi menjadi 3 kelompok yakni: kelompok kontrol (K), kelompok perlakuan kopi dosis normal (P1) dan kelompok perlakuan kopi dosis berlebih (P2). Kopi diberikan dalam bentuk seduhan dengan teknik sondase selama masa laktasi (21 hari). Satu anak tikus dari masing-masing induk tikus dilakukan euthanasia pada hari ke-22, kemudian dilakukan foto periapikal, selanjutnya kecepatan erupsi gigi diukur dengan CorelDraw X8. Data yang diperoleh diuji menggunakan uji one-way ANOVA dan dilanjutkan uji Least Significant Difference (LSD). Hasil: Uji one-way ANOVA memperlihatkan nilai p=0,0001 (p<0,05) yang menunjukkan terdapat perbedaan bermakna dari kecepatan erupsi gigi di antara kelompok kontrol, kelompok perlakuan kopi dosis normal dan dosis berlebih. Simpulan: Konsumsi kopi Arabika pada tikus selama masa laktasi dapat menghambat erupsi gigi anak tikus.Kata kunci: Kopi Arabika (Coffea arabica), laktasi, erupsi gigi. ABSTRACTIntroduction: Coffee is a beverage commonly consumed by the population, typically consumed approximately 1-3 cups a day with 60-200 mg of caffeine content. Consumption of more than 300 mg of caffeine per day will interfere with the health, especially for mothers during the lactation period. Caffeine induces calcium absorption reduction, thereby reducing the amount of calcium in the mother’s body as well as the baby. If the mother drinks excessive coffee during the lactation period, the baby is suspected to be having tooth development disorders such as delayed eruption. This research was aimed to analyse the effect of Arabica coffee consumption during lactation of breastfeeding Wistar rats on the tooth eruption of the offsprings. Methods: This research was an experimental laboratory. The research sample was 12 breastfeeding female Wistar rats that were divided into three groups, namely the control group, the standard dose coffee treatment group, and the overdose coffee treatment group. Coffee was administered during the lactation period (21 days) in the form of steeping with the sonde technique. One of the offsprings from each breastfeeding rats was euthanised on the 22nd day after birth. A periapical photo was taken, then the tooth eruption speed was measured with CorelDraw X8 software. The data collected were analysed using one-way ANOVA and proceeded with the LSD test. Results: The one-way ANOVA test showed the p-value = 0.0001 (p < 0.05) which indicated a significant difference in the tooth-eruption speed between the control group, the standard dose coffee treatment group, and the overdose coffee treatment group. Conclusion: Arabica coffee consumption during lactation period may delay the teeth eruption of the offsprings.Keywords: Arabica coffee (Coffea arabica), lactation, teeth eruption.
Kopi Arabika; Coffea arabica; laktasi; erupsi gigi; Arabica coffee; lactation; teeth eruption 2020-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/27506 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v4i2.27506
1670892 #6191 The effect of addition of silane coupling agent on the flexural strength of e-glass fiber non dental reinforced composite Utami, Aisya Putri
Sari, Wwidya Puspita
Darmawangsa, Darmawangsa
ABSTRACTIntroduction: One of the materials used in fixed denture treatment in clinical practice is porcelain fused to metal (PFM) but it has limitations such as poor aesthetics, metal materials that cause hypersensitivity in certain patients and fairly extensive abutment preparation. Alternative materials that can be used for fixed dentures are fiber reinforced composite (FRC) with E-glass fiber dental which has advantages such as bicom patibility, good aesthetics, and easy to adapt to the oral environment. Flexural strength is one of the mechanical properties in dental materials to withstand occlusal pressure. This flexural strength test is a description of the composite receiving loads during chewing activities. The availability of E-glass fiber dental in Indonesia is still limited with a fairly expensive price. Non-dental E-glass fiber has generally been used in the engineering field which has a composition almost the same as E-glass fiber dental. The purpose of this study was to determine the effect of adding silane coupling agent on the flexural strength of E-glass fiber non-dental reinforced composite. Methods: The research method used was an experimental method. Data analysis used the One Way Anova test. The test results on FRC with fiber given 2 times silane have the highest flexural strength with a value of 215.63 MPa. Results: Fiber without silane has the lowest value with a value of 168.12 MPa. Conclusion: The conclusion of this study is that there is an effect of adding silane coupling agent on the flexural strength of E-glass fiber non-dental Reinforced composite and is expected to be an alternative to replace E-glass fiber dental with good quality and affordable price.Keywords: E-glass fiber, Fiber reinforced composite, Silane coupling agent, Flexural StrengthPengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekuatan fleksural  e-glass fiber non dental reinforced compositeABSTRAKPendahuluan: Salah satu bahan yang digunakan pada perawatan gigi tiruan cekat dalam praktik klinis adalah porcelain fused to metal (PFM) namun memiliki keterbatasan seperti estetikanya yang kurang, bahan metal yang menyebabkan hipersensitifitas pada pasien tertentu serta preparasi abutment yang cukup luas. Alternatif bahan yang dapat digunakan untuk gigi tiruan cekat adalah fiber reinforced composite (FRC) dengan E-glass fiber dental yang memiliki kelebihan seperti bikompatibilitas, estetik yang baik, serta mudah beradaptasi di lingkungan mulut. Kekuatan fleksural merupakan salah satu sifat mekanis dalam material kedokteran gigi agar tahan terhadap tekanan oklusal. Pengujian kekuatan fleksural ini sebagai gambaran komposit menerima beban pada saat aktivitas pengunyahan. Ketersediaan E-glass fiber dental di Indonesia masih terbatas dengan harga yang cukup mahal. E-glass fiber non dental secara umum telah digunakan dibidang teknik yang memiliki komposisi hampir sama dengan E-glass fiber dental. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekuatan fleksural E-glass fiber non dental reinforced composite. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental. Analisis data menggunakan uji One Way Anova. Hasil uji pada FRC dengan fiber yang di beri 2 kali silane memiliki kekuatan fleksural tertinggi dengan nilai 215,63 MPa. Hasil: Fiber tanpa silane memiliki nilai terendah dengan nilai 168,12 MPa. Simpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa terdapat pengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekuatan fleksural E-glass fiber non dental Reinfoced composite dan diharapkan dapat menjadi alternatif pengganti E-glass fiber dental dengan kualitas yang baik dan harga yang terjangkau.Kata Kunci: E-glass fiber, Fiber reinforced composite, Silane coupling agent, Kekuatan Fleksural
E-glass fiber, Fiber reinforced composite, Silane coupling agent, Kekuatan Fleksural, E-glass fiber, Fiber reinforced composite, Silane coupling agent, Flexural Strength 2024-10-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/57887 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i3.57887
1670891 #6191 Analisis implementasi kebijakan Sistem Kesehatan Pertahanan Negara (Siskeshanneg) menghadapi ancaman faktual pandemi COVID-19 di Lembaga Kedokteran Gigi (Ladokgi) Raden Eddy MartadinataAnalysis of the National Defense Health System (Siskeshanneg) policy implementation on the Covid-19 pandemic factual threat at Raden Eddy Martadinata Naval Dentistry Institute (Ladokgi) Winarno, Sugeng
Wandawa, Ganesha
Sitam, Suhardjo
ABSTRAK Pendahuluan: Sistem Kesehatan Pertahanan Negara (Siskeshanneg) adalah totalitas sumber daya bidang kesehatan yang dapat digunakan secara terarah dan terpadu untuk menghadapi ancaman bidang kesehatan. Pandemi COVID-19 merupakan manifestasi ancaman bidang kesehatan yang memerlukan Siskeshaneg untuk menghadapinya. Hingga saat ini implementasi kebijakan ini masih terjadi permasalahan sehingga mempengaruhi kesiapsiagaan institusi dalam menghadapi suatu bencana. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran tentang proses implementasi kebijakan Siskeshanneg di Ladokgi Raden Eddy Martadinata (Ladokgi REM) ini dilihat dari empat aspek yang mengacu pada analisis implementasi model Edward III. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi dan penelaahan dokumen. Pemilihan informan melalui teknik purposive sampling. Validasi data dilakukan triangulasi terhadap sumber, metode dan teori. Hasil: Gambaran proses implementasi Siskeshaneg di Ladokgi REM memperlihatkan komunikasi menggunakan jaring fungsi komando, sumberdaya bidang personel kekuatannya berkurang, bidang anggaran dilakukan refocusing pada kegiatan terkait penanggulangan COVID-19, pemenuhan sarana dan prasarana ruangan sesuai protokol kesehatan dan pembagian zonasi, struktur birokrasi tidak terfragmentasi serta disposisi pimpinan dan anggota berkomitmen penuh dan sesuai perintah. Faktor penghambat meliputi penyiapan sarana dan prasarana membutuhkan waktu 3 bulan, kecemasan pada sebagian anggota dan pasien takut terpapar COVID-19. serta harga logistik kesehatan yang melambung. Simpulan: Implementasi Siskeshaneg di Ladokgi REM dapat berjalan baik, dengan indikator keberhasilan berupa kecepatan pengambilan keputusan, kepemimpinan dan kemampuan adaptasi sehingga kegiatan layanan kesehatan dapat terselenggara di masa pandemi COVID-19.Kata kunci: implementasi kebijakan; Siskeshanneg; ancaman faktual; pandemi COVID-19 ABSTRACTIntroduction: The National Defense Health System (Siskeshanneg) is the totality of health sector resources that can be used in a directed and integrated manner to deal with threats in the health sector. The COVID-19 pandemic manifests a health sector threat that requires the National Defense Health System implementation. However, until now, the implementation of this policy is still experiencing problems that affect institutions' preparedness in the face of a disaster. The purpose of this study was to provide an overview of the implementing process of the National Health Defense System (Siskeshanneg) policy at Raden Eddy Martadinata Naval Dentistry Institute (Ladokgi REM) observed from four aspects that refer to the analysis of the Edward III model implementation. Methods: The study used a qualitative descriptive method. Collecting data through in-depth interviews, observation and document review. Selection of informants through purposive sampling technique. Data validation was carried out by triangulation of sources, methods, and theories. Results: An overview of the National Defense Health System implementation process in Raden Eddy Martadinata Naval Dentistry Institute shows that communication was performed through command function network; personnel resources were reduced in strength; the budget aspect was refocused on activities related to COVID-19 prevention; fulfilment of room facilities and infrastructure according to health protocols and zoning distribution; the bureaucratic structure has not fragmented, and the disposition of leaders and staffs was fully committed and according to orders. Inhibiting factors included preparing facilities and infrastructure that take three months, some staff and patients' anxiety about being exposed to COVID-19, and soaring health logistics prices. Conclusions: Implementing the National Health Defense System (Siskeshanneg) policy at Raden Eddy Martadinata Naval Dentistry Institute is thriving, with indicators in the form of fast decision-making, leadership, and adaptability for health service activities were able to be carried out during the COVID-19 pandemic.Keywords: policy implementation; National Defense Health System; factual threats; COVID-19 pandemic
implementasi kebijakan; Siskeshanneg; ancaman faktual; pandemi COVID-19; policy implementation; National Defense Health System; factual threats; COVID-19 pandemic 2021-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/33356 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i2.33356
1670890 #6191 Antifungal efficacy of pomegranate aril extract against candida albicans ATCC 10231 in vitro: An experimental study Syafiq, Ikram
Setiawan, Ame Suciati
Malinda, Yuti
ABSTRACT Introduction: Pomegranate (Punica granatum L.) is one of the herbal plants that is widely used as a traditional medicine and has been known to contain alkaloids, saponins, flavonoids, punicalagin, phenolics and tannins that function as antifungals. Given the need for alternative antifungals with minimal side effects and the potential of pomegranate aril as significant antimicrobials and antifungals. This study aims to determine the inhibitory power of pomegranate aril extract against C. albicans which is a fungus that causes oral candidiasis. Methods: The antifungal activity test was carried out using the agar diffusion method by measuring the diameter of the inhibition zone. The average value of the measurement results was taken to see the effect of the concentration of pomegranate aril extract on the growth of C. albicans. Results: The results showed that pomegranate aril extract concentrations of 50%, 25%, 12.5%, 6.25% and 3.12% did not produce an inhibition zone Conclusions: Based on the results of the study, it can be concluded that pomegranate aril extract has no inhibitory power against C. albicans.KEY WORDS: Oral candidiasis, pomegranate aril extract, antifungal, C. albicans, inhibitory zone diameter.Efektivitas antijamur ekstrak aril buah delima terhadap jamur candida albicans ATCC 10231 secara in vitro: Studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan:  Delima (Punica granatum L.) merupakan salah satu tanaman herbal yang banyak digunakan sebagai obat tradisional dan telah diketahui mengandung senyawa alkaloid, saponin, flavonoid, punicalagin, fenolik dan tanin yang berfungsi sebagai antijamur. Mengingat adanya kebutuhan akan alternatif antijamur dengan efek samping minimal dan potensi aril buah delima sebagai antimikroba dan antijamur yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak aril buah delima terhadap C. albicans yang merupakan jamur penyebab oral candidiasis. Metode: Ekstrak aril buah delima diperoleh melalui maserasi kemudian diencerkan hingga mendapatkan konsentrasi 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, dan 3,12%. Uji aktivitas antijamur dilakukan menggunakan metode difusi agar dengan cara mengukur diameter zona hambat. Hasil pengukuran diambil nilai reratanya untuk melihat pengaruh konsentrasi ekstrak aril buah delima terhadap pertumbuhan C. albicans. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak aril buah delima konsentrasi 50%, 25%, 12.5%, 6.25% dan 3.12% tidak menghasilkan zona hambat. Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh simpulan bahwa ekstrak aril buah delima tidak memiliki daya hambat terhadap C. albicans.KATA KUNCI: Oral candidiasis, ekstrak aril buah delima, antijamur, C. albicans, diameter zona hambat.
Oral candidiasis, ekstrak aril buah delima, antijamur, C. albicans, diameter zona hambat, Oral candidiasis, pomegranate aril extract, antifungal, C. albicans, inhibitory zone diameter. 2026-01-05 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/65436 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i3.65436
1670889 #6191 Pengaruh kebersihan mulut dengan kesehatan gingiva pada pemakai alat orthodontik cekat Effect of oral hygiene and gingival health in fixed orthodontics appliances Putri, Iga Nadya
Praharani, Depi
Pujiastuti, Peni
Prijatmoko, Dwi
Misrohmasari, Elyda Akhya Afida
ABSTRAK Pendahuluan: Alat orthodontik cekat adalah salah satu alat yang digunakan untuk perawatan maloklusi. Bagian-bagian alat tersebut menempel pada gigi yang menyulitkan dalam pembersihan gigi, sehingga akan memudahkan akumulasi plak dan dapat menyebabkan gingivitis. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis  hubungan antara kebersihan mulut dengan kesehatan gingiva pada pemakai alat orthodontik cekat. Metode: Jenis penelitian observasional dengan rancangan penelitian cross-sectional study. Subjek penelitian mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember yang  memakai alat orthodontik cekat yang diambil dengan metode purposive sampling. Data penelitian diambil dengan kuesioner, pengukuran tingkat kebersihan mulut dengan OHI-S (Green dan Vermilion), dan kesehatan gingiva dengan Indeks Gingiva (Loe dan Silness). Hasil: Sebanyak 17% subjek memiliki tingkat kebersihan rongga mulut baik, 57% sedang, 26% buruk, dan rerata tingkat kebersihan mulutnya adalah sedang. Sebanyak 89% subjek mengalami gingivitis  ringan, 11% sedang, tidak ada yang mengalami gingivitis berat, dan rerata status kesehatan gingivanya adalah gingivitis ringan. Uji korelasi Pearson menunjukkan nilai korelasi (r=0,665) yang artinya terdapat hubungan yang kuat antara kebersihan mulut dengan kesehatan gingiva.  Uji regresi linier didapatkan nilai r2= 0,442 yang berarti kebersihan mulut berhubungan kuat dengan kesehatan gingiva sebesar 44,2%. Simpulan: Semakin buruk tingkat kebersihan mulut pada pemakai alat orthodontik cekat maka status kesehatan gingivanya juga semakin buruk. Kata kunci: kebersihan mulut; kesehatan gingiva; alat orthodontik cekat; OHI-S; indeks gingiva.ABSTRACTIntroductions: A fixed orthodontic device is one of the tools used for the treatment of malocclusion. The parts of the tool attach to the teeth which make it difficult to clean the teeth, so that it will facilitate the accumulation of plaque and can cause gingival inflammation.  To determine whether there is a relationship between oral hygiene and gingival health in students of the Faculty of Dentistry, University of Jember who use fixed orthodontics. Methods: Observational study with a cross–sectional study design. The research subjects were students of the Faculty of Dentistry, University of Jember who used fixed orthodontic appliances which were taken using purposive sampling method. The research data was collected by using a questionnaire, measuring the level of oral hygiene with OHI-S (Green and Vermilion), and gingival health using the Gingival Index (Loe and Silness). Results: 17 % of subjects had good oral hygiene levels, 57 % were moderate, 26 % were poor, and the average level of oral hygiene was moderate. As many as 89 % of subjects had mild gingival inflammation, 11 % were moderate, no one had severe gingival inflammation, and the average gingival health status was mild gingival inflammation. The Pearson correlation test showed a correlation value (r = 0.665) which means that there is a strong relationship between oral hygiene and gingival health. In the linear regression test the value of r2 = 0.442 means that the effect of oral hygiene on gingival health is 44.2 %. Conclusion: In users of  fixed orthodontics, the level of oral hygiene is better, the health status of the gingiva is getting better.Keywords: fixed orthodontics; gingival disease; gingival index; malocclusion; OHI–S.
kebersihan mulut; kesehatan gingiva; alat orthodontik cekat; OHI-S; indeks gingiva; fixed orthodontics; gingival disease; gingival index; malocclusion; OHI–S. 2022-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40327 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i3.40327
1670888 #6191 Korelasi peran modelling orang tua pada saat pelaksanaan perawatan kesehatan gigi dengan dental fear anak Malihah, Dhia Thifal
Sasmita, Inne Suherna
Setiawan, Arlette Suzy Puspa Pertiwi
Pendahuluan: Dental fear merupakan rasa takut terhadap perawatan kesehatan gigi yang sangat terlihat pada anak usia pra sekolah, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah metode modeling. Tujuan Penelitian bertujuan untuk mengetahui korelasi antara modeling orang tua pada saat pelaksanaan perawatan kesehatan gigi dengan dental fear anak. Metode: Jenis penelitian merupakan analitik korelatif. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner peran modeling orang tua dan The Children’s Fear Survey Schedule Dental Subscale (CFSS-DS) versi Bahasa Indonesia pada 20 ibu yang memiliki anak berusia tiga hingga enam tahun yang merupakan pasien anak di RSKGM dan pernah dibawa ke dalam ruang praktik selama perawatan kesehatan gigi kepada ibu berlangsung. Analisis data menggunakan uji Spearman Coefficient of Rank Correlation. Hasil: Sebanyak 95% ibu telah memperlihatkan perilaku positif di hadapan anaknya dan 5% memperlihatkan perilaku negatif. Dental fear yang dirasakan anak untuk kriteria rendah adalah 40%, sedang 40%, dan tinggi 20%. Hasil analisis pada derajat kekeliruan  = 0,05 adalah rs -0,46, thitung -2,19, p-value 0,020930553, dan penelitian bersifat signifikan dengan keterkaitan antara kedua variabel penelitian 21,05%. Simpulan: Terdapat korelasi antara modeling orang tua dengan dental fear anak, yaitu semakin ibu memperlihatkan perilaku positif selama mendapatkan perawatan kesehatan gigi, maka semakin rendah dental fear yang dirasakan anak usia tiga hingga enam tahun.Kata Kunci: Korelasi, peran modeling orang tua, Dental Fear anak
2018-03-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21438 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i1.21438
1670887 #6191 Cognitive awareness of online-sold prefabricated myofunctional appliances disadvantages among Bandung residents: cross-sectional study Suryanto, Shenny Shefira
Gayatri, Gita
Suwargiani, Anne Agustina
Zakaria, Myrna Nurlatifah
ABSTRACT Introduction: Prefabricated myofunctional appliances (PMAs), commonly known as teeth trainers, are one of myofunctional appliances. These appliances can be used in treating the teeth as well as the muscles. The individuals’ need for dental aesthetics today have led to the trend of marketing PMAs over-the-counter online. This is mostly caused by budget limitations that leads people to seek for alternative and more affordable orthodontic treatments. However, the use of over-the-counter PMAs may pose adverse effects to consumers. This study aims to assess the currents state of knowledge regarding the disadvantages of prefabricated myofunctional appliances among Bandung residents. Methods: This is a descriptive quantitative study, with a cluster random sampling technique. This study involved 100 Bandung residents from 30 different subdistricts, as determined by Slovin formula. The research instrument consisted of questionnaires which included 27-questions with sub variables of dental appearance, PMAs in general, indications, contraindications, advantages, and adverse effects of using over-the-counter PMAs online. The questionnaire was modified based on Bloom's taxonomy. The obtained results were further analyzed using frequent distribution. Results: A total of 30 respondents (30%) were classified as having low knowledge levels. 62 respondents (62%) were categorized as having moderate level of knowledge. and 8 respondents (8%) were categorized as being highly aware of the disadvantages of over-the-counter PMAs. Conclusions: People’s knowledge of the disadvantages of over-the-counter PMAs in Bandung is classified in a moderate level. KEY WORDS: prefabricated myofunctional appliance, myofunctional appliance, orthodontic myofunctional applianceTingkat pengetahuan masyarakat kota Bandung mengenai dampak buruk prefabricated   myofunctional appliances yang dijual secara online: studi cross-sectional ABSTRAK Pendahuluan: Prefabricated myofunctional appliances (PMAs) atau yang dikenal oleh masyarakat awam dengan teeth trainer merupakan sebuah alat myofungsional. PMAs tidak hanya bekerja pada gigi tetapi juga bekerja pada otot. Era modern ini kebutuhan individu akan estetika gigi menyebabkan terciptanya pasar penjualan PMAs secara bebas di online. Hal tersebut disebabkan karena adanya keterbatasan biaya yang menyebabkan individu mencari alternatif perawatan ortodonti yang ekonomis. Penggunaan PMAs yang dibeli bebas secara online dapat menimbulkan bahaya bagi penggunanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat Kota Bandung mengenai dampak buruk prefabricated myofunctional appliances yang dijual bebas secara online. Metode: Jenis penelitian ini yaitu deskriptif kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel cluster random sampling. Penelitian ini dilakukan terhadap 100 masyarakat Kota Bandung dari 30 kecamatan yang telah dihitung menggunakan rumus slovin. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang terdiri dari 27 pertanyaan yang mencakup subvariabel penampilan gigi, PMAs secara umum, indikasi, kontraindikasi, kelebihan, dan dampak buruk penggunaan PMAs yang dijual bebas secara online. Kuesioner ini dimodifikasi berdasarkan taksonomi Bloom. Hasil data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan distribusi frekuensi. Hasil: Sebanyak 30 responden (30%) tergolong tingkat pengetahuan rendah, 62 responden (62%) pada kategori sedang, dan 8 responden (8%) memiliki tingkat pengetahuan tinggi terhadap dampak buruk dari PMAs yang dijual secara online. (4) Simpulan: Tingkat pengetahuan masyarakat Kota Bandung mengenai dampak buruk prefabricated myofunctional appliances yang dijual secara online tergolong sedang. KATA KUNCI: prefabricated myofunctional appliance, alat myofunctional, orthodontic myofunctional appliance, online myofunctional appliance.
prefabricated myofunctional appliance, myofunctional appliance, orthodontic myofunctional appliance, prefabricated myofunctional appliance, alat myofunctional, orthodontic myofunctional appliance, online myofunctional appliance. 2023-08-11 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/45132 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i2.45132
1670886 #6191 Hubungan Index Massa Tubuh/Umur (IMT/U) dengan crowding anterior pada anak usia 10-12 tahun Roesianto, Alvina
Suwindere, Winny
Sembiring, Linda Sari
Pendahuluan: Gizi memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tubuh, namun gizi masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Kekurangan gizi terhadap seseorang memiliki dampak terhadap rongga mulutnya yaitu pertumbuhan dan perkembangan rahang yang terhambat sehingga dapat menyebabkan crowding. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) dengan terjadinya crowding anterior pada anak usia 10-12 tahun pada SD Mulia Wacana Bandung. Metode: Jenis penelitian observasional-analitik dengan rancangan penelitian berupa cross- sectional. Subjek penelitian berjumlah 74 anak di SD Mulia Wacana Bandung, pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Data yang dikumpulkan berupa status gizi anak berdasarkan Index Massa tubuh / Umur (IMT/U) dan keadaan susunan gigi (crowding). Analisis data menggunakan Fisher Exact Test. Pengolahan data menggunakan program SPSS. Hasil: Terdapat 8,8% anak kategori obesitas (14%) terdapat crowding anterior, 1,8% anak kategori overweight (12,3%) terdapat crowding anterior, 21,1% anak kategori normal (36,8%) terdapat crowding anterior, dan 24,6% anak kategori kurus (36,8%) terdapat crowding anterior dan didapatkan nilai p untuk Fisher Exact Test sebesar 0,108. Simpulan: tidak terdapat hubungan status gizi dengan Crowding Anterior.Kata kunci: Crowding anterior, gizi, status gizi
Crowding anterior, gizi, status gizi 2018-10-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22512 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i2.22512
1670885 #6191 The effect of silica addition from palm shell ash on the impact strength of heat-polymerized acrylic resin denture base: Study experimental Pradana, Benny
wahyuni, Siti
ABSTRACTIntroduction: Heat-polymerized acrylic resin is a denture base material that is often used due to its good aesthetic properties. However, it has a drawback in terms of impact strength, making it prone to cracking or fracturing after repeated impacts over time. The addition of reinforcing materials, such as silica derived from palm shell ash, is expected to enhance its impact strength. This study aims to analyze the effect of adding silica from palm shell ash at concentration of 2% and 5% on the impact strength of heat-polymerized acrylic resin denture base. Methods: This study was a laboratory experiment using samples measuing 65x10x2.5 mm; in accordance with ISO 1567. A total of 30 samples were divided into three groups:  Group A (control,without silica addition), Group B (2% silica additon) and Group C (5% silica addition). The sample size was determined using the Federer formula, and the impact strength test was conducted using the Izod Impact Testing method. A one-way ANOVA test was performed to analyze the effect of silica addition from palm shell ash on the impact strength of heat-polymerized acrylic resin denture base Results: The mean and standard deviation of impact strength in the 5% concentration group (Group C) showed the highest value compared to other groups, with a result of 13.47 ± 1.50 x 10-3 J/mm2. Based on the one-way ANOVA test, a p-value of 0.001 was obtained, indicating a significant effect of silica addition on the impact strength of heat-polymerized acrylic resin denture base. Conclusion: The addition of silica as a reinforcing material significantly influenced the impact strength of heat-polymerized acrylic resin denture bases. The 5% silica concentration group exhibited the highest impact strength values.KEY WORDS: heat-polymerized acrylic resin, silica, palm shell ash, impact strength.Perbedaan pengaruh penambahan silika dari abu cangkang kelapa sawit pada basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas terhadap kekuatan impak: studi eksperimentalABSTRAK Pendahuluan: Resin akrilik polimerisasi panas merupakan bahan basis gigi tiruan yang sering digunakan karena memiliki nilai estetik yang baik, namun bahan ini memiliki kekurangan dalam hal kekuatan impak sehingga bahan ini mudah mengalami retak atau fraktur setelah beberapa pemakaian akibat benturan yang dialami bahan secara berulang. Penambahan bahan penguat, salah satunya berupa silika dari abu cangkang kelapa sawit yang diharapkan dapat meningkatkan kekuatan impak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan pengaruh penambahan silika 2% dan 5% dari abu cangkang kelapa sawit pada basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas terhadap kekuatan impak. Metode: Jenis Penelitian ini adalah eksperimental laboratoris, menggunakan sampel dengan ukuran (65x10x2,5) mm berdasarkan ISO 1567. Total sampel sebanyak 30 buah dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok A tanpa bahan penguat (kelompok kontrol) dan kelompok B, C; kelompok dengan penambahan silika dengan konsentrasi 2% dan 5%. Uji kekuatan impak menggunakan Izod Impact Testing. Uji one-way ANOVA digunakan untuk menganalisis perbedaan pengaruh penambahan silika 2% dan 5% dari abu cangkang kelapa sawit pada basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas terhadap kekuatan impak. Hasil: Hasil rerata dan standar deviasi kekuatan impak pada kelompok dengan konsentrasi 5% (kelompok C), menghasilkan nilai tertinggi dibandingkan kelompok lainnya yaitu sebesar 13,47 ± 1,50 x 10-3 J/mm2. Berdasarkan hasil uji one-way ANOVA didapatkan nilai p=0,001 sehingga dinyatakan ada pengaruh yang signifikan penambahan silika pada bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas terhadap kekuatan impak. Simpulan: Penggunaan silika sebagai bahan penguat pada bahan basis gigi tiruan akrilik polimerisasi panas dapat memengaruhi kekuatan impak, dan kelompok dengan konsentrasi 5% yang memiliki kekuatan impak paling tinggi.KATA KUNCI: Resin akrilik polimerisasi panas, silika, abu cangkang kelapa sawit, kekuatan impak.
Resin akrilik polimerisasi panas, silika, abu cangkang kelapa sawit, kekuatan impak. 2025-03-26 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/60516 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i1.60516
1670884 #6191 Bentuk dan inklinasi eminensia artikularis serta kedalaman fossa glenoidalis berdasarkan usia ditinjau dari radiograf panoramikMorphology and inclination of articular eminence and glenoid fossa depth based on age observed in panoramic radiograph Afnia, Salsabila
Azhari, Azhari
Pramanik, Farina
ABSTRAK Pendahuluan: Perubahan bentuk, ukuran eminensia artikularis dan fossa glenoidalis selama masa pertumbuhan perlu diketahui karena berperan penting dalam pergerakan sendi temporomandibular, sehingga membantu menegakkan diagnosa ada tidaknya kelainan pada tumbuh kembang. Variasi serta perubahan dapat dilihat dan diukur melalui radiograf panoramik. Tujuan penelitian ini untuk meneliti bentuk dan inklinasi eminensia artikularis serta kedalaman fossa glenoidalis berdasarkan usia ditinjau dari radiograf panoramik. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Jumlah sampel didapat dengan menggunakan rumus Slovin, sebanyak 60 radiograf panoramik pasien RSGM Unpad, bulan Januari-Mei 2018 dengan rentang usia 5-30 tahun dibagi kedalam tiga kelompok usia berdasarkan usia pertumbuhan komponen temporal. Bentuk eminensia, inklinasi eminensia dan kedalaman fossa diukur menggunakan software ImageJ. Data diolah menggunakan Microsoft Excel® untuk mengetahui nilai minimum, maksimum, nilai rerata, dan standar deviasi. Hasil: Mayoritas bentuk eminensia artikularis pada tiap kelompok usia adalah sigmoid. Rerata inklinasi eminensia artikularis adalah 42°, rentang usia 5-10 tahun, 44° pada rentang usia 11-20 tahun, dan 58° pada rentang usia 21-30 tahun. Rerata kedalaman fossa glenoidalis adalah 4,62 mm pada rentang usia 5-10 tahun, 5,71 mm pada rentang usia 11-20 tahun, dan 7,52 mm pada rentang usia 21-30 tahun. Simpulan: Bentuk mayoritas eminensia artikularis selama masa pertumbuhan adalah sigmoid, serta inklinasi eminensia artikularis dan kedalaman fossa glenoidalis nilai reratanya semakin meningkat seiring dengan pertambahan usia selama masa pertumbuhan. Eminensia artikularis dan fossa glenoidalis mengalami fase pertumbuhan aktif pada rentang usia 5-10 tahun, berjalan lambat pada rentang usia 11-20 tahun, dan mengalami penyempurnaan serta perkembangan pada rentang usia 21-30 tahun.Kata kunci: sendi temporomandibular; eminensia artikularis; fossa glenoidalis; usia; radiograf panoramik ABSTRACT Introduction: Changes in the morphology and size of the articular eminence and the glenoid fossa during the growth period need to be known because it plays an essential role in the movement of the temporomandibular joint, thus helping to diagnose the presence or absence of abnormalities in the growth and development. These variations and changes can be seen and measured through panoramic radiographs. The purpose of this study was to examine the morphology and inclination of the articular eminence and the depth of the glenoid fossa based on age observed from a panoramic radiograph. Methods: This research was descriptive with a purposive sampling technique. The number of samples obtained using the Slovin formula, which resulted in 60 panoramic radiographs of the patients from Universitas Padjadjaran Dental Hospital (RSGM Unpad), during the period of January-May 2018, with an age range of 5-30 years, divided into three age groups based on the age of the temporal component growth. Eminence morphology and inclination, and fossa depth were measured using ImageJ software. The data were processed using Microsoft Excel® to determine the minimum, maximum, mean, and standard deviation values. Results: Most articular eminence morphology found in each age group were sigmoid. The mean articular eminence inclination in the age range of 5-10 years was 42°, 44° in the age range of 11-20 years, and 58° in the age range of 21-30 years. The mean of the glenoid fossa depth in the age range of 5-10 years was 4.62 mm, 5.71 mm in the age range of 11-20 years, and 7.52 mm in the age range of 21-30 years. Conclusions: Most articular eminence morphology during the growth period is sigmoid. The mean value of the articular eminence inclination and the glenoid fossa depth increases with age during the growth period. The articular eminence and glenoid fossa undergo an active growth phase in the age range of 5-10 years, progress slowly at the age range of 11-20 years, and undergo completion and development in the age range of 21-30 years.Keywords: temporomandibular joint; articular eminence; glenoid fossa; age; panoramic radiograph
sendi temporomandibular; eminensia artikularis; fossa glenoidalis; usia; radiograf panoramik; temporomandibular joint; articular eminence; glenoid fossa; age; panoramic radiograph 2022-02-27 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/31413 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i1.31413
1670883 #6191 Faktor predisposisi stomatitis aftosa rekuren minor pada pasien rumah sakit gigi dan mulut unpad Predisposing factors of minor recurrent aphthous stomatitis in patients at rumah sakit gigi dan mulut fkg unpad Afifah, Masfi
Herawati, Erna
Hidayat, Wahyu
ABSTRAK Pendahuluan: Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) adalah kelainan pada mukosa mulut yang ditandai dengan keberadaan ulser berulang tanpa tanda-tanda penyakit lainnya. Etiologi SAR sampai saat ini belum diketahui secara pasti, akan tetapi terdapat faktor predisposisi SAR diantaranya genetik, hormonal, stress, dan defisiensi nutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor predisposisi SAR minor pada pasien rumah sakit gigi dan mulut (RSGM) Unpad. Metode: Jenis penelitian ini adalah cross sectional dan deskriptif menggunakan teknik survei. Populasi penelitian ini adalah pasien SAR minor di RSGM Unpad dengan metode Purposive Sampling didapatkan subyek riset berjumlah 30 orang pada periode Januari – Februari 2020. Data hasil penelitian diperoleh dari kuesioner faktor predisposisi SAR, PSS-10, dan FFQ. Hasil: Faktor predisposisi pada pasien adalah faktor tunggal dan kombinasi beberapa faktor yaitu stres (10%); stres dan defisiensi nutrisi (36,67%); genetik, stres, dan defisiensi nutrisi (26,67%); hormonal, stres, dan defisiensi nutrisi (10%); genetik, hormonal, stres, dan defisiensi nutrisi (16,66%). Tingkat stres didominasi oleh stres sedang (83,33%). Simpulan: Faktor predisposisi pada pasien SAR minor di RSGM Unpad terdiri dari genetik, hormonal, stres, dan defisiensi nutrisi. Mayoritas pasien memiliki lebih dari satu faktor predisposisi. Kombinasi faktor predisposisi didominasi oleh 2 faktor yaitu stres dan defisiensi nutrisi (vitamin B12, asam folat, dan zat besi).Kata Kunci: stomatitis aftosa rekuren; faktor predisposisi; kuesioner. ABSTRACTIntroduction: Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) is an abnormality in the oral mucosa characterized by the presence of recurrent ulcers without other signs of disease. Etiology of RAS is still unknown, but there are several predisposing factors for RAS including genetic, hormonal, stress, and nutritional deficiencies. This study aims to determine the predisposing factors for Recurrent Aftosa Stomatitis (RAS) in patients who came to dental hospital (RSGM) Unpad. Methods: This research used a descriptive cross-sectional and survey method. The sampling method was purposive sampling of 30 minor RAS patients at RSGM Unpad in the period January - February 2020. All research subjects were given a questionnaire regarding the predisposing factors of RAS, Perceived Stress Scale-10, and Food Frequency Questionnaire. Result: Predisposing factors in patients was a single factor and combination of factors that is stress (10%); stress and nutritional deficiencies (36.67%),; genetic, stress, and nutritional deficiencies (26.67%); hormonal, stress, and nutritional deficiencies (10%); genetic, hormonal, stress, and nutritional deficiencies (16.66%). Stress levels in patients are dominated by moderate stress (83.33%) Conclusion: Predisposing factors in minor RAS patients at RSGM Unpad consist of genetic, hormonal, stress, and nutritional deficiencies. The majority of patients have more than one predisposing factor. The combination of predisposing factors is dominated by two factors which are stress and nutritional deficiencies (vitamin B12, folic acid, and iron).Keywords: recurrent aphthous stomatitis; predisposing factors; questionnaire.
stomatitis aftosa rekuren; faktor predisposisi; kuesioner; recurrent aphthous stomatitis; predisposing factors; questionnaire. 2022-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/33554 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i3.33554
1670882 #6191 Profil lesi stomatitis aftosa rekuren pada pasien di instalasi Ilmu Penyakit Mulut RSGM Unpad periode 2014-2015 Safely, Nurul Mukhliza
Nur'aeny, Nanan
Hidayat, Wahyu
Pendahuluan: Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) merupakan penyakit mulut yang sangat sering terjadi pada masyarakat. SAR memiliki gambaran klinis berupa lesi ulserasi kecil berbentuk bulat atau oval dengan tepi kemerahan dan batas yang jelas serta dasar ulser berwarna putih atau kekuningan. Prevalensi SAR pada populasi dunia bervariasi antara 5% sampai 66% dengan rata-rata 20%. SAR diklasifikasikan dalam 3 tipe yaitu lesi minor, mayor, dan herpetiform; lesi sering ditemukan di mukosa labial, biasa diberikan terapi farmakologi berupa anti inflamasi topikal, serta membutuhkan masa penyembuhan 7-10 hari. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui profil lesi SAR pada pasien di Instalasi Ilmu Penyakit Mulut Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran (RSGM Unpad) periode tahun 2014-2015. Metode: Jenis penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif dari penelusuran data sekunder. Sampel penelitian yaitu rekam medis pasien dengan diagnosa SAR di RSGM Unpad periode 2014-2015. Hasil: Kasus SAR ditemukan sejumlah 47 kasus dari sejumlah 132 keseluruhan kasus penyakit mulut di instalasi penyakit mulut RSGM Unpad periode 2014-2015. SAR sebagian besar terjadi pada pasien dengan jenis kelamin perempuan daripada laki-laki, serta paling banyak ditemukan pada usia 20-29 tahun. Simpulan: Profil lesi SAR lebih banyak ditemukan tipe SAR minor, berlokasi di mukosa labial, dengan lama penyembuhan 7-14 hari dan penatalaksanaan farmakologi yang paling sering diberikan adalah topikal anti inflamasi kortikosteroid.Kata Kunci : Profil lesi oral, stomatitis aftosa rekuren, ilmu penyakit mulut
Profil lesi oral, stomatitis aftosa rekuren, ilmu penyakit mulut 2017-10-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22112 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i1.22112
1670881 #6191 Possible bruxism and probable bruxism in people with down syndrome at the persatuan orang tua dengan down syndrome (POTADS) Foundation: cross-sectional study Lathifah, Nabila Dara
Soewondo,, Willyanti
Yohana, Winny
Possible bruksisme dan probable bruksisme pada penyandang sindrom down di yayasan persatuan orang tua anak dengan down syndrome (POTADS): Studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Sindrom Down (DS) merupakan suatu kelainan kongenital kromosom. Penyandang DS memiliki berbagai jenis kebiasaan buruk oral, salah satunya adalah bruksisme. Pendekatan non-instrumental untuk menilai bruksisme termasuk laporan diri dan pemeriksaan klinis. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi possible bruksisme dan probable bruksisme pada penyandang DS di Yayasan Persatuan Orang Tua Anak Down Syndrome (POTADS). Metode: Jenis penelitian dengan desain survei cross sectional. Subjek diperoleh dengan metode purposive sampling menghasilkan sebanyak 41 orang dari POTADS, terdiri dari 22 laki-laki dan 19 perempuan yang berhasil diuji. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk menilai possible bruksisme dan pemeriksaan klinis pada rongga mulut berupa kondisi gigi atrisi untuk menilai probable bruksisme. Hasil: Frekuensi possible bruksisme sebesar 68,30%; terdiri dari 14,64% sleep bruksisme (SB), 21,96% awake bruksisme (AB), dan 31,70% kombinasi. Frekuensi berdasarkan jenis kelamin menunjukkan 57,14% laki-laki dan 42,85% perempuan, sedangkan berdasarkan kelompok usia sebesar 64,28% pada anak-anak, 25% pada remaja, dan 10,71% pada dewasa. Frekuensi probable bruksisme adalah sebesar 31,70%. Simpulan: Possible bruksisme pada penyandang DS di Yayasan POTADS adalah 68,70%, dimana lebih tinggi dibandingkan frekuensi probable bruksisme yaitu 31,70%. Laki-laki dan usia anak-anak merupakan kelompok terbanyak yang mengalami bruksisme.KATA KUNCI: Sindrom down, kebiasaan buruk oral, bruksisme.ABSTRACT Introduction: Down syndrome (DS) is a chromosomal congenital disorder. People with DS have various types of oral bad habits, one of which is bruxism. Non-instrumental approaches to assessing bruxism include self-report and clinical examination. The purpose of this study was to identify bruxism among individuals  with DS at the Persatuan Orang Tua Anak Dengan Down Syndrome (POTADS) Foundation. Methods: The type  of research was a cross-sectional survey design. Subjects were obtained using the purposive sampling method, resulting in 41 people from POTADS, consisting of 22 men and 19 women, who were successfully tested. Data collection was carried out using a questionnaire to assess possible bruxism, as well as  a clinical examination of the oral cavity to determine potential occurrence of bruxism by the observation of dental attrition conditions. Results: The frequency of possible bruxism was 68.30%, consisting of 14.64% sleep bruxism (SB), 21.96% awake bruxism (AB), and 31.70% combination bruxism. The frequency based on gender showed 57.14% male and 42.85% female, while based on age group, it was 64.28% in children, 25% in adolescents, and 10.71% in adults. The frequency of probable bruxism was 31.70%. Conclusions: Possible bruxism among individuals with DS at the POTADS Foundation is 68.70%, indicating a higher incidence compared to the frequency of probable bruxism, which is 31.70%. Males and children are the largest group who experience bruxismKEY WORDS: down syndrome, bad oral habit, bruxism.
Sindrom down, kebiasaan buruk oral, bruksisme, down syndrome, bad oral habit, bruxism. 2023-11-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/48089 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i3.48089
1670880 #6191 Pengaruh teknik langsung dan tidak langsung pembuatan mahkota sementara resin akrilik autopolimerisasi terhadap ketepatan marginThe effect of direct and indirect techniques on the margin accuracy in the fabrication of the auto polymerised acrylic resin temporary crown Wijaya, Winna
Andryas, Ika
Pendahuluan: Mahkota sementara harus memiliki ketepatan margin yang baik untuk menjaga kesehatan gingiva dan melindungi gigi dari trauma suhu, kimia, fisik, dan bakteri. Pembuatan mahkota sementara yang paling umum digunakan adalah teknik langsung dan tidak langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik langsung dan tidak langsung pembuatan mahkota sementara resin akrilik autopolimerisasi terhadap ketepatan margin. Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris. Sampel pada penelitian ini adalah resin akrilik autopolimerisasi. Jumlah seluruh sampel adalah 12 dengan 6 sampel untuk masing-masing kelompok. Seluruh sampel diuji ketepatan marginnya menggunakan stereomikroskop. Hasil: Analisis statistik menggunakan uji t tidak berpasangan menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara teknik langsung dan tidak langsung pembuatan mahkota sementara terhadap ketepatan margin p=0,0001 (p<0,05). Simpulan: Mahkota sementara yang dibuat menggunakan teknik tidak langsung menghasilkan ketepatan margin yang lebih baik daripada teknik langsung.Kata kunci: Ketepatan margin, mahkota sementara, resin akrilik autopolimerisasi, teknik langsung, teknik tidak langsung. ABSTRACTIntroduction: Temporary crowns must have good margin accuracy to maintain gingival health and protect teeth from temperature, chemical, physical, and bacterial trauma. The most commonly used temporary crown is the direct and indirect technique. This study was aimed to determine the effect of direct and indirect techniques on the margin accuracy in the fabrication of the auto polymerised acrylic resin temporary crown. Method: This research was an experimental laboratory. The sample in this study was auto polymerised acrylic resin. The total number of samples was 12 with 6 samples for each group. All samples were tested for margin accuracy using stereomicroscopes. Results: Statistical analysis using unpaired t-test showed that there were significant differences between the direct and indirect techniques of temporary crowns fabrication on the margin accuracy p = 0.0001 (p < 0.05). Conclusion: Temporary crowns fabricated with indirect technique produce better margin accuracy than direct technique.Keywords: Margin accuracy, temporary crown, auto polymerised acrylic resin, direct technique, indirect technique.
Katakunci: Ketepatan margin, mahkota sementara, resin akrilik autopolimerisasi, teknik langsung, teknik tidak langsung. Keywords: Margin accuracy, temporary crown, auto polymerised acrylic resin, direct technique, indirect technique. 2019-11-09 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/23906 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i2.23906
1670879 #6191 Effect of the addition of green mussel shell nanochitosan on the hardness of glass ionomer cement: Experimental study Widyastuti, Noor Hafida
Ningsih, Juwita Raditya
Yuletnawati, Sartari Entin
Dewi, Listiana Masyita
Jayanti, Puji Tri
Introduction: Treatment of caries can be carried out through restoration. The selection of restorative materials in dentistry highly considers hardness to withstand occlusal loads. Glass Ionomer Cement is one substance that can be utilized for restoration. By including chitosan derived from green mussel shells, GIC insufficiency is remedied. It is processed into nanochitosan since its usage is maximized when it is manufactured in nanoscale. This study aims to analyze the effect of adding green mussel shell nanochitosan on the hardness of glass ionomer cement. Methods: This study used a posttest-only control group design in a laboratory setting. Six groups are formed from the group. First, as a control group (GIC Control), GIC was made without the addition of nanochitosan. The GIC liquid was supplemented with nanochitosan at four distinct concentrations: 0.5%, 1%, 1.5%, and 2%, to create the GIC group with the addition of nanochitosan. A Vickers microhardness tester was used to test the surface hardness. HV0.05 (490.3 mN) was the load employed in this study, and the indentation time was set at two seconds. The sample has an 8 mm thickness and a box-like form. Every sample was indented twice. Results: The GIC hardness test with no additives had a mean result and standard deviation of 31.94 ± 3.54. The hardness value of glass ionomer cement can be increased by nanochitosan, with the average outcomes and standard deviation as follow: Concentration: 1.5% = 95.22 ± 14.12, 1% = 91.20 ± 15.09, 2% = 117.60 ± 40.90, and 0.5% = 51.60 ± 9.34. The One-Way Anova test showed a significant difference between the concentration groups in the hardness value of glass ionomer cement, with p = 0.000, meaning that p <0.5. Conclusion: The addition of green mussel shell nanochitosan can increase the hardness of glass ionomer cement.Pengaruh penambahan nanokitosan cangkang kerang hijau terhadap kekerasan semen ionomer kaca: studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Penanganan karies dapat dilakukan dengan cara restorasi. Pemilihan bahan restorasi di kedokteran gigi sangat mempertimbangkan kekerasan untuk menahan beban oklusal. Salah satu bahan yang bisa digunakan untuk restorasi adalah  Semen Ionomer Kaca(SIK). Kekurangan SIK diatasi dengan cara mencambahkan kitosan yang didapat dalam cangkang kerang hijau. Penggunaannya lebih efektif apabila dibuat dalam ukuran nano, sehingga diolah menjadi nanokitosan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan nanokitosan cangkang kerang hijau terhadap kekerasan semen ionomer kaca. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian laboratorium dengan menggunakan desain penelitian posttest only control group design. Kelompok terbagi menjadi 6 kelompok. Pertama, SIK disiapkan tanpa penambahan nanokitosan sebagai kelompok kontrol (SIK Kontrol). Kelompok SIK dengan penambahan nanokitosan dibuat dengan menambahkan nanokitosan ke dalam cairan SIK dengan empat konsentrasi berbeda, yaitu 0,5%, 1%, 1.5%, dan 2%. Pengujian kekerasan permukaan dilakukan menggunakan alat Vickers microhardness tester. Beban yang digunakan pada penelitian ini yaitu HV0,05 (490,3mN) dengan lama indentasi yaitu 2 detik. Bentuk sampel berbentuk kotak dengan ketebalan 8 mm. Setiap sampel dilakukan indentasi sebesar 2 kali Hasil: Hasil rerata dan standar deviasi uji kekerasan SIK tanpa penambahan adalah 31,94 ± 3,54. Nano Kitosan mampu menambah nilai kekerasan semen ionomer kaca dengan hasil rerata dan standar deviasi sebagai berikut konsentrasi 0,5%= 51,60 ± 9,34 , 1%=91,20 ± 15,09, 1,5%,= 95,22 ± 14,12 dan 2%=117,60 ± 40,90. Hasil uji menggunakan uji One Way Anova didapatkan nilai p = 0,000 sehingga p<0,5 dan dinyatakan terdapat pengaruh yang signifikan antar kelompok konsentrasi terhadap nilai kekerasan semen ionomer kaca. Simpulan: penambahan nanokitosan cangkang kerang hijau dapat meningkatkan kekerasan semen ionomer kaca.
kekerasan, nanokitosan cangkang kerang hijau, semen ionomer kaca 2024-06-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/54769 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i2.54769
1670878 #6191 Perbedaan kadar enzim α-amylase saliva pada penerbang sipil Indonesia yang mengalami stress dan tidak stress karena faktor kelelahanDifferences in the salivary α-amylase levels in Indonesian civil aviators with and without fatigues stress experience Candra, Meta Yunia
Suniarti, Dewi Fatma
Setiawati, Febriana
Soedarsono, Nurtami
Pendahuluan: Penerbang Sipil Indonesia beresiko mengalami stres yang disebabkan karena faktor kelelahan dengan rute penerbangan jarak dekat antara pulau-pulau di Indonesia. Enzim α-amylase saliva dapat digunakan sebagai biomarker stress. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kadar enzim α-amylase saliva pada penerbang sipil Indonesia yang mengalami stres karena faktor kelelahan dengan penerbang sipil Indonesia yang tidak mengalami stress karena faktor kelelahan. Metode: Jenis penelitian adalah cross-sectional, membandingkan tingkat kelelahan yang menjadi penyebab stress pada penerbang sipil Indonesia dengan metode pengukuran Fatigue Severity Scale (FSS) dan membandingkan kadar enzim α-amylase saliva yang dianalisa dengan metode ELISA pada dua kelompok penerbang sipil Indonesia yang memiliki jam terbang total lebih dari 6624 jam dan melakukan penerbangan sektor sebanyak 24 subjek dengan kelompok penerbang sipil Indonesia yang memiliki jam terbang total kurang dari 6624 jam dan tidak melakukan penerbangan sektor sebanyak 16 subjek dengan uji analisis data bivariat komparatif. Hasil: Kelompok penerbang sipil Indonesia dengan jam terbang total lebih dari 6624 jam dan melakukan penerbangan sektor menunjukkan nilai enzim α-amylase sebesar 0,899 dan kelompok penerbangan sipil Indonesia dengan jam terbang kurang dari 6624 jam dan tidak melakukan penerbangan sektor menunjukkan nilai enzim α-amylase sebesar 0,689. Terdapat perbedaan bermakna p = 0,006 (p<0,05) antara kedua kelompok penerbang. Simpulan : Stres yang disebabkan karena faktor kelelahan pada penerbang sipil Indonesia menghasilkan kadar enzim α-amylase yang lebih tinggi dibandingkan dengan penerbang sipil Indonesia yang tidak mengalami stress karena faktor kelelahan.Kata kunci: Enzim α-amylase saliva, fatigue severity scale, stres, penerbang. ABSTRACT Introduction: Indonesian civil aviators have a risk of experiencing stress due to fatigue factor with high-frequency intersection routes between islands of Indonesia. Salivary α-amylase is an enzyme that can be used as a stress biomarker. This study was aimed to analyse the differences of salivary α-amylase levels in Indonesian civil aviators with and without fatigues stress experience. Methods: This research was cross-sectional, comparing the level of fatigue as the cause of stress for Indonesian civil aviators with the Fatigue Severity Scale (FSS) measurement method. The level of the salivary α-amylase enzyme was analysed using the ELISA method in two groups: Indonesian civil aviators with more than 6624 flight hours and performed sector flights (24 subjects); Indonesian civil aviators with less than 6624 flight hours and did not perform sector flights (16 subjects). All data then analysed with comparative bivariate data analysis. Results: The group of Indonesian civil aviators with more than 6624 flight hours and performed sector flight showed an α-amylase enzyme value of 0.899; while the group of Indonesian civil aviators with less than 6624 flight hours and did not perform sector flights showed an α-amylase enzyme value of 0.689. There was a significant difference p=0.006 (p < 0.05) between the two groups of pilots. Conclusion: Indonesian civil aviators with fatigues stress experience of increases the α-amylase enzyme value compared to Indonesian civil pilots without fatigues stress experience. Keywords: Salivary α-amylase, fatigue severity scale, stress, aviator.
Salivary α-amylase; fatigue severity scale; stres; penerbang; stress; aviator 2020-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28063 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v4i2.28063
1670877 #6191 The difference of Heterotrigona itama honey gel degradation rate based on crystallinity index: Study experimental Alus, Levi Natya
Anitasari, Silvia
Kosala, Khemasili
Ismail, Sjarif
Yani, Sinar
ABSTRACT Introduction: The application of dental topical agents is a preventive measure to protect dental surfaces, and one potential candidate is a Heterotrigona itama honey gel. Its thick and sticky characteristics allow for strong adhesion, making it less susceptible to degradation. The degradation rate of this gel can be analyzed through the crystallinity index value using FTIR. In addition, supporting components can be identified through functional group analysis. The purpose of this research was to analyze the difference degradation rate of Heterotrigona itama honey gel based on its crystallinity index and functional groups. Methods: The type of this research is a true experimental study utilizing FTIR–ATR Bruker Alpha II and origin software. A total of 25 teeth were divided into 5 groups with 10%, 12.5% and 15% Heterotrigona itama honey gels application, a dental topical application as the positive control and a 3,5% CMC Na gel as the negative control. The statistical analysis used was one way ANOVA and the Games Howell post hoc test. Results: The average crystallinity index values of 10%, 12.5% 15% Heterotrigona itama honey gels were 86,14%±2.91161, 86,60%±2.73380 and 87.88%±2.59568 respectively. The functional groups identified include O-H, C=O, C-H and C-O. Elucidation of chemical compounds showed the presence of carboxylic acid. The results of ANOVA showed significant differences (p<0.05). The statistical test between treatments showed a statistically significant difference between 10%, 12,5% and 15% Heterotrigona itama honey gels compared to the positive and negative controls. Conclusions: There is a difference in the degradation rate of Heterotrigona itama honey gel based on crystallinity index. The 15% Heterotrigona itama honey gel was less prone to degradation on the tooth surface compared to other treatment groups, as it had the highest crystallinity index.KEY WORDS: Heterotrigona itama honey gel, FTIR, degradation rate, crystallinity index, functional groupsPerbedaan kecepatan degradasi gel berbasis madu Heterotrigona itama berdasarkan nilai indeks kristalinitas: Studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Pengaplikasiaan dental topical merupakan tindakan preventif guna mencegah kerusakan lapisan gigi dan salah satu kandidatnya adalah gel berbasis madu Heterotrigona itama. Karakteristiknya yang kental dan lengket dapat memberikan perlekatan yang erat sehingga tidak mudah terdegradasi. Kecepatan degradasi dari gel ini dapat dianalisis dari nilai indeks kristalinitas menggunakan FTIR. Selain itu, komponen pendukung dapat diketahui melalui gugus fungsi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan kecepatan degradasi gel berbasis madu Heterotrigona itama berdasarkan nilai indeks kristalinitas dan keberadaan gugus fungsi pendukung. Metode: Jenis penelitian berupa true experimental menggunakan FTIR-ATR Bruker Alpha II dan software origin. Sebanyak 25 gigi dikelompokkan menjadi 5 kelompok perlakuan berupa pengaplikasian gel berbasis madu Heterotrigona itama 10%, 12,5% dan 15%, dental topical application sebagai kontrol positif dan gel CMC Na 3,5% sebagai kontrol negatif. Analisis statistika yang digunakan, yaitu one way ANOVA dan post hoc test Games Howell. Hasil: Rerata nilai indeks kristalinitas gel berbasis madu Heterotrigona itama 10%, 12,5% dan 15% berurutan sebesar 86,14%±2.91161, 86,60%±273380, dan 87,88%±2.59568. Gugus fungsi pendukung meliputi O-H; C=O; C-H serta C-O. Elusidasi senyawa kimia, yaitu carboxylic acid. Hasil uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan (p<0,05), uji statistika antar kelompok perlakuan menunjukkan ada perbedaan signifikan secara nyata antara gel berbasis madu Heterotrigona itama 10%, 12,5% dan 15% terhadap kontrol positif dan kontrol negatif. Simpulan: Terdapat perbedaan kecepatan degradasi gel berbasis madu Heterotrigona itama berdasarkan nilai indeks kristalinitas. Gel berbasis madu Heterotrigona itama 15% tidak mudah mengalami degradasi pada permukaan gigi dibandingkan kelompok perlakuan lain dikarenakan memiliki nilai indeks kristalinitas tertinggi.KATA KUNCI: Gel berbasis madu Heterotrigona itama, FTIR, kecepatan degradasi, indeks kristalinitas, gugus fungsi
Gel berbasis madu Heterotrigona itama, ftir, kecepatan degradasi, indeks kristalinitas, gugus fungsi 2025-06-18 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63110 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i2.63110
Menampilkan 2.281 - 2.300 dari total 1.550.696 data