| ID ↓ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1670816 | #7423 | MODAL SOSIAL DALAM KEBERLANJUTAN PERTANIAN DI TENGAH ALIH FUNGSI LAHAN DI KELURAHAN BINTORO KECAMATAN PATRANG KABUPATEN JEMBER |
Setiawan, Trio Pendi Ebrilyani, Elok Azilla, Erina Nur |
Sektor pertanian merupakan sektor terpenting dalam menghasilkan perekonomian, namun bahwasanya sektor pertanian setiap tahunnya telah mengalami alih fungsi lahan menjadi non pertanian. Kelurahan Bintoro Kabupaten Jember merupakan salah satu daerah yang telah mengalami perubahan di dalam penggunaan lahan. Lahan yang menjadi kunci di dalam kegiatan pertanian telah mengalami penyempitan akibat pengalihfungsian lahan. Pengalihfungsian lahan ini menjadikan banyak para petani yang mengami keresahan berupa munculnya beberapa kesulitan di dalam menjalani kehidupannya. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan teknik penentuan informan menggunakan purposive sampling. Hasil dari penelitian bahwa Modal sosial dalam keberlanjutan pertanian di tengah alih fungsi lahan di Kelurahan Bintoro terdiri dari beberapa kategori, yaitu kepercayaan (trust), norma (norm), dan jaringan (network). Kepercayaan sangat dibutuhkan untuk memberikan dorongan untuk saling memperkuat. Norma memberikan aturan di dalam kehidupan masyarakat. Jaringan menandakan kekuatan di dalam membangun sutau relasi. Bentuk konkrit dukungan modal sosial seperti terjalinnya hubungan harmonis di dalam kehidupan pertanian, tercipta rasa saling tolong menolong, berjalannya kegiatan pertanian, kemudahan di dalam memperoleh input atau fasilitas pertanian, dan beberapa bentuk lainnya. Berdasar kondisi tersebut kegiatan pertanian masih terus dapat berjalan karena dasar kehidupan masyarakat petani yang masih kokoh di dalam mempertahankan usaha pertanian mereka.Kata Kunci: alih fungsi lahan, modal sosial, pertanianAbstractLand use change is a problem of the agricultural sector, one of which occurred in Bintoro Village, Patrang District, Jember Regency. Land conversion has led to the concern of the farming community in Bintoro. Social capital is something that can support the sustainability of agriculture in the midst of land conversion. The purpose of this research is to study how social capital can support the sustainability of agriculture in the midst of land conversion in the Bintoro Village.This research method uses descriptive qualitative method with a case study approach with the technique of determining informants using purposive sampling. The results of the study that social capital in the sustainability of agriculture in the middle of land use change in Kelurahan Bintoro consists of several categories, namely trusts, norms, and networks. Trust is needed to provide encouragement to strengthen each other. Norms provide rules in people's lives. Networks signify strength in building relationships. Concrete forms of social capital support such as establishing harmonious relationships in agricultural life, creating mutual assistance to help, the running of agricultural activities, ease in obtaining agricultural inputs or facilities, and several other forms. Based on these conditions agricultural activities can continue to run because the basic community life of farmers who are still strong in maintaining their agricultural business.Keywords: Agricilture, Conversion of land, Social Capital.
|
2020-08-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/27464 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v5i1.27464 | |
| 1670815 | #7423 | PENGKAJIAN PEMUPUKAN PADA USAHATANI JAGUNG DI LAHAN KERING DAN LAHAN SAWAH DI KAB. PANDEGLANG, BANTEN | Purba, Resmayeti |
ABSTRAKHasil jagung di lahan sawah dan di lahan kering dapat ditingkatkan dengan pemberian pupuk yangtepat, baik dosis maupun jenisnya. Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukanterhadap hasil jagung hibrida di lahan sawah dan lahan kering di Kabupaten Pandeglang, Banten.Pengkajian dilakukan pada lahan sawah dan lahan kering milik petani di Kec. Mandalawangi padabulan Mei-Agustus 2016. Percobaan menggunakan Rancangan Acak kelompok, 3 perlakuan dan 8ulangan. Perlakuan terdiri atas tiga pemupukan yaitu : P1 (pemupukan rekomendasi KATAM :Urea 325 kg/ha + 75 kg/ha SP-36 + 80 kg/ha KCl + pupuk kandang 2 ton/ha); P2 (pemupukanrekomendasi Balitsereal jagung hibrida : Urea 250 kg/ha + 300 kg NPK Phonska + pupuk kandang 2ton/ha) dan P3 (pemupukan cara petani : Urea 100 kg/ha + NPK Phonska 200 kg/ha). Hasil kajianmenunjukkan bahwa hasil biji jagung tertinggi di lahan sawah sebesar 6,25 t/ha dan lahan keringsebesar 5,78 t/ha ditemukan pada pemupukan P1 (rekomendasi Balitsereal, yaitu : Urea 250 kg/ha+ 300 kg/ha NPK Phonska. Jagung hibrida varietas Bima dapat dikembangkan di lahan kering dandi lahan sawah dengan pemberian pupuk Urea 250 kg/ha + 300 kg/ha NPK Phonska + pupukorganik 2 ton/ha.Kata kunci : pemupukan, jagung, hasilABSTRACTThe yield of maize in paddy fields and on dry land can be increased by appropriate fertilizer, bothdosage and type. This study aims to determine the effect of fertilization on the yield of hybrid corn inpaddy field and dry land in Pandeglang, Banten. The assessment was conducted on farmers' fieldsand dry land in Kec. Mandalawangi in May-August 2016. Experiments using Randomized BlockDesign, 3 treatments and 8 replications. The treatment consisted of three fertilizers: P1 (KATAMUrea 325 kg / ha + 75 kg/ha SP-36 + KCl 80 kg/ha + 2 tons / ha manure); P2 (fertilizerrecommendation of Balitsereal hybrid corn: Urea 250 kg / ha +300 kg NPK Phonska + manure 2ton / ha) and P3 (fertilizer farming method (Urea 100 kg / ha + NPK Phonska 200 kg / ha). Theresults showed that the highest yield of maize seeds in paddy fields was 6.25 t/ ha and dry land of5.78 t / ha was found in fertilization based on Balitsereal recommendation: Urea 250 kg / ha + 300kg/ha NPK Phonska. Hybrid maize varieties of Bima can be developed in dry land and in paddyfields with Urea fertilizer 250 kg / ha + 300 kg / ha NPK Phonska+ organic fertilizer 2 ton / ha.Keywords : fertilization, corn, yield
|
2019-07-23 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15047 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v2i1.15047 | |
| 1670814 | #7423 | STRATEGI BERSAING PT. KEBUN SAYUR SURABAYA MENGGUNAKAN SEGITIGA POSITIONING, DIFFERENTIATION, BRAND (PDB) |
Ulfa, Maria Hayati, Mardiyah |
AbstrakPT. Kebun Sayur Surabaya merupakan usaha sayuran hidroponik khususnya selada yang berdiri sejak 14 Juni 2014. Usaha ini kurang mampu dalam membangun brand di benak pelanggan, terbukti dari views di akun instagramnya yang semakin menurun sejak tidak aktif selama dua tahun akibat adanya pandemi Covid-19 pada tahun 2020 lalu yang menyebabkan penurunan pendapatan sebesar 80% pada waktu itu. Dalam konteks ini, konsep Segitiga Positioning, Differentiation, Brand (PDB) menawarkan kerangka untuk mengembangkan strategi bersaing bagi PT. Kebun Sayur Surabaya. Maka tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi strategi positioning, diferensiasi, dan membangun brand yang kuat melalui positioning dan diferensiasi. Penggunaan informan dengan metode triangulasi sehingga diperoleh 3 jenis informan, yaitu Bapak Mehdy dan pegawai sebagai informan utama, Bapak Yogi sebagai informan kunci dan pelanggan sebagai informan pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT. Kebun Sayur Surabaya memposisikan dirinya melalui tiga atribut, yaitu kualitas produk, harga terjangkau dan layanan pelanggan yang baik. Strategi diferensiasi yang diterapkan berdasarkan keberagaman produk, kemudahan mengakses produk dengan menggunakan platform digital serta sistem pengiriman mandiri. Brand yang dimiliki “Kebun Sayur Surabaya (KSS)”. Saran yang diberikan agar dapat mempertahankan atau meningkatkan kualitas produk dan layanan, menambah keberagaman sayuran dan memaksimalkan penggunaan sosial media agar lebih dikenal oleh banyak orang.Kata kunci: Hidroponik, PDB, pemasaran, strategi bersaing.AbstractPT. Kebun Sayur Surabaya is a hydroponic vegetable business, especially lettuce which was established on June 14, 2014. This business is less able to build a brand in customer’s minds, proven by the views on Instagram account which have decreased since being inactive for two years due to the Covid-19 pandemic in 2020 which caused an 80% drop in revenue at that time. In this context, the Positioning, Differentiation, Brand (PDB) Triangle concept offers a framework for developing competitive strategy for PT. Kebun Sayur Surabaya. So the purpose of this study is to identify positioning, differentiation, and build a strong brand through that positioning and differentiation. The use of informants with the triangulation method and obtained 3 types of informants, namely Mr. Mehdy and employees as the main informant, Mr. Yogi as the key informant and customers as supporting informants. The result of this study shows that PT. Kebun Sayur Surabaya do the position itself through three attributes, product quality, affordable price and good customer service. The differentiation strategy is based on product diversity, ease of accessing products by using the digital platform and independent delivery system. The brand owned is "Kebun Sayur Surabaya (KSS)". The suggestions given are to maintain or improve the quality of products and services, increase the diversity of raw vegetables and maximize the use of social media to be better known by more people.Keywords: Competitive Strategy, Hydrophonic, Marketing, PDB
|
Hidroponik, PDB, Pemasaran, Strategi Bersaing | 2025-02-12 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/58178 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v9i2.58178 |
| 1670813 | #7423 | CUSTOMER CENTRICITY: KEPUASAN KONSUMEN MELALUI NILAI PELANGGAN BERDASARKAN VALUE-IN-USE TERHADAP KUALITAS PRODUK SAYUR ORGANIK (Studi kasus di Ujenk Mart Bandung, Jawa Barat) |
Utami, Hesty Nurul Chaeriyah, Anggita |
ABSTRAK Produk makanan organic saat ini menjadi popular di kalangan masyrakat dengan gaya hidup sehat. Sebagian besar produk organic dipasarkan di pasar modern seperti supermarket, speciality store, dan rantai pasar modern lainnya untuk menyediakan produk segar organic dengan berbagai macam pilihan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh nilai pelanggan atas kualitas produk terhadap kepuasan pelanggan sayuran organik di Ujenk Mart sebagai salah satu ‘local fresh market’ di Kota Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan alat analisis regresi linear sederhana dan customer value mapping. Jumlah sampel sebanyak 56 responden. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai pelanggan mempengaruhi kepuasan pelanggan melalui indikator kualitas produk. Value-in-use konsumen melalui pengalaman mengkonsumsi produk menunjukkan nilai pelanggan pada posisi fair value antara manfaat produk melalui kualitas dengan total biaya yang harus dikeluarkan untuk menikmati produk sayuran segar organic. Kata Kunci: Kepuasan konsumen, sayuran organink, value in use ABSTRACT Organic food become more popular in the modern lifestyle. Most of the organic product especially organic fresh produce sold in the modern market chain such as supermarkets, specialty store, and other modern retail channel by providing fresh organic products with variety of choices and selection to fulfil consumer needs and wants toward fresh produce. This study objective was to explain the effect of customer value based on the value-in-use through product quality toward customer satisfaction of organic vegetables in Ujenk Mart as one of ‘Local Fresh Market’ in Bandung City. The research method used quantitative method with data analysis using the simple linear regression analysis and customer value mapping. Number of samples obtained were 56 respondents. Results of linear regression analysis indicates that customer value significantly influence customer satisfaction through providing product quality. Value-in-use from customer perspective on experiencing organic fresh produce quality presented a fair value between product quality benefits and overall cost. Keywords: Consumers satisfaction, organic vegetables, value in use
|
2019-12-04 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/18179 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v3i1.18179 | |
| 1670812 | #7423 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEPUTUSAN PEMBELIAN (STUDI KASUS DI FIANDA COFFEE AND EATERY) |
Berliana, Shinta Afrizal, Roni Veronice, Veronice |
AbstrakGenerasi muda kini menjadikan kopi sebagai bagian dari gaya hidup sosial, di mana keputusan memilih kedai tak hanya didorong oleh rasa, tetapi juga oleh suasana, kenyamanan, dan estetika tempat yang mendukung momen kebersamaan. Fianda Coffee and Eatery sebagai salah satu usaha di sektor ini menghadapi tantangan dalam mempertahankan daya saing. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh kualitas produk, harga, promosi, lokasi, dan kualitas pelayanan terhadap keputusan pembelian konsumen. Penelitian dilakukan di Fianda Coffee and Eatery Payakumbuh berbasis angka dan pengukuran atau biasa disebut kuantitatif, dengan data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner oleh 100 responden melalui simple random sampling. Regresi linear digunakan untuk analisis data. Penelitian menunjukkan bahwasannya secara parsial, dari 5 faktor hanya 2 faktor yaitu kualitas produk dengan promosi saja yang memiliki pengaruh terhadap keputusan konsumen untuk membeli produk. Secara simultan, terdapat pengaruh sebanyak 38,9% secara bersamaan. Kualitas produk, harga, promosi, lokasi dan kualitas pelayanan terhadap keputusan pembelian produk di Fianda Coffee and Eatery. Peneliti berikutnya diharapkan dapat melanjutkan dan mengembangkan penelitian ini. Mengingat penelitian ini hanya memfokuskan analisis pada lima variabel bebas, yang terdiri dari kualitas produk, harga, promosi, lokasi, serta kualitas pelayanan dalam hubungannya dengan keputusan dalam pembelian, maka disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk mempertimbangkan penambahan atau pengembangan variabel lain yang relevan. Hal ini bertujuan agar keputusan pembelian konsumen dapat dianalisis secara lebih komprehensif dan mendalam.Kata kunci: Keputusan pembelian, kualitas produk, promosi.AbstractYounger generations are now making coffee a part of their social lifestyle, where the decision to choose a shop is driven not only by taste, but also by the ambience, comfort, and aesthetics of the place that support moments of togetherness. Fianda Coffee and Eatery as one of the business actors in this sector faces challenges in maintaining competitiveness. The purpose of this study was to analyze the effect of product quality, price, promotion, location, and service quality on consumer purchasing decisions. The research was conducted at Fianda Coffee and Eatery Payakumbuh using a quantitative approach through a survey method of 100 respondents through accidental sampling. Linear regression was used for data analysis. The study shows that partially, of the 5 factors, only product quality and promotion have an effect on product purchasing decisions. Simultaneously, there is an influence of 38.9% together. Product quality, price, promotion, location and service quality on product purchasing decisions at Fianda Coffee and Eatery. Future researchers are expected to continue and develop this research. Given that this study only focuses on analyzing five independent variables, namely product quality, price, promotion, location, and service quality in relation to purchasing decisions, it is recommended that future researchers consider adding or developing other relevant variables. It is intended that consumer purchasing decisions can be analyzed more comprehensively and deeply.Keywords: Purchase decision, product quality, promotion.
|
Sosial Ekonomi, Manajemen Agribisnis | 2025-07-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63393 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i1.63393 |
| 1670811 | #7423 | PERAN PUSAT PELATIHAN PERTANIAN DAN PEDESAAN SWADAYA (P4S) DALAM PENGEMBANGAN PEMUDA PEDESAAN (Studi Kasus di P4S Tani Mandiri Desa Cibodas Kec. Lembang Kab. Bandung Barat) |
Setiawan, Iwan Judawinata, Muhammad G. Nugraha, Adi |
ABSTRAKPusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) merupakan sebuah lembaga yang dibangun,dimiliki dan dikelola secara langsung oleh komunitas petani. Salah satu misi P4S adalahmengembangkan pemuda pedesaan. P4S Tani Mandiri yang berlokasi di Desa Cibodas merupakansatu dari 400 P4S yang menjadi pionir di Indonesia. Hingga tahun 2015, P4S Tani Mandiri telahmenghasilkan 1950 lulusan dari seluruh Indonesia. Pertanyaannya, sejauh mana P4S Tani Mandiriberperan dalam mengembangkan (memberdayakan) pemuda di lingkungannya? Tulisan inibertujuan untuk menganalisis peran P4S dalam pengembangan pemuda dan sejauh mana prinsip-prinsip pengembangan masyarakat diterapkan dalam proses tersebut. Data dalam tulisan inidiperolah dari hasil observasi dan wawancara mendalam dengan informan. Hasil analisismengungkap bahwa selama 20 tahun, P4S Tani Mandiri berperan dalam memberdayakan pemudapengangguran, memberdayakan anak-anak petani, mengembangkan agribisnis dan menginisiasiusaha-usaha alternatif. Secara umum, prinsip-prinsip pengembangan masyarakat sudahdiimplementasikan, namun masih lemah dalam hal menghargai budaya dan sumberdaya lokal, dalamhal ekologis dan belum bersih dari unsur-unsur kolonisasi immateril. Oleh karena itu, perludibangun kerjasama dengan komunitas-komunitas hijau dan pelaku-pelaku kreatif yang bergerakdalam perwujudan ramah lingkungan serta peningkatan siklus nilai (value cyclic) dan siklussumberdaya lokal (resource cyclic).Kata kunci: peran, P4S, pengembangan, pemuda pedesaanABSTRACTPusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) is an institution that is built, owned andmanaged directly by the farmer community. One of P4S mission is to develop rural youth. P4S TaniMandiri which located in Cibodas Village is one of P4S pioneers in Indonesia, which has been insuccession for 20 years. Until the year of 2015, P4S Tani Mandiri has produced 1950 graduatesfrom all over Indonesia. The question is, how far P4S Tani Mandiri role in developing (empowering)youth in the community? This paper aims to analyze P4S role in the development of youth and theextent to which the principles of community development applied in the process. The data in thispaper obtained from observations and interviews with informants in Cibodas. The results of theanalysis revealed that for 20 years, P4S Tani Mandiri has contributed to empowering youthunemployment, empowering the children of farmers, developing agribusiness and youth alternativebusinesses. In general, the principles of community development have been implemented, but stillweak in terms of the culture and local resources, in terms of ecological and not yet free fromcolonization immaterial elements. Therefore, a cooperation with green communities and creativeactors engaged in the realization of environmental friendly as well as an increase in the value cycleand the cycle of local resources need to be introduced.Keywords: role, P4S, development, rural youth
|
2016-12-23 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22710 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v1i2.22710 | |
| 1670810 | #7423 | ANALISIS SISTEM KOMODITAS PALA INDONESIA |
Heryanto, Mahra Arari Nugraha, Adi |
AbstrakPala merupakan komoditas strategis Indonesia yang memiliki posisi dominan dalam pasar global, namun dinamika produksinya menunjukkan pola fluktuatif dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana interaksi struktural dalam sistem komoditas pala global mempengaruhi dinamika produksi dan keputusan pada unit mikro petani. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus di sentra produksi pala di Kabupaten Fakfak (Papua Barat) dan Kabupaten Halmahera Tengah (Maluku Utara). Analisis dilakukan menggunakan pendekatan berpikir sistem dengan alat Causal Loop Diagram (CLD) untuk mengidentifikasi struktur umpan balik dalam sistem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem komoditas pala dibentuk oleh interaksi antara subsistem budidaya, pasar domestik, dan pasar internasional melalui mekanisme reinforcing dan balancing loops. Harga ekspor sebagai variabel eksternal memengaruhi harga produsen dan pendapatan petani, yang kemudian membentuk keputusan perawatan, penanaman baru, dan replanting. Namun, respons produksi bersifat tertunda akibat adanya jeda biologis 5–7 tahun pada fase Tanaman Belum Menghasilkan menuju Tanaman Menghasilkan. Interaksi antara penguatan berbasis insentif ekonomi dan penyeimbangan berbasis stok, biaya, pasokan global, serta penuaan tanaman menghasilkan pola perilaku siklikal dalam jangka menengah dan panjang. Dengan demikian, dinamika produksi pala Indonesia merupakan hasil struktur sistem yang endogen, di mana keputusan mikro petani tidak dapat dipisahkan dari tekanan pasar global dan karakter biologis tanaman berumur panjang.Kata kunci: struktur, perkebunan, dinamika produksi, komoditas.Abstract Nutmeg is a strategic commodity for Indonesia with a dominant position in the global market; however, its production dynamics exhibit long-term fluctuations. This study aims to analyze how structural interactions within the global nutmeg commodity system influence production dynamics and decision-making at the micro-level of farmers. A qualitative case study approach was employed in major nutmeg-producing regions, namely Fakfak Regency (West Papua) and Central Halmahera Regency (North Maluku). Data were analyzed using a system thinking approach through the development of a Causal Loop Diagram (CLD) to identify the endogenous feedback structure underlying the system The findings reveal that the nutmeg commodity system is shaped by interactions among the cultivation subsystem, the domestic market, and the international market through reinforcing and balancing feedback loops. Export prices, as an external variable, influence producer prices and farmers’ income, which subsequently shape decisions on crop maintenance, new planting, and replanting. However, production responses are delayed due to the biological lag of 5–7 years between the immature and productive stages of nutmeg trees. The interaction between economically driven reinforcing loops and balancing mechanisms related to stock availability, production costs, global supply, and plant aging generates cyclical behavior in medium- and long-term production dynamics. Indonesia’s nutmeg production dynamics therefore emerge from an endogenous system structure in which micro-level farmer decisions are inseparable from global market pressures and the biological characteristics of a long-lived perennial crop.Keywords: structure, plantation, production dynamics, commodity.
|
Sosial Ekonomi Pertanian | 2025-12-20 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/69853 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i2.69853 |
| 1670809 | #7423 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN INDUSTRI HILIR DOMESTIK TERHADAP BIJI KAKAO |
Satria, Faris Maulana Nugraha, Adi Yudha, Eka Purna Ernah, Ernah |
ABSTRAKKakao merupakan salah satu komoditas yang memiliki kontribusi terbesar terhadap perekonomian Indonesia. Kakao memiliki potensi hilirisasasi yang sangat baik, dimana produk hilir kakao sangat beragam dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Pemerintah menetapkan bubuk kakao dan lemak kakao sebagai produk hilir utama yang dihasilkan Indonesia. Perkembangan dapat dilihat pada perubahan jenis produk kakao yang diekspor. Ekspor biji kakao terus mengalami penurunan, sementara ekspor bubuk kakao dan lemak kakao terus mengalami peningkatan. Perkembangan pada industri juga dapat dilihat pada peningkatan impor biji kakao oleh Indonesia yang mengindikasikan peningkatan pada konsumsi biji kakao oleh industri hilir domestik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menganalisis trend perubahan produksi biji kakao, konsumsi biji kakao oleh industri, dan produksi produk hilir dengan menggunakan analisis trend dan grafik, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan industri hilir domestik terhadap biji kakao menggunakan analisis regresi linier berganda metode Ordinary Least Square (OLS) dengan bantuan software SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi dan volume ekspor biji kakao mengalami penurunan, sementara produksi produk hilir dan konsumsi biji kakao oleh industri meningkat. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan industri hilir terhadap biji kakao secara signifikan adalah harga biji kakao, harga lemak kakao, harga bubuk kakao, dan produksi bubuk kakao.Kata Kunci: Bubuk Kakao, Lemak Kakao, Trend Perubahan, Permintaan Industri, Ordinary Least SquareABSTRACTCocoa has one of the highest contribution towards Indonesian economy among other agricultural commodities. Cocoa has huge potential in the downstream sector, reflected by the many variations of cocoa-based products with high economic value. Government of Indonesia declared cocoa powder and cocoa butter as the main product of downstream cocoa industry. Development of the cocoa industry downstream sector is indicated in the shift of cocoa based-products exported to various countries around the world, from raw cocoa seeds to cocoa powder and cocoa butter. Increase in Indonesian import of cocoa beans shows that there is an increase in the industry’s consumption of raw cocoa beans. The purpose of this research is to analyze the trend and dynamics of Indonesia’s cocoa bean production, cocoa bean export, downstream sector’s production, and downstream sector’s cocoa bean consumption, and to identify factors that affect downstream cocoa industry’s demand of cocoa beans using Ordinary Least Squares regression analysis. The result of this research shows that Indonesia’s cocoa bean export and production is trending downward, while downstream production and consumption shows a positive developing trend. Factors that affect the cocoa downstream industry’s demand are prices of cocoa bean, cocoa butter, cocoa powder, and the amount of cocoa powder produced by the industry.Keywords: Cocoa Powder, Cocoa Butter, Trend, Dowsntream Industry’s Demand, Ordinary Least Square
|
2021-01-11 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/30800 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v5i2.30800 | |
| 1670808 | #7423 | ANALISIS DAYA SAING BUAH MANGGIS INDONESIA DI NEGARA THAILAND, HONG KONG, DAN MALAYSIA |
Yudha, Eka Purna Nugraha, Adi |
AbstrakManggis adalah komoditas unggulan ekspor Negara Indonesia. Tiga Negara yang menjadi Negara tujuan ekspor manggis Indonesia adalah Thailand, Hongkong dan Malaysia. Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dengan metode analisis data Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP). Jenis data berupa nilai ekspor total dan komoditas manggis (HS 080450) Indonesia , nilai ekspor dan impor komoditas manggis Indonesia, volume ekspor manggis Indonesia, dengan data time series tahun 2014-2018. Hasil dari analisis daya saing ekspor manggis Indonesia menunjukkan rata-rata nilai RCA Indonesia di Negara Thailand (0,63) artinya berdaya saing lemah dan tidak memiliki keunggulan komparatif. Pada Negara Hongkong dan Malaysia yaitu masing-masing (28,16 ) dan (12,69). Menunjukkan bahwa Indonesia memiliki daya saing kuat dan keunggulan komparatif di Negara Hongkong dan Malaysia. Sedangkan, rata-rata hasil ISP Indonesia (0,973) menyatakan bahwa Indonesia berdaya saing kuat dan dalam tahap kemandirian. Negara India dan Kenya sebagai pengeskpor buah manggis memiliki ISP (0,989) untuk India dan (0,949) untuk Kenya.Kata kunci : Manggis, Daya saing, RCA, ISPAbstractMangosteen is a leading export commodity of the Indonesian State. The three countries that become Indonesia's mangosteen export destinations are Thailand, Hong Kong and Malaysia. This study uses quantitative analysis with the data analysis method Revealed Comparative Excellence (RCA) and the Trade Specialization Index (ISP). The types of data consist of the total export value and mangosteen commodity (HS 080450) of Indonesia, the export and import value of Indonesian mangosteen commodities, the volume of Indonesian mangosteen exports, with 2014-2018 time series data. The results of the analysis of Indonesia's mangosteen export competitiveness show the average value of Indonesia's RCA in Thailand (0.63) means that it is weakly competitive and has no comparative advantage. In Hong Kong and Malaysia, respectively (28.16) and (12.69). Supporting that Indonesia has strong competitiveness and comparative advantage in Hong Kong and Malaysia. Meanwhile, the average Indonesian ISP results (0.973) state that Indonesia is highly competitive and in a condition of independence. India and Kenya as exporters of mangosteen fruit have ISPs (0.989) for India and (0.949) for Kenya.Key source : Mangosteen, Competitiveness, RCA, ISP
|
2022-07-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40432 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v7i1.40432 | |
| 1670807 | #7423 | UPAYA PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI JAGUNG MELALUI ALOKASI DANA DESA | Batafor, Gregorius Gehi |
ABSTRAKFenomena yang terjadi saat ini tentang garis kemiskinan dan penduduk miskin serta data produksi jagung (BPS Kabupaten Lembata tahun 2016), menjadi menarik untuk dikaji karena menunjukkan dua fakta yang kontradiktif. Di satu sisi kecamatan ini, juga termasuk Desa Lamatuka merupakan penghasil terbanyak komoditi jagung, tetapi di sisi lain jumlah penduduknya masih berada pada garis kemiskinan dan terkategori penduduk miskin terbanyak di Kabupaten Lembata. Metode-metode analisis data seperti fishbone analysis, pareto chart dan matriks 5H-1H, diharapkan dapat mengidentifikasi seluruh permasalahan yang dihadapi petani jagung; menentukan faktor paling dominan dan faktor potensial yang juga berpengaruh terhadap rendahnya pendapatan petani jagung; merumuskan solusi yang paling tepat dan rekomendasi program dan kegiatan pengelolaan alokasi dana desa untuk diterapkan pada petani jagung di Desa Lamatuka. Dari hasil identifikasi faktor paling dominan dan faktor potensial yang ikut berpengaruh terhadap permasalahan para petani jagung, dapat disimpulkan bahwa faktor metode kerja menjadi faktor yang paling dominan dan faktor material kerja menjadi faktor potensial yang ikut berpengaruh terhadap rendahnya pendapatan perkapita petani jagung di Desa Lamatuka. Faktor metode kerja merupakan faktor paling dominan berpengaruh yaitu sebesar 30,98%, dan faktor material kerja merupakan faktor potensial yang ikut berpengaruh yaitu sebesar 30,85%.Kata Kunci: Pendapatan Petani Jagung dan Alokasi Dana DesaABSTRACTThe current phenomena of the poverty line and the poor and data on corn production (BPS Lembata District in 2016), is interesting to study because it shows two contradictory facts. On one side of this sub district, also including Lamatuka Village is the largest producer of corn commodities, but on the other hand the population is still at the highest poverty line and categorized as the poorest population in Lembata District. Using data analysis methods such as fishbone analysis, pareto chart and 5H-1H matrix, is expected to identify all the problems faced by corn farmers; determine the most dominant factors and potential factors that also affect the low income of corn farmers; formulating the most appropriate solution and recommendation of program and management activities for village fund allocation to be applied to corn farmers in Lamatuka Village. From the results of the identification of the most dominant factors and potential factors that influence the problems of corn farmers, it can be concluded that the working method factors become the most dominant factor and work material factors become potential factors that influence the low income per capita of corn farmers in Lamatuka Village. The working method factor is the most dominant factor influencing that is 30.98%, and the work material factor is a potential factor that influences that is 30.85%.Keywords: Income of corn farmers and allocation of village fund
|
2018-12-04 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/20663 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v3i2.20663 | |
| 1670806 | #7423 | BIOCHARKOP DARI LIMBAH KULIT KOPI: STUDI ANALISIS USAHA DAN PROSPEK EKONOMI UNTUK PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI KOPI KABUPATEN GARUT |
Tridakusumah, Ahmad Choibar Febrianti, Tintin Sara, Dirga Sapta Suryana, Dadan Tursina, Marifah Rahmawati, Fani Imam, Muhammad Khaerul |
Abstrak Pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi biochar (BIOCHARKOP) merupakan salah satu strategi inovatif dalam pengembangan agribisnis kopi berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan usaha BIOCHARKOP serta prospek ekonominya dalam meningkatkan pendapatan petani kopi di Kabupaten Garut. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif ekonomi dengan analisis biaya dan pendapatan, kelayakan usaha (R/C ratio dan B/C ratio), titik impas (Break Even Point), serta analisis dampak penggunaan BIOCHARKOP terhadap struktur biaya dan pendapatan usaha tani kopi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha BIOCHARKOP memiliki total biaya produksi sebesar Rp1.100.000 per siklus dengan total penerimaan Rp2.000.000, sehingga menghasilkan pendapatan bersih Rp900.000. Nilai R/C ratio sebesar 1,82 dan B/C ratio sebesar 0,82 mengindikasikan bahwa usaha BIOCHARKOP layak dan menguntungkan secara ekonomi. Nilai BEP produksi sebesar 110 kg dan BEP harga sebesar Rp5.500/kg berada di bawah produksi dan harga aktual, yang menunjukkan tingkat keamanan usaha yang tinggi. Selain itu, penerapan BIOCHARKOP pada usaha tani kopi mampu menurunkan biaya pupuk sebesar Rp1.200.000 per musim tanam dan meningkatkan pendapatan petani sebesar Rp1.200.000 atau 8,28%, tanpa meningkatkan biaya tenaga kerja maupun biaya produksi lainnya. Temuan ini menegaskan bahwa BIOCHARKOP berkontribusi signifikan dalam meningkatkan efisiensi biaya dan pendapatan petani kopi. Secara keseluruhan, BIOCHARKOP berpotensi menjadi model usaha berbasis ekonomi sirkuler yang layak dikembangkan untuk memperkuat keberlanjutan dan kesejahteraan petani kopi.Kata kunci: Biochar, Kopi Arabika, Cascara, Limbah Kopi, Pirolisis.AbstractThe use of coffee husk waste into biochar (BIOCHARKOP) is one of the innovative strategies in the development of sustainable coffee agribusiness. This study aims to analyze the feasibility of BIOCHARKOP's business and its economic prospects in increasing the income of coffee farmers in Garut Regency. The research method used is a quantitative economic approach with cost and income analysis, business feasibility (R/C ratio and B/C ratio), break-even point (Break Even Point), and analysis of the impact of the use of BIOCHARKOP on the cost structure and income of coffee farming businesses. The results of the study show that BIOCHARKOP's business has a total production cost of IDR 1,100,000 per cycle with a total revenue of IDR 2,000,000, resulting in a net income of IDR 900,000. The R/C ratio value of 1.82 and the B/C ratio of 0.82 indicate that BIOCHARKOP's business is feasible and economically profitable. The value of the production BEP of 110 kg and the BEP price of Rp5,500/kg is below the actual production and price, which shows a high level of business security. In addition, the application of BIOCHARKOP in coffee farming businesses is able to reduce fertilizer costs by IDR 1,200,000 per planting season and increase farmers' income by IDR 1,200,000 or 8.28%, without increasing labor costs or other production costs. These findings confirm that BIOCHARKOP contributes significantly to improving the cost efficiency and income of coffee farmers. Overall, BIOCHARKOP has the potential to become a circular economy-based business model that is worthy of being developed to strengthen the sustainability and welfare of coffee farmers.Keywords: Biochar, Arabica Coffee, Cascara, Coffee Waste, Pyrolysis.
|
Sosial Ekonomi Pertanian | 2025-12-22 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/68311 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i2.68311 |
| 1670805 | #7423 | STRATEGI PEMASARAN KOPI LUWAK MANGLAYANG KARLINA DI KELOMPOK TANI KIWARI FARMERS, KABUPATEN BANDUNG |
Kusno, Kuswarini Ariin, Muhammad Indra Pratama Wiyono, Sulistyodewi Nur Rochdiani, Dini |
Abstrak Kiwari Farmers adalah kelompok tani yang mengusahakan kopi arabika reguler dan kopi luwak Manglayang Karlina. Penjualan kopi luwaknya rendah dan tidak kontinyu selama tahun 2016-2017. Karena itu perlu diidentifikasi penyebabnya dengan tujuan untuk merumuskan strategi pemasaran kopi luwak tersebut di Kelompok Tani Kiwari Farmers. Teknik penelitian menggunakan teknik studi kasus. Data primer dan sekunder dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi literatur. Data dianalisis dengan analisis strength, weakness, opportunity, and threat (SWOT) dan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Hasil penelitian menunjukkan ada 6 strategi alternatif: 1) mengalokasikan keuntungan untuk riset fermentasi biji kopi, dan proses roasting, untuk pelatihan formal tenaga kerja, serta untuk pembangunan lantai jemur dan gudang, 2) melakukan kampanye kreatif berbasis edukasi mengenai animal welfare, dan jenis, manfaat serta proses pengolahan kopi luwak, 3) menggunakan Instagram dan Facebook untuk mengedukasi konsep pengolahan mandiri dari hulu hingga hilir dan animal welfare, 4) memperluas jalan kebun, lantai jemur, dan tempat pengolahan pasca panen kopi untuk kepentingan agrowisata, 5) meningkatkan riset pengolahan roasting dan pelatihan tenaga kerja, serta 6) mempertahankan dan menambah inovasi produk baru dan kemasan. Strategi prioritas atau yang terbaik adalah strategi kesatu. Disarankan Kiwari Farmers menerapkan strategi ke 1) tersebut di atas, dan melakukan survei terhadap konsumen kopi luwak.Kata kunci: kopi luwak, strategi pemasaran, SWOT, QSPMAbstractKiwari Farmers cultivates for regular Arabica coffee and Manglayang Karlina Luwak coffee in Bandung district. The sales volume of civet coffee is still low and has experienced discontinue sales during 2016-2017. Thus, it is necessary to identify the causes of the low sales of civet coffee in order to formulate the marketing strategy of the civet coffee in the Kiwari Farmers Group. This study uses case study techniques. Primary and secondary data are collected through observation, interviews, and literature studies. Data on strengths, weaknesses, opportunities and threats encountered by Kiwari farmers groups were analyzed using SWOT Analysis and Quantitative Strategic Planning (QSP) Matrix. As a result, there were six alternative strategies: 1) allocate profits for coffee bean fermentation research, roasting processes, formal labor training, building dry floors and warehouses, 2) create creative campaigns such as the animal welfare education campaign, and campaigns on civet coffee types, the benefits of civet coffee consumption, and the processing of civet coffee, 3) use the benefits of social media in particular Instagram and Facebook to educate the concept of civet coffee processing from the beginning to the end of the process, and animal welfare, 4) enlarge the road area in the garden, drying area, build a post-harvest site and processing coffee for the development of an agro-tourism business unit, 5) improve roasting processing research and employee training, and 6) maintain by innovating new products and packaging. The best strategy is strategy number 1) mentioned above. Kiwari Keywords: civet coffee, marketing strategy, SWOT, QSPM
|
2019-12-04 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22799 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v4i1.22799 | |
| 1670804 | #7423 | PENDAPATAN USAHA TAPAI KETAN DI DESA PEMATANG PANJANG KECAMATAN GAMBUT KABUPATEN BANJAR SAAT TERJADI PANDEMI COVID-19 |
Munawarah, Munawarah Kirnadi, Ari Jumadi Ni'mah, Gusti Khairun |
AbstrakPenelitian bertujuan mengetahui teknis pembuatan tapai ketan, prospek finansial, dan dampak pandemi Covid-19 terhadap usaha tapai ketan. Penelitian dimulai pada bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2020. Teknik purposive sampling digunakan untuk penarikan sampel dengan kriteria pengusaha tapai adalah pekerjaan utama, pengalaman minimal 10 tahun, tenaga kerja dalam keluarga, sekali produksi minimal 5 liter beras ketan pada kondisi normal dan diperoleh sampel 13 orang di Desa Pematang Panjang yang menjadi sentral usaha pembuatan tapai ketan. Analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif dengan menganalisis rata-rata biaya, penerimaan, pendapatan, keuntungan, dan R/C Ratio sebelum dan saat pandemi Covid-19. Hasil penelitian menunjukkan teknis pembuatan tapai ketan dilakukan dari pencucian, perendaman, pencampuran bahan, pengukusan pertama, penyiraman, pengukusan kedua, peragian, pembentukan, pendinginan, dan fermentasi. Total rata-rata pendapatan sebelum pandemi adalah Rp.2.949.462 menjadi Rp.1.758.896 saat pandemi. Total rata-rata keuntungan sebelum pandemi adalah Rp.1.697.155 menjadi Rp.661.973 saat pandemi. Total rata-rata R/C Ratio sebelum pandemi adalah 1.47 menjadi 1.23 saat pandemi. Dampak pandemi covid-19 terhadap pendapatan usaha tapai ketan adalah penurunan jumlah produksi, penurunan frekuensi produksi, naik turunya harga jual, dan berpindah-pindahnya pasar untuk berjualan.Kata kunci: Tapai ketan; Pendapatan; Dampak pandemi covid-19AbstractThe study aims to determine the technicalities of making tapai sticky rice, financial prospects, and impact of Covid-19 pandemic on tapai sticky rice. Study was started from May to July 2020. Purposive sampling technique was used for sampling with criteria that entrepreneur was main job, minimum 10 years of experience, once minimum production of 5 liters of glutinous rice in normal conditions. Data analysis used is quantitative analysis by analyzing average cost, revenue, income, profit, and R/C ratio before and during Covid-19. Results showed technique making tapai glutinous rice was started from washing, soaking, mixing ingredients, first steaming, watering, second steaming, fermenting, forming, cooling, and fermentation. Total average income before pandemic was Rp.2,949,462 to Rp.1,758,896 during the pandemic. Total average profit before pandemic was Rp.1,697,155 to Rp661,973 during pandemic. Total average R/C ratio before pandemic was 1.47 to 1.23 during pandemic. Impact of Covid-19 on glutinous rice business is decrease in amount of production, decrease in frequency of production, increase in selling price, and changing markets for selling.Keywords: Sticky tape; Income; The impact of covid-19 pandemic
|
2021-08-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/30223 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v6i1.30223 | |
| 1670803 | #7423 | PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI JAGUNG (Zea Mays l.) DI KECAMATAN KINALI KABUPATEN PASAMAN BARAT |
Istiqomah, Nelfi Nurul Leovita, Angelia Dermawan, Alvindo |
AbstrakJagung saat ini menjadi komoditas nasional yang cukup strategis. Jagung dominan digunakan sebagai bahan baku pakan ternak. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Menganalisis karakteristik petani jagung 2) Menghitung berapa besar pendapatan usahatani jagung 3) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani jagung di Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan Proportional Random Sampling. Metode analisis data yang digunakan analisis deskriptif kualitatif dan analisis kuantitatif dengan menggunakan analisis pendapatan dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Karakteristik petani di Kecamatan Kinali dominasi oleh laki-laki, rentang umur 37-42 tahun, tingkat pendidikan SD dan SMA, dan jumlah tanggungan keluarga 4-5 orang. Sebagian besar petani responden memiliki luas lahan sebesar 1,4 ha, dengan status kepemilikan lahan yaitu milik sendiri dan pengalaman berusahatani 7-10 tahun. Besar pendapatan Rp 18.148.202,69/rata-rata luas lahan/MT dengan R/C 2,14 sehingga usahatani tersebut layak dan menguntungkan. Variabel luas lahan, pupuk anorganik, pestisida, dan tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi jagung, sedangkan variabel bibit tidak berpengaruh nyata terhadap produksi jagung.Kata kunci: jagung, pendapatan, usahatani.Abstract Corn is currently a strategic national commodity. Corn is predominantly used as raw material for animal feed. This study aims to 1) Analyze the characteristics of corn farmers 2) Calculate how much corn farming income is 3) Analyze the factors that affect corn farming production in Kinali District, West Pasaman Regency. The sample determination technique in this study used Proportional Random Sampling. The data analysis method used qualitative descriptive analysis and quantitative analysis using multiple linear regression analysis. The results showed that the characteristics of farmers in Kinali Subdistrict were dominated by men, and the number of family dependents 5-7 people. Most of the respondent farmers have a land area of 1.4 ha, with land ownership status of their own and 3-9 years of farming experience. The amount of income is Rp 18.148.202,69/average land area / with an R/C of 2.14 so that the business is feasible and profitable. The variables of land area, inorganic fertilizers, pesticides, and labor have a real effect on corn production, while the seed variables have no real effect on corn production.Keywords: corn, income, farming.
|
Agribisnis | 2023-03-06 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/41214 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v7i2.41214 |
| 1670802 | #7423 | STRATEGI ADOPSI TEKNOLOGI PERTANIAN BERDASARKAN KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI PETANI DI KABUPATEN SUMEDANG |
Thoriq, Ahmad Sampurno, Rizky Mulya Syamsiyah, Nur Setiawan, Iwan |
ABSTRAKSalah satu faktor penting dalam peningkatan produktivitas pertanian adalah melalui penerapanteknologi. Percepatan adopsi teknologi akan dipengaruhi oleh karakteristik sosial ekonomi petani.Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi adopsi teknologi pertanian berdasarkan karakteristiksosial ekonomi petani di Kabupaten Sumedang. Subjek penelitian ini adalah 4784 petani yangtersebar di 76 Desa yang terletak di 18 Kecamatan di Kabupaten Sumedang. Pemilihan lokasididasarkan pada ketersediaan lahan pertanian yang mendapat program perluasan sawah.Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuisoner, dan diperdalam dengan pendekatan FocusGroup Discussion (FGD), wawancara mendalam, serta observasi terhadap kondisi sosial, ekonomi,budaya, serta lingkungan lokasi studi. Hasil penelitian menunjukkan usia petani mayoritas diatas 50tahun (77,87%), 2) pendidikan rendah (SD : 89,21%) , 3) penguasaan lahan ≤ 0,25 hektar perpetani (58,28%), dan 4) tanggunan keluarga 1- 7 orang. Strategi yang dilakukan berdasarkan usia danpendidikan adalah melalui 1) Pembentukan kelompok tani dan penguatan kelembagaan, 2)Teknologi yang diterapkan sederhana, tepat guna dan telah teruji, 3) Penggunaan metodepenyuluhan yang mudah dipahami, 4) Pemberdayaan agen penyuluhan. Strategi yang dilakukanberdasarkan penguasaan lahan adalah contoh nyata penerapan konsolidasi lahan dan penerapanteknologi spesifik lokasi pada lahan berbukit, dan strategi yang dilakukan untuk mengatasiketerbatasan sumberdaya pertanian adalah melalui sistem gotong royong berbasis kelompok dancontoh nyata penerapan teknologi pertanian.Kata kunci : adopsi, teknologi, karakteristik sosial ekonomi, petani, SumedangABSTRACTApplication of technology is an important factor to increase agricultural productivity. Accelerationof technology adoption has affected by socioeconomic characteristics of farmer. This research aimsto make a formula of agricultural technology adoption strategy based on socioeconomiccharacteristic of farmer in Sumedang regency. About 4784 farmers with paddy field extensionsprogram have observed. Data collected trough questionnaire, focus group discussion (FGD),interview, as well as observation of agricultural technology based on social, economic, cultural, andenvironmental condition. The results showed that farmers in Sumedang were: 1) farmer with agemore than 50 years old (77,87%), 2) farmer with low education (89,21%), 3) land tenure less than0,25 hectare per farmer (58,28%), and 4) high dependents (1-7 persons). There were strategies toovercome the vulnerable condition. They categorized into three. Strategies based on age andeducation were: 1) farmer groups and institutional strengthening, 2) simple, appropriate, and testedtechnology, 3) easy understand method, and 4) Empowerment extension agents. Strategy based onland tenure was application of specific-based location technology in hilly land. Strategy based onagricultural resources was mutual aid group with agricultural technology application.Keywords: technology, adoption, socioeconomic characteristics, farmer, Sumedang
|
2019-07-23 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15076 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v2i1.15076 | |
| 1670801 | #7423 | ANALISIS WILAYAH UNGGULAN PERKEBUNAN: KOMODITAS TEBU (Saccharum officinarum Linn) |
Heryanto, Mahra Arari Pardian, Pandi Nugraha, Adi |
AbstrakTebu (Saccharum officinarum Linn) adalah bahan baku industri gula yang merupakan salah satu komoditas bahan pokok konsumsi masyarakat Indonesia yang terus meningkat dari waktu ke waktu sejalan bertambahnya penduduk baik untuk konsumsi rumah tangga maupun industri. Secara geografis tanaman tebu terkonsentrasi di sedikit wilayah saja, yaitu di pulau Jawa, sebagian kecil Sumatera dan Sulawesi. Tulisan ini bertujuan memetakan provinsi-provinsi di Indonesia yang menjadi wilayah unggulan komoditas tebu. Pendekatan yang digunakan kombinasi tipologi antara LQ (Location Quotient) dan DLQ (Dynamic Location Quotient). Wilayah unggulan untuk komoditas tebu harus memenuhi kriteria sebagai basis produksi pada periode tertentu dan berpotensi terus menjadi basis untuk masa yang akan datang dilihat dari kecenderungan (tren) basis produksinya. Wilayah-wilayah unggulan tebu yaitu provinsi Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan. Ironinya, 2 dari 3 wilayah tersebut bukan daerah produsen utama tebu di Indonesia dengan kontribusi total keduanya yang sangat kecil (hanya 2,5 persen saja) terhadap produksi tebu nasional. Sebagian besar provinsi penghasil tebu (82 persen), walau merupakan basis (dilihat dari LQ) atau sentra produksi utama, tetapi dari sisi kecenderungan (analisis DLQ) atau tren menunjukan penurunan dalam 10 tahun terakhir. Diperlukan strategi khusus untuk meningkatkan laju pertumbuhan produksi tebu di wilayah sentra agar dapat terus berkembang untuk tahun-tahun berikutnya.Kata kunci: Sentra produksi, analisis tren, industri gula.AbstractSugarcane (Saccharum officinarum Linn) serves as a primary raw material for the sugar industry, which is one of the staple commodities for Indonesian consumption. The demand for sugar continues to rise due to population growth, both for household and industrial purposes. Geographically, sugarcane cultivation is concentrated in limited areas, primarily on the island of Java, with smaller distributions in Sumatra and Sulawesi. This study aims to identify and map the leading sugarcane-producing provinces in Indonesia. The analysis employs a typological approach that integrates the Location Quotient (LQ) and Dynamic Location Quotient (DLQ) methods. A province is considered a leading sugarcane-producing region if it has historically functioned as a production base and demonstrates the potential to remain a production center in the future, based on production trend analysis. The findings indicate that Central Java, the Special Region of Yogyakarta, and South Sulawesi emerge as leading sugarcane-producing areas. However, paradoxically, two of these three regions contribute minimally to national sugarcane production, accounting for only 2.5% of total output. Moreover, 82% of the major sugarcane-producing provinces, despite serving as current production bases (based on LQ analysis), exhibit a declining production trend over the past decade (as indicated by DLQ analysis). These findings highlight the urgent need for strategic interventions to enhance sugarcane production growth in core production regions to ensure their sustainability in the future.Keywords: production base, trend analysis, sugar industry.
|
osial Ekonomi Pertanian, Agribisnis, Sosiologi Pertanian | 2025-02-12 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/61406 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v9i2.61406 |
| 1670800 | #7423 | PENINGKATAN PARTISIPASI PETANI, PEMBERDAYAAN KELEMBAGAAN DAN KEARIFAN LOKAL MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN BERKELANJUTAN | Elizabeth, Roos ganda |
Tercapainya keberhasilan suatu program pembangunan pertanian karena didukung penuh oleh partisipasi petani, para pelaksana di lapang dan kesesuaian pelaksanaan di lapang dengan target tujuan pelaksanaan. Keberhasilan juga dipengaruhi pemberdayaan dan peningkatan peran, fungsi dan kinerja kelembagaan pelaksana program serta pentingnya mengikutsertakan fungsi dan peran kearifan lokal. Tulisan ini bertujuan untuk mengemukakan pentingnya peningkatan partisipasi petani, pemberdayaan kelembagaan dan kearifan lokal dalam pengadaan dan ketersediaan pangan mendukung ketahanan pangan berkelanjutan. Seiring peningkatan pertumbuhan penduduk yang rata-rata mencapai kisaran 1,49% menyebabkan peningkatan permintaan pangan, sementara pertumbuhan ekonomi sekitar 6-7% dan pendapatan pangan yang masih elastis. Perlunya antisipasi anomali iklim ekstrem, tingginya degradasi dan pengendalian konversi lahan, dan berbagai kendala terkait lainnya diprediksi penyebab relatif rendahnya kapasitas dan ketersediaan pangan; yang membutuhkan keberpihakan dan pendampingan berbagai pihak terkait dalam pelaksanaan berbagai inovasi teknologi pertanian. Peningkatan dan pemberdayaan peran kelembagaan pertanian merupakan salah satu strategi pemerintah untuk mendukung kemandirian dan ketahanan pangan berkelanjutan. Diperlukan segera antisipasi penanganan pemenuhan pangan dengan meningkatkan partisipasi petani dalam pemberdayaan berbagai kelembagaan pertanian terkait dan kearifan lokal. Perlunya pendekatan dan pengkajian berbagai Undang-undang dan regulasi terkait serta pendampingan yang lebih serius, mendalam dan berkelanjutan untuk mengurus pengadaan dan ketersediaan pangan untuk mewujudkan kemandirian pangan menuju ketahanan pangan berkelanjutan. Kata kunci: partisipasi petani, pemberdayaan kelembagaan, kearifan lokal, ketahanan pangan.
|
2019-12-16 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/26509 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v4i2.26509 | |
| 1670799 | #7423 | ANALISIS FINANSIAL USAHA INDOOR GARDEN AKUAPONIK DENGAN PEMANFAATAN LIMBAH GELAS KACA |
Fitri, Mufti Lutfiani Dahlia, Ika Maulana, Asih Purwanti Setiawati, Indah |
AbstrakIndoor Garden Akuaponik merupakan sistem akuaponik mini deengan menggunakan tanaman hias yang dapat diletakkan di dalam ruangan. Indoor Garden Akuaponik memanfaatkan barang bekas berupa botol kaca sebagai wadah tanaman dan ikan serta pemanfaatan gelas plastik sebagai netpot untuk tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalis kelayakan finansial usaha Indoor Garden Akuaponik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi literature dan metode praktek langsung di lapangan. Untuk melakukan pengolahan dan analisis data menggunakan microsoft excel 2010 dan menggunakan 6 metode kriteria penilaian investasi yaitu Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV), Profitability Index (PI), Payback Period (PP), Net Benefit Cost Ratio (Rasio B/C), dan Break Even Point (BEP). Berdasarkan analisis finansial kelayakan usaha diperoleh NVP > 0 yaitu Rp6.112.619,00. IRR sebesar 56% lebih besar dari suku bunga analisis (discount rate 1%). PP selama 2 bulan 7 hari, investasi dapat dikembalikan di bulan ke-tiga setelah usaha berjalan. PI sebesar 9,2 artinya investasi 1% dapat dikembalikan dalam bentuk penerimaan di akhir tahun sebanyak 9,2%. Rasio B/C 8,2 yang nilainya lebih besar dari 1. Sehingga dari sisi finansial rancangan usaha Indoor Garden Akuaponik layak untuk dijalankan.Kata kunci: analisis finansial, akuaponik, limbah gelas kaca AbstractIndoor Garden Aquaponics is mini aquaponics system using ornamental plants that can be placed indoors. Indoor Garden Aquaponics utilizes used goods in the form of glass bottles as containers for plants and fish and uses plastic cups as net pots for plants. This study aims to analyze the business feasibility of Indoor Garden Aquaponics. The research method used is a literature study method and direct practice methods in the field. To perform data processing and analysis using Microsoft Excel 2010 and using 6 methods of the investment assessment criteria, the namely: Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV), Profitability Index (PI), Payback Period (PP), Net Benefit Cost Ratio (B/C Ratio), and Break Even Point (BEP). Based on the financial analysis of business feasibility, NVP > 0 was obtained, namely Rp 6,112,619.00. The IRR is 56% higher than the analytical interest rate (discount rate 1%). PP for 2 months 7 days, investment can be returned to the third month after the business is running. PI of 9.2 means that 1% investment can be returned to the form of the revenue at the end of the year as much as 9.2%. The B/ C ratio is 8.2, which is greater than 1. So from a financial point of view, the Aquaponics Indoor Garden business design is feasible to run.Keywords: akuaponics, glass waste, financial analysis, indoor garden
|
2022-02-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/37211 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v6i2.37211 | |
| 1670798 | #7423 | ADOPSI DAN DIS-ADOPSI TEKNOLOGI KONSERVASI TANAH DAN AIR DI DAS CITARUM JAWA BARAT |
Qanti, Sara Ratna Syamsiyah, Nur Sadeli, Agriani Hermita |
AbstrakKonservasi tanah dan air (KTA) memegang peranan penting dalam sistem produksi pertanian. DAS Citarum merupakan DAS terbesar dan terpanjang di Jawa Barat yang mengalami penurunan kualitas tanah dan air terparah di Indonesia. Berbagai intervensi pemerintah telah dilakukan untuk pemulihan DAS Citarum, namun intervensi ini belum memperlihatkan hasil yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat adopsi dan dis-adopsi KTA dan mengidentifikasi karakteristik petani yang melakukan adopsi dan dis-adopsi untuk tujuh kegiatan KTA. Dengan menggunakan analisis deskriptif dari 438 rumah tangga petani di DAS Citarum Bandung Jawa Barat, ditemukan bahwa tingkat adopsi KTA di DAS Citarum masih rendah, baik untuk petani marginal maupun petani dengan kepemilikan lahan yang luas. Akan tetapi, tingkat dis-adopsi KTA cenderung lebih rendah dibandingkan tingkat dis-adopsi KTA pada petani sedang atau besar. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa petani marginal cenderung lebih konsisten dalam menerapkan KTA. Kata kunci: konservasi tanah dan air, petani marginal, adopsi, disadopsiAbstractSoil and water conservation (SWC) play a crucial role in agricultural production systems. The Citarum Watershed is the largest watershed in West Java, experiencing the most severe decline in soil and water quality in Indonesia. Various government interventions have been implemented to restore the Citarum Watershed, but these interventions have not shown significant results. This research aims to analyze the adoption and dis-adoption levels of SWC and identify the characteristics of farmers who adopt and dis-adopt seven SWC practices. Using descriptive analysis of 438 farmer households in the Citarum Watershed, Bandung, West Java, it was found that the adoption level of SWC in the Citarum Watershed is still low, both for marginal farmers and those with extensive land ownership. However, the dis-adoption level of SWC tends to be smaller compared to the adoption level among medium or large-scale farmers. This may indicate that marginal farmers tend to be more consistent in implementing SWC.Keywords: soil and water conservation, marginal farmers, adoption, dis-adoption
|
Sosial Ekonomi Pertanian | 2024-02-14 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/53376 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v8i2.53376 |
| 1670797 | #7423 | ANALISIS SIKAP PETANI TERHADAP PENGGUNAAN BENIH LADA PUTIH DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG |
Trimawan, Cipta Yan Nurmalina, Rita Burhanuddin, . |
ABSTRAK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dikenal sebagai penghasil lada putih di pasar internasional dengan nama lada putih muntok. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas adalah melalui penggunaan biji lada putih. Benih yang paling banyak digunakan oleh petani adalah varietas Petaling 1, LDK dan Merapen. Sikap petani terhadap pemilihan benih lada putih sangat penting untuk diketahui karena mereka adalah pelaku agribisnis utama yang akan menghasilkan lada putih. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis sikap petani terhadap atribut biji lada putih. Penelitian ini melibatkan 60 responden petani lada putih. Analisis menggunakan multi-atribut fishbein menunjukkan bahwa sikap responden lebih memilih varietas biji lada putih Petaling 1 dibandingkan dengan varietas Merapen dan LDK. Kata Kunci: Provinsi Babel, lada putih, multiatribut Fishbein ABSTRACT Bangka Belitung Islands Province, known as a producer of white pepper in the international market with the name of muntok white pepper. One of the efforts to increase productivity is through the use of white pepper seeds. The most used seeds by farmers are varieties Petaling 1, LDK and Merapen. The farmers’ attitude to the selection of white pepper seeds is very important to know because they are the main agribusiness actors that will produce white pepper. The objectives of this research is to analyze the farmers’ attitude on the attributes of white pepper seeds. This research was involved 60 respondents of white pepper farmers. The analysis using fishbein multiattributes showed that the attitude of respondents prefers white pepper seed varieties Petaling 1 compared to Merapen and LDK varieties. Keywords: Bangka Belitung Islands Province, Fishbein Multiatribut and White Pepper Seeds
|
2019-12-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15616 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v2i2.15616 |