| ID ↓ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1670116 | #5790 | FASIES DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUGAMPING FORMASI PARIGI DI DAERAH PANGKALAN, KARAWANG, JAWA BARAT |
Fernando, Yogi Syafri, Ildrem Jambak, Moh. Ali |
Facies and depositional environments were studied to determine the growth of the carbonate rocks of Parigi Formation in Pangkalan District, Karawang, West Java. The study was conducted at nine outcrops to identify the characteristics of the macroscopic observations. Some thin section of limestone sample was taken at each location of the observations used to make microscopic analysis. Macroscopic and microscopic analysis of twenty one rock sample classified into six facies, namely: coral bafflestone facies, coral bindstone facies, algae - foraminifera packstone facies, foraminifera packstone facies, interbedded wackestone – grainstone facies, and mudstone facies. A composite log created on the outcrops around G.Guha to determine the stratigraphic of Parigi Formation in Pangkalan District. Facies succession in the composite log grouping facies into several depositional facies associations, namely: fore reef facies, offreef slope facies, reef front facies, and reef flat facies. Depositional environments are fore reef and core reef.
|
2015-04-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8384 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v13i1.8384 | |
| 1670115 | #5790 | PERUBAHAN KARAKTERISTIK ELEKTROMAGNETIK MENGGUNAKAN METODE GROUND PENETRATING RADAR HUBUNGANNYA DENGAN KARAKTERISTIK SEDIMEN BAWAH PERMUKAAN | -, Andi Agus Nur |
Ground Penetrating Radar one of a Geophysics methods with principally to elektromagnetics wave reflection which is caused by changes of electromagnetics characteristics (contrast of material dielectric) in subsurface. The product data is a 2D profil that interpreted later from configuration reflection pattern on data to determine type of the sediment.
|
type of the sediment, electromagnetic wave, GPR | 2007-01-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8129 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v5i1.8129 |
| 1670114 | #5790 | Biostratigrafi Calcareous Nannofossil Miosen Pada Anggota Batugamping Formasi Pamutuan Pangandaran, Jawa Barat |
GASPERSZ, GABRIELA.C.N. Isnaniawardhani, Vijaya Pratiwi, Santi Dwi Nurdrajat, . Rieuwpassa, Lilian C |
Lokasi penelitian terletak di Parakanmanggu, dan Cigugur, Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia. Penelitian ini difokuskan pada korelasi biostratigrafi Anggota Batugamping Formasi Pamutuan dengan analisis detil pada singkapan satuan batugamping. Anggota Batugamping Formasi Pamutuan terendapkan pada umur Miosen Tengah hingga Miosen Akhir dengan lingkungan pengendapan laut. Metode penelitian meliputi observasi lapangan dengan menggunakan metode measuring section pada dua lintasan, preparasi nannofossils, dan analisis kualitatif. Empat puluh sampel batugamping yang terdiri dari batugamping kristalin, batugamping grainstone, dan batugamping packstone telah dianalisis dengan metode smear slide dan suspensi. Distribusi calcareous nannofossil menunjukkan pembentukan enam Zona: Sphenolithus heteromorphus dan Coccolithus miopelagicus (NN5); Cyclicargolithus floridanus (NN6); Catinaster coalithus (NN7); Discoaster berggrenii (NN8-NN9); Reticulofenestra small size (NN10-NN11); dan Discoaster quinqueramus (NN12). Berdasarkan distribusi kemunculan awal dan akhir dari nannofossils datum spesies, kami menyimpulkan bahwa Anggota Batugamping Formasi Pamutuan terendapkan pada rentang umur relatif NN5 sampai NN12 atau Miosen Tengah sampai Miosen Akhir.
|
2021-01-06 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/31478 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v18i3.31478 | |
| 1670113 | #5790 | OPTIMALISASI PEMANFAATAN SISTEM AGROFORESTRI SEBAGAI BENTUK ADAPTASI DAN MITIGASI TANAH LONGSOR |
Rendra, Pradnya Raditya Sulaksana, Nana Alam, Boy Yoseph C.S.S.S. |
Landslide is a natural disaster that often occur in Indonesia and cause a significant impact. Landslide may occur due to static factor (slope) and dynamic factor (land use). Landslide mitigation can be done to prevent the negative impact of landslide. Landslide mitigation through slope stabilization can be done with vegetative technique. Vegetative technique as a landslide mitigation with sustainable land production is also known as agroforestry. Agroforestry is a land use systems made by various technologies through the utilization of annual crops, perennial crops, and/or livestock , either alternately or at the same time in a certain period to form ecological, social, and economic interactions. Agroforestry system has more advantages than other land use systems. One of the advantage of this system is can be used on steep slope area. Multistory agroforestry system can prevent landslide by forming soil organic material, improving soil structure, and making soil more stable. Utilization of multistory agroforestry system with various types of storied canopy trees considered as appropiate landslide mitigation because the closure of canopy tress are tightly and stratified, their root system is excellent, and the soil cover such as grasses and shrubs is important to prevent landslide. Furthermore, agroforestry system can also be used to produce food crops, fodder, honey, building materials, and medicinal materials. Keyword : Agroforestry, mitigation, slope, landslide. Tanah longsor merupakan bencana alam yang sering terjadi di Indonesia dan menimbulkan dampak cukup besar. Tanah longsor dapat terjadi akibat faktor statis (kemiringan lereng) dan faktor dinamis (tata guna lahan). Mitigasi tanah longsor dilakukan untuk mencegah dampak negatif tanah longsor. Mitigasi tanah longsor melalui stabilisasi lereng dapat dilakukan dengan rekayasa vegetatif. Rekayasa vegetatif sebagai mitigasi tanah longsor dengan produksi lahan berkelanjutan tersebut disebut juga sebagai sistem agroforestri. Agroforestri merupakan sistem penggunaan lahan yang dilakukan dengan berbagai teknologi melalui pemanfaatan tanaman semusim, tanaman tahunan, dan/atau ternak dalam waktu bersamaan atau bergiliran pada periode tertentu sehingga terbentuk interaksi ekologi, sosial, dan ekonomi. Sistem agroforestri memiliki lebih banyak kelebihan dibandingkan sistem penggunaan lahan lain. Salah satu kelebihan sistem ini adalah dapat digunakan pada lahan berlereng curam. Sistem agroforestri multistrata dapat mencegah tanah longsor dengan membentuk bahan organik tanah, memperbaiki struktur tanah, dan membuat tanah menjadi lebih stabil. Pemanfaatan sistem agroforestri multistrata dengan berbagai jenis tanaman tajuk bertingkat dinilai sebagai langkah tepat mitigasi tanah longsor karena adanya penutupan tajuk pepohonan yang rapat dan bertingkat, sistem perakaran yang sangat baik, serta penutup tanah berupa rerumputan dan semak belukar yang sangat penting untuk menghindari tanah longsor. Selain itu, sistem agroforestri juga dapat dimanfaatkan sebagai penghasil bahan pangan, pakan ternak, madu, bahan bangunan, dan bahan obat. Kata kunci :Agroforestri, mitigasi, lereng, longsor.
|
2016-10-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/9797 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v14i2.9797 | |
| 1670112 | #5790 | EKSPLORASI BIJIH BESI DENGAN METODE DIPOLE-DIPOLE DAN GEOMAGNET DI WILAYAH GANTUNG, KABUPATEN BLITUNG TIMUR, PROVINSI BLITUNG | -, Andi Agus Noor |
The geological distribution of iron ore in the area of research is relatively east-west with the thickness varies between 3-10 meters. Configuration subsurface geology of the results obtained with the method of exploration geophysics dipole-dipole and geomagnet.From the results of the exploration can be concluded that the distribution of iron ore almost evenly in all the track in the depth of 20 - 30 meters
|
iron ores, configuration, dipole, geomagnetic | 2008-12-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8163 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v6i2.8163 |
| 1670111 | #5790 | Lingkungan Pengendapan Pada Fasies Batupasir, Formasi Kembelangan Bawah, Lapangan “Gee”, Cekungan Bintuni, Papua Barat |
Nuarihidayah, Gilang Diesty Syafri, Ildrem Mohammad, Febriwan |
Penelitian dilakukan di Area Lapangan “GEE” pada Cekungan Bintuni, Kepala Burung, Papua Barat. Negara Indonesia memiliki lebih dari 50% energi yang berasal dari migas. Akan tetapi, sumber daya ini tidak dapat diperbaharui dikarenakan tidak ada keseimbangan eksploitasi pada penemuan cadangan migas sedangkan potensi migas di Indonesia masih sangat besar. Sehingga diperlukan metode penunjang dalam eksplorasi migas di Indonesia, salah satu metodenya yaitu mengidentifikasi fasies dan lingkungan pengendapan dalam menentukan distribusi lingkungan pengendapannya. Dalam penelitian ini, digunakan analisis kualitatif yaitu analisis litofasies dengan tahapan akhir asosiasi fasies dan analisis elektrofasies. Hasil analisis litofasies menunjukkan adanya keterdapatan fasies batupasir yaitu Sandstone cross-laminated (Sxl), Sandstone bioturbated (Sb), Sandstone bioturbated argillaceous (Sba), Sandstone bioturbated fossilifereous (Sbf), Sandstone rippled/flaser-laminated (Srx/Sfl), dan Calcareous Sandstone. Sedangkan, hasil analisis elektrofasies menunjukkan tipe bell, funnel dan cylindrical. Hasil integrasi kedua analisis tersebut memperlihatkan daerah penelitian diendapkan pada lingkungan pengendapan laut dangkal yaitu transgressive shelf (yang didalamnya terdapat tidal channel dan shoreface) dan carbonate shelf-margin (yang didalamnya terdapat transgressed shoreline).
|
2022-09-29 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/41259 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v20i2.41259 | |
| 1670110 | #5790 | IMPLICATION OF FRACTURE DENSITY ON UNSERPENTINIZED ULTRAMAFIC ROCKS TOWARD CHARACTERISTICS OF SAPROLITE ZONE IN SOROWAKO, SOUTH SULAWESI |
Wibowo, Setiyo Rosana, Mega Fatimah Haryanto, Agus Didit |
ABSTRACTUsage of nickel-containing materials has increased over time in accordance with economic growth. The largest worldwide nickel resources occur in surface laterite deposits that have formed during chemical weathering of ultramafic rocks where the area that represent one of largest nickel reserves in Indonesia is Sorowako. This study aims to identify the characteristics of saprolite zone on unserpentinized ultramafic-hosted of nickel laterite deposit in Sorowako. Based on depth profile of nickel content in lateritic deposit, it is known that the Ni grades reach a maximum in saprolite zones so that identification of factors affecting the characteristics of saprolite zone is indispensable. Fracture density on ultramafic bedrocks played the important roles during laterisation and each fractures density type has the implication toward the saprolite zones. By classification of fracture density, high to medium fractured types of bedrocks indicated the thick saprolite zone while the low to unfractured types are thinner. Saprolite zones of high to medium fractured type are more silicified than others due to the originality of silica accumulation occupied along opening fractures and joints. High silica content which is commonly present on lower layer of saprolite zone should to be aware especially when the Ni grade still above the cut-off which potentially affected to ore grade dilution. ABSTRAKPenggunaan material berbahan nikel telah mengalami peningkatan dari waktu ke waktu seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Sumberdaya nikel terbesar di dunia terjadi pada endapan laterit di permukaan yang terbentuk selama proses pelapukan kimiawi dari batuan ultramafik dimana salah satu lokasinya dengan tingkat cadangan nikel terbesar di Indonesia berada di Sorowako. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik zona saprolit endapan nikel laterit pada batuan ultramafik tak terserpentinisasi di Sorowako. Berdasarkan profil kedalaman terhadap kandungan nikel pada endapan laterit, telah diketahui bahwa kadar Ni mencapai maksimum dalam zona saprolit sehingga identifikasi terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi karakteristik zona saprolit sangat diperlukan. Densitas rekahan pada batuan ultramafik berperan penting selama proses lateritisasi dan setiap tipe densitas rekahan memiliki implikasi terhadap zona saprolit. Melalui klasifikasi densitas rekahan, tipe rekahan berdensitas tinggi hingga sedang pada batuan dasarnya mengindikasikan zona saprolit yang tebal sedangkan zona saprolit pada tipe densitas rekahan rendah hingga tanpa rekahan lebih tipis. Zona saprolit dengan tipe rekahan tinggi hingga sedang lebih tersilisifikasi dibandingkan dengan tipe lainnya disebabkan oleh akumulasi alamiah dari silika yang bertempat di sepanjang bukaan rekahan atau kekar. Kandungan silika tinggi yang umumnya terdapat di lapisan bawah zona saprolit seharusnya diwaspadai terutama ketika kadar Ni-nya masih diatas ambang keekonomian yang berpotensi menyebabkan dilusi pada kadar bijih.
|
2017-08-14 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/13375 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v15i2.13375 | |
| 1670109 | #5790 | STRUKTUR LIPATAN ANJAKAN DAERAH WALAT, SUKABUMI, JAWA BARAT |
-, Iyan Haryanto -, Edy Sunardi -, Adjat Sudradjat -, Suparka |
Walat hills in the area of Sukabumi, has a pattern of east-west trending ridge. Hills line orientation is controlled by the structure of fold with is followed by formation of reverse fault. Both of geological structures is formed on the same tectonic period, on Plio-Plistocene. Position of the axis of the fold and reverse fault parallel relative to each other, based on the tectonic formation occurs in the same period, it can be classified as a pattern of thrust folds structure. Of some reverse faults that developed in Walat Area, the reverse fault whose position to northward is major reverse fault, so that by referring to the model structure of Boyer and Elliote (1982), it can be classified as a leading thrust system. This structural pattern is controling topographical differences of the hills with plain morphology in northern.
|
thrust fold, geological structure | 2011-04-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8257 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v9i1.8257 |
| 1670108 | #5790 | UMUR BATUAN SEDIMEN ANGGOTA CIKARANG FORMASI JAMPANG DI SUNGAI CIGANGSA, KECAMATAN SURADE, KABUPATEN SUKABUMI BERDASARKAN NANNOFOSIL GAMPINGAN |
Ramdhani, Muhammad Alfi Gilang Pratiwi, Santi Dwi Patonah, Aton |
Penelitian dilakukan pada batuan sedimen yang tersingkap di Sungai Cigangsa, Kecamatan Surade. Singkapan ini merupakan bagian dari Anggota Cikarang Formasi Jampang dengan susunan singkapan batuan di lapangan berupa batupasir dalam berbagai ukuran butir dan ketebalan dan batulempung. Secara stratigrafi, di bagian atas dan bawah disusun oleh batupasir karbonatan dengan ketebalan bervariasi antara 10 sampai 45 cm. Di bagian tengah disusun oleh batulempung dengan ketebalan 3 sampai 32 cm. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi umur relatif batuan sedimen Anggota Cikarang Formasi Jampang di Sungai Cigangsa dengan menggunakan metode measuring section dan analisis nannofosil gampingan secara semi kuantitatif. Sebanyak 36 spesies nannofosil telah diidentifikasi dari 47 sampel batuan sedimen yang telah diamati dengan preparasi nannofosil metode smear slide. Enam datum marker spesies nannofosil yang dapat digunakan untuk rekonstruksi biostratigrafi dari tua ke muda yaitu kemunculan akhir Sphenolithus ciperoensis (Zona NP25), kemunculan akhir dari Cyclicargolithus abisectus (Zona NN1), kemunculan awal Sphenolithus disbelemnos (Zona NN2/NN1), kemunculan awal Sphenolithus belemnos (Zona NN3/NN2), kemunculan umum akhir dari Sphenolithus belemnos (Zona NN4/NN3), dan kemunculan umum awal Sphenolithus heteromorphus (Zona NN4). Dapat disimpulkan bahwa Anggota Cikarang Formasi Jampang memiliki rentang umur NP25-NN4 (Oligosen Akhir – Miosen Awal).
|
2024-04-26 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/54443 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v22i1.54443 | |
| 1670107 | #5790 | PENGARUH KEMIRINGAN LERENG TERHADAP LAJU SEDIMENTASI PADA RENCANA BENDUNGAN PARIGI |
Yusuf, Muhammad Farhan Siahaan, Yakub Sukiyah, Emi Mulyo, Agung Patonah, Aton Zakaria, Zufialdi |
Pembangunan Bendungan Parigi akan sangat bermanfaat untuk kepentingan masyarakat. Bendungan ini akan digunakan untuk keperluan pertanian (irigasi) dan persediaan air baku. Lokasi Rencana Bendungan Parigi terletak pada sub-DAS Parigi yang memiliki luas 57,98 km2. Dalam perencanaan bendungan aspek sedimentasi sangat penting. Aspek ini akan berkaitan dengan desain Bendungan. Pada DAS yang tidak terlalu luas, laju sedimentasi setara dengan laju erosi. Perhitungan laju sedimentasi dilakukan berdasarkan fungsi erosi dengan metode Universal Soil Loss Equation (USLE) dan SDR. Metode ini berhubungan dengan faktor – faktor yaitu erodibilitas tanah, curah hujan, tataguna lahan, dan topografi. Faktor kemiringan lereng erat kaitannya terhadap laju sedimentasi, penelitian ini akan membahas tentang peranan kemiringan lereng terhadap laju sedimentasi. Nilai laju sedimentasi hasil perhitungan menggunakan metode USLE yaitu sebesar 149,53 ton/ha/th. Hasil perhitungan statistik dengan metode regresi linier di dapat bahwa faktor kemiringan lereng berpengaruh signifikan terhadap laju sedimentasi dengan persamaan regresi Y’ = 15,32 + 7,313X. Nilai koefisien regresi (r) sebesar 0,697 menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara kemiringan lereng (X) dan laju sedimentasi (Y). Pengaruh yang diberikan oleh aspek kemiringan lereng terhadap laju sedimentasi adalah sebesar 48,6 %.
|
2018-08-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/17922 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v16i2.17922 | |
| 1670106 | #5790 | EROSI DAN SEDIMENTASI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CITARUM HULU DAN UMUR OPERASIONAL PLTA SAGULING | -, Edi Tri Haryanto |
Upper Citarum Catchments Area which is a function as buffer of Saguling Dam, has been pressuring to bear heavy loads. Various studies have been done, but still required analysis, discussion and identification of sources of erosion, and sedimentation that affect the operational life time of Saguling Hydroelectric Power Dam . The rate of erosion and sedimentation analysis done based on secondary data research / previous measurement. Satellite imagery "Google-earth" was interpreted, then performed field observation. Change of land use / land cover imply for increasing the value of CP. Total erosion in the upper Citarum Catchment was 15,206,301 tons / ha / yr. Deposition in the reservoir in 2002 was 4,197,152 tons, so the "Sediment delivery ratio" was 27.6%. Based on deposition data in reservoirs of the Year 1987-2007, the operational life time of hydroelectric power is expected to 56 years from 59 years of planned or "dead storage" will be exceeded in 1942..
|
erosion, sedimentation, life time | 2013-08-07 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8289 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v11i2.8289 |
| 1670105 | #5790 | STUDI GEOLOGI BATUGAMPING TERUMBU FORMASI TAPAK KAWASAN PERTAMBANGAN BATUAN DARMAKRADENAN DAN SEKITARNYA, KABUPATEN BANYUMAS, PROVINSI JAWA TENGAH | Sani, Rifki Asrul |
Keberadaan batugamping di suatu daerah akan memicu perubahan tataguna lahan, terutama berkembang menjadi kawasan pertambangan baik dikelola secara swadaya oleh masyarakat sekitar maupun pemodal dari luar daerah. Batugamping terumbu Anggota Formasi Tapak yang berada di Desa Darmakradenan Kabupaten Banyumas memiliki penyebaran berarah relatif barat-timur sebagaimana pola penyebaran batuan sedimen klastik yang terbentuk bersamaan pada Pliosen. Penelitian ini bermaksud untuk mempelajari dan menelaah karakteristik batugamping terumbu yang cukup kaya akan keberadaan formanifera besar, namun cukup sedikit foraminifera kecil. Hasil analisis petrologi dan petrografi menunjukkan bahwa batugamping di lokasi penelitian sebagian besar merupakan batugamping berjenis Packstone dan Wackestone yang kaya akan fosil foraminifera, koral dan alga. Hasil analisis paleotologi menunjukkan umur batugamping pada derah penelitian adalah Miosen Akhir – Pliosen Awal (N18-N19) dan terbentuk pada laut dangkal (Zona Neritik). Selain itu keberadaan batugamping crystal carbonate serta gua-gua dengan diameter 20 – 50 cm pada kawasan perbukitan di bagian barat dapat menjadi petunjuk serta studi lanjutan pembentukan bentang alam kawasan karst di daerah ini.
|
2025-08-07 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63159 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v23i2.63159 | |
| 1670104 | #5790 | HIERARCHICAL 3D MODELING IN COMPLEX CARBONATE RESERVOIR by COMBINING DETERMINISTIC AND STOCHASTIC APPROACH | HIERARCHICAL 3D MODELING IN COMPLEX CARBONATE RESERVOIR by COMBINING DETERMINISTIC AND STOCHASTIC APPROACH |
Natasia, Nanda Alfadli, Muhammad Kurniawan |
ABSTRACTThis paper shows how to model the 3d complex carbonate reservoir by combining deterministic and stochastic method. 3d facies model is the most important step in building reservoir static model because the distribution of another properties will depends on this model. a good facies model is needed in building a good model. The nature complexity of carbonate facies itself makes the modeling are even more chalangging. Deterministic geological interpretation is  modelled by trend modeling while the rock type distribution is distributed inside each facies stochastically. This field is divided into five zones. These zones represent depositional cycle occurred within carbonate formation. The facies is divided into four facies; Reef, Lagoon, Platform, and slope. a reservoir rock type was done by using RT distributions.  According to Geological concept, reservoir quality distributions have different trend either vertical or horizontal. Horizontally, a good reservoir should be located in Reef facies and the poor reservoir quality should be located in slope facies. Vertically, reservoir quality should get better from bottom to top in every reservoir zoneKeywords: Pore types, Diagenetic prosses, Carbonate Reservoir | ABSTRACTThis paper shows how to model the 3d complex carbonate reservoir by combining deterministic and stochastic method. 3d facies model is the most important step in building reservoir static model because the distribution of another properties will depends on this model. a good facies model is needed in building a good model. The nature complexity of carbonate facies itself makes the modeling are even more chalangging. Deterministic geological interpretation is  modelled by trend modeling while the rock type distribution is distributed inside each facies stochastically. This field is divided into five zones. These zones represent depositional cycle occurred within carbonate formation. The facies is divided into four facies; Reef, Lagoon, Platform, and slope. a reservoir rock type was done by using RT distributions.  According to Geological concept, reservoir quality distributions have different trend either vertical or horizontal. Horizontally, a good reservoir should be located in Reef facies and the poor reservoir quality should be located in slope facies. Vertically, reservoir quality should get better from bottom to top in every reservoir zoneKeywords: Pore types, Diagenetic prosses, Carbonate Reservoir
|
2019-08-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/23128 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v17i2.23128 | |
| 1670103 | #5790 | KARAKTERISTIK MORFOMETRI DAN MORFOTEKTONIK DAS CIBEET SEGMEN SELAAWI GIRIJAYA DAN DAS CIKUNDUL SEGMEN CIBADAK MAJALAYA, KABUPATEN CIANJUR, PROVINSI JAWA BARAT |
Anfasha, Arifin Pranantya, Pulung Arya Sukiyah, Emi |
West Java is an area that has a high vulnerability to disasters, the condition is influenced by a complex geological structure so prone to geological disasters, and faults can be studied by morphotectonic study approach. With morphometric analysis were used to identify the character of the shape of a region and its relation to the level of tectonic activity. Comparison of morphotectonic aspects of the Quaternary and Tertiary age rocks will involve active tectonic processes in it. Research carried out by three methods, namely studio methods with data measuring of straightness of the ridge and valleys, Rb, Dd, and Smf, field methods by means of geological mapping data retrieval strike / dip, fractures, megascopic descriptions of rock, image capture of the field, laboratory methods by analyzing fracture data and verification of field data with the data link between the studio and the activeness of faults in the study area. The activeness of fault and other geomorphological parameters can be determined by a variety of morphotectonic approaches, morphotectonic parameters such as Rb, Dd, Smf and straightness of ridge and valleys has become a reference in determining the activeness. The geological structure in the area of research are in form of faults and fractures, which relatively trending northwest - southeast. Fault is evidenced by their straightness of DEM image as well as fracture data found in the field.  Keyword : Morphometry, Morphotectonic, Watershed, Active tectonic, DEM Jawa Barat merupakan salah satu wilayah yang memiliki kerawanan bencana tinggi, kondisi ini dipengaruhi oleh tatanan geologi yang kompleks sehingga rawan dengan bencana geologi, sesar dapat diketahui dengan pendekatan studi morfotektonik. Dengan cara analisis morfometri digunakan untuk mengidentifikasi karakter bentuk suatu wilayah dan kaitannya dengan tingkat aktivitas tektonik. Perbandingan aspek-aspek morfotektonik pada batuan berumur Kuarter dan Tersier akan melibatkan proses tektonik aktif di dalamnya. Penelitian dilakukan dengan tiga metode yaitu metode studio dengan pengukuran data kelurusan punggungan, lembahan, Rb, Dd dan Smf, metode lapangan dengan cara pemetaan geologi pengambilan data strike/dip,kekar,deskripsi batuan secara megaskopis, pengambilan foto lapangan, metode laboratorium dengan menganalisi data kekar dan mengintervetasi pembuktian data lapangan dengan data studio dan adanya keterkaitan antara keaktifan sesar di wilayah penelitian. Keaktifan sesar dan parameter geomorfologi dapat diketahui dengan berbagai pendekatan morfotektonik, Parameter morfotektonik seperti Rb, Dd, Smf dan Kelurusan tersebut menjadi acuan dalam menentukan keaktifan. Struktur geologi di daerah penelitian berupa kekar dan sesar yang berarah relatif barat laut – tenggara. Sesar tersebut dibuktikan oleh adanya kelurusan dari citra DEM serta data kekar yang ditemukan dilapangan.Kata kunci : Morfometri, Morfotektonik, DAS, Tektonik aktif, DEM
|
2016-10-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/9807 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v14i2.9807 | |
| 1670102 | #5790 | DISTRIBUSI UKURAN BUTIR MATRIKS BREKSI GUNUNGAPI DI DAERAH LOMBOK TIMUR, NUSA TENGGARA BARAT | -, Sigit Maryanto |
Volcanic rock units of the Kalipalung, Kalibabak, and Lekopiko Formations are well cropped out at East Lombok area, composed predominantly of volcanic breccias. Grainsize analysis of selected volcanic breccias matrix show a similarity characters on the Kalipalung and Kalibabak Formation. On the other hand, a real difference founded between these formations with the Lekopiko Formation.
|
sorting, mean, cummulative, semi-log, debris flow. | 2009-08-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8233 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v7i1.8233 |
| 1670101 | #5790 | ZONA PRODUKTIF RESERVOIR HIDROKARBON BEDASARKAN ANALISIS PETROFISIKA PROBABILISTIK PADA FORMASI BATURAJA, DI LAPANGAN FM, CEKUNGAN SUMATERA SELATAN, MENGGUNAKAN DATA WELL LOG DAN CORE |
Ibrahim, Farrel Malik Mardiana, Undang Mohammad, Febriwan Saputro, Julian Alfadli, Muhammad Kurniawan |
Analisis petrofisika merupakan salah satu kegiatan analisis dalam eksplorasi minyak dan gas bumi yang bertujuan untuk mengetahui lapisan reservoir hidrokarbon disuatu sumur. Lapangan ”FM” berada di Cekungan Sumatera Selatan daerah tinggian Musi. Formasi yang prospek menjadi reservoir hidrokarbon pada lapangan ini adalah Formasi Baturaja yang berlitologi batugamping dan berumur miosen awal. Hasil dari analisis elektrofasies dan data mudlog didapatkan bahwa lingkungan pengendapan dari Formasi Baturaja pada lapangan ini adalah lingkungan reef front dan back reef lagoon. Fasies reef dicirikan oleh adanya penebalan pada sumur FM-1 dan memiliki komponen batugamping terumbu, sementara fasies back-reef cenderung tipis dan berupa batugamping klastik. Metode analisis petrofisika yang digunakan pada penelitian kali ini adalah analisis petrofisika probabilistik dengan menghitung volume tiap komponen mineral dan fluida. Pemilihan analisis petrofisika probabilistik dinilai karena metode ini cukup baik digunakan pada sumur pengembangan. Hasil penentuan zona produktif reservoir di lapangan FM didapatkan sebesar 13,11 meter di FM-1, 3,81 meter di FM-2, dan 1,07 meter di FM-3. Zona produktif reservoir hidrokarbon berada pada top baturaja fasies reef pada FM-1 dan back-reef pada FM-2 dan FM-3. Hasil perhitungan petrofisika probabilistik akan lebih baik jika terdapat penambahan data berupa analisis petrografi dan XRD sebagai pendukung mineral penyusun batuan dan volume dari tiap komponen mineral.
|
2023-07-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/45329 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v21i1.45329 | |
| 1670100 | #5790 | POTENSI AKUIFER AIR TANAH PADA BATUAN SEDIMEN TERSIER BERDASARKAN ANALISIS DATA GEOLISTRIK DI DISTRIK WAISAI KOTA KABUPATEN RAJA AMPAT, PROVINSI PAPUA BARAT |
Gisland, Grand Alam, Boy CSS Syah Nur, Andi Agus |
ABSTRAKKabupaten Raja Ampat merupakan bagian dari Provinsi Papua Barat yang memiliki potensi sumber air tanah dengan deposit air tanah yang cukup besar. Namun hingga saat ini data mengenai potensi air tanah di Kabupaten Raja Ampat belum ada. Maka hal inilah yang mendasari untuk dilakukan penelitian mengenai potensi akuifer air tanah pada batuan sedimen tersier berdasarkan analisis data geolistrik. Penelitian ini dilakukan di Distrik Waisai Kota, Kabupaten Raja Ampat dengan tahapan kegiatan meliputi pengamatan geologi daerah penelitian, pengukuran geolistrik dengan konfigurasi Schlumberger, pengolahan data resistivitas 1D, pemodelan 2D dan 3D dengan metode Anisotropic Inverse-Distance Weighted (IDW-Anisotropic) dan Isokonturing resistivitas, analisis dan interpretasi data, validasi data, serta perhitungan potensi air tanah. Pengukuran geolistrik dilakukan sebanyak 11 (sebelas) titik ukur di lokasi sekitar Kelurahan Bankawir dan Perumahan 300, Distrik Waisai Kota, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat yang terletak pada koordinat geografis 130,82 – 130,89 Bujur Timur dan 0,43 – 0,38 Lintang Selatan. Penelitian ini bersifat analisis untuk mengetahui bagaimana karakteristik akuifer dan potensi air tanah, baik dari data primer maupun data sekunder. Litologi di lokasi penelitian didominasi oleh adanya pasir yang berselang seling dengan lempung. Secara umum berdasarkan interpretasi dari nilai tahanan jenis 1D (sounding) dapat disimpulkan bahwa karakteristik akuifer yang berada di lokasi penyelidikan terdiri atas akuifer bebas dan akuifer tertekan. Diduga bahwa lapisan yang bertindak sebagai akuifer bebas adalah lapisan pasir, yang secara umum berada pada rentang kedalaman 1.27 – 10.00 meter dengan rentang ketebalan antara 3.59 – 5.81 meter dan rentang nilai resistivitas 1.13 - 14.90 Ωm. Sedangkan lapisan yang bertindak sebagai akuifer tertekan yaitu lapisan pasir yang secara umum berada pada rentang kedalaman 22.30 – 75.00 meter dengan rentang ketebalan antara 10.90 - 37.10 meter dan rentang nilai resistivitas 28.20 - 150 Ωm. Berdasarkan hasil perhitungan potensi air tanah pada akuifer bebas dari tiap segmen di Distrik Waisai Kota, Kabupaten Raja Ampat diketahui bahwa area yang memiliki potensi sumberdaya air tanah yang potensial terletak pada segmen 2, dengan nilai Q Max sebesar 0.000331 m3/sec atau 28.598,4 liter/hari.Kata Kunci: Potensi Air Tanah, Akuifer, Geolistrik, Isoresistivity ABSTRACTRaja Ampat Regency is part of West Papua Province which has a large groundwater deposit. Data on the potential of groundwater in Raja Ampat regency has not existed yet. So this is the basis for research on the potential groundwater on free aquifer based on geoelectric measurements. This research was conducted in Waisai Kota District, Raja Ampat Regency with activity as follow: geological observation of research area, geoelectric measurements with Schlumberger configuration, 1D resistivity data processing, 2D and 3D modeling with Anisotropic Inverse-Distance Weighted(IDW-Anisotropic) and Isoconturing resistivity, data analysis and interpretation, data validation, and ground water potential calculation. Geoelectric measurements were carried out at 11 (eleven) measuring points at the locations around Bankawir and Perumahan 300, Waisai Kota District, Raja Ampat Regency, West Papua Province , which located at 130.82 - 130.89 East and 0.43 - 0,38 South. This research is an analysis about the free aquifer characteristics and ground water potential, both from primary data and secondary data. Lithology at the study site is dominated byintermittent sand with clay. Based on the interpretation of the resistance value, it can be concluded that the aquifer characteristics at study site consist of free aquifer and distressing aquifer. It is presumed that the layer acting as a free aquifer is a layer of sand, which is generally indepth range from 1.27 to 10.00 meters with a thickness range between 3.59 - 5.81 meters and a resistivity range of 1.13 - 14.90 Ωm. The layer acting as a distressing aquifer is sand layer that generally located in the depth of 22.30 - 75.00 meters with thickness range between 10.90 - 37.10 meters and resistivity range 28.20 - 150 Ωm. Based from the result of ground water potential calculation from each segment in Waisai District, Raja Ampat District, it is known that the area with potential groundwater resource potential lies in segment 2, with the value of Q Max 0.000331 m3 / sec or 28,598.4 liters /day.Key Word: Ground Water Potential, Aquifer, Geoelectric, Isoresistivity
|
2017-08-14 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/13837 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v15i2.13837 | |
| 1670099 | #5790 | SURVEY TINJAU BAHAN GALIAN NIKEL DAERAH SOLIGI, KECAMATAN OBI SELATAN KABUPATEN HALMAHERA SELATAN, MALUKU UTARA | -, Geni Dipatunggoro |
Ofiolite and metamorphic the oldest rock which found in Obi Island in pre-tertiery age. Contact of both rock estimated as structural contact. Ofiolite consist of peridotite, piroxenite, gabro, basalt, and metabasalt. As for metamorph are schist-mica and phylite. Those rocks especially found in the west side of Obi Island and the minor part found in the outcrops of the south.Peridotite in research area is source rocks which affected by hydrothermal fluids which occur in the end of magmatism processes and change peridotite into serphentinite (peridotite-serphentinite) and this processes known as the beginning of nickel laterite deposit formation process.Mechanical and chemical weathering to the provenance which contain Ca, Mg, Fe, Na, Si, Cr, Mn, Ni, Co, causes this integration and decomposition where those material soluble and then deposited again as somekind of mineraqlsw
|
laterite soil, nickel laterite deposit | 2011-04-05 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8266 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v9i2.8266 |
| 1670098 | #5790 | PRELIMINARY STUDI KELIMPAHAN MIKROFAUNA DAN POLEN DI TELUK CILETUH, KAWASAN GEOPARK CILETUH, SUKABUMI |
Fauzielly, Lili Jurnaliah, Lia Winantris, . Fitriany, Ria Rosana, Mega Fatimah |
Sebanyak 31 sampel sedimen dari Teluk Ciletuh telah digunakan untuk studi mikrofauna dan polen. Pengambilan sampel permukaan menggunakan metoda shallow coring untuk analisis polen dan grab untuk mikrofosil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi spasial mikrofauna dan polen di daerah konservasi kawasan Geopark Ciletuh.Pengambilan sampel sedimen dilakukan pada bagian barat dan timur dari muara Sungai Palangpang. Secara umum, kondisi perairan di bagian barat dari muara sungai terlihat lebih jernih daripada perairan sebelah timur. Sedimen pantai di sebelah timur menunjukkan penghalusan ke arah barat, terdiri atas sedimen berupa pasir sangat kasar-sangat halus dengan kandungan pecahan fragmen cangkang bivalvia yang dominan, ke arah pantai berkembang kawasan mangrove yang dikembangkan oleh komunitas masyarakat setempat. di bagian barat dari muara sungai, sedimen berupa pasir sedang hingga lempung, dan ke arah pantai, endapan berupa pasir sedang yang bercampur dengan tanah.Hasil identifikasi dari 25 sampel sedimen yang diambil dari Teluk Ciletuh menunjukkan hanya 19 sampel yang mengandung mikrofauna. Identifikasi mikrofauna dilakukan secara kuantitatif dengan menghitung jumlah individu per 1 gram sampel sedimen kering. Terdapat 5135 individu mikrofauna, dengan kelimpahan secara berurutan adalah dari kelompok foraminifera bentonik (82,07%), foraminifera planktonik (5,84%), spikula (4,55%) dan kelompok non foraminifera (7,53%).Dari kawasan mangrove yang berada di pantai Cikadal, analisis polen terhadap 6 sampel sedimen permukaan diperoleh polen asal lingkungan mangrove, polen freshwater, terrestrial dan polen dari pegunungan.
|
2024-08-07 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/56710 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v22i2.56710 | |
| 1670097 | #5790 | BATUAN SEDIMEN DI CEKUNGAN OBI SERTA POTENSINYA SEBAGAI BATUAN SUMBER |
Putra, Andri Perdana Gani, Reza Mohammad Ganjar |
Cekungan Obi merupakan cekungan Tersier di Kawasan Timur Indonesia yang memiliki endapan batuan sedimen berumur Paleogen dan Neogen namun belum memproduksi hidrokarbon, sehingga menarik untuk dipelajari dan dikaji potensi sumberdaya minyak dan gas buminya. Daerah penelitian cekungan Obi meliputi pulau Bacan dan pulau Kasiruta di bagian utara serta pulau Obi dan pulau Obilatu di bagian selatan yang secara administrasi termasuk ke dalam Kabupaten Halmahera Selatan, Propinsi Maluku Utara. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengkaji potensi batuan sumber (source rock) cekungan Obi yang mendukung dalam prospeksi sistem perminyakan cekungan Obi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini mencakup pengamatan dan perekaman data lapangan serta pengambilan contoh batuan terhadap satuan-satuan batuan di beberapa lokasi dan lintasan pengamatan terpilih untuk analisa geokimia organik. Lokasi pengamatan lapangan terhadap satuan batuan dilakukan di lokasi tipe tempat batuan tersebut pertama kali diamati dan dinamakan. Formasi Loleobasso disebandingkan dengan formasi Piniya yang diendapkan pada laut dangkal-paparan yang dipengaruhi oleh pasang surut. Formasi Fluk kemungkinan diendapkan pada area laut dangkal, Formasi Amasing kemungkinan diendapkan pada area laut dangkal, Formasi Ruta kemungkinan diendapkan pada area laut dangkal-paparan dan Formasi Woi kemungkinan diendapkan pada area laut dangkal-paparan. Berdasarkan hasil analisa TOC terhadap percontoh satuan-satuan batuan di beberapa lokasi dan lintasan pengamatan terpilih dapat disimpulkan bahwa secara umum cekungan Obi memiliki potensi batuan sumber dengan kategori buruk, dengan kerogen tipe III dan tipe IV. Tingkat kematangan termal batuan sumber cekungan Obi umumnya berada pada tingkat belum matang, matang dan overmature. Kata Kunci: Cekungan Obi, Batuan Sedimen, Batuan Sumber, Nilai TOC.
|
2019-01-16 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/18815 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v16i3.18815 |