| ID ↓ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1672796 | #6191 | Efektivitas ekstrak daun cocor bebek (kalanchoe pinnata) terhadap waktu perdarahan (bleeding time) pada ekor mencit strain balb-cEffectiveness of kalanchoe pinnata leaf extract on bleeding time in the tail of balb-c mice strain |
Cholid, Zainul Prasetya, Rendra Chriestedy Sukamto, Benedicta Regina Phoebe |
ABSTRAKPendahuluan : Pembedahan dalam kedokteran gigi dapat menyebabkan suatu komplikasi seperti perdarahan. Daun cocor bebek berpotensi sebagai agen hemostasis karena mengandung flavonoid, tanin, saponin yang berperan dalam menghentikan perdarahan. Tujuan penelitian untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun cocor bebek terhadap waktu perdarahan pada ekor mencit strain balb-c. Metode: Jenis penelitian eksperimen laboratoris dengan rancangan penelitian the post test only control group design. 20 ekor mencit diadaptasikan selama satu minggu, dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok kontrol negatif (K-) disondase Na-CMC 0,5%, kelompok kontrol positif (K+) disondase asam traneksamat dosis 0,065 mg/gr BB mencit, kelompok perlakuan disondase ekstrak daun cocor bebek dan dibagi menjadi 3 sub kelompok dosis 0,1 mg/gr BB mencit (P1), dosis 0,2 mg/gr BB mencit (P2), dosis 0,3 mg/gr BB mencit (P3) dalam Na-CMC 0,5%. Mencit dipuasakan selama 7 jam sebelum pemberian sondase, setelah 1 jam pemberian, dilakukan pemotongan sepanjang 0,5 cm dari ujung ekor. Darah diteteskan pada kertas whatman dengan waktu 30 detik per kotak. Data dianalisis dengan uji Kruskall Wallis dan Mann Whitney. Hasil: Rata-rata waktu perdarahan K-, K+, P1, P2, P3 adalah 7,750 menit, 3,875 menit, 5,250 menit, 3,750 menit, 4,250 menit. Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan signifikansi 0,015 (p<0,05) sehingga terdapat perbedaan pada seluruh kelompok. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok K+, P1, P2, P3 dengan K- (p<0,05) sedangkan pada kelompok K+, P1, P2, P3 tidak berbeda signifikan (p>0,05). Simpulan: Ekstrak daun cocor bebek efektif dalam memperpendek waktu perdarahan pada ekor mencit strain balb-cKata Kunci : Kalanchoe; waktu perdarahan ; hemostasis ABSTRACTIntroduction: Surgery in dentistry can cause bleeding complications. Cocor bebek leaves have the potential as a hemostatic agent because they contain flavonoids, tannins, saponins that can stop bleeding. This study aims to determine effectiveness of cocor bebek leaf extract on bleeding time in balb-c mice strain tails. Methods: This type of research is a laboratory experiment with the post test only control group design. 20 mices were adapted for one week then divided into 3 groups. Negative control group was given 0.5% Na-CMC (K-), positive control group was given tranexamic acid at a dose of 0.065 mg/gr BW (K+), treatment group was given cocor bebek leaf extract and divided into 3 sub-groups at a dose of 0.1 mg/gr BW (P1), 0.2 mg/gr BW (P2), 0.3 mg/gr BW (P3) in 0.5% Na-CMC. Mice were fasted for 7 hours before giving sondase, After 1 hour of administration, 0.5cm length was cut from tail tip. Blood was dripped on whatman paper for 30 seconds/box. Data were analyzed by Kruskall Wallis and Mann Whitney test. Results: Average bleeding time for K-, K+, P1, P2, P3 was 7,750 minutes, 3,875 minutes, 5,250 minutes, 3,750 minutes, 4,250 minutes. Results of Kruskal Wallis test showed a significance of 0.015 (p<0.05) so that there were differences in all groups. Results of Mann Whitney test showed a significant difference between the K+, P1, P2, P3 and K- groups (p<0.05) while the K+, P1, P2, P3 groups were not significantly different (p>0.05). Conclusion: Cocor bebek leaf extract was effective in shortening the bleeding time in the tails of balb-c mice strainKeywords: Kalanchoe; bleeding time; homeostasis
|
Kalanchoe; waktu perdarahan ;hemostasis; Kalanchoe; bleeding time; homeostasis | 2022-07-04 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/39618 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i2.39618 |
| 1672795 | #6191 | Antibacterial activity test of nipah leaf extract in inhibiting the growth of streptococcus sanguinis ATCC 10556 on the surface of heat-polymerized acrylic resin: Study experimental |
Ferdina, Resa Ardila, Vidia Ananda Lestari, Citra Sari, Widya Puspita |
ABSTRACT Introduction: Heat-polymerized acrylic resin denture bases are susceptible to increased Streptococcus sanguinis counts, which can lead to oral health problems. Sodium hypochlorite, commonly used as a denture cleanser, has the potential to damage the physical properties of acrylic resin. Therefore, natural alternatives are needed as a substitute for denture cleaners such as nipah leaf extract (Nypa fruticans wurmb) which has antibacterial bioactive compounds. This study analyzes the antibacterial activity of nipa palm leaf extract in inhibiting the growth of Streptococcus sanguinis ATCC 10556 on the surface of heat-polymerized acrylic resin. Methods: The study used a laboratory experiment, with a post-test only control group design where acrylic resin plates measuring 10 × 10 × 1 mm, which were divided into five treatment groups inoculated with Streptococcus sanguinis were treated with nipah leaf extract with concentrations of 10%, 15%, 20%, and a control group. Then, bacterial growth was calculated and analyzed using the Least Significant Difference test with a sig value p<0.05. Results: Nipah leaf extract has been proven to inhibit the growth of Streptococcus sanguinis. A concentration of 10% showed a lower colony count compared to concentrations of 15% and 20%, so under the conditions of this study, a concentration of 10% showed a tendency to provide a better inhibitory effect. Conclusion: Nipah leaf extract inhibits the growth of Streptococcus sanguinis on acrylic resin surfaces. A concentration of 10% showed better inhibitory effect.KEYWORDS: antibacterial activity, nipah leaf extract (Nypa Fruticans Wurmb), Streptococcus sanguinis, heat-cured acrylic resin.Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun nipah dalam menghambat pertumbuhan streptococcus sanguinis ATCC 10556 pada permukaan resin akrilik polimerisasi panas: Studi eksperimentalABSTRAK Pendahuluan: Basis gigi tiruan dari resin akrilik polimerisasi panas rentan terhadap peningkatan jumlah Streptococcus sanguinis, yang dapat menimbulkan masalah kesehatan mulut. Sodium hipoklorit, yang umumnya digunakan sebagai pembersih gigi tiruan, berpotensi merusak sifat fisik resin akrilik. Diperlukan alternatif alami sebagai pengganti pembersih gigi tiruan seperti ekstrak daun nipah (Nypa fruticans wurmb) yang memiliki senyawa bioaktif antibakteri. Penelitian ini menganalisis aktivitas antibakteri ekstrak daun nipah dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus sanguinis ATCC 10556 pada permukaan resin akrilik polimerisasi panas. Metode: Penelitian menggunakan eksperimental laboratorium, dengan post test only control group design dimana plat resin akrilik berukuran 10 × 10 × 1 mm yang dibagi menjadi lima kelompok perlakuan yang diinokulasi Streptococcus sanguinis diberi perlakuan ekstrak daun nipah dengan konsentrasi 10%, 15%, 20%, dan kelompok kontrol. Selanjutnya pertumbuhan bakteri dihitung dan dianalisis menggunakan uji Least Significant Different dengan nilai p<0,05. Hasil: Ekstrak daun nipah menurunkan pertumbuhan Streptococcus sanguinis. Konsentrasi 10% menghasilkan jumlah koloni lebih rendah daripada 15% dan 20%, menunjukkan efek penghambatan yang lebih baik pada kondisi penelitian ini. Simpulan: Ekstrak daun nipah menghambat pertumbuhan Streptococcus sanguinis pada permukaan resin akrilik. Konsentrasi 10% memberikan daya hambat terbaik.KATA KUNCI: aktivitas antibakteri, ekstrak daun nipah, Streptococcus sanguinis, resin akrilik polimerisasi panas.
|
Antibacterial activity, nipah leaf extract (Nypa Fruticans Wurmb), Streptococcus sanguinis, heat-cured acrylic resin.Antibakteri, ekstrak daun nipah, Streptococcus sanguinis, resin akrilik polimerisasi panas. | 2026-02-28 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/69573 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v10i1.69573 |
| 1672794 | #6191 | Tingkat kepuasan pasien dewasa pada pelayanan radiografi panoramik di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Maranatha |
Meilasari, Wine Suwindere, Winny Polii, Hendra |
Pendahuluan: Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator keberhasilan pelayanan kesehatan yang semakin banyak dipakai sebagai alat ukur yang dipercaya untuk menilai keberhasilan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang baik dan pada akhirnya dapat meningkatkan kesehatan masyarakat. Salah satu sarana pelayanan kesehatan yang tersedia dalam bidang kesehatan gigi dan mulut adalah Rumah Sakit Gigi dan Mulut. RSGM adalah sarana pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, gawat darurat, pelayanan medik dan pelayanan penunjang, salah satunya adalah pelayanan radiologi kedokteran gigi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk dapat memberikan data yang akurat tentang kepuasan pasien radiografi panoramik di instalasi radiologi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Maranatha. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptifanalitik dengan menggunakan metode survei. Studi penelitian ini menggunakan rancangan crosssectional. Penelitian dilakukan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Maranatha yang dilaksanakan pada bulan Juli- Agustus 2017. Pengambilan sampel pasien dengan cara accidental sampling dimana sampel yang digunakan adalah seluruh pasien dewasa yang datang ke instalasi radiologi. Analisis data menggunakan uji statistik oneway anova yang diolah menggunakan program komputer SPSS. Hasil: Sebagian besar responden menyatakan puas pada dimensi Reliability (kehandalan) dengan skor 95,25 %, Assurance (jaminan/keyakinan) dengan skor 94,6%, Tangibles (penampilan) dengan skor 100%, Empathy (perhatian) dengan skor 100% Responsiveness (ketanggapan) yaitu memiliki skor 100%. Simpulan: Pelayanan pemeriksaan radiografi panoramik di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Maranatha pada periode 18 Juli-18 Agustus 2017 sangat baik, dengan tingkat kepuasan yang tinggi pada dimensi kualitas pelayanan reliability (kehandalan), assurance (jaminan/keyakinan), tangibles (penampilan), empathy (perhatian) dan responsiveness (ketanggapan).Keywords: Pelayanan, kepuasan, radiografi panoramik
|
Pelayanan, kepuasan, radiografi panoramik | 2018-10-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22511 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i2.22511 |
| 1672793 | #6191 | The effect of silane coupling agent addition on the hardness of non-dental e-glass fiber reinforced composite in removable partial dentures: Study experimental | The effect of silane coupling agent addition on the hardness of non-dental e-glass fiber reinforced composite in removable partial dentures: Study experimental |
Safitri, Subiana Hidayatul Sari, Widya Puspita Desnita, Eka |
ABSTRACT Introduction: The use of E-Glass Fiber Reinforced Composite (FRC) in fixed dental prostheses has gained popularity due to its desirable mechanical properties. Achievement optimal hardness is crucial for the long-term success of these prostheses. This study aimed to analyze the effect of the addition of a silane coupling agent on the non-dental E-Glass FRC's hardness in fixed dental prostheses. Methods: This study is a laboratorium eksperimental with a quantitative research approach to investigate the impact of silane coupling agents on the hardness of non-dental E-Glass FRC. Specimens were prepared with varying concentrations of silane coupling agent, and the hardness was measured using standardized testing methods. The laboratory conditions were set up aimed to simulate the conditions encountered in fixed dental prostheses. Results: A significant correlation was revealed between the addition of silane coupling agent and the hardness of non-dental E-Glass FRC. Higher concentrations of silane coupling agent were associated with increased hardness values. The findings provide valuable insights into optimizing the composition of E-Glass fiber non dental FRC for enhanced mechanical properties in fixed dental prostheses. Conclusion: The addition of a silane coupling agent positively influences the hardness of non-dental E-Glass FRC used in fixed dental prostheses. This study contributes to the ongoing efforts to enhance the mechanical performance of dental materials, emphasizing the importance of optimizing silane coupling agent concentrations for improved hardness.KEY WORDS: e-glass, fiber, reinforced, composite, silane coupling agent..Pengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekerasan e-glass fiber non dental reinforced composite pada gigi tiruan cekat: studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Penggunaan E-Glass Fiber Reinforced Composite (FRC) dalam prostesis gigi cekat semakin populer karena mendukung sifat mekanik yang diinginkan. Pencapaian kekerasan optimal sangat penting untuk keberhasilan jangka panjang prostesis ini. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekerasan FRC E-Glass non-dental pada gigi tiruan cekat. Metode: Jenis penelitian adalah studi eksperimen laboratorium dengan pendekatan penelitian kuantitatif digunakan untuk menyelidiki dampak agen penggandeng silane terhadap kekerasan FRC E-Glass non-dental. Sampel dipersiapkan dengan konsentrasi berbeda dari silane coupling agent, dan kekerasan diukur menggunakan metode pengujian standar. Kondisi laboratorium diatur untuk mensimulasikan kondisi yang dihadapi dalam prostesis gigi cekat. Hasil: Terdapat korelasi signifikan antara penambahan silane coupling agent dan kekerasan FRC E-Glass non-dental. Konsentrasi silane coupling agent yang lebih tinggi terkait dengan peningkatan nilai kekerasan. Temuan ini memberikan wawasan berharga dalam mengoptimalkan komposisi FRC E-Glass fiber non dental untuk meningkatkan sifat mekanik pada prostesis gigi cekat. Simpulan: Penambahan silane coupling agent secara positif memengaruhi kekerasan FRC E-Glass non-dental yang digunakan dalam prostesis gigi cekat. Studi ini memberikan kontribusi pada upaya terus-menerus untuk meningkatkan kinerja mekanik material kedokteran gigi, dengan menekankan pentingnya mengoptimalkan konsentrasi silane coupling agent untuk kekerasan yang lebih baik.KATA KUNCI: e-glass, fiber, reinforced, composite, silane coupling agent | ABSTRACT Introduction: The use of E-Glass Fiber Reinforced Composite (FRC) in fixed dental prostheses has gained popularity due to its desirable mechanical properties. Achievement optimal hardness is crucial for the long-term success of these prostheses. This study aimed to analyze the effect of the addition of a silane coupling agent on the non-dental E-Glass FRC's hardness in fixed dental prostheses. Methods: This study is a laboratorium eksperimental with a quantitative research approach to investigate the impact of silane coupling agents on the hardness of non-dental E-Glass FRC. Specimens were prepared with varying concentrations of silane coupling agent, and the hardness was measured using standardized testing methods. The laboratory conditions were set up aimed to simulate the conditions encountered in fixed dental prostheses. Results: A significant correlation was revealed between the addition of silane coupling agent and the hardness of non-dental E-Glass FRC. Higher concentrations of silane coupling agent were associated with increased hardness values. The findings provide valuable insights into optimizing the composition of E-Glass fiber non dental FRC for enhanced mechanical properties in fixed dental prostheses. Conclusion: The addition of a silane coupling agent positively influences the hardness of non-dental E-Glass FRC used in fixed dental prostheses. This study contributes to the ongoing efforts to enhance the mechanical performance of dental materials, emphasizing the importance of optimizing silane coupling agent concentrations for improved hardness.KEY WORDS: e-glass, fiber, reinforced, composite, silane coupling agent.Pengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekerasan e-glass fiber non dental reinforced composite pada gigi tiruan cekat: studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Penggunaan E-Glass Fiber Reinforced Composite (FRC) dalam prostesis gigi cekat semakin populer karena mendukung sifat mekanik yang diinginkan. Pencapaian kekerasan optimal sangat penting untuk keberhasilan jangka panjang prostesis ini. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekerasan FRC E-Glass non-dental pada gigi tiruan cekat. Metode: Jenis penelitian adalah studi eksperimen laboratorium dengan pendekatan penelitian kuantitatif digunakan untuk menyelidiki dampak agen penggandeng silane terhadap kekerasan FRC E-Glass non-dental. Sampel dipersiapkan dengan konsentrasi berbeda dari silane coupling agent, dan kekerasan diukur menggunakan metode pengujian standar. Kondisi laboratorium diatur untuk mensimulasikan kondisi yang dihadapi dalam prostesis gigi cekat. Hasil: Terdapat korelasi signifikan antara penambahan silane coupling agent dan kekerasan FRC E-Glass non-dental. Konsentrasi silane coupling agent yang lebih tinggi terkait dengan peningkatan nilai kekerasan. Temuan ini memberikan wawasan berharga dalam mengoptimalkan komposisi FRC E-Glass fiber non dental untuk meningkatkan sifat mekanik pada prostesis gigi cekat. Simpulan: Penambahan silane coupling agent secara positif memengaruhi kekerasan FRC E-Glass non-dental yang digunakan dalam prostesis gigi cekat. Studi ini memberikan kontribusi pada upaya terus-menerus untuk meningkatkan kinerja mekanik material kedokteran gigi, dengan menekankan pentingnya mengoptimalkan konsentrasi silane coupling agent untuk kekerasan yang lebih baik.KATA KUNCI: e-glass, fiber, reinforced, composite, silane coupling agent.
|
e-glass, fiber, reinforced, composite, silane coupling agent. e-glass, fiber, reinforced, composite, silane coupling agent.; e-glass, fiber, reinforced, composite, silane coupling agent. | 2024-03-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/49861 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i1.49861 |
| 1672792 | #6191 | Manifestasi oral pada ibu hamil berdasarkan perbedaan trimester kehamilanOral manifestations in pregnant women based on trimester differences |
Utami, Larasati Dyah Hidayat, Wahyu Sufiawati, Irna |
Pendahuluan: Kehamilan merupakan suatu kondisi yang membawa berbagai macam perubahan pada wanita bahkan pada wanita hamil dengan kondisi fisik yang sehat. Hal tersebut dapat terjadi karena perubahan metabolisme, perubahan respon imun, serta perubahan hormon. Keterkaitan antara faktor-faktor pemicu tersebut, secara tidak langsung dapat menimbulkan berbagai macam manifestasi oral pada ibu hamil, seperti epulis gravidarum, coated tongue, cheilitis exfoliative, geographic tongue, fissured tongue, RAS, atrophic glossitis, dan cheilitis angularis. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui manifestasi oral pada ibu hamil berdasarkan perbedaan trimester kehamilan. Metode: Penelitian ini mengunakan metode deskriptif observatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini ialah seluruh pasien ibu hamil yang datang untuk berobat ke Puskesmas Garuda Bandung. Sampel dalam penelitian ini diambil berdasarkan teknik purposive sampling dan accidental sampling yaitu jumlah sampel yang diambil berdasarkan pasien ibu hamil yang datang untuk berobat ke Puskesmas Garuda Bandung, bersedia untuk dilakukan penelitian, serta memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dengan batas waktu yang telah ditetapkan. Data diperoleh dengan melakukan tanya jawab mengenai kondisi umum, serta pemeriksaan rongga mulut pasien ibu hamil. Hasil: Manifestasi oral yang paling banyak timbul pada ibu hamil adalah coated tongue yaitu terjadi pada 54 orang (78,26%). Coated tongue paling banyak ditemukan pada trimester III kehamilan yaitu sebanyak 31 orang (42,03%) dan exfoliative cheilitis sebanyak 21 orang. Hasil penelitian tidak menemukan adanya cheilitis angularis. Simpulan: Coated tongue menjadi manifestasi orang yang paling banyak ditemukan pada rongga mulut ibu hamil yang merata pada semua trimester.Kata kunci: Kehamilan, manifestasi oral. ABSTRACT Introduction: Pregnancy is a condition that induces various changes in women, even in healthy pregnant women. This condition may occur due to changes in metabolism, immune response, and hormonal system. The relation between these triggers may indirectly lead to various oral manifestations in pregnant women, such as epulis gravidarum, coated tongue, exfoliative cheilitis, geographic tongue, fissured tongue, recurrent aphthous stomatitis (RAS), atrophic glossitis, and angular cheilitis. The purpose of this study was to determine the oral manifestations in pregnant women based on trimester differences. Methods: This research was a descriptive observational with a cross-sectional approach. The population in this study were all pregnant women who came for treatment to the Garuda Community Health Centre, Bandung. The sample in this study was taken based on purposive sampling and accidental sampling techniques, which were pregnant women who came for treatment to the Garuda Community Health Centre, Bandung, willing to participate in the research, and meet the inclusion and exclusion criteria within a predetermined time limit. Data was obtained through questions and answers regarding general conditions, as well as examining the oral cavity of pregnant women. Results: The results of data analysis showed that the most frequent oral manifestations in pregnant women was coated tongue, which was found in 54 respondents (78.26%). The most common oral manifestations found on the first to the third trimester of gestational period was coated tongue, coated tongue most commonly found in the third trimester, which was found in 31 respondents (42.03%) and exfoliative cheilitis in 21 respondents. Angular cheilitis was not found in all respondents. Conclusion: The coated tongue is the most common oral manifestation in pregnant women which is evenly distributed in all trimesters. Keywords: Pregnancy, oral manifestations.
|
Kehamilan; manifestasi oral; pregnancy; oral manifestations | 2020-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/25261 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v4i2.25261 |
| 1672791 | #6191 | Evaluation of the effectiveness of occlusal splint therapy and exercise therapy on temporomandibular disorders: A systematic review |
Cahyani, Irvi Chairunnisa, Ricca Norasmatul Akma, Ahmad |
ABSTRACTIntroduction: Temporomandibular disorders (TMD) involve the temporomandibular joint, masticatory muscles, and associated structures, presenting with various symptoms such as difficulty in chewing, speaking, and other orofacial functions. Common treatment options for TMD include occlusal splint therapy and exercise therapy. This study aims to evaluate the effectiveness of occlusal splint therapy and exercise therapy in managing TMD through a systematic review. Methods: Literature searches were conducted in PubMed, ProQuest, and Google Scholar, covering publications from 2012 to 2022. The keywords used included ("temporomandibular disorders") AND (exercise OR physiotherapy OR "exercise therapy") AND ("splints" OR "occlusal splints" OR "occlusal appliance" OR "occlusal splint therapy"). Data synthesis was performed using qualitative data analysis techniques. Results: Based on the search results, 1,707 articles were identified. After checking for duplicates and filtering according to PICOS and inclusion criteria, 7 articles were found to be eligible. From the results that had already been obtained and analyzed, occlusal splint therapy and physical exercise therapy had the same effectiveness but had their own advantages and disadvantages. Both therapies demonstrated a reduction in pain and improvement in limited mouth opening. Conclusion: There is no difference in the effectiveness of occlusal splint therapy and exercise therapy for managing TMD. Considering their respective benefits and limitations, exercise therapy may be recommended as an initial treatment for TMD, while occlusal splint therapy can be employed for specific pathological conditions or as a complementary treatment in advanced cases.KEY WORDS: temporomandibular disorders, occlusal splint therapy, exercise therapyEvaluasi efektivitas terapi splin oklusal dan terapi fisik latihan terhadap gangguan temporomandibular: systematic reviewABSTRAK Pendahuluan: Gangguan Temporomandibular (TMD) melibatkan sendi temporomandibular, otot pengunyahan, dan struktur terkait, dengan gejala seperti kesulitan mengunyah, berbicara, dan fungsi orofasial lainnya. Pilihan perawatan yang umum untuk TMD adalah terapi splin oklusal dan terapi latihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas terapi splin oklusal dan terapi latihan dalam menangani TMD melalui tinjauan sistematis. Metode: Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed, ProQuest, dan Google Scholar dengan cakupan publikasi dari tahun 2012 hingga 2022. Kata kunci yang digunakan meliputi: ("temporomandibular disorders") AND (exercise OR physiotherapy OR "exercise therapy") AND ("splints" OR "occlusal splints" OR "occlusal appliance" OR "occlusal splint therapy"). Sintesis data dilakukan menggunakan teknik analisis kualitatif. Hasil: Berdasarkan hasil pencarian, ditemukan 1.707 artikel. Setelah dilakukan pengecekan duplikasi dan penyaringan berdasarkan PICOS serta kriteria inklusi, diperoleh 7 artikel yang sesuai. Berdasarkan hasil yang sudah didapatkan dan dianalisis, terapi splin oklusal dan terapi fisik latihan memiliki efektivitas yang sama namun memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kedua terapi tersebut dapat memberikan hasil mengurangi rasa nyeri dan perbaikan keterbatasan pembukaan mulut. Simpulan: Tidak ditemukan perbedaan dalam efektivitas terapi splin oklusal dan terapi latihan untuk menangani TMD. Berdasarkan kelebihan dan keterbatasannya, terapi latihan dapat direkomendasikan sebagai perawatan awal untuk TMD, sementara terapi splin oklusal dapat digunakan untuk kondisi patologis tertentu atau sebagai perawatan tambahan pada kasus lanjut.KATA KUNCI: gangguan temporomandibular, terapi splin oklusal, terapi latihan
|
2024-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/58960 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i3.58960 | |
| 1672790 | #6191 | Pengaruh ekstrak biji alpukat (Persea americana Mill.) terhadap waktu perdarahan pada luka potong ekor mencit strain Balb-cEffect of avocado seed extract (Persea americana Mill.) on bleeding time in mice tail cuts (Balb-c) |
Winiswara, Mulia Widya Yuwono, Budi Adriatmoko, Winny |
ABSTRAK Pendahuluan: Pencabutan gigi adalah tindakan dalam kedokteran gigi yang sering dilakukan. Komplikasi yang dapat terjadi dalam pencabutan gigi, salah satunya adalah perdarahan. Biji buah alpukat memiliki potensi sebagai agen hemostatis yang dapat berpengaruh teradap waktu perdarahan. Dari hasil skrining fitokimia, ekstrak etanol biji buah alpukat mengandung saponin, flavonoid dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak biji alpukat dapat mempengaruhi waktu perdarahan pada mencit. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan post-test only control group design. Sampel penelitian adalah mencit jantan sebanyak 16 ekor yang dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok kontrol negatif (K1) diberikan akuades, kelompok kontrol positif (K2) diberikan asam traneksamat, kelompok perlakuan 1 (P1) diberikan ekstrak biji alpukat dosis 0,125 mg/g BB dan kelompok perlakuan 2 (P2) diberikan ekstrak biji alpukat dosis 0,25 mg/g BB. Hewan coba diadaptasikan selama 7 hari, diberikan perlakuan selama 7 hari dan pada hari ke-8 dilakukan pemotongan ekor ±1 cm. Data dianalisis menggunakan uji Kruskall Wallis dan Mann Whitney. Hasil: Rerata waktu perdarahan pada kelompok K1, K2, P1 dan P2 adalah 7,8 menit, 3,25 menit, 3,8 menit dan 4,5 menit. Hasil uji Kruskal Wallis didapatkan signifikansi 0,029 (p<0,05) yaitu terdapat perbedaan pada seemua kelompok. Hasil uji Mann Whitney didapatkan perbedaan signifikan antara kelompok K1, P1 dan P2 (p<0,05), sedangkan pada kelompok P1 dan P2 (p>0,05) terdapat perbedaan yang tidak signifikan. Simpulan: Ekstrak biji alpukat dapat mempercepat waktu perdarahan pada luka potong ekor mencit.Kata kunci: Persea americana Mill.; waktu perdarahan; trombosit ABSTRACT Introduction: Tooth extraction is a common treatment form in dental treatment. Complications can occur in tooth extraction, one of which is bleeding. Avocado seeds have the potential as haemostatic agents that can affect bleeding time. From the results of phytochemical screening, the ethanol extract of avocado seeds contains saponins, flavonoids and tannins. This study was aimed to determine the effect of avocado (Persea americana Mill.) seed extract on bleeding time in the tail cuts of mice (Balb-c strain). Methods: This research was an experimental laboratory with a post-test only control group design. The research sample was 16 male mice divided into four groups. The negative control group (K1) was administered with distilled water; the positive control group (K2) with tranexamic acid; treatment group 1 (P1) with avocado seed extract at a dose of 0.125 mg/g BW; treatment group 2 (P2) with avocado seed extract at a dose of 0.25 mg/g BW. The experimental animals were adapted for seven days, treated for seven days and on the eighth day, the tail was cut for ±1 cm. Data were analysed using the Kruskal Wallis and Mann Whitney tests. Results: The mean bleeding time in groups K1, K2, P1, and P2 were 7.8 minutes, 3.25 minutes, 3.8 minutes, and 4.5 minutes, respectively. The Kruskal Wallis test results showed a significance of 0.029 (p<0.05), thus showing differences in all groups. The Mann Whitney test results showed a significant difference between groups K1 and P1 and P2 (p<0.05). While between the groups P1 and P2, no significant difference was found (p>0.05). Conclusions: Avocado seed extract can accelerate the bleeding time in the mice tail cuts.Keywords: Persea americana Mill.; bleeding time; platelets
|
Persea americana Mill; waktu perdarahan; trombosit; Persea americana Mill; bleeding time; platelets | 2021-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/34613 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i2.34613 |
| 1672789 | #6191 | Modeling and assessment of dental health behavior among elementary school students using the Health Belief Model (HBM) with the OHBQAHBM instrument: a cross-sectional study |
Florensia, Maria Vita, Helena Putri, Tresna Evan, Kennard Abigayl, Ivana |
ABSTRAKIntroduction: Dental health behavior is an important aspect of elementary school students’ well-being, especially for those in grade 6 who are in the phase of permanent tooth eruption. The Health Belief Model (HBM) is one of the health behavior theories commonly used to explain and predict individual health behaviors, including oral health behavior in children. This analytical cross-sectional study aimed to analyze the dental health behavior of 6th-grade students at SD MIN 3 Banjar using the HBM approach. Methods: This study used an analytical cross-sectional design. Data were collected using the Oral Health Behavior Questionnaire for Adolescents Based on the Health Belief Model (OHBQAHBM) instrument, with total sampling applied to the entire population. The data obtained from the questionnaires were analyzed by calculating percentage scores. Results: The total number of subjects in this study were 28 students. The results showed that 39.3% of respondents had a neutral attitude toward perceived susceptibility, 42% were neutral regarding perceived benefits, and 38% did not experience significant barriers. Regarding cues to action, 34.5% lacked triggers for dental health behavior. Perceived severity showed an even distribution (22.4%) between those who considered it serious and somewhat serious. Meanwhile, 25.7% expressed low confidence in their ability to maintain dental health (self-efficacy). Conclusion: Students who demonstrated neutral perceptions of susceptibility and benefits and reported few barriers also showed limited cues to action and self-confidence. Interventions are needed to enhance students’ awareness and self-efficacy in maintaining good oral health.KEY WORDS: health Belief Model, behaviour, dental health, students, elementary school Pemodelan dan pengujian perilaku kesehatan gigi pada siswa sekolah dasar dengan pendekatan Health Belief Model menggunakan instrumen OHBQAHBM: Studi cross-sectionalABSTRACT Pendahuluan: Perilaku kesehatan gigi merupakan aspek penting bagi siswa sekolah dasar, terutama kelas 6 yang berada dalam masa pertumbuhan gigi permanen. Health Belief Model (HBM) merupakan salah satu teori perilaku kesehatan yang efektif dalam menjelaskan dan memprediksi perilaku kesehatan individu, termasuk perilaku kesehatan gigi pada anak. Penelitian analitik cross-sectional ini bertujuan menganalisis perilaku kesehatan gigi pada siswa sekolah dasar menggunakan pendekatan HBM. Metode: Jenis penelitian menggunakan analitik cross-sectional. Pengumpulan data menggunakan instrumen Oral Health Behavior Questionnaire for Adolescents Based on Health Belief Model (OHBQAHBM) dengan pengambilan sampel metode total sampling dari populasi. Data yang telah didapatkan dari hasil kuesioner selanjutnya dilakukan perhitungan skor persentase Hasil: Total subjek pada penelitian ini adalah 28 siswa dengan hasil penelitian menunjukkan 39,3% responden bersikap netral terhadap perceived susceptibility, 42% netral terhadap perceived benefits, dan 38% tidak mengalami barriers signifikan. Pada cues to action, 34,5% tidak memiliki pemicu perilaku kesehatan gigi. Perceived severity menunjukkan distribusi merata (22,4%) antara yang menganggap serius dan agak serius. Sementara 25,7% menyatakan kurang yakin dengan kemampuan menjaga kesehatan gigi (self-efficacy). Simpulan: Siswa yang menunjukkan persepsi netral tentang kerentanan dan manfaat serta melaporkan sedikit hambatan, mereka memiliki keterbatasan dalam isyarat bertindak dan keyakinan diri. Diperlukan intervensi untuk meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri siswa dalam menjaga kesehatan gigi.KATA KUNCI: health belief model, perilaku, kesehatan gigi, siswa, sekolah dasar
|
Health belief model, perilaku, kesehatan gigi, siswa, sekolah dasar, Health Belief Model, behaviour, dental health, students, elementary school | 2026-01-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/64132 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i3.64132 |
| 1672788 | #6191 | Pengaruh perendaman gigi artifisial resin akrilik dalam ekstrak daun kemangi terhadap kekerasan permukaanThe effect of immersion acrylic resin artificial teeth in basil leaves extract on surface hardness |
wahyuni, Siti Balqish, Bellani |
ABSTRAKPendahuluan: Gigi artifisial resin akrilik adalah pengganti gigi asli yang telah hilang dan berfungsi untuk memulihkan fungsi pengunyahan, fonasi dan estetik. Pembersihan gigi tiruan diperlukan untuk mencegah terjadinya denture stomatitis. Pembersih gigi tiruan berbahan kimia dapat memengaruhi sifat mekanis dan fisik resin akrilik. Pembersih gigi tiruan alami digunakan sebagai alternatif untuk meminimalkan efek yang ditimbulkan oleh pembersih gigi tiruan berbahan kimia. Ekstrak daun kemangi 12,5% digunakan sebagai alternatif bahan pembersih gigi tiruan. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh perendaman gigi artifisial resin akrilik dalam ekstrak daun kemangi 12,5% dan alkalin peroksida selama 5 hari terhadap kekerasan permukaan. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratoris. Sampel yang digunakan adalah 30 gigi artifisial resin akrilik untuk masing-masing uji dengan ukuran sampel 20x20x6mm dibagi 3 kelompok perendaman yaitu perendaman dalam ekstrak daun kemangi 12,5%; perendaman dalam alkalin peroksida; dan perendaman dalam akuabides sebagai kontrol yang mewakili nilai kekerasan sebelum perendaman. Kekerasan permukaan diukur menggunakan alat Vickers Hardness Tester. Hasil data dianalisis dengan uji One-way Anova. Hasil: Nilai rerata kekerasan permukaan gigi artifisial resin akrilik setelah direndam dalam ekstrak daun kemangi 12,5% selama 5 hari adalah 18,3 ± 1,7 VHN, alkalin peroksida adalah 16,8 ± 1,8 VHN, dan kontrol adalah 21,8 ± 2,2 VHN dengan nilai p=0,0001(p<0,05). Simpulan: Terdapat pengaruh perendaman gigi artifisial resin akrilik dalam ekstrak daun kemangi 12,5% dan alkalin peroksida selama 5 hari terhadap kekerasan permukaan. Ekstrak daun kemangi 12,5% dapat digunakan sebagai bahan alternatif pembersih gigi tiruan karena perubahan kekerasan permukaan yang terjadi masih dalam rentang standar kekerasan permukaan resin akrilik.Kata kunci: gigi artifisial; resin akrilik; ekstrak kemangi; kekerasan. ABSTRACTIntroduction: Acrylic resin artificial teeth are substitutes for natural teeth that have been lost to restore masticatory functions, phonation and esthetic. Denture cleaning is necessary to prevent denture stomatitis. Chemical denture cleansers can affect mechanical and physical properties of acrylic resin. Natural denture cleaners are used as an alternative to minimize the effects of chemical denture cleaners. 12.5% basil leaves extract was used as an alternative denture cleaning agent. This study was aimed to analyse the effect of immersing acrylic resin artificial teeth in 12.5% basil leaves extract and alkaline peroxide for 5 days on surface hardness. Methods: This research was an experimental laboratory. The samples used were 30 acrylic resin artificial teeth measured 20x20x6mm divided into 3 immersion groups: in 12.5% basil leaves extract; in alkaline peroxide; and in aquabides as a control that represents the hardness value before immersion. The surface hardness was measured using Vickers Hardness Tester. The results of the data were analyzed by One-way Anova and independent sample t-test. Results: The average surface hardness of acrylic resin artificial teeth after immersion in 12.5% basil leaves extract for 5 days was 18.3 ± 1.7 VHN, alkaline peroxide was 16.8 ± 1.8 VHN, and control was 21.8 ± 2.2 VHN with a value of p=0.0001(p<0.05). Conclusion: There was an effect of immersing artificial teeth in acrylic resin in 12.5% basil leaves extract and alkaline peroxide for 5 days on the surface hardness. 12.5% basil leaves extract can be used as an alternative material for cleaning dentures because the changes in surface hardness that occur were still within the standard range of surface hardness of acrylic resin.Keywords: artificial tooth; acrylic resins; basil extract; hardness.
|
gigi artifisial; resin akrilik; ekstrak kemangi; kekerasan;artificial tooth; acrylic resins; basil extract; hardness. | 2022-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/41474 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i3.41474 |
| 1672787 | #6191 | Proses penyembuhan lesi periapikal pada radiografi periapikal menggunakan Software Image J |
Fitriandari, Bilqis Quinta Pramanik, Farina Adang, Rahmi Alma Farah |
Pendahuluan: Lesi periapikal adalah lesi yang berada di daerah apikal dan dapat dirawat dengan perawatan endodontik untuk mencapai penyembuhan. Proses penyembuhan lesi periapikal dapat dievaluasi dengan pemeriksaan radiografis dengan menggunakan radiograf periapikal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan gambaran yang terjadi pada proses penyembuhan lesi periapikal pada radiograf periapikal menggunakan software image J. Metode: Metode penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan 30 arsip radiograf periapikal pada saat diagnosis, pengisian, dan kontrol perawatan endodontik yang terdapat di Instalasi PPDGS Konservasi Gigi RSGM Unpad. Proses penyembuhan ini dilihat dari luas dan densitas lesi dengan menggunakan software image J. Hasil: Nilai rata-rata pengurangan ukuran luas lesi sebesar 13.25±10.77 mm2 dan peningkatan densitas rata-rata sebesar 9.95±7.26% yang dilihat dari foto diagnosis, pengisian, dan kontrol. Simpulan: Gambaran penyembuhan lesi periapikal terjadi pengurangan ukuran luas lesi terbesar pada tahap diagnosis ke pengisian dan peningkatan densitas terbesar pada tahap pengisian ke kontrol pada perawatan endodontik yang dilihat dari radiograf periapikal menggunakan software image J.Kata kunci: Proses penyembuhan, lesi periapikal, radiograf periapikal, Software Image J.
|
2018-10-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21436 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i1.21436 | |
| 1672786 | #6191 | Dental caries survey of first permanent molar teeth among 6-8 years old during the pandemic: cross-sectional study |
Fadilah, Rina Putri Noer Prayogo, Ari Pribadi |
ABSTRACTIntroduction: A survey is necessary for annual screening and recording. Dental caries is one of the indicators in oral health surveys. Dental caries is the most common and prevalent chronic infectious disease among children. The most prevalent dental caries is in the child's first permanent molar. The first permanent tooth eruption in the oral cavity was the first molar of 6-year-old children. This study aims to determine dental caries in first permanent molars among children aged 6-8 years old during the pandemic in Cimahi City, West Java, Indonesia. Methods: The research method used was a cross sectional study with pathfinder surveys using basic oral health survey methods. Schoolchildren were invited to participate in this survey. The survey collected data through intraoral photos and questionnaires through an online form. The prevalence of dental caries was the percentage. After calculation, the data is presented in tables and graphs. Results: The result of this study on 98 children showed that the prevalence of dental caries was 96.93%. The caries index primary teeth (DMFT) mean was 7.86, and the caries index permanent teeth (DMFT) mean was 0.37. Dental caries of the first permanent molar teeth was at 19%. Conclusions: There is a high prevalence of dental caries in primary teeth and high categories of dental caries in primary teeth. The incidence of dental caries in the first permanent molars was 19%.KEY WORDS: dental caries, first permanent molar, childrenSurvei karies gigi pada gigi molar permanen pertama pada anak usia 6-8 tahun selama pandemi : studi cross sectional ABSTRAK Pendahuluan: Survei diperlukan untuk penjaringan dan pencatatan yang digunakan setiap tahun. Salah satu indikator dalam survei kesehatan gigi dan mulut adalah karies gigi. Karies gigi adalah penyakit infeksi kronis yang paling umum dan umum terjadi pada anak-anak. Karies gigi yang paling banyak terjadi adalah gigi molar pertama permanen. Erupsi gigi permanen pertama di rongga mulut adalah gigi geraham pertama yang berumur 6 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karies gigi pada gigi geraham pertama permanen pada anak usia 6-8 tahun pada masa pandemi di Kota Cimahi, Jawa Barat, Indonesia. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional study dengan menggunakan pathfinder survey dengan metode dasar survey kesehatan gigi dan mulut. Kami mengundang anak-anak sekolah untuk berpartisipasi dalam survei ini. Survey dilakukan dengan mengumpulkan data melalui foto intra oral dan kuesioner dengan menggunakan sistem online yaitu google form. Prevalensi karies gigi dalam bentuk persentase dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil: Sebanyak 98 anak menunjukkan prevalensi karies gigi sebesar 96,93%. Rerata indeks karies gigi sulung (dmft) adalah 7,86 dan rerata indeks karies gigi permanen (DMFT) adalah 0,37. Karies gigi gigi molar pertama permanen adalah 19%. Simpulan: Prevalensi karies gigi tinggi pada gigi sulung dan kategori karies gigi tinggi pada gigi sulung. Insiden karies gigi pada gigi molar pertama permanen adalah 19%.KATA KUNCI: karies gigi, gigi molar satu permanen, anak-anak
|
dental caries; first molar; children, karies gigi, gigi molar satu permanen, anak-anak | 2023-08-11 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/47399 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i2.47399 |
| 1672785 | #6191 | Oral bad habit that can affect children’s craniofacial growth and development: A systematic review | Oral bad habit that can affect children’s craniofacial growth and development: A systematic review |
Suherlyas, Calla Aurelia Indriyanti, Ratna Musnawirman, Iwan Ahmad |
Introduction: Craniofacial growth and development is an essential process for children as it impacts both mastication and children's appearance. Bad oral habits can interfere with this process and cause deviations in craniofacial growth and development, such as malocclusion. If not treated promptly, childhood malocclusion can worsen over time. This systematic review aimed to discover the oral habits that can affect craniofacial growth and development in school-aged children and to determine the skeletal and dental deviations that tend to occur due to these habits. Methods: The article obtained from 4 electronic databases was analyzed following the PRISMA guidelines. The risk of bias was assessed using QUADAS -2. Results: Eight articles were used in this systematic review. The bad oral habits of school-aged children examined in these studies include mouth breathing, atypical swallowing/ tongue thrusting, onychophagia, biting pen, thumb sucking, lip sucking, and pacifier sucking. In general, dental malocclusion tends to occur in children with these bad oral habits. In children with mouth-breathing habits, thumb sucking, and lip sucking, both dental and skeletal malocclusions tend to occur. Conclusion: The deviations that tend to occur in school-aged children with bad oral habits are primarily dental, often manifesting as Angle Class I molar malocclusion. Skeletal deviations are more likely to occur only in children with mouth-breathing, thumb-sucking, and lip-sucking habits. This systematic review is expected to serve as a useful reference for treating children with bad oral habits that may affect craniofacial growth and development.Kebiasaan buruk oral yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial anak: ulasan sistematikABSTRAK Pendahuluan: Tumbuh kembang kraniofasial merupakan proses yang penting bagi anak karena dapat memengaruhi fungsional dan penampilan anak. Kebiasaan buruk oral dapat memengaruhi masa pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial serta dapat menyebabkan penyimpangan seperti maloklusi. Jika tidak segera dilakukan perawatan, maloklusi pada usia anak dapat semakin berkembang ke arah yang buruk. Tinjauan sistematik dilakukan untuk mengetahui kebiasaan buruk oral apa saja yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial anak pada usia sekolah dan penyimpangan yang cenderung terjadi akibat kebiasaan buruk oral, baik secara skeletal ataupun dental. Metode: Artikel yang didapatkan dari 4 database elektronik dianalisis dengan panduan PRISMA 2020. Penilaian risk of bias dilakukan dengan menggunakan QUADAS -2. Hasil: Terdapat 8 artikel yang digunakan sebagai referensi pada tinjauan sistematik ini. Kebiasaan buruk oral pada anak usia sekolah yang diteliti dari beberapa artikel tersebut adalah mouth breathing, atypical swallowing/ tongue thrusting, menggigit kuku, menggigit pena, mengisap ibu jari, mengisap bibir, dan mengisap dot. Secara keseluruhan, penyimpangan yang cenderung terjadi pada anak yang memiliki kebiasaan buruk oral adalah penyimpangan pada gigi geligi. Pada anak dengan kebiasaan bernafas melalui mulut, mengisap ibu jari, dan mengisap bibir, penyimpangan yang cenderung terjadi adalah penyimpangan secara dentoskeletal. Simpulan: Penyimpangan yang cenderung terjadi pada anak dengan kebiasaan buruk oral adalah secara dental berupa maloklusi molar kelas I, sementara penyimpangan secara skeletal cenderung hanya terjadi pada anak dengan kebiasaan bernafas melalui mulut, mengisap ibu jari, dan mengisap bibir. Tinjauan sistematik ini diharapkan dapat menjadi salah satu acuan tatalaksana pada anak dengan kebiasaan buruk oral yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial. | ABSTRACTIntroduction: Craniofacial growth and development is an essential process for children as it impacts both mastication and children's appearance. Bad oral habits can interfere with this process and cause deviations in craniofacial growth and development, such as malocclusion. If not treated promptly, childhood malocclusion can worsen over time. This systematic review aimed to discover the oral habits that can affect craniofacial growth and development in school-aged children and to determine the skeletal and dental deviations that tend to occur due to these habits. Methods: The article obtained from 4 electronic databases was analyzed following the PRISMA guidelines. The risk of bias was assessed using QUADAS -2. Results: Eight articles were used in this systematic review. The bad oral habits of school-aged children examined in these studies include mouth breathing, atypical swallowing/ tongue thrusting, onychophagia, biting pen, thumb sucking, lip sucking, and pacifier sucking. In general, dental malocclusion tends to occur in children with these bad oral habits. In children with mouth-breathing habits, thumb sucking, and lip sucking, both dental and skeletal malocclusions tend to occur. Conclusion: The deviations that tend to occur in school-aged children with bad oral habits are primarily dental, often manifesting as Angle Class I molar malocclusion. Skeletal deviations are more likely to occur only in children with mouth-breathing, thumb-sucking, and lip-sucking habits. This systematic review is expected to serve as a useful reference for treating children with bad oral habits that may affect craniofacial growth and development.Kebiasaan buruk oral yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial anak: ulasan sistematikABSTRAK Pendahuluan: Tumbuh kembang kraniofasial merupakan proses yang penting bagi anak karena dapat memengaruhi fungsional dan penampilan anak. Kebiasaan buruk oral dapat memengaruhi masa pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial serta dapat menyebabkan penyimpangan seperti maloklusi. Jika tidak segera dilakukan perawatan, maloklusi pada usia anak dapat semakin berkembang ke arah yang buruk. Tinjauan sistematik dilakukan untuk mengetahui kebiasaan buruk oral apa saja yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial anak pada usia sekolah dan penyimpangan yang cenderung terjadi akibat kebiasaan buruk oral, baik secara skeletal ataupun dental. Metode: Artikel yang didapatkan dari 4 database elektronik dianalisis dengan panduan PRISMA 2020. Penilaian risk of bias dilakukan dengan menggunakan QUADAS -2. Hasil: Terdapat 8 artikel yang digunakan sebagai referensi pada tinjauan sistematik ini. Kebiasaan buruk oral pada anak usia sekolah yang diteliti dari beberapa artikel tersebut adalah mouth breathing, atypical swallowing/ tongue thrusting, menggigit kuku, menggigit pena, mengisap ibu jari, mengisap bibir, dan mengisap dot. Secara keseluruhan, penyimpangan yang cenderung terjadi pada anak yang memiliki kebiasaan buruk oral adalah penyimpangan pada gigi geligi. Pada anak dengan kebiasaan bernafas melalui mulut, mengisap ibu jari, dan mengisap bibir, penyimpangan yang cenderung terjadi adalah penyimpangan secara dentoskeletal. Simpulan: Penyimpangan yang cenderung terjadi pada anak dengan kebiasaan buruk oral adalah secara dental berupa maloklusi molar kelas I, sementara penyimpangan secara skeletal cenderung hanya terjadi pada anak dengan kebiasaan bernafas melalui mulut, mengisap ibu jari, dan mengisap bibir. Tinjauan sistematik ini diharapkan dapat menjadi salah satu acuan tatalaksana pada anak dengan kebiasaan buruk oral yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial.
|
kebiasaan buruk oral, pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial anak, maloklusi kebiasaan buruk oral, pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial anak, maloklusi | 2024-06-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/54097 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i2.54097 |
| 1672784 | #6191 | Oral hygiene index-simplified sebelum dan setelah penyuluhan menyikat gigi menggunakan media PowerPoint dan media flip chartOral hygiene index-simplified before and after tooth brushing counselling using PowerPoint and flip chart media |
Yandi, Satria Mahata, Intan Batura Endo Anggraini, Elen |
Pendahuluan: Usaha Kesehatan Gigi Sekolah merupakan upaya peningkatan kesehatan gigi mulut anak sekolah. Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut dapat dilakukan dengan berbagai media, diantaranya media power point dan flip chart. Media dalam pendidikan kesehatan merupakan sarana membangun suasana kondusif terhadap perubahan perilaku positif kesehatan. Tujuan penelitian untuk menganalisis perbandingan Oral Hygiene Index-Simplified sebelum dan setelah penyuluhan menyikat gigi menggunakan media power point dan media flip chart. Metode: Jenis penelitian quasi eksperimental dengan one group pre and post test design, populasi seluruh siswa kelas VIII di SMP Negeri 32 Padang sebanyak 30 orang dan dibagi 3 kelompok dengan metode total sampling, waktu penelitian bulan Agustus 2018. Analisis data yang digunakan uji non parametrik menggunakan mann whitney dan wilcoxon sign rank test. Hasil: Rerata nilai Oral Hygiene Index-Simplified kelompok pre-test sebesar 1,64 menurun menjadi 1,06 pada post-test dan terdapat perbedaan Oral Hygiene Index-Simplified sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan menyikat gigi menggunakan media power point 0,007 (p<0,05). Rerata nilai Oral Hygiene Index-Simplified kelompok pre-test sebesar 2,65 menurun menjadi 1,33 pada post-test dan terjadi perbedaan yang bermakna dari pre-test ke nilai post-test. Simpulan: Penyuluhan menyikat gigi menggunakan media power point dan media flip chart mampu menurunkan nilai Oral Hygiene Index-Simplified (OHI-S).Kata kunci: Power point, flip chart, oral hygiene index-simplified. ABSTRACTIntroduction: School Dental Health Programs is an effort to improve oral health for school children. Oral health education can be carried out using various media, including the PowerPoint media and flip charts. Media in health education is a means of building a conducive atmosphere for positive health behaviour changes. The purpose of this study was to analyse the comparison of Oral Hygiene Index-Simplified (OHIS) before and after tooth brushing counselling using PowerPoint and flip chart media. Methods: This study used a quasi-experimental study with one group of pre and post-test design. The populations were as many as 30 class VIII students at Padang Public Junior School 32, which divided into three groups using the total sampling method. The research period was August 2018. Data analysis used was non-parametric test using Mann Whitney and Wilcoxon Sign Rank Test. Results: The mean OHIS value in the pre-test group was 1.64 and decreased to 1.06 in the post-test. There was a difference of the OHIS before and after giving tooth brushing counselling using PowerPoint media 0.007 (p < 0.05). The mean OHIS value in the pre-test group was 2.65 and decreased to 1.33 in the post-test group. There was a significant difference in the score between the pre-test and post-test group. Conclusion: Toothbrushing counselling using PowerPoint and flip chart media was able to reduce the Oral Hygiene Index-Simplified (OHI-S) score.Keywords: PowerPoint, flip chart, Oral Hygiene Index-Simplified, OHIS.
|
PowerPoint; flip chart; Oral Hygiene Index-Simplified; OHIS | 2020-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28882 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v4i2.28882 |
| 1672783 | #6191 | Effect of surface treatment of T-shaped diatoric holes on the shear bond strength of acrylic artificial teeth with thermoplastic nylon denture base: Study experimental |
Melga Syam, Anni'mah Agpabratasino Wahyuni, Siti |
ABSTRACTIntroduction: Surface treatment is a process that modifies the surface of an object that results in changes in morphological structure and physical properties of the material. Examining the shear bond strength is important to assess the ability to withstand interfacial loads between the artificial tooth surface and the denture base. The purpose of this study was to analyze the effect of surface treatment with T-shaped diatoric holes on the shear bond strength of acrylic artificial teeth with thermoplastic nylon denture base. Methods: This study used 32 samples of maxillary central incisor acrylic artificial teeth bonded with thermoplastic nylon denture bases. The samples were cylindrical with a diameter of 18 mm and a height of 20 mm, divided into four groups: one without surface treatment, and three with surface treatment using T-shaped diatoric holes with diameters of 0.8 mm, 1.2 mm, and 1.8 mm. Shear bond strength was measured using a Universal Testing Machine. The data were analyzed using a One-way Anova test, followed by Least Significant Different (LSD) test. Results: The mean shear bond strength without surface treatment was 0.666 ± 0.151 MPa, while with surface treatment using T-shaped diatoric holes, values were as follows: 0.8 mm was 2.079 ± 0.261 MPa, 1.2 mm was 3.354 ± 0.564 MPa, and 1.8 mm was 4.475 ± 0.639 MPa. The p value was 0.0001 (p < 0.05). Conclusion: There was a difference in the additional effect of surface treatment with T-shaped diatoric holes of 0.8 mm, 1.2 mm, and 1.8 mm on the shear bond strength of acrylic artificial teeth with thermoplastic nylon denture base. The 1.8 mm diameter holes resulted in the highest shear bond strength values.KEY WORDS: surface treatment T-shaped diatoric holes, shear bond strength, thermoplastic nylon basePerbedaan efek penambahan surface treatment T-shaped diatoric holes terhadap kekuatan ikatan geser gigi artifisial akrilik dengan basis gigi tiruan nilon termoplastik: Studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Surface treatment adalah perlakuan terhadap permukaan suatu benda yang menghasilkan perubahan bentuk morfologi dan perubahan sifat fisis bahan. Penelitian mengenai kekuatan ikatan geser penting dilakukan untuk melihat kemampuan menahan beban interfacial antara permukaan gigi artifisial dengan basis gigi tiruan. Tujuan penelitian adalah menganalisis perbedaan efek penambahan surface treatment T-shaped diatoric holes terhadap kekuatan ikatan geser gigi artifisial akrilik dengan basis gigi tiruan nilon termoplastik. Metode: Penelitian ini menggunakan 32 sampel gigi artifisial akrilik insisivus sentralis rahang atas yang disatukan dengan basis gigi tiruan nilon termoplastik. Sampel berbentuk silindris dengan diameter 18 mm dan tinggi 20 mm, dibagi menjadi empat kelompok: tanpa surface treatment, dengan surface treatment T-shaped diatoric holes berdiameter 0,8 mm, 1,2 mm, dan 1,8 mm. Pengukuran kekuatan ikatan geser dilakukan menggunakan alat Universal Testing Machine. Hail data dianalisis dengan uji One-way Anova dilanjutkan uji Least Significant Different (LSD). Hasil: Nilai rerata kekuatan ikatan geser tanpa surface treatment adalah 0,666 ± 0,151 MPa, sedangkan dengan surface treatment T-shaped diatoric holes 0,8 mm adalah 2,079 ± 0,261 MPa, 1,2 mm adalah 3,354 ± 0,564 MPa, dan 1,8 mm adalah 4,475 ± 0,639 MPa, dengan nilai p=0,0001 (p<0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan efek penambahan antara surface treatment dengan T-shaped diatoric holes 0,8 mm, 1,2 mm, dan 1,8 mm terhadap kekuatan ikatan geser gigi artifisial akrilik dengan basis gigi tiruan nilon termoplastik. Diameter 1,8 mm menghasilkan nilai kekuatan ikatan geser yang lebih besar.KATA KUNCI: surface treatment T-shaped diatoric holes, kekuatan ikatan geser, basis nilon termoplastik.
|
Surface treatment t-shaped diatoric holes, kekuatan ikatan geser, basis nilon termoplastik. | 2025-03-26 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/60428 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i1.60428 |
| 1672782 | #6191 | Pengalaman karies dan tingkat nyeri pada gigi akibat karies pada ibu hamilCaries experience and level of caries-induced dental pain in pregnant women | Pengalaman karies dan tingkat nyeri pada gigi akibat karies pada ibu hamilCaries experience and level of caries-induced dental pain in pregnant women |
Afifah, Melissa Yubiliana, Gilang Suwargiani, Anne Agustina |
Pendahuluan: Kehamilan merupakan keadaan ketika seorang ibu sedang mengandung janin di dalam perutnya. Selama masa kehamilan, ibu hamil biasanya mengalami beberapa perubahan pada tubuhnya, seperti perubahan psikologis dan hormonal. Perubahan tersebut dapat memicu munculnya penyakit gigi dan mulut seperti karies. Karies pada ibu hamil dapat menimbulkan rasa nyeri dengan intensitas yang berbeda. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengalaman karies dan tingkat nyeri pada gigi yang dirasakan oleh ibu hamil di Puskesmas Garuda. Metode: Jenis penelitian bersifat deskriptif cross-sectional. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel consecutive sampling. Penentuan jumlah sampel berdasarkan rumus Lemeshow sebanyak 50 ibu hamil. Pengukuran tingkat nyeri menggunakan Verbal Rating Scale (VRS) dengan bantuan Mnemonik PQRST yang terdiri dari Palliative, Quality, Regio, Subject dan Temporal dalam bentuk kuesioner serta pemeriksaan indeks DMF-T. Hasil: Hasil nilai DMF-T sebesar 7,26 dan masuk ke dalam kategori rendah serta persentase hasil tingkat nyeri pada ibu hamil menunjukkan sebanyak 30 orang (60%) tidak merasakan nyeri, sebanyak 11 orang (22%) merasakan nyeri ringan, sebanyak 8 orang (16%) merasakan nyeri sedang dan 1 orang (2%) merasakan nyeri berat. Simpulan: Pengalaman karies yang diukur melalui indeks DMF-T termasuk ke dalam kategori rendah dan ibu hamil tidak merasakan nyeri pada gigi akibat karies dengan kriteria keparahan rendah.Kata kunci: indeks dmf-t; karies; nyeri gigi; ibu hamil ABSTRACTIntroduction: Pregnancy is a state when a woman carries a foetus in her womb. During pregnancy, women usually experience several changes in their bodies, such as psychological and hormonal changes. These changes can lead to the emergence of oral diseases such as Caries. Caries in pregnant women can induce dental pain with different intensities. The purpose of this study was to determine the caries experience and the level of caries-induced dental pain in pregnant women at the Garuda Community Health Centre. Methods: A descriptive cross-sectional research with a consecutive sampling method. Determination of the number of samples was carried out with the Lemeshow formula, resulted in 50 pregnant women. Dental pain level was measured using the Verbal Rating Scale (VRS) with the assistance of PQRST mnemonics consisting of Palliative, Quality, Region, Subject and Temporal in the form of a questionnaire and examination of the DMF-T index. Results: The DMF-T value was 7.26, which was included in the low category. In addition, the percentage of the pain level of pregnant women were no pain in 30 individuals (60%), mild pain in 11 individuals (22%), moderate pain in 8 individuals (16%), and severe pain was only found in 1 pregnant woman (2%). Conclusions: The caries experience of pregnant women as measured by the DMF-T index, is in a low category, and most of them feel no caries-induced dental pain with low severity criteria.Keywords: DMF-T index; caries; dental pain; pregnant women | Pendahuluan: Kehamilan merupakan keadaan ketika seorang ibu sedang mengandung janin di dalam perutnya. Selama masa kehamilan, ibu hamil biasanya mengalami beberapa perubahan pada tubuhnya, seperti perubahan psikologis dan hormonal. Perubahan tersebut dapat memicu munculnya penyakit gigi dan mulut seperti karies. Karies pada ibu hamil dapat menimbulkan rasa nyeri dengan intensitas yang berbeda. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengalaman karies dan tingkat nyeri pada gigi yang dirasakan oleh ibu hamil di Puskesmas Garuda. Metode: Jenis penelitian bersifat deskriptif cross-sectional. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel consecutive sampling. Penentuan jumlah sampel berdasarkan rumus Lemeshow sebanyak 50 ibu hamil. Pengukuran tingkat nyeri menggunakan Verbal Rating Scale (VRS) dengan bantuan Mnemonik PQRST yang terdiri dari Palliative, Quality, Regio, Subject dan Temporal dalam bentuk kuesioner serta pemeriksaan indeks DMF-T. Hasil: Hasil nilai DMF-T sebesar 7,26 dan masuk ke dalam kategori rendah serta persentase hasil tingkat nyeri pada ibu hamil menunjukkan sebanyak 30 orang (60%) tidak merasakan nyeri, sebanyak 11 orang (22%) merasakan nyeri ringan, sebanyak 8 orang (16%) merasakan nyeri sedang dan 1 orang (2%) merasakan nyeri berat. Simpulan: Pengalaman karies yang diukur melalui indeks DMF-T termasuk ke dalam kategori rendah dan ibu hamil tidak merasakan nyeri pada gigi akibat karies dengan kriteria keparahan rendah.Kata kunci: indeks DMF-T; karies; nyeri gigi; ibu hamil ABSTRACTIntroduction: Pregnancy is a state when a woman carries a foetus in her womb. During pregnancy, women usually experience several changes in their bodies, such as psychological and hormonal changes. These changes can lead to the emergence of oral diseases such as Caries. Caries in pregnant women can induce dental pain with different intensities. The purpose of this study was to determine the caries experience and the level of caries-induced dental pain in pregnant women at the Garuda Community Health Centre. Methods: A descriptive cross-sectional research with a consecutive sampling method. Determination of the number of samples was carried out with the Lemeshow formula, resulted in 50 pregnant women. Dental pain level was measured using the Verbal Rating Scale (VRS) with the assistance of PQRST mnemonics consisting of Palliative, Quality, Region, Subject and Temporal in the form of a questionnaire and examination of the DMF-T index. Results: The DMF-T value was 7.26, which was included in the low category. In addition, the percentage of the pain level of pregnant women were no pain in 30 individuals (60%), mild pain in 11 individuals (22%), moderate pain in 8 individuals (16%), and severe pain was only found in 1 pregnant woman (2%). Conclusions: The caries experience of pregnant women as measured by the DMF-T index, is in a low category, and most of them feel no caries-induced dental pain with low severity criteria.Keywords: DMF-T index; caries; dental pain; pregnant women
|
indeks dmf-t; karies; nyeri gigi; ibu hamil; DMF-T index; caries; dental pain; pregnant women indeks dmf-t; karies; nyeri gigi; ibu hamil; DMF-T index; caries; dental pain; pregnant women | 2022-02-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28474 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i1.28474 |
| 1672781 | #6191 | Pengaruh lama perendaman resin akrilik heat cured pada ekstrak daun tembakau (nicotiana tabacum) 50% terhadap perubahan warnaEffect of resin soaking time on heat cured on 50% tobacco leaf extract (nicotiana tabacum) on color change |
Savitri, Regia Pramesti Aulia Naini, Amiyatun Parnaadji, Rahardyan Kristiana, Dewi |
ABSTRAKPendahuluan: Basis gigi tiruan adalah salah satu komponen penting pembuatan gigi tiruan, 95% terbuat dari resin akrilik heat cured. Basis gigi tiruan akan selalu berkontak dengan saliva dan menjadi tempat perlekatan mikroorganisme, sehingga dilakukan pembersihan gigi tiruan. Salah satu bahan alami yang dapat dimanfaatkan sebagai pembersih gigi tiruan adalah daun tembakau. Ekstrak daun tembakau memiliki daya antibakteri dan daya antijamur. Senyawa fenol yang berkontak dengan resin akrilik dapat berpenetrasi ke dalam bahan yang menyebabkan perubahan warna. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis efek perendaman resin akrilik heat cured dalam ekstrak daun tembakau terhadap perubahan warna. Metode: Jenis penelitian ini yaitu eksperimental laboratory dengan rancangan the pre test and post test control group design. Sampel resin akrilik berbentuk persegi ukuran 10x10x2,5 mm. Uji warna dilakukan menggunakan color reader Precise TCR-200. Hasil: Kelompok yang diberi perlakuan ekstrak daun tembakau 50% selama 16 dan 32 hari memiliki nilai perubahan warna yang lebih tinggi dibanding kelompok yang direndam aquades dan sodium hipoklorit 0,5%. Simpulan: Perendaman dalam ekstrak daun tembakau 50% memberikan nilai perubahan warna resin akrilik heat cured lebih tinggi dibandingkan perendaman dalam sodium hipoklorit 0,5% dan aquades. Semakin lama waktu perendaman, menyebabkan perubahan warna resin akrilik yang semakin besar.Kata kunci: Ekstrak daun tembakau 50%; resin akrilik; perubahan warna ABSTRACTIntroduction: Denture base is one of the important components of denture manufacture, 95% is made of heat cured acrylic resin. The denture base will always be in contact with saliva and become a place of attachment for microorganisms, so that denture cleaning is carried out. One of the natural ingredients that can be used as a denture cleaner is tobacco leaf. Tobacco leaves contain phenolic compounds, alkaloids, saponins, and essential oils. Tobacco leaf extract has antibacterial activity and antifungal activity. Phenol compounds in contact with acrylic resin can penetrate into the material and damage the polymer chain bondssuch as discoloration. The purpose of this study was to analyze the effect of immersion of heat cured acrylic resin in tobacco leaf extract on color changes. Methods: This type of research is an experimental laboratory with the pre test and post test control group design. The sample of acrylic resin is in the shape of a square measuring 10x10x2.5 mm. The color test using a Precise TCR-200 color reader. Results: The group that was treated with 50% tobacco leaf extract for 16 and 32 days had a higher color change value than the group that was soaked in distilled water and 0.5% sodium hypochlorite. Conclusion: Immersion in 50% tobacco leaf extract gave a higher color change value of heat cured acrylic resin than immersion in 0.5% sodium hypochlorite and distilled water. The longer the immersion time, the greater the color change of the acrylic resin.Keywords: 50% tobacco leaf extract; acrylic resin; color change
|
ekstrak daun tembakau 50%; resin akrilik; perubahan warna; 50% tobacco leaf extract; acrylic resin; color change | 2022-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40556 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i3.40556 |
| 1672780 | #6191 | Efek perilaku mengunyah terhadap Indeks Massa Tubuh |
Maharsi, Rio Guntur Sari, Kartika Indah Wihardja, Rosiliwati Soedjarwo, Indrati Nur'aeny, Nanan |
Pendahuluan: Perilaku mengunyah setiap orang memerlukan waktu mengunyah yang berbeda. Waktu mengunyah tersebut menggambarkan seberapa cepat seseorang untuk mengunyah. Semakin cepat mengunyah maka orang tersebut memiliki kecenderungan untuk mengalami kelebihan berat badan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku mengunyah (kecepatan mengunyah) terhadap berat badan. Metode: Empat puluh delapan orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran terpilih untuk mengikuti penelitian ini. Setiap subjek mengikuti pengukuran tinggi badan dan berat badan. Subjek penelitian diminta melakukan puasa 8 jam sebelumnya, tes makan dilakukan pada pagi hari pukul dengan porsi makanan seberat 430 gram. Pengukuran waktu makan dilakukan dengan menggunakan stopwatch. Data dianalisis dengan menggunakan uji korelasi rank Spearman. Hasil: terdapat hubungan yang bermakna (p<0,05; p=0,031) dengan koefisien korelasi positif (0,311) antara kecepatan pengunyahan dengan indeks massa tubuh. Simpulan: Korelasi kecepatan pengunyahan berbanding lurus dengan Indeks Massa Tubuh. Semakin tinggi kecepatan mengunyah maka semakin tinggi kecenderungan seseorang memiliki IMT di atas rata-rata.Kata kunci: Kecepatan pengunyahan, Indeks Massa Tubuh, obesitas
|
2018-10-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21434 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i2.21434 | |
| 1672779 | #6191 | Comparing antegonial angle and antegonial depth on panoramic radiographs between men and women: Observational study |
Purba, Theresia Alfi Widyaningrum, Rini Mudjosemedi, Munakhir Yanuaryska, Ryna Dwi |
ABSTRACTIntroduction: Personal identity can be determined using secondary identification methods such as sex estimation using radiograph. Mandibular morphology can be used for estimating sex. The mandible, as the largest and most robust bone in the human facial skeleton, provides valuable information for sex estimation. The antegonial region indicates sexual dimorphism in the mandible, which can be visually assessed on panoramic radiographs. This study aims to investigate potential differences in antegonial angles and depths between males and females, in addition to identify any differences in antegonial angle and depth on panoramic radiographs between the left and right sides. Methods: The study sample included 80 panoramic radiographs taken from 40 male and 40 female patients aged 20-60 years. The antegonial angle and depth were measured digitally on panoramic radiographs. The collected data was analyzed using an independent sample t-test. Results: In the male group, the mean antegonial angle was 155.36°±5.85, while in the female group, it was 159.07°±5.25. The mean value of antegonial depth in the male group was 2.07±0.69 mm and in the female group it was 1.75±0.59 mm. Independent sample t-test reveals a significant difference in antegonial angle and depth between the male and female groups (p<0.05) and no significant difference in both measurement between the left and right sides (p>0.05). Conclusion: There are differences in antegonial angles and depths between men and women, and no significant difference in antegonial angles and depths between the left and right sides on panoramic radiographs.KEY WORDS: radiograph, panoramic, mandible, antegonial angle, antegonial depthPerbandingan sudut antegonial dan kedalaman antegonial pada radiograf panoramik antara pria dan Wanita: Studi observasionalABSTRAKPendahuluan: Identifikasi individu dapat dilakukan dengan menggunakan metode identifikasi sekunder, salah satunya berupa determinasi jenis kelamin menggunakan radiograf. Identifikasi jenis kelamin dapat dilakukan dengan mengamati morfologi mandibula yang merupakan tulang terkuat dan terbesar di wajah manusia. Perbedaan mandibula antara pria dan wanita pada regio antegonial mandibula dapat diamati serta diukur pada radiograf panoramik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sudut dan kedalaman antegonial antara pria dan wanita serta untuk menentukan perbedaan sudut dan kedalaman antegonial antara sisi kiri dan kanan pada radiografi panoramik. Metode: Sampel penelitian terdiri dari 80 radiograf panoramik dari 40 pasien pria dan 40 wanita berusia 20-60 tahun. Pengukuran sudut antegonial dan kedalaman antegonial dilakukan secara digital pada radiografi panoramik. Independent sample t-test digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan diantara kedua variabel yang dibandingkan antara pria dan wanita sekaligus untuk mengetahui perbedaan antara pengukuran sisi kanan dan kiri. Hasil: Rerata sudut antegonial pada kelompok pria adalah 155,36° ± 5,85 sedangkan pada kelompok wanita adalah 159,07° ± 5,25. Rerata kedalaman antegonial pada kelompok pria adalah 2,07 ± 0,69 mm dan pada kelompok wanita adalah 1,75 ± 0,59 mm. Hasil independent sample t-test menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,05) pada sudut antegonial dan kedalaman antegonial antara kelompok pria dan wanita, serta tidak ada perbedaan yang signifikan pada sudut maupun kedalaman antegonial antara sisi kiri dan kanan (p>0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan sudut dan kedalaman antegonial antara pria dan wanita, serta tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada sudut dan kedalaman antegonial antara sisi kiri dan kanan pada radiografi panoramik.KATA KUNCI: Radiograf, panoramik, mandibula, sudut antegonial, kedalaman antegonial
|
Radiograf, panoramik, mandibula, sudut antegonial, kedalaman antegonial, radiograph, panoramic, mandible, antegonial angle, antegonial depth | 2023-11-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/48028 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i3.48028 |
| 1672778 | #6191 | Uji aktivitas antibakteri ekstrak brokoli (Brassica oleracea var. Italica) terhadap bakteri Streptococcus mutansAntibacterial activity test of broccoli (Brassica oleracea var. Italica) extract towards Streptococcus mutans |
Auliya, Suci Elianora, Dewi Kornialia, Kornialia |
Pendahuluan: Karies gigi merupakan penyakit yang sering dikeluhkan masyarakat di Indonesia dan penyebabnya multifaktor, salah satunya adalah bakteri yaitu bakteri Streptococcus mutans. Bahan alam dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri, diantaranya brokoli. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas antibakteri ekstrak bunga brokoli (Brassica oleracea var. Italica) terhadap bakteri Streptococcus mutans. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris secara in-vitro. Tanaman yang digunakan adalah brokoli segar sebanyak 14 kg yang didapat dari daerah Padang Laweh, Kota Padang Panjang Provinsi Sumatera Barat dan bagian yang digunakan adalah bunga brokoli. Metode ekstraksi pada penelitian ini dengan teknik maserasi. Ekstrak brokoli dimasukkan ke dalam tabung gelap 2,5 liter dan dituangkan etanol 96% sebanyak 6 liter dan didiamkan selama 5 hari. Konsentrasi ekstrak brokoli yang digunakan adalah 10%, 30 %, 50%, 70%, dan 90% dengan pelarut aquades. Preparat apus bakteri dibuat dengan cara, menaruh satu ose biak pada gelas obyek dan dilakukan pengamatan mikroskop. Pengujian efektivitas antibakteri dengan metode difusi. Pertumbuhan bakteri dan zona hambat yang terbentuk yang ditandai dengan adanya zona bening kemudian ukur dengan electronic digital caliper. Pengujian secara statistik dengan tingkat signifikansi 5% dengan menggunakan aplikasi statistik SPSS 22.0 dengan uji one-way ANOVA. Hasil: Rerata diameter daya hambat diperoleh pada konsentrasi 10% (1,42 mm), 30% (2,73 mm), 50% (5,83 mm), 70% (8,92 mm). Daya hambat tertinggi pada konsentrasi 90% yaitu 11,07 mm. Terdapat perbedaan signifikan terhadap daya hambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Simpulan: Semakin tinggi konsentrasi ekstrak brokoli (Brassica oleracea var. Italica) semakin efektif terhadap daya hambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans.Kata kunci: Diameter penghambatan, ekstrak brokoli, Streptococcus mutans, ABSTRACTIntroduction: Dental caries is a disease often complained in Indonesia with multifactorial causes, one of which is Streptococcus mutans bacteria. Natural remedies can be used as an antibacterial agent, including broccoli. The purpose of this study was to determine the antibacterial effectiveness of broccoli (Brassica oleracea var. Italica) extract towards Streptococcus mutans. Methods: This research was in-vitro experimental laboratory research. The plants used were 14 kg of fresh broccoli obtained from the Padang Laweh area, Padang Panjang City, West Sumatra Province, and the part used was the flowers. The extraction method used was maceration technique. Broccoli extract was put into a 2.5-litre dark tube, and as much as 6 litres of 96% ethanol was poured and allowed to stand for 5 days. The concentration of broccoli extract used was 10%, 30%, 50%, 70%, and 90% with distilled water. Bacterial lear preparation was made by placing a multiply on the glass of the object and observing the microscope; the effectiveness of antibacterial was tested by the diffusion method. Bacterial growth and inhibition zones formed was marked by the presence of clear zones and then measure with an electronic digital calliper. Statistical testing with a significance level of 5% using the statistical application SPSS 22.0 with one-way ANOVA test. Results: The mean diameter of inhibition was obtained at the concentrations of 10% (1.42 mm), 30% (2.73 mm), 50% (5.83 mm), 70% (8.92 mm). The highest inhibitory potential was found at a concentration of 90% (11.07 mm). There was a significant difference in the inhibitory of Streptococcus mutans growth. Conclusion: The higher the concentration of broccoli (Brassica oleracea var. Italica) extract, the more effective the inhibitory of Streptococcus mutans bacteria.Keywords: Inhibitory zone, broccoli extract, Streptococcus mutans,
|
Kata kunci: Diameter penghambatan, ekstrak brokoli, Streptococcus mutans. Keywords: Inhibitory zone, broccoli extract, Streptococcus mutans. | 2019-11-09 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/23818 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i2.23818 |
| 1672777 | #6191 | Association of interceptive orthodontic treatment need and pediatric sleep-related breathing disorder: Study cross-sectional |
Sasmita, Josephine Yusra, Yohana Marpaung, Carolina Damayanti |
ABSTRACTIntroduction: Early childhood malocclusion refers to the misalignment of teeth during the mixed dentition phase in children, which can affect breathing during sleep. One intervention for early childhood malocclusion is interceptive orthodontic treatment. This study aims to determine the relationship between the need for interceptive orthodontic treatment and Sleep-Related Breathing Disorders (SRBD) in children aged 8-11 years. Methods: This research is an analytic observational study with a cross-sectional design. The sample includes parents and their children aged 8-11 years (mixed dentition phase) who are attending Bukit Sion Elementary School. Inclusion criteria include parents with children aged 8-11 years in the mixed dentition phase at Bukit Sion Elementary School who are physically healthy. Exclusion criteria include children currently undergoing or having previously undergone orthodontic treatment and those who did not complete all required forms. Intraoral examinations were conducted on the children by dentists using the Indeks Kebutuhan Perawatan Ortodonti Interseptif (IKPO-I) form, while parents completed the Pediatric Sleep Questionnaire (PSQ). Results: A total of 76 students from Bukit Sion Elementary School, West Jakarta, participated in the study. The results of the examination using IKPO-I indicated that 47 children (61.8%) required interceptive orthodontic treatment. The results of the PSQ questionnaire revealed that 7 children (9.2%) were at high risk for SRBD. Statistical analysis with the Spearman correlation test showed no significant relationship between interceptive orthodontic treatment need and SRBD risk (p = 0.087; rs = 0.198). Conclusions: There is no correlation between interceptive orthodontic treatment need and pediatric SRBD in children aged 8-11 years. Further research employing more reliable measurement methods and tools is necessary to provide a clearer understanding of the relationship.KEY WORDS: Malocclusion, interceptive orthodontics, IKPO-I, mixed dentition, sleep-related breathing disorderKorelasi kebutuhan perawatan ortodonti interseptif dan Sleep-Related Breathing Disorder pada anak: Studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Maloklusi pada anak usia dini (early childhood malocclusion) adalah ketidaksejajaran gigi dalam periode gigi bercampur yang dapat memengaruhi pernapasan saat tidur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara kebutuhan perawatan ortodonti interseptif sebagai intervensi dini maloklusi, dan Sleep-Related Breathing Disorder (SRBD) pada anak usia 8-11 tahun. Metode: Jenis penelitian merupakan observasional analitik dengan desain potong lintang. Sampel dalam penelitian ini adalah orang tua dan anaknya yang berumur 8 – 11 tahun (periode gigi bercampur) dan bersekolah di SD Bukit Sion, Jakarta Barat. Kriteria inklusi dalam penelitian ini mencakup orang tua dan anaknya yang berusia 8-11 tahun dalam periode gigi bercampur di SD Bukit Sion, dan sehat secara fisik. Kriteria eksklusi mencakup subjek yang sedang atau pernah menjalani perawatan ortodonti serta yang tidak melengkapi seluruh formulir yang diperlukan. Pemeriksaan intra oral pada anak dilakukan oleh dokter gigi menggunakan formulir Indeks Kebutuhan Perawatan Ortodonti Interseptif (IKPO-I) dan pengisian Pediatric Sleep Questionnaire (PSQ) dilakukan oleh orang tua. Hasil: Subjek penelitian diperoleh sebanyak 76 murid SD Bukit Sion. Hasil pemeriksaan menggunakan IKPO-I diperoleh sebanyak 47 anak (61,8%) membutuhkan perawatan ortodonti interseptif. Hasil kuesioner PSQ diperoleh 7 anak (9,2%) berisiko tinggi memiliki SRBD. Analisis statistik dengan uji korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat korelasi yang signifikan antara kebutuhan perawatan ortodonti interseptif dan risiko SRBD (p = 0,087; rs = 0,198). Simpulan: Tidak terdapat korelasi antara kebutuhan perawatan ortodonti interseptif dan SRBD pada anak usia 8-11 tahun. Studi lanjut dengan metode dan alat pengukuran yang lebih akurat diperlukan untuk mengklarifikasi hubungan ini.KATA KUNCI: Maloklusi, ortodonti interseptif, IKPO-I, periode gigi bercampur, sleep-related breathing disorder
|
Maloklusi, ortodonti interseptif, IKPO-I, periode gigi bercampur, sleep-related breathing disorder; Malocclusion, interceptive orthodontics, IKPO-I, mixed dentition, sleep-related breathing disorder | 2025-06-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/61696 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i1.61696 |