Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↓ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1672636 #6191 Correlation between quality of service and patient satisfaction in panoramic radiography: Study observational Darmawan, Adam Eka
Widyaningrum, Rini
Priyono, Bambang
Hanindriyo, Lisdrianto
ABSTRACTIntroduction: The level of patient satisfaction is substantially influenced by the quality of medical and non-medical health services It is also influenced by the patient's expectations for health care and the officers’ behavior. Panoramic radiography is one of the main radiography services  utilized to support diagnosis, with the highest number of patients in the radiology department, so it is necessary to study the quality of service and its relationship to the level of patient satisfaction to attain optimal results. This study aims to determine the relationship between the quality of panoramic radiography services and the level of patient satisfaction at the dental hospital of Universitas Gadjah Mada. Methods: Sixty outpatients undergoing panoramic radiography at our dental hospital served as participants in the study. Data on service quality and satisfaction levels was collected at the same time and directly from respondents using a questionnaire without intervening with the subjects. The validity and reliability test resulted in 32 statement items to measure service quality, which were divided into five aspects, such as reliability, assurance, empathy, responsiveness, and tangible, and additionally 29 items to measure patient satisfaction divided into six aspects, namely courtesy of radiology staff, the quality of radiological service, the existence of good communication with a service provider and desk worker, the physical environment, and the privacy technique. All variables were measured using a Likert scale, and the assessment category was determined based on a criterion-referenced standard. The Spearman correlation test was used to verify the relationship between service quality and the level of patient satisfaction. Results: Based on the results of the Spearman correlation test, there was a significant relationship (p<0.05) with a correlation coefficient of 0.597 between service quality and patient satisfaction. Conclusions: The higher the quality of panoramic radiography services, the higher the level of patient satisfaction at the dental hospital of Universitas Gadjah Mada.KEY WORDS: service quality, patient satisfaction, radiography, panoramic.Hubungan antara kualitas pelayanan radiografi panoramik dengan tingkat kepuasan pasien: Studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Kualitas pelayanan kesehatan berupa pelayanan medis atau non medis memiliki pengaruh besar terhadap tingkat kepuasan pasien. Tingkat kepuasan pasien juga dipengaruhi oleh harapan pasien terhadap suatu pelayanan serta perilaku petugas. Radiografi panoramik merupakan salah satu pemeriksaan penunjang diagnosis yang utama serta pelayanan radiografi dengan jumlah pasien terbanyak di instalasi radiologi, sehingga penelitian mengenai kualitas pelayanan dan hubungannya terhadap tingkat kepuasan pasien perlu dilakukan untuk mewujudkan pelayanan yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kualitas pelayanan radiografi panoramik dengan tingkat kepuasan pasien. Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian 60 pasien yang melakukan pemeriksaan radiografi panoramik. Pengambilan data kualitas pelayanan dan tingkat kepuasan dilakukan pada waktu yang sama secara langsung dengan menggunakan kuesioner tanpa melakukan intervensi terhadap subjek penelitian. Dari hasil uji validitas dan uji reliabilitas kuesioner didapatkan 32 item pernyataan untuk mengukur kualitas pelayanan yang terbagi dalam lima aspek yaitu keandalan, jaminan, empati, daya tanggap, dan tampilan fisik serta 29 item pernyataan untuk mengukur tingkat kepuasan yang terbagi dalam enam aspek yaitu aksesibilitas, kesopanan, pelayanan, komunikasi, lingkungan fisik, dan teknik privasi. Kedua variabel penelitian tersebut diukur dengan skala likert dan kategori penilaian ditetapkan berdasarkan penilaian acuan patokan. Uji korelasi Spearman digunakan untuk menguji hipotesis adanya hubungan antara kualitas pelayanan radiografi panoramik dengan tingkat kepuasan pasien. Hasil: Hasil uji korelasi Spearman, terdapat hubungan yang signifikan (p<0,05) dengan nilai koefisien korelasi 0,597 antara kualitas pelayanan radiografi panoramik dengan tingkat kepuasan pasien. Simpulan: Semakin tinggi kualitas pelayanan radiografi panoramik maka semakin tinggi tingkat kepuasan pasien.KATA KUNCI: kualitas pelayanan, kepuasan pasien, radiografi, panoramik.
Kualitas pelayanan, kepuasan pasien, radiografi, panoramik, Service quality, patient satisfaction, radiography, panoramic. 2023-11-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/49745 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i3.49745
1672635 #6191 Pengaruh obat kumur herbal jeruk nipis (Citrus aurantifolia) terhadap penurunan indeks plak gigi muridThe effect of herbal mouthwash containing lime(Citrus aurantifolia) in decreasing of index plaque Gartika, Meirina
Dewi, Warta
Pramesti, Hening Tjaturina
Pendahuluan: Obat kumur herbal jeruk nipis dan klorheksidin dapat membantu menurunkan plak pada permukaan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektifitas obat kumur herbal dan klorheksidin terhadap penurunan nilai indeks plak. Metode: Jenis penelitian berupa eksperimental semu dengan metode intervensi. Populasi penelitian adalah 200 siswa kelas 1 dan 2 di MTs Ma’Arif Jatinangor Sumedang. Teknik pengambilan sampel melalui purposive sampling dan didapat 25 siswa yang memenuhi kriteria. Semua siswa menggunakan kedua obat kumur dengan periode washed out. Pemeriksaan indeks plak sebelum dan sesudah pemakaian obat kumur  menggunakan metode Oral Hyigiene Index Simplified (OHIS). Hasil: Sampai penelitian ini selesai, jumlah siswa yang diperiksa indeks plak sebelum dan sesudah penggunaan obat kumur hanya 14 orang karena selama penelitian beberapa siswa tidak dapat hadir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai indeks plak sebelum dan sesudah menggunakan obat kumur herbal terjadi penurunan dari 1,27 menjadi 1,09, sedangkan klorheksidin meningkat dari 1,14 menjadi 1,28. Anak-anak lebih memilih obat kumur klorheksidin  (64%) karena rasa yang lebih dapat diterima.  Simpulan: Obat kumur herbal jeruk nipis mempunyai efek lebih baik dalam menurunkan plak.
obat kumur, jeruk nipis, klorheksidin, indeks plak 2019-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/24074 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i2.24074
1672634 #6191 Chlorine dioxide mouthwash effect in reducing plaque accumulation: A randomized controlled trial with two-period crossover study | Chlorine dioxide mouthwash effect in reducing plaque accumulation: A randomized controlled trial with two-period crossover study Ahmad, Alifah Halimah
Gartika, Meirina
Pratidina, Naninda Berliana
ABSTRACTIntroduction: Dental plaque is one of the factors causing dental caries. Chemical plaque control is achieved through the use of mouthwash. Chlorhexidine (CHX) and chlorine dioxide (ClO2) mouth rinses help reduce plaque on tooth surface. This study aims to analyze the differences in plaque score reduction after using ClO2 and CHX mouthwash. Methods: This research utilized a randomized controlled crossover design with purposive sampling. The research was conducted on 30 students in grades 4-6 at SD Islam Bakti Asih Kabupaten Bandung, divided into two groups. Group I was instructed to rinse with ClO2 and Group II with 0.2% CHX, twice daily for three days. After a seven-day washout period, each group switched to the opposing mouthwash. Plaque scores were measured before and after mouth rinse use using the O’Leary index. Inter-rater reliability was tested using Intraclass Correlation Coefficient (ICC).  The result demonstrated that the ICC of all examiners was in good agreement (r=0.886, 95% confidence interval (CI)). Data were analyzed using paired t-tests and unpaired t-tests. Results: This research shows that plaque scores before and after using mouthwash decreased significantly (p<0.05). However, there was no significant difference in plaque scores reduction between ClO2 and CHX mouthwash (p=0.414). Conclusion: There was a difference in plaque scores before and after using ClO2 and CHX mouthwash, and there was no difference in reduced plaque scores between ClO2 and CHX mouthwash. ClO2 mouthwash could be an alternative additional treatment for reducing plaque in children.KEY WORDS: chlorine dioxide mouthwash, chlorhexidine, plaque index, O’Leary indexEfek  berkumur  menggunakan chlorine  dioxideterhadap  penurunan  akumulasi plak: studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Plak gigi merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya karies. Pengendalian plak secara kimiawi dilakukan menggunakan obat kumur. Obat kumur klorheksidin (CHX) dan chlorine dioxide (ClO2) membantu menurunkan plak pada permukaan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan penurunan skor plak setelah penggunaan obat kumur ClO2 dan CHX. Metode: Penelitian menggunakan studi eksperimental acak terkontrol dan menyilang dua periode dengan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Penelitian dilakukan pada 30 siswa di SD Islam Bakti Asih Kabupaten Bandung yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I diinstruksikan berkumur obat kumur ClO2 dan kelompok II diinstruksikan berkumur obat kumur CHX 0.2%, dua kali sehari selama tiga hari. setelah tujuh hari periode washed out, masing-masing kelompok menggunakan obat kumur yang berlawanan. Pengukuran skor plak dilakukan sebelum dan sesudah pemakaian obat kumur menggunakan indeks O’Leary. Uji reliabilitas antar rater menggunakan Intraclass Correlation Coefficient (ICC). Uji kesepakatan antar rater didapatkan nilai ICC termasuk kategori baik (r=0.886, 95% confidence interval (CI)). Pengolahan data menggunakan uji t berpasangan dan uji t tidak berpasangan. Hasil: Penelitian menunjukkan skor plak sebelum dan sesudah penggunaan obat kumur mengalami penurunan yang signifikan(p<0.05), namun tidak ada perbedaan penurunan skor plak yang signifikan antara penggunaan obat kumur ClO2 dan CHX (p=0.414). Simpulan: Terdapat perbedaan skor plak sebelum dan sesudah penggunaan dari obat kumur ClO2 dan CHX serta tidak terdapat perbedaan penurunan skor plak antara penggunaan obat kumur ClO2 dan CHX. Obat kumur ClO2 dapat menjadi alternatif perawatan tambahan dalam penurunan plak pada anak.  KATA KUNCI: obat kumur chlorine dioxide, klorheksidin, indeks plak, indeks O’Leary | ABSTRACTIntroduction: Dental plaque is one of the factors causing dental caries. Chemical plaque control is achieved through the use of mouthwash. Chlorhexidine (CHX) and chlorine dioxide (ClO2) mouth rinses help reduce plaque on tooth surface. This study aims to analyze the differences in plaque score reduction after using ClO2 and CHX mouthwash. Methods: This research utilized a randomized controlled crossover design with purposive sampling. The research was conducted on 30 students in grades 4-6 at SD Islam Bakti Asih Kabupaten Bandung, divided into two groups. Group I was instructed to rinse with ClO2 and Group II with 0.2% CHX, twice daily for three days. After a seven-day washout period, each group switched to the opposing mouthwash. Plaque scores were measured before and after mouth rinse use using the O’Leary index. Inter-rater reliability was tested using Intraclass Correlation Coefficient (ICC).  The result demonstrated that the ICC of all examiners was in good agreement (r=0.886, 95% confidence interval (CI)). Data were analyzed using paired t-tests and unpaired t-tests. Results: This research shows that plaque scores before and after using mouthwash decreased significantly (p<0.05). However, there was no significant difference in plaque scores reduction between ClO2 and CHX mouthwash (p=0.414). Conclusion: There was a difference in plaque scores before and after using ClO2 and CHX mouthwash, and there was no difference in reduced plaque scores between ClO2 and CHX mouthwash. ClO2 mouthwash could be an alternative additional treatment for reducing plaque in children.KEY WORDS: chlorine dioxide mouthwash, chlorhexidine, plaque index, O’Leary indexEfek  berkumur  menggunakan chlorine  dioxideterhadap  penurunan  akumulasi plak: studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Plak gigi merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya karies. Pengendalian plak secara kimiawi dilakukan menggunakan obat kumur. Obat kumur klorheksidin (CHX) dan chlorine dioxide (ClO2) membantu menurunkan plak pada permukaan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan penurunan skor plak setelah penggunaan obat kumur ClO2 dan CHX. Metode: Penelitian menggunakan studi eksperimental acak terkontrol dan menyilang dua periode dengan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Penelitian dilakukan pada 30 siswa di SD Islam Bakti Asih Kabupaten Bandung yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I diinstruksikan berkumur obat kumur ClO2 dan kelompok II diinstruksikan berkumur obat kumur CHX 0.2%, dua kali sehari selama tiga hari. setelah tujuh hari periode washed out, masing-masing kelompok menggunakan obat kumur yang berlawanan. Pengukuran skor plak dilakukan sebelum dan sesudah pemakaian obat kumur menggunakan indeks O’Leary. Uji reliabilitas antar rater menggunakan Intraclass Correlation Coefficient (ICC). Uji kesepakatan antar rater didapatkan nilai ICC termasuk kategori baik (r=0.886, 95% confidence interval (CI)). Pengolahan data menggunakan uji t berpasangan dan uji t tidak berpasangan. Hasil: Penelitian menunjukkan skor plak sebelum dan sesudah penggunaan obat kumur mengalami penurunan yang signifikan(p<0.05), namun tidak ada perbedaan penurunan skor plak yang signifikan antara penggunaan obat kumur ClO2 dan CHX (p=0.414). Simpulan: Terdapat perbedaan skor plak sebelum dan sesudah penggunaan dari obat kumur ClO2 dan CHX serta tidak terdapat perbedaan penurunan skor plak antara penggunaan obat kumur ClO2 dan CHX. Obat kumur ClO2 dapat menjadi alternatif perawatan tambahan dalam penurunan plak pada anak.  KATA KUNCI: obat kumur chlorine dioxide, klorheksidin, indeks plak, indeks O’Leary
obat kumur chlorine dioxide, klorheksidin, indeks plak, indeks O’Leary, chlorine dioxide mouthwash, chlorhexidine, plaque index, O’Leary index 2024-06-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/54132 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i2.54132
1672633 #6191 Korelasi usia kronologis dan pola tumbuh kembang gigi molar ketiga mandibula perempuan ditinjau dari radiograf panoramikThe correlation of chronological age and growth pattern of female mandibular third molar observed from panoramic radiographs Napitupulu, Magdalena
Sam, Belly
Pramanik, Farina
Pendahuluan: Tumbuh kembang manusia dapat dilihat dari usia kronologisnya, namun usia kronologis saja kadang tidak dapat digunakan untuk menilai tingkat maturasi, sehingga perlu ditentukan usia dental. Gigi menyediakan informasi untuk perkiraan usia yang memiliki peran penting dalam kedokteran gigi yaitu untuk menunjang diagnosis, rencana perawatan, serta prognosis. Penelitian ini menggunakan metode modifikasi Demirjian dinilai mulai tahap A-H karena kategorisasinya mudah. Tujuan penelitian untuk menganalisi korelasi usia kronologis dan pola tumbuh kembang gigi molar ketiga mandibula perempuan ditinjau dari radiograf panoramik. Metode: Jenis penelitian yang digunakan analitik korelasi dengan rancangan studi cross-sectional pada 78 sampel yang dilakukan dengan consecutive sampling. Data hasil penelitian diolah dengan analitik korelasi mengunakan uji rank-Spearman untuk menganalisis korelasi antara dua variabel. Hasil: Nilai korelasi usia kronologis dan pola tumbuh kembang gigi molar ketiga mandibula yang dihitung dengan menggunakan rumus korelasi rank-Spearman didapatkan sebesar 0,89. Nilai p pada penelitian ini adalah 1.13E-45 atau dapat dituliskan sebagai 0,0001<0,05. Simpulan: Terdapat hubungan searah antara usia kronologis dengan pola tumbuh kembang gigi molar ketiga mandibula perempuan ditinjau dari radiograf panoramik yaitu semakin bertambah usia kronologis maka semakin bertambah juga pola tumbuh kembang gigi molar ketiga mandibula perempuan.Kata kunci: Usia kronologis, estimasi usia, pola tumbuh kembang, metode modifikasi Demirjian. ABSTRACTIntroduction: Human growth and development can be seen from chronological age. However, mere chronological age sometimes cannot be used to assess the maturation level; thus, it is necessary to determine the dental age. Teeth provide information for estimating age, which has an important role in dentistry, namely, supporting diagnosis, treatment planning, and prognosis. This study used the Demirjian modification method, which assessment is starting from the A-H stage because the categorisation is convenient. This study was aimed to analyse the correlation between chronological age and growth patterns of female mandibular third molars in terms of panoramic radiographs. Methods: This research was correlation analytic with cross-sectional study design, conducted on 78 samples selected with consecutive sampling. The research data was analysed by an analytic correlation test using the Spearman rank test to analyse the correlation between two variables. Results: The correlation value of chronological age and the growth pattern of mandibular third molars calculated using the Spear-man rank correlation formula was 0.89. The p-value in this study was 1.13E-45, or it can be written as 0.0001<0.05. Conclusion: There is a unidirectional relationship between chronological age and female mandibular third molars’ growth and develop-ment pattern in terms of panoramic radiographs. The more chronological age increases, the more the growth pattern of female mandibular third molars.Keywords: Chronological age, age estimation, growth pattern, modified Demirjian method.
usia kronologis; estimasi usia; pola tumbuh kembang; metode modifikasi Demirjian; chronological age; age estimation; growth pattern; modified Demirjian method 2021-04-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28066 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i1.28066
1672632 #6191 The Effect of immersion provisional restorative material in turmeric acid solution on color: stability Study experimental Ilmi, Malikah Kautsar
Putranti, Dwi Tjahyaning
ABSTRACTIntroduction: A temporary bridge denture is a prosthesis designed to replace missing teeth temporarily until a permanent bridge is placed. The most commonly used material for temporary dentures are self-cured acrylic resin (RAS) and bis-acryl composite resin. The duration of use depends on the fabrication timeline of the permanent bridge denture. Color stability is a critical property of temporary denture materials. In Indonesia, many people regularly consume herbal beverages, including turmeric acid jamu, which contains turmeric as the main ingredient, and tamarind as an additive. Curcumin, the natural pigment in turmeric, along with the solution’s acidity, is suspected to affect the color stability of temporary denture materials. This study aimed to evaluate the effect of immersion in turmeric acid solution and compare its impact on the color stability of self-cured acrylic resin and bis-acryl. Methods: This study employed a laboratory-based experimental design with a pretest-posttest control group. Forty cylindrical samples (diameter: 15 ± 0.5 mm, thickness: 2 ± 0.5 mm) were immersed in a turmeric acid solution, while the control group was immersed in artificial saliva. Color stability was assessed using a digital colorimeter. Data were analyzed using one-Way ANOVA and Least Significant Difference (LSD) tests.  Results: The mean color change (ΔE) values for self cured acrylic resin after immersion in turmeric acid solution were 29.92 ± 1.75 (4 hours 40 minutes), 37.32 ± 3.73 (14 hours), and 43.18 ± 2.05 (28 hours). For bis-acryl the respective ΔE values were 44.26 ± 3.93, 51.29 ± 1.67, and 53.27 ± 2.09, with a p-value = 0.0001 (p < 0.05). Conclusion: Immersion in turmeric acid solution resulted in better color stability for RAS provisional bridge materials compared to bis-acryl.KEY WORDS: Color Stability, Immersion, Provisional Restorative Material, Turmeric Acid.Efek perendaman bahan gigi tiruan jembatan sementara dalam larutan kunyit asam terhadap stabilitas warna: Studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Gigi tiruan jembatan sementara merupakan gigi tiruan yang bertujuan untuk menggantikan kehilangan gigi sementara sampai gigi tiruan jembatan permanen dipasang. Bahan gigi tiruan sementara yang paling sering digunakan adalah resin akrilik swapolimerisasi (RAS) dan bis-acryl. Waktu pemakaian sangat bergantung pada prosedur pembuatan gigi tiruan jembatan permanen. Stabilitas warna adalah karakteristik yang sangat penting pada bahan gigi tiruan jembatan sementara. Masyarakat Indonesia gemar mengonsumsi jamu salah satunya adalah jamu kunyit asam. Bahan utama dari jamu ini adalah kunyit dengan bahan tambahan yaitu asam jawa. Zat warna kurkumin dalam kunyit dan zat asam dikhawatirkan dapat memengaruhi stabilitas warna pada bahan gigi tiruan jembatan sementara. Tujuan penelitian untuk menganalisis efek perendaman dan perbedaan pengaruh perendaman bahan gigi tiruan jembatan sementara resin akrilik swapolimerisasi dan bis-acryl terhadap stabilitas warna. Metode: Rancangan penelitian adalah eksperimental laboratoris pretest & post-test control group design dengan 40 sampel berbentuk silindris dengan ukuran diameter 15 ± 0,5 mm dan ketebalan 2 ± 0,5 mm dalam larutan kunyit asam dan saliva buatan sebagai kelompok kontrol. Stabilitas warna sampel kemudian diuji menggunakan alat uji warna digital colorimeter. Data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA dan uji LSD (Least Significant Difference). Hasil: Nilai rerata stabilitas warna bahan gigi tiruan jembatan sementara resin akrilik swapolimerisasi setelah dilakukan perendaman dalam larutan kunyit asam selama 4 jam 40 menit = ΔE 29,92 ± 1,75, selama 14 jam = ΔE 37,32 ± 3,73 dan 28 jam = ΔE 43,18 ± 2,05 dan perendaman bis-acryl asam selama 4 jam 40 menit = ΔE 44,26 ± 3,93 selama 14 jam = 51,29 ± 1,67 dan 28 jam = ΔE 53,27 ± 2,09  dengan nilai p = 0,0001 (p < 0,05). Simpulan: Perendaman larutan kunyit asam pada bahan gigi tiruan jembatan sementara RAS memiliki stabilitas warna yang lebih baik dibandingkan dengan bis-acryl.KATA KUNCI:  gigi tiruan jembatan sementara, kunyit asam, perendaman, stabilitas warna
Gigi Tiruan Jembatan Sementara, Kunyit Asam, Perendaman, Stabilitas Warna; Color Stability, Immersion, Provisional Restorative Material, Turmeric Acid. 2025-06-27 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/61374 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i1.61374
1672631 #6191 Prevalence of bruxism in children with autism spectrum disorder at the biruku foundation in bandung city: study descriptive Kholid, Ittaqi Tafuzi
elih, Elih
Sasmita, Inne Suherna
Hasyimi, Ananto Ali
ABSTRACTIntroduction: Autism Spectrum Disorder (ASD) is a serious problem in the field of child psychiatry. Bruxism is a sleep disorder or parasomnia that is more common than sleepwalking and nightmares in ASD children. The American Academy of Sleep Medicine describes bruxism as repetitive jaw muscle activity characterized by clenching or grinding of the teeth and/or pushing of the mandible. The impact of bruxism that are carried out continuously are sensitive teeth due to enamel erosion, muscle pain and TMJ pain. Which negatively affect the dental and oral health of ASD Children. The purpose of this study was to describe the prevalence of bruxism in order to be able to carry out early treatment and prevention. Methods: This study was cross sectional descriptive, and used a total sampling method with 24 respondents, each of whom would later fill out a bruxism questionnaire via online form. Data were processed and analyzed using 3 categories of bruxism and presented in tabular form. Results: There was no Category 1 respondent - who experienced all of the bruxism symptoms. The results showed that 9 respondents were Category 2 which means they had several bruxism symptoms and needed further clinical examination, while 15 respondents were Category 3 which means they did not show any symptoms of bruxism. Conclusions: Most of the children of the Biruku Foundation GSA Bandung City did not show symptoms of bruxism.KEY WORDS: bruxism, autism, spectrum disorder, child, prevalencePrevalensi kebiasaan buruk bruksisme pada anak dengan gangguan spektrum autisme: Studi deskriptifABSTRAKPendahuluan: Gangguan Spektrum Autisme (GSA) merupakan masalah serius pada bidang psikiatri anak. Bruksisme merupakan gangguan tidur atau parasomnia yang lebih sering terjadi pada anak GSA dibandingkan sleepwalking dan mimpi buruk. American Academy of Sleep Medicine mendeskripsikan bruksisme sebagai aktivitas otot rahang berulang yang ditandai dengan mengepalkan atau menggiling gigi dan/atau mendorong mandibula. Dampak kebiasaan buruk yang dilakukan terus menerus adalah gigi menjadi sensitif dikarenakan terjadi pengikisan email, nyeri otot dan nyeri TMJ. Hal tersebut tentunya akan berdampak buruk untuk Kesehatan gigi dan mulut Anak GSA. Tujuan penelitian mengetahui prevalensi kebiasaan buruk bruksisme pada anak dengan gangguan spektrum autisme. Metode: Jenis penelitian deskriptif cross sectional. Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan metode total sampling sebanyak  24 orang, Pengumpulan data menggunakan kuesioner bruksisme melalui online form. Data diolah dan dianalisis menggunakan 3 kategori bruksisme dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil:  Tidak ada responden yang masuk dalam kategori 1 yakni responden mengalami seluruh gejala bruksisme. Sebanyak 9 orang termasuk dalam kategori 2 yakni anak tersebut mengalami beberapa gejala bruksisme dan perlu dilakukan pemeriksaan klinis lebih lanjut dan 15 anak masuk dalam kategori 3 yang artinya ke-15 anak tersebut tidak mengalami tanda-tanda bruksisme. Simpulan: Sebagian besar anak GSA Yayasan Biruku Kota Bandung tidak menunjukkan gejala bruksisme.KATA KUNCI: bruksisme, gangguan spektrum, autisme, anak, prevalensi
bruksisme, gangguan spektrum, autisme, anak, prevalensi, bruxism, autism, spectrum disorder, child, prevalence 2023-08-10 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/34330 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i2.34330
1672630 #6191 Analysis of patient service time in the department of pediatric dentistry of Baiturrahmah dental and oral education hospital: Study cross-sectional Oktaviani, Oktaviani
Surya, Leny Sang
ABSTRACTIntroduction: Dental and Oral Teaching Hospitals have a dual role as healthcare providers and educational institutions, requiring efficient and high-quality services. Service time is a key indicator of service quality, particularly in pediatric dental care, which involves unique psychological and behavioral characteristics. This study aims to analyze pediatric patient service time and identify factors influencing its duration at the Department of Pediatric Dentistry, RSGMP Baiturrahmah Padang. Methods: This study employed a mixed-method design. The quantitative component used a cross-sectional approach with total sampling of 100 pediatric patients, and the data were analyzed descriptively using the variables man, method, material, machine, and money. The qualitative component was conducted through in-depth interviews with 6 key informants selected using purposive sampling, focusing on the duration of service time, and with data analyzed using thematic analysis.  Results: The average service time was 96.09 minutes per patient, with most services conducted within the 60–120 minutes range. Factors influencing service duration included human resources, methods and workflow, facilities and infrastructure, medical equipment condition, and patient related-factors, particularly children’s behavior. Conclusion: Pediatric dental service time has not yet achieved optimal efficiency. Improvements in service systems, the establishment of standardized service time benchmarks, and enhanced faciity and human resource readiness are needed to improve service efficiency and quality.KEYWORDS: service time, pediatric dentistry, service quality, service efficiencyAnalisis waktu pelayanan pasien di departemen kedokteran gigi anak rumah sakit gigi dan mulut pendidikan: Studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan (RSGMP) memiliki peran ganda sebagai institusi pelayanan dan pendidikan, sehingga dituntut memberikan pelayanan yang bermutu dan efisien. Waktu pelayanan merupakan indikator penting mutu pelayanan, khususnya pada kedokteran gigi anak yang memiliki karakteristik psikologis dan perilaku khusus. Tujuan penelitian ini bertujuan menganalisis waktu pelayanan pasien anak dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi lamanya waktu pelayanan di Departemen Kedokteran Gigi Anak (KGA) Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan (RSGMP). Metode: Penelitian ini menggunakan desain mix method. Pendekatan kuantitatif menggunakan desain cross-sectional dengan total sampling terhadap 100 pasien anak, dianalisis secara deskriptif dengan variabel man, method, material, machine, money. Pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 6 informan kunci yang dipilih secara purposive sampling, dengan variabel lama waktu pelayanan, serta dengan analisis tematik. Hasil: Rerata waktu pelayanan pasien anak adalah 96,09 menit per pasien, dengan mayoritas berada pada rentang 60–120 menit. Faktor yang memengaruhi waktu pelayanan meliputi sumber daya manusia, metode dan alur kerja, ketersediaan sarana dan prasarana, kondisi peralatan medis, serta karakteristik pasien anak. Simpulan: Waktu pelayanan di Departemen KGA RSGMP Baiturrahmah Padang belum sepenuhnya efisien. Diperlukan perbaikan sistem pelayanan, penetapan standar waktu pelayanan, serta peningkatan sarana dan kesiapan sumber daya manusia.KATA KUNCI: waktu pelayanan, kedokteran gigi anak, mutu pelayanan, efisiensi pelayanan.
service time, pediatric dentistry, service quality, service efficiency,waktu pelayanan, kedokteran gigi anak, mutu pelayanan, efisiensi pelayanan. 2026-02-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/69506 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v10i1.69506
1672629 #6191 Hubungan oral hygiene dengan Coated Tongue pada ibu hamil Rifda, Nabilla
Hidayat, Wahyu
Dewi, Tenny Setiani
Pendahuluan: Kehamilan adalah suatu kondisi yang dapat mempengaruhi perubahan fisiologis, perubahan pola makan, dan perubahan psikologis. Hal ini secara tidak langsung dapat mempengaruhi status kebersihan mulut dan selaput lidah. Sebagian besar wanita hamil ditemukan menderita beberapa penyakit mulut yang diketahui terkait dengan kehamilan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara oral hygiene dengan coated tongue pada ibu hamil di Puskesmas Garuda Bandung. Metode: Jenis penelitian analitik korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel yang memenuhi kriteria adalah sebanyak 69 orang yang diperoleh dengan teknik purposive sampling. Data diperoleh dengan menghitung Oral Hygiene Index Simplified dan Coated Tongue Index, kemudian data dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Spearman menggunakan aplikasi MegaStat. Hasil: Hubungan antara oral hygiene dan coated tongue pada kelompok ibu hamil di Puskesmas Garuda Bandung, mempunyai nilai korelasinya (rs) sebesar 0,259 menunjukkan Nilai signifikan secara statistik dengan p-value sebesar 0,00158567 (p<0,005). Simpulan: Terdapat hubungan antara oral hygiene dan coated tongue pada kelompok ibu hamil, yang berarti ketika kebersihan rongga mulut buruk, area selaput putih (coated tongue) pada dorsal lidah semakin besar.Kata kunci: Oral hygiene, coated tongue, kehamilan
Oral hygiene, coated tongue, kehamilan 2018-03-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22312 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i2.22312
1672628 #6191 Relationship of dentist instructions, patient knowledge and experience to the level of compliance of patients after tooth extraction: Study cross-sectional | The correlation of dentist instructions, patient’s knowledge and experience towardsthe level of compliance of patients after tooth extraction: a cross-sectional study Adhani, Rosihan
Fitrian, Muhammad Soni
Nurrahman, Tri
Sari, Galuh Dwinta
Wardani, Ika Kusuma
ABSTRACTIntroduction: Cases of tooth decay in Banjarmasin City are 37.62% and the tooth extraction rate is 9.42%. The incidence of post-extraction complications can occur in 16.8% of crown fractures, 13.6% of root fractures, 4% of dry sockets, 1.6% of bleeding, and 1.6% of pain. Tooth extraction is the act of removing teeth and tooth roots from their sockets which involves hard tissue and soft tissue in the oral cavity. One important factor that influences the wound healing process after tooth extraction is the patient's compliance with the instructions given by the dentist. Objective: This study analyzes the relationship between dentist instructions, patient knowledge and patient experience on the level of patient compliance after tooth extraction. Method: The research used analytical methods with a cross sectional approach with a non-probability sampling technique, namely purposive sampling with a sample size of 33 people who met the criteria, namely post-tooth extraction patients at the Oral Surgery Dental Clinic, Gusti Hasan Aman Dental and Oral Hospital, aged 18-60 years. maximum tooth extraction in the last 3 months, patients extracted using the intraalveolar method, patients without special needs, and patients without systemic disease using a questionnaire and the data results will be analyzed using SPSS with a correlative analytical method. Results: Dentist instructions and patient knowledge were related to the level of patient satisfaction while experience had no relationship with the level of patient compliance. Conclusion: Complications and disturbances in wound healing can be minimized by increasing the effectiveness of the process for patients.KEY WORDS: Dentist's instructions, knowledge, experience, level of compliance, complication.Hubungan instruksi dokter gigi, pengetahuan dan pengalaman pasien terhadap tingkat kepatuhan pasien pasca ekstraksi gigi : Study cross-sectionalABSTRAK Pendahuluan: Kasus kerusakan gigi di Kota Banjarmasin sebesar 37,62% dan angka ekstraksi gigi yaitu 9,42%. Kejadian komplikasi pasca ekstraksi dapat terjadi 16,8% fraktur mahkota, 13,6% fraktur akar, 4% dry socket, 1,6% perdarahan, dan rasa sakit sebesar 1,6%. Ekstraksi gigi merupakan tindakan pengambilan gigi dan akar gigi dari soketnya yang melibatkan jaringan keras dan jaringan lunak dalam rongga mulut. Salah satu faktor penting yang memengaruhi proses penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi yaitu kepatuhan pasien terhadap instruksi yang diberikan oleh dokter gigi. Tujuan: Penelitian ini menganalisis hubungan instruksi dokter gigi, pengetahuan pasien, dan pengalaman pasien terhadap tingkat kepatuhan pasien pasca ekstraksi gigi. Metode: Penelitian menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional dengan teknik non-probability sampling yaitu purposive sampling dengan jumlah sampel 33 orang yang memenuhi kriteria yaitu pasien pasca ekstraksi gigi di Poli Gigi Bedah Mulut Rumah Sakit Gigi dan Mulut Gusti Hasan Aman usia 18-60 tahun maksimal esktraksi gigi 3 bulan terakhir, pasien yang diekstraksi dengan metode intraalveolar, pasien tanpa kebutuhan khusus, dan pasien tanpa penyakit sistemik menggunakan kuisioner dan hasil datanya akan dianalisis dengan menggunakan SPSS dengan motede analitik korelatif. Hasil: Instruksi dokter gigi dan pengetahuan pasien berhubungan dengan tingkat kepatuhan pasien sedangkan pengalaman tidak memiliki hubungan dengan tingkat kepatuhan pasien. Simpulan: Komplikasi dan gangguan penyembuhan luka dapat diminimalisir dengan meningkatkan efektifitas instruksi kepada pasien.  KATA KUNCI: Instruksi dokter gigi, pengetahuan, pengalaman, tingkat kepatuhan, komplikasi. | ABSTRACTIntroduction: The incidence of tooth decay in Banjarmasin City is 37.62% and the rate of tooth extraction is 9.42%. Tooth extraction is removing the whole tooth or root from its socket which involves hard tissue and soft tissue in the oral cavity. One important factor that influences the wound healing process after tooth extraction is the patient's compliance with the instructions given by the dentist. This study aimed to analyze the correlation between dentist instructions, patient’s knowledge, and patient’s experience on the level of patient’s compliance after tooth extraction. Methods: The study used an analytical method with a cross sectional approach with a non-probability sampling technique, purposive sampling with a total sample of 33 people. The inclusion criteria were: post-tooth extraction patients at the Oral Surgery Dental Clinic of Gusti Hasan Aman Dental and Oral Hospital, aged 18-60 years, maximum tooth extraction in the last 3 months, patients extracted with the intra alveolar method, and patients without systemic diseases. A questionnaire was used and the data results were analyzed using SPSS with correlative analytical methods. Results: The instructions given by the dentist were very clear by 32 patients (97%); the knowledge of the patients was very good, as many as 31 patients (93.9%); the patients had very good experience, as many as 26 patients (78.9%), and the level of patient compliance with post-extraction instructions was from 33 people (100%). There is a relationship between dentist instructions on the level of patient compliance with a correlation value of 0.053 (strong relationship level) and there is a relationship between patient knowledge and patient compliance with a correlation value of 0.514 (strong relationship level). Conclusion: Dentist instructions and patient’s knowledge are related to the level of patient compliance while experience has no correlation with the level of patient compliance. Complications and impaired wound healing can be minimized by increasing the effectiveness of instructions to patients.KEY WORDS: Dentist's instructions, knowledge, experience, level of compliance, complication.Korelasi instruksi dokter gigi, pengetahuan dan pengalaman pasien terhadap tingkat kepatuhan pasien pasca ekstraksi gigi: Studi cross-sectionalABSTRAK Pendahuluan: Kasus kerusakan gigi di Kota Banjarmasin sebesar 37,62% dan angka ekstraksi gigi yaitu 9,42%. Ekstraksi gigi merupakan tindakan pencabutan gigi utuh atau akar gigi dari soketnya yang melibatkan jaringan keras dan jaringan lunak dalam rongga mulut. Salah satu faktor penting yang memengaruhi proses penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi yaitu kepatuhan pasien terhadap instruksi yang diberikan oleh dokter gigi. Tujuan penelitian ini menganalisis korelasi instruksi dokter gigi, pengetahuan pasien, dan pengalaman pasien terhadap tingkat kepatuhan pasien pasca ekstraksi gigi. Metode: Penelitian menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional dengan teknik non-probability sampling, purposive sampling dengan jumlah sampel 33 orang. Kriteria inklusi yaitu pasien pasca ekstraksi gigi di Poli Gigi Bedah Mulut Rumah Sakit Gigi dan Mulut Gusti Hasan Aman usia 18-60 tahun, maksimal ekstraksi gigi 3 bulan terakhir, pasien yang diekstraksi dengan metode intra alveolar, dan pasien tanpa penyakit sistemik. Alat penelitian adalah kuesioner dan hasil datanya dianalisis dengan menggunakan SPSS dengan metode analitik korelatif. Hasil: Instruksi yang diberikan dokter gigi sangat jelas diterima oleh 32 pasien (97%). Pengetahuan yang dimiliki pasien sangat baik sebanyak 31 pasien (93,9%), pasien mempunyai pengalaman yang sangat baik sebanyak 26 pasien (78,9%), dan tingkat kepatuhan pasien terhadap instruksi pasca ekstraksi sebanyak 33 orang (100%). Terdapat hubungan antara  instruksi dokter gigi terhadap tingkat kepatuhan pasien dengan nilai korelasi 0,053 (tingkat hubungan yang kuat) dan terdapat hubungan antara pengetahuan pasien terhadap tingkat kepatuhan pasien dengan nilai korelasi 0,514 (tingkat hubungan kuat). Simpulan: Instruksi dokter gigi dan pengetahuan pasien berhubungan dengan tingkat kepatuhan pasien sedangkan pengalaman tidak memiliki hubungan dengan tingkat kepatuhan pasien. Komplikasi dan gangguan penyembuhan luka dapat diminimalisir dengan meningkatkan efektifitas instruksi kepada pasien.   KATA KUNCI: instruksi dokter gigi, pengetahuan, pengalaman, tingkat kepatuhan, komplikasi.
Instruksi dokter gigi, pengetahuan, pengalaman, tingkat kepatuhan, komplikasi, Dentist's instructions, knowledge, experience, level of compliance, complication. instruksi dokter gigi, pengetahuan, pengalaman, tingkat kepatuhan, komplikasi. 2024-03-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/50682 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i1.50682
1672627 #6191 Kepuasan pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) terhadap kualitas dua fasilitas pelayanan kesehatan gigiSatisfaction of Healthcare and Social Security Agency patients on the quality of two dental health services Anggia, Popy
Yandi, Satria
Mahata, Intan Batura Endo
Anggraini, Elen
Pendahuluan: Layanan kesehatan adalah salah satu hak yang diperlukan bagi masyarakat, sehingga perlu disediakan dan diatur oleh pemerintah. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) adalah badan pemerintah yang berfungsi untuk mengatur program kesehatan untuk seluruh rakyat Indonesia. Salah satu indikator untuk mengevaluasi kualitas layanan kesehatan adalah menentukan kepuasan pasien terhadap kualitas layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kepuasan pasien BPJS Kesehatan terhadap kualitas layanan kesehatan gigi di Poli Gigi pada Klinik Zamrud dan Klinik Asyifa Medika Padang. Metode: Desain penelitian adalah cross-sectional dengan populasi pasien BPJS Kesehatan yang memenuhi kriteria inklusi, dan mengunjungi klinik selama Februari 2018. Kuesioner digunakan sebagai alat pengumpulan data. Analisis data univariat disajikan dalam diagram dan tabel. Analisis data bivariat dilakukan menggunakan uji chi-square dengan nilai signifikansi α=0,05. Hasil: Hasil analisis di Klinik Zamrud menunjukkan bahwa dimensi tampilan fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati (p=0,182) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan pasien BPJS Kesehatan. Variabel tampilan fisik (p = 0,226) dan jaminan (p=0,118) tidak mempengaruhi kepuasan pasien; variabel kehandalan (p=0,048), daya tanggap (p=0,003), dan empati (p=0,007), mempengaruhi secara signifikan terhadap kepuasan pasien BPJS Kesehatan. Conclusions: Tidak terdapat hubungan antara kepuasan pasien BPJS di klinik pratama Zamrud dengan tampilan fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati dan tidak terdapat hubungan antara tingkat kepuasan pasien BPJS di klinik Assyifa Medika terhadap dimensi pelayanan di poli gigi yaitu tampilan fisik dan jaminan, namun terdapat hubungan pada dimensi  kehandalan, daya tanggap, dan empati.Kata kunci: Kualitas pelayanan, kepuasan, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan). ABSTRACTIntroduction: Health services is one of the necessary rights for society, needs to be provided and arranged by the government. Healthcare and Social Security Agency (BPJS Kesehatan) is a government body that functioned to organise health programs for all Indonesians. One indicator to evaluate the quality of health service is to determine the satisfaction of patient on the quality of health services.  This study was aimed to identify the satisfaction of Healthcare and Social Security Agency patients on the quality of dental health service at Dental Polyclinic of Zamrud and Asyifa Medika Clinic Padang. Methods: The research design was cross-sectional with the population of Healthcare and Social Security Agency patient who met the inclusion criteria, and visited the clinic during February 2018. A questionnaire was used for data collection tool. Univariate data analysis was presented with diagrams and tables. Bivariate data analysis was performed using the chi-square test with a significance value of α = 0.05. Results: The results of the analysis in Zamrud Clinic showed a dimension of tangibility, reliability, responsibility, assurance, and empathy (p = 0.182) not affected significantly to the satisfaction of Healthcare and Social Security Agency patients. Variable of tangibility (p = 0.226) and assurance (p = 0.118) was not affected the patients’ satisfaction; variable of reliability (p = 0.048), responsibility (p = 0.003), and empathy (p = 0.007), however, were affected significantly towards the Healthcare and Social Security Agency patients’ satisfaction. Conclusion: There is no relationship between the Healthcare and Social Security Agency patients’ satisfaction in the Zamrud Pratama clinic with tangibility, reliability, responsiveness, assurance, and empathy. Also, there is no relationship between the level of Healthcare and Social Security Agency patients’ satisfaction in Assyifa Medika clinics to the dimensions of service at the dental clinic, such as tangibility and assurance. Still, there is a relationship to the dimensions of reliability, responsibility, and empathy. Keywords: Service quality, satisfaction, Healthcare and Social Security Agency.
Kualitas pelayanan, kepuasan, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan), service quality, satisfaction, Healthcare and Social Security Agency. 2020-04-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/25718 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v4i1.25718
1672626 #6191 Sinus lifting technique on patient with maxillary sinus septa: Systematic review Nurunnisa, Hanifa Rayna
Hardianto, Andri
Riawan, Lucky
ABSTRACT Introduction: The sinus lifting procedure is a standard procedure performed in the atrophic posterior maxillary region prior to dental implants placement, with sinus membrane perforation as one of the complications that can occur due to the presence of maxillary sinus septa. The aim of this study is to explore the latest techniques and modifications of sinus lifting available for patients with maxillary sinus septa. Methods: This study is a systematic review based on the Patient or Problem, Intervention, Control or Comparison, and Outcome (PICO) framework and follows the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines. Article searches were conducted in three databases and one academic search engine: PubMed, Science Direct, CrossRef, and Google Scholar using specific keywords and inclusion criteria. Results: A total of 12 articles met the criteria for a review, describing several sinus lifting techniques and their modifications for patients with maxillary sinus septa. The lateral window approach is the basic technique commonly used. However, alternative techniques include the lateral window approach using a surgical guide, the lateral window approach with the floating septum technique, the single window palatal approach, and the transcrestal approach assisted by hydraulic devices. Conclusion: The lateral window approach for sinus lifting is the recommended and most commonly used technique for surgical intervention in patients with maxillary sinus septa, yielding predictable outcomes. KEY WORDS: Sinus lifting technique, sinus lifting modification, maxillary sinus septa, Implant dentalTeknik sinus lifting pada pasien dengan septa sinus maksilaris: systematic reviewABSTRAKPendahuluan: Prosedur sinus lifting merupakan prosedur standar yang dilakukan di regio posterior maksila atrofi sebelum penempatan implan gigi, dengan perforasi membran sinus sebagai salah satu komplikasi yang dapat terjadi akibat keberadaan septa sinus maksilaris. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui teknik dan modifikasi terbaru dari sinus lifting yang tersedia untuk pasien dengan septa sinus maksilaris. Metode: Penelitian ini merupakan tinjauan sistematis yang mengacu pada kerangka Patient or Problem, Intervention, Control or Comparison, and Outcome (PICO) dan mengikuti pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Pencarian artikel dilakukan pada tiga database dan satu academic search engine, yaitu PubMed, Science Direct, CrossRef, dan Google Scholar, menggunakan kata kunci dan kriteria inklusi. Hasil: Sebanyak dua belas artikel memenuhi kriteria untuk dilakukan review yang menggambarkan beberapa teknik sinus lifting dan modifikasinya yang dapat digunakan dalam menangani pasien dengan septa sinus maksilaris. Pendekatan lateral window adalah teknik dasar yang umum digunakan. Namun, teknik alternatif mencakup pendekatan lateral window menggunakan panduan bedah, pendekatan lateral window dengan teknik floating septum, pendekatan single window palatal, dan pendekatan transcrestal yang dibantu oleh perangkat hidrolik merupakan alternatif lain yang dapat digunakan dalam prosedur sinus lifting pada pasien septa sinus maksilaris. Simpulan: Pendekatan lateral window untuk sinus lifting adalah teknik yang direkomendasikan dan paling umum digunakan untuk pendekatan bedah pada pasien yang memiliki septa sinus maksilaris, dengan hasil yang dapat diprediksi. KATA KUNCI: teknik sinus lifting, modifikasi sinus lifting, septa sinus maksilaris, implan dental
teknik sinus lift, modifikasi sinus lift, septa sinus maksilaris 2024-11-08 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/55192 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i3.55192
1672625 #6191 Perbedaan pelepasan ion nikel kawat ortodonti stainless steel yang direndam dalam obat kumur ekstrak buah mengkudu (Morinda citrifolia L.Differences of the nickel ions release of orthodontic stainless steel wire immersed in various concentrations of noni fruit (Morinda citrifolia L.) extract mouthwash Angeline, Angeline
Djustiana, Nina
Nazruddin, Nazruddin
ABSTRAK Pendahuluan: Pasien dengan perawatan ortodonti rentan mengalami gingivitis dan karies, sehingga dokter gigi tidak jarang meresepkan obat kumur. Namun, obat kumur komersial dapat menyebabkan pelepasan ion nikel (Ni+) pada kawat orthodonti berbahan Stainless steel (SS). Pelepasan ion  nikel (Ni+) dapat berpengaruh pada tubuh manusia dan sifat mekanis logam. Buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) diketahui memiliki kandungan tanin yang dapat berperan sebagai coating agent, sehingga dapat mengurangi korosi. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan pelepasan ion Ni+ kawat SS yang direndam dalam obat kumur ekstrak buah mengkudu. Metode: Jenis penelitian adalah eksperimental laboratories. 30 kawat direndam dalam lima kelompok. Setiap kelompok berjumlah enam sampel (rumus Federer). Kelompok kontrol yaitu:  kelompok A (kontrol negatif, saliva buatan, pH 6,8) dan kelompok B (kontrol positif, klorheksidin 0,2%). Kelompok perlakuan yaitu: kelompok C (obat kumur mengkudu 2,5%), kelompok D (obat kumur mengkudu 5%) dan kelompok E (obat kumur mengkudu 7,5%). Ekstrak diperoleh secara maserasi dan uji fitokimia dilakukan untuk melihat kandungan tanin. Kawat kemudian direndam dan dimasukan dalam inkubator selama 35 hari. Pelepasan ion dianalisis dengan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) Hasil: Rerata pelepasan ion setiap harinya selama 35 hari untuk kelompok A sampai E secara berurut adalah 2,185 μg/ hari, 1,185 μg/ hari, 1,202 μg/ hari, 1,322 μg/ hari, dan 1,428 μg/ hari dan masih sesuai dengan rekomendasi WHO yaitu 25-35 μg/ hari. Uji statistik Least Significant Difference (LSD) menunjukkan adanya perbedaan bermakna antar kelompok (p< 0,05), tetapi tidak adanya perbedaan bermakna antara kelompok saliva dengan mengkudu 2,5% p=0,388. Simpulan: Terdapat perbedaan pelepasan ion Ni+ kawat SS ortodonti yang direndam dalam obat kumur ekstrak buah mengkudu  (Morinda Citrifolia L.) dengan konsentrasi berbeda. Obat kumur mengkudu 2,5% merupakan konsentrasi yang paling mendekati kelompok kontrol negatif (saliva buatan). Kata kunci: stainless steel; kawat ortodonti; pelepasan ion nikel; buah mengkudu; Morinda citrifolia L. ABSTRACT Introduction: Orthodontic appliance users are prone to gingivitis and caries; thus, dentists often prescribe mouthwash. However, commercial mouthwash can cause the release of nickel ions (Ni+) in stainless steel (SS) orthodontic wires. The release of nickel ions (Ni+) can affect the human body and the mechanical properties of metals. Noni fruit (Morinda citrifolia L.) contains tannins that can act as a coating agent, reducing corrosion. This study was aimed to analyse the differences in the nickel ions release of orthodontic SS wire immersed in various concentrations of noni fruit (Morinda citrifolia L.) extract mouthwash. Methods: The research was experimental laboratories. Thirty wires were immersed in five groups. Each group consisted of six samples (Federer’s formula). The control groups were: Group A (negative control, artificial saliva, pH 6.8) and Group B (positive control, 0.2% chlorhexidine). The treatment groups were: Group C (2.5% noni mouthwash), group D (5% noni mouthwash) and group E (7.5% noni mouthwash). The extract was obtained with maceration, and the phytochemical test was carried out to observe the tannin content. The wire was then immersed and kept in an incubator for 35 days. Ion release was analysed by the Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Results: The average daily ion release for 35 days in groups A to E were 2.185 g/day, 1.185 g/day, 1.202 g/day, 1.322 g/day, and 1.428 g/day respectively, which was still following the WHO recommendations, 25-35 g/day. The Least Significant Difference (LSD) statistical test showed a significant difference between groups (p<0.05), however, there was no significant difference between the salivary group of 2.5% noni mouthwash (p=0.388). Conclusions: There are differences in the nickel ion release of orthodontic stainless steel wire immersed in noni fruit mouthwash extract with different concentrations. 2.5% noni mouthwash is the concentration with the closest result with the negative control group (artificial saliva). The higher the concentration, the higher the nickel ion release value. Keywords: stainless steel; orthodontic wire; nickel ion release; noni fruit; Morinda citrifolia L.
Kata kunci: stainless steel; kawat ortodonti; pelepasan ion nikel; buah mengkudu (Morinda citrifolia L.). Keywords: stainless steel; orthodontic wires; nickel ion release; noni fruit (Morinda citrifolia L.) 2021-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/33407 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i2.33407
1672624 #6191 Mothers’ practices in children’s dental health and early childhood caries: A scoping review Zia, Hanim Khalida
Syah, Nur Afrainin
Machmud, Rizanda
Kasuma, Nila
Dasman, Hardisman
Mona, Deli
Purna, Rozi Sastra
Bachtiar, Adang
ABSTRAKIntroduction: The World Health Organization (WHO) in 2022 reported that dental and oral diseases affect approximately 3.5 billion people globally, including 2 billion adults and 514 million children suffering from dental caries. Dental caries occurring in early childhood is known as Early Childhood Caries (ECC). This study aims to identify mothers' practices on children's dental health and early childhood caries. Methods: This study used a scoping review method. The article selection was conducted by searching the PubMed and ScienceDirect databases using the keywords Knowledge, Attitude, Practice, Mother, Early Childhood Caries. Articles were screened according to inclusion and exclusion criteria, titles, abstracts, and content relevance, resulting in 21 studies included for review. Data were analyzed using Exploratory Data Analysis (EDA) to identify maternal practices related to children's dental health and early childhood caries. Results: This study showed that mothers' practices in children's dental health and early childhood caries consisted of three main areas: maintaining oral health, feeding practices, and prevention of bacterial transmission. Maintaining oral health, included seeking information on oral health, taking children to the dentist, assisting them with brushing using fluoride toothpaste, replacing toothbrushes regularly, brushing the tongue, using dental floss for children, and encouraging rinsing after eating. Feeding practices involved frequently giving children sweet foods and drinks, breastfeeding at night, providing formula milk, and giving milk bottles. Prevention of bacterial transmission included maintaining oral health during pregnancy and pre-chewing food before feeding the child. Conclusion: Mothers’ practices in children's dental health and early childhood caries primarily involve oral health maintenance, feeding management, and prevention of bacterial transmission.KEY WORDS: knowledge, attitude, practice, mother, early childhood cariesPraktik ibu dalam kesehatan gigi anak dan early childhood caries: Scoping reviewABSTRACTPendahuluan: World Health Organization (WHO) tahun 2022 menyatakan penyakit gigi dan mulut memengaruhi 3,5 miliar orang di seluruh dunia. Sebanyak 2 miliar orang dewasa dan 514 juta anak menderita karies gigi. Karies gigi pada usia dini disebut Early Childhood Caries (ECC). Tujuan penelitian ini menganalisis praktik ibu dalam kesehatan gigi anak dan early childhood caries. Metode: Penelitian ini menggunakan metode scoping review. Proses seleksi artikel dilakukan pencarian artikel menggunakan kata kunci Knowledge, Attitude, Practice, Mother, Early Childhood Caries pada database PubMed dan Science Direct, penyaringan berdasarkan kriteria inklusi, eksklusi, judul, abstrak, dan isi yang sesuai topik didapatkan 21 artikel untuk di review. Data dianalisis dengan cara Eksplorasi Data (EDA) untuk mengetahui apa saja praktik ibu dalam kesehatan gigi anak dan early childhood caries. Hasil: Penelitian ini menunjukkan praktik ibu dalam kesehatan gigi anak dan early childhood, yaitu pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, meliputi mencari informasi kesehatan gigi dan mulut anak, membawa anak ke dokter gigi, mendampingi anak menyikat gigi, memberi anak pasta gigi berfluoride, mengganti sikat gigi anak, menyikat lidah anak, menggunakan benang gigi untuk anak, dan membiasakan anak berkumur setelah makan. Pemberian makanan, meliputi sering memberi anak makanan manis, sering memberi anak minuman manis, sering memberi ASI anak malam hari, memberi anak susu formula, dan memberi anak botol susu. Pencegahan transmisi bakteri, meliputi menjaga kesehatan gigi ketika hamil dan mengunyahkan makanan anak. Simpulan: Penelitian ini menyimpulkan praktik ibu dalam kesehatan gigi anak dan early childhood caries yaitu pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, pemberian makanan, serta pencegahan transmisi bakteri.KATA KUNCI: pengetahuan, sikap, praktik, ibu, early childhood caries
Pengetahuan; Sikap; Praktik; Ibu; Early Childhood Caries 2025-12-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/67067 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i3.67067
1672623 #6191 Hubungan kunjungan pertama ke dokter gigi dengan persepsi orang tua terhadap maloklusi pada anak dengan gangguan spektrum disorder usia 6-18 tahunThe relationship between first dental visit and perception parents against malocclusion in children with Autism Spectrum Disorder 6-18 years old Hapsari, Safira Meita
Azzahra, Syaina
Octavia, Alfini
ABSTRAKPendahuluan: Gangguan Spektrum Autisme (GSA) merupakan gangguan kejiwaan heterogen yang terjadi seumur hidup ditandai dengan gangguan perilaku sosial, komunikasi, dan bahasa serta pembatasan minat dan  aktivitas secara bersamaan. Anak dengan GSA biasanya menunjukkan perilaku yang negatif pada perawatan gigi karena  keterbatasan yang dimilikinya, akibatnya perawatan gigi yang seharusnya dapat dilakukan menjadi terhambat. Tujuan Penelitian: mengetahui hubungan kunjungan pertama ke dokter gigi dengan persepsi terhadap maloklusi pada anak dengan Gangguan Spektrum Autisme di Yogyakarta. Metode: Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional analitik dengan studi potong lintang (cross sectional study). Subjek penelitian adalah 41 anak dengan GSA yang berasal dari SLB Bina Anggita, SLB Citra Mulia Mandiri, SLB Dharma Rena Ring Putra II, SLB Negeri 1 Bantul, SLB Samara Bunda, dan SLB Tegar Harapan. Pengalaman kunjungan ke dokter gigi dan kondisi maloklusi-estetik gigi dan mulut pada anak dengan GSA dikumpulkan melalui kuesioner yang kemudian dianalisis dengan menggunakan Uji Spearman. Hasil: Hasil Uji Spearman menunjukkan nilai koefisisen korelasi sebesar 0,083 (p<0,05) yang berarti tidak ada hubungan antara kunjungan ke dokter gigi dengan maloklusi pada anak GSA. Simpulan: Tidak ada hubungan antara kunjungan pertama ke dokter gigi dengan maloklusi pada anak dengan Gangguan Spektrum Autisme di Yogyakarta.Kata kunci: Gangguan spektrum autisme, Maloklusi, Kunjungan pertama ABSTRACTIntroduction: : Autism Spectrum Disorder (ASD) is a lifelong heterogeneous psychiatric disorder characterized by disturbances in social behavior, communication, and language as well as restrictions on interests and activities simultaneously. Children with ASD usually show negative behavior in dental care because of their limitations, as a result, dental care that should be able to be done is hampered. The high level of dental and oral problems in children with ASD is due to the lack of awareness of visiting the dentist. The most common oral condition in ASD children is malocclusion. The study was aimed To determine the association between the first visit to the dentist and  malocclusion aesthetically in children with Autism Spectrum Disorder in Yogyakarta. Methods: This type of research is an analytic observational study with a cross sectional study. The subjects of the study were 41 children with ASD that randomly choosen by cluster sampling method that represent the children from Bina Anggita Special School, Citra Mulia Mandiri Special School, Dharma Rena Ring Putra II Special School, Bantul State Special School 1, Samara Bunda Special School, and Tegar Harapan Special School. The experience of visiting the dentist and the aesthetic condition of the teeth and mouth in children with ASD were collected by the questionnaire then analyzed through the Spearman test. Results: The results  of  the Spearman test showed a correlation coefficient of 0.083 (p<0.05), which means there is no correlation between visits to dentist and the aesthetics condition of the teeth and mouth in ASD children. Conclusions: There is  no  correlation between the aesthetic condition and the age of visits to the dentist in children with ASD.Keywords: Autism spectrum disorder,  Malocclusion, First visit
Gangguan spektrum autisme; Maloklusi; Kunjungan pertama; Autism spectrum disorder; Malocclusion; First visit 2022-07-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/38622 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i2.38622
1672622 #6191 Perbedaan nilai kekerasan permukaan semen Glass Ionomer (GIC) dan modifikasi resin semen Glass Ionomer (RMGIC) akibat efek cairan lambung buatan secara in vitro Maharani, Nuni
Wibowo, Agung
Aripin, Dudi
Fadil, Mohammad Richata
Pendahuluan: Gastroesophageal reflux disease (GERD) didefinisikan sebagai reflex otot esophagus atau spincter, yang memungkinkan asam lambung bergerak naik melalui kerongkongan hingga masuk kedalam rongga mulut. Asam lambung memiliki pH berkisar 1 hingga 1.5, berada di bawah pH kritis email sebesar 5.5 yang dapat menyebabkan terjadinya demineralisasi email, dentin, dan sementum. Tujuan penelitian adalah untuk membedakan nilai kekasaran permukaan semen glass ionomer (GIC) dan modifikasi resin semen glass ionomer (RMGIC) akibat efek cairan lambung buatan.  Metode: Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental murni secara in vitro. Sampel dipersiapkan sebanyak 40 buah, yang terdiri dari 20 sampel semen glass ionomer (GIC) dan 20 sampel modifikasi resin semen glass ionomer (RMGIC). Seluruh sampel dibagi ke dalam 4 kelompok, masing-masing terdiri dari 10 sampel yaitu (1) kelompok GIC direndam dalam saliva buatan, (2) kelompok RMGIC direndam dalam saliva buatan, (3) kelompok GIC direndam dalam cairan lambung buatan selama 3 kali 7 menit dan setelahnya direndam kembali dalam saliva buatan, dan (4) kelompok RMGIC direndam dalam cairan lambung buatan selama 3 kali 7 menit dan setelahnya direndam kembali dalam saliva buatan. Perendaman dilakukan selama 9 hari. Nilai kekasaran diukur dengan menggunakan surface roughness tester (Profilometri). Hasil dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji ANAVA dan analisis post-hoc dengan menggunakan t-test. Hasil: Terdapat perbedaan nilai kekasaran permukaan semen glass ionomer (GIC) dan modifikasi resin semen glass ionomer (RMGIC) akibat efek cairan lambung buatan. Simpulan: Paparan cairan asam lambung pada pasien GERD dapat mempengaruhi kekasaran permukaan bahan restorasi GIC dan RMGIC. Kata kunci: Gastroesophageal reflux disease, Kekasaran permukaan, semen glass ionomer, modifikasi resin semen glass ionomer, profilometri ABSTRACTIntroduction: Gastroesophageal reflux disease (GERD) is defined as involuntary muscle relaxing of the upper esophageal sphincter, which allows refluxed acid to move upward through the esophagus into the oral cavity. The gastric acid has pH between 1 and 1.5, far below the critical pH of 5.5 at which tooth enamel will dissolve. Gastric juice has been shown to demineralize enamel, dentin, and root cementum. Methods: Fourthy samples of each restorative material, a conventional glass ionomer cement (20 samples) and a resin modified glass ionomer cement (20 samples), were prepared and divided into four groups, each group consist of 10 samples. Group (1) group of GIC immersed in simulated saliva and group (2) group of RMGIC immersed in simulated saliva, both control groups immersed for 9 days. Group (3) were group GIC and group (4) were RMGIC, both groups immersed in simulated saliva for 9 days and in between both groups immersed in gastric juice every 3 times a day for 7 minute. Each group subjected to profilometric analysis. The profilometric values were statistically analyzed using ANOVA and 2-way analysis of variance (post-hoc). Results: There are differences between GIC and RMGIC after immersion in gastric juice. Conclusion: Surface roughness of all tested materials were affected by the simulated gastric juice.Keywords: Gastroesophageal reflux disease, surface roughness, glass ionomer cement, resin modified glass ionomer cement, profilometer
Gastroesophageal reflux disease, Kekasaran permukaan, semen glass ionomer, modifikasi resin semen glass ionomer, profilometri; GERD, surface roughness, glass ionomer cement, resin modified glass ionomer cement, profilometer 2017-10-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22293 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v1i1.22293
1672621 #6191 Antifungal activity of mango leaf extract (Mangifera indica L.) on the growth of candida albicans on acrylic bases of removable orthodontic appliances: Study experimental Kintaka, Malvina Aaliyya
Arma, Utmi
Alamsyah, Yenita
ABSTRACTIntroduction: Inadequate maintenance of removable orthodontic appliances, especially the acrylic base, can lead to an increase in C. albicans populations. To keep this acrylic base clean, one method is to soak it in a solution containing natural ingredients with antifungal properties, such as mango leaf extract (Mangifera indica L.). Secondary metabolites that have antifungal properties in mango leaves are alkaloids, flavonoids, steroids, polyphenols, tannins and saponins. The aim of the research was to analyze the antifungal activity of mango leaf extract in inhibiting the growth of C. albicans on acrylic bases from users of removable orthodontic appliances, with a focus on extract concentrations of 2%, 4% and 8%. The mango leaf extraction process was carried out using the maceration method with 70% ethanol as the solvent. Methods: The research method used was laboratory experimental research with a posttest only control group design. The sampling technique used the Ferderer formula which obtained 25 samples. The attachment count of C. albicans was measured using a spectrophotometer. Data were analyzed using the One Way ANOVA test. Results: There was antifungal activity of mango leaf extract against the attachment of C. albicans to the acrylic base of removable orthodontic of appliance users at all concentrations. The average attachment of C. albicans at a concentration of 2% was 10.18 x 108 CFU/mL; 4% was 9.86 x 108 CFU/mL, and at 8% was 9.64 x 108 CFU/mL. This indicated that the higher the concentration of mango leaf extract, the lower the average C. albicans attachment. Conclusion: Mango leaf extract has antifungal activity which can inhibit the attachment of C. albicans to the acrylic base of removable orthodontic appliances at each concentration tested.KEY WORDS: mango leaves (Mangifera indica L.), Candida albicans, orthodontics, removable orthodontic appliancesAktivitas antijamur ekstrak daun mangga (Mangifera indica L.) terhadap pertumbuhan candida albicans pada basis akrilik alat ortodonti lepasan: Studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Pemeliharaan yang tidak memadai pada alat ortodonti lepasan, terutama pada bagian basis akriliknya, dapat menyebabkan peningkatan populasi C. albicans. Untuk menjaga kebersihan basis akrilik ini, salah satu metodenya adalah dengan merendamnya dalam larutan yang berisi bahan-bahan alami dengan sifat antijamur, seperti ekstrak daun mangga (Mangifera indica L.). Metabolit sekunder yang bersifat antijamur dalam daun mangga adalah alkaloid, flavonoid, steroid, polifenol, tanin, dan saponin. Tujuan penelitian menganalisis aktivitas antijamur ekstrak daun mangga dalam menghambat pertumbuhan C. albicans pada basis akrilik dari pengguna alat ortodontik lepasan, dengan fokus pada konsentrasi ekstrak 2, 4, dan 8%. Proses ekstraksi daun mangga dilakukan melalui metode maserasi menggunakan etanol 70% sebagai pelarutnya. Metode: Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian eksperimental laboratorium dengan rancangan posttest only control group design. teknik pengambilan sampel menggunakan rumus Federer yang didapatkan 25 sampel. Penghitungan perlekatan C. albicans diukur dengan menggunakan alat spektrofotometer. Data dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA. Hasil: Terdapat aktivitas anti jamur ekstrak daun mangga terhadap perlekatan C. albicans pada basis akrilik pemakai alat ortodonti lepasan pada semua konsentrasi. Rerata perlekatan C. albicans pada konsentrasi 2% adalah sebesar 10,18 x 108 CFU/mL, 4% sebesar 9,86 x 108 CFU/mL, dan pada 8% sebesar 9,64 x 108 CFU/mL. Hal ini menandakan semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun mangga maka rerata perlekatan C. albicans semakin sedikit. Simpulan: Ekstrak daun mangga memiliki aktivitas antijamur yang dapat menghambat perlekatan C. albicans pada basis akrilik alat ortodonti lepasan pada setiap konsentrasi yang diuji.KATA KUNCI: daun mangga (mangifera indica L.), candida albicans, ortodonti, alat ortodonti lepasan
daun mangga (mangifera indica L.), candida albicans, ortodonti, alat ortodonti lepasan, mango leaves (Mangifera indica L.), Candida albicans, orthodontics, removable orthodontic appliances 2024-02-29 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/52756 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i1.52756
1672620 #6191 Efek pemberian gel ekstrak biji kopi robusta (Coffea canephora) terhadap jumlah osteoblas dan osteoklas pada tulang alveolar tikus periodontitisThe effect of robusta coffee bean (Coffea canephora) extract gel on the number of osteoblasts and osteoclasts in the alveolar bone of periodontitis rats Fatimatuzzahro, Nadie
Ermawati, Tantin
Prasetya, Rendra Chriestedy
Destianingrum, Pintan Qorina
Pendahuluan: Periodontitis adalah peradangan jaringan pendukung gigi yang disebabkan oleh mikroorganisme, salah satunya Porphyromonas gingivalis, yang dapat menginduksi makrofag dan limfosit serta menstimulasi osteoblas untuk meningkatkan receptor activator of nuclear factor kβ-ligand (RANKL) dan menurunkan osteoprotegerin (OPG). Kondisi inflamasi yang berlanjut mengakibatkan OPG sedikit mengikat RANKL, sehingga RANKL berikatan dengan receptor activator of nuclear factor kβ (RANK) pada prekusor osteoklas. Hal ini akan mengaktifkan osteoklas dan menyebabkan kerusakan tulang. Osteoblas dan osteoklas berperan dalam keseimbangan resorpsi dan aposisi tulang. Biji kopi robusta mengandung senyawa aktif polifenol, alkaloid, dan saponin, yang bersifat antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek gel ekstrak biji kopi robusta (C. canephora) terhadap jumlah osteoblas dan osteoklas pada tulang alveolar tikus periodontitis. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratoris, menggunakan teknik random sampling untuk penelitian in-vivo, diperoleh minimal sampel sebanyak 4 ekor tikus tiap kelompok; kelompok normal (KN); kelompok kontrol negatif gel plasebo K(-)7 dan K(-)14; kelompok kontrol positif gel aloclair K(+)7 dan K(+)14; dan kelompok gel ekstrak biji kopi 50% (KP7 dan KP14). Hewan coba didekapitasi pada hari ke-7 dan 14 setelah pemberian terapi gel, kemudian dilakukan pemrosesan jaringan dan pewarnaan HE. Penghitungan osteoblas dan osteoklas pada area sekitar tulang alveolar bukal M1 kiri bawah. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan (p=0,001) antara rerata jumlah osteoblas kelompok gel ekstrak kopi (33,83±1,37) dibanding kontrol positif (23,24±2,31) dan kontrol negatif (18,91±2,07). Rerata jumlah osteoklas berbeda signifikan (p=0,001) pada kelompok gel ekstrak kopi (0,66±0,54) dibanding kontrol positif (3,08±1,10) dan kontrol negatif (4,00±2,07) (p=0,010). Simpulan: Pemberian gel ekstrak biji kopi robusta (C. canephora) dapat meningkatkan jumlah osteoblas dan menurunkan osteoklas pada tulang alveolar tikus periodontitis.Kata kunci: Gel ekstrak biji kopi robusta, osteoblas, osteoklas, periodontitis. ABSTRACTIntroduction: Periodontitis is an inflammatory disease affecting the teeth supporting tissues caused by specific microorganisms; one of them is Porphyromonas gingivalis, which can induce the macrophages and lymphocytes, then stimulate the osteoblasts to increase the receptor activator of nuclear factor kβ-ligand (RANKL) and decrease osteoprotegerin (OPG). Continued inflammatory conditions cause OPG to bind slightly to the RANKL; thus the RANKL will be able to binds to the receptor activator of nuclear factor kβ (RANK) in osteoclast precursors, which will activate the osteoclasts and cause bone damage. Osteoblasts and osteoclasts play a vital role in the balance of bone resorption and apposition. Robusta coffee beans contain active compounds such as polyphenols, alkaloids, and saponins, which act as anti-inflammatory agents. This research was aimed to analyse the effect of robusta coffee bean (C. canephora) extract gel on the number of osteoblasts and osteoclasts in the alveolar bone of periodontitis rats. Methods: Experimental laboratory research with simple random sampling technique for in-vivo study obtained the minimal sample number of 4 rats in each group; normal group (KN); negative control group placebo gel K(-)7 and K(-)14; positive control group of aloclair gel K(+)7 and K(+)14; and robusta coffee bean 50% extract gel group (KP7 and KP14). The rats were decapitated in the 7th and 14th days after treatment, and then the tissue processing and hematoxylin-eosin staining was carried out. Osteoblasts and osteoclasts were counted in the area around the buccal alveolar bone of the lower-left M1. Results: The results showed a significant difference (p = 0.001) between the mean number of osteoblasts in the coffee extract gel group (33.83 ± 1.37) compared to the positive control group (23.24 ± 2.31) and the negative control group (18.91± 2.07). The mean number of osteoclasts was also had a significant difference (p = 0.001) in the coffee extract gel group (0.66 ± 0.54) compared to the positive control group (3.08 ± 1.10) and (p = 0.010) with the negative control group (4.00 ± 2.07). Conclusion: Robusta coffee bean (C. canephora) extract gel can increase the number of osteoblasts and decrease the number of osteoclasts in the alveolar bone of periodontitis rats.Keywords: Robusta coffee bean extract gel, osteoblasts, osteoclasts, periodontitis.
Gel ekstrak biji kopi robusta; osteoblas; osteoklas; periodontitis; robusta coffee bean extract gel; osteoblasts; osteoclasts 2020-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28383 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v4i2.28383
1672619 #6191 The effect of averrhoa bilimbi L. gel as a natural teeth whitening ingredient on the hardness of tooth email: Study experimental Rahaju, Asih
Endrowahyudi, Hartanto
Fadhil, Andi Muhammad
Yuslianti, Euis Reni
ABSTRACTIntroduction: Averrhoa bilimbi L, known for its oxalic acid and peroxide content, may serve as a natural alternative to synthetic whitening agents Synthetic teeth-whitening agents, such as carbamide peroxide, are effective but often cause adverse effects like enamel demineralization and sensitivity. This study aimed to evaluate the effect of 50% Averrhoa bilimbi L gel on enamel hardness and compare it with a synthetic whitening agent and a negative control.  Methods:  This experimental laboratory study utilized 36 teeth from 18 New Zealand rabbits (Oryctolagus cuniculus), Averrhoa bilimbi L extract was obtained via maceration with 96% ethanol and formulated into a gel. Eighteen New Zealand rabbits (36 teeth) were divided into three groups: negative control, carbamide peroxide (10%), and 50% Averrhoa bilimbi gel. Each group underwent a 4-hour daily treatment for 14 days, following which enamel hardness was evaluated using the Vickers hardness test. Data were analyzed using ANOVA (p<0.05). Results: There were no significant differences in enamel hardness among the three groups (p=0.4240), indicating that Averrhoa bilimbi L gel had comparable effects on enamel hardness to carbamide peroxide and the negative control. Conclusions: 50% Averrhoa bilimbi L gel is a safe natural alternative for teeth whitening, as it does not significantly impact enamel hardness. Further research is recommended to explore its effects on soft tissues and overall dental safety.KEY WORDS: Averrhoa bilimbi L, hardness, whiteningPengaruh gel Averrhoa bilimbi L. sebagai bahan pemutih gigi alami terhadap kekerasan email gigi: studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Averrhoa bilimbi L, yang dikenal karena kandungan asam oksalat dan peroksidanya, dapat menjadi alternatif alami pengganti bahan pemutih gigi sintetis. Bahan pemutih gigi sintetis, seperti karbamid peroksida, efektif tetapi sering menimbulkan efek samping seperti demineralisasi email gigi dan sensitivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek gel Averrhoa bilimbi L 50% terhadap kekerasan email gigi dan membandingkannya dengan bahan pemutih sintetis serta kontrol negatif. Metode: Studi laboratorium eksperimental ini menggunakan 36 gigi dari 18 kelinci New Zealand (Oryctolagus cuniculus), ekstrak Averrhoa bilimbi L diperoleh melalui maserasi dengan etanol 96% dan diformulasikan menjadi gel. Delapan belas kelinci New Zealand (36 gigi) dibagi menjadi tiga kelompok: kontrol negatif, carbamide peroksida (10%), dan gel Averrhoa bilimbi 50%. Setiap kelompok menjalani perlakuan harian selama 4 jam selama 14 hari, setelah itu kekerasan email dievaluasi menggunakan uji kekerasan Vickers. Data dianalisis menggunakan ANOVA (p<0,05). Hasil: tidak ada perbedaan signifikan dalam kekerasan enamel gigi di antara ketiga kelompok (p = 0,4240), yang menunjukkan bahwa gel Averrhoa bilimbi memiliki efek yang sebanding dengan karbamid peroksida dan kontrol negatif. Simpulan: Gel Averrhoa bilimbi dengan konsentrasi 50% merupakan alternatif alami yang aman untuk pemutih gigi, karena tidak memengaruhi kekerasan enamel secara signifikan. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk mengeksplorasi efeknya pada jaringan lunak dan keseluruhan keamanan gigi.KATA KUNCI: averrhoa bilimbi, kekerasan, pemutih
Averrhoa bilimbi, Hardness, Whitening 2025-02-21 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/59464 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i3.59464
1672618 #6191 Uji sitotoksisitas mikrofiber PMMA dan PMMA-silika wetspinning pada kultur sel primer L-929 sebagai aplikasi penguat jembatan gigi direkCytotoxicity test of PMMA and PMMA-silica wet spinning microfibers in L-929 primary cell culture as a direct dental bridge reinforcement application Djustiana, Nina
Faza, Yanwar
Hardiansyah, Andri
ABSTRAK Pendahuluan: Jembatan gigi direk terdiri dari komponen penguat fiber dan komponen matriks resin komposit. Penggunaan sel target untuk uji sitotoksisitas dari material fiber kedokteran gigi umum dilakukan secara ekperimental uji in vitro untuk mengetahui relevansi klinis dari pengujian. Penelitian ini  bertujuan untuk melihat sitotoksisitas dari mikrofiber PMMA dan PMMA-silika wetspinning dengan parameter yang berbeda terhadap kultur sel primer (cell line) fibroblas L-929. Metode: Desain penelitian berupa deksriptif kualitatif.  Sel primer fibroblas L-929 diberi paparan mikrofiber PMMA dan PMMA-silika selama 1, 4 dan 7 hari. Uji sitotoksisitas dilakukan dengan menggunakan uji MTT Assay. Parameter dari mikrofiber PMMA dan PMMA-silika yang digunakan adalah konsentrasi dan laju alir, kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok penelitian serta diberi nama sebagai berikut: PMMA mikrofiber sistem vertikal 250ml/jam dengan konsentrasi dalam % 0,75(A); 1(B); 1,25(C); PMMA-silika mikrofiber sistem vertikal dengan kecepatan 200 ml/jam (D), 250 ml/jam (E), 300 ml/jam (F) dan PMMA mikrofiber dengan sistem rotasi 200 ml/jam dengan konsentrasi  dalam % 0,75(G);1(H), 1,25(I); PMMA-silika mikrofiber sistem rotasi dengan konsentrasi 200ml/jam(J), 250ml/jam (K), dan 300 ml/jam (L).  Hasil: Uji in vitro dari gambaran sel L-929 memperlihatkan tidak terdapat Sel primer fibroblas yang mengalami kematian. Kurva pertumbuhan cell line dari setiap parameter mikrofiber memperlihatkan sel dapat berproliferasi selama masa inkubasi dan memperlihatkan kecenderungan positif dari pertumbuhan sel. Simpulan: Mikrofiber PMMA dan PMMA-silika wetspinning tidak memperlihatkan sifat toksisitas terhadap pertumbuhan cell line fibroblas L-929 sehingga mempunyai potensi sebagai aplikasi penguat jembatan gigi direk.  Kata kunci: sitotoksisitas; sel primer fibroblas; fiber; PMMA; PMMA-silika ABSTRACTIntroduction: Direct dental bridge consists of a fiber reinforcement component and a composite resin matrix component. The use of target cells for the cytotoxicity test of dental fiber materials is generally performed by experimental in-vitro tests to determine the clinical relevance of the test. This study was aimed to examine the cytotoxicity of PMMA and PMMA-silica wet spinning microfibers with different parameters on the primary cell culture (cell line) of L-929 fibroblasts. Methods: The research design was descriptive qualitative. Primary L-929 fibroblast cells were consecutively exposed to PMMA and PMMA-silica microfibers for 1, 4, and 7 days. Cytotoxicity test was performed using the MTT Assay. Parameters of PMMA and PMMA-silica microfibers used were concentration and flow rate, then divided into several research groups and named as follows: PMMA microfiber vertical system 250ml/hour with a concentration in %: 0.75(A); 1(B); 1.25(C); PMMA-silica microfiber vertical system with the speed of 200 ml/hour (D), 250 ml/hour (E), 300 ml/hour (F) and PMMA microfiber with rotation system 200 ml/hour with a concentration in % 0.75(G );1(H), 1,25(I); PMMA-silica microfiber rotation system with concentrations of 200ml/hour (J), 250ml/hour (K), and 300 ml/hour (L). Results: In-vitro test of the L-929 cell picture showed no primary fibroblast cells that died. The cell line growth curve of each microfiber parameter shows that the cells can proliferate during the incubation period and show a positive trend of cell growth. Conclusions: PMMA and MMA-silica wet spinning microfibers did not show any toxicity to the growth of the L-929 fibroblast cell line, so they have potential as reinforcement applications for direct dental bridges.  Keywords: cytotoxicity; fibroblast primary cells; fiber; PMMA; PMMA-silica
sitotoksisitas; sel primer fibroblas; fiber; PMMA; PMMA-silika; cytotoxicity; fibroblast primary cells; fiber; PMMA; PMMA-Silica 2021-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/36304 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i2.36304
1672617 #6191 Differences in the effects of pulp necrosis between jatropha (Jatropha curcas) gum paste and formocresol on the maxillary first molars of wistar rats: Study experimental Sitanggang, Pinantri Agnes
Salmiah, Siti
ABSTRAKIntroduction: Pulpitis is an inflammation of the pulp that can heal or persist. Pulp devitalization is a dental treatment for pulpitis to eliminate pulp sensation. Formocresol is a pulp devitalization agent, but it has toxic effects. Jatropha curcas is a convenient solution because it contains alkaloid compounds that can destroy peptidoglycan in the cells, causing pulp necrosis. The aim of this study was to analyze the difference in the effects of pulp necrosis following the application of Jatropha curcas gum paste and formocresol on the maxillary first molars of Wistar rats. Methods: This study used an experimental, post-test-only control group design. The type of statistical analysis used a one-way ANOVA test and continued with a post hoc LSD test. There were 2 groups in this study, namely the 50% Jatropha curcas gum paste group and the formocresol group with 16 samples each. The treatment material (50% Jatropha curcas gum paste or formocresol) was placed in the dental cavities of Wistar rats and covered with temporary ZOE fillings. On day 14, the Wistar rats underwent cervical dislocation for tooth sampling and tissue slide preparation. Results: Statistical tests using one-way ANOVA revealed a significant difference in pulp cell necrosis on day 14. A post hoc LSD test revealed a significant difference between the 50% Jatropha curcas gum paste groups and formocresol with p-value 0.001 (p<0.05). Conclusion: Jatropha curcas gum paste at 50% concentration was effective as alternative for pulp devitalization on the maxillary first molars of Wistar rats. Jatropha curcas gum paste produced a higher number of necrotic cells in the pulp tissue of maxillary first molars of Wistar rats compared to formocresol.KEY WORDS: Jatropha curcas gum paste, formocresol, pulp devitalization, pulp necrosis.Perbedaan efek nekrosis pulpa antara pemberian pasta getah jarak pagar (Jatropha curcas) dan formokresol pada molar satu maksila tikus wistar: Studi eksperimentalABSTRACTPendahuluan: Pulpitis adalah suatu peradangan pada pulpa yang dapat sembuh kembali atau terus berlanjut. Devitalisasi pulpa digunakan sebagai perawatan gigi untuk pulpitis karena menyebabkan mati rasa pada saraf. Formokresol adalah salah satu bahan devitalisasi pulpa tetapi memiliki efek toksik. Getah jarak pagar merupakan solusi yang mudah karena mengandung senyawa alkaloid yang dapat menghancurkan peptidoglikan pada sel penyebab nekrosis pulpa. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan efek nekrosis pulpa pada pemberian pasta getah jarak pagar dan formokresol molar satu maksila tikus Wistar. Metode: Desain penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental post test only control group design. Jenis analisis statistik menggunakan uji one-way ANOVA dan dilanjutkan uji post hoc LSD. Terdapat 2 kelompok pada penelitian ini antara lain kelompok pasta getah jarak pagar 50% dan kelompok formokresol dengan masing-masing 16 sampel. Bahan perlakuan (pasta getah jarak pagar 50% atau formokresol) ditempatkan pada kavitas gigi tikus Wistar dan ditutup dengan tumpatan sementara ZOE. Hari ke-14 dilakukan dislokasi leher pada tikus Wistar untuk pengambilan sampel gigi dan pembuatan slide jaringan. Hasil: Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan one-way ANOVA terdapat perbedaan yang signifikan pada sel pulpa yang mengalami nekrosis pada hari ke-14. Uji post hoc LSD terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok pasta getah jarak pagar 50% dan formokresol dengan nilai p=0,001 (p˂0,05). Simpulan:  Pasta getah jarak pagar 50% adalah konsentrasi yang efektif sebagai bahan alternatif devitalisasi pulpa pada molar satu maksila tikus Wistar. Pasta getah jarak pagar 50% menghasilkan jumlah sel nekrosis lebih tinggi pada jaringan pulpa molar satu maksila tikus Wistar dibandingkan formokresol. KATA KUNCI: Pasta getah jarak pagar, formokresol, devitalisasi pulpa, nekrosis pulpa.
Pasta getah jarak pagar, formokresol, devitalisasi pulpa, nekrosis pulpa. 2025-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/67268 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i3.67268
Menampilkan 541 - 560 dari total 1.550.696 data