| ID ↓ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1672356 | #6191 | Perbedaan risiko karies orang tua siswa usia 35—44 tahun antara dua Sekolah Dasar di daerah Jatinangor |
Maysun, Sundus Suwargiani, Anne Agustina Yubiliana, Gilang |
ABSTRAKPendahuluan: Penyakit yang terbanyak diderita oleh masyarakat Indonesia adalah karies. Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan mengetahui faktor risiko terjadinya karies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan risiko karies orang tua siswa di SDN Cibeusi dan di SDN Sirnagalih. Metode Penelitian: Metode penelitian yang digunakan yaitu analitik. Metode yang digunakan dalam pengambilan data yaitu dengan wawancara menggunakan formulir Caries Risk Assessment-American Dental Association dan pemeriksaan klinis rongga mulut. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua siswa SDN Cibeusi dan SDN Sirnagalih yang berusia 35─44 tahun. Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan metode total sampling dan didapatkan total subjek penelitian sebanyak 140 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua siswa di SDN Cibeusi sebanyak 68,5% memiliki risiko karies tinggi, 28,9% risiko sedang, dan 2,6% risiko rendah. Di SDN Sirnagalih, sebanyak 56% orang tua siswa memiliki risiko karies tinggi, 12,5% risiko sedang, dan 0% risiko rendah. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan nilai p 0,0067 (nilai p < α). Kesimpulan: penelitian ini yaitu terdapat perbedaan antara risiko karies orang tua siswa di SDN Cibeusi dan di SDN Sirnagalih usia 35─44 tahun.Kata kunci: Risiko karies, usia 35─44 tahun, orang tua
|
2018-03-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21430 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i1.21430 | |
| 1672355 | #6191 | Dentists' Considerations in Choosing Dental Filling Material Products: Study observational |
Harlinton, Andrian Jonathan Usri, Kosterman Takarini, Veni |
ABSTRACTIntroduction: Dentists as users and buyers of filling material products have various considerations in choosing filling material products to treat their patients. Several considerations are made by dentists when selecting and purchasing a filling material product, including quality considerations, price considerations, and other considerations. This research intends to see the overview of various considerations used by dentists in choosing dental fillings product. Methods: The type of this research is descriptive research using incidental sampling techniques. The population of this study were all dentists registered within the organization of PDGI in the City of Bandung, with a sample of 315 dentists. This research used an online questionnaire containing 10 Likert scale questions regarding various considerations from dentists in choosing a filling material product, with a score of 1-5. The validity test of this research used bivariate pearson, while the reliability test used test-retest Results: After the questionnaires were distributed to all samples, the Likert scores obtained were averaged using Microsoft Excel. Sequentially the various considerations and their average Likert score are: quality of filling material (4.83), ease of application (4.58), biocompatibility (4.56), availability (4.28), price (4.18), personal preference (4.03), product reviews (4.00), discounts (3.60), brands (3.58), and packaging (2.97). Conclusion: in this research the authors conclude that considerations of quality, biocompatibility, and ease of application in dental filling material products are the 3 main considerations that influence dentists in choosing a dental filling product. Meanwhile, consideration of product packaging is a consideration that dentists pay little attention to when choosing a product for dental filling materials.KEY WORDS: dental filling material, choosing product, considerationsBerbagai pertimbangan dokter gigi dalam memilih produk bahan tambal: studi observasionalABSTRAKPendahuluan: Dokter gigi sebagai pengguna dan pembeli produk bahan tambal tentunya memiliki berbagai pertimbangan dalam memilih produk bahan tambal yang akan digunakan dalam merawat pasien. Terdapat beberapa pertimbangan yang dipikirkan oleh dokter gigi saat memilih suatu produk material bahan tambal, diantaranya yaitu pertimbangan kualitas, pertimbangan harga dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran dari berbagai pertimbangan dokter gigi dalam memilih produk bahan tambal. Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan teknik sampel insidental. Populasi penelitian ini adalah seluruh dokter gigi yang terdaftar pada organisasi PDGI Kota Bandung, dengan sampel berjumlah 315 dokter gigi. Penelitian ini menggunakan kuesioner daring yang berisi 10 butir pertanyaan mengenai berbagai pertimbangan dari dokter gigi dalam memilih suatu produk bahan tambal, yang menggunakan skala Likert dengan skor 1-5. Uji validitas dari penelitian ini menggunakan uji bivariate pearson, sedangkan untuk uji reliabilitas menggunakan uji test-retest. Hasil: Setelah kuesioner dibagikan ke seluruh sampel, skor Likert yang didapatkan dihitung reratanya menggunakan microsoft excel. Secara berurutan berbagai pertimbangan dan skor Likert reratanya adalah: kualitas bahan tambal (4,83), kemudahan aplikasi (4,58), biokompatibilitas (4,56), ketersediaan (4,28), harga (4,18), pilihan personal (4,03), ulasan (4,00), diskon (3,60), merek (3,58), kemasan (2,97). Simpulan: pada penelitian kali ini penulis menyimpulkan pertimbangan kualitas, biokompatibilitas dan kemudahan aplikasi dari bahan tambal, merupakan 3 pertimbangan utama yang mempengaruhi dokter gigi dalam memilih suatu produk bahan tambal gigi. Sedangkan pertimbangan kemasan produk merupakan pertimbangan yang kurang diperhatikan oleh dokter gigi saat memilih suatu produk bahan tambal.KATA KUNCI: bahan tambal gigi, pertimbangan, pemilihan produk
|
bahan tambal gigi, pertimbangan, pemilihan produk, dental filling material, choosing product, considerations | 2023-08-10 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/41086 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i2.41086 |
| 1672354 | #6191 | Correlation between dental radiology knowledge and the ability to interpret panoramic radiographs among dental students: Study cross-sectional |
Adawiyah, Rabiyatul Agustin, Sylvia Simbolon, Dame Rimmauli Purnamasari, Cicih Bhakti Martalina, Elliana Arief, Erry Mochammad |
ABSTRACT Introduction: Knowledge is the result of human curiosity, and in dental education, students are required to understand the fundamentals of dental radiology. Panoramic radiography, as one of the most frequently used imaging modalities, plays an important role in supporting diagnosis; however, a limited understanding of basic dental radiology concepts often complicates the interpretation process. This study aimed to analyze the correlation between the level of dental radiology knowledge and the ability to interpret panoramic radiographs among preclinical dental students. Methods: This study employed a cross-sectional design using a questionnaire. A total sampling technique was applied, involving 146 students from the Faculty of Dentistry, Universitas Mulawarman. Bivariate analysis was conducted using Spearman’s rho correlation test. The variables assessed were dental radiology knowledge and panoramic radiograph interpretation ability. Results: The findings indicated that 49.3% of students had good dental radiology knowledge, 41.8% had good ability in interpreting panoramic radiographs, and 39.0% were good in both variables. Correlation analysis showed a statistically significant correlation between dental radiology knowledge and the interpretation of panoramic radiographs (Sig. [2-tailed] = 0.001). Conclusions: There is a significant correlation between dental radiology knowledge and the ability to interpret panoramic radiographs among dental students at Universitas Mulawarman.KEY WORDS: knowledge, dental radiology, interpretation, panoramic radiograph, studentsKorelasi pengetahuan dental radiologi dengan kemampuan interpretasi radiograf panoramik pada mahasiswa kedokteran gigi: Studi cross-sectionalABSTRAK Pendahuluan: Pengetahuan merupakan hasil dari rasa ingin tahu manusia dan dalam pendidikan kedokteran gigi mahasiswa diharuskan memahami dasar dental radiologi. Radiograf panoramik sebagai modalitas yang sering digunakan memiliki peran penting dalam menunjang diagnosis, namun keterbatasan pemahaman konsep dasar dental radiologi sering menyulitkan proses interpretasinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara tingkat pengetahuan dental radiologi dengan kemampuan interpretasi radiograf panoramik pada mahasiswa pra-klinik kedokteran gigi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan menggunakan kuesioner. Penelitian menggunakan teknik total sampling dengan jumlah 146 mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mulawarman. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi spearman’rho. Variabel yang diamati adalah pengetahuan dental radiologi dan interpretasi radiograf panoramik. Hasil: Pengetahuan dental radiologi mahasiswa sebesar 49,3% baik, 41,8% baik dalam menginterpretasi radiograf panoramik, dan 39,0% baik pada keduanya. Uji korelasi antara tingkat pengetahuan dental radiologi dan interpretasi radiograf panoramik menghasilkan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0.001. Simpulan: Mayoritas mahasiswa memiliki pengetahuan dental radiologi dan interpretasi radiograf panoramik yang baik serta terdapat korelasi antara tingkat pengetahuan dental radiologi dengan interpretasi radiograf panoramik pada mahasiswa.KATA KUNCI: pengetahuan, dental radiologi, interpretasi, radiograf panoramik, mahasiswa
|
Knowledge, dental radiology, interpretation, panoramic radiograph, students, Pengetahuan; dental radiologi; interpretasi; radiograf panoramik; mahasiswa | 2026-02-28 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/69292 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v10i1.69292 |
| 1672353 | #6191 | Pengaruh tingkat pendidikan tinggi dan perilaku ibu terhadap indeks def-t pada anak usia 4‒5 tahunThe influence of higher education level and maternal behaviour on the def-t index in children aged 4‒5 years old |
Angelica, Cynthia Sembiring, Linda Sari Suwindere, Winny |
Pendahuluan: Karies gigi merupakan masalah utama dalam kesehatan gigi masyakat, terlihat dengan tingginya prevalensi karies pada anak usia 1‒4 tahun (10,4%), dan pada anak usia 5‒9 tahun adalah 28,9%. Karies yang terjadi pada anak disebut Early Childhood Caries (ECC) atau karies dini yang terjadi pada anak usia 71 bulan atau lebih muda. Anak memperoleh perilaku kebersihan mulut dan kebiasaan kesehatan rongga mulut dari ibu sehingga peran ibu sangat mempengaruhi keadaan rongga mulut anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan tinggi dan perilaku ibu terhadap indeks def-t pada anak usia 4‒5 tahun di TK Santa Maria Kota Cirebon. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional. Populasi penelitian adalah anak usia 4‒5 tahun di TK Santa Maria Kota Cirebon. Sampel penelitian berjumlah 74 orang dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling. Hasil: Analisis statistik penelitian dilakukan dengan menggunakan model regresi Tobit. Simpulan: Terdapat pengaruh tingkat pendidikan tinggi dan perilaku ibu terhadap indeks def-t pada anak usia 4‒5 tahun di TK Santa Maria Kota Cirebon.Kata kunci: Tingkat pendidikan, perilaku ibu, indeks def-t, anak usia 4-5 tahun ABSTRACTIntroduction: Dental caries is a major problem in the dental health of the community, reflected by the high prevalence of caries in children aged 1‒4 years old (10.4%), and in children aged 5‒9 years old (28.9%). Caries that occur in children is called Early Childhood Caries (ECC), or early caries that occurs in children aged 71 months or younger. Children get their oral hygiene behaviour and oral health habits from their mothers; thus, the mother's role profoundly affects the children's oral cavity condition. This study was aimed to determine the influence of higher education level and maternal behaviour on the def-t index in children aged 4‒5 years old at Santa Maria Kindergarten in the city of Cirebon. Methods: This study was using an observational analytic method with a cross-sectional research design. The study population was children aged 4‒5 years old at Santa Maria Kindergarten in the city of Cirebon. The research sample was 74 people taken with stratified random sampling technique. Results: Statistical analysis of the study was conducted using the Tobit regression model. Conclusion: There is an influence of higher education level and maternal behaviour on the def-t index in children aged 4‒5 years old at Santa Maria Kindergarten in the city of Cirebon.Keywords: Education level, maternal behaviour, def-t index, 4-5-years old children
|
Tingkat pendidikan, perilaku, Indeks def-t, education level, maternal behaviour, def-t index, 4-5-years old children | 2019-07-12 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22484 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i1.22484 |
| 1672352 | #6191 | Antibacterial activity of red dragon seed extract on the growth of staphylococcus aureus ATCC 25923 on acrylic resin plate: Study experimental |
Amanda, Haifa Khairunnisa Ferdina, Resa Iswani, Resti |
ABSTRACTIntroduction:  Denture base material is made of acrylic resin. The rough surface of acrylic resin can cause plaque to build up, making it easier for S.aureus bacteria to attach to the denture base. This can be prevented with sodium hypochlorite but this material can cause some harm to the acrylic resin. One natural ingredient that has antibacterial compounds such as flavonoids, alkaloids and tannins which can be used as an alternative denture cleaner in Indonesia is red dragon fruit seeds (Hylocereus costaricensis). The aim of this research was to determine the effectiveness of dragon fruit seed extract on the growth of S.aureus ATCC 25923 on acrylic resin plates with concentrations of 5, 10, and 15%, positive control (0.5% sodium hypochlorite) and negative control (aquadest). Methods: This research used a laboratory experimental method using a Post Test Control Group Design. The sample is a block-shaped plate with dimensions of 10 x 10 x 1 mm. The sample size in the study was 5 treatment groups and was repeated 5 times so that the total sample was 25 treatments. Results: The results of this study showed that red dragon fruit seed extract with concentrations of 5%, 10% and 15% had absorbance values equal to 21.7 x 108 CFU/ml, 20.6 x 108 CFU/ml and 19.1 x 108 CFU respectively. /ml. The positive control and negative control had absorbance values equal to 14.7 x 108 CFU/ml and 25.1 x 108 CFU/ml. Conclusion: This research proves that there is effectiveness of red dragon fruit seed extract on the growth of S.aureus ATCC 25923 on acrylic resin plates and with the best extract at a concentration of 15%.KEY WORDS: Red dragon fruit seeds (Hylocereus costaricensis), Hot polymerization acrylic resin, Staphylococcus aureusUji aktivitas antibakteri ekstrak biji buah naga merah terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus ATCC 25923 pada plat resin akrilik: Studi eksperimentalASBTRAKPendahuluan: Bahan basis gigi tiruan terbuat dari resin akrilik. Permukaan kasar pada resin akrilik dapat menyebabkan terjadinya penumpukan plak, sehingga memudahkan bakteri Staphylococcus aureus melekat pada basis gigi tiruan. Hal ini dapat dicegah dengan sodium hipoklorit tetapi bahan ini dapat menyebabkan beberapa kerugian pada resin akrilik. Salah satu bahan alami yang memiliki senyawa antibakteri seperti flavonoid, alkaloid dan tanin yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pembersih gigi tiruan yang ada di Indonesia adalah biji buah naga merah (Hylocereus costaricensis). Tujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak biji buah naga terhadap pertumbuhan S.aureus ATCC 25923 pada plat resin akrilik dengan konsentrasi 5, 10, dan 15%, kontrol positif (sodium hipoklorit 0,5%), dan kontrol negatif (aquadest). Metode: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratorium menggunakan rancangan Post Test Control Group Design. Sampel adalah lempeng berbentuk balok dengan ukuran 10 x 10 x 1 mm. Besar sampel dalam penelitian ada 5 kelompok perlakuan dan diulang sebanyak 5 kali pengulangan sehingga jumlah sampel menjadi 25 perlakuan. Hasil: Penelitian ini menunjukkan ekstrak biji buah naga merah konsentrasi 5, 10, dan 15% memiliki nilai absorbansi masing-masing setara dengan 21,7 x 108 CFU/ml, 20,6 x 108 CFU/ml, dan 19,1 x 108 CFU/ml. Kontrol positif dan kontrol negatif memiliki nilai absorbansi yang setara dengan 14,7 x 108 CFU/ml dan 25,1 x 108 CFU/ml. Simpulan: Penelitian ini membuktikan bahwa terdapat efektivitas ekstrak biji buah naga merah terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus ATCC 25923 pada plat resin akrilik dengan sig 0,000<0,05 dan dengan ekstrak terbaik pada konsentrasi 15%. KATA KUNCI: Biji buah naga merah (Hylocereus costaricensis), Resin akrilik polimerisasi panas, Staphylococcus aureus
|
Biji buah naga merah (Hylocereus costaricensis), Resin akrilik polimerisasi panas, Staphylococcus aureus, Red dragon fruit seeds (Hylocereus costaricensis), Hot polymerization acrylic resin, Staphylococcus aureus | 2024-03-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/52967 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i1.52967 |
| 1672351 | #6191 | Status kesehatan gigi dan tindakan menyikat gigi pada murid taman kanak-kanakOral health status and brushing teeth practices of kindergarten students |
Andayasari, Lelly Wibowo, Wibowo |
Pendahuluan: Status kesehatan gigi ditentukan oleh adanya gigi karies, gigi yang hilang dan ditumpat. Kesehatan gigi dan mulut masih menjadi masalah di dunia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi status kesehatan gigi anak taman kanak-kanak dan tindakan menyikat gigi anak taman kanak kanak. Metode: Jenis penelitian cross-sectional. Penelitian dilakukan di 24 taman kanak-kanak (TK) di Provinsi Banten dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Status kesehatan gigi diperoleh dari 564 anak berusia 3-6 tahun. Pemeriksaan kesehatan gigi menggunakan alat diagnostik steril yang dilakukan oleh dokter gigi. Data karakteristik dan perilaku menyikat gigi ditanyakan kepada orang tua dengan menggunakan kuesioner yang sudah diujicobakan. Analisis data menggunakan perangkat lunak SPSS. Hasil analisa disajikan dalam bentuk persentase. Hasil: Indeks def-t tertinggi di Kabupaten Serang (8,83), dan terendah adalah 4,97 di Kota Yogyakarta Sebagian besar anak mengalami karies gigi yaitu sebanyak 88,1%. Jumlah rata-rata karies gigi lebih banyak daripada gigi yang dicabut dan ditumpat. Kebiasaan menyikat gigi yang benar masih sangat rendah 2,8%. Simpulan: Status kesehatan gigi anak taman kanak-kanak sebagian besar dalam kategori buruk dan tindakan menyikat gigi yang benar masih sangat rendah.Kata kunci: Karies, menyikat gigi, anak, def-t. ABSTRACTIntroduction: Oral health status is determined by the presence of dental caries, missing and filled teeth. Oral health is still a problem in the world. The purpose of this study was to identify the oral health status of a kindergarten child and the toothbrushing practice in kindergarten students. Methods: A cross-sectional study was conducted in 24 kindergartens in Banten and Special Region of Yogyakarta provinces. The oral health status was obtained from 564 children aged 3-6 years old—oral health examination using a sterile diagnostic tool conducted by a dentist. Data on the characteristics and behaviour of toothbrushing practices were asked to the parents using a priorly tested questionnaire—data analysis was performed using SPSS software. The analysis results were presented in percentage. Results: The highest def-t index was found in Serang Regency (8.83), and the lowest (4.97) was found in Yogyakarta City. Majority of the children experienced dental caries, which was found in 88.1% of all respondents. The average number of dental caries was higher than the extracted and filled teeth. Proper toothbrushing habits were still very low, at 2.8%. Conclusion: The oral health status of kindergarten students are mostly found in the bad category, and correct toothbrushing practice is still very low.Keywords: Caries, brushing teeth, children, def-t.
|
Karies, menyikat gigi, anak, def-t, caries, brushing teeth, children. | 2020-04-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/25720 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v4i1.25720 |
| 1672350 | #6191 | The relationship between the level of knowledge about cross-infection control and its compliance among students at jenderal achmad yani university dental hospital: Cross sectional study |
Kamila, Syadza Afifah Mulyanti, Sri Utami, Ulfah Nurnaningsih, Hera |
ABSTRACTIntroduction: Due to their frequent contact with blood and saliva while providing dental care, dental healthcare personnel are particularly vulnerable to infection transmission. According to a preliminary study, a large number of students have not yet put cross-infection control procedures into place, even though doing so may raise their risk of coming into contact with pathogens. The purpose of this research is to ascertain how students at the RSGM UNJANI relate to their level of cross-infection control knowledge and their compliance with its implementation. Methods: This type of research is analytical research with a cross-sectional research design with a sample of 60 students at UNJANI RSGM. Data collection using questionnaires and observation. Results: The results of the survey indicate that the students' knowledge levels fall into three categories: "good" at 23.3%, "sufficient" at 66.7%, and "poor" at 10%. According to the level of compliance, 20% are not in conformity, while 80% are. Using the statistical test of Kendall's Tau, the p-value was 0.047 (p < 0.05). The two variables have a unidirectional association, which means that higher knowledge corresponds to higher compliance with cross-infection control methods. Conclusion: The results of the Kendall's Tau statistical test indicate that there is a unidirectional association between students' compliance with the implementation of cross-infection control and their understanding of it. This means that the better the students' knowledge of cross-infection control, the higher their compliance in applying the infection control measures.KEY WORDS: Knowledge, compliance, cross-infection controlHubungan tingkat pengetahuan tentang pengendalian infeksi silang terhadap kepatuhan pelaksanaan pada peserta didik di RSGM Universitas Jenderal Achmad Yani: studi cross sectionalABSTRAKPendahuluan: Tenaga kesehatan gigi memiliki risiko tinggi dalam penularan infeksi karena berkontak dengan saliva dan darah saat perawatan gigi. Survei awal menunjukkan masih banyak peserta didik belum menerapkan pengendalian infeksi silang padahal hal ini dapat meningkatkan risiko terpapar mikroorganisme penyebab infeksi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan tingkat pengetahuan tentang pengendalian infeksi silang terhadap kepatuhan pelaksanaannya pada peserta didik di RSGM UNJANI. Metode: Jenis penelitian ini yaitu penelitian survei analitik dengan rancangan penelitian cross-sectional dengan sampel 60 orang peserta didik di RSGM UNJANI. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan observasi. Hasil: Penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan peserta didik dengan kategori baik 23,3%, kategori cukup 66,7%, dan kategori kurang 10%. Tingkat kepatuhan didapatkan hasil 80% kategori patuh dan 20% kategori tidak patuh. Uji statistik Kendall’s-Tau menunjukkan hasil nilai p = 0,047 (p < 0,05). Hubungan kedua variabel bersifat satu arah, artinya semakin baik pengetahuan maka semakin baik pula kepatuhan terhadap pengendalian infeksi silang. Simpulan: berdasarkan temuan uji statistik Kendall's Tau, terdapat hubungan satu arah antara tingkat pengetahuan mahasiswa RSGM UNJANI mengenai pengendalian infeksi silang dengan kepatuhan pelaksanaannya, artinya semakin baik tingkat pengetahuan peserta didik mengenai pengendalian infeksi silang, maka semakin tinggi pula tingkat kepatuhan mereka dalam menerapkan langkah-langkah pengendalian infeksi silang tersebut.KATA KUNCI: Pengetahuan, kepatuhan, pengendalian infeksi silang.
|
Pengetahuan, Kepatuhan, Pengendalian Infeksi Silang, Knowledge, compliance, cross-infection control | 2024-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/58132 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i3.58132 |
| 1672349 | #6191 | Efek paparan gas ozon terhadap mikroba saliva rongga mulutEffects of ozone gas exposure on oral saliva microbes |
Wibisono, Gunawan Boedi, Rizky Merdietio Suryanelis, Suryanelis |
ABSTRAK Pendahuluan: Saliva merupakan salah satu sumber penyebaran infeksi selama perawatan gigi, yang menghasilkan bioaerosol. Prosedur asepsis perlu dilakukan untuk mengontrol bioaerosol sebagai upaya mengurangi risiko infeksi. Berbagai bahan asepsis telah digunakan, dengan kelebihan dan kekurangannya. Inovasi penggunaan bahan lain sangat diperlukan untuk mencapai kondisi asepsis secara efektif namun efisien. Salah satu ide inovatif adalah penggunaan gas ozon untuk berbagai prosedur asepsis di klinik gigi. Penelitian ini bertujuan menganalisis efek paparan gas ozon terhadap mikroba saliva rongga mulut secara in-vitro. Metode: Penelitian dilakukan dengan sampel dari 60 ml air kumur 15 orang relawan, menggunakan aquades selama 60 detik, kemudian diencerkan dengan saline hingga volume mencapai 100 ml. Gas ozon total 384 gram dialirkan ke dalam larutan air kumur ini, selama 120 detik. Sejumlah 20 ml larutan sampel dituang merata dalam media Plate count agar (PCA) dan diinkubasi selama 24 jam, untuk kelompok sebelum diberi perlakuan gas ozon (Kelompok Pre-test) dan setelah perlakuan (Kelompok Post-test). Data penelitian berupa jumlah koloni mikroba (CFU) yang tumbuh pada media PCA. Data penelitian dianalisis dengan uji Wilcoxon. Hasil: Rerata jumlah koloni mikroba Kelompok Pre-test 4,36 ± 0,17 dan kelompok Post-test 2,40±0,3 Hasil uji Wilcoxon menunjukkan Jumlah koloni mikroba mengalami penurunan signifikan p=-3,29 (P<0,05). Paparan gas ozon selama 120 detik menurunkan jumlah mikroba rata-rata sebesar 55%. Beberapa mikroba lolos hidup, diduga karena adanya variabilitas biologis atau resistensi terhadap ozon. Simpulan: Gas ozon mempunyai efek menurunkan jumlah koloni mikroba saliva.Kata kunci: ozon; antimikroba; asepsis ABSTRACT Introduction: Saliva is a source of infection spread during dental treatment, producing bioaerosols. Aseptic procedures need to be carried out to control bioaerosols to reduce infection risk. Various widespread aseptic materials hold specific advantages and disadvantages. Therefore, innovation of other materials is needed to achieve aseptic conditions effectively and efficiently. One of the innovative ideas is ozone gas for various aseptic procedures in dental clinics. This study was aimed to analyse the effect of ozone gas exposure on oral saliva microbes in-vitro. Methods: The study was conducted with a sample of 60 ml of mouthwash residue from 15 volunteers, which was distilled for 60 seconds, then diluted with saline until the volume reached 100 ml. A total of 384 grams of ozone gas flowed into this solution for 120 seconds. A total of 20 ml of sample solution was poured evenly in plate count agar (PCA) media and incubated for 24 hours for the group before being treated with ozone gas (pre-test group) and after treatment (post-test group). Research data was the number of microbial colonies (CFU) that grew on PCA media. Research data were analysed by the Wilcoxon test. Results: The mean number of microbial colonies in the pre-test group was 4.36 ± 0.17 and the post-test group 2.40 ± 0.3. The Wilcoxon test results showed that microbial colonies decreased significantly p=-3,29 (p<0.05). Ozone gas exposure for 120 seconds reduced microbial counts by an average of 55%. However, some microbes survived, presumably due to biological variability or resistance to ozone. Conclusions: Ozone gas has the effect of reducing the number of salivary microbial colonies.Keywords: ozone; antimicrobial; aseptic
|
Kata kunci: ozon; antimikroba; asepsis. Keywords: ozone; antimicrobial; aseptic | 2021-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/33287 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i2.33287 |
| 1672348 | #6191 | Antifungal effectiveness of red dragon fruit peel extract (Hylocereus polyrhizus) against candida albicans ATCC 10231: Study experimental |
Salsabila, Syifa Ainun Fatiha Setiawan, Ame Suciati Malinda, Yuti |
ABSTRAKIntroduction: Oral candidiasis caused by Candida albicans is a common issue in dental medicine. Red dragon fruit peel (Hylocereus polyrhizus) is known to contain bioactive compounds such as flavonoids and phenolics, which have potential antifungal properties. This study aimed to evaluate the antifungal effectiveness of red dragon fruit peel extract against Candida albicans ATCC 10231 in vitro. Methods: This experimental study employed the well diffusion method. The extract was tested in two volumes (20 µL and 100 µL) and five concentrations (50%, 25%, 12,5%, 6,25%, 3,125%). Nystatin 100,000 IU/mL was used as a positive control, and 2.5% DMSO as a negative control. Microorganism identification was conducted using CHROMagar and hematoxylin-eosin staining. Results: No inhibition zones were observed in any of the extract treatments.. In contrast, Nystatin showed consistent inhibition zones with an average diameter above 17 mm, while DMSO showed no inhibitory effect. Morphological identification confirmed the test microorganism as Candida albicans. Conclusions: Red dragon fruit peel extract did not exhibit antifungal activity against Candida albicans in the well diffusion method. Further research is needed using different approaches and methodologies.KEY WORDS: candida albicans, red dragon fruit, antifungal, flavonoid, well diffusionEfektivitas antijamur ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) terhadap candida albicans ATCC 10231: Studi eksperimentalABSTRACTPendahuluan: Kandidiasis oral akibat Candida albicans merupakan masalah umum di bidang kedokteran gigi. Kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenolik yang berpotensi sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak kulit buah naga merah terhadap Candida albicans ATCC 10231 secara in vitro. Metode: Studi eksperimental ini menggunakan metode difusi sumur (well diffusion). Ekstrak diuji dalam dua volume (20 µL dan 100 µL) dan lima konsentrasi (50%, 25%, 12,5%, 6,25%, 3,125%). Nystatin 100.000 IU/mL digunakan sebagai kontrol positif, dan DMSO 2,5% sebagai kontrol negatif. Identifikasi mikroorganisme dilakukan melalui CHROMagar dan pewarnaan hematoksilin eosin. Hasil: Tidak menunjukan zona hambat pada seluruh perlakuan ekstrak. Sebaliknya, Nystatin menunjukkan zona hambat rerata di atas 17 mm, sementara DMSO tidak menunjukkan efek hambatan. Identifikasi morfologi mengkonfirmasi mikroorganisme uji sebagai Candida albicans. Simpulan: Ekstrak kulit buah naga merah tidak menunjukkan aktivitas antijamur terhadap Candida albicans dalam metode difusi sumur (well diffusion). Penelitian lanjutan diperlukan dengan pendekatan dan metode yang berbeda.KATA KUNCI: candida albicans, buah naga merah, antijamur, flavonoid, difusi sumur.
|
Candida albicans; buah naga merah; antijamur; flavonoid; difusi sumur, Candida albicans, red dragon fruit, antifungal, flavonoid, well diffusion | 2026-01-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/65556 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i3.65556 |
| 1672347 | #6191 | Effect of edible coating on thermoplastic nylon denture base after soaking in distilled water and green tea on water absorption: Study observational |
Rafly, Muhammad Wahyuni, Siti |
ABSTRACTIntroduction: Thermoplastic nylon is public favorite denture base material because it has excellent aesthetic, low solubility and high flexibility but has drawback, high water absorption which can reduce the resistance of nylon used as denture base. Edible coating is natural polymer coating material and can be good alternative because of it’s barrier against external elements. This study aims to determine the effect of edible coating on thermoplastic nylon denture base after soaking in distilled water and green tea on water absorption. Methods: The research design was experimental laboratory with post-test only control group design. The research sample was cylindrical thermoplastic nylon with diameter 40 ± 1 mm and thickness 2 ± 1 mm based on ISO 20795-1 specifications. Water absorption was measured using the formula m2-m3/V (ISO/DIS 4049), analyzed by univariate test and Levene's test. Results: The mean value of water absorption in the sample group immersed in distilled water (A) 4.88 ± 0.34 g/mm3, with edible coating (B) 3.80 ± 0.37 g/ mm3, the sample group soaked in green tea (C) was 4.43 ± 0.18 g/mm3 and with edible coating (D) was 3.58 ± 0.39 g/mm3. Then the data were analyzed using One-way ANOVA test with p-value = 0.0001 (significancy at p <0.05). Conclusion: The results showed that there was significant effect of edible coating on thermoplastic nylon denture base after soaking in distilled water and green tea on water absorption. KEY WORDS: denture base, thermoplastic nylon, water absorption, edible coating, green teaPengaruh pelapisan edible coating pada basis gigi tiruan nilon termoplastik setelah direndam dalam akuades dan teh hijau terhadap penyerapan air: Studi eksperimentalABSTRAK Pendahuluan: Nilon termoplastik merupakan bahan dasar gigi tiruan yang banyak diminati oleh masyarakat karena memiliki nilai estetika yang baik, kelarutan rendah dan tinggi fleksibilitas namun memiliki kekurangan yaitu daya serap airnya yang tinggi. Penyerapan air tinggi akan mempengaruhi sifat dan struktur nilon sehingga menurunkan ketahanan nilon yang digunakan sebagai basis gigi tiruan. Edible coating merupakan bahan pelapis polimer alami dan dapat menjadi alternatif yang baik karena dapat berfungsi sebagai penahan terhadap unsur luar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelapisan edible coating pada basis gigi tiruan nilon termoplastik setelah direndam akuades dan teh hijau terhadap penyerapan air. Metode: Rancangan penelitian adalah eksperimental laboratoris post-test only control group design. Sampel penelitian nilon termoplastik berbentuk silindris dengan ukuran diameter 40 ± 1 mm dan ketebalan 2 ± 1 mm berdasarkan spesifikasi ISO 20795-1. Penyerapan air diukur menggunakan rumus m2-m3/V (ISO/DIS 4049). Nilai penyerapan air dianalisis dengan uji univariat dan uji levene. Hasil: Nilai rerata penyerapan air kelompok sampel yang direndam dalam akuades (A) adalah 4,88 ± 0,34 μg/mm3, dan dilapisi edible coating (B) adalah 3,80 ± 0,37 μg/mm3, kelompok sampel direndam dalam teh hijau (C) adalah 4,43 ± 0,18 μg/mm3 dan dilapisi edible coating (D) adalah 3,58 ± 0,39 μg/mm3. Lalu data dianalisis menggunakan uji One-way ANOVA dengan nilai p=0,0001 (signifikansi pada p<0,05). Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan akibat pelapisan edible coating pada basis gigi tiruan nilon termoplastik setelah direndam dalam akuades dan teh hijau terhadap penyerapan airKATA KUNCI: basis gigi tiruan, nilon termoplastik, penyerapan air, edible coating, teh hijau
|
basis gigi tiruan, nilon termoplastik, penyerapan air, edible coating, teh hijau, denture base, thermoplastic nylon, water absorption, edible coating, green tea | 2023-08-12 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/48084 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i2.48084 |
| 1672346 | #6191 | Perbedaan flow saliva anak usia 11-12 tahun dengan risiko karies tinggi dan rendah |
Nurhasanah, Disa Ratna Aripin, Dudi Rizali, Ervin |
Pendahulan: Mulut merupakan rongga fungsional yang menjadi pintu awal masuknya makanan ke dalam tubuh, didalamnya terdapat cairan kompleks yaitu saliva. Cairan yang kompleks ini diproduksi dan disekresikan oleh kelenjar saliva. Hasil produksi kelenjar saliva dapat membantu kestabilan lingkungan di sekitar rongga mulut. Rongga mulut saliva disekresikan sebanyak 0.5 – 1.5 liter/hari melalui duktus pada kelenjar saliva. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data mengenai perbedaan flow saliva pada anak usia 11-12 tahun dengan risiko karies tinggi dan rendah di Sekolah Dasar Cikawari Kabupaten Bandung. Metode: Jenis penelitian analitik observasional secara cross sectional. Variabel penelitian adalah saliva, flow saliva, karies. Populasi dan sampel penelitian adalah anak usia 11-12 tahun yang hadir di sekolah tempat penelitian. Penelitian dilakukan di Sekolah Dasar Cikawari Kabupaten Bandung pada bulan Desember tahun 2015. Hasil: Hasil uji perbandingan dengan menggunakan independent sample t-test menunjukkan nilai mean pada kelompok risiko karies tinggi sebesar 0,302 dengan standar deviasi 0,200 dan nilai mean pada kelompok risiko karies rendah sebesar 0,512 dengan standar deviasi 0,270. P-value sebesar 0.015 < 0,05. Simpulan: Terdapat perbedaan flow saliva tanpa stimulasi pada anak usia 11-12 tahun dengan risiko karies tinggi dan rendah di SDN Cikawari Kabupaten Bandung.Kata kunci: Saliva, flow saliva, karies gigi
|
Saliva, flow saliva, karies gigi | 2017-10-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22521 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v1i1.22521 |
| 1672345 | #6191 | Differences in the use of super red dragon fruit extract and disclosing solution on plaque index using the HI BOGI application: cross-sectional study |
Fadillah, Rina Putri Noer Rahmani, Hasna Fasya Yuslianti, Euis Reni Pribadi, Ari Prayogo |
ABSTRACT Introduction: Oral health has an important role in a person's health, however, low public awareness of dental and oral health causes high cases of dental and oral disease in Indonesia, one of which is plaque buildup and caries. Plaque index assessment can be a measuring tool for dental and oral hygiene, namely Patient Hygiene Performance (PHP) by giving a disclosing solution which can stain dental plaque. Disclosing solution, a current synthetic chemical, has an unpleasant taste, sometimes causing allergic reactions, and has the potential to be carcinogenic, so alternatives are needed. Among alternatives of natural materials which can be used is dragon fruit juice, as it has natural anthocyanin content and can help color the plaque. The aim of this research was to determine differences in using synthetic disclosing solution and dragon fruit juice on plaque index using the Halo Indonesia with Dentists (HI BOGI) application. Methods: This type of research was cross-sectional. Technique Cluster random sampling used in this research involved 84 junior high school students in Cimahi (a city in West Java). Results: This research showed that the PHP index through the HI BOGI application obtained a greater average plaque index value when using disclosing solution, namely 1.437, compared to dragon fruit juice, namely 0.907, with p value = 0.000 (significance atp<0,05). Conclusion: There are significant differences between plaque index measurements using synthetic disclosing solution and red dragon fruit juice using the HI BOGI application for junior high school students in Cimahi.KEYWORDS: index place,disclosing solution, dragon fruit juice, HI BOGI.Perbedaan indeks plak memakai ekstrak buah naga dan disclosing solution dengan menggunakan aplikasi HI BOGI: studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Kesehatan mulut memiliki peranan penting dalam kesehatan seseorang, namun rendahnya kesadaran masyarakat akan kesehatan gigi dan mulut menyebabkan tingginya kasus penyakit gigi dan mulut di Indonesia, salah satunya penumpukan plak dan menimbulkan karies. Penilaian indeks plak dapat menjadi alat ukur kebersihan gigi dan mulut, salah satunya adalah Patient Hygiene Performance (PHP) dengan pemberian disclosing solution yang mampu mewarnai plak gigi. Disclosing solution kimia sintetis saat ini memiliki rasa yang kurang enak, kadang menimbulkan reaksi alergi, serta berpotensi karsinogenik sehingga diperlukan alternatif pengganti. Di antara alternatif bahan alam yang dapat digunakan adalah sari buah naga, dengan adanya kandungan alami antosianin dan dapat membantu mewarnai plak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan penggunaan disclosing solution sintetis dan sari buah naga terhadap indeks plak dengan menggunakan aplikasi Halo Indonesia Bersama Dokter Gigi (HI BOGI). Metode: Jenis penelitian ini adalah cross-sectional. Teknik cluster random sampling digunakan dalam penelitian ini dengan melibatkan siswa/i SMP di Kota Cimahi sebanyak 84 orang. Hasil: Penelitian ini menunjukkan indeks PHP melalui aplikasi HI BOGI didapat nilai rerata indeks plak pada menggunakan disclosing solution lebih besar yaitu 1,437 dibanding sari buah naga yaitu 0,907, dengan nilai p = 0,000 (signifikasi pada p<0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan antara pengukuran indeks plak menggunakan disclosing solution sintesis dan sari buah naga merah dengan memakai aplikasi HI BOGI pada siswa/i SMP di Kota Cimahi.KATA KUNCI: Indeks plak, disclosing solution, sari buah naga, HI BOGI.
|
index place,disclosing solution, dragon fruit juice, HI BOGI, Indeks plak, disclosing solution, sari buah naga, HI BOGI | 2024-02-29 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/51176 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i1.51176 |
| 1672344 | #6191 | Distribusi fraktur mahkota gigi anterior rahang atas pada anak dengan cerebral palsyDistribution of maxillary crown fracture in anterior teeth in children with cerebral palsy |
Salsabila, Faizah Pratidina, Naninda Berliana Setiawan, Arlette Suzy Puspa Pertiwi |
Pendahuluan: Fraktur mahkota gigi merupakan fraktur yang hanya mengenai bagian keras gigi. Fraktur mahkota gigi anterior rahang atas banyak terjadi pada anak dengan cerebral palsy. Gigi anterior rahang atas berpengaruh terhadap estetik dan fungsi pengunyahan. Tujuan penelitian ini mengetahui distribusi fraktur mahkota gigi anterior anak dengan cerebral palsy di Sekolah Luar Biasa Kota Bandung sehingga dapat diupayakan penanggulangannya sejak dini. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Jumlah subjek sebanyak 35 anak dengan cerebral palsy di Sekolah Luar Biasa Kota Bandung. Data diperoleh dengan pemeriksaan klinis. Klasifikasi fraktur yang digunakan adalah klasifikasi menurut World Health Organization. Hasil: Sebanyak 23 anak (65,72%) mengalami fraktur mahkota gigi anterior rahang atas terdiri dari 13 anak laki-laki (56,53%) dan 10 anak perempuan (43,47%). Jenis fraktur yang banyak terjadi adalah retak email sebanyak 26 (52,00%) dan fraktur email sebanyak 24 (48,00%). Fraktur mahkota gigi anterior rahang atas banyak terjadi pada anak dengan cerebral palsy dikarenakan keterbatasan dalam perkembangan motoriknya. Anak laki-laki lebih sering terkena fraktur mahkota gigi anterior dibandingkan perempuan. Fraktur yang sering terjadi adalah retak dan fraktur email. Simpulan: Anak dengan cerebral palsy berjenis kelamin laki-laki lebih banyak terkena fraktur mahkota dibandingkan anak perempuan dengan jenis fraktur yang banyak ditemukan adalah retak email dan fraktur email.Kata kunci: Fraktur mahkota gigi anterior rahang atas, cerebral palsy, trauma gigi. ABSTRACTIntroduction: Crown fracture is fracture affecting only the hard tooth structure. Crown fracture of maxillary anterior teeth is common in children with cerebral palsy. Maxillary anterior teeth may affect the aesthetic and masticating function. The purpose of this research was to analyse the data of maxillary crown fracture in anterior teeth in children with cerebral palsy at Bandung Special School (SLB) for early prevention. Methods: The research was descriptive, with a total sampling technique. The subjects were 35 children with cerebral palsy children at Bandung Special School. The data was obtained by clinical examination. WHO (World Health Organization) classification about crown fracture was used to evaluate the fracture types. Results: Twenty three children (65.72%) had an anterior maxillary crown fracture, which consisted of 13 boys (56.53%) and 10 girls (43.47%). The most common type of fracture was enamel infraction, which was found in as many as 26 fractures (52.00%) and enamel fractures in as many as 24 fractures (48.00%). Anterior maxillary crown fractures occurred mostly in cerebral palsy children due to their limitations in motoric development. Boys were more often affected by anterior crown fractures than girls. Enamel infraction and enamel fractures were fractures that often occurred in the maxillary central incisors. Conclusion: Most of the boys with cerebral palsy have maxillary crown fractures in the central incisors with enamel infraction and enamel fractures to be the most common fracture type.Keywords: Anterior maxillary crown fractures, cerebral palsy, dental trauma.
|
Fraktur mahkota gigi anterior rahang atas; cerebral palsy; trauma gigi; anterior maxillary crown fractures; dental trauma | 2020-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/27111 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v4i2.27111 |
| 1672343 | #6191 | Anti-inflammatory effect of rain tree leaf extract gel (Samanea saman) on fibronectin expression: study experimental |
Sa'adah, Nikmatus Veronica, Silvia Prehananto, Herlambang Kusumastuti, Endah Gustina, Mara Lukis, Prima Agusti Adriansyah, Agus Aan Abd Ghafar, Siti Aisyah |
ABSTRACT  Introduction: A traumatic ulcer is an open wound on the skin or mucous membranes that often results from trauma, such as scratches, bites, shocks, or pressure. Rain tree leaves (Samanea saman) have the potential to reduce pain and anti-inflammatory effects thanks to the flavonoid content. This extract works by inhibiting the cyclooxygenase and lipoxygenase pathways, which help limit inflammation and accelerate wound healing. This study aims to evaluate the effects of a 12% concentration rain tree leaf (Samanea saman) extract gel on fibronectin expression in the process of healing traumatic ulcers. Methods: This experimental laboratory study employed a post test only control group design. The sample consisted of male white rat wistar Rattus norvegicus and a gel of rain tree leaf extract extracted with a 98% ethanol solvent using a maceration method with a 12% concentration. Data analysis was performed using the Mann- Whitney U test. Results: The highest average was observed in the treatment group receiving the 12% rain tree leaf extract gel (Samanea saman), with an average value of 54.078, while the lowest average was found in the placebo gel control group, with a value of 22.462. Statistical analysis using the Mann-Whitney U test revealed a significant difference between groups (p = 0.004, p < 0.05). Conclusion: A 12% concentration of rain tree leaves (Samanea saman) extract gel significantly enhances fibronectin expression, contributing to the healing process of traumatic ulcers. KEY WORDS: Traumatic ulcers, fibronectin, rain tree leaf extract gel (Samanea saman), wound healing process. Antiinflamasi gel ekstrak daun trembesi (Samanea saman) terhadap ekspresi fibronektin: studi eksperimental ABSTRAK Pendahuluan: Ulkus traumatikus adalah luka terbuka pada kulit atau mukosa yang sering disebabkan oleh trauma seperti goresan, gigitan, benturan, atau tekanan. Daun trembesi (Samanea saman) memiliki potensi mengurangi nyeri dan efek anti-inflamasi berkat kandungan flavonoid. Ekstrak ini bekerja dengan menghambat jalur siklooksigenase dan lipooksigenase, yang membantu membatasi peradangan dan mempercepat proses penyembuhan luka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peranan gel ekstrak daun trembesi (Samanea saman) dengan konsentrasi 12 % terhadap ekspresi fibronektin pada proses penyembuhan ulkus traumatikus. Metode: Eksperimental laboratoris dengan desain penelitian post test only control group. Sampel menggunakan hewan coba tikus putih jantan wistar Rattus norvegicus dan gel ekstrak daun trembesi yang diekstraksi dengan pelarut etanol 98% menggunakan metode maserasi dengan konsentrasi 12 %. Analisis data menggunakan uji Mann- Whitney U. Hasil: Rata-rata tertinggi ditemukan pada kelompok perlakuan yang menerima gel ekstrak daun pohon trembesi 12% (Samanea saman), dengan nilai rerata sebesar 54,078, sedangkan rata-rata terendah ditemukan pada kelompok kontrol gel plasebo, dengan nilai sebesar 22,462. Uji Mann-Whitney U menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dengan nilai signifikan n 0,00 < 0,05. Simpulan: Pemberian gel ekstrak daun trembesi (Samanea saman) 12% berpengaruh terhadap ekspresi fibronektin pada proses penyembuhan ulkus traumatikus. KATA KUNCI: Ulkus Traumatikus, fibronektin, gel ekstrak daun trembesi (Samanea saman), proses penyembuhan luka.
|
Traumatic ulcers; fibronectin; trembesi leaf extract gel (Samanea saman (Jacq.) Merr.); wound healing process | 2025-03-26 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/59642 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i1.59642 |
| 1672342 | #6191 | Pengaruh perendaman cuka sari apel terhadap stabilitas warna dan kekuatan fleksural basis gigi tiruan nilon termoplastikThe effect of apple cider vinegar immersion on the colour stability and flexural strength of the thermoplastic nylon denture base |
Jannah, Miftah Khul Zulkarnain, Mohammad |
Pendahuluan: Nilon termoplastik adalah material basis gigi tiruan yang terbuat dari resin poliamida yang perlu dibersihkan secara berkala. Cuka sari apel dan Val-clean digunakan sebagai bahan pembersih gigi tiruan, namun bahan tersebut dapat mempengaruhi sifat fisis dan mekanis seperti stabilitas warna dan kekuatan fleksural. Tujuan penelitian menganalisis pengaruh perendaman cuka sari apel konsentrasi 5% terhadap stabilitas warna dan kekuatan fleksural basis gigi tiruan nilon termoplastik. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratoris dengan post-test-only control group design. Jumlah sampel terdiri dari 48 dengan ukuran sampel 20x3 mm untuk uji stabilitas warna dan 65x10x3±0,1 mm untuk uji kekuatan fleksural dan terbagi menjadi enam kelompok sampel. Stabilitas warna diukur menggunakan colorimeter dan kekuatan fleksural menggunakan Universal Testing Machine. Analisis data menggunakan uji ANOVA. Hasil: Stabilitas warna menunjukkan tidak ada pengaruh signifikan p=0,124 (p>0,05) antara kelompok perendaman cuka sari apel konsentrasi 5%, Val-clean, dan akuades selama 4 hari, sedangkan kelompok perendaman cuka sari apel konsentrasi 5%, Val-clean, dan akuades selama 8 hari menunjukkan ada pengaruh yang signifikan p=0,035 (p<0,05). Uji ANOVA terhadap kekuatan fleksural menunjukkan ada pengaruh yang signifikan p=0,001 (p<0,05) antara kelompok perendaman cuka sari apel konsentrasi 5%, Val-clean, dan akuades selama 4 hari dan 8 hari. Simpulan: Perendaman cuka sari apel tidak disarankan untuk bahan pembersih basis gigi tiruan nilon termoplastik karena dapat menyebabkan perubahan warna dan dapat menurunkan kekuatan fleksural.Kata kunci: nilon termoplastik; cuka apel 5%; stabilitas warna; kekuatan fleksural ABSTRACT Introduction: Thermoplastic nylon is a denture base material made of polyamide resin that needs to be cleaned regu-larly. Apple cider vinegar and Val-clean are used as denture cleaning agents, but they can affect physical and mechanical properties such as colour stability and flexural strength. The purpose of this study was to analyse the effect of immersion in 5% of apple cider vinegar on the colour stability and flexural strength of thermoplastic nylon denture bases. Methods: This research was an experimental laboratory with a post-test-only control group design. Forty-eight samples were fabricated with the size of 20x3 mm for colour stability test and 65x10x3±0.1 mm for flexural strength test, then divided into six sample groups. Colour stability was measured using a colourimeter and flexural strength using a Universal Testing Machine. Data analysis was performed with an ANOVA test. Results: After four days of immersion, colour stability showed no significant effect (p=0.124; p>0.05) between the 5% apple cider vinegar immersion group, Val-clean, and distilled water. While after eight days of immersion, the 5% apple cider vinegar immersion group, Val-clean, and distilled water showed a significant effect (p=0.035; p<0.05). ANOVA test on flexural strength showed a significant effect (p=0.001; p<0.05) between groups of 5% apple cider vinegar immersion, Val-clean, and distilled water after four and eight days of immersion. Conclusions: Thermoplastic nylon denture base is not recommended to be immersed in apple cider vinegar for cleaning because it can cause discolouration and reduce flexural strength.Keywords: thermoplastic nylon; 5% apple cider vinegar; colour stability; flexural strength
|
nilon termoplastik; cuka apel 5%; stabilitas warna; kekuatan fleksural; thermoplastic nylon; 5% apple cider vinegar; colour stability; flexural strength | 2022-02-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/33156 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i1.33156 |
| 1672341 | #6191 | Oral health care value in disadvantage areas of south lampung regency, lampung province: Study Observational |
Al Risky, Sava Zubaedah, Cucu Hamdani, Ardena Maulidia |
ABSTRACTIntroduction: Dental and oral health is one of the parts that must be kept clean, because through these tissues various microorganisms can enter. Oral health care plays an important role in maintaining a person's well-being and quality of life. In some underdeveloped areas such as South Lampung Regency, Lampung Province, efforts to maintain oral health are still a serious problem for the region, so it is necessary to know the value of maintaining oral health in the community. Methods: This research is a descriptive study using a questionnaire survey method. The sampling technique of this study used a simple random sampling method, with a total of 97 adult respondents who had settled in South Lampung Regency, Lampung Province and were willing to be research subjects. This research instrument is a questionnaire with a total of 41 questions that have passed the validity and reliability tests.  Results: The value of oral health maintenance in the good category was 47.3%, the community was in the good category in the dimension of oral health maintenance actions as much as 50.5% and the statement of distance from oral health services which stated that it was close was 10.3%. The low dimensions of the oral health maintenance value variable are due to factors of education level and socio-economic conditions and which play a role in the community of disadvantaged areas of South Lampung Regency, Lampung Province regarding the importance of oral health maintenance, as well as the absence of affordable and easily accessible health facilities for the community. Conclusion: The value of maintaining oral health of the people of South Lampung Regency, Lampung Province obtained a value of 36.03%, and fell into the low category.KEYWORDS: Oral health, health knowledge, attitudes, practice, dental care, health services accessibility, public healthNilai pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat daerah tertinggal kabupaten lampung selatan, provinsi lampung: Studi observasionalABSTRAKPendahuluan: Kesehatan Gigi dan mulut harus dipertahankan tingkat kebersihannya, karena melalui jaringan ini berbagai macam mikroorganisme dapat masuk ke dalam tubuh. Perawatan kebersihan gigi dan mulut berperan penting dalam menjaga kesejahteraan dan kualitas hidup seseorang. Beberapa wilayah tertinggal seperti Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, upaya dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut masih terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat Kabupaten Lampung Selatan. Metode: penelitian deskriptif dengan metode survei kuisioner dan metode simple random sampling, dengan responden sejumlah 97 orang dewasa yang telah menetap di Kabupaten Lampung Selatan dan bersedia sebagai subjek penelitian. Instrumen penelitian berupa kuesioner dengan total 41 butir pertanyaan yang telah melewati uji validitas dan reliabilitas. Hasil: Nilai manfaat pengetahuan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut kategori rendah 47,03%, masyarakat dalam kategori rendah pada dimensi tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut 50,5% dan pernyataan jarak pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang menyatakan dekat 10,3%. Rendahnya dimensi pada variabel nilai pemeliharan kesehatan gigi dan mulut tersebut dikarenakan faktor tingkat pendidikan, kondisi sosial ekonomi, tidak adanya fasilitas kesehatan yang terjangkau dan mudah diakses bagi masyarakat. Simpulan: Nilai pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut masyarakat Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung sebesar 36,03%, dan masuk kedalam kategori rendah.KATA KUNCI: Kesehatan gigi dan mulut, pengetahuan, sikap, dan praktik kesehatan, pelayanan perawatan gigi, aksesibilitas pelayanan kesehatan, kesehatan masyarakat
|
Pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, daerah tertinggal, lampung selatan, Oral health maintenance, disadvantage areas, south lampung | 2026-02-12 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/69333 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v10i1.69333 |
| 1672340 | #6191 | Perilaku kesehatan gigi dan mulut anak stunting usia 36-60 bulan melalui bullet journal pada masa pandemi COVID-19 Oral health behavior overview of stunting children aged 36-60 months through bullet journals during the COVID-19 pandemic |
Diyanata, Denis Endah Yani, Ristya Widi Sulistiyani, Sulistiyani |
ABSTRAKPendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut merupakan hal penting yang harus diperhatikan, terutama pada anak stunting yang memerlukan perhatian lebih dikarenakan memiliki tingkat kesadaran yang kurang, rentan terhadap penyakit, dan tingkat intelektual yang rendah dibandingkan anak gizi seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku kesehatan gigi dan mulut anak stunting usia 36-60 bulan melalui bullet journal pada masa pandemi COVID-19. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian yaitu anak stunting usia 36-60 bulan dari desa Panduman, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember sebanyak 73 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Responden tersebut akan diberikan sebuah bullet journal yang berisi perilaku dasar kesehatan gigi dan mulut. Tingkat perilaku pada penelitian ini dikategorikan menjadi tiga yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Hasil: Hasil yang didapat dari penelitian ini yaitu 35 responden (48%) termasuk kategori rendah, 29 responden (40%) termasuk kategori sedang, dan 9 responden (12%) termasuk kategori tinggi. Simpulan: Sebagian besar responden memiliki tingkat perilaku yang rendah.Kata kunci: bullet journal; kesehatan gigi dan mulut; stunting; tingkat perilakuABSTRACTIntroduction: Dental and oral health is an important thing that must be considered, especially for stunting children who need more attention because they have a low level of awareness, are susceptible to disease and have a low intellectual level compared to children with balanced nutrition. The objective of this study was to describe oral health behavior and oral health of stunting children aged 36-60 months through a bullet journal during the COVID-19 pandemic. Methods: This research was a descriptive research with ccross-sectional. The study population was stunting children aged 36-60 months from Panduman village, Jelbuk District, Jember Regency as many as 73 respondents. The sampling technique used was total sampling. The respondent will be given a bullet journal containing basic dental and oral health behaviors. The level of behavior in this study was categorized into three, namely low, medium, and high. Results: The results obtained from this study were 35 respondents (48%) in the low category, 29 respondents (40%) in the medium category, and 9 respondents (12%) in the high category. Conclusion: Most of the respondents have a low level of behavior.Keywords: bullet journal; dental and oral health; level of behavior; stunting
|
bullet Journal; kesehatan gigi dan mulut; stunting; tingkat perilaku;bullet journal; dental and oral health; level of behavior; stunting | 2022-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40273 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i3.40273 |
| 1672339 | #6191 | Frekuensi kelainan dento skeletal dengan penanganan bedah ortognatik dan osteodistraksi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2012-2017 |
Nafisa, Arina Sani Yuza, Abel Tasman Sadputranto, Seto Adiantoro |
Pendahuluan: Kelainan dento skeletal adalah kelainan pada gigi geligi yang berdampak pada gangguan fungsi rahang, hubungan gigi dan penampilan wajah. Pada kelainan dento skeletal penggunaan alat ortodontik memiliki keterbatasan dalam mengoreksinya sehingga dibutuhkan perawatan bedah. Bedah ortognatik dan osteodistraksi merupakan pilihan perawatan yang dapat dijalani.. Tujuan penelitian ini adalah memberikan gambaran serta jumlah kelainan dento skeletal dengan penanganan bedah ortognatik dan osteodistraksi di SMF Bedah Mulut dan Maksilofasial pada periode 2012 – 2017. Metode: Jenis penelitian adalah dekriptif retrospektif. Sampel penelitian adalah rekam medis pasien kasus kelainan dento skeletal dengan penanganan bedah ortognatik dan osteodistraksi di SMF Bedah Mulut dan Maksilofasial RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode tahun 2012 – 2017 yang dipilih dengan pendekatan purposive sampling. Hasil: Kelainan dento skeletal dengan jumlah kasus penanganan bedah ortognatik paling banyak terjadi pada tahun 2017, berjumlah 19 kasus. Jumlah kasus penanganan osteodistraksi paling banyak terjadi pada tahun 2017, sebanyak 2 kasus. Teknik pembedahan ortognatik yang paling sering digunakan adalah kombinasi Le Fort 1 dan BSSO yaitu sebanyak 64,11% sedangkan untuk teknik pembedahan osteodistraksi yang paling sering digunakan adalah teknik distraksi maksila sebanyak 50%. Simpulan: Pasien kelainan dento skeletal pada RSUP Hasan Sadikin periode 2012 -2017 yang ditangani dengan bedah ortognati sebanyak 39 orang (24%) dan sebanyak 4 orang (2,5%) ditangani dengan osteodistraksi.Kata kunci: Kelainan dento skeletal, bedah ortognatik, bedah osteodistraksi.
|
2018-10-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21446 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i2.21446 | |
| 1672338 | #6191 | Frequency distribution of hypocalcification on permanent teeth in people with down syndrome at POTADS bandung foundation: A cross-sectional study | Frequency distribution of hypocalcification on permanent teeth in people with down syndrome at POTADS bandung foundation: A cross-sectional study |
Budiman, Amelia Ambarwati Andisetyanto, Prima Soewondo, Willyanti |
Introduction: Down Syndrome (Trisomy 21) is a genetic disorder, namely the presence of an extra chromosome on chromosome 21. Abnormalities in people with Down Syndrome can influence various factors and have distinctive physical characteristics, one of which is dental anomalies, including abnormalities in the structure of tooth enamel, enamel hypocalcification. The aim of this study was to determine the frequency distribution of hypocalcification of permanent teeth in people with Down Syndrome. Methods: This research uses descriptive methods with cross-sectional survey techniques. Subjects were obtained using the accidental sampling method, resulting in 30 children with Down Syndrome from POTADS Foundation, consisting of 13 boys and 17 girls. All children had been diagnosed with Down Syndrome by a pediatrician. Enamel hypocalcification is an abnormality in the structure of the enamel, characterized by the presence of opaque to whitish and brownish spots. Examination of enamel hypocalcification can be done through clinical examination with sufficient lighting. Data analysis used frequency dstribution. Results: The frequency of enamel hypocalcification on permanent teeth of people with Down Syndrome was 33.33%; consisting of 26.67% in central incisors, 3.33% in first molars, and 3.33% in central incisors and first molars. Distribution by gender showed 13.33% in boys and 20% in girls, based on age 3.33% at 7 years, 6.67% at 11 years, 3.33% at 12 years, 3.33% at 13 years, 3.33% at 14 years, 6.67% at 17 years, 3.33% at 21 years, and 3.33% at 22 years. Conclusions: The frequency distribution of enamel hypocalcification in the permanent teeth of individuals with Down Syndrome in Bandung was 33.33%. Hypocalcification was most common in central incisors and more prevalent in women.Distribusi frekuensi hipokalsifikasi gigi tetap pada penyandang sindrom down: studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Sindrom Down (Trisomi 21) merupakan kelainan genetik yaitu adanya kromosom ekstra pada kromosom 21. Kelainan pada penyandang Sindrom Down dapat memengaruhi berbagai faktor dan memiliki ciri fisik yang khas, salah satunya adalah anomali gigi, termasuk kelainan struktur email gigi yaitu hipokalsifikasi email. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi frekuensi hipokalsifikasi gigi tetap pada penyandang Sindrom Down. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik survei cross-sectional. Subjek yang diperoleh dengan metode accidental sampling menghasilkan sebanyak 30 anak penyandang Sindrom Down dari Yayasan POTADS, terdiri dari 13 laki-laki dan 17 perempuan. Anak penyandang Sindrom Down adalah anak yang telah didiagnosis mengalami Sindrom Down oleh dokter anak. Hipokalsifikasi email merupakan kelainan struktur email yaitu adanya bercak tidak tembus cahaya, buram sampai berwarna keputihan, dan berwarna kecoklatan. Pemeriksaan hipokalsifikasi email dapat dilakukan melalui pemeriksaan klinis dengan pencahayaan yang cukup. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi. Hasil: Frekuensi hipokalsifikasi email pada gigi tetap penyandang Sindrom Down sebesar 33,33%; terdiri dari 26,67% pada gigi insisivus sentral, 3,33% pada gigi molar pertama, dan 3,33% pada gigi insisivus sentral dan molar pertama. Berdasarkan jenis kelamin 13,33% pada laki-laki dan 20% pada perempuan, berdasarkan usia 3,33% pada 7 tahun, 6,67% pada 11 tahun, 3,33% pada 12 tahun, 3,33% pada 13 tahun, 3,33% pada 14 tahun, 6,67% pada 17 tahun, 3,33% pada 21 tahun, dan 3,33% pada 22 tahun. Simpulan: Distribusi frekuensi hipokalsifikasi email pada gigi tetap penyandang Sindrom Down sebesar 33,33%, Hipokalsifikasi paling banyak terjadi pada gigi insisivus sentral dan lebih banyak terjadi pada penderita berjenis kelamin perempuan. | ABSTRACTIntroduction: Down Syndrome (Trisomy 21) is a genetic disorder, namely the presence of an extra chromosome on chromosome 21. Abnormalities in people with Down Syndrome can influence various factors and have distinctive physical characteristics, one of which is dental anomalies, including abnormalities in the structure of tooth enamel, enamel hypocalcification. The aim of this study was to determine the frequency distribution of hypocalcification of permanent teeth in people with Down Syndrome. Methods: This research uses descriptive methods with cross-sectional survey techniques. Subjects were obtained using the accidental sampling method, resulting in 30 children with Down Syndrome from POTADS Foundation, consisting of 13 boys and 17 girls. All children had been diagnosed with Down Syndrome by a pediatrician. Enamel hypocalcification is an abnormality in the structure of the enamel, characterized by the presence of opaque to whitish and brownish spots. Examination of enamel hypocalcification can be done through clinical examination with sufficient lighting. Data analysis used frequency dstribution. Results: The frequency of enamel hypocalcification on permanent teeth of people with Down Syndrome was 33.33%; consisting of 26.67% in central incisors, 3.33% in first molars, and 3.33% in central incisors and first molars. Distribution by gender showed 13.33% in boys and 20% in girls, based on age 3.33% at 7 years, 6.67% at 11 years, 3.33% at 12 years, 3.33% at 13 years, 3.33% at 14 years, 6.67% at 17 years, 3.33% at 21 years, and 3.33% at 22 years. Conclusions: The frequency distribution of enamel hypocalcification in the permanent teeth of individuals with Down Syndrome in Bandung was 33.33%. Hypocalcification was most common in central incisors and more prevalent in women.Distribusi frekuensi hipokalsifikasi gigi tetap pada penyandang sindrom down: studi cross-sectionalABSTRAK Pendahuluan: Sindrom Down (Trisomi 21) merupakan kelainan genetik yaitu adanya kromosom ekstra pada kromosom 21. Kelainan pada penyandang Sindrom Down dapat memengaruhi berbagai faktor dan memiliki ciri fisik yang khas, salah satunya adalah anomali gigi, termasuk kelainan struktur email gigi yaitu hipokalsifikasi email. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi frekuensi hipokalsifikasi gigi tetap pada penyandang Sindrom Down. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik survei cross-sectional. Subjek yang diperoleh dengan metode accidental sampling menghasilkan sebanyak 30 anak penyandang Sindrom Down dari Yayasan POTADS, terdiri dari 13 laki-laki dan 17 perempuan. Anak penyandang Sindrom Down adalah anak yang telah didiagnosis mengalami Sindrom Down oleh dokter anak. Hipokalsifikasi email merupakan kelainan struktur email yaitu adanya bercak tidak tembus cahaya, buram sampai berwarna keputihan, dan berwarna kecoklatan. Pemeriksaan hipokalsifikasi email dapat dilakukan melalui pemeriksaan klinis dengan pencahayaan yang cukup. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi. Hasil: Frekuensi hipokalsifikasi email pada gigi tetap penyandang Sindrom Down sebesar 33,33%; terdiri dari 26,67% pada gigi insisivus sentral, 3,33% pada gigi molar pertama, dan 3,33% pada gigi insisivus sentral dan molar pertama. Berdasarkan jenis kelamin 13,33% pada laki-laki dan 20% pada perempuan, berdasarkan usia 3,33% pada 7 tahun, 6,67% pada 11 tahun, 3,33% pada 12 tahun, 3,33% pada 13 tahun, 3,33% pada 14 tahun, 6,67% pada 17 tahun, 3,33% pada 21 tahun, dan 3,33% pada 22 tahun. Simpulan: Distribusi frekuensi hipokalsifikasi email pada gigi tetap penyandang Sindrom Down sebesar 33,33%, Hipokalsifikasi paling banyak terjadi pada gigi insisivus sentral dan lebih banyak terjadi pada penderita berjenis kelamin perempuan.
|
sindrom down, kelainan struktur email, hipokalsifikasi email pada gigi tetap sindrom down, kelainan struktur email, hipokalsifikasi email pada gigi tetap | 2024-06-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/54130 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i2.54130 |
| 1672337 | #6191 | Efek pemberian seduhan kopi robusta (Coffea canephora) terhadap jumlah sel makrofag dan limfosit pada model tikus periodontitis kronisThe effect of brewed robusta coffee (Coffea canephora) on macrophage and lymphocyte cells in rat model of chronic periodontitis |
Prasetya, Rendra Chriestedy Praharani, Depi Fatimatuzzahro, Nadie Ermawati, Tantin Tsalats, Favinas Octa Nuri |
Pendahuluan: Periodontitis merupakan penyakit peradangan yang terjadi pada jaringan pendukung gigi dengan prevalensi tertinggi. Porphyromonas gingivalis merupakan bakteri utama penyebab periodontitis. Pada proses inflamasi terjadi infiltrasi sel mononuklear, yaitu makrofag dan limfosit. Makrofag dan limfosit adalah sel yang berperan penting dalam pertahanan tubuh terhadap patogen selama inflamasi, tetapi apabila makrofag dan limfosit teraktivasi secara berlebihan justru dapat menyebabkan kerusakan jaringan. Salah satu bahan alami yang dapat bertindak sebagai anti-inflamasi adalah kopi Robusta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh seduhan kopi Robusta terhadap jumlah sel makrofag dan limfosit pada tikus model periodontitis. Metode: Jenis penelitian eksperimen laboratorium, menggunakan 20 ekor tikus yang dibagi menjadi 5 kelompok secara acak yaitu kelompok kontrol (K); kelompok tikus yang diinduksi Porphyromonas gingivalis (P5-A); kelompok tikus yang diinduksi Porphyromonas gingivalis dan diberi seduhan kopi robusta (P5-B) dieutanasia pada hari ke-19; kelompok tikus yang diinduksi Porphyromonas gingivalis (P7-A); kelompok tikus yang diinduksi Porphyromonas gingivalis dan diberi seduhan kopi robusta (P7-B) dieutanasia pada hari ke-21. Seduhan kopi robusta yang diberikan sebanyak 3,6 ml selama 14 hari. Pemrosesan jaringan dan pewarnaan HE dilakukan pada preparat rahang bawah. Penghitungan makrofag dan limfosit pada area sekitar tulang alveolar bukal M1 bawah, kemudian dilakukan analisis statistik one-way ANOVA. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan jumlah sel makrofag dan limfosit antara kelompok kontrol dibandingkan kelompok perlakuan (p<0,05); tidak terdapat perbedaan yang siginifikan (p>0,05) jumlah sel limfosit diantara kelompok perlakuan (P5-A,P5-B,P7-A dan P7-B). Simpulan: Seduhan kopi robusta dapat mengurangi jumlah sel makrofag dan limfosit pada model tikus periodontitis.Kata kunci: Seduhan kopi robusta, makrofag, limfosit, periodontitis. ABSTRACTIntroduction: Periodontitis is an inflammatory disease that occurs in tooth-supporting tissues with a high prevalence. Porphyromonas gingivalis is the primary bacteria that cause periodontitis. In the inflammatory process, mononuclear cell, such as macrophages and lymphocytes, infiltrate. Macrophages and lymphocytes play an essential role in the body’s defence against pathogens during inflammation. However, excessively activated macrophages and lymphocytes can cause tissue damage. One of the natural ingredients that can act as an anti-inflammatory is Robusta coffee. This study was aimed to analyse the effect of brewed Robusta coffee on the number of macrophage and lymphocyte cells in the chronic periodontitis rat model. Methods: This research was a laboratory experiment towards 20 rats, which were randomly divided into five groups: the control group (K); group of mice induced by Porphyromonas gingivalis (P5-A); group of mice induced by Porphyromonas gingivalis and administered with brewed robusta coffee (P5-B), euthanised on the 19th day 19; group of mice induced by Porphyromonas gingivalis (P7-A); group of mice induced by Porphyromonas gingivalis and administered with brewed robusta coffee (P7-B), euthanised on the 21st day. Brewed robusta coffee was administered for as much as 3.6 ml during 14 days. Tissue processing and HE staining were performed on the mandibular preparations—calculation of macrophages and lymphocytes in the area around the lower M1 buccal alveolar. The results were then analysed with one-way ANOVA. Results: There was a significant difference in the number of macrophages and lymphocytes between the control and the treatment group (p<0.05). However, there was no significant difference (p>0.05) found in the number of lymphocytes between all treatment groups (P5-A, P5-B, P7-A, and P7-B). Conclusion: Brewed Robusta coffee can reduce the number of macrophage and lymphocyte cells in the chronic periodontitis rat model.Keywords: Brewed Robusta coffee, macrophage, lymphocyte, periodontitis.
|
seduhan kopi robusta; makrofag; limfosit; periodontitis; brewed Robusta coffee; macrophage; lymphocyte | 2021-04-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28591 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i1.28591 |