Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↓ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1672196 #3358 Front Matter Team, Teknotan Editorial
Tidak ada deskripsi
2023-12-14 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/52128 buka_link ↗ Highlight_link
1672195 #3358 Uji Kinerja dan Analisis Ekonomi Mesin Pemecah Cangkang Kemiri Sunan MPC KS-0218 Jenis Ayakan Getar Sugandi, Wahyu Kristian
Kramadibrata, M. Ade Moetangad
Yusuf, Asep
Putra, Eka Aria
Minyak dari hasil pengolahan inti kemiri sunan dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel setelah melalui berbagai tahap proses pasca panen, oleh karena itu kemiri sunan dapat menjadi alternatif energi yang dapat diperbaharui (renewable). Mesin pemecah kemiri sunan (MPC KS-0218) jenis ayakan getar belum memiliki spesifikasi teknis dan kelayakan ekonomi, sehingga mesin belum dapat didistribusikan dan diperjualbelikan secara layak ke masyarakat pengguna/pelaku usaha kemiri sunan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan uji kinerja dan analisis ekonomi mesin pemecah cangkang kemiri sunan. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif, yaitu melakukan pengukuran dan pengamatan terhadap kinerja mesin pemecah cangkang kemiri sunan beserta analisis ekonominya. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk menentukan kelayakan dalam segi fungsional dan ekonomi dari mesin tersebut.  Hasil uji kinerja menunjukkan mesin pemecah cangkang kemiri sunan belum layak secara teknis karena 4 dari 9 parameter tidak memenuhi kriteria, yaitu nilai kapasitas aktual 49 kg/jam, efisiensi mesin 42%, kebutuhan daya sebesar 0,22 kW, energi spesifik 17,08 kJ/kg, rendemen 39,5%, tingkat kebisingan dibawah ambang batas sebesar 87,72 dB, tingkat getaran diatas ambang batas sebesar 13,41 m/s2 dan indeks performansi 0,72. Hasil analisis ekonomi mesin MPC KS-0218 memiliki nilai yang belum layak secara ekonomis karena 1 dari 4 parameter, yaitu nilai NPV Rp. 77.043.681,20 (NPV > 0), nilai IRR > suku bunga MARR (10 % ) dengan nilai IRR 51,98 % dengan periode pengembalian modal pada tahun ke 2, lalu b/c ratio ≥ 1 dengan nilai 1,08 (b/c ratio yang direkomendasikan 1,1 - 1,4).
pemecah cangkang kemiri sunan; uji kinerja; analisis ekonomi; MPC KS-0218 2021-01-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/23711 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol14n2.1
1672194 #3358 BUDIDAYA PADI DI DALAM POLIBEG DENGAN IRIGASI BERTEKANAN UNTUK ANTISIPASI PESATNYA PERUBAHAN FUNGSI LAHAN SAWAH Saleh, Edward
Nainggolan, Angela F.
Butarbutar, Lismaria
Untuk mengantisipasi pesatnya peningkatan alih-fungsi lahan sawah ke lahan industri non-pangan, telah dilakukan penelitian penanaman padi dalam polibag dengan irigasi dan dikombinasikan dengan metode SRI (system of rice intensification).  Percobaan dilakukan dengan perlakuan irigasi irigasi tetes, penyiraman dan tanpa penyiraman.  Besarnya pemberian air irigasi diberikan sesuai dengan kebutuhan air tanaman (ETp) yang diprediksi menggunakan model Blaney-Creadle. Pengamatan dilakukan di lahan padi sawah dan padi ladang. Hasilnya menunjukkan bahwa dari segi pertumbuhan tanaman, produktivitas per-rumpun tanaman dan berat biji padi tidak ada bperbedaan nyata, baik  antara tanaman yang tumbuh di ladang maupun di sawah,  sehingga disimpulkan budidaya padi dapat dilakukan di dalam polibag sebagai solusi alternatif ketika produksi padi di lahan sawah sudah tidak memungkinkan lagi. Kata kunci : Padi, Polibeg, Irigasi tetes, Produksi
2012-01-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6320 buka_link ↗ Highlight_link
1672193 #3358 Pengaruh Rasio Bahan-Pelarut dan Waktu Ekstraksi terhadap Mutu Ekstrak Tembakau (Nicotiana tabacum L.) dengan Microwave-Assisted Extraction (MAE) Wulandari, Endah
Subroto, Edy
Djali, Mohammad
Fauziah, Hana
Tembakau (Nicotiana tabacum L.) merupakan salah satu komoditas unggulan di Indonesia. Ekstrak tembakau dapat diaplikasikan dalam produk untuk membantu berhenti merokok. Metode ekstraksi berbantu microwave (MAE) memiliki keunggulan dalam mempersingkat waktu ekstraksi dan penggunaan energi serta penggunaan pelarut yang lebih efektif. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh waktu ekstraksi dan rasio bahan baku-pelarut terhadap rendemen, warna, kandungan alkaloid, serta kadar nikotin pada ekstrak tembakau menggunakan Microwave-Assisted Extraction (MAE). Hasil analisis menunjukkan bahwa rasio 1:3 (b/v) memerlukan waktu lebih lama untuk mencapai rendemen tinggi, sedangkan rasio 1:9 (b/v) mampu menghasilkan rendemen yang lebih besar dalam waktu yang lebih singkat. Warna ekstrak tembakau menunjukkan nilai L*, a*, dan b* yang bervariasi, kecenderungan warna mengarah ke merah gelap. MAE menghasilkan kadar nikotin yang lebih rendah dibandingkan maserasi, tetapi tetap lebih efektif karena dapat mencapai hasil yang mendekati hanya dalam waktu ekstraksi 15 menit. Rasio bahan bakupelarut dan waktu ekstraksi terbukti memengaruhi rendemen, warna, dan kandungan alkaloid pada ekstrak tembakau. Perlakuan dengan hasil rendemen tertinggi (29.54%) serta intensitas sedang senyawa alkaloid yang terdeteksi diperoleh dari rasio bahan baku-pelarut 1:9 (b/v) selama 5 menit.
microwave-assisted extraction; nikotin; rasio bahan-pelarut; tembakau; waktu ekstraksi 2025-08-14 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/61920 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol19n2.9
1672192 #3358 Peran Kulit Buah Naga dan Jamur Tiram terhadap Peningkatan Mineral dan Mikrostruktur pada Bakso Ayam Choiriyah, Nurul Azizah
Rahmah, Latifahtur
Konsumsi buah dan sayur oleh masyarakat Indonesia masih rendah yang berdampak pada defisiensi mineral. Substitusi kulit buah naga dan jamur tiram pada bakso dapat menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan mineral. Kulit buah naga dan jamur tiram juga sumber serat yang dapat memperbaiki mikrostruktur bakso. Tujuan penelitian ini yaitu mengevaluasi penggunaan substitusi kulit buah naga dan jamur tiram pada bakso ayam dengan berbagai konsentrasi untuk mendapatkan kadar kalsium, zat besi dan kalium yang tinggi serta mikrostruktur yang baik (matriks gel yang kompak). S2 merupakan sampel dengan kadar kalsium tertinggi. Kadar zat besi antara sampel S2, S3 dan S4 tidak terdapat perbedaan nyata. Sampel dengan penambahan jamur tiram dan kulit buah naga dengan konsentrasi yang berbeda (S2, S3 dan S4) memiliki kadar zat besi lebih tinggi daripada sampel tanpa penambahan jamur tiram dan kulit buah naga (S1) maka substitusi kulit buah dan jamur tiram dapat meningkatkan kadar zat besi bakso ayam.  Sampel S3 dan S4 merupakan sampel dengan kadar kalium paling tinggi diikuti sampel S2 dan S1. Kadar kalium dipengaruhi oleh kulit buah naga dan jamur tiram. S2 merupakan produk dengan kadar lemak yang rendah dengan kandungan protein relatif tinggi dibandingkan S3 dan S4. Pengamatan SEM dilakukan untuk produk terpilih berdasarkan kualitas gizi paling baik yaitu S2 dan dibandingkan dengan produk kontrol (S1). Uji SEM menunjukkan bahwa S1 memiliki banyak rongga dibandingkan S2. Matriks gel S2 bersifat lebih kompak karena memiliki serat yang tinggi. Dengan demikian, sampel S2 merupakan sampel dengan kandungan kalsium, zat besi dan kalium yang tinggi serta dengan mikrostruktur yang bagus.
teknik pengolahan hasil pertanian bakso ayam; kalium; kalsium; zat besi; mikrostruktur 2022-05-13 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/36757 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol16n1.9
1672191 #3358 UJI KINERJA TUNGKU TERKENDALI BERBASIS PLC PADA MESIN SANGRAI BIJI KOPI GUNA MENINGKATKAN EFISIENSI BAHAN BAKAR Suharyanto, Edy
Mulato, Sri-
., Harsono
Kinerja mesin sangrai perlu ditingkatkan agar lebih mudah dioperasikan, lebih efisien bahan bakar, namun dengan mutu cita-rasa kopinya tetap terjaga. Untuk mengantisipasi hal tersebut telah dilakukan rekayasa tungku terkendali atau otomatis berbasis PLC (Programable Logic Controller), yang dapat menjaga kestabilan panas ruang sangrai. Dalam kajian ini Pt-100 dan thermostat yang memiliki input langsung dengan unit pengendali mikrokontroller berbasis PLC type SR3-XT43BD digunakan sebagai sensor suhu pada silinder penyangrai. Berdasarkan perhitungan teoritis, dibutuhkan kayu seberat 4,613 kg dan udara untuk proses pembakaran 0,01327 m3/s pada setiap penyangraian. Dari hasil pengujian terhadap kemampuan PLC ini diperoleh resistor kompensator - dipasangkan secara paralel pada sensor Pt-100, yang dapat mendeteksi suhu dari kisaran 30 hingga > 300 °C. Kisaran suhu ini sesuai untuk suhu sangrai biji kopi. Hasil uji kinerja tungku terkendali pada mesin sangrai kapasitas 10 kg diperoleh rata-rata waktu sangrai 23 menit, konsumsi kayu 4,1 kg, dan suhu pada ruang sangrai konsisten pada interval 165–180 °C, Kestabilan suhu ruang sangrai pada interval ini menyebabkan biji sangrai yang lebih seragam dan mutu cita-rata kopi seduhannya lebih baik, serta pada setiap proses penyangraian, konsumsi kayu bakar lebih hemat 34,7 % daripada  konsumsi LPG. Kata kunci: kopi, penyangrai, sensor  suhu, thermostat, PLC type SR3-XT43BD
2013-01-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6365 buka_link ↗ Highlight_link
1672190 #3358 PEMISAHAN 2-MONOASILGLISEROL KAYA ASAM LEMAK OMEGA-3 HASIL REAKSI BUTANOLISIS LIMBAH MINYAK IKAN MENGGUNAKAN MEDIUM PRESSURE LIQUID CHROMATOGRAPHY Mahmud, Heri Risnayadi
Asam lemak omega-3 khususnya eicosapentaenoic acid (EPA) dan  docosahexaenoic acid (DHA) adalah sangat penting dalam pengayaan gizi pangan yang dapat diproduksi dari minyak ikan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni hingga Maret 2005. Distribusi asam lemak-3 dalam triasilgliserol (TAG) minyak ikan adalah lebih tinggi pada posisi sn-2 dari pada posisi sn-3. Reaksi butanolisis enzimatik yang menggunakan lipase Thermomyces lanuginosus (LipozymeâTL IM) dapat menghasilkan mono-asilgliserol (MAG) kaya akan asam lemak omega-3 karena enzim spesifik untuk memotong asam lemak pada posisi  sn-1,3 TAG dan menyisakan 2-MAG kaya akan asam lemak omega-3. Dalam penelitian ini, reaktor fluidized-bed kontinyu digunakan untuk mengkonversi minyak ikan (100% TAG) menjadi suatu campuran 6,69% TAG, 17,22% diasilgliserol (DAG), 11,39% MAG, 29,26% butil ester, 28,45% butanol dan 6,99% komponen lain selama 1 jam. MAG dipisahkan dari campuran menggunakan suatu kolom silika gel Medium Pressure Liquid Chromatography (MPLC) dengan tiga tahap elusi. Tahap pertama, butanol dielusi gas nitrogen yang ditiupkan ke dalam kolom silika gel. Tahap kedua, komponen non MAG dielusi dengan 600 ml heksana/dietileter (dengan lima perlakuan 100/0, 90/10, 80/20, 70/30 dan 60/40 v/v). Tahap terakhir, MAG dielusi dengan 600 ml dietileter. Dari 22 g minyak ikan, melalui perlakuan heksana/dietileter 80/20 (v/v) dihasilkan 3,472 g minyak MAG kemurnian tinggi (93,21%) dan recovery MAG (96,99%). Hasil evaluasi asam lemak menunjukkan bahwa minyak MAG tersebut kaya akan asam lemak omega-3 44,2% (w/w) (29,30% EPA, 7,82% DHA and 5,57% other omega-3 fatty acids). Kata kunci: Reaktor fluidized-bed, monoasilgliserol, asam lemak omega-3, LipozymeâTL IM dan medium pressure liquid chromatography
2014-12-15 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4811 buka_link ↗ Highlight_link
1672189 #3358 Front Matter Editorial Team, Teknotan
Tidak ada deskripsi
2023-04-10 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/46608 buka_link ↗ Highlight_link
1672188 #3358 OPTIMASI POLA TANAM PADA LAHAN SAWAH TADAH HUJAN DI KECAMATAN CIMANGGUNG KABUPATEN SUMEDANG N. P., Sophia Dwiratna
Suryadi, Edy
Kamaratih, Kharisma Dewi
Lahan sawah tadah hujan hanya mengandalkan hujan untuk pemenuhan kebutuhan air. Penentuan pola dan jadwal tanam sangat diperlukan agar kegagalan panen dapat dihindari sehingga keuntungan maksimum dapat diperoleh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola dan jadwal tanam lahan sawah tadah hujan yang sesuai dengan kesetimbangan air dan menghasilkan keuntungan maksimum bagi petani di Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu mengkaji data curah untuk mengetahui ketersediaan air, menentukan pola dan jadwal tanam yang sesuai dengan ketersediaan air, dan menentukan pola tanam yang dapat menghasilkan keuntungan maksimum dengan menggunakan program linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jadwal tanam yang terbaik untuk Kecamatan Cimanggung adalah November dasarian II (MT I) dan Februari dasarian III (MT II) dengan pola tanam: Padi-Padi; Padi-Jagung; Padi-Tembakau; Padi-Timun; Padi-Jagung Manis; dan Jagung-Jagung. Berdasarkan analisis optimasi, pola tanam yang memberikan keuntungan maksimum adalah Padi-Timun.Kata kunci: Sawah Tadah Hujan, Pola dan Jadwal Tanam, Neraca Air, Optimasi.
2016-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8886 buka_link ↗ Highlight_link
1672187 #3358 AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK DEDAK JAGUNG -, Tensiska
Sukarti, Tati
Amin, Muzapar
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis pelarut dan metode ekstraksi yang tepat sehingga dihasilkan ekstrak dedak jagung dengan aktivitas antioksidan tertinggi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah metode ekstraksi yang terdiri dari dua taraf yaitu metode soxhlet dan metode maserasi dan faktor yang kedua adalah jenis pelarut yaitu heksana, etil asetat dan etanol. Perlakuan metode ekstraksi maserasi dengan pelarut heksana ( rendemen ekstrak kasar 10,14 % b/b ) menghasilkan senyawa aktif yang memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi dibandingkan dengan semua perlakuan lainnya.   Kata kunci : Aktivitas antioksidan, Ekstrak dedak jagung, Maserasi, Heksan
2014-12-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4869 buka_link ↗ Highlight_link
1672186 #3358 Mutu Pasta Asam Jawa (Tamarindus indica L.) dengan CMC (Carboxymethyl Cellulose) sebagai Bahan Pengental Fadhillah, Muhammad Arief
Marwati, Marwati
Prabowo, Sulistyo
Andriyani, Yulian
Sholeh, Agustu
Asam jawa (Tamarindus indica L.) merupakan salah satu buah tropis dengan rasa asam segar dan dapat dimanfaatkan menjadi bumbu masak instan. Sifat puree asam jawa yang tinggi kandungan air dan dapat mempercepat penurunan mutu produk dapat diantisipasi dengan pembuatan pasta. Carboxymethyl cellulose (CMC) dapat digunakan untuk meningkatkan kekentalan produk pasta dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui mutu pasta asam jawa dengan penggunaan CMC sebagai bahan pengental. Bahan baku yang digunakan adalah buah asam jawa, air dan CMC. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non-faktorial dengan perlakuan konsentrasi CMC (w/v) 0,00, 0,50%, 1,00% dan 1,50%. Data hasil uji sifat fisik dan kimia diolah dengan uji ANOVA dan organoleptik dengan uji Friedman dengan taraf error 5%. Parameter yang diuji pada kualitas pasta asam jawa adalah kadar air, Total Padatan Terlarut (TPT), Total Asam Tertitrasi (TAT), pH, viskositas, warna dan organoleptik hedonik. Dari hasil uji didapatkan perlakuan CMC 1,00% mempunyai hasil terbaik dengan kadar air 82,02%, TPT 7,58%, TAT 0,30%, pH 2,99 dan viskositas 5514,4 cp. Penggunaan CMC sebagai bahan pengental pasta asam jawa memberi pengaruh yang signifikan terhadap mutu fisik pasta asam jawa.
Asam jawa; carboxymethyl cellulose; pasta, pengental. 2024-04-22 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/50478 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol18n1.8
1672185 #3358 Penanganan Limbah Cair Industri Pengolahan Produk Hewani Serta Pemanfaatannya Menjadi Sabun Cair Kemala, Nadya Shita
Pareira, Boy Macklin
Widyasanti, Asri
Industri makanan merupakan salah satu sumber penghasil limbah cair. Industri makanan pada penelitian ini berada di tengah kota yang limbahnya berdampak langsung pada masyarakat. Tujuan penelitian ialah melakukan proses pemisahan minyak dan lemak serta membuat sabun cair berbahan dasar minyak dan lemak limbah cair. Metode pertama yang digunakan ialah grease trap dan metode kedua ialah pemurnian dengan degumming dan deodorizing. Penggunaan metode pertama menunjukkan peningkatan dengan karakteristik BOD menjadi 5.371 mg/liter, TSS menjadi 117 mg/liter, minyak dan lemak menjadi 5,0 mg/liter, berkurangnya bau serta pH menjadi 7,44. Selanjutnya, penggunaan metode kedua dengan penambahan 2% bentonit dan 2% zeolit mendapatkan hasil kadar air 0,015%, kadar abu 0,11%, kadar protein 0,45%, kadar lemak 100% dan kadar karbohidrat 0%. Sabun cair dapat dihasilkan dengan penambahan VCO (Virgin Coconut Oil) yang mampu meningkatkan pembusaan. Perbandingan penggunaan bahan utama sebesar 50:50. Hasil analisa mutu SNI 06-2048-1990 adalah alkali bebas 0,0077%, lemak tak tersabunkan 1,9808% dan minyak pelikan negatif telah memenuhi persyaratan. Namun, jumlah asam lemak tidak memenuhi persyaratan dengan nilai sebesar 7,151%. Kadar air sebesar 53,9696% tetapi tidak ada angka spesifik pada SNI untuk parameter ini. Hasil pengujian organoleptik menunjukkan panelis menyukai sabun tersebut dengan nilai rata-rata lebih tinggi dibandingkan sabun pembanding dengan interpretasi baik.Kata kunci: Limbah cair, minyak dan lemak, sabun cair
2018-09-20 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/13741 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol12n1.2
1672184 #3358 ANALISIS PROSES PRODUKSI COKELAT SKALA UKM Widyotomo, Sukrisno
Salah satu upaya strategi untuk mengurangi ketergantungan harga cokelat di pasar internasional adalah dengan perluasan pasar dan diversifikasi produk hilirnya. Kapasitas produksi dirancang berdasarkan jumlah produk cokelat optimum yang dihasilkan per hari dengan formulasi standar. Analisis proses dilakukan terhadap alur proses yang sinambung untuk menghasilkan pasta cokelat, bubuk kakao dan produk samping berupa kulit biji tanpa adanya penumpukan bahan di salah satu tahapan proses. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk mencegah terjadinya penumpukan bahan (bottle neck) dalam satu alur proses, maka diperlukan pengempa lemak kakao, kabinet tempering bungkil, mesin refining, mesin choncing dan kabinet tempering pasta masing-masing sebanyak 2, 17, 3, 7 dan 5 unit. Dengan asumsi umur ekonomis selama 10 tahun, harga biji kakao kering terfermentasi Rp 25.000,-/kg, harga bubuk kakao murni Rp 75.000,-/kg kemasan, dan formula cokelat Rp 90.000,-/kg, maka diperoleh nilai ROI, BC Ratio, dan NPV (nett present value) masing-masing sebesar  7,4 tahun; 1,45; dan Rp 6.495.903.815,-. Terindikasikan bahwa mutu bubuk kakao dan formula cokelat yang dihasilkan baik dan dapat diterima oleh konsumen.         Kata kunci : Kakao, Cokelat, Proses produksi, Skala UKM
2014-12-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/5055 buka_link ↗ Highlight_link
1672183 #3358 Front Matter Team, Teknotan Editorial
Tidak ada deskripsi
2025-04-29 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63045 buka_link ↗ Highlight_link
1672182 #3358 Kajian Pemanfaatan Sampah Pemukiman Sebagai Bahan Dasar EM-Bokashi dan Interaksinya dengan Jumlah Pemberian Air Terhadap Hasil dan Pertumbuhan Tanaman Tomat (Lycopersicon eseulentum Mill) -, Wagiono
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh jumlah pemberian air dan berbagai jenis EM-Bokashi sampah rumah tangga sebagai bahan dasar pupuk terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill), dan memberikan informasi kombinasi perlakukan jumlah pemberian air dan EM-Bokashi mana yang paling mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman tomat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei hingga Agustus 2005Hasil penelitian menujukkan terdapat interaksi antara perlakuan jumlah pemberian air dan perlakuan berbagai jenis EM-Bokashi terhadap  tinggi tanaman sebagai respon pertumbuhan tanaman tomat dan pertumbuhan terbaik terjadi pada perlakuan kombinasi perlakuan jumlah pemberian air 625 ml/hari dan pemberian EM-Bokashi berasal dari rubbish sebanyak 30 ton/ha (K3E1), setinggi 208,00 cm. Tidak terdapat interaksi antara perlakuan jumlah pemberian air dan perlakuan berbagai jenis EM-Bokashi terhadap jumlah buah dan berat buah sebagai respon hasil tanaman tomat. Berat buah paling baik terdapat pada perlakuan pemberian EM-Bokashi yang berasal dari rubbish sebanyak 30 ton/ha(K3), seberat  3.495,00 gram pertanaman atau setara dengan 13,980 ton/ha, demikian juga dengan jumlah buah pertanaman yang paling baik terdapat pada perlakuan pemberian EM-Bokashi yang berasal dari rubbish  sebanyak 30 ton/ha(K3), dengan jumlah buah rata-rata 46,32 buah pertanaman. Kata kunci: Sampah pemukiman, EM-Bokashi
2014-12-15 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4787 buka_link ↗ Highlight_link
1672181 #3358 Sifat Fisikokimia dan Komposisi Nutrisi Pada Gula Cair yang Diproses dengan Metode Vakum Kusuma, Hasbi Ashshiddiqi
Lestari, Nia Agus
Christie, Chitra Dewi Yulia
Faktor utama penyakit diabetes adalah tingginya konsumsi gula dalam produk makanan, minuman, dan kembang gula. Nira memiliki nilai indeks glikemik yang lebih rendah sebesar 35, sehingga dapat dijadikan sebagai pemanis yang lebih sehat. Nira adalah minuman manis dan transparan yang populer diberbagai negara karena nilai kesehatannya yang tinggi. Selain itu merupakan salah satu minuman paling sehat dan tidak mengandung alkohol. Nira kelapa yang baru disadap mengandung 15-18% (b/v) sukrosa. Gula cair palma dari tiga varietas berbeda di Kecamatan Nglegok Kab. Blitar diteliti karena sifat fisikokimia dan nilai gizinya. Variasi viskositas, pH, total padatan terlarut, total keasaman, salinitas, aktivitas air, intensitas pencoklatan dan kandungan antioksidan dari Gula cair diamati di antara varietas tersebut. Gula adalah bahan kering utama yang disajikan dalam semua Gula cair, diikuti oleh protein dan abu. Total asam fenolik dan kandungan flavonoid total ditentukan dalam semua Gula cair dengan konsentrasi yang bervariasi. Hasil menyoroti variasi sifat fisikokimia dan komposisi nutrisi Gula cair. Secara keseluruhan, Gula cair dapat dikatakan sebagai pemanis alternatif untuk aplikasi dalam formulasi pangan fungsional.
teknologi industri pertanian diabetes; gula cair; nira 2022-08-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/38988 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol16n2.8
1672180 #3358 Redesign of Sago Tempe Chips Packaging Using a Kansei Engineering Approach Audia, Farhana
Johan, Vonny Setiaries
Juarsa, Rahmadini Payla
Dewi, Yossie Kharisma
Kurniawan, Mhd Andry
Sago tempe chips are snacks made from soybeans and sago flour. The packaging of sago tempe chips uses transparent plastic with label stickers, making it appear simple and less attractive to consumers. One strategy to attract consumers is redesigning the packaging using the kansei engineering approach. This study aims to produce a packaging design for sago tempe chips that suits consumer preferences using a kansei engineering approach. This study helps produce packaging designs that suit consumer desires and needs so that they can attract consumers. The method used is a survey with a kansei engineering approach. Based on this study, eight kansei words were identified, namely informative, unique, artistic, attractive, quality, easy to use, innovative, and colorful. The packaging design concepts extracted from the kansei words using principal component analysis (PCA) were identified as “informative,” “colorful,” and “quality.” The design elements identified from the 10 packaging samples included shape, supporting images, materials, color, and size. Based on the R-squared value of quantification theory type 1 (QTT1), the concept of “quality” was selected because it had a higher value. Tempe sagu chip packaging is considered quality if it has a pillow-shaped bag design, features product images, uses aluminum foil material, employs multiple colors (>3 colors), and has a medium-sized package.
kansei engineering; packaging design; principal component analysis (PCA); quantification theory type 1 (QTT1); sago tempe chips 2026-04-27 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/65183 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol20n1.3
1672179 #3358 PERUBAHAN KANDUNGAN KLOROFIL DARI TIGA JENIS SAYURAN SELAMA PROSES PENGERINGAN DENGAN OVEN VAKUM ,, Tensiska
Setiasih, Imas Siti
., Fathunnisa
Klorofil sebagai pewarna alami dapat digunakan sebagai suplemen makanan. Sumber klorofil potensial terdapat pada sayuran hijau seperti daun singkong, bayam, dan daun pepaya.yang tersedia dalam bentuk ekstrak cairan, sehingga kurang praktis dalam penggunaannya. Karena itu perlu dilakukan mikroenkapsulasi dengan penyalut dekstrin. Pengeringan dilakukan menggunakan oven vakum pada suhu 40 ± 5ºC dengan variasi waktu pengeringan Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perubahan kandungan klorofil dari tiga jenis sayuran selama proses pengeringan ekstrak klorofil dengan oven vakum pada waktu yang berbeda. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama ialah jenis sayuran yang terdiri dari 3 taraf yaitu daun singkong, bayam, dan daun pepaya. Faktor yang kedua ialah lama pengeringan yang terdiri dari 3 taraf yaitu 30, 60, dan 90 menit. Hasil penelitian menujukkan bahwa jenis sayuran bayam menghasilkan bubuk klorofil dengan intensitas warna hijau (-a*) paling tinggi -4,34, kandungan total klorofil 23,47 mg/L, klorofil a 14,65 mg/L, klorofil b 8,85 mg/L, dan rendemennya 0,29 %. Lama pengeringan 30 menit sudah cukup untuk mengeringkan bubuk klorofil dalam oven vakum dengan suhu 40±5ºC. Kata kunci: kloropil, sayuran, proses  pengeringan, oven vakum
2013-05-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6376 buka_link ↗ Highlight_link
1672178 #3358 PERANCANGAN MESIN PENGUPAS KULIT ARI KACANG KEDELAI Sugandi, Wahyu Kristian
Sufyandi, Ari
Herwanto, Totok
Pengusaha Tahu Sumedang sampai sekarang masih mengupas sendiri bahanbakukedelainya secara manual dengan kapasitas pengupasan antara 20 – 22 kg/jam atau 120 – 132 kg per hari (6 jam kerja). Sementara  kebutuhan kedelai kupasan berkisar antara  30 – 40 kg per jam atau antara 180 – 260 kg per hari. Untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut Laboratorium Alat dan Mesin Pertanian UNPAD telah merancang mesin pengupas kulit ari kacang kedelai dengan kapasitas manual 30 kg/jam melalui metode rekayasa berdasarkan analisis kebutuhan, analisis struktural, analisis fungsional, analisis teknik dan analisis biaya. Hasil rancangan adalah mesin pengupas kulit ari kacang kedelai berdimensi panjang  61 cm, lebar 52 cm dan tinggi 106,37 cm. Daya yang dibutuhkan mesin ini adalah 313 watt/jam dan total biaya produksi Rp 2.053.320,- per unit. Kata kunci: Mesin pengupas, Kulit ari kacang kedelai
2014-12-17 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4826 buka_link ↗ Highlight_link
1672177 #3358 Analisis Kinerja Lingkungan Unit Bisnis Teh Hijau Perusahaan X dengan Metode IEPMS dan LCA Putri, Selly Harnesa
Andriyani, Mery
Sita, Kralawi
Widyasanti, Asri
Persoalan lingkungan pada industri teh semakin berkembang seiring dengan perkembangan fokus utama industri dalam meningkatkan kepedulian perusahaan terhadap kinerja lingkungannya. Perusahaan X sebagai salah satu perusahaan teh berupaya untuk meningkatkan performa kinerja lingkungannya dengan menciptakan proses produksi yang ramah lingkungan. Perusahaan X belum memiliki sistem pengukuran kinerja lingkungan yang seimbang dan terintegrasi. Penelitian ini berfokus pada perancangan sistem pengukuran kinerja lingkungan di unit bisnis teh hijau perusahaan x dengan menggunakan metode Integrated Environmental Performance Measurement System (IEPMS) dan Life Cycle Assessment (LCA), kemudian melakukan identifikasi aspek lingkungan dari kegiatan operasional, merancang Key to Environmental Performance Indicator (KEPI), melakukan pembobotan dengan Analytical Hierarchy Process (AHP), mengukur KEPI menggunakan Objective Matrix (OMAX) dan traffic light, serta memberikan rekomendasi perbaikan kinerja lingkungannya. Hasil perancangan kinerja lingkungan di perusaahan x berupa 23 KEPI yang meliputi 16 KEPI kuantitatif dan 7 KEPI kualitatif dengan menghasilkan 7 KEPI kategori merah, 2 KEPI kategori kuning, dan 14 KEPI kategori hijau. Nilai kinerja lingkungan unit bisnis teh hijau perusahaan x yang diperoleh dari hasil pembobotan menggunakan metode AHP dan scoring system adalah sebesar 6,373 dan berada dalam kategori kuning menggunakan traffic light system yang berarti bahwa kinerja lingkungan perusahaan x masih perlu dilakukan perbaikan dan pengawasan oleh pihak perusahaan.Kata kunci: Industri Teh Hijau; Kinerja Lingkungan
2023-08-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/42587 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jtvol17n2.9
Menampilkan 981 - 1.000 dari total 1.550.696 data