| ID ↑ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1672521 | #5790 | ZONA LAYAK TAMBANG BAHAN GALIAN NON-LOGAM KECAMATAN PAMONA, KABUPATEN POSO, SULAWESI TENGAH | -, Geni Dipatunggoro |
Research at the Poso river Tentena – Sulewana segmen and Meko river, North Pamona district and West Pamona District, Poso regenc, Central Sulawesi Province. Rock there research area is river alluvial with the potential mining are sand and rock boulders, the mechanical laboratory of rock boulders of point load test result 207,005 – 744,797 Kg/Cm square, fullselment required for building material. Environmental condition of Poso river there are infrastructure for people housing, road of Poso – Tentena (Trans Sulawesi) and Poso Hydroelectric Power at the Sulewana village and the bridge, Meko river there are people housing and the bridge of Tentena Pendolo, and the forest and the many people garden. At the Poso river Tentena – Sulewana segmen sand can mine but the water level of river much be constant the water level of river much be constant until save the Poso Hydroelectric Power, at the Poso lake sand mining is problem with use the sump machin of sand until 20 meters depth, means the lateral pressure is not save to lake wall and to bellow the safety factor from 1,25 to 1,00 is critical condition, if there little tremble is sliding. At the Meko River there are bridge facility of road Tentena – Pendolo much be not disturb.
|
Environmental condition, mining potential | 2013-04-11 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8287 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v11i1.8287 |
| 1672522 | #5790 | Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik Berdasarkan Aspek Geologi Lingkungan Menggunakan Metode Simple Additive Weighting (SAW) di Kabupaten Kuningan |
Destirani, Sagita - Suyono, Oon Atang, . Muslim, Dicky Iskandarsyah, Teuku Yan W. M. |
ABSTRAKKabupaten Kuningan hingga saat ini belum memiliki Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik(SPALD). Pertimbangan untuk mengatasinya adalah dengan melakukan inventarisasi, survei danpemetaan geologi lingkungan. Dalam zonasi wilayah calon pengembangan, belum secaraoptimal ditentukan kondisi geologi setempat. Dilakukan penelitian ini yang bertujuan untukmengetahui parameter geologi lingkungan yang berperan dalam menentukan lokasi pembangunanpengolahan limbah yang sesuai standar dan prosedur, dengan mempertimbangkan segala aspek terutamageologi. Metode yang digunakan yakni dengan mengolah data sekunder menggunakan metode SimpleAdditive Weighting (SAW) untuk mendapatkan peta kesesuaian lahan yang selanjutnya akan dilakukantahap analisa dari overlay peta (superimposed). Parameter yang digunakan sebanyak sebelas parameter,terdiri atas parameter fisik dan non-fisik, dari hasil overlay peta maka akan didapatkan zona prioritasdengan proses skoring, yang merupakan salah satu metode yang membantu melakukan prediksiberdasarkan parameter yang telah disesuaikan. Didapatkan lokasi yang sesuai untuk pembangunan di limakecamatan, yakni Kecamatan Jalaksana, Cigugur, Kramatmulya, Kuningan, dan Lebakwangi. Penentuanlokasi lebih mendetail diperlukan untuk penentuan akhir pembangunan SPALD-T yang ideal.Kata Kunci: Pengolahan limbah, Simple Additive Weighting (SAW), Overlay, Scoring, KabupatenKuningan
|
2018-08-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/17874 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v16i2.17874 | |
| 1672523 | #5790 | ANALISIS GEOKIMIA MATERIAL POTENTIALLY ACID FORMING DAN NON ACID FORMING MELALUI UJI NET ACID GENERATION PADA PIT SL AREA MSBS PT. GPU MUSIRAWAS UTARA, SUMATERA SELATAN |
Setiawan, Budhi Putri, Zahrah Belinda |
Air asam tambang merupakan limbah pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas penambangan. Limbah air asam tambang terbentuk karena adanya proses oksidasi mineral pirit (FeS2) dan bahan mineral sulfida lainnya yang tersingkap pada permukaan tanah. Identifikasi air asam tambang perlu dikaji sebagai usaha untuk menentukan potensi material membentuk asam melalui parameter analisis geokimia dengan metode net acid generation pada sampel material. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap yaitu pengambilan sampel yang dilakukan dengan metode komposit pada 6 jenis material yang diambil dari 21 lokasi pengamatan yang ditentukan dengan menggunakan metode simple ramdom sampling. Sampel material dianalisis pada laboratorium dengan menggunakan analisis geokimia metode net acid generation (NAG) dengan 4 parameter acuan yaitu : total sulfur, acd neutralizing capacity, maximum potentially acidity, net acid production potential. Hasil analisis geokimia kemudian di klasifkasikan berdsarkan sifat keasaman menjadi material potentially acid forming atau non acid forming. Hasil pengujian menyimpulkan Mz1 merupakan material topsoil pada lapisan overburden, Mz2 merupakan material subsoil overburden, Mz3 merupakan material claystone overburden, Mz4 merupakan material siltstone overburden, dan Mz5 merupakan material sandstone overburden diidentifikasi sebagai material non acid forming atau material non acid forming tipe 1. Mz6 merupakan material claystone interburden berdasarkan diidentifikasi sebagai material potentially acid forming atau material potentially acid forming tipe 3.
|
2024-04-26 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/50817 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v22i1.50817 | |
| 1672524 | #5790 | PEMETAAN GEOLOGI NIKEL LATERIT DAERAH SP UNIT 25 DAN SEKITARNYA KECAMATAN TOILI BARAT, KABUPATEN BANGGAI, PROPINSI SULAWESI TENGAH | -, Geni Dipatunggoro |
The morphology of investigated area is a flat area and hilly area at elevation reaching 20 meters above the sea level. The lateritic nickel is a residual soil from weathering, resulting from serpentinite, hasburgite and dunite being ultramafic complex according to the geologic map of Batui sheets, Celebes.The extent of investigation is 8000 hectare as the permit from the regency of Banggai, and the thichness of nickel bearing lateritic soil averaging 2 meters, and therefore is roughly estimated 160.000.000 cubic meters. If the specivic gravity of lateritic soil is 2.6 and nickel content average 0.8 %, the reserve of lateritic nickel is will be 160,000,000 M³x 2.6 x 0.8% = 3,328,000 Tons. It is suggested to be mined by open pit method because the lateritic soil on the surface with only averaging thichness of soil 2 meters.
|
mapping, lateritic nickel | 2010-12-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8255 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v8i3.8255 |
| 1672525 | #5790 | PERHITUNGAN POTENSI AIRTANAH DI KAWASAN KAMPUS UNPAD JATINANGOR DENGAN METODE NUMERIK |
Barkah, M. Nursiyam Setiadi, Djajang Jedi Hadian, Moh. Sapari Dwi |
Geological conditions Jatinangor campus is a volcanic deposits that have 3 potential aquifer, the unconfined aquifer is a depth of 0-60 m, confined aquifer 1 at a depth of 80-90 m and confined aquifer 2 at a depth of 120-200 m. The results of groundwater potential calculation is done using the method of numerical groundwater flow pattern is obtained relative trending Northwest - Southeast tend to follow topographical pattern. This is consistent with the geological-geophysical mapping data that the geometry and pattern of shallow groundwater aquifers configuration follows the pattern of topographic contours. However, the groundwater in the aquifer geometry and pattern configuration does unfollow the pattern of topographic contours, but follows the pattern of the stratigraphy and structural geology. The quality of groundwater in the shallow aquifer or aquifer in not affected by topography, groundwater quality is controlled by the pattern of stratigraphic and structural geology. Ground water Chemical typehas results are Ca-HCO3; Mg ; Mg-HCO3 and No-type. The results of measurements of physical character in the field, existing groundwater generally meet the requirements of the quality standards for drinking water. The test results of the pumping test wells 10 point values obtained transmissivity (T) ranged from 86.4 to 467.9 m2 / day and Permeability (K) ranging between 1.2 x 10-4 - 6.3 x 10-6 cm / sec. Based on the well test results obtained transmissivity values diversity and rock permeability significantly, it could be interpreted that the distribution of the research areas of uneven rocks.
|
2015-12-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8412 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v13i3.8412 | |
| 1672526 | #5790 | Karakteristik Endapan Batu Lempung Pulau Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau |
Bastira, Shahnaz Noveta Hadian, Mohammad Sapari Dwi Muljana, Budi Putra, Dewandra Bagus Eka |
Pulau Bengkalis memiliki kondisi geologi yang sebagian besarnya terisi oleh endapan yang paling tua yaitu endapan alluvium dan sebagiannya lagi oleh gambut. Endapan alluvium yang terdiri dari lempung, lanau, dan pasir serta sebagian gambut. Endapan alluvium tersebut sebagian besar memiliki mineral lempung dibandingkan dengan mineral kuarsa. Karakteristik endapan alluvium dengan material lempung, lanau, dan pasir secara umum memiliki warna abu – abu kehitaman dengan butiran yang didominasi oleh lempung, lanau, dan pasir yang terendapkan secara perselingan dan juga memiliki tekstur kebundaran yang sangat bundar dengan kemas yang terbuka. Pada sebagian daerah penelitian yang terisi oleh gambut memiliki komposisi yang berupa akar – akar tumbuhan yang berserabut. Pada daerah penelitian terdiri atas empat satuan batuan yaitu satuan batupasir, satuan batulempung, satuan batulanau, satuan endapan alluvium dan sebagian gambut. Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa daerah penelitian memiliki mineral lempung jenis kaolinit dengan persentase sebanyak 7% dengan komposisi AL2Si205(OH)4 serta mineral penyerta terdiri atas mineral kuarsa dengan komposisi Si02 sebanyak 85%, clinochlore sebanyak 4% dengan komposisi Mg5Al2(Si,Al)4O10()H)8, muscovite sebanyak 4% dengan komposisi KAl2(Si3Al)O10(OH,F)2. Geomorfologi pada daerah penelitian terdiri atas dua satuan geomorfologi yaitu satuan geomorfologi pedataran landai alluvial dan satuan gemorfologi pedataran agak landai alluvial. Tujuan penelitian ini mengetahui kondisi geologi Pulau Bengkalis berdasarkan pada pengamatan geologi daerah penelitian serta mengetahui karakteristik endapan batulempung pada daerah penelitian berdasarkan hasil analisis mineral lempung.Kata kunci : batulempung, kuarsa, kaolinit, chinochlore, muscovite, XRD (X-ray diffraction).
|
2020-08-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28897 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v18i2.28897 | |
| 1672527 | #5790 | PETROGRAFI BATUAN BEKU VOLKANIK BAWAH LAUT KOMPLEKS GUNUNG KOMBA, LAUT FLORES, INDONESIA |
-, Johanes Hutabarat -, Agus Didit Haryanto -, L. Sarmili |
This study focuses on the petrography characteristics of the volcanic rocks in Mount Komba, Flores Sea, Nusa Tenggara Timur.Based on textural and mineralogical characteristics, volcanic rocks Mount Komba are composed of andesite-basaltic lava flows. It is chiefly porphyritic, intergranular, intersertal to glomeroporphyritic clots textures that contains variable proportion of plagioclase, pyroxene, biotite, hornblende and opaque oxide minerals phenocryst in very fine grained groundmass contains clinopyroxene, plagopclase laths, devitrified glass and opaque oxide minerals. Plagioclase phenocrysts show sieve-textured cores, opaque inclusions, compositional zoning, and skeletal melt pockets. Pyroxenes are strong zones with rims. Some are poikilitic. Biotite commonly exhibits a deep russet color parallel to its slow ray, the perpendicular direction being light to medium yellow brown. Some are altered to an asseblage of chlorite and finely granular opaque oxide minerals. Hornblende is perhaps slightly less abundant than biotite and occurs typically in euhedral to subhedralo crystals. It is pleochroic in shade of olive green and brownish yellow, rarely exhibiting a bright apple-green shade. Among the accessory minerals, opaque oxide minerals occurs as euhedral wedge-shape or blocky to slightly rounded, broken grains are common and also as a fine grainded alteration product associated with chlorite, formed from biotite and hornblende. Fresh glass is present, though in most cases the glass is devitrified.Some Mount Komba volcanic rocks studied exhibit varying degrees of propylitic or sericitic alteration. Feldspars plagioclase in particular, in most of the intensely hydrothermally altered Mount Komba volcanic rocks have been replaced by fine grained sericite, clay minerals, carbonate, chlorite, epidote and opaque oxide minerals.
|
Characteristic, volcanic rock | 2006-01-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8115 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v4i1.8115 |
| 1672528 | #5790 | KARAKTERISTIK GEOLOGI DAERAH VOLKANIK KUARTER KAKI TENGGARA GUNUNG SALAK |
Suganda, Bombom Rahmat Isnaniawardhani, Vijaya |
Gunung Salak land forms hills and valleys, composed of typical volcanic deposit that controlled by geology structures. The research was conducted in several stages, there are: references study, field study or geological mapping (observation of geomorphology or landforms, rock type and genesis, geology structure indication) as well as data analysis. Landform of southeast part of Gunung Salak can be devided into steep hill geomorphological unit that lied on high land, formed by Salak volcanic deposits, with radial drainage pattern; and sloping hill geomorphology unit with smooth contours that lied on lowland, formed by Salak and Pangrango mixing volcanic deposits. The southeast part of Gunung Salak foothills from lower to upper consecutively composed by pumiceous tuf volcanic deposit; laharic breccia; lapili and pumiceous tuf with paleosoil layer intercalations; and andesitic lava. Geology structure indications was difficulty observed because of thin soil cover and sloping dip of rock layer (<10º).
|
2014-08-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8370 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v12i2.8370 | |
| 1672529 | #5790 | Karakteristik dan Lingkungan Pengendapan Batubara Eosen Formasi Batu Ayau Cekungan Kutei Atas Bagian Barat Di Daerah Murung Raya Dan Sekitarnya, Kalimantan Tengah |
Suryanegara, Yoga Wardhani, Vijaya Isnania Sunardi, Edy |
Endapan batubara di daerah penelitian termasuk ke dalam Formasi Batu Ayau yang merupakan bagian dari Kelompok Tanjung pada Cekungan Kutei Atas bagian Barat. Diidentifikasi terdapat sebanyak 22 lapisan batubara dimana 4 (empat) lapisan batubara merupakan seam utama yaitu (dari bawah ke atas): seam B (1.05m), C (1.19m), D (1.43m) dan J (1.44m). Deskripsi megaskopis lapisan batubara: berwarna hitam yang didominasi pita terang (bright) – sangat terang (very bright), pecah blocky – concoidal, dan abundant cleat. Berdasarkan analisa maseral, batubara Eosen ini dapat diklasifikasikan sebagai tipe Vitrinite A. Rank batubara di daerah penelitian adalah low – medium volatile bituminous – semi antrasite (Rv: 1.75 – 2.0 dengan VM-daf: 13.78% – 28.14%) dan memiliki kualitas batubara metalurgi dengan CSN 8.5. Fasies sedimen pembawa batubara berupa perselingan fasies batupasir dengan batulanau dengan sisipan lapisan batubara. Fasies batulanau sisipan batubara diinterpretasikan merupakan endapan rawa yang dipengaruhi oleh aktivitas limpas banjir sedangkan fasies batupasir merupakan tipe endapan channel dan point bar. Kedua fasies sedimen ini diendapkan pada lingkungan fresh water atau sistem lingkungan pengendapan fluvial dengan pola meandering dan/atau braided system yang dipengaruhi oleh floodplain. Lingkungan pengendapan ini terbagi menjadi empat siklus sekuen lingkungan pengendapan fluvial. Berdasarkan analisa kualitas conto diketahui bahwa proses coalification batubara secara vertikal dikontrol oleh proses burial depth dan secara lateral dikontrol oleh adanya struktur geologi yang diidentifikasi sebagai bagian akhir dari Adang Flexure serta oleh adanya intrusi batuan beku Sintang yang tidak tersingkap ke permukaan. Kata kunci: Batubara Eosen, Type, Rank, Batubara Metalurgi, Fluvial System, Coalification.
|
2019-04-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/20953 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v17i1.20953 | |
| 1672530 | #5790 | PERAN INTENSITAS HUJAN TERHADAP STABILITAS LERENG DI DAERAH JATISARI, KECAMATAN BOJONGPICUNG, KABUPATEN CIANJUR, PROVINSI JAWA BARAT |
Sholtan, Devanya Anantasya Sophian, Raden Irvan Hardiyono, Adi ., Iskandar |
Pada tanggal 25 April 2024 diketahui telah terjadi peristiwa gerakan tanah di daerah Jatisari, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Menurut keterangan warga sekitar, persitiwa tersebut terjadi setelah hujan dengan durasi yang cukup panjang. Studi ini bertujuan untuk melihat keterkaitan hujan dengan persitiwa gerakan tanah yang terjadi di daerah Jatisari. Metode yang dilakukan pada penelitian ini meliputi pengamatan lapangan, pembuatan geometri lereng, pengujian laboratorium, dan pemodelan. Pemodelan yang dilakukan berupa analisis rembesan air hujan dengan perangkat lunak Geostudio SEEP/W dan analisis kestabilan lereng dengan perangkat lunak Geostudio Slope/W. Dari analisis tersebut diketahui hujan yang terjadi selama 12 hari dengan intensitas 1.8 mm/jam atau hujan 6 hari dengan intensitas 60 mm/jam dapat menurunkan faktor keamanan (FK) hingga rentang nilai 0.684 – 0.763. Mekanisme berkurangnya kestabilan lereng ini terjadi akibat hilangnya matric suction. Hilangnya matric suction merupakan pengaruh dari infiltrasi air hujan ke dalam permukaan lereng.
|
2024-12-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/59017 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v22i3.59017 | |
| 1672531 | #5790 | KARAKTERISTIK GEOLOGI DAERAH GUNUNGAN LUMPUR CIUYAH |
-, Faizal Muhamadsyah -, Edy Sunardi -, Vijaya Isnaniawardhani |
The mud flow which identified in Ciuyah area is located in Ciniru village, District Ciniru, Kuningan regency, West Java. Study of morphometry through the deployment of slope classes have described the class as a concentric distribution with location of Ciuyah mud flow in the middle. Annular’s drainage pattern at the regional scale is reflected of the circular in the Ciniru area, at around of site Ciniru extrusion Ciuyah mud mound. Circular patterns of distribution shown by the slope zone, and annular flow patterns in the river a more regional scale is suggest updoming beneath the surface. Interpreted that the migration channel and the possible fluid circulation is controlled by faults that developed in the study area. Structural geology are factors that contribute to the release or migration of fluid to the surface, and provide an outlet for material and fluid under conditions of excessive stress, clayey material which forming of bedrock formations is elusiation experience process, and eventually formed mountains of mud intrusion on the surface
|
mud flows, morphometry, geological structure | 2012-08-08 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8278 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v10i2.8278 |
| 1672532 | #5790 | PENENTUAN STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN MENGGUNAKAN APLIKASI GAYABERAT PADA DAERAH PANAS BUMI SOLOK |
Mayasari, Verna Syafri, Ildrem Haryanto, Agus Didit Sugianto, Asep |
Metode gayaberat dapat menggambarkan kondisi struktur bawah permukaan berdasarkanvariasi medan gravitasi bumi yang disebabkan oleh perbedaan densitas antar batuan di bawahpermukaan pada daerah panas bumi Solok. Hasil metode gayaberat berupa peta anomalibouguer, peta anomali bouguer regional, peta anomali bouguer residual beserta penampangyang akan memberikan gambaran keadaan batuan bawah permukaan. Hasil pemodelangayaberat menunjukkan liniasi kontur yang mengindikasikan struktur geologi berupa sesardengan arah baratdaya-timurlaut dengan nilai densitas batuan2.85 gr/cc yang berada padalapisan batuan vulkanik tersier. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahamanterhadap karakteristik anomali gayaberat dan membantu tahapan eksplorasi lebih lanjut. Kata kunci : anomali, bouguer, densitas, gayaberat, regional, struktur bawah permukaan,panas bumi.
|
2018-05-18 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/16769 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1672533 | #5790 | PENGARUH LITOLOGI TERHADAP KARAKTERISTIK BENTUKAN MORFOLOGI DAERAH SUNGAI KINANTAN BESAR, KABUPATEN SAROLANGUN, JAMBI |
Arnoly, Muhammad Farhan Idarwati, . |
Secara administratif, lokasi penelitian berada di Daerah Sungai Kinantan Besar dan Sekitarnya, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Kenampakan bentang alam dengan bentukan lahan beragam memiliki bukti dengan adanya proses kejadian geologi yang terjadi pada suatu daerah, baik bersifat endogen dan eksogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik bentukan morfologi terhadap persebaran litologi batuan penyusunnya. Metode penelitian meliputi studi pendahuluan, observasi lapangan, kerja studio dan analisis laboratorium. Studi pendahuluan meliputi studi literatur untuk mengumpulkan informasi mengenai kondisi geologi regional dan keadaan geologi lokal daerah penelitian. Observasi lapangan meliputi pengamatan singkapan dan pengambilan sampel dan pengamatan bentukan morfologi dengan aspek-aspek geomorfologi. Kerja studio meliputi pembuatan peta-peta dengan mengelola pada data Digital Elevation Model (DEM) dengan skala peta 1: 25.000, diolah menggunakan software Global Mapper, ArcGis 10.6 dan ArcScene 10.6. Terakhir, analisis laboratorium dengan menggunakan plate thin section dengan ketebalan sekitar 0,03 mm dapat dilihat menggunakan mikroskopis polarisasi untuk mengetahui komposisi penyusun batuan tersebut. Pengelompokan dan pembagian bentukan lahan yang terbentuk pada daerah penelitian dipengaruhi oleh litologi. Hasil pembagian bentuk bentang alam daerah penelitian terbagi menjadi 4 bentuk lahan utama yaitu Perbukitan Zona Sesar (PZS) didominasi oleh litologi Batusabak, Bukit Intrusi (BI) didominasi dengan litologi Andesit, Perbukitan Berlereng Curam (PBC) didominasi dengan litologi Granit dan Meander River (MR).Administratively, the research location is in the Kinantan Besar River Area and its surroundings, Batang Asai District, Sarolangun Regency, Jambi. The appearance of landscapes with diverse landforms has evidence of the process of geological events that occur in an area, both endogenous and exogenous. This study aims to determine the characteristics of morphological formation on the lithological distribution of its constituent rocks. Research methods include preliminary studies, field observations, studio work, and laboratory analysis. Preliminary studies include literature studies to gather information on regional geological conditions and local geological conditions of the study area. Field observations include outcrop observations and sampling and observations of morphological formations with geomorphological aspects. Studio work includes making maps by managing Digital Elevation Model (DEM) data with a map scale of 1: 25,000, processed using Global Mapper software, ArcGis 10.6, and ArcScene 10.6. Finally, laboratory analysis using a thin section plate with a thickness of about 0.03 mm can be seen using microscopic polarization to determine the composition of the rock constituents. The grouping and division of landforms formed in the study area are influenced by lithology. The results of the division of landscape forms of the study area are divided into 4 main landforms, namely Fault Zone Hills (PZS) dominated by Batusabak lithology, Intrusion Hills (BI) dominated by Andesite lithology, Steep Sloped Hills (PBC) dominated by Granite lithology and Meander River (MR).
|
2023-12-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/47304 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v21i3.47304 | |
| 1672534 | #5790 | PETROLOGI AMFIBOLIT KOMPLEK MELANGE CILETUH, SUKABUMI, JAWABARAT |
-, Aton Patonah -, Haryadi Permana |
Amphibolite is part of Ciletuh mélange complex that was exposed together with serpentinite, harzburgite, dunite, gabro and basalt. The rock is dominated by amphibole and andesine and rarely can be observed quartz. At some locations, the rocks have changed to ampbibolite epidote (oligoclase + hornblende + actinolite + epidote + chlorite). The result of mineral paragenesis and measurement of pressure and temperature indicates that amphibolites was formed of 5 kbar – 6 kbar with temperature 640oC – 660oC. Meanwhile amphibolites epidote was formed of 4 kbar – 5 kbar with temperature 410oC – 455oC. Obtaining pressure and temperature from amphibolites is indicated as result of obduction and then it has retrograded metamorphism to amphibolites epidote because of accretion and uplifting at Upper Oligosen. The indication is characterized by actinolite changed to chlorite, albite and epidote have replaced andesine, and another indication is the rim of hornblende is replaced by actinolite.
|
amphibolites, amphibolites epidote, obduction, Uplift, retrograde metamorphism | 2010-08-06 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8245 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v8i2.8245 |
| 1672535 | #5790 | Characteristic of volcanic deposits in the southern part of Gunung Karang, Pandeglang - West Java |
Abdurrokhim, Abdurrokhim Ismawan, Ismawan |
In the southern part slope of Gunung Karang in Pandeglang, there are many well-outcrops of volcanic materials that developed during Quaternary. The deposits represent various lithofacies both vertically and laterally.In general the lithologic characteristics that are found in the study area can be grouped into three units, (1). Tertiary sedimentary rock, which is consists of tuffaceous mudstones interbedded with fine-grained tuffaceous sandstone and siltstone, (2) primary volcanic product consist of andesite lava flow, volcanic breccia/agglomerate, and pyroclastic rocks (ash tuff, lapilli tuff, bomb/block, and lapilli tuff breccia, and (3) secondary volcanic products, which is consisting of laharic breccia and coarse-grained thick-bedded sandstone.In general the deposits become younger to the top of topography (Gunung Karang), but locally the deposits are most likely overlapping each other’s.Keywords: Volcanic deposits, Gunung Karang
|
2016-12-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/11055 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v14i3.11055 | |
| 1672536 | #5790 | Interpretasi Lapisan Akuifer Menggunakan Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger di Desa Tamansari Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas |
Octaviani, Tri Sehah, . |
Desa Tamansari Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas merupakan salah satu desa yang sering mengalami kekeringan. Kegiatan eksplorasi sumber air tanah telah dilakukan menggunakan teknik geolistrik dengan konfigurasi Schlumberger. Teknik geolistrik ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kedalaman lapisan akuifer air tanah dan struktur batuan bawah permukaan berdasarkan nilai resistivitasnya. Akuisisi data geolistrik resistivitas dilakukan di empat titik sounding dengan panjang masing-masing lintasan adalah 400 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur lapisan batuan bawah permukaan berdasarkan nilai resistivitasnya tersusun atas tanah penutup (0,18 – 5,25 m), batupasir konglomeratan (24,38 – 155,26 Ωm), batulempung pasiran (5,07 – 20,19 Ωm), batulempung karbonatan (napal) (2,57 – 3,41 Ωm), pasir lempungan (2,82 – 6,26 Ωm) dan batuan breksi (101,45 – 153,00 Ωm). Jenis akuifer air tanah yang diperoleh adalah akuifer tertekan, dimana lapisan akuifer ini ditemukan pada titik-titik sounding Sch-1, Sch-2, Sch-3, dan Sch-4 dengan kedalaman berkisar 48,89 – 145,64 m dari permukaan topografi. Litologi lapisan akuifer tertekan ini adalah pasir lempungan dengan ketebalan 46,11 – 84,5 m. Akuifer tertekan merupakan lapisan akuifer yang berpotensi di daerah penelitian. Sedangkan akuifer bebas tidak ditemukan di daerah penelitian.
|
2022-01-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/37302 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v19i3.37302 | |
| 1672537 | #5790 | INVENTARISASI BAHAN TAMBANG DI WILAYAH CIBADAK, CIEMAS DAN CISAAT, KABUPATEN SUKABUMI |
-, M. Sapari D. Hadian -, Cipta Edyana |
Nowaday natural resources have to be optimalized for humanitarian welfare, It needed manajemen of mining effort that have the same with characterization of each natural resourses, then it needed to take inventory of appearance of natural resources itself. All the information of mineral deposits be fitured in Map that covered in Identification and Mapping Potential Mineral Resourses Work.South Mountained Zone is a Table Land which developed a triangle with its top at southern Bandung have direction west to east, from The Pelabuhan Ratu Bay until Nusakambangan. Width of South Mountained Zone is about 50km. This zone is divided into 3 subzones, which is Jampang Subzone, Pangalengan Subzone, and Karangnunggal Subzone. The research area is included in Jampang subzone that contain Pra-tertiary Rock and Tertiary Sediment and appears in western of this zone. The Oldest rock found at South Mountained Block West Java consist igneous rock, ultrabase, and basalt (Van Bemmelen, 1949) and Skish which appears in Pra-tertiary age (Mark, 1957). Endang Toyib (1975) comment that complex melange deposits which is consist in Ciletuh area are the oldest rock (Mps, Mgg, Mgp). Those rocks formed by ofiolith and metamorphic rock and sedimentary rock consist black clay that scraped and mixed tectonically.
|
identification & mapping, natural resources | 2007-12-05 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8151 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v5i3.8151 |
| 1672538 | #5790 | POTENSI ENDAPAN EMAS SEKUNDER DAERAH MALINAU, KALIMANTAN TIMUR | Hardiyono, Adi |
The purpose study to recognize and interprete resources of gold deposit in Long Agung, Malinau District, East Kalimantan Province. The field work also to interprete system of gold deposit in research area.
|
2014-04-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8359 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v12i1.8359 | |
| 1672539 | #5790 | Pengaruh Kontrol Struktur Geologi Daerah Vulkanik terhadap Aliran Air Tanah di Daerah Gekbrong, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat |
Ismawan, Ismawan Hendarmawan, Hendarmawan Hutabarat, Johanes Isnaniawardhani, Vijaya |
Aliran air dari hulu ke hilir dipengaruhi oleh berbagai hal, terutama adalah jenis batuan penyusun di daerah resapan serta intensitas deformasinya. Kombinasi struktur sesar dan kekar dapat memodifikasi variasi permeabilitas dari sangat permeabel (akuifer bagus) sampai dengan sangat kedap (akuiklud). Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kondisi geologi, baik kondisi geologi permukaan maupun bawah permukaan yang terdiri atas batuan penyusun, tatanan tektonik dan pola strukturnya serta pengaruhnya terhadap aliran airtanah. Secara administratif daerah penelitian meliputi daerah Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.Daerah penelitian dibagi menjadi 3 satuan geomorfologi, yaitu Satuan Geomorfologi Tubuh Gunungapi Strato, Satuan Geomorfologi Kaki Gunungapi Strato dan Satuan Geomorfologi Perbukitan. Urutan satuan stratigrafinya, dari yang tua sampai yang muda, adalah Satuan Breksi Tuff, Satuan Breksi Vulkanik, Satuan Tuff Breksian, Satuan Lava Andesit dan Lava Basaltik. Batuan di daerah penyelidikan umumnya berasal dari endapan volkanik dan dapat dikelompokan berdasarkan kisaran nilai tahanan jenisnya. Sesar-sesar yang ada di permukaan adalah : Sesar Gekbrong, Sesar Cibeleng dan Sesar Cipadang, ketiganya berarah relatif baratdaya – timurlaut, sedangkan sesar di bawah permukaan berarah timurlaut – baratdaya tidak diberi nama. Daerah resapan dibatasi sesuai dengan batas sesar yang berarah timurlaut – baratdaya, mengindikasikan bahwa sesar ini bertindak sebagai sealing fault.Kata Kunci: Gekbrong, Endapan Vulkanik, Struktur Geologi, Daerah Resapan, Resistivitas
|
2019-01-16 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/18683 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v16i3.18683 | |
| 1672540 | #5790 | HUBUNGAN ANTARA INDEKS GRADIEN PANJANG SUNGAI DAN HIPSOMETRI PADA RESPON MORFOTEKTONIK DI CEKUNGAN BANDUNG BAGIAN TIMUR |
Rendra, Pradnya Paramarta Raditya Sukiyah, Emi Hadian, Mohamad Sapari Dwi Daliman, Shaparas Binti Sulaksana, Nana |
Penelitian dilakukan di Cekungan Bandung bagian timur yang secara geologi tersusun oleh dominasi batuan vulkanik berumur Kuarter. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap hubungan antar aspek morfotektonik yang terdiri dari indeks gradien panjang sungai (SL) dan hipsometri (HI) dalam merespon aktivitas tektonik di daerah penelitian. Penelitian dilakukan menggunakan media citra DEM (Digital Elevation Model) melalui dukungan SIG (Sistem Informasi Geografis) di studio. Perangkat lunak ArcGIS 10.0 digunakan dalam proses pengolahan citra serta Microsoft Excel digunakan dalam proses perhitungan dan analisis data. Berdasarkan hasil penelitian, daerah penelitian terdiri dari enam DAS, yaitu DAS Citarik Hulu, Cijalupang, Ciwirama, Ciburial, Cikeruh, dan Cimande yang sebagian besar berada pada morfologi perbukitan dan gunung hingga pedataran dengan kemiringan lereng mulai dari sangat curam hingga datar. Daerah penelitian memiliki enam pola pengaliran sungai, yaitu pola radial, subradial, subdendritik, parallel, subparallel, dan anastomotik. Secara umum, keenam pola pengaliran tersebut menunjukkan bahwa daerah penelitian didominasi area berlereng curam hingga sangat curam dan tersusun oleh batuan vulkanik di bagian utara, timur, dan selatan, berlereng landai hingga datar dan tersusun oleh material lepasan di bagian tengah hingga barat, serta dipengaruhi struktur geologi minor. Hal ini dibuktikan dari hasil perhitungan nilai SL (113,24 – 409,75) dan HI (0,22 – 0,50) yang menunjukkan respon aktivitas tektonik rendah hingga cukup tinggi. Selain itu, korelasi nilai SL dan HI menunjukkan tingkat hubungan sangat kuat yang tercermin dari koefisien korelasi (r) = 0,932, yaitu semakin besar nilai SL maka semakin besar pula nilai HI.
|
2024-12-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/56414 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v22i3.56414 |