Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↓ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1671716 #3358 ANALISIS SIFAT FISIK DAN KIMIAWI TABLET EFFERVESCEN BUAH MARKISA -, Ansar
Tujuan penelitian ini adalah melakukan penganeka-ragaman produk pangan olahan berbentuk tablet effervescen sari buah dengan bahan baku buah markisa. Penelitian dilakukan dengan memampatkan bahan di dalam cetakan menggunakan beberapa variasi gaya tekan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buah markisa dapat dibuat menjadi produk pangan olahan berbentuk tablet effervescen. Produk ini digemari konsumen karena memiliki beberapa keunggulan, antara lain: secara fisik, produk ini lebih mudah didistribusikan, wadah penyimpanannya lebih simpel, dan mudah dibawa oleh konsumen. Secara kimiawi, tablet effervescen mudah larut sehingga proses penyajiannya lebih praktis. Untuk disajikan sebagai minuman penyegar, tablet ini dapat dilarutkan ke dalam air mineral. Dalam waktu yang singkat tablet tersebut sudah larut sempurna kemudian dapat diminum sebagai minuman penyegar. Kata kunci: Fisik, Kimiawi, Tablet effervescen, dan Buah markisa
2014-12-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/5056 buka_link ↗ Highlight_link
1671715 #3358 Back Matter Team, Teknotan Editorial
Tidak ada deskripsi
2025-04-29 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63046 buka_link ↗ Highlight_link
1671714 #3358 Perbandingan Sifat Fungsional Pati Sitrat Skala Laboratorium dan Komersial Sebagai Bahan Pelapis Buah Terolah Minimal Larasati, Dyah Ayu
Yuliasih, Indah
Kecenderungan masyarakat modern untuk mengkonsumsi makanan yang sehat namun keterbatasan waktu menyediakan, menyebabkan produk buah terolah minimal diminati karena praktis dan porsi penyajiannya sesuai dengan kebutuhan. Kelemahan buah terolah minimal adalah cepat rusak dan umur simpannya pendek sehingga mutunya menurun dengan cepat. Apel merupakan salah satu buah yang banyak diminati masyarakat dan tersedia sepanjang musim, namun jika diproses menjadi buah terolah minimal, akan terjadi reaksi pencoklatan enzimatis (enzymatic browning). Pelapisan berbahan dasar pati sitrat merupakan alternatif untuk mengurangi terjadinya reaksi enzimatis tersebut. Terdapat dua skala produksi pati sitrat pada penelitian ini yaitu skala laboratorium dan komersial. Perbedaan kedua skala produksi tersebut terdapat pada agen ikat silang dan peralatan yang digunakan. Pada skala laboratorium menggunakan asam sitrat teknis dan oven, sedangkan skala komersial menggunakan asam sitrat yang banyak tersedia di pasar yaitu ‘Citrun’ dan tray dryer. Tujuan penelitian ini yaitu mendapatkan pati sitrat skala laboratorium dan komersial serta membandingkan sifat fungsionalnya. Terdapat perbedaan sifat fungsional pati sitrat skala laboratorium dengan skala komersial. Persentase kelarutan, swelling power, dan freeze thaw stability pada pati sitrat skala komersial lebih tinggi dibandingkan skala laboratorium, yaitu sebesar 12.40, 4.79, dan 3.21%. Namun nilai swelling power dan freeze thaw stability tidak berpengaruh nyata (p>0.05) sedangkan persentase kejernihan pasta 1% mengalami penurunan sebesar 8.04%.
teknologi pertanian; teknologi industri pertanian buah terolah minimal; pati sitrat; sifat fungsional; skala komersial 2021-01-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28841 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol14n2.2
1671713 #3358 PERANCANGAN PROGRAM KLASIFIKASI TOMAT (Lycopersicum esculantum) BERDASARKAN BERAT DAN WARNA MENGGUNAKAN PENGOLAHAN CITRA Prijatna, Dedy
Poetri, Ranie Ananda
Muhaemin, Mimin
Konvensional metode dalam mengklasifikasikan tomat terbukti tidak objektif, tidak akurat, dan destruktif.  Upaya telah dilakukan untuk merancang suatu program klasifikasi non-destruktif dengan mengaplikasikan suatu sistem visual dengan pengolahan citra melalui warna dan berat. Matlab digunakan sebagai bahasa program yang mampu menentukan berat melalui hubungan luas citra dan berat, dan mengidentifikasi warna tomat dengan indeks RGB. Kapabilitas program kemudian dibandingkan hasilnya dengan metode konvensional. Hasil menunjukan bahwa system ini memiliki akurasi 94,54 persen yang meningkat menjadi 98.18 persen dengan mengganti luas citra dengan volumenya Kapasitas aktual dari sistem ini adalah 576 buah tomat/jam, sedang kapasitas teoritisnya 1690,54 buah tomat/jam, sehingga efisiensi dari sistem ini adalah 34,07%. Kata kunci : Tomat, Pengolahan citra, Klasifikasi, Program klasifikasi
2012-01-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6324 buka_link ↗ Highlight_link
1671712 #3358 Pengaruh Aplikasi Edible Coating Pati Jagung dengan Penambahan Lilin Lebah terhadap Mutu Buah Pisang Ambon (Musa paradisiaca var. sapientum L.) Putra, Endo Pebri Dani
Larassati, Dyah Putri
Pinem, Holan Pindon
Sylvia, Teny
Subara, Deni
Laksono, Untung Trimo
Thamrin, Elfa Susanti
Pisang ambon merupakan salah satu komoditas hortikultura dengan tingkat konsumsi paling tinggi di Indonesia. Buah pisang ambon memiliki kerentanan terhadap kerusakan yang tinggi sehingga sangat memengaruhi mutu buah. Upaya menghambat proses kerusakan pada buah pisang ambon perlu dilakukan dengan menerapkan penanganan pasca panen. Salah satu penanganan pasca panen yang dapat diterapkan adalah dengan pengaplikasian edible coating. Edible coating dapat dibuat dari bahan turunan karbohidrat seperti pati jagung. Penambahan lilin lebah digunakan untuk memperbaiki sifat pati jagung yang memiliki resistensi rendah terhadap uap air. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh penambahan lilin lebah pada edible coating pati jagung terhadap mutu buah pisang ambon dan mendapatkan konsentrasi lilin lebah terbaik dalam menghasilkan edible coating berbasis pati jagung yang dapat mempertahankan mutu buah pisang ambon selama penyimpanan. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor yaitu penambahan konsentrasi lilin lebah dengan 5 taraf yaitu 0%, 1%, 2%, 3%, dan 4%. Parameter yang diamati adalah yaitu susut bobot, kadar air, kadar vitamin C, total padatan terlarut, kekerasan, dan uji organoleptik. Perlakuan terbaik dalam mempertahankan mutu buah pisang ambon adalah perlakuan penambahan lilin lebah 1% karena memiliki nilai susut bobot paling rendah sebesar 2,884%, kadar air 86,947%, kadar vitamin C sebesar 10,091 mg/100 g, total padatan terlarut 22,167 %brix, kekerasan 5,278 kg/cm2. Perlakuan 1% juga memperoleh skor mutu paling tinggi berdasarkan uji skoring yaitu sebesar 1,60 untuk tekstur, 2,00 untuk warna, 1,77 untuk aroma, dan 3,44 untuk rasa.
Teknologi Industri Pertanian edible coating; pisang ambon; lilin lebah; pati jagung Teknologi Pasca Panen 2025-08-14 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/54606 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol19n2.8
1671711 #3358 Development of Antimicrobial Edible Film Enriched with Double Emulsion of Cinnamon (Cinnamomum burmannii) Essential Oil Natania, Kam
Alvionita, Jennifer
Rosa, Dela
The edible film can be used as a carrier of bioactive compounds that contributed to the shelf life or nutritional benefit of food products; however, the addition of bioactive compounds relied greatly on the compatibility of the bioactive compound toward the edible film matrix. Most of the bioactive compounds are nonpolar which incompatible with the polar nature of the edible film. In this research, the nonpolar essential oil of cinnamon, a potent antimicrobial agent, was made into a double emulsion. The double emulsions were made through a two steps emulsification stages, with CaCl2 as the inner water phase and guar gum as the outer water phase. The physicochemical characteristics (stability, viscosity, and droplet size) and the antimicrobial activity of the double emulsion were observed. The double emulsion showed stability up to 7 days of storage at room temperature with high antimicrobial activity; MBC values of 0.86, 1.37, 0.31, and 0.51 mg/mL against E. coli, S. aureus, R. stolonifera, and A. niger, respectively. Different concentrations (5%,10%,15%) of both emulsions were added into edible film suspension. The formation of double emulsion showed a promising result as a means to incorporate nonpolar compounds into basic edible film formulation to increase its functional properties while retaining their physicochemical characteristic. All formulations showed good edible film characteristics, with edible film with 8% essential oil showing a high inhibition zone (15.81 dan 6.92 mm) toward E. Coli and R. stolonifer, 0.0052 mm thickness, the tensile strength of 6.32 MPa, 13% elongation and WVTR of 1.06 g/cm2.h.
Teknologi Pangan Edible Film; Double Emulsion; Cinnamon; Essential Oil; Antimicrobial Activity Pengemasan Makanan 2022-04-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/39732 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol16n1.10
1671710 #3358 MODIFIKASI PATI GARUT SECARA ENZIMATIS UNTUK PRODUKSI MALTODEKSTRIN Subroto, Edy
Garut merupakan sumber pati yang belum dimanfaatkan secara optimal. Untuk mengoptimalkannya di antaranya adalah dengan memodifikasi pati garut secara enzimatis menjadi maltodekstrin yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang industri pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai variabel yang berpengaruh serta mengamati perubahan sifat-sifat fisika maupun kimia dari maltodekstrin yang dihasilkan. Suhu reaksi, lama waktu reaksi, dan konsentrasi enzim berpengaruh secara signifikasn terhadap nilai Dextrose Equivalen (DE) pada maltodekstrin yang dihasilkan, tetapi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap karakteristik lainnya. Semakin tinggi suhu reaksi, lama waktu reaksi, dan konsentrasi amilase maka Dextrose Equivalen (DE) maltodekstrin yang dihasilkan semakin meningkat. Perlakuan suhu reaksi 85 °C, selama 10 menit dan konsentrasi α-amilase 0,2 % menghasilkan maltodekstrin terbaik dengan rendemen 72,6 , DE 9,57, dan solubility 51,99 % dan warna putih.                                      Kata Kunci : pati garut, maltodekstrin, amilase, dextrose equivalen (DE)
2013-01-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6366 buka_link ↗ Highlight_link
1671709 #3358 PENDUGAAN UMUR SIMPAN DAN MODEL KURVA ISOTERMA SORPSI AIR MANISAN MANGGA KERING Histifarina, d D.
Penelitian bertujuan untuk menduga umur simpan manisan mangga kering dalam kemasan plastik berdasarkan kurva isoterma sorpsi. Pembuatan manisan mangga kering dilaksanakan di Desa Temiyangsari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu dan uji umur simpan dilaksanakan di Laboratorium Jasa Analisa Pangan Institut Pertanian Bogor, dari bulan Oktober 2007 hingga Januari 2008. Bahan yang digunakan adalah mangga cengkir. Kadar air awal manisan mangga kering adalah 19,31%. Penelitian dilakukan dalam beberapa tahap yaitu ; a). Penentuan kadar air kritis; b) penentuan isoterma sorpsi air pada 5 tingkatan RH dan c). Penentuan WVTR kemasan plastik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur simpan manisan mangga kering yang dikemas dengan plastik memberikan umur simpan sekitar 10 – 11 bulan berdasarkan perubahan kadar airnya. Kata kunci : Mangga, Manisan kering, Kurva isoterma sorpsi, Umur simpan
2014-12-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4879 buka_link ↗ Highlight_link
1671708 #3358 Perancangan Desain Kemasan Velva Buah Nipah dan Ubi Jalar Ungu Menggunakan Metode Quality Function Deployment (QFD) Juarsa, Rahmadini Payla
Hanif, M. Khairul
Qalbi, Raihanul
Aqil, Nazliana
Putra, Aidil Jaya
Idris, M.
Jumiati, Melvy
Bela, Aldi Okta
Velva buah nipah dan ubi jalar ungu adalah produk sejenis es krim yang memiliki kadar lemak yang rendah karena menggunakan buah nipah dan ubi jalar ungu sebagai bahan utamanya. Desain kemasan yang tepat diperlukan untuk melindungi velva buah nipah dan ubi jalar ungu serta agar terlihat menarik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan desain kemasan velva buah nipah dan ubi jalar ungu yang sesuai dengan keinginan konsumen. Penelitian ini menggunakan metode Quality Function Deployment yang mengakomodir voice of customer dalam pembuatan desain kemasan velva buah nipah dan ubi jalar ungu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua alternatif desain kemasan velva buah nipah dan ubi jalar ungu yang dihasilkan. Alternatif kemasan berbentuk cup, memiliki desain visual yang memuat ilustrasi produk, nama produk, dan nama produsen, terdapat nomor BPOM, logo halal, dan tanggal kadaluarsa serta warna dasar kemasan yang berwarna cerah (merah muda) dan gelap (hijau).
buah nipah; desain kemasan; QFD; ubi jalar ungu; velva 2024-08-06 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/52697 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol18n2.6
1671707 #3358 PENENTUAN TINGKAT BAHAYA EROSI DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI SUB DAS CIKERUH KABUPATEN BANDUNG-SUMEDANG Kharistya, Amaru
N.P., Sophia Dwiratna
Bafdal, Nurpilihan
Abidin, Jenal
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat bahaya erosi yang terjadi di Sub DAS Cikeruh. Metode penelitian yang dilaksanakan adalah metode deskriptif, yaitu mendeskripsikan parameter-parameter Tingkat Bahaya Erosi (TBE) di SubDAS Cikeruh Kabupaten Bandung-Sumedang, dengan model prediksi erosi USLE (Universal Soil Loss Equation) dan kedalaman solum tanah yang dianalisis menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sub DAS Cikeruh memiliki Tingkat Bahaya Erosi yang bervariasi yaitu, sangat ringan 43,57 %; ringan 17,82 %; sedang 6,11 %; berat 31,96 %; dan sangat berat 0,54 % dari luas total Sub DAS Cikeruh dan laju erosi rata-rata di Sub DAS Cikeruh adalah sebesar 10,30 ton/ha/tahun.Kata kunci: Tingkat Bahaya Erosi, Sub DAS Cikeruh, Sistem Informasi Geografis (SIG)
tingkat bahaya erosi; sub DAS Cikeruh; SIG 2019-03-19 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/16261 buka_link ↗ Highlight_link
1671706 #3358 PENGARUH WAKTU DAN SUHU REAKSI TERHADAP SINTESIS LIPID TERSTRUKTUR DARI MINYAK IKAN DAN ASAM LAURAT Subroto, Edy
Hidayat, Chusnul
-, Supriyadi
Lipid terstruktur dengan medium chain fatty acid (MCFA) pada posisi luar dan polyunsaturated fatty acid (PUFA) pada posisi sn-2 memiliki nilai gizi dan absorbsi yang sangat baik. Dalam penelitian ini lipid terstruktur disintesis secara langsung melalui interesterifikasi enzimatis antara minyak ikan dan asam laurat. Reaksi dikatalisis oleh lipase spesifik 1,3 dari Mucor miehei. Faktor-faktor seperti waktu inkubasi  dan suhu reaksi dipelajari. Selanjutnya tingkat inkorporasi asam laurat dan profil gliserida ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu dan suhu reaksi optimum berturut-turut 12 jam dan 50 oC. Rasio mol optimum minyak ikan dan asam laurat adalah 1:10 dengan dihasilkan inkorporasi laurat mencapai 62,8 mol %. Pada waktu inkubasi yang lama, (lebih dari 12 jam), trigliserida menurun seiring dengan meningkatnya waktu inkubasi, sedangkan digliserida meningkat seiring dengan meningkatnya waktu inkubasi. Pada suhu reaksi di atas 50 oC, trigliserida menurun seiring dengan meningkatnya suhu reaksi. Metode interesterifikasi ini cukup efektif untuk mensintesis lipid terstruktur spesifik. Kata kunci : Interesterifikasi, Minyak ikan, Asam laurat, Lipid terstruktur, Inkorporasi
2014-12-23 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/5164 buka_link ↗ Highlight_link
1671705 #3358 Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Kopi Monokultur dan Agroforestri (Studi Kasus Kelompok Tani Bina Bakti, Sub-DAS Cikamiri, Jawa Barat) Ciptaningtyas, Drupadi
Abdurrahman, Muhammad Zhafir
Thoriq, Ahmad
Asdak, Chay
Kecamatan Samarang merupakan salah satu daerah penghasil kopi di Kabupaten Garut yang menghadapi ancaman ekologis berupa degradasi lahan akibat konversi hutan menjadi perkebunan kopi, terutama pada usahatani kopi pola monokultur. Pola agroforestri yang mengintegrasikan prinsip konservasi lahan menjadi alternatif yang potensial untuk menyelesaikan permasalahan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan finansial usahatani kopi pola monokultur dan agroforestri di Kecamatan Samarang berdasarkan kriteria kelayakan investasi yaitu Net Present Value (NPV), net Benefit-Cost Ratio (net B/C), Internal Rate of Return (IRR), dan payback period. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua pola usahatani tersebut layak secara finansial. Dengan discount factor sebesar 14%, usahatani kopi pola monokultur menghasilkan NPV sebesar Rp28.851.760, net B/C 1,54, dan IRR 23,13%, dengan pengembalian modal pada tahun ke-7. Sementara itu, usahatani kopi pola agroforestri menghasilkan NPV sebesar Rp197.310.592, net B/C 4,54, dan IRR 47,48%, dengan pengembalian modal pada tahun ke-6. Temuan ini mengindikasikan bahwa pola agroforestri tidak hanya lebih menguntungkan secara finansial tetapi juga mendukung keberlanjutan ekosistem, sehingga diharapkan dapat menjadi pendekatan alternatif bagi petani dalam mengelola usahatani kopi di Kecamatan Samarang.
Agroforestri; degradasi lahan; kelayakan investasi; kopi 2025-12-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/62906 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol19n3.1
1671704 #3358 Model Matematis Prediksi Laju Pengeringan Manisan Pepaya pada Alat Pengering Tipe Rak Murad, Murad
Sukmawaty, Sukmawaty
Sumarsono, Joko
Hidayat, Syahroni
Pengeringan secara konvensional masih banyak kekurangan, salah satunya sangat tergantung dengan cuaca. Sehingga perlu dilakukan suatu penanganan alternatif yaitu dengan menggunakan alat pengering mekanis menggunakan tambahan panas dan memerlukan energi untuk memanaskan bahan dan menguapkam air yaitu dengan menggunkan alat pengering seperti alat pengering tipe rak. Penelitian ini fokus pada penentuan konstanta laju pengeringan manisan pepaya baik hasil eksperimen ataupun prediksi menggunakan pengering tipe rak yang diberikan blower. Variabel yang digunakan adalah kecepatan aliran udara blower 3.43 m/detik dan 4.55 m/detik. Diperoleh hasil bahwa konstanta laju pengeringan prediksi memiliki nilai determinansi mencapai lebih dari 90% dengan nilai RMSE sangat kecil, masing-masing 0.065 dan 0.125. Penggunaan kecepatan aliran udara tidak terlalu mempengaruhi nilai konstanta laju pengeringan.
konstanta laju pengeringan; manisan; pepaya; pengering tipe rak 2021-08-20 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/33693 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol15n1.6
1671703 #3358 DAMPAK PENGELOLAAN HUTAN BERSAMA MASYARAKAT (PHBM) TERHADAP LAJU PENINGKATAN EROSI (STUDI KASUS DI DAS SAYANG) Rahadi, Bambang
Sistem Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) memberikan dampak pada peningkatan pendapatan petani sekitar hutan produksi, tetapi apabila tidak diawasi dalam pelaksanaanya justru terjadi peningkatan erosi yang disebabkan alih fungsi lahan hutan produktif menjadi pertanian intensif.  Tujuan  penelitian  menentukan erosi yang terjadi saat ini dan memprediksi besarnya erosi di DAS Sayang akibat adanya alih fungsi lahan hutan Pinus menjadi lahan pertanian intensif.  Analisis yang dipergunakan adalah analisis spasial dan penentuan erosi mempergunakan model n model AGNPS (Agricultural Non-Point Source). Hasil penelitian: Model AGNPS dipergunakan untuk untuk pendugaan erosi dan sedimentasi dengan tingkat kesalahan  lebih kecil 10 %. Tingkat erosi di DAS Sayang saat ini telah melebihi batas yang diijinkan yaitu sebesar 43.35 ton/ha/tahun dan laju sedimentasi pada outlet sebesar 4.58 ton/ha/tahun, serta nilai SDR sebesar 10 %. Alih fungsi hutan pinus 10% akan meningkatkan erosi 2,205 ton/ha/tahun dan sedimentasi 0,4 ton/ha/tahun. Alih fungsi hutan pinus 20%  menjadi pertanian intensif meningkatkan erosi 5,58 ton/ha/tahun dan sedimentasi 1,05 ton/ha/tahun. Alih fungsi hutan pinus 30 % menjadi pertanian intensif  meningkatkan erosi sebesar 8,1 ton/ha/tahun dan sedimentasi 1,57 ton/ha/tahun. Alih fungsi hutan pinus 40 % meningkatkan  erosi 11,95  ton/ha/tahun dan sedimentasi 1,02 ton/ha/tahun. Kata kunci: alih fungsi lahan, erosi, model spasial, simulasi
2012-05-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6337 buka_link ↗ Highlight_link
1671702 #3358 PENGARUH KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN DALAM LARUTAN NATRIUM METABISULFIT (NA2S2O5) TERHADAP KARAKTERISTIK TEPUNG BAWANG MERAH (ALLIUM ASCALONICUM L.) VARIETAS SUMENEP Herudiyanto, Marleen
Sumanti, Debby M.
Ahadiyah, Ria Nurul
Perubahan pola hidup masyarakat perkotaan menyebabkan permintaan akan makanan instan meningkat dengan alasan kepraktisan. Pengolahan bawang merah menjadi tepung bawang merah memudahkan dalam penggunaannya sebagai bumbu. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2005 hingga Mei 2006. Bawang merah varietas Sumenep memiliki kadar air yang rendah dan kadar padatan serta kadar bahan volatil yang tinggi. Pengeringan pada produk pangan menyebabkan berkurangnya aroma dan pencoklatan non-enzimatis. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan konsentrasi dan lama peren-daman dalam natrium-metabisulfit yang tepat agar diperoleh tepung bawang merah dengan karakteristik yang baik. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok pola faktorial dengan 2 faktor dan 4 ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi NMS yang terdiri dari 3 taraf, yaitu : 500 ppm (a1), 1000 ppm (a2), dan 1500 ppm (a3). Faktor kedua adalah lama perendaman yang terdiri dari 2 taraf, yaitu : 3 menit (b1) dan 6 menit(b2). Konsentrasi natrium-metabisulfit 1000 ppm dan lama perendaman 6 menit menghasilkan tepung bawang dengan karakteristik terbaik yaitu berwarna kuning semu kehijauan (L: 61,82; a : -5,55, b : +40,94), kadar air  4,76%, kadar VRS 49,53 m.ek/g, kadar abu 2,14%, dan residu Sulfit 4,59 ppm dan rendemen 14,83%. Kata kunci: Tepung, bawang merah, kadar air, natrium-metabisulfit
2014-12-15 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4788 buka_link ↗ Highlight_link
1671701 #3358 Penggunaan Biochar dan Trichokompos untuk Pertumbuhan dan Hasil Padi pada Tanah Sulfat Masam masulili, Agusalim
Suryani, Rini
sutikarini, sutikarini
Peningkatan produktivitas padi pada tanah sulfat masam di Kalimantan Barat dengan penambahan bahan pembenah tanah yaitu biochar dan trichokompos. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh campuran biochar dan trichokompos terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi di tanah sulfat masam Sungai Kakap, Kalimantan Barat. Penelitian dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), Desa Sungai Kakap Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya dimulai dari bulan April sampai bulan Agustus 2021. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak kelompok (RAK) dengan perlakuan pembenah tanah (kode b) yaitu campuran biochar batok kelapa dan trichokompos perbandingan 1:1. Perlakuan terdiri dari 5 taraf yang diulang sebanyak 5 kali, sehingga diperoleh 25 petak percobaan. Adapun taraf perlakuan dalam penelitian ini yaitu b0 sebagai kontrol (tanpa campuran biochar dan trichokompos), b1 berisi campuran biochar dan trichokompos sebanyak 1 kg/bedengan, b2 berisi campuran biochar dan trichokompos sebanyak 2 kg/bedengan, b3 berisi campuran biochar dan trichokompos sebanyak 3 kg/bedengan, b4 berisi campuran biochar dan trichokompos sebanyak 4 kg/bedengan. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan campuran biochar dan trichokompos sebagai pembenah tanah terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi (Oryza sativa L.) di tanah sulfat masam memberikan pengaruh yang tidak nyata pada semua variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah malai, berat gabah dan volume akar. Campuran biochar dan trichokompos sebanyak 1 kg/bedengan menghasilkan pertumbuhan dan hasil lebih tinggi dibandingkan perlakuan lain.
Teknologi Pertanian biochar; padi; trichokompos. Pangan 2022-10-11 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/39215 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol16n2.9
1671700 #3358 Pengaruh Suhu dan Waktu Penyangraian terhadap Karakteristik Fisikokimia dan Organoleptik Kopi Liberika Lampung Jantika, Triana
Ulfa, Masayu Nur
Talitha, Zada Agna
Kopi menjadi minuman populer dikarenakan aroma dan cita rasanya yang khas, yang berasal dari senyawa volatil. Salah satu varietas lokal yang mulai dikembangkan adalah kopi liberika, khususnya di Lampung Utara. Karakter rasa dan aroma kopi liberika sering dianggap kurang kompleks, maka diperlukan penanganan pascapanen yang tepat, terutama pada tahap penyangraian. Proses penyangraian sangat menentukan mutu akhir kopi. Variasi suhu dan waktu sangrai memegang peran penting dalam membentuk profil sensorik kopi yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh suhu dan waktu penyangraian terhadap karakteristik rendemen, kadar air, pH, total asam tertitrasi, kafein, dan organoleptik kopi liberika. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode rancangan acak kelompok (RAK) dengan faktor yaitu suhu penyangraian (180 °C, 200 °C dan 220 °C) dan waktu penyangraian (10 dan 14 menit). Analisis data dilakukan menggunakan SPSS dengan analisis varians (ANOVA) dan uji lanjutan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) dan Estimated Marginal Means pada taraf signifikansi α=0,05. Hasil ANOVA menunjukkan suhu penyangraian berpengaruh signifikan (P > 0,05) terhadap rendemen, kadar air, pH, total asam tertitrasi, kafein, serta seluruh parameter organoleptik kopi liberika. Waktu penyangraian juga menunjukkan pengaruh signifikan (P > 0,05) terhadap rendemen, kadar air, pH, total asam tertitrasi, kafein, dan organoleptik aroma. Interaksi suhu dan waktu penyangraian berpengaruh signifikan (P > 0,05) terhadap organoleptik aroma, rasa, dan keseluruhan. Perlakuan penyangraian pada suhu 220 °C selama 10 menit merupakan perlakuan terbaik karena kadar air dan pH yang paling sesuai serta paling disukai oleh panelis secara organoleptik.
Food Technology Kopi liberika; profil sensorik; sifat kimia; suhu penyangraian; waktu penyangraian Food Processing 2026-04-27 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/67654 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol20n1.4
1671699 #3358 PRODUKSI MINUMAN FUNGSIONAL SIRSAK (Anona muricata. Linn) DENGAN FERMENTASI BAKTERI ASAM LAKTAT Diniyah, Nurud
Subagio, Achmad
Fauzi, Mukhammad
Penggunaan bakteri asam lactat (LAB) dalam memproses minuman fungsional sop asam bertujuan untuk mengetahui efek LAB dan fermentasi terhadap sifat fungsional dan karakteristik, serta daya anti-oxidant minuman sop asam. Studi ini menggunakan analisis deskriptif  pada beberapa variasi lamanya fermentasi. Pengamatan dilakukan pada turbiditas, total asam, pH, total gula, pengurangan gula, vitamin C, kapasitas anti-oksidan, dan hasil tes organoleptik. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan LAB dan fermentasi mempengaruhi karakteristik dan daya anti-oksidan minuman fungsional sop asam. Kata kunci: sup asam, proses minuman, LAB, fermentasi, anti-oxidan
2013-05-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6377 buka_link ↗ Highlight_link
1671698 #3358 IDENTIFIKASI KAWASAN RESAPAN AIR TANAH DI KABUPATEN SUMEDANG Suryadi, Edy
-, Zaida
Saukat, Muhammad
Identifikasi dan penentuan wilayah resapan air tanah perlu ditetapkan untuk mengantisipasi terganggunya tata air tanah akibat terjadinya kerusakan hutan, alih fungsi lahan dan pengambilan air tanah di kawasan resapan air tanah di Kecamatan Jatinangor, Tanjungsari, Rancakalong dan Pamulihan. Dalam penetapan ini digunakan analisis matching berdasarkan penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG).Penelitian dilakukan dari bulan Maret sampai dengan Oktober  2006, dengan menggunakan metode penelitian deskriptif analitik. Hasil dari penelitian ini berupa peta kawasan resapan air tanah di Kecamatan Jatinangor, Tanjungsari, Rancakalong dan Pamulihan yang menunjukkan tingkat dan luas resapan air tanah sebagai berikut : Daerah Resapan Utama  2.583,36 hektar, Daerah Resapan Tambahan  8.988,42 hektar dan Daerah Resapan Kurang Berarti  4.836,84 hektar. Kata kunci: Resapan air tanah
2014-12-17 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4827 buka_link ↗ Highlight_link
1671697 #3358 Analisis Pengendalian Kualitas Pada Proses Produksi Teh Hitam Menggunakan Metode Statistical Quality Control Sinaga, Seila Teresia Devi
Putri, Selly Harnesa
Pujianto, Totok
Peningkatan jumlah konsumsi teh di dunia mendorong perkembangan produksi pengolahan teh yang berada di Indonesia untuk mampu bersaing di pasar internasional. Salah satu faktor yang mempengaruhi nilai jual dan daya saing suatu produk yaitu kualitas produk yang dihasilkan. PTPN IV Unit Tobasari sebagai salah satu industri pengolahan teh hitam yang berada di Kabupaten Simalungun masih menemukan produk cacat dalam proses produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan pengendalian mutu produk teh hitam yang selama ini dilakukan oleh PTPN IV Unit Tobasari, mengidentifikasi faktor penyebab penyimpangan mutu produk dan memberikan tindakan korektif atau usulan perbaikan. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode Statistical Quality Control (SQC) dengan menggunakan alat bantu data statistik. Pengolahan data dilakukan menggunakan teknik analisis deskriptif yang dapat dilakukan dengan tujuan untuk menggambarkan kondisi penelitian berdasarkan fakta. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa (1) pengendalian kualitas dilakukan pada pendekatan penerimaan bahan baku, proses produksi dan pendekatan produk akhir tetapi hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat produk yang masih berada di luar batas kendali statistik; (2) faktor-faktor penyebab penyimpangan mutu teh hitam adalah faktor manusia, faktor bahan baku, faktor metode, faktor mesin dan faktor lingkungan; (3) Tindakan korektif atau usulan perbaikan yang dapat dilakukan yaitu peningkatan kualitas bahan baku, peningkatan kemampuan kerja, perbaikan metode, dan menciptakan lingkungan kerja yang nyaman.
Pengendalian kualitas; Statistical Quality Control (SQC); Teh hitam 2023-08-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/43420 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol17n2.10
Menampilkan 1.461 - 1.480 dari total 1.550.696 data