| ID ↓ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1671056 | #5875 | RESPON UMUR PANEN DAN DOSIS UREA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN BIOMASSA SERTA KANDUNGAN BRIX SORGUM SAMURAI VARIETAS II (Sorghum bicolor L. Moench) SEBAGAI PAKAN RUMINANSIA |
Harahap, Anwar Efendi Taslapratama, Irwan Juliantoni, Jepri Harianti, Fitri Ananta, Arfi |
Sorghum has potential as a feed crop that has the ability to adapt to high temperature environments. The purpose of the research was to analyze the growth characteristics and biomass production of sorghum variety II at different cutting ages and urea fertilizer concentrations. The research used a complete randomized design pattern (3 x 3) with 3 replications. The first factor was cutting age namely 60, 65, and 70 days. The second factor was urea fertilizer concentration level of 150, 200, and 250 kg ha-1. Parameters observed included growth characteristics including plant height (cm), stem diameter (cm) and leaf length (cm), then biomass production including fresh biomass production (tons ha-1), and brix content (%). The results showed that each cutting age and urea fertilizer concentration were significantly different (P<0.05) on plant height, stem diameter and leaf length. Furthermore, biomass production and sugar content value (brix) were not influenced by (P>0.05) cutting age and urea fertilizer concentration on sorghum samurai variety II. Cutting age of 70 days and urea concentration of 250 kg ha-1 were the best treatments because they showed superior values in the observation of plant height and stem diameter as well as fresh biomass production
|
biomass, forage, fertilizer, maturity, samurai sorghum | 2025-07-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/62436 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnttip.v7i2.62436 |
| 1671055 | #5875 | KAJIAN PROFIL HEMATOLOGI DOMBA GARUT LEPAS SAPIH YANG DIBERI PAKAN DENGAN IMBANGAN PROTEIN DAN ENERGI BERBEDA | Kamil, Kurnia A. |
Kuantitas dan kualitas ransum berperan penting dalam menjaga performa ternak. Hal ini berkaitan dengan energi yang dihasilkan yang selanjutnya dapat mempengaruhi status hematologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui parameter hematologi (eritrosit, leukosit, hemoglobin, hematokrit dan trombosit) domba Garut yang diberi perlakuan protein dan keseimbangan energi yang berbeda. Sebanyak 24 ekor domba Garut yang disapih, umur 4 bulan, dibagi dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari enam perlakuan. Perlakuan yang dilakukan adalah P1 (ransum dengan kadar protein 12% dan total nutrien yang dapat dicerna 60% (TDN), P2 (ransum dengan kadar protein 12% dan TDN 65%), P3 (ransum dengan kadar protein 14% dan TDN 60%), P4 (ransum dengan kadar protein 14% dan TDN 65%), P5 (ransum dengan kadar protein 16% dan TDN 60%) dan P6 (ransum dengan kadar protein 16% dan TDN 65%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan energi dan protein pada setiap ransum tidak berpengaruh nyata terhadap status hematologi domba Garut. Perbedaan kadar protein dan energi dalam ransum tidak mengganggu status hematologi domba Garut yang pada akhirnya mencerminkan status kesehatan yang terjaga.Kata Kunci: domba, hematologi, ransum
|
2020-09-25 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/29867 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnttip.v2i3.29867 | |
| 1671054 | #5875 | REVIEW : POTENSI KULIT SINGKONG SEBAGAI PAKAN TERNAK AYAM BROILER | NURLAENI, LENI |
Unggas merupakan salah satu pangan utama yang banyak dikonsumsi di Indonesia khususnya ayam pedaging (broiler). Meningkatnya permintaan akan daging ayam, maka ketersedian bahan pakan harus tercukupi. Pilihan alternatif untuk menutupi kekurangan bahan pakan ayam broiler dengan memanfaatkan limbah pertanian yaitu kulit singkong. Kulit singkong merupakan limbah kupasan hasil pengolahan gaplek, tapioka, tape, dan panganan berbahan dasar singkong lainnya. Potensi ketersedian kulit singkong di Indonesia sangat melimpah. Kendala yang terdapat pada kulit singkong adalah kandungan nutrisi yang rendah dan keberadaan racun sianida (HCN). Namun, dapat ditanggulangi dengan teknologi fermentasi. Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa produk fermentasi kulit singkong pada tingkat penggunaan 10% dapat digunakan pada ayam pedaging. Kata Kunci : Kulit singkong; Fermentasi; Ayam broiler
|
2022-07-14 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/37649 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnttip.v4i1.37649 | |
| 1671053 | #5875 | PROFIL ENZIM TRANSAMINASE AYAM RAS PETELUR YANG DIBERI KITOSAN IRADIASI |
Dinana, Arvina Latipudin, Diding Darwis, Darmawan Mushawwir, Andi |
Lima puluh ekor ayam ras peterlur fase layer telah digunakan dalam penelitian ini, selama tiga bulan, bertempat di salah satu peternakan ayam ras petelur, Desa Sukarapih, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Analisis darah dilakukan di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Kitosan Iradiasi terhadap profil enzim transaminase pada ayam ras petelur. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan uji ortogonal polinomial. Terdapat lima jenis perlakuan, P0 = ayam petelur yang tanpa diberi Kitosan, P1= ayam petelur yang diberi Kitosan 150 ppm, P2 = ayam petelur yang diberi Kitosan 200 ppm, P3 = ayam petelur yang diberi Kitosan 250 ppm, dan P4 = ayam petelur yang diberi Kitosan 300 ppm. Berdasarkan hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian Kitosan iradiasi berbeda nyata (p<0,05) pada jumlah SGOT dan SGPT.
|
2019-12-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/25425 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnttip.v1i1.25425 | |
| 1671052 | #5875 | PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK CENTELLA ASIATICA L. TERHADAP JUMLAH LEUKOSIT DAN DIFERENSIASI LEUKOSIT AYAM PETELUR |
Patimah, Titin Burhanuddin, Handi |
Penelitian ini dilaksanakan selama 24 hari, bertempat di salah satu peternakan ayam petelur Desa Sukarapih, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Ekstraksi maserasi dan evaporasi dilakukan di laboratorim ternak unggas dan non Ruminansia fakultas peternakan serta laboratorium Sentral Universitas Padjadjaran.Analisis darah dilakukan di Laboratorium Uji Indosains, Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak pegagan terhadap jumlah leukosit dan diferensiasi leukosit pada ayam petelur fase layer. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Analisis statistika menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) empat perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu, Po = pemberian ransum tanpa ekstrak pegagan, P1 = pemberian ransum dengan ekstrak pegagan 0,04%, P2 = pemberian ransum dengan ekstrak pegagan 0,08%, P3 = pemberian ransum dengan ekstrak pegagan 0,12%. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Uji Sidik Ragam dan Uji Jarak Berganda Duncan. Berdasarkan hasil analisis statistik menunjukan bahwa pemberian ekstrak pegagan pada berbagai level pemberian tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kadar leukosit (58,83x103/mm3). Namun, berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap diferensiasi leukosit pada taraf pemberian ekstrak pegagan 0,12% yang mampu menurunkan basophil (5,31x103/mm3), eosinofil (4,20x102/mm3) dan meningkatkan kadar limfosit (15,18x103/mm3) serta pemberian ekstrak pegagan 0,04% mampu menurunkan kadar neutrofil. Basophil, neutrofil dan limfosit belum mencapai kadar normal, sedangkan eosinofil berada pada ambang batas normal.Kata kunci: Ayam Petelur, Ekstrak Pegagan, Leukosit, Diferensiasi Leukosit
|
2021-01-07 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/29318 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnttip.v2i4.29318 | |
| 1671051 | #5875 | Profil Peternak, Pemanfaatan dan Kualitas Nutrisi Daun Mangrove (Rizophora Apiculata) Sebagai Pakan Hijauan Alternatif Di Kecamatan Tebing Tinggi Barat Kabupaten Kepulauan Meranti | trisno, sut |
The profile breeder's is a description of person in general depending on which aspect he looks at, starting from age, gender, education and experience influence the use forage in Tebing Tinggi Barat District by utilizing mangrove leaves (Rizophora apiculata) as an alternative feed. The purpose of study was to determine the profile of farmers and the nutritional quality of mangrove leaves (Rizophora apiculata). This research was carried out from March to April 2021 in Tebing Tinggi Barat District and the Laboratory of Nutrition and Feed Technology, Faculty of Agriculture and Animal Science, Sultan Syarif Kasim State Islamic University, Riau. The method used is interview and analysis nutritional quality of mangrove. Â The results showed that 90% of farmers gave mangrove leaves as forage it can be sean from the age of the highest breeder was 39-50 years, with gender 80% male, and education level 40% high school, and 70% own livestock ownership, had an average of 6-9 goats 55%, farmer occupation 40 %, experience raising more than 5 years 40%, household dependents 1-3 people 71%. Based on the nutritional quality of mangrove leaf meal (Rizophora apiculata) it has 27.62% Dry Matter, 72.37% Moisture water, 6.70% Crude Protein, 13.49% Crude Fiber, 3.33% Crude Fat, 11.65% Ash Content, 64.79% Nitrogen Free Extract ingredient, and 64.93% Total Digestible Nutrient. The conclusion of the study is that farmers are old and do not get information and new innovations and based on proximate analysis of mangrove leaves (Rizophora apiculata) can be used as forage for livestock.Keywords: leaves mangrove, nutritional quality, profile breeder
|
2022-09-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/37149 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnttip.v4i3.37149 | |
| 1671050 | #5875 | Pengaruh Fermentasi Feses Ayam Layer sebagai Media Tumbuh terhadap Bahan Organik Serat Kasar dan BETN Maggot (The Effect of Layer Chicken Fermentation as a Growth Media on Organic Matter Crude Fiber and Nitrogen-free Extract Maggot) | Rifalah, Muhamad Zakki |
(Indonesia)Penelitian telah dilaksanakan di PT. Talaga Unggas Bahagia dan Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas Non Ruminansia dan Industri Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran pada 30 Maret 2023 hingga 30 Mei 2023. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dan perlakuan manakah yang terbaik pada fermentasi feses ayam layer dengan penambahan Eco-enzyme 2% dan Probiotik Stardec 0,25%. Parameter yang diamati adalah bahan organik, serat kasar, dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) maggot BSF. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap. Terdapat tiga perlakuan  pada feses ayam layer yaitu P1= fermentasi feses ayam layer tanpa bioaktivator, P2= fermentasi feses ayam layer + Eco-enzyme 2% dan P3= fermentasi feses ayam layer + Probiotik Stardec 0,25%. Dilakukan 6 pengulangan setiap perlakuan. Analisis data menggunakan analisis ragam (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan kandungan serat kasar maggot pada media yang difermentasi Probiotik Stardec 0,25% (P3) nyata lebih rendah (P<0,05) dibanding yang dipelihara di media fermentasi tanpa bioaktivator (P1), dan yang difermentasi Eco-enzyme 2% (P2), dan kandungan BETN sangat nyata lebih tinggi (P<0,01) dibanding yang dipelihara di media fermentasi tanpa bioaktivator (P1), dan yang difermentasi Eco-enzyme 2% (P2). Kandungan SK dan BETN maggot pada media fermentasi Probiotik Stardec 0,25% adalah 5,81% dan 44,97%. (Inggris)The research was held from 30th March 2023 to 30th May 2023 in PT. Talaga Unggas Bahagia and Laboratory of Poultry Non Ruminant Nutrition  and Feed Industry, Padjadjaran University. The purpose of this research was to determine the effect and which treatment is best for layer chicken feces fermentation with the addition of Eco-enzyme 2% and 0.25% Stardec probiotics. The parameters observed were organic matter, crude fiber, and BSF maggot nitrogen-free extract. The research method used was an experimental method with a completely randomized design (CRD). There were three threatments for layer chicken feces, namely P1 = layer chicken feces fermentation without bioactivator, P2= layer chicken feces fermentation with 2% Eco-enzyme, and P3= layer chicken feces fermentation with 0.25% Stardec probiotic. Performed 6 repetitions of each treatment. Data analysis used analysis of variance (ANOVA). The results showed that the content of maggot crude fiber in media fermented with Probiotic Stardec 0.25% (P3) was significantly lower (P<0.05) than that grown in fermentation media without bioactivator (P1), and 2% Eco-enzyme fermented (P2), while the content of NFE was very significantly higher (P<0.01) than that grown in fermentation media without bioactivator (P1), and 2% Eco-enzyme fermented (P2). The content of crude fiber and NFE maggot in the 0.25% Stardec Probiotic fermentation media were 5.81% and 44.97%.
|
fermentasi;maggot;bahan organik;serat kasar;bahan ekstrak tanpa nitrogen | 2024-05-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/48499 buka_link ↗ Highlight_link |
| 1671049 | #5875 | PENGARUH PEMBERIAN KITOSAN DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMA AYAM ARAB SILVER |
Sahara, Eli Sandi, Sofia Yosi, Fitra Alexa, Robi |
Ransum berkualitas dibutuhkan dalam peningkatan kinerja dan produkstivitas. Salah satu upaya peningkatan kualitas ransum adalah dengan penambahan kitosan , karena kitosan merupakan serat hewan tidak toksik dan dapat bermanfaat sebagai prebiotik. Tujuan penelitian adalah meningkatkan peforma ayam Arab Silver dengan pemberian kitosan dalam ransum. Penelitian menggunakan rancangan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan, 5 ulangan dan masing-masing ulangan terdiri dari 2 ekor ayam, sehingga jumlah ayam yang digunakan adalah 60 ekor. Perlakuan penelitian adalah R0 = Ransum Basal /RB (kontrol) R1 = RB + 0,5% kitosan, R2 = RB + 1% kitosan, R3 = RB + 1,5% kitosan R4 = RB + 2% kitosan, R5 = RB + 2,5% kitosan. Parameter yang diukur adalah peforma produksi seperti konsumsi ransum, produksi telur (hen day) dan konversi ransum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian perlakuan kitosan menunjukkan perbedaan yang tidak nyata terhadap konsumsi ransum, produksi telur (hen day) dan konversi ransum (P>0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian kitosan dalam ransum selama masa penelitian 7 minggu memberikan rataan nilai peforma produksi yang berimbang.
|
2020-03-22 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/26668 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnttip.v2i1.26668 | |
| 1671048 | #5875 | IDENTIFIKASI SIFAT KUANTITATIF DOMBA DORPER JANTAN GENERASI PERTAMA YANG DIBERI PAKAN KOMPLIT DI PT. AGRO INVESTAMA |
Sholikhah, Dinah Hilmia, Nena Hidayat, Rahmat |
Domba Dorper merupakan ternak penghasil daging yang berasal dari wilayah Afrika Selatan. Kemampuan adaptasi Domba Dorper terhadap lingkungan baru dapat dilihat pada perubahan hasil produktivitas maupun performanya. Penelitian dilaksanakan di PT. Agro Investama menggunakan data sekunder pada bulan Agustus 2021 dengan objek penelitian Domba Dorper berumur 4 bulan sebanyak 22 ekor. Penelitian dilakukan untuk mengetahui produktivitas Domba Dorper generasi pertama yang diberi pakan komplit selama pemeliharaan di PT. Agro Investama. Parameter yang diukur yaitu bobot lahir, bobot badan umur 1-4 bulan, dan pertambahan bobot badan harian (PBBH). Data hasil penelitian dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bobot lahir Domba Dorper di PT. Agro Investama adalah 3,3±0,80 kilogram, dan pada bobot badan umur 1 sampai 4 bulan berturut-turut sebesar 10,52±3,09 kilogram, 14,25±2,87 kilogram, 17,95±4,83 kilogram, dan 21,91±5,20 kilogram.Pertambahan bobot badan selama 1 sampai 4 bulan sebesar 0,241±0,095 kilogram/hari, 0,182±0,043 kilogram/hari, 0,163±0,044 kilogram/hari dan bulan ke-4 sebesar 0,155±0,04 kilogram/hari.
|
2022-01-25 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/36315 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnttip.v3i2.36315 | |
| 1671047 | #5875 | Evaluation of the Use of Dried Grated Sago as a Substitute Energy Source for Corn in Sentul Chicken Feed | Gunawan, Rinie |
This research aims to evaluate dry grated sago as an energy source feed ingredient that can substitute corn in feed for the growth of Sentul chickens. The variables observed were feed consumption, final body weight, body weight gain, and feed conversion during growth from week 1 to week 10. The experimental design carried out was a completely randomized design with 5 treatments, namely corn-based feed (P0), feed sagoo more based feed without steam with the addition of 0.5% biopremix (P1), sagoo more based feed with steam adding 0.5% biopremix (P2), sagoo more based feed without steam with the addition of 1% biopremix (P3), and feed based sagoo more with steam adding 1% biopremix (P4). Each treatment consisted of 3 repetitions with 5 chickens per repetition. The total number of Sentul chickens used for the experiment was 150 chickens. The results of the research showed that the treatment feed was significantly different in terms of the average final body weight, body weight gain (PBB), and feed conversion (p<0.05) compared to the control, but the treatment feed was not significantly different in influencing feed consumption. The addition of 1% biopremix to rations without steam can increase the final body weight of Sentul chickens, increase body weight and reduce feed conversion compared to those with steam. Using Biopremix is more effective without steam treatment
|
dried grated sago; sentul chicken; in vivo testing; performance | 2024-05-26 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/52287 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnttip.v6i1.52287 |
| 1671046 | #5875 | Pengaruh Komposisi Hijauan Jagung (Zea mays) dan Legum Turi Putih (Sesbania grandiflora) Terhadap Kualitas Wafer Pakan | ARSADIANTI, NISA SAKIILA |
Hasil samping jagung hijauan dapat dimanfaatkan untuk bahan pakan sebagai potensi sumber energi dan serat bagi ruminansia, jagung tergolong dalam pakan hijauan yang memiliki kandungan protein yang rendah sehingga untuk meningkatkan kualitas nutrisinya dapat digunakan dengan mengabungkan pakan sumber protein seperti kacang-kacangan turi putih. Salah satu teknologi yang meningkatkan kualitas hijauan, memudahkan penyimpanan dan memiliki umur simpan yang relatif lama yaitu berbentuk wafer pakan. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 6 pengulangan, dengan rencana perlakuan P1= Hijauan Jagung 50% dan Legum Turi Putih 50%, P2= Hijauan Jagung 40% dan Legum Turi Putih 60%, P3 = Hijauan Jagung 30% dan Legum Turi Putih 70% dan P4 = Hijauan Jagung 20% dan Legum Turi Putih 80%. Peubah yang diamati adalah kadar air, berat jenis, kerapatan dan daya serap air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perbedaan komposisi campuran hijauan jagung dan kacang-kacangan turi putih berpengaruh nyata (P0,05) terhadap kadar air, berat jenis, kerapatan dan daya serap udara. Komposisi campuran paling baik dihasilkan oleh P4 dengan 20% hijauan jagung dan 80% kacang-kacangan turi putih.
|
Hijauan Jagung, Legum Turi, Kualitas Fisik, Wafer Pakan | 2024-11-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/54644 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnttip.v6i3.54644 |
| 1671045 | #5875 | PENGARUH PENAMBAHAN MOLASES DAN NITROGEN PADA ENSILASE BATANG PEPAYA (Carica Papaya L.) TERHADAP KANDUNGAN BAHAN KERING, BAHAN ORGANIK DAN ABU SILASE YANG DIHASILKAN | DHALIKA, TIDI |
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan molases dan nitrogen pada ensilase batang pepaya terhadap kandungan bahan kering, bahan organik dan abu dari silase yang dihasilkan. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan : (1) tanpa penambahan molases dan nitrogen perlakuan (P0), (2) penambahan 0% molases dan 2% nitrogen (P1), (3) penambahan 5% molases dan 0% nitrogen (P2), dan (4) penambahan 5% molases dan 2% nitrogen (P3), tiap perlakuan diulang 5 (lima) kali. Data dianalisis menggunakan sidik ragam dan analisis jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan molases dan nitrogen memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kandungan bahan kering, bahan organik dan abu dari silase yang dihasilkan. Penambahan 5 % molases dan 0% nitrogen pada ensilase batang pepaya menghasilkan kandungan bahan kering sebesar 16,84%, bahan organik 90.97%  sebagai nilai tertinggi diantara perlakuan yang diberikan, dan kandungan abu terendah sebesar 8,34%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan molases sampai taraf 5% tanpa penambahan unsur nitrogen dapat dilakukan pada ensilase batang pepaya. Kata Kunci : Ensilase, batang pepaya, molases, nitrogen, bahan kering,                       bahan organik, dan abu
|
2022-06-05 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/38579 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnttip.v3i4.38579 | |
| 1671044 | #5875 | PLANTAGO DI PADANG PENGGEMBALAAN SEBAGAI PAKAN DAN PENGHASIL METABOLIT SEKUNDER | indriani, nyimas popi |
ABSTRAK           Lingkungan padang penggembalaan memiliki keanekaragaman  sumber alam hayati, sehingga membuat stabil tatanan lingkungan tersebut. Keanekaragaman tumbuhan sangat penting,  salah satunya yaitu tumbuhan herba Plantago.  Hijauan herba Plantago dari keluarga Plantaginaceae, terutama kaya kandungan nutrien dan mineral serta mengandung senyawa metabolit sekunder (kandungan fitokimia). Plantago banyak terdapat di padang  penggembalaan untuk pakan ruminansia dan pengobatan herbal. Plantago merupakan jenis tanaman herbal karena memiliki kandungan fitokimia diantaranya ialah flavonoid, fenol, saponin dan tanin.  Peran Tumbuhan Plantago sangat penting diantaranya  dapat digunakan untuk mengurangi defisit hijauan pakan padang rumput berbasis rumput selama musim kemarau. Selain itu dampak lingkungan dapat diatasi dengan adanya keberdaan Tumbuhan Plantago yaitu   mengurangi kandungan nitrogen dalam urin dan gas metan.
|
Kata Kunci: Plantago, Pakan, Nutrien, Ruminansia. | 2023-08-09 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/47938 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnttip.v5i2.47938 |
| 1671043 | #5875 | KUALITAS FISIK DAN NILAI PH SILASE Arachis pintoi DENGAN CAMPURAN BAHAN PAKAN YANG BERBEDA |
Alifah, Nabiilah Nur Yanza, Yulianri Rizki Susilawati, Iin Saefulhadjar, Deny Setiawan, Muhammad Ariana |
Hijauan memiliki peran yang sangat penting dalam pakan ternak khususnya ternak ruminansia yang bergantung pada hijauan sebagai sumber serat dan nutrisi utamanya, sehingga eksplorasi sumber hijauan alternatif seperti leguminosa menjadi isu penting untuk memenuhi kebutuhan pakan selain hijauan konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk menyalakan kualitas fisik dan nilai pH yang dihasilkan dari silase Arachis pintoi dengan campuran bahan pakan yang berbeda. Parameter yang diuji diantaranya keberadaan jamur, aroma, warna, tekstur, dan nilai pH. Penelitian dilaksanakan dari bulan Agustus – Oktober 2024 di Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Desain eksperimen yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan terdiri dari P1 (100% Arachis pintoi ), P2 (50% Arachis pintoi + 50% tebon jagung), dan P3 (50% Arachis pintoi + ampas tahu). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa penambahan campuran bahan pakan yang berbeda berpengaruh nyata terhadap kualitas warna, tekstur, dan nilai pH silase Arachis pintoi yang dihasilkan. Kata Kunci: leguminosa, arachis pintoi, silase, kualitas fisik, pH
|
2025-06-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/59173 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnttip.v7i1.59173 | |
| 1671042 | #5875 | KADAR ENZIM TRANSAMINASE (SGPT, SGOT) DAN GAMMA GLUTAMYL TRANSPEPTIDASE (Îł -GT) PADA AYAM PETELUR FASE LAYER YANG DIBERI EKSTRAK PEGAGAN (Centella asiatica) | jiwandini, Aila |
Hepar sebagai organ kelenjar terbesar memiliki peran penting dalam metabolisme glukosa dan lipid, membantu proses pencernaan, absorbsi lemak dan vitamin yang larut dalam lemak, serta detoksifikasi tubuh terhadap zat toksik. Mengingat pentingnya fungsi hati dalam tubuh maka perlu dilakukan control terhadap fungsi hati untuk mengoptimalisasi produktivitas ternak . Penurunan produktivitas ayam petelur salah satunya dapat dipengaruhi oleh penurunan fungsi hati . Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas ekstrak pegagan (Centella asiatica) sebagai hepatoprotektor dengan menurunkan kadar enzyme SGOT,SGPT dan γ-GT dalam darah ayam petelur sebagai indicator kesehatan fungsi hati . Penelitian ini menggunakan 20 ekor ayam petelur umur 120 minggu dengan metode RAL (rancangan acak lengkap ) 4 perlakuan 5 ulangan. Perlakuan tersebut adalah P0 kontrol ransum basal tanpa penambahan ekstrak pegagan ; P1 ransum basal + 0,04% ekstrak pegagan ; P2 ransum basal + 0,08% ekstrak pegagan, P3 ransum basal + 0,12% ekstrak pegagan. Berdasarkan hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian ekstrak pegagan memberikan berbeda nyata (p<0,05) pada jumlah SGOT SGPT dan γ-GT.
|
2020-07-16 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/27389 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnttip.v2i2.27389 | |
| 1671041 | #5875 | ANALISIS RANTAI PASOK HIJAUAN PAKAN TERNAK SAPI PERAH DI PROVINSI JAWA BARAT | Mashudi, Ismail |
Penyediaan HPT yang cukup dan berkualitas akan meningkatkan produksi susu sapi perah. Dalam rangka peningkatan susu sapi, maka penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis pola penyediaan dan rantai pasok HPT pada peternak sapi perah di Jawa Barat, yang merupakan salah satu daerah sentra sapi perah di Indonesia. Lokasi penelitian dilakukan di Kabupaten Bandung Barat, Bandung, Garut, Bogor, Kuningan dan Subang yang merupakan sentra sapi perah di Jawa Barat pada bulan Mei–Oktober 2022 dengan metode analisis deskriptif kualitatif. Penentuan responden menggunakan Purposive Sampling untuk peternak dan snowball sampling untuk pedagang perantara dan produsen. Metode pengambilan data menggunakan kuesioner terbuka dan wawancara langsung kepada 165 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber penyediaan HPT yang digunakan dalam rantai pasok HPT di Jawa Barat banyak berasal dari lahan sendiri, lahan hutan/DAS/lain-lain, beli dan sewa, sedangkan jenis HPT yang banyak digunakan adalah rumput gajah, rumput alam/campuran dan jerami padi. Saluran rantai pasok HPT sapi perah di Provinsi Jawa Barat berjumlah 10 saluran, dengan anggota rantai yaitu produsen HPT (produsen HPT segar, produsen HPT awetan dan produsen HPT segar dan awetan), pedagang HPT (pedagang pengumpul dan pedagang besar), dan konsumen (peternak sapi perah mikro, kecil, menengah, koperasi dan perusahaan besar).
|
Hijauan Pakan Ternak (HPT), penyediaan HPT, jenis HPT dan Saluran rantai pasok HPT | 2024-01-29 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/50722 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnttip.v5i4.50722 |
| 1671040 | #5875 | KUALITAS FRAKSI SERAT PAKAN SILASE DAUN PELEPAH SAWIT DENGAN PENAMBAHAN AMPAS TAHU DAN TEPUNG JAGUNG |
Harahap, Anwar Efendi Mucra, Dewi Ananda Sepriadi, Sigit Zumarni, Zumarni Aulia, Wafa |
Palm frond leaves can be used as ruminant feed with the addition of tofu dregs and corn flour in the form of complete silage. The aim of the research is to convey the quality of the fiber fraction of palm frond leaf silage by adding various sources of tofu dregs concentrate and corn flour. This research method used a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 5 arranged replications, namely: P0 = 100% PFL (palm frond leaf); P1 = 100% PFL + 5% molasses; P2= 100% PFL + 5% tofu dregs (TD)+ 5% corn flour (CF) + 5% molasses; P3= 100% DPS + 10% tofu dregs (TD)+ 10% corn flour (CF) + 5% molasses and P4 = 100% DPS + 15% tofu dregs (TD)+ 15% corn flour (CF) + 5%. The parameters measured were NDF, ADF, hemicellulose, lignin and cellulose (%). The research results showed that the treatment with the addition of tofu dregs concentrate and corn flour had a significant effect (P>0.05) on the NDF, ADF, cellulose and lignin content of palm frond silage. The use of silage treatment with a composition of 100% palm frond leaves + 15% tofu dregs + 15% corn flour is the best treatment because it is able to optimally reduce the content of NDF (57.15%), ADF (39.05%) and lignin (9.53%)
|
silage; feed; fiber fraction; palm leaves | 2026-02-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/66967 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jnttip.v7i3.66967 |
| 1671039 | #6098 | Retrospective Observational Analysis in a Cohort Patients in Treatment with Alirocumab and Evolocumab: Focus on C-LDL Values | Coppolino, Salvatore |
Hypercholesterolemia is the main risk factor for cardiovascular disease. Statins are the drugs of first choice, but many patients fail to reach the recommended levels of LDL cholesterol, or are intolerant. The PCSK9 inhibitor drugs (Alirocumab and Evolocumab) are anti-PCSK9 antibodies: represent a new pharmacological approach, and have been approved as an adjunct to Statins or in intolerant patients. The aim of the work was to carry out a retrospective analysis of a cohort of patients treated with anti-PCSK9 antibodies. The AIFA Therapeutic Plans were received by the Pharmacy from 01/01/2021 to 06/30/2023 by extrapolating data such as: sex, age, prescribed PCSK-9, adverse reactions, LDL cholesterol values before treatment and at the first re-evaluation. Out of 329 patients on treatment, 215 (65.3%) were treated with Evolocumab, 114 (34.7%) with Alirocumab. The 329 patients analyzed , have an average age of 64 years (minimum 30 - maximum 87). Our analysis has highlighted that in post-treatment patients the percentage change in LDL cholesterol values compared to baseline is equal to 59.8% in line with what was observed in the ODISSEY and FOURIER studies. PCSK9 inhibitors are state-of-the-art therapies and are well tolerated and effective in the management of the statin-intolerant patient, or as an adjunct to existing lipid-lowering therapies. Furthermore, statins increase serum PCSK9 levels; therefore, the best effect of these inhibitors is seen in combination with them
|
Key words: hypercholesterolemia, Low Density Lipoprotein, PCSK-9, Hydroxymethylglutaryl-CoA Reductase Inhibitors, pharmacovigilance. | 2025-04-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/51899 buka_link ↗ Highlight_link 10.15416/pcpr.v10i1.51899 |
| 1671038 | #6098 | Formulation and Evaluation of Anti-Acne Lotion Containing Red Ginger (Zingiber officinalle Roscoe) Essential Oil |
Indriati, Dwi Wiendarlina, Ike Y. Carolina, Annisa S. |
Red ginger (Zingiber officinalle Roscoe) has been empirically used as antibacterial agent. This study was aimed to formulate anti-acne lotion containing red ginger essential oil and to evaluate its antibacterial activity against Propionibacterium acnes and Staphylococcus epidermidis. Extraction and distillation of 10 kg of red gingers were performed to obtain its essential oils. The lotions were prepared using oil in water (o/w) base with various concentration of red ginger essential oils, i.e., 2.5%, 5%, and 7.5%. The lotion was assayed to determine organoleptic, homogeneity, pH, viscosity, and irritation-inducing level. Antibacterial activity test was conducted using disk-difussion method. Results indicated that the 7.5% concentration exerted the strongest activity in inhibiting P. acnes (inhibition zone 12.4 mm) and S. epidermidis (inhibition zone 29 mm). In conclusion, anti-acne lotion containing 7.5% of red ginger essential oil was effective to control acne inducing bacteria and fulfilled the required standards.Keywords: Red ginger, essential oil, anti-acne, Propionibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis
|
2018-12-19 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/19841 buka_link ↗ Highlight_link 10.15416/pcpr.v3i3.19841 | |
| 1671037 | #6098 | Anti-inflammatory Activity of the Gel Containing a Combination of Neem Leaf Extract and Shallot Extract |
Nurmala, Sara Moerfiah, Moerfiah Purnama, Restu T. |
Neem leaves (Azadirahcta indica A. Juss) and shallots (Allium cepa L) contain flavonoids that are effective as an antioxidant, antibacterial, and anti-inflammatory. The aim of this study was to determine the effective concentration and the duration of treatment of the anti-inflammatory activity of the gel containing a combination of neem leaf extract and shallot extract. These substances have a similar effect, and it is believed that these combinations may effective as an anti-inflammatory at small doses to reduce the side effects. The animals were randomly divided into 6 groups with 5 rats per group. The rats were wound-induced by incising its back (length 1.5 cm, depth 0.7 mm) and were observed for 8 days. Parameters measured were wound’s closure, color, and healing process. Statistical analysis showed that the most effective concentration as an anti-inflammatory was formula 1 (neem leaf extract 3.125%: shallots extract 4%) with the fastest healing time was 5 days. Thus, this formula is one of the effective treatment options for healing wounds.Keywords: neem leaves, shallots, anti-inflammatory, combination, gel
|
Neem leaves, Shallots, Anti-inflammatory, Combination, Gel. | 2020-04-21 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/26133 buka_link ↗ Highlight_link 10.15416/pcpr.v5i1.26133 |