| ID ↓ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1672396 | #6191 | Pengaruh service quality terhadap kepuasan pasien ekspatriat klinik gigi Bali International Dental Center di Denpasar – Bali |
Prithari, Grace Ayu Setiawan, Ignatius Kuswoyo, Chandra |
Pendahuluan : Seiring dengan berkembang pesatnya arus globalisasi dan fenomena Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), jumlah ekspatriat di Pulau Bali meningkat. Para ekspatriat membutuhkan perawatan gigi selama menetap di Pulau Bali. Persaingan ketat di bidang kedokteran gigi menuntut klinik gigi untuk memiliki strategi yang tepat agar dapat bersaing, dan salah satu strategi yang diperlukan adalah menciptakan kepuasan pasien pada klinik gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh service quality terhadap kepuasan pasien ekspatriat Klinik Gigi Bali International Dental Center di Denpasar - Bali. Metode: Jenis penelitian analitik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli - Agustus 2017 pada100 pasien ekspatriat di Klinik Gigi Bali International Dental Center. Analisis data menggunakan uji analisis regresi berganda. Pengolahan data menggunakan program SPSS. Hasil : Uji statistik regresi parsial menunjukkan bahwa variabel Tangibles (X1) berpengaruh sebesar 8,0% terhadap kepuasan pasien, Empathy (X2) berpengaruh sebesar 18,8% terhadap kepuasan pasien, variabel Reliability (X3) berpengaruh sebesar 15,9% terhadap kepuasan pasien, variabel Responsiveness (X4) memiliki pengaruh terhadap kepuasan pasien sebesar 28,5% dan variabel Assurance (X5) berpengaruh sebesar 14,6% terhadap kepuasan pasien. Simpulan: Kepuasan pasien merupakan persyaratan fundamental bagi penyedia layanan kesehatan. Service quality berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien. Variabel tangibles (X1) memiliki pengaruh terkecil terhadap kepuasan pasien, sedangkan variabel responsiveness (X4) memiliki pengaruh terbesar terhadap kepuasan pasien.Kata kunci: Service quality, kepuasan pasien
|
Service quality, kepuasan pasien | 2018-10-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22127 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v1i1.22127 |
| 1672395 | #6191 | Antibacterial activity of robusta and arabica coffee husks extracts against Lactobacillus acidophilus: Experimental study |
Ishimora, Marina Erlysa Prasetya, Rendra Chriestedy Susilawati, I Dewa Ayu |
ABSTRACTIntroduction: Coffee husks (CHs), both Robusta and Arabica, are major dry coffee processing by-products and were considered waste. This waste contains secondary metabolites, such as alkaloids, phenolic compounds, saponins, and terpenoids, and hence has potential as an antibacterial agent for treating oral disease. This research aims to analyze the antibacterial activity of robusta and arabica coffee husk extracts (CHE) against Lactobacillus acidophilus. Methods: This research used in-vitro laboratory experimental research with a post-test only control group design. CHs were extracted using a maceration process with 95% ethanol (1:5) for three days. The antibacterial test was conducted using agar-well diffusion thorugh a pour plate inoculation method in two groups of the research: RCHE and ACHE, with six sub-groupgroup of each extract concentration of 250, 500, 750, 1000 mg/ml, negative control (sterile distilled water), and positive control (chlorhexidine gluconate 0,1%). The diameter of the inhibition zone (bactericidal and bacteriostatic zone) (mm) was the parameter of the antibacterial test, which was calculated with a digital caliper. Data were analyzed by the Saphiro-Wilk, Levene-Test, Kruskal-Wallis, and followed by Mann-Whitney using SPSS 26.0. Results: RCHE had bactericidal and bacteriostatic activity on L. acidophilus at [250 mg/ml], [500 mg/ml], [750 mg/ml], and [1000 mg/ml] doses. Conversely, ACHE had significantly weaker antibacterial activity (p<0.05) in comparison with RCHE. ACHE only showed bactericidal activity at the [1000 mg/ml] dose and bacteriostatic activity at the [750 mg/ml] dose. Conclusions: RCHE and ACHE have antibacterial activity against L. acidophilus; additionally, RCHE has a more potent inhibition capacity than ACHE.KEY WORDS: Agar-well diffusion, chlorhexidine gluconate, ethanol extracts, pour-plate inoculation.Kemampuan antibakteri ekstrak kulit buah kopi robusta dan arabika terhadap pertumbuhan Lactobacillus acidophilus: Studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Kulit buah kopi, baik robusta maupun arabika, merupakan hasil sampingan proses pengolahan kopi metode kering yang dianggap sebagai limbah. Limbah tersebut mengandung metabolit sekunder golongan alkaloid, senyawa fenol, saponin, dan terpenoid yang berpotensi sebagai agen antibakteri terapi penyakit di rongga mulut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan antibakteri ekstrak kulit buah kopi (EKBK) robusta (R) dan arabika (A) terhadap pertumbuhan Lactobacillus acidophilus (L. acidophilus) . Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris in vitro dengan rancangan the posttest only control group design. Kulit buah hasil pengolahan cara kering di ekstraksi dan maserasi dengan etanol 96% (1:5) selama 3 hari. Uji antibakteri menggunakan metode agar-well diffusion dengan inokulasi pour plate method pada dua kelompok penelitian, yaitu EKBKR dan EKBKA dengan enam sub kelompok masing-masing konsentrasi ekstrak 250, 500, 750, dan 1000 mg/ml, akuades steril (kontrol negatif), dan chlorhexidine glucontae 0,1% (kontrol positif). Parameter penelitian berupa diameter zona hambat (bakterisidal dan bakteriostatik) (mm) yang dihitung dengan jangka sorong digital. Data dianalisis dengan uji Saphiro-Wilk, Levene-Test, Kruskal-Wallis diikuti Mann-Whitney menggunakan SPSS 26.0. Hasil: EKBKR memiliki kemampuan bakterisidal dan bakteriostatik terhadap L. acidophilus pada [250 mg/ml], [500 mg/ml], [750 mg/ml], dan [1000 mg/ml]. EKBKA memiliki kemampuan antibakteri yang secara signifikan lebih lemah (p<0,05) daripada EKBR. EKBKA hanya memiliki aktivitas bakterisidal pada [1000 mg/ml] dan bakteriostatik pada [750 mg/ml]. Simpulan: EKBKR dan EKBKA memiliki kemampuan antibakteri terhadap pertumbuhan L. acidophilus dengan daya hambat EKBKR lebih kuat dibandingkan EKBKA.KATA KUNCI: Agar-well diffusion, chlorhexidine gluconate, ekstrak etanol 96%, pour-plate inoculation.
|
Agar-well diffusion, chlorhexidine gluconate, ekstrak etanol 96%, pour-plate inoculation, Agar-well diffusion, chlorhexidine gluconate, ethanol extracts, pour-plate inoculation. | 2023-11-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/48658 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i3.48658 |
| 1672394 | #6191 | Radiograf panoramik digital bentuk kepala kondilus pada pasien kliking dan tidak klikingDigital panoramic radiograph of the condyle head shape in clicking and non-clicking patients |
Ramadhan, Ramzy Pramanik, Farina Epsilawati, Lusi |
Pendahuluan: Salah satu gejala klinis awal gangguan sendi temporomandibular adalah kliking, tetapi tidak semua penderita gangguan TMJ memperlihatkan gejala kliking. Kliking berkaitan dengan perubahan bentuk dan posisi kepala kondilus. Bentuk kepala kondilus dapat terlihat pada radiograf panoramik digital. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk kepala kondilus pada pasien kliking dan tidak kliking di RSGM Unpad dengan menggunakan radiograf panoramik digital. Metode: Jenis penelitian adalah deskriptif, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, sampel berjumlah 31 sampel radiograf panoramik digital pasien kliking dengan jumlah 11 dan tidak kliking dengan jumlah 20 pada bulan Juni dan Juli 2014 di RSGM Unpad. Hasil: Bentuk kepala kondilus yang paling banyak ditemukan pada TMJ kliking adalah flattening, di sisi kanan adalah round dan di sisi kiri adalah flattening. Sisi kanan pasien tidak kliking mayoritas adalah round dan di sisi kiri mayoritas adalah round, pointed, dan flattening. Simpulan: Bentuk kepala kondilus pada TMJ kliking dapat berbentuk normal atau patologis secara seimbang, pada TMJ tidak kliking mayoritas bentuk kepala kondilus kategori normal. Mayoritas bentuk TMJ pada TMJ kliking adalah flattening, tidak kliking adalah round.Kata kunci: Bentuk kepala kondilus, pasien kliking, pasien tidak kliking, radiograf panoramik digital. ABSTRACTIntroduction: One of the early clinical symptoms of temporomandibular joint disorder is clicking, but not all TMJ disorder patients show clicking symptoms. Clicking is related to changes in the shape and position of the condyle head. The condyle head shape can be observed on digital panoramic radiograph. The purpose of this study was to determine the condyle head shape in clicking and non-clicking patients in Universitas Padjadjaran Dental Hospital (RSGM Unpad) using a digital panoramic radiograph. Methods: The type of research was descriptive, with sampling technique using purposive sampling method. The total of 31 digital panoramic radiographic samples of 11 clicking patients and 20 non-clicking patients in June and July 2014 at Universitas Padjadjaran Dental Hospital. Results: The condyle head shape which most commonly found in clicking patients was flattening, round-shaped on the right side and flattening-shaped on the left side. The right side of the non-clicking patient was majority round-shaped and on the left side was majority round-shaped, pointed-shaped, and flattening-shaped. Conclusion: The condyle head shape in clicking can be normal or pathologically balanced; in the non-clicking TMJ patients, the majority of condyle head shape was in the normal category. The majority of condyle head shape in the clicking TMJ patients, the majority of condyle head shape was flattening, while non-clicking was round.Keywords: Condyle head shape, clicking patient, non-clicking patient, digital panoramic radiograph.
|
Kata kunci: Bentuk kepala kondilus, pasien kliking, pasien tidak kliking, radiograf panoramik digital. Keywords: Condyle head shape, clicking patient, non-clicking patient, digital panoramic radiograph. | 2019-11-09 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21934 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i2.21934 |
| 1672393 | #6191 | Current applications and development of artificial intelligence for osseointegration dental implant analysis: scoping review |
Arius, Nabila Haditya Pramanik, Farina Lita, Yurika Ambar |
ABSTRACTIntroduction: Osseointegration is a key factor in dental implant success, but conventional evaluations such as two dimensional (2D) radiography and histomorphometry are limited by subjectivity and restricted diagnostic capacity. Artificial Intelligence (AI) offers an innovative solution to improve both precision and speed of analysis. This study aims to explore current applications and advancements in AI-based osseointegration analysis of dental implants using radiographs through a scoping review. Methods: A systematic search was conducted in PubMed, Scopus, MEDLINE, Embase, and Web of Science (2014–2024), using the PCC framework (Population: dental implant patients, Concept: AI, Context: clinical). The review followed the Arksey and O’Malley methodological framework and the Joanna Briggs Institute (JBI) guidelines. Results: Of the 11 selected articles (2019-2024), the majority used periapical radiography and CBCT (Cone Beam Computed Tomography) as the primary imaging modalities, with CNN (Convolution Neural Network)-based deep learning models (such as YOLOv7 and ResNet-50) demonstrated strong predictive performance for marginal bone loss (accuracy 70.2-96.13%) and implant stability. Periapical radiographs achieved high accuracy (94.74%) and precision (100%), while CBCT enabled more detailed volumetric analysis with processing speeds of up to 76 ms. However, variability in radiographic parameters and reliance on small datasets (44-2920 images) could lead to model overfitting. Multi-institutional collaboration and standardization of imaging protocols are required to enhance AI performance and generalizability in clinical practice. Conclusion: Deep learning (CNN, YOLOv7) and machine learning (SVM) models have proven effective in osseointegration analysis, particularly in predicting marginal bone loss using periapical radiographs and CBCT. AI has the potential to revolutionize dental implant evaluation, but clinical implementation requires external validation and data standardization.KEY WORDS: artificial intelligence, dental implant, osseointegration, deep learning, radiographic analysisAplikasi dan pengembangan terkini artificial intelligence untuk analisis implan gigi osseointegrasi berbasis radiografi: Scoping ReviewABSTRAKPendahuluan: Osseointegrasi merupakan faktor kunci dalam keberhasilan implan gigi, namun evaluasi konvensional seperti radiografi 2D dan histomorfometri memiliki keterbatasan dalam subjektivitas dan efektivitas. Artificial Intelligence (AI) menawarkan solusi inovatif untuk meningkatkan presisi dan kecepatan analisis. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis aplikasi dan pengembangan AI dalam analisis osseointegrasi implan gigi menggunakan radiografi melalui scoping review. Metode: Pencarian sistematis dilakukan di PubMed, Scopus, MEDLINE, Embase, dan Web of Science (2014–2024) dengan kerangka PCC (Population: pasien implan gigi, Concept: AI, Context: klinis) menggunakan framework Arksey dan O’Malley serta panduan dari Joanna Briggs Institute (JBI). Hasil: Dari 11 artikel terpilih (2019–2024), mayoritas menggunakan radiografi periapikal dan CBCT sebagai modalitas utama, dengan model deep learning berbasis CNN (Convolution Neural Network) (seperti YOLOv7 dan ResNet-50) menunjukkan kinerja optimal dalam memprediksi kehilangan tulang marginal (akurasi 70,2–96,13%) dan stabilitas implan. Radiografi periapikal unggul dalam akurasi (94,74%) dan presisi (100%), sementara CBCT (Cone Beam Computed Tomography) menawarkan analisis volumetrik lebih detail dengan kecepatan pemrosesan hingga 76 ms. Meski demikian, variasi parameter radiografi dan ketergantungan pada dataset kecil (44–2920 gambar) berpotensi menyebabkan overfitting. Kolaborasi multi-institusi dan standarisasi teknik radiografi diperlukan untuk meningkatkan kemampuan AI dalam praktik klinis. Simpulan: Model deep learning (CNN, YOLOv7) dan machine learning (SVM) terbukti efektif dalam analisis osseointegrasi, terutama untuk marginal bone loss menggunakan radiografi periapikal dan CBCT. AI berpotensi merevolusi evaluasi implan gigi, namun implementasi klinis memerlukan validasi eksternal dan standardisasi data.KATA KUNCI: artificial intelligence, implan gigi, osseointegrasi, deep learning, analisis radiografi
|
Artificial intelligence, implan gigi, osseointegrasi, deep learning, analisis radiografi, Artificial intelligence, dental implant, osseointegration, deep learning, radiographic analysis | 2025-12-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/64986 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i3.64986 |
| 1672392 | #6191 | Faktor resiko tonsiloadenoitis kronis hipertrofi dengan karakteristik ekstra oral wajah pasienChronic hypertrophy tonsilloadenoiditis with extra-oral facial characteristics |
Darwis, Rudi Satria Kristianti, Asti Zalfa, Almi |
ABSTRAKPendahuluan: Tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi adalah suatu peradangan pada adenoid dan tonsil yang sering terjadi pada anak, serta merupakan penyebab umum terjadinya obstruksi saluran pernafasan atas sehingga mengakibatkan penderita bernafas melalui mulut. Keadaan tersebut dapat menyebabkan terjadinya gangguan dentokraniofasial terutama pada anak-anak karena masih dalam usia tumbuh kembang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi dengan karakteristik wajah yaitu bentuk kepala, bentuk muka, serta proporsi wajah Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik cross sectional dengan melibatkan subjek penelitian sebanyak 45 orang, terdiri dari 22 orang pasien terdiagnosis tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi dan 23 orang pasien tanpa tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi. Data dianalisis dengan menggunakan uji chi-square dan analisis odd ratio. Hasil: Terdapat faktor resiko pasien tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi sebanyak 31,8% memiliki bentuk kepala tidak sesuai nilai rerata (p=0,140 dengan OR 3,111), serta 77,3 % memiliki bentuk wajah yang tidak sesuai nilai rerata normal dan 68,2% mengalami proporsi wajah yang tidak proposional (p=0,099 dengan OR 2,786). Simpulan: Tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi dapat menjadi faktor risiko terjadinya perubahan ekstra oral dengan risiko tertinggi potensi perubahan pada bentuk wajah.Kata kunci: Dentokraniofasial; obstruksi saluran pernafasan atas; tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi. Chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis with extra-oral facial characteristics ABSTRACTIntroduction: Chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis is an inflammation of the adenoids and tonsils that usually occurs children, it also a common cause of upper respiratory tract obstruction, causing patients breathe through the mouth. This situation can cause dentocraniofacial deviation, especially in children because they still in the age of growth. This study aimed was to determine the risk of chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis with the shape of the head, face shape, and the proportion of faces. Methods: This study was a cross sectional analytic study involving 45 research subjects, consisting of 22 patients diagnosed with chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis and 23 normal patients. Data were analyzed using chi-square and odd ratio analysis. Result: patients who were diagnosed with chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis as much as 31.8% has a head shape with uneven values (p = 0.140 with OR 3.111), 77.3% has facial morphologies with uneven values (p = 0.001 with OR 9.633), 68.2% had a disproportionate proportion of faces (p = 0.099 with OR 2.786). Conclusion: hypertrophy tonsilloadenoiditis can be a risk factor for dentocraniofacial growth disorders with the highest risk of facial shape changes. Keywords: Dentocraniofacial; upper respiratory tract obstruction; chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis.
|
Dentokraniofasial; obstruksi saluran pernafasan atas; tonsiloadenoiditis kronis hipertrofi.; Dentocraniofacial; upper respiratory tract obstruction; chronic hypertrophy tonsilloadenoiditis. | 2022-07-04 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40122 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i2.40122 |
| 1672391 | #6191 | Efektivitas pemasaran dari mulut ke mulut pengguna Paviliun Padjadjaran Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran |
Kusmulyandi, Yandi Zubaedah, Cucu Usri, Kosterman |
Pendahuluan: Efektivitas Pemasaran merupakan hal yang penting dalam keberhasilan pelaksanaan jasa pemasaran khususnya pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Efetivitas Pemasaran dari Mulut ke Mulut Pengguna di Paviliun Padjadjaran Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran. Metode: metode dalam penelitian ini adalah survey dengan jenis penelitin deskriptif. Pengambilan sampel dengan cara consecutive sampling. Penelitian dilakukan di Paviliun Padjadjaran Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran dengan menggunakan kuisioner. Hasil: sebanyak 84 orang sampel menunjukan bahwa secara keseluruhan rata-rata efektivitas pemasaran pengguna Paviliun Padjadjaran Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran sebesar 67,5 %.Nilai tersebut termasuk kedalam kategori cukup efektif. Simpulan: Tingkat efektivitas pemasaran dari mulut ke mulut di bagian Paviliun Padjadjaran RSGM Unpad dalam hal ini meliputi pasien yang loyal, keluarga pasien, dan penunggu terhadap pelayanan yang diberikan di Paviliun Padjadjaran RSGM Unpad dinilai cukup efektif dengan persentase sebesar 67,5 %.Kata kunci: Pemasaran mulut ke mulut, pengguna, Paviliun Padjadjaran
|
Pemasaran mulut ke mulut, pengguna, Paviliun Padjadjaran | 2018-03-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22303 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i1.22303 |
| 1672390 | #6191 | Health information seeking behavior through the internet in the community |
Hazhar, Tsabita Vania Setiawan, Asty Samiaty Suryanti, Netty |
ABSTRACTIntroduction: Teledentistry is a method of dental and oral health services used during the COVID-19 pandemic. Telemedicine during the 2019 Corona Virus Disease (COVID-19) Pandemic in Indonesia, dentists can choose two options in practicing during the COVID-19 pandemic..The purpose of this study is to determine dentists’ perception of the use of teledentistry in dental practice during the COVID-19 pandemic in Greater Bandung area. Methods: This cross-sectional descriptive study used an online questionnaire containing 23 Likert-type questions to determine dentists’ perception of concerns related to data security, the ability of teledentistry to improve practice, the usefulness of teledentistry in dental practice, and the usefulness of teledentistry for patients. Results: A total of 105 respondents were obtained and 103 respondents who met the criteria. More than 80% of respondents strongly agree or agree that teledentistry can help shorten patient waiting lists, help avoid unnecessary hospital visits, help monitoring patient conditions, improve communication with patients, and increase patient satisfaction. The potential of digital data/information forgery has the highest level of concern with a response of very concern and little concern as much as 60,2%. Conclusion: Majority of dentists in Greater Bandung area showed a positive response to the ability of the teledentistry system to improve practice, the usefulness of the teledentistry system in practice, and the usefulness of the teledentistry system for patients. The things that raised doubts about the use of teledentistry system are related to security and confidentiality issues and less accurate and adequate diagnosis.KEY WORDS: Teledentistry, dentist, perception, COVID 19, pandemicPerilaku pencarian informasi kesehatan melalui internet pada masyarakatABSTRAKPendahuluan: Teledentistry merupakan metode pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang digunakan selama masa pandemi COVID-19. Telemedicine pada masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Indonesia, dokter gigi dapat memilih dua pilihan dalam pelaksanaan praktik selama pandemi COVID-19. Tujuan penelitian mengetahui persepsi dokter gigi mengenai penggunaan teledentistry dalam praktik selama masa pandemi COVID-19. Metode: Penelitian deskriptif cross-sectional menggunakan kuesioner secara daring yang berisi 23 pertanyaan tipe-Likert untuk mengetahui persepsi dokter gigi terhadap kekhawatiran yang berkaitan dengan keamanan data, kemampuan teledentistry untuk meningkatkan praktik, kegunaan teledentistry dalam praktik kedokteran gigi, dan kegunaan teledentistry untuk pasien. Hasil: Sebanyak 105 responden didapatkan dan 103 responden yang memenuhi kriteria. Lebih dari 80% responden sangat setuju dan setuju teledentistry dapat membantu mempersingkat daftar tunggu pasien, membantu menghindari kunjungan ke rumah sakit yang tidak diperlukan, membantu pemantauan kondisi pasien, meningkatkan komunikasi dengan pasien, dan meningkatkan kepuasan pasien. Potensi pemalsuan data/informasi digital memiliki tingkat kekhawatiran tertinggi dengan respon sangat khawatir dan sedikit khawatir sebanyak 60,2%. Simpulan: Mayoritas dokter gigi menunjukkan respon positif terhadap kemampuan sistem teledentistry dalam meningkatkan praktik pelayanan, kegunaan sistem teledentistry dalam praktik pelayanan kedokteran gigi, dan kegunaan sistem teledentistry pada pasien. Hal yang menimbulkan keraguan dalam penggunaan sistem teledentistry berkaitan dengan masalah keamanan dan kerahasiaan, serta diagnosis yang kurang akurat dan memadai.KATA KUNCI: Teledentistry, dokter gigi, persepsi, COVID 19, pandemi
|
Teledentistry; dokter gigi; persepsi | 2023-03-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/34916 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i1.34916 |
| 1672389 | #6191 | Antibacterial activity test of black betel leaf essential oil against the growth of Streptococcus mutans: Study experimental | Uji aktivitas antibakteri minyak atsiri daun sirih hitam (Piper betle L. var. nigra) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans |
Wicaksono, Krisna Wahyu Alhawaris, Alhawaris Ismail, Sjarif |
ABSTRACT Introduction: The prevalence of dental caries in Indonesia remains relatively high. The main cause is Streptococcus mutans, which can proliferate and has the potential to demineralize the tooth surface. A preventive approach is the use of natural substances with antibacterial properties. One natural material with potential antibacterial activity is the essential oil of black betel leaf (DSH). This study aimed to analyze the antibacterial activity of black betel leaf essential oil against Streptococcus mutans. Methods: This study employed a true experimental design using the microdilution method. There were three groups: the test group, consisting of black betel leaf essential oil at concentrations of 4%, 2%, 1%, 0.5%, 0.25%, 0.125%, 0.0625%, 0.03125%, 0.015625%, 0.0078125%, 0.00390625%, and 0.001953125%; and the positive control group consisting of eugenol; and the negative control group consisting of 10% DMSO. Data were analyzed qualitatively by observing color changes. Results: The minimum inhibitory concentration (MIC) of black betel leaf essential oil was 0.5%. The minimum bactericidal concentration (MBC) was 4%. Columns 1A, 1B and 1C showed no color change, indicating that DSH exhibits antibacterial activity. Conclusions: Black betel leaf essential oil at a concentration of 4% exhibits the best antibacterial activity against Streptococcus mutans.KEYWORDS: antibacterial, essential oil, black betel leaf, Streptococcus mutansUji aktivitas antibakteri minyak atsiri daun sirih hitam (DSH) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans: Studi eksperimentalABSTRAK Pendahuluan: Persentase karies gigi di Indonesia masih tergolong tinggi. Penyebab utamanya berasal dari bakteri Streptococcus mutans yang dapat berkembang biak dan berpotensi dalam merusak permukaan gigi. Upaya yang dapat digunakan untuk mencegah hal tersebut, yaitu bahan alam yang berpotensi sebagai antibakteri. Salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai agen antibakteri, yaitu minyak atsiri daun sirih hitam (DSH). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis aktivitas antibakteri minyak atsiri DSH terhadap bakteri Streptococcus mutans. Metode: Jenis metode penelitian kualitatif berupa true experimental menggunakan uji mikrodilusi. Terdapat 3 kelompok perlakuan meliputi kelompok uji minyak atsiri DSH dengan 10 konsentrasi, yaitu 4%; 2%; 1%; 0,5%; 0,25%; 0,125%; 0,0625%; 0,03125%; 0,015625%; 0,0078125%; 0,00390625% dan 0,001953125% serta kelompok kontrol positif meliputi eugenol serta kelompok kontrol negatif meliputi DMSO 10%. Analisis data dinilai secara kualitatif dengan mengamati perubahan warna. Hasil: Nilai MIC dari minyak atsiri DSH sebesar 0,5%. Nilai MBC dari minyak atsiri DSH sebesar 4%. Kolom 1A, 1B dan 1C menunjukkan tidak ada perubahan warna yang menandakan DSH bersifat antibakteri. Simpulan: Minyak atsiri DSH konsentrasi 4% memiliki aktivitas antibakteri terbaik terhadap bakteri Streptococcus mutans.KATA KUNCI: Antibakteri, minyak atsiri, daun sirih hitam, streptococcus mutans | Pendahuluan: Persentase karies gigi di Indonesia masih tergolong tinggi. Penyebab utamanya berasal dari bakteri Streptococcus mutans yang dapat berkembang biak dan berpotensi dalam merusak permukaan gigi. Upaya yang dapat digunakan untuk mencegah hal tersebut, yaitu bahan alam yang berpotensi sebagai antibakteri. Salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai agen antibakteri, yaitu minyak atsiri daun sirih hitam (Piper betle L var. nigra). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis aktivitas antibakteri minyak atsiri daun sirih hitam (Piper betle L var. nigra) terhadap bakteri Streptococcus mutans. Metode: Jenis penelitian berupa true experimental menggunakan uji mikrodilusi. Terdapat 2 kelompok perlakuan meliputi kelompok uji minyak atsiri daun sirih hitam (Piper betle L var. nigra) konsentrasi 4%, 2%, 1%, 0,5%, 0,25%, 0,125%, 0,0625%, 0,03125%, 0,015625% dan 0,0078125%, 0,00390625 % dan 0,001953125% dan kelompok kontrol positif meliputi eugenol serta kelompok kontrol negatif meliputi DMSO 10%. Hasil: Nilai MIC dari minyak atsiri daun sirih hitam (Piper betle L var. nigra) sebesar 0,5 – 1%. Nilai MBC dari minyak atsiri daun sirih hitam (Piper betle L var. nigra) sebesar 4%. Simpulan: Minyak atsiri daun sirih hitam (Piper betle L var. nigra) konsentrasi 4% memiliki aktivitas antibakteri terbaik terhadap bakteri Streptococcus mutans.
|
Antibakteri, minyak atsiri, daun sirih hitam, Streptococcus mutans | 2026-02-28 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/69075 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v10i1.69075 |
| 1672388 | #6191 | Kepuasan pasien dalam perawatan periodontal di Klinik Periodonsia Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran |
Puspitasari, Pupitasari Susanto, Agus Setia Pribadi, Indra Mustika |
Pendahuluan: kepuasan pasien terhadap pelayanan di suatu instansi kesehatan merupakan hal yang penting karena termasuk tujuan diadakannya pelayanan kesehatan. Kepuasan pasien berkaitan dengan harapan dan kenyataan dalam pelayanan yang diberikan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien dalam perawatan periodontal di Klinik Periodontik Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran. Metode: Jenis penelitian deskriptif survei menggunakan kuesioner. Sampel ditentukan dengan menggunakan teknik incidental sampling dengan kriteria pasien yang telah atau sedang dirawat oleh residen di Klinik Periodontik Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran dari bulan Desember 2017-Februari 2018. Hasil: kepuasan pasien terhadap kemampuan dokter gigi sebesar 82,09%, ketersediaan alat dan bahan sebesar 80%, kemudahan untuk mendapatkan pelayanan 83,54%, keadaan ruang tunggu 71,54%, kinerja petugas selain dokter gigi 76,15%, dan pelayanan secara keseluruhan 78,67%. Hasil akhir dari perhitungan untuk seluruh indikator adalah 78,66%. Simpulan: pasien merasa puas terhadap perawatan periodontal di Klinik Periodontik Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran.Kata Kunci:Â Kepuasan pasien, perawatan periodontal, Klinik Periodonsia
|
Kepuasan pasien, perawatan periodontal, Klinik Periodonsia | 2018-10-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22309 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i1.22309 |
| 1672387 | #6191 | Inhibition zone test of methanol extract of mentawai white sea cucumber (holothuria scabra) against streptococcus sanguinis in recurrent aphthous stomatitis in vitro: Study experimental |
Rahmah, Aisha Fatihatur Arma, Utmi Lestari, Citra Edrizal, Edrizal Zia, Hanim Khalida |
ABSTRACTIntroduction: Recurrent aphthous stomatitis (SAR) or canker sores are painful oval or round ulcers that occur recurrently and can heal spontaneously with or without treatment. Streptococcus sanguinis (S. sanguinis) plays a role in aggravating SAR in patients and mostly found in the of initial L forms. One of the animals that is widely used as an ingredient for alternative medicine is white sea cucumber or Holothuria scabra (H. scabra) from the Mentawai islands. The purpose of this study was to analyze the inhibition zone of white sea cucumber (H. scabra) methanol extract against S. sanguinis in recurrent aphthous stomatitis (in vitro study). Methods: Laboratory experimental and posttest only control group designs were used in this study. The samples in this study were a dry form of methanol extract of white sea cucumber from Siberut island, Mentawai islands obtained in Padang city. The S. sanguinis ATCC 10556 bacteria obtained from the Inter-University Research Laboratory (PAU) of Gadjah Mada University, Yogyakarta. There were 5 treatment groups, namely 2, 4, and 8%, of white sea cucumber (H. scabra) methanol extract, as well as positive control (0.2% chlorhexidine) and negative control. Each treatment group was repeated 5 times so that the sample size was a total of 25 repetitions. The data obtained was processed using the Independent Sample test (T-Test). Results: The obtained zone of inhibition of the 8% methanol extract of white sea cucumber (H. scabra) against S. sanguinis was 0.81 mm, with a significance of 0.001 (<0.05), while at concentrations of 2% and 4% there were no zone of inhibition. Conclusion: Methanol extract of Mentawai white sea cucumber (H. scabra) has an inhibition zone at the best concentration of 8%, with a weak category against S. sanguinis bacteria and less effective when compared to the 0.2% chlorhexidine.KEY WORDS: recurrent aphthous stomatitis, s. sanguinis, h. scabra, inhibition zone, sea cucumber extract.Uji zona hambat ekstrak metanol teripang putih (holothuria scabra) mentawai terhadap streptococcus sanguinis pada Stomatitis Aftosa Rekuren secara in vitro: Studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Stomatitis aftosa rekuren (SAR) atau sariawan merupakan ulser berbentuk oval atau bulat yang sakit dan terjadi secara berulang, serta dapat sembuh secara spontan dengan atau tanpa pengobatan. Streptococcus sanguinis (S. sanguinis) bentuk initial L forms banyak ditemukan pada penderita SAR dan dapat memperparah kondisi SAR. Salah satu hewan yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan untuk pengobatan alternatif adalah teripang putih atau Holothuria scabra (H. scabra) yang berasal dari kepulauan Mentawai. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis daya hambat ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) terhadap S. sanguinis yang banyak ditemukan pada penderita Stomatitis Aftosa Rekuren secara in vitro. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian posttest only control group design. Sampel pada penelitian ini adalah ekstrak metanol teripang putih dari pulau Siberut, kepulauan Mentawai, yang diperoleh dalam keadaan sudah kering di kota Padang dan bakteri S. sanguinis ATCC 10556 yang diperoleh dari Laboratorium Penelitian Antar Universitas (PAU) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Terdapat 5 kelompok perlakuan, yaitu pengujian dengan konsentrasi ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) 2, 4, dan 8%, serta kontrol positif (chlorhexidine 0,2%) dan kontrol negatif. Masing-masing kelompok perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga besar sampel menjadi total 25 pengulangan. Data yang diperoleh diolah menggunakan uji Independent Sample (T-Test). Hasil: Terdapat zona hambat ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) terhadap S. sanguinis pada stomatitis aftosa rekuren yang diujikan secara in vitro pada konsentrasi 8% dengan sig 0,001 atau < 0,05, sebesar 0,81 mm, sedangkan pada konsentrasi 2 dan 4% tidak terdapat zona hambat. Simpulan: Ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) Mentawai memiliki zona hambat pada konsentrasi 8%, tetapi dalam kategori lemah (weak) dan kurang efektif jika dibandingkan dengan kontrol positif yaitu chlorhexidine 0,2%KATA KUNCI: stomatitis aftosa rekuren, s. sanguinis, h. scabra, zona hambat, ekstrak teripang
|
Stomatitis aftosa rekuren, S. sanguinis, H. scabra, Zona hambat, Ekstrak teripang, Recurrent aphthous stomatitis, S. sanguinis, H. scabra, Inhibition zone, Sea cucumber extract | 2024-03-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/52551 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i1.52551 |
| 1672386 | #6191 | Hubungan gingivitis dengan faktor-faktor risiko kehamilan pada ibu hamilRelationship of gingivitis with pregnancy risk factors in pregnant women |
Umniyati, Helwiah Amanah, Sinta Primanita Maulani, Chaerita |
Pendahuluan: Gingivitis adalah manifestasi oral yang paling tinggi prevalensinya pada ibu hamil. Perubahan hormon dan vaskular yang menyertai kehamilan diketahui memperparah respons inflamasi terhadap iritan lokal. Seringkali ibu hamil mengabaikan dalam menjaga kesehatan mulutnya yang mengakibatkan adanya retensi plak pada gigi dan tepi gingiva, hal ini dapat menyebabkan peradangan pada gingiva. Berdasarkan data dari hasil Riskesdas, prevalensi gingivitis pada wanita di Indonesia adalah 74%. Penelitian ini bertujuan menganalisis status kesehatan gigi dan gusi serta faktor-faktor risiko kehamilan pada ibu hamil. Metode: Jenis penelitian analitik dengan menggunakan desain crossectional. Populasi penelitian adalah ibu hamil di Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara yang datang pada bulan November 2016. Ibu hamil diperiksa plak skor dan indeks gingivitis. Jumlah sampel adalah 90 ibu hamil dan sebagian besar (81,1%) berada di trimester 3. Hasil penelitian dianalisis dengan uji ANOVA dan Chi-square. Hasil: Sebanyak 29% ibu hamil memiliki skor plak yang baik (0,1-0,9). Prevalensi gingivitis terdapat pada semua ibu hamil (100%) yang terdiri dari 16,7% gingivitis ringan, 26,7% gingivitis sedang dan 56,7% gingivitis berat. Peningkatan tajam pada gingivitis ditemukan dari trimester 1 ke trimester II dan stabil pada trimester III. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat keparahan gingivitis dan umur kehamilan, waktu dan frekuensi menyikat gigi, indeks plak, pendidikan, dan pengetahuan (p <0,05). Simpulan: Terdapat hubungan antara gingivitis dengan beberapa faktor risiko kehamilan yaitu umur kehamilan, frekuensi sikat gigi, waktu sikat gigi dan indeks plak.Kata kunci: Kehamilan, gingivitis, plak, hormon. ABSTRACTIntroduction: Gingivitis is the most prevalent oral manifestations associated with pregnancy. The hormonal and vascular changes that accompany pregnancy are known to exaggerate the inflammatory response to the local irritants. Often pregnant women ignore to maintain their oral health which will cause plaque retention on the teeth and gingival edges. This can cause inflammation of the gingiva. Based on the Indonesia Basic Health Research, the prevalence of gingivitis among Indonesian women was 74%. This study was aimed to analyse the oral health status and risk factors for gingivitis in pregnant women. Methods: Analytic method using cross-sectional design was conducted in November 2016. Pregnant women was examined for their plaque scores and gingivitis index using the WHO periodontal probe. The number of samples was 90 pregnant women, and most of them (81.1%) were in the trimester III gestational period. The study was then analysed by using ANOVA and chi-square test. Results: Only 29% of pregnant women had a good plaque score (0.1-0.9). Gingivitis was prevalent in all of the pregnant women, which consisted of 16.7% mild gingivitis, 26.7% of moderate gingivitis, and 56.7% of severe gingivitis. A high increase in gingivitis was found in the period of trimester I to trimester II, and tend to be stabilised in the trimester III gestational period. In further analysis, we found significant relationships between the severity of gingival inflammation and gestational age, time and frequency of tooth brushing, plaque index, education, and knowledge (p < 0.05). Conclusion: There is a relationship between gingivitis with several pregnancy risk factors, namely gestational age, toothbrush frequency, toothbrush time, and plaque index.Keywords: Pregnancy, gingivitis, plaque, hormone.
|
Kehamilan, gingivitis, plak, hormon, pregnancy, gingivitis, plaque, hormone. | 2020-04-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/26086 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v4i1.26086 |
| 1672385 | #6191 | Immersion effect of thermoplastic nylon denture base material in pandan wangi extract solution (pandanus amaryllifolius roxb.) as a cleaner on color stability: Experimental study |
Rahim Nasution, Filza Annisa Tarigan, Slamat Wahyuni, Siti |
ABSTRACT Introduction: Wearing dentures every day must be cleaned using several methods. The methods such as mechanical, chemical and combination. The cleaning method used in this research was a chemical method by immersing the nylon material in the denture cleaning material with pandan wangi extract solution (Pandanus amaryllifolius Roxb.). The aim of this study was to analyze the effect of immersion thermoplastic nylon in pandan wangi extract solution as a cleaner on color stability with concentrations of 25%, 50% and 75% for 61 hours. Methods: This study is a laboratory experimental with a size of 20x3 mm based on ISO 1567 as many as 24 samples divided into 4 groups, nylon group A was immersed in aquadest, and group B,C,D was immersed in pandan wangi extract solution with a concentration of 25%, 50% and 75% for 61 hours. The sample size formula used is the Federer formula, then measure color stability with colorimeter CS-10, then look at the results if ΔE<3,5 is considered clinically acceptable, if the ΔE>3.5 indicates color change or significant color change. visible to the naked eye and not clinically acceptable. Results: The mean results of the color stability test showed that only 25% concentration could be used as an alternative denture cleaning agent with a value of 3,04±0,51, which states that the 25% group achieved a ΔE<3,5. The results of a one-way ANOVA test, the value of p=0,0001 was stated that there was a significant effect between nylon immersion in the concentration group on color stability. Conclusion: The use of pandan wangi extract solution as a denture cleaning agent can affect the color stability of the nylon material, however, only a solution with a concentration of 25% can be used as an alternative denture cleaning agent, because it is still within the clinically acceptable value range.KEY WORDS: Pandan wangi extract solution, thermoplastic nylon, color stability Pengaruh perendaman larutan ekstrak pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) sebagai pembersih pada bahan basis gigi tiruan nilon termoplastik terhadap stabilitas warna: studi experimentalABSTRAKPendahuluan: Pemakaian gigi tiruan setiap hari membutuhkan pembersihan dengan menggunakan beberapa metode. Metode pembersihan yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kimiawi dengan cara perendaman dalam bahan pembersih gigi tiruan larutan ekstrak pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perendaman basis gigi tiruan nilon termoplastik dalam larutan ekstrak pandan wangi dengan konsentrasi 25%, 50% dan 75% terhadap stabilitas warna selama 61 jam. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian laboratorium dengan ukuran nilon 20x3 mm berdasarkan ISO 1567. Total sampel sebanyak 24 sampel dibagi 4 kelompok, yaitu kelompok A direndam dalam akuades, dan kelompok B,C,D larutan ekstrak pandan wangi dengan konsentrasi 25%, 50% dan 75% direndam selama 61 jam. Rumus besar sampel menggunakan rumus Federer, kemudian uji stabilitas warna menggunakan alat colorimeter CS-10, lalu lihat hasil jika ΔE<3,5 dianggap masih dapat diterima secara klinis, jika ΔE>3,5 menunjukkan perubahan warna dapat terlihat secara kasat mata dan tidak dapat diterima secara klinis. Hasil: Hasil rerata uji stabilitas warna didapati hanya konsentrasi 25% yang dapat digunakan sebagai alternatif bahan pembersih gigi tiruan dengan nilai 3,04±0,51 yang menyatakan kelompok 25% mencapai nilai ΔE<3,5. Berdasarkan hasil uji one-way ANOVA didapatkan nilai p=0,0001 sehingga dinyatakan terdapat pengaruh yang signifikan antara perendaman nilon pada kelompok konsentrasi dengan stabilitas warna. Simpulan: Penggunaan larutan ekstrak pandan wangi sebagai pembersih gigi tiruan dapat memengaruhi stabilitas warna, namun hanya konsentrasi 25% yang masih dapat digunakan sebagai bahan pembersih, karena masih berada dalam rentang nilai yang dapat diterima secara klinis.KATA KUNCI: Larutan ekstrak pandan wangi, nilon termoplastik, stabilitas warna.
|
2024-11-08 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/58242 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i3.58242 | |
| 1672384 | #6191 | Perbedaan harapan pasien terhadap perawatan ortodonti menggunakan alat cekat dan lepasanDifferences in patient expectations of orthodontic treatment with fixed and removable appliances |
Damayanti, Rizka Devi Mardiati, Endah Laviana, Avi |
ABSTRAKPendahuluan: Harapan merupakan faktor psikologis penting, yang dapat mempengaruhi evaluasi pasien terhadap kualitas dari perawatan atau kepuasan terhadap hasil perawatan. Harapan pasien terhadap perawatan ortodonti penting diketahui sebelum dilakukan perawatan karena merupakan salah satu penentu utama dari kepuasan pasien. Tujuan penelitian adalah menganalisis perbedaan harapan pasien terhadap perawatan ortodonti menggunakan alat cekat dan lepasan. Metode: Jenis penelitian analitik cross sectional. Subjek penelitian 50 pasien baru (25 pasien indikasi alat ortodonti cekat dan 25 pasien indikasi alat ortodonti lepasan) yang mendatangi Klinik Ortodonti RSGM Unpad diperoleh dengan teknik purposive sampling. Pasien mengisi kuesioner harapan terhadap perawatan ortodonti, kemudian hasil diolah dan dianalisis dengan uji t-test. Hasil: Harapan pasien menunjukkan beberapa perbedaan signifikan (p<0,05) antara pasien yang ingin dirawat menggunakan alat cekat dan lepasan yaitu pada harapan terhadap dilakukannya pemeriksaan rontgen gigi pada kunjungan pertama, manfaat perawatan untuk merapikan gigi, memudahkan makan, meningkatkan peluang karier, dan memberikan rasa percaya diri secara sosial. Harapan antara pasien perempuan dan laki-laki menunjukkan perbedaan yang signifikan hanya pada aspek manfaat perawatan ortodonti untuk memudahkan makan (p<0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan beberapa aspek harapan pasien terhadap perawatan ortodonti, dengan pasien indikasi alat ortodonti cekat menunjukkan rerata nilai harapan yang cenderung lebih tinggi.Kata kunci: harapan pasien; perawatan ortodonti; alat ortodonti cekat; alat ortodonti lepasan  ABSTRACTIntroduction: Expectation is an important psychological factor affecting a patient’s evaluation and satisfaction level on the quality of treatment outcomes. It is essential to know the patient’s expectations of orthodontic treatment priorly because it is one of the main determinants of patient satisfaction. The purpose of this study was to analyse the differences in patient expectations of orthodontic treatment with fixed and removable appliances. Methods: This research was cross-sectional analytic. The research subjects were 50 new patients (25 patients indicated for fixed orthodontic appliances and 25 patients indicated for removable orthodontic appliances) who visited the Orthodontic Clinics of Universitas Padjadjaran Dental Hospital, obtained by purposive sampling technique. Patients filled out a questionnaire on expectations of orthodontic treatment. The results were then processed and analysed using the t-test. Results: Patient expectations showed several significant differences (p<0.05) between fixed and removable appliances indicated patients; found in the matter of the expectation of having a dental x-ray examination at the first visit, the benefits teeth alignment treatment, ease the mastication process, increase the career opportunities, and provide social confidence. Expectations between female and male patients also showed a significant difference, though only found in the benefits of orthodontic treatment to ease the mastication process (p<0.05). Conclusions: There are differences in several aspects of patients’ expectations of orthodontic treatment, with a higher expectation value was found in fixed orthodontic appliances indicated patients.Keywords: patient expectations; orthodontic treatment; fixed appliances; removable appliances
|
harapan pasien; perawatan ortodonti; alat ortodonti cekat; alat ortodonti lepasan; patient expectations; orthodontic treatment; fixed appliances; removable appliances | 2021-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/26766 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i2.26766 |
| 1672383 | #6191 | Korelasi peran modelling orang tua pada saat pelaksanaan perawatan kesehatan gigi dengan dental fear anak |
Malihah, Dhia Thifal Sasmita, Inne Suherna Setiawan, Arlette Suzy Puspa Pertiwi |
Pendahuluan: Dental fear merupakan rasa takut terhadap perawatan kesehatan gigi yang sangat terlihat pada anak usia pra sekolah, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah metode modeling. Tujuan Penelitian bertujuan untuk mengetahui korelasi antara modeling orang tua pada saat pelaksanaan perawatan kesehatan gigi dengan dental fear anak. Metode: Jenis penelitian merupakan analitik korelatif. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner peran modeling orang tua dan The Children’s Fear Survey Schedule Dental Subscale (CFSS-DS) versi Bahasa Indonesia pada 20 ibu yang memiliki anak berusia tiga hingga enam tahun yang merupakan pasien anak di RSKGM dan pernah dibawa ke dalam ruang praktik selama perawatan kesehatan gigi kepada ibu berlangsung. Analisis data menggunakan uji Spearman Coefficient of Rank Correlation. Hasil: Sebanyak 95% ibu telah memperlihatkan perilaku positif di hadapan anaknya dan 5% memperlihatkan perilaku negatif. Dental fear yang dirasakan anak untuk kriteria rendah adalah 40%, sedang 40%, dan tinggi 20%. Hasil analisis pada derajat kekeliruan  = 0,05 adalah rs -0,46, thitung -2,19, p-value 0,020930553, dan penelitian bersifat signifikan dengan keterkaitan antara kedua variabel penelitian 21,05%. Simpulan: Terdapat korelasi antara modeling orang tua dengan dental fear anak, yaitu semakin ibu memperlihatkan perilaku positif selama mendapatkan perawatan kesehatan gigi, maka semakin rendah dental fear yang dirasakan anak usia tiga hingga enam tahun.Kata Kunci: Korelasi, peran modeling orang tua, Dental Fear anak
|
2018-03-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21438 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i1.21438 | |
| 1672382 | #6191 | Cognitive awareness of online-sold prefabricated myofunctional appliances disadvantages among Bandung residents: cross-sectional study |
Suryanto, Shenny Shefira Gayatri, Gita Suwargiani, Anne Agustina Zakaria, Myrna Nurlatifah |
ABSTRACT Introduction: Prefabricated myofunctional appliances (PMAs), commonly known as teeth trainers, are one of myofunctional appliances. These appliances can be used in treating the teeth as well as the muscles. The individuals’ need for dental aesthetics today have led to the trend of marketing PMAs over-the-counter online. This is mostly caused by budget limitations that leads people to seek for alternative and more affordable orthodontic treatments. However, the use of over-the-counter PMAs may pose adverse effects to consumers. This study aims to assess the currents state of knowledge regarding the disadvantages of prefabricated myofunctional appliances among Bandung residents. Methods: This is a descriptive quantitative study, with a cluster random sampling technique. This study involved 100 Bandung residents from 30 different subdistricts, as determined by Slovin formula. The research instrument consisted of questionnaires which included 27-questions with sub variables of dental appearance, PMAs in general, indications, contraindications, advantages, and adverse effects of using over-the-counter PMAs online. The questionnaire was modified based on Bloom's taxonomy. The obtained results were further analyzed using frequent distribution. Results: A total of 30 respondents (30%) were classified as having low knowledge levels. 62 respondents (62%) were categorized as having moderate level of knowledge. and 8 respondents (8%) were categorized as being highly aware of the disadvantages of over-the-counter PMAs. Conclusions: People’s knowledge of the disadvantages of over-the-counter PMAs in Bandung is classified in a moderate level. KEY WORDS: prefabricated myofunctional appliance, myofunctional appliance, orthodontic myofunctional applianceTingkat pengetahuan masyarakat kota Bandung mengenai dampak buruk prefabricated  myofunctional appliances yang dijual secara online: studi cross-sectional ABSTRAK Pendahuluan: Prefabricated myofunctional appliances (PMAs) atau yang dikenal oleh masyarakat awam dengan teeth trainer merupakan sebuah alat myofungsional. PMAs tidak hanya bekerja pada gigi tetapi juga bekerja pada otot. Era modern ini kebutuhan individu akan estetika gigi menyebabkan terciptanya pasar penjualan PMAs secara bebas di online. Hal tersebut disebabkan karena adanya keterbatasan biaya yang menyebabkan individu mencari alternatif perawatan ortodonti yang ekonomis. Penggunaan PMAs yang dibeli bebas secara online dapat menimbulkan bahaya bagi penggunanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat Kota Bandung mengenai dampak buruk prefabricated myofunctional appliances yang dijual bebas secara online. Metode: Jenis penelitian ini yaitu deskriptif kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel cluster random sampling. Penelitian ini dilakukan terhadap 100 masyarakat Kota Bandung dari 30 kecamatan yang telah dihitung menggunakan rumus slovin. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang terdiri dari 27 pertanyaan yang mencakup subvariabel penampilan gigi, PMAs secara umum, indikasi, kontraindikasi, kelebihan, dan dampak buruk penggunaan PMAs yang dijual bebas secara online. Kuesioner ini dimodifikasi berdasarkan taksonomi Bloom. Hasil data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan distribusi frekuensi. Hasil: Sebanyak 30 responden (30%) tergolong tingkat pengetahuan rendah, 62 responden (62%) pada kategori sedang, dan 8 responden (8%) memiliki tingkat pengetahuan tinggi terhadap dampak buruk dari PMAs yang dijual secara online. (4) Simpulan: Tingkat pengetahuan masyarakat Kota Bandung mengenai dampak buruk prefabricated myofunctional appliances yang dijual secara online tergolong sedang. KATA KUNCI: prefabricated myofunctional appliance, alat myofunctional, orthodontic myofunctional appliance, online myofunctional appliance.
|
prefabricated myofunctional appliance, myofunctional appliance, orthodontic myofunctional appliance, prefabricated myofunctional appliance, alat myofunctional, orthodontic myofunctional appliance, online myofunctional appliance. | 2023-08-11 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/45132 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i2.45132 |
| 1672381 | #6191 | Hubungan Index Massa Tubuh/Umur (IMT/U) dengan crowding anterior pada anak usia 10-12 tahun |
Roesianto, Alvina Suwindere, Winny Sembiring, Linda Sari |
Pendahuluan: Gizi memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tubuh, namun gizi masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Kekurangan gizi terhadap seseorang memiliki dampak terhadap rongga mulutnya yaitu pertumbuhan dan perkembangan rahang yang terhambat sehingga dapat menyebabkan crowding. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) dengan terjadinya crowding anterior pada anak usia 10-12 tahun pada SD Mulia Wacana Bandung. Metode: Jenis penelitian observasional-analitik dengan rancangan penelitian berupa cross- sectional. Subjek penelitian berjumlah 74 anak di SD Mulia Wacana Bandung, pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Data yang dikumpulkan berupa status gizi anak berdasarkan Index Massa tubuh / Umur (IMT/U) dan keadaan susunan gigi (crowding). Analisis data menggunakan Fisher Exact Test. Pengolahan data menggunakan program SPSS. Hasil: Terdapat 8,8% anak kategori obesitas (14%) terdapat crowding anterior, 1,8% anak kategori overweight (12,3%) terdapat crowding anterior, 21,1% anak kategori normal (36,8%) terdapat crowding anterior, dan 24,6% anak kategori kurus (36,8%) terdapat crowding anterior dan didapatkan nilai p untuk Fisher Exact Test sebesar 0,108. Simpulan: tidak terdapat hubungan status gizi dengan Crowding Anterior.Kata kunci: Crowding anterior, gizi, status gizi
|
Crowding anterior, gizi, status gizi | 2018-10-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22512 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i2.22512 |
| 1672380 | #6191 | The relationship between PBI values in periodontitis patients based on gender: Study observational | The relationship between PBI values in periodontitis patients based on gender: Study observational |
Aprilita, Aweni Tria Komala, Olivia Nauli |
ABSTRACTIntroduction: Periodontitis is an inflammatory disease of the supporting teeth tissues. According to Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) in 2018, the prevalence of periodontitis in Indonesia reached 74.1%. Clinical signs of periodontitis include gingival inflammation, margin swelling, loss of attachment, periodontal pocket formation, and gingival bleeding on probing. The Papillary Bleeding Index (PBI) is a periodontal index used to measure the severity of gingival inflammation. The PBI value can be influenced by several factors, one of which is gender. Hormonal fluctuations in the body, especially in women, can be seen in the mouth. The aim of the study was to analyse the difference between PBI values in periodontitis patients based on gender. Methods: Analytical observational research with a cross-sectional research design. The sample is periodontal status examination sheets of patients treated at RSGM-P FKG Usakti for the period 2019 - 2022. Data analysis uses the Mann-Whitney statistical test. Results: The majority of periodontitis sufferers at RSGM-P FKG Usakti in 2019 -2022 had a PBI score in the range of 1 - 1.99 in both female and male genders. The results of the Mann-Whitney test showed that there was no significant difference (p = 0.12) between the female and male groups regarding the PBI value. Conclusion: There is no difference between PBI values and gender in periodontitis patients.KEY WORDS: Periodontitis, papillary bleeding index, gingival inflammation, genderPerbedaan nilai papillary bleeding index pada pasien periodontitis berdasarkan jenis kelamin: studi cross sectionalABSTRAKPendahuluan: Periodontitis adalah penyakit inflamasi pada jaringan pendukung gigi. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 prevalensi periodontitis di Indonesia mencapai 74,1%. Tanda klinis periodontitis berupa inflamasi gingiva, pembengkakan margin, kehilangan perlekatan, pembentukan poket periodontal, dan perdarahan gingiva saat probing. Papillary Bleeding Index (PBI) merupakan indeks periodontal yang digunakan untuk mengukur tingkat keparahan inflamasi gingiva. Nilai PBI dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya jenis kelamin. Fluktuasi hormon pada tubuh terutama pada perempuan, dapat mempengaruhi perubahan di dalam rongga mulut. Tujuan penelitian menganalisis perbedaan nilai PBI pada pasien periodontitis berdasarkan jenis kelamin. Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Sampel berupa lembar pemeriksaan status periodontal pasien yang dirawat di RSGM-P FKG Usakti periode 2019 - 2022. Analisis data menggunakan uji statistik Mann-Whitney. Hasil: Penderita periodontitis di RSGM-P FKG Usakti tahun 2019 - 2022 mayoritas memiliki skor PBI dengan rentang 1- 1,99, baik pada jenis kelamin perempuan maupun laki-laki. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,12) antara kelompok perempuan dengan laki-laki terhadap nilai PBI. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan antara nilai PBI dengan jenis kelamin pada pasien periodontitis.KATA KUNCI: Periodontitis, papillary bleeding index, inflamasi gingiva, jenis kelamin | ABSTRACTIntroduction: Periodontitis is an inflammatory disease of the supporting teeth tissues. According to Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) in 2018, the prevalence of periodontitis in Indonesia reached 74.1%. Clinical signs of periodontitis include gingival inflammation, margin swelling, loss of attachment, periodontal pocket formation, and gingival bleeding on probing. The Papillary Bleeding Index (PBI) is a periodontal index used to measure the severity of gingival inflammation. The PBI value can be influenced by several factors, one of which is gender. Hormonal fluctuations in the body, especially in women, can be seen in the mouth. The aim of the study was to analyse the difference between PBI values in periodontitis patients based on gender. Methods: Analytical observational research with a cross-sectional research design. The sample is periodontal status examination sheets of patients treated at RSGM-P FKG Usakti for the period 2019 - 2022. Data analysis uses the Mann-Whitney statistical test. Results: The majority of periodontitis sufferers at RSGM-P FKG Usakti in 2019 -2022 had a PBI score in the range of 1 - 1.99 in both female and male genders. The results of the Mann-Whitney test showed that there was no significant difference (p = 0.12) between the female and male groups regarding the PBI value. Conclusion: There is no difference between PBI values and gender in periodontitis patients.KEY WORDS: Periodontitis, papillary bleeding index, gingival inflammation, genderPerbedaan nilai papillary bleeding index pada pasien periodontitis berdasarkan jenis kelamin: Studi cross sectionalABSTRAKPendahuluan: Periodontitis adalah penyakit inflamasi pada jaringan pendukung gigi. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 prevalensi periodontitis di Indonesia mencapai 74,1%. Tanda klinis periodontitis berupa inflamasi gingiva, pembengkakan margin, kehilangan perlekatan, pembentukan poket periodontal, dan perdarahan gingiva saat probing. Papillary Bleeding Index (PBI) merupakan indeks periodontal yang digunakan untuk mengukur tingkat keparahan inflamasi gingiva. Nilai PBI dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya jenis kelamin. Fluktuasi hormon pada tubuh terutama pada perempuan, dapat mempengaruhi perubahan di dalam rongga mulut. Tujuan penelitian menganalisis perbedaan nilai PBI pada pasien periodontitis berdasarkan jenis kelamin. Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Sampel berupa lembar pemeriksaan status periodontal pasien yang dirawat di RSGM-P FKG Usakti periode 2019 - 2022. Analisis data menggunakan uji statistik Mann-Whitney. Hasil: Penderita periodontitis di RSGM-P FKG Usakti tahun 2019 - 2022 mayoritas memiliki skor PBI dengan rentang 1- 1,99, baik pada jenis kelamin perempuan maupun laki-laki. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,12) antara kelompok perempuan dengan laki-laki terhadap nilai PBI. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan antara nilai PBI dengan jenis kelamin pada pasien periodontitis.KATA KUNCI: Periodontitis, papillary bleeding index, inflamasi gingiva, jenis kelamin
|
Periodontitis, papillary bleeding index, inflamasi gingiva, jenis kelamin Periodontitis, papillary bleeding index, inflamasi gingiva, jenis kelamin | 2024-03-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/53101 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i1.53101 |
| 1672379 | #6191 | Efek konsumsi kopi arabika selama masa laktasi pada tikus Wistar terhadap erupsi gigi anak tikusThe effect of Arabica coffee consumption during lactation of breastfeeding Wistar rats on the tooth eruption of the offsprings |
Choirunnisa, Luthfia Apriyono, Dwi Kartika Shita, Amandia Dewi Permana |
Pendahuluan: Kopi merupakan minuman yang sering dikonsumsi masyarakat, biasanya diminum 1-3 cangkir per hari dengan kandungan kafein 60-200mg. Konsumsi kafein lebih dari 300mg perhari akan mengganggu kesehatan, khususnya saat masa laktasi. Kafein menyebabkan terhambatnya absorpsi kalsium, sehingga jumlah kalsium dalam tubuh ibu dan bayinya akan berkurang.  Apabila saat masa laktasi ibu mengonsumsi kopi berlebihan, diperkirakan bayi akan mengalami gangguan pertumbuhan gigi berupa keterlambatan erupsi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsumsi kopi Arabika saat masa laktasi terhadap erupsi gigi anak tikus. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratoris. Penelitian ini menggunakan 12 tikus Wistar betina yang sedang menyusui, yang terbagi menjadi 3 kelompok yakni: kelompok kontrol (K), kelompok perlakuan kopi dosis normal (P1) dan kelompok perlakuan kopi dosis berlebih (P2). Kopi diberikan dalam bentuk seduhan dengan teknik sondase selama masa laktasi (21 hari). Satu anak tikus dari masing-masing induk tikus dilakukan euthanasia pada hari ke-22, kemudian dilakukan foto periapikal, selanjutnya kecepatan erupsi gigi diukur dengan CorelDraw X8. Data yang diperoleh diuji menggunakan uji one-way ANOVA dan dilanjutkan uji Least Significant Difference (LSD). Hasil: Uji one-way ANOVA memperlihatkan nilai p=0,0001 (p<0,05) yang menunjukkan terdapat perbedaan bermakna dari kecepatan erupsi gigi di antara kelompok kontrol, kelompok perlakuan kopi dosis normal dan dosis berlebih. Simpulan: Konsumsi kopi Arabika pada tikus selama masa laktasi dapat menghambat erupsi gigi anak tikus.Kata kunci: Kopi Arabika (Coffea arabica), laktasi, erupsi gigi. ABSTRACTIntroduction: Coffee is a beverage commonly consumed by the population, typically consumed approximately 1-3 cups a day with 60-200 mg of caffeine content. Consumption of more than 300 mg of caffeine per day will interfere with the health, especially for mothers during the lactation period. Caffeine induces calcium absorption reduction, thereby reducing the amount of calcium in the mother’s body as well as the baby. If the mother drinks excessive coffee during the lactation period, the baby is suspected to be having tooth development disorders such as delayed eruption. This research was aimed to analyse the effect of Arabica coffee consumption during lactation of breastfeeding Wistar rats on the tooth eruption of the offsprings. Methods: This research was an experimental laboratory. The research sample was 12 breastfeeding female Wistar rats that were divided into three groups, namely the control group, the standard dose coffee treatment group, and the overdose coffee treatment group. Coffee was administered during the lactation period (21 days) in the form of steeping with the sonde technique. One of the offsprings from each breastfeeding rats was euthanised on the 22nd day after birth. A periapical photo was taken, then the tooth eruption speed was measured with CorelDraw X8 software. The data collected were analysed using one-way ANOVA and proceeded with the LSD test. Results: The one-way ANOVA test showed the p-value = 0.0001 (p < 0.05) which indicated a significant difference in the tooth-eruption speed between the control group, the standard dose coffee treatment group, and the overdose coffee treatment group. Conclusion: Arabica coffee consumption during lactation period may delay the teeth eruption of the offsprings.Keywords: Arabica coffee (Coffea arabica), lactation, teeth eruption.
|
Kopi Arabika; Coffea arabica; laktasi; erupsi gigi; Arabica coffee; lactation; teeth eruption | 2020-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/27506 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v4i2.27506 |
| 1672378 | #6191 | The effect of addition of silane coupling agent on the flexural strength of e-glass fiber non dental reinforced composite |
Utami, Aisya Putri Sari, Wwidya Puspita Darmawangsa, Darmawangsa |
ABSTRACTIntroduction: One of the materials used in fixed denture treatment in clinical practice is porcelain fused to metal (PFM) but it has limitations such as poor aesthetics, metal materials that cause hypersensitivity in certain patients and fairly extensive abutment preparation. Alternative materials that can be used for fixed dentures are fiber reinforced composite (FRC) with E-glass fiber dental which has advantages such as bicom patibility, good aesthetics, and easy to adapt to the oral environment. Flexural strength is one of the mechanical properties in dental materials to withstand occlusal pressure. This flexural strength test is a description of the composite receiving loads during chewing activities. The availability of E-glass fiber dental in Indonesia is still limited with a fairly expensive price. Non-dental E-glass fiber has generally been used in the engineering field which has a composition almost the same as E-glass fiber dental. The purpose of this study was to determine the effect of adding silane coupling agent on the flexural strength of E-glass fiber non-dental reinforced composite. Methods: The research method used was an experimental method. Data analysis used the One Way Anova test. The test results on FRC with fiber given 2 times silane have the highest flexural strength with a value of 215.63 MPa. Results: Fiber without silane has the lowest value with a value of 168.12 MPa. Conclusion: The conclusion of this study is that there is an effect of adding silane coupling agent on the flexural strength of E-glass fiber non-dental Reinforced composite and is expected to be an alternative to replace E-glass fiber dental with good quality and affordable price.Keywords: E-glass fiber, Fiber reinforced composite, Silane coupling agent, Flexural StrengthPengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekuatan fleksural e-glass fiber non dental reinforced compositeABSTRAKPendahuluan: Salah satu bahan yang digunakan pada perawatan gigi tiruan cekat dalam praktik klinis adalah porcelain fused to metal (PFM) namun memiliki keterbatasan seperti estetikanya yang kurang, bahan metal yang menyebabkan hipersensitifitas pada pasien tertentu serta preparasi abutment yang cukup luas. Alternatif bahan yang dapat digunakan untuk gigi tiruan cekat adalah fiber reinforced composite (FRC) dengan E-glass fiber dental yang memiliki kelebihan seperti bikompatibilitas, estetik yang baik, serta mudah beradaptasi di lingkungan mulut. Kekuatan fleksural merupakan salah satu sifat mekanis dalam material kedokteran gigi agar tahan terhadap tekanan oklusal. Pengujian kekuatan fleksural ini sebagai gambaran komposit menerima beban pada saat aktivitas pengunyahan. Ketersediaan E-glass fiber dental di Indonesia masih terbatas dengan harga yang cukup mahal. E-glass fiber non dental secara umum telah digunakan dibidang teknik yang memiliki komposisi hampir sama dengan E-glass fiber dental. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekuatan fleksural E-glass fiber non dental reinforced composite. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental. Analisis data menggunakan uji One Way Anova. Hasil uji pada FRC dengan fiber yang di beri 2 kali silane memiliki kekuatan fleksural tertinggi dengan nilai 215,63 MPa. Hasil: Fiber tanpa silane memiliki nilai terendah dengan nilai 168,12 MPa. Simpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa terdapat pengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekuatan fleksural E-glass fiber non dental Reinfoced composite dan diharapkan dapat menjadi alternatif pengganti E-glass fiber dental dengan kualitas yang baik dan harga yang terjangkau.Kata Kunci: E-glass fiber, Fiber reinforced composite, Silane coupling agent, Kekuatan Fleksural
|
E-glass fiber, Fiber reinforced composite, Silane coupling agent, Kekuatan Fleksural, E-glass fiber, Fiber reinforced composite, Silane coupling agent, Flexural Strength | 2024-10-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/57887 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i3.57887 |
| 1672377 | #6191 | Analisis implementasi kebijakan Sistem Kesehatan Pertahanan Negara (Siskeshanneg) menghadapi ancaman faktual pandemi COVID-19 di Lembaga Kedokteran Gigi (Ladokgi) Raden Eddy MartadinataAnalysis of the National Defense Health System (Siskeshanneg) policy implementation on the Covid-19 pandemic factual threat at Raden Eddy Martadinata Naval Dentistry Institute (Ladokgi) |
Winarno, Sugeng Wandawa, Ganesha Sitam, Suhardjo |
ABSTRAKÂ Pendahuluan: Sistem Kesehatan Pertahanan Negara (Siskeshanneg) adalah totalitas sumber daya bidang kesehatan yang dapat digunakan secara terarah dan terpadu untuk menghadapi ancaman bidang kesehatan. Pandemi COVID-19 merupakan manifestasi ancaman bidang kesehatan yang memerlukan Siskeshaneg untuk menghadapinya. Hingga saat ini implementasi kebijakan ini masih terjadi permasalahan sehingga mempengaruhi kesiapsiagaan institusi dalam menghadapi suatu bencana. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran tentang proses implementasi kebijakan Siskeshanneg di Ladokgi Raden Eddy Martadinata (Ladokgi REM) ini dilihat dari empat aspek yang mengacu pada analisis implementasi model Edward III. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi dan penelaahan dokumen. Pemilihan informan melalui teknik purposive sampling. Validasi data dilakukan triangulasi terhadap sumber, metode dan teori. Hasil: Gambaran proses implementasi Siskeshaneg di Ladokgi REM memperlihatkan komunikasi menggunakan jaring fungsi komando, sumberdaya bidang personel kekuatannya berkurang, bidang anggaran dilakukan refocusing pada kegiatan terkait penanggulangan COVID-19, pemenuhan sarana dan prasarana ruangan sesuai protokol kesehatan dan pembagian zonasi, struktur birokrasi tidak terfragmentasi serta disposisi pimpinan dan anggota berkomitmen penuh dan sesuai perintah. Faktor penghambat meliputi penyiapan sarana dan prasarana membutuhkan waktu 3 bulan, kecemasan pada sebagian anggota dan pasien takut terpapar COVID-19. serta harga logistik kesehatan yang melambung. Simpulan: Implementasi Siskeshaneg di Ladokgi REM dapat berjalan baik, dengan indikator keberhasilan berupa kecepatan pengambilan keputusan, kepemimpinan dan kemampuan adaptasi sehingga kegiatan layanan kesehatan dapat terselenggara di masa pandemi COVID-19.Kata kunci: implementasi kebijakan; Siskeshanneg; ancaman faktual; pandemi COVID-19Â ABSTRACTIntroduction: The National Defense Health System (Siskeshanneg) is the totality of health sector resources that can be used in a directed and integrated manner to deal with threats in the health sector. The COVID-19 pandemic manifests a health sector threat that requires the National Defense Health System implementation. However, until now, the implementation of this policy is still experiencing problems that affect institutions' preparedness in the face of a disaster. The purpose of this study was to provide an overview of the implementing process of the National Health Defense System (Siskeshanneg) policy at Raden Eddy Martadinata Naval Dentistry Institute (Ladokgi REM) observed from four aspects that refer to the analysis of the Edward III model implementation. Methods: The study used a qualitative descriptive method. Collecting data through in-depth interviews, observation and document review. Selection of informants through purposive sampling technique. Data validation was carried out by triangulation of sources, methods, and theories. Results: An overview of the National Defense Health System implementation process in Raden Eddy Martadinata Naval Dentistry Institute shows that communication was performed through command function network; personnel resources were reduced in strength; the budget aspect was refocused on activities related to COVID-19 prevention; fulfilment of room facilities and infrastructure according to health protocols and zoning distribution; the bureaucratic structure has not fragmented, and the disposition of leaders and staffs was fully committed and according to orders. Inhibiting factors included preparing facilities and infrastructure that take three months, some staff and patients' anxiety about being exposed to COVID-19, and soaring health logistics prices. Conclusions: Implementing the National Health Defense System (Siskeshanneg) policy at Raden Eddy Martadinata Naval Dentistry Institute is thriving, with indicators in the form of fast decision-making, leadership, and adaptability for health service activities were able to be carried out during the COVID-19 pandemic.Keywords: policy implementation; National Defense Health System; factual threats; COVID-19 pandemic
|
implementasi kebijakan; Siskeshanneg; ancaman faktual; pandemi COVID-19; policy implementation; National Defense Health System; factual threats; COVID-19 pandemic | 2021-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/33356 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i2.33356 |