Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↓ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1672016 #5790 POTENSI BAHAN GALIAN PASIR KUARSA DI KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI, KABUPATEN LAMPUNG TIMUR, PROVINSI LAMPUNG -, Agung Mulyo
District of Labuhan Maringgai, Sub-Province East Lampung, Lampung, richly of quartz-sand. Potency, amount of reserve, quality of every type of quartz-sand is important to know. Mapping of natural resources specially quartz-sand is required for development program of Lampung area, especially related to invesment and promotion in mining.Almost of all region of Labuhan Maringgai District consist of quartz-sand. Quartz-sand which good quality (Sio2 > 95 %) there are in Sukorahayu (1.768.000 m3), Sriminosari (1.006.500 m3), Karya Makmur (1.320.000 m3), and Karya Tani (3.082.000 m3).
Quartz-sand 2007-04-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8137 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v5i2.8137
1672015 #5790 LINGKUNGAN PURBA FORMASI JATILUHUR BERDASARKAN KUMPULAN FOSIL FORAMINIFERA PADA DAERAH DESA JATILUHUR DAN SEKITARNYA, KECAMATAN JATILUHUR, KABUPATEN PURWAKARTA, JAWA BARAT Osvaldus, Rodrigo
Jurnaliah, Lia
Muljana, Budi
ABSTRACTThis research was conducted to determine environmental changes in the study area based on the abundance of foraminifera fossils and the lithology of the emerging rocks. The research area is in Jatiluhur District, Purwakarta Regency, West Java Province. Rock samples taken during the Advanced Geological Mapping activity were then used as a composite log, divided into 15 rock samples representing any changes in lithological characteristics. The number of small foraminifera fossils found from the 15 samples was 120,912 individuals with 75,840 individual planktonic foraminifera fossils and 45,072 individual benthonic foraminifera fossils. The abundance of small foraminifera fossils varies in number in each sample and the number is more abundant in the younger layers than in the older layers. The P / B ratio analysis was performed using a comparison calculation between planktonic and benthonic foraminifera. From the P / B ratio analysis, it was found that four bathymetric zones had occurred in the study area. From the results of the P / B ratio analysis and associated with rock lithology, it can be concluded that the environment of the study area is in a shallow sea where there have been several times of local deepening and silting of the water column. The analysis of environmental changes is strengthened by drawing the age which is determined based on the appearance of the fossil index in the layers. Referring to Bolli & Saunders (1985) and Boudagherfadel & Banner (1999), the results of this analysis indicate that the study area was deposited at an age not older than the Middle Miocene.Keywords: Foraminifera, Abundance, Environment, Lithology, Middle MioceneABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui perubahan lingkungan pada daerah penelitian berdasarkan kelimpahan fosil foraminifera dan litologi batuan yang muncul. Daerah penelitian berada pada Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Sampel berupa batuan yang diambil ketika kegiatan Pemetaan Geologi Lanjut yang kemudian dijadikan sebuat composite log terbagi menjadi 15 perconto batuan mewakili setiap perubahan karakteristik litologi. Jumlah fosil foraminifera kecil yang ditemukan dari 15 sampel tersebut adalah 120.912 individu dengan fosil foraminifera planktonik 75.840 individu dan foraminifera bentonik 45.072 individu. Kelimpahan fosil foraminifera kecil bervariasi jumlahnya pada masing-masing sampel dan jumlah tersebut lebih melimpah pada lapisan yang lebih muda dibandingkan dengan lapisan yang lebih tua. Analisis P/B ratio dilakukan menggunakan perhitungan perbandingan antara foraminifera planktonik dan bentonik. Dari hasil analisis P/B ratio didapatkan empat zona batimetri pernah terjadi pada daerah penelitian. Dari hasil analisis P/B ratio dan dikaitkan dengan litologi batuan, dapat ditarik kesimpulan bahwa lingkungan dari daerah penelitian berada pada laut dangkal dimana terjadi beberapa kali pendalaman serta pendangkalan kolom air secara setempat. Analisis perubahan lingkungan diperkuat dengan penarikan umur yang ditentukan berdasarkan kemunculan indeks fosil pada lapisan. Mengacu pada Bolli & Saunders (1985) dan Boudagherfadel & Banner (1999), hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa daerah penelitian diendapkan pada umur tidak lebih tua dari Miosen Tengah.Kata Kunci : Foraminifera, Kelimpahan, Lingkungan, Litologi batuan, Miosen Tengah.
2021-04-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/33366 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v19i1.33366
1672014 #5790 KARAKTERISTIK MORFOTEKTONIK DAS BUOL BAGIAN HULU YANG TERSUSUN OLEH BATUAN BERUMUR KUARTER DAN TERSIER KABUPATEN BUOL PROVINSI SULAWESI TENGAH Ghaniansah, Algi Fajar
Tawil, Sukardan
Muslim, Dicky
Sukiyah, Emi
The research area is part of the Watershed Buol. Administratively, it is included in the  Tiloan District, Buol Regency, Central Sulawesi Province. The parameters used in the study include drainage patterns, watershed morphometric, morphotectonic, and geological structure. Parameters such as a reference to explain the tectonic activity in the area of research. Variables analyzed includes bifurcation ratio (Rb), drainage density (Dd), mount-front sinuosity (Smf), and the ratio of the wall and the bottom of the valley (Vf ratio). Quantitative descriptive approach used in the data analysis. The results showed that the average value of Rb is 2.14 with Dd ranges from 0.25 to 10. That phenomenon shows that the study area is controlled by tectonic based on morphometric analysis of the watershed. Smf values ranged from 1.1 to 1.6, while the Vf ratio ranges from 0.3 to 3.8. The results of the comparative test against morphometric-morphotectonic variables in the region composed of Quaternary and Tertiary rocks, showed a significant difference.Key words: Buol watershed, watershed morphometry, morphotectonic, and tectonic activity Daerah penelitian merupakan sebagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Buol. Secara administratif termasuk dalam Kecamatan Tiloan, Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah. Parameter yang digunakan dalam penelitian diantaranya adalah pola pengaliran, morfometri DAS, morfotektonik, dan struktur geologi. Parameter tersebut menjadi acuan untuk menjelaskan aktivitas tektonik di daerah penelitian. Variabel yang dianalisis meliputi rasio cabang sungai (Rb), kerapatan pengaliran (Dd), sinusitas muka gunung (Smf), dan rasio dinding dan dasar lembah (Vf ratio). Pendekatan deskriptif kuantitatif digunakan dalam analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Rb rata-rata 2,14 dengan Dd berkisar dari 0,25 hingga 10. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa daerah penelitian dikontrol oleh tektonik berdasarkan analisis morfometri DAS. Nilai Smf berkisar  1,1 – 1,6, sementara itu Vf ratio berkisar 0,3 – 3,8. Hasil uji komparatif terhadap variabel morfometri dan morfotektonik DAS di wilayah yang tersusun oleh batuan berumur Kwarter dan Tersier, menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa tektonik pada Kuarter dan Tersier menghasilkan pola yang berbeda.Kata Kunci: DAS Buol, Morfometri DAS, Morfotektonik dan Aktivitas Tektonik.
2016-10-13 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/9806 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v14i2.9806
1672013 #5790 PENGEMBANGAN PARIWISATA KAWASAN GUNUNG WAYANG DAN SEKITARNYA -, Ildrem Syafri
The southern part of Bandung area available some geo-tourism, both was developed or not yet. Wayang Mount area and surrounding are one another that fully developed not yet. That area has geological phenomena and natural preserve. The objective of research is supporting geological information available for tourism developing at Wayang Mount area and surrounding. Main theme of research is modeling of tourism development that cares with environment. Base on literatures study, Bandung area has potency and constraint in connection with area development. That two aspects cause environmental problem that necessary integrated management. Some methods are used to get data; among other are literature study, field survey, and laboratory analysis. Probabilistic approach is used for data analysis.Research result show Wayang Mount area and surrounding is product of Quaternary volcanic. It has gentle to very steeply with elevation about from 1,425 to 2,198 meters from sea level. The drainage patterns are sub-radier, sub-dendritic, sub-parallel, and sub-rectangular. Stream order from 1 to 5 with drainage density reach 8.3 km / square km. Lithology is product of earlier Pleistocene to Holocene volcanic. That lithology consist volcanic breccia, tuff, and lava. A part of them hydrothermal altered and weathered. Base on analysis of microscopic, geochemistry and physic-mechanic show rock and weathering result’s can studied with measured. The available of hot spring in Wayang Mount area is controlled by structure pattern and active tectonic.The tourism development at Wayang Mount and vicinity is supported by strategic location, some geological phenomena, exquisite view, etc. That area is suitable for geo-tourism and agro-tourism development. The constraint aspect in development program is complicated environmental problem. Those problems are Wayang Mount area is natural preserve and main water resource of Citarum River.
geotourism, environment 2009-08-03 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8232 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v7i1.8232
1672012 #5790 PENENTUAN KESTABILAN LERENG MENGGUNAKAN KUALITAS MASSA BATUAN PADA AREA LOWWALL PIT X PT. BUKIT ASAM TBK SUMATRA SELATAN Khodijah, Siti
Monica, Utari Sonya
Ersyari, Jordistriawan
Khoirullah, Nur
Sophian, Raden Irvan
Daerah penelitian memiliki kondisi geologi yang cuku kompleks yaitu termasuk ke cekungan Sumatra Selatan. Formasi Muara Enim merupakan formasi penghasil batubara ekonomis pada daerah penelitian. Proses penambangan pada PT. Bukit Asam Tbk yaitu metode tambang terbuka sehingga proses penggaliannya berhubungan dengan kestabilan lereng dan sifat keteknikannya. Pit X diiterpretasikan sebagai sayap antiklin utara Muara Tiga Besar dengan jurus perlapisan batuan relatif ke arah barat laut sehingga memiliki bentuk pit relatif searah jurus perlapisan batuan. Area lowwall sebagai lereng yang didesain mengikuti kemiringan perlapisan batuan menjadi ketertarikan dalam melakukan penelitian dikarenakan berpotensi tinggi terjadi longsoran bidang sehingga perlu dilakukan analisis kualitas massa batuannya. Metode Rock Mass Rating merupakan pembobotan bersistem dalam menentukan kualitas massa batuan dan dapat digunakan untuk menilai stabilitas lereng dan rekomendasi sudut aman maksimal yang dapat diterapkan melalui Slope Mass Rating. Kaitannya dengan kualitas massa batuan, dilakukan pengamatan pada 8 titik massa batuan selain batubara pada area lowwall Pit X menggunakan metode scanline. Berdasarkan pembobotan rock mass rating, daerah penelitian terdiri dari 2 (dua) kelas massa batuan yaitu kelas III (fair rock) dan IV (weak rock). Berdasarkan slope mass rating, daerah penelitian terdiri dari lereng bad dengan stabilitas tidak stabil dan lereng normal dengan stabilitas stabil sebagian. Adapun sudut lereng yang direkomendasikan pada area lowwall berkisar antara 30°-34°. Kata kunci: area lowwall, massa batuan, RMR, SMR, sudut aman lereng
2023-01-10 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/42691 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v20i3.42691
1672011 #5790 MINERAGRAFI BATUAN PENYUSUN TAMBANG DEEP MILL LEVEL ZONE (DMLZ) PT. FREEPORT INDONESIA Ruswanto, .
Rosana, Mega Fatimah
Yuningsih, Euis Tintin
Purwaiswanto, Bambang Antoro
ABSTRAKDeep Mill Level Zone (DMLZ) merupakan bagian dari cebakan East Erstberg Skarn System (EESS) dan merupakan tambang bawah tanah level ke-empat setelah Tambang Gunung Bijih Timur (GBT), Intermediate Ore Zone (IOZ) dan Deep Ore Zone (DOZ), yang memiliki cadangan sebesar 472 juta ton, dengan kadar tembaga 0,85% dan emas 0,72 g/t. Mineral bijih yang ditemukan berdasarkan analisa mineragrafi di DMLZ adalah kalkopirit, bornit, kovelit, hematit, sfalerit, galena dan pirit. mineral kalkopirit saling terikat dengan mineral pirit, galena dan sfalerit di batuan intrusi, kalkopirit berikatan dengan sfalerit di batugamping Ekmai, kalkopirit terlihat sebagai butiran bebas dan juga berikatan dengan pirit di batuserpih Ekmai, serta kalkopirit-sfalerit-bornit saling berikatan dan kalkopirit terlihat sebagai inklusi di dalam sfalerit dan juga kovelit hadir menggantikan bornit di beberapa bagian Kata kunci: Deep Mill Level Zone (DMLZ), East Ertberg Skarn System (EESS), mineragrafi, mineral bijih. ABSTRACTDeep Mill Level Zone (DMLZ) is one of underground mining in PT. Freeport Indonesia and part of East Erstberg Skarn System (EESS) Complex, located at 4th level below Gunung Bijih Timur (GBT), Intermediate Ore Zone (IOZ) dan Deep Ore Zone (DOZ) with reserve 472 milion ton with garde of Cu 0.85% and Au 0.72 g/t. Ore minerals in DMLZ based on minergraphy are chalcopyrite, bornite, covelite, hematit, sphalerite, galena and pyrite. Chalcopyrite minerals binds with pyrite-galena-sphalerite in intrusive rocks, chalcopyrite binds to sphalerite in the Ekmai limestone, chalcopyrite is seen as free-grained and binds to pyrite in the Ekmai shalestone, as well as chalcopyrite-sphalerite binding and viscous chalcopyrite as inclusions in the sphalerite and present covelite to replace the bornite in some parts Key words: Deep Mill Level Zone (DMLZ), East Ertberg Skarn System (EESS), mineragraphy, Ore minerals.
2017-08-14 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/13836 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v15i2.13836
1672010 #5790 GEOKIMIA BATUAN PENUTUP (OVERBURDEN) BATUBARA UNTUK MEMPREDIKSI POTENSI AIR ASAM TAMBANG DI PIT 1 IUP PWR, DI DAERAH KASAI, KABUPATEN BERAU, KALIMANTAN TIMUR -, Ahmad Helman Hamdani
-, Yoga Adriana Senjaya
Geochemical studies of cap rock (overburden) on coal mining can be used as an indicator to predict the potential of acid mine drainage (AMD) not from coal itself. Coal overburden at PIT 1 IUP PWR, East Kalimantan composed by clay rocks. Geochemical measurements whic is carried from overburden samples KSD11 and KSD11H; shows that the overburden-based reference SNI 6597-2011 can be categorized as rock Type 1. Plotting on curve grouping PAF / NAF based on the relationship between pH and PAN PPAN KSD11dan KSD11H site shows all samples including NAF group. Analysis of TCLP (toxicity characteristic leaching procedure) showed that low dissolved ferrous metals (0.6 g / L) while the metal content of calcium and magnesium respectively are 0.23 g / L and 0.47 g / L (Table 4.7). When the calculated total of mole equivalents , calcium and magnesium is greater than the iron dissolved, so that although the acid formed will be neutralized. Thus overburden in Likasi PIT 1 is a type of cap rock that not form acid mine drainage when exposed in water and air, so it does not require special handling to prevent the formation of acid mine drainage
laterite soil, nickel laterite deposit 2011-08-05 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8265 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v9i2.8265
1672009 #5790 BIOSTRATIGRAFI FORMASI TELISA BERDASARKAN PERSEBARAN FORAMINIFERA DI DAERAH MUAROPAITI, KECAMATAN KAPUR IX, KABUPATEN LIMA PULUH KOTA, SUMATERA BARAT Harfiandri, Muhammad Said
Rochmana, Yogie Zulkurnia
Pendekatan analisis paleontologi dapat digunakan dalam menentukan umur relatif suatu batuan dengan melihat distribusi dan acuan umur fosil foraminifera yang terdapat pada batuan. Oleh karena itu, metode ini digunakan sebagai acuan dalam penelitian biostratigrafi yang membahas mengenai penentuan umur batuan dengan menggunakan fosil yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini dilakukan di Desa Muaropaiti, Sumatera Barat yang secara regional terletak pada Cekungan Sumatera Tengah. Observasi lapangan telah dilakukan dalam rangka perekaman data geologi permukaan serta data paleontologi berupa foraminifera yang di dapatkan dari hasil preparasi sampel batuan. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk menentukan umur relatif dan lingkungan batimetri pada Formasi Telisa melalui analisis biostratigrafi. Metode yang digunakan berupa analisis biostratigrafi dengan melihat umur dan batimetri pada fosil foraminifera planktonik dan bentonik serta analisis struktur sedimen yang terdapat pada daerah telitian. Studi ini mengungkapkan bahwa umur relatif pada Formasi Telisa berdasarkan analisis foraminifera planktonik adalah Middle Miocene (N8-N10). Lingkungan batimetri berdasarkan foraminifera bentonik didapatkan pada area Transisi-Neritik Tepi (15m – 90m). Hal ini menunjukan bahwa Formasi Telisa terendapkan pada kala Miosen Tengah dimana terjadinya transgresi (kenaikan muka air laut) yang mengendapkan litologi batuan sedimen dengan ukuran butir halus seperti batulempung, batuserpih, dan batulanau yang bersifat karbonatan.
2024-08-07 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/56104 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v22i2.56104
1672008 #5790 NILAI DAN JENIS POROSITAS BATUPASIR PADA FORMASI WALATDI DAERAH CICANTAYAN, KABUPATEN SUKABUMI BERDASARKAN METODE PETROGRAFI Firmansyah, Yusi
Mardiana, Undang
Kurniawan, Endy
Nurdrajat, .
Gani, Reza Mohammad Ganjar
ABSTRACTStudy of sandstone porosity Walat Formation in Sukabumi, West Java is a step to get information about the value and type of porosity that develops in this area. Sandstones that have good porosity can potentially become reservoir rocks but not all sandstones have good porosity. Systematic modeling of Walat Formation outcrops which are believed to have potential as reservoir rocks are analyzed in the laboratory to see their porosity. Eight samples were selected and analyzed by petrographic method to determine the type of porosity and calculate the sandstone porosity value of the Walat Formation located in Cicantayan Village, Cisaat District, Sukabumi District. Based on the results of petrographic analysis, all sandstone samples in the study area have intergranular primary porosity and have sufficient to special porosity values. Based on this research, it can be said that in general the sandstones in the study area have very good porosity which has the potential to be a good reservoir rock.Keywords: Walat Formation, sandstone, porosity, petrographic analysis.ABSTRAKKajian porositas batupasir Formasi Walat di Sukabumi, Jawa Barat merupakan suatu langkah untuk mendapatkan informasi mengenai nilai dan jenis porositas yang berkembang pada daerah ini. Batupasir yang memiliki porositas yang baik dapat berpotensi menjadi batuan reservoir namun tidak semua batupasir memiliki porositas yang baik. Sistematika pemercontohan singkapan Formasi Walat yang diyakini berpotensi sebagai batuan reservoar di analisis ke laboratorium untuk dilihat porositasnya. Sebanyak delapan percontoh terpilih dan dianalisis dengan metode petrografi untuk mengetahui jenis porositas serta menghitung nilai porositas batupasir Formasi Walat yang terletak di desa Cicantayan, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi. Berdasarkan hasil analisis petrografi semua percontoh batupasir di daerah penelitian memiliki porositas primer intergranular dan memiliki nilai porositas yang cukup hingga istimewa. Berdasarkan penelitian ini dapat dikatakan secara umum batupasir didaerah penelitian memiliki porositas yang sangat baik sehingga berpotensi menjadi batuan reservoir yang baik.Kata Kunci: Walat Formation, sandstone, porosity, petrographic analysis.
2019-01-16 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/20224 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v16i3.20224
1672007 #5790 BIO-ENGINEERING, MELALUI PEMANFAATAN TANAMAN KALIANDRA (CALIANDRA CALOTHYRSUS) DI WILAYAH ZONA RAWAN LONGSOR JAWA BARAT -, Zufialdi Zakaria
-, Dicky Muslim
-, Raden Irvan Sophian
-, Sondi Kuswaryan
-, Ujang Hidayat Tanuwiria
Landslides prone areas can be occur due to a large slope, open slopes, large erosion rate, or a large infiltration. Landslide prone areas can be prevented by a stable slope engineering. Engineering of stable slopes can be integrated through a variety of methods with preliminary procedure : 1) Mapping of landslides prone areas, 2) Slope stability analysis through the study of Safety Factor, 3) Engineering of slope stabilization and integrated through the simulation stable slope, slope design and other engineering, 4) Environmental management and environmental monitoring, 5) Bio-engineering by utilizing plants as part of a stable slope engineering systems, namely as a preventive agent of erosion, reduction of infiltration and runoff flow, landslide prevention as well as strengthening the slopes . Engineering can use the model of Starlet (Stabilisati dan Rancangbangun Lereng Terpadu, or Engineering of Slope Stabilization and Integrated) involving the role of government officials, industrial and businessmen , residents / communities , and scientists . Kaliandra chosen to be a plant that is part of a stable slope engineering . Kaliandra plants have a good root, the tree canopy is not heavy, high-protein leaves for fodder, stems and twigs are dried for energy (fuelwood ) . These plants, in addition to prevention of landslides, will be useful for people and industry.
landslide prone area, bio-engineering 2013-11-06 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8297 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v11i3.8297
1672006 #5790 FORMASI PULAU BALANG PADA SUMBU LIPATAN SEPARI KOTA SAMARINDA Abdurrokhim, .
Helmi, Faisal
Batuan sedimen berumur Neogen di Cekungan Kutei dicirikan oleh suksesi progradasi yang berkembang dalam berbagai tatanan lingkungan pengendapan, mulai dari turbidit laut dalam, endapan silisiklastik laut dangkal, dan batugamping hingga endapan fluvio-deltaik dan darat.Formasi Pulau Balang merupakan batuan sedimen tertua yang tersingkap di Antiklinorium Samarinda, di Kota Samarinda. Bersama dengan Formasi Balikpapan, kedua formasi tersebut mengikuti sumbu-sumbu lipatan, di mana Antiklin Separi merupakan salah satu lipatan diantaranya. Formasi Pulau Balang yang tersingkap dengan baik di sepanjang Antiklin Separi di Kota Samarinda, dicirikan oleh urut-urutan batuan yang didominasi oleh batulempung, dengan kadang-kadang perselingan dengan batupasir turbidit, endapan channel-fill, dan endapan slump.Asosiasi litofasies endapan laut dalam Formasi Pulau Balang dalam ini dapat dikelompokkan menjadi (1) laminasi batulempung, batulanau dan dan batupasir halus yang kadang-kadang berlapisan juga dengan batupasir turbidit, (2) endapan channel-fill, dan (3) endapan slump.Perlapisan tipis batulempung dan batupasir dicirikan oleh batulempung, batulanaudan batupasir berlapis tipis hingga sangat tipis. Batupasir berbutir halus hingga sangat halus, dengan ketebalan yang tidak konsisten secara lateral. Batupasir turbidit berbutir halus hingga kasar, dengan ketebalan 3–23 cm, berselang-seling atau berselang-seling dengan batulempung. Batupasir tersebut memiliki struktur sedimen sekuen Bouma, Ta, Tb, dan Tc. Batupasir berbutir kasar terkadang teramati di dalam lapisan batupasir ini, berukuran kasar, kadang kerikilan, dan menunjukkan kontak bagian bawah erosional. Endapan channel fill ini dicirikan oleh batupasir berbutir kasar berlapis tebal hingga sangat tebal, batupasir berbutir kasar kerikilan dengan kontak bagian bawah erosional, batulempung berselang-seling dengan batupasir dibawahnya tererosi oleh endapan channel ini. Geometri endapan channel fill berbentuk lentikular. Endapan slump dicirikan oleh soft sedimentary deformation dari perlapisan batulempung dan batupasir turbidit. Sebanyak 13 sampel batuan telah diambil secara sistematis untuk dianalisis kandungan fosil foraminifera planktonik dan bentoniknya. Terdapat 9 sampel yang berasal dari sisi timur Antiklin Separi, dan 5 sampel yang diambil dari sisi barat sumbu Antiklin. Dari fosil-fosil foraminifera tersebut, menunjukkan bahwa batuan sedimen Formasi Pulau Balang di sepanjang Antiklin Separi ini terbentuk selama N5 hingga N6, Burdigalian, Miosen Awal, dalam lingkungan laut dalam (batial).
2025-12-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/67516 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v23i3.67516
1672005 #5790 STUDI GEOKIMIA BATUAN VULKANIK PRIMER KOMPLEKS GUNUNG SINGA - GUNUNG HULU LISUNG, BOGOR - JAWA BARAT -, Johanes Hutabarat
The research about study on geochemistry volcanic rocks of Gunung Singa - Gunung Hulu Lisung, Nanggung, Bogor, West Java.Samples of the Gunung Singa-Gunung Hulu Lisung were extensively analyzed for major oxides and trace elements. Compositions of geochemical samples have been plotted and are used in drawing petrogenetic inferences. volcanic rocks Gunung Singa - Gunung Hulu Lisung belong to the medium calc-alkalic to high Calc-alkalic dacite suite, and have SiO2 contents in the range of 61,34-68,55%, high Al2O3 (14,99-19,63%) and low TiO2 content and relatively high K2O (1,90-2,55%)Oxide variation diagrams for the Gunung Singa-Gunung Hulu Lisung show linear trend with much scatter. This is partially due to the fact that SiO2 makes up an increasing percentage of silicic rocks allowing less scatter in the other oxides. However, we suggest that mich of the scatter is due to mixing of variably fractionated basaltic magma with silicic magma
geochemistry, volcanic rock. 2007-12-05 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8147 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v5i3.8147
1672004 #5790 GEOSTATISTIK DALAM PEMODELAN TEMPERATUR BAWAH PERMUKAAN DENGAN RADIAL BASIS FUNCTIONS DI TAMBANG EMAS TOGURACI, INDONESIA Irwanda, Dharma
Nur, Andi Agus
Lesmana, Denny
Geostatistik telah menjadi ilmu yang sangat berkembang dan telah secara luas digunakan di industri pertambangan. Kebutuhan untuk mengaplikasikan geostatistik dalam estimasi maupun pemodelan geologi juga didukung oleh para pengembang perangkat lunak (software) yang terus melakukan peningkatan kemampuan software-nya dengan menggunakan geostatistik sebagai hal yang wajib dalam algoritma yang mereka buat, untuk membantu mempermudah dan mempercepat pekerjaan pengolahan data spasial. Salah satu metode yang akan digunakan pada penelitian ini adalah radial basis functions yang mempunyai keunggulan pada metode interpolasi dan ekstrapolasinya yang bersifat global. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengaplikasikan konsep geostatistik untuk pemodelan temperature bawah permukaan di Toguraci dengan bantuan software LeapfrogTM menggunakan metode radial basis functions. Model yang dibuat dengan metode ini memperlihatkan adanya potensi sumber panas di sebelah baratdaya dan selatan tambang bawah tanah toguraci, dengan model isovalue temperatur ≥60oC berjarak relatif 500-600m dari tambang saat ini. Model yang dihasilkan diharapkan dapat membantu memberikan pemahaman yang lebih baik bagi kepentingan keselamatan operasi penambangan bawah tanah terkait keberadaan sumber panas atau air panas. Juga, berbagi informasi dan memperkaya wawasan tentang perkembangan aplikasi geostatistik dan penggunaan software di industri pertambangan kepada lingkungan akademis, terutama lingkup ilmu kebumian, dan pada akhirnya mendorong adanya penelitian lanjutan dengan sudut pandang kajian geologi yang lebih mendalam.
2021-09-15 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/35252 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v19i2.35252
1672003 #5790 Dampak Limbah Penambangan Emas Tanpa Izin (Peti) Terhadap Kualitas Air Sungai Limun Kabupaten Sarolangun Propinsi Jambi - The Impact Of Illegal Gold Mining Activity To The Water Quality Of Limun River, Sarolangun District, Jambi Province Yulianti, Rita
Sukiyah, Emi
Sulaksana, Nana
Daerah penelitian terletak di desa Muaro Limun, Kecamatan Limun Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi. Sungai limun, salah satu sungai besar di daerah kabupaten sarolangun yang dimanfaatkan oleh mayarakat sekitarnya sebagai sumber penghidupan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kegiatan penambangan terhadap kualitas air sungai Batang Limun, dan perubahan sifat fisik dan  kimia yang diakibatkan   kegiatan penambangan.Metode yang digunakan adalah  metode grab sampel, serta stream sedimen untuk dianalis di laboratorium. Sejumlah sampel diambil di beberapa lokasi Penambangan Emas berdasarkan Aliran Sub-DAS dan dibandingkan dengan beberapa sampel lain yang diambil pada lokasi yang belum terkontaminasi oleh kegiatan penambangan. Analisis kualitas air mengacu pada  SMEWWke 22 tahun 2012 dan standar baku mutu air kelas II dalam PP No 82 yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan No. 492/Menkes/Per/IV/2010. Diketahui sungai Batang Limun telah mengalami perubahan karakteristik fisika dan kimia. Dari grafik  kosentrasi kekeruhan, pH, TSS, TDS  Cu, Pb, Zn, Mn, Hg terlihat bahwa penambang emas tanpa izin (PETI) dengan cara amalgamasi yang menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air sungai. Sejak tahun 2009 sampai tahun 2015  sungai Limun dan sekitarnya terus mengalami penurunan kualitas air. Penurunan kualitas yang cukup tinggi terjadi  yaitu peningkatan nilai Rata-rata konsentrasi merkuri pada sungai Batang Limun dari 0,18ppb (0,00018 mg/l)  menjadi 0,3ppb (0,0003 mg/l), peningkatan tersebut dipengaruhi oleh proses kegiatan penambangan dan nilai tersebut masih dibawah standar baku mutu air kelas II  pp nomor 82 tahun 2010.Kata kunci :   Kualitas Air, Sungai Limun,TSS, Merkuri, PETI Limun river is one of the major rivers in the area of Sarolangun, which utilized by the society as a source of livelihood. The aim of study  to analyze the effect of mining activities on  the water quality of Batang Limun River, and the changes of physical and chemical properties of water. The method used are grab  and stream samples to  sediment analyzed in the laboratory. A number of samples were taken at several locations based Flow Gold Mining Sub-watershed and compared to some other samples taken at the location that has not been contaminated by mining activities. Water quality analysis referring to SMEWW, 22nd edition 2012 and refers to Regulation No 82 that issued by Minister of Health No. 492 / Menkes / Per / IV / 2010.The results showed that the Limun river has undergone chemical changes in physical characteristics. These symptoms can be seen from the discoloration of clear water in the river before the mine becomes brownish after mining, based on graphic of muddiness concentration: pH, TSS, TDS Cu, Pb, Zn, Mn, Hg have seen that  the illegal miner which used amalgamation caused deterioration in water quality, data from 2009 to 2015 Limun river and surrounding areas continue to experience a decrease in water quality. The decreasing of water quality showed in the TSS parameter which found in the area is to high based on  the standard of water quality class II pp number 82 of 2010. An increase in the value of average concentrations of mercury in the Batang Limun river before mine 0,18ppb (0.00018 mg / l) into 0,3ppb (0.0003 mg / l) on the river after the mine. The increase was affected by the mining activities and the value is still below the air quality standard Grade II pp numbers 82 years 2010, although the value is still below with the standards quality standard, the mercury levels in water should still be a major concern because if it accumulates continuously in the water levels will increase and will be bad for health. In contrast to the concentration of mercury in sediments that have a higher value is 153 ppb (0,513ppm ) .Key Words :   Water Quality, Limun River, Mercury, Illegal gold mining
2017-01-26 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/10969 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v14i3.10969
1672002 #5790 LITOSTRATIGRAFI CEKUNGAN OMBILIN BERDASARKAN INTERPRETASI CITRA SATELIT -, Yuyun Yuniardi
Stratigraphy of Ombilin Basin area was interesting for make some research. The research did use remote sensing interpretation to made geological interpretation map which is containing information about lithostratigraphic unit distribution in Ombilin Basin area. LithoStratigraphic of Ombilin Basin from old to young were Brani Formation, Sangkarewang Formation, Sawahlunto Formation, Sawahtambang Formation, and Ombilin Formation.
Ombilin Basin, Remote Sensing, Lithostratigraphic 2010-04-03 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8241 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v8i1.8241
1672001 #5790 EVOLUSI SESAR MENDATAR Studi kasus pada Tambang Emas Bawah Permukaan Cineam, Tasikmalaya, Jawa Barat Muljana, Budi
Secara geologi daerah penelitian termasuk kedalam Formasi Jampang yang tersusun umumnya oleh breksi andesit (volcanogenic) yang telah mengalami proses hydrothermal fase epithermal sebagai akibat tektonik dan volkanisme yang kuat. Cebakan emas pada daerah ini diperkirakan terbentuk sebagai emas native dalam urat-urat kuarsa yang biasanya berasosiasi dengan mineral-mineral sulphida seperti pirit halus, kalkopirit, sphalerit, galena dimana semua mineral tersebut sebagai indikator cebakan emas.Aktifitas penambangan pada daerah ini telah dilakukan sejak lama, terutama pada penambangan emas bawah permukaan. Yang menjadi masalah utama adalah metode penambangannya masih relatif tradisional tanpa mengindahkan aspek-aspek keamanan dalam penambangan. Faktor keamanan ini dapat diketahui dengan memperhatikan kondisi tektonik berupa arah tegasan dari sesar yang berkaitan dengan skala daerah penelitian.
2023-08-09 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/48495 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v21i2.48495
1672000 #5790 ZONASI ANOMALI UNSUR GEOKIMIA DI WEDA, KABUPATEN HALMAHERA TENGAH, MALUKU UTARA BERDASARKAN DATA UNIVARIAT DAN MULTIVARIAT Fadhly, Ahmad
Syafri, Ildrem
Abdurrokhim, .
ABSTRACTThe research area is located in the Weda Region, Central Halmahera Regency, is a path of metal mineralization which belongs to the Halmahera magmatic arc. The study area has a coverage area of 10 km x 15 km. The purpose of this study is to reveal the availability of major elements content (Cu, Pb, Zn, Co, Ni, Mn, Ag, Li, K, Fe, Cr and Au) on river deposits in the form of maps of the major elements content. Geochemical data collection is done on intermittent river. The identification of the metal content of the samples taken was done in the PSMBP geochemistry laboratory using the Atomotic Absorbtion Spectrometry Logametri (AAS) method. A total of 12 elements have been analyzed for the levels in the highest samples of stream sediment and treated to obtain anomaly zone. In this case SPSS 21.0 software is used for identification anomaly based on the correlation value between elements, then the research area there are two elemental associations that have kinship in accordance with univariate statistics, multivariate with factor analysis test. The two elemental association elements: 1) Ni-Co-Li-K-Cr. The formation of Factor 1 shows a strong relationship between Ni as well as the associations Co, Li, K and Cr associated with the regional geological conditions of the study area, which is occupied by rock dominance mafic rock and ultramafiic rock. 2) Cu-Zn-Mn-Ag-Fe. The formation of Factor 2 was obtained based on the incorporation of geochemical data analysis results reflected from elemental associations in the surface environment of the Sulfide Ore Complex. The existence of this mineral is closely related to hydrothermal alteration. Keywords: Geochemistry, mineralization, Atomotic Absorbtion Spectrometry Logametri (AAS) method. ABSTRAKDaerah penelitian terletak di Daerah Weda, Kabupaten Halmahera Tengah, merupakan jalur mineralisasi logam yang termasuk ke dalam Halmahera magmatic arc, dan mempunyai cakupan wilayah 10 km x 15 km. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan keterdapatan kandungan unsur logam (Cu, Pb, Zn, Co, Ni, Mn, Ag, Li, K, Fe, Cr dan Au) pada endapan sungai dalam bentuk peta kandungan unsur logam tersebut. Pengambilan data geokimia dilakukan pada sungai intermitten. Identifikasi kandungan unsur logam dari contoh yang diambil dilakukan di laboratorium geokimia PSMBP menggunakan metoda Atomotic Absorbtion Spectrometri Logametri (AAS). Sebanyak 12 unsur telah dianalisis kadarnya di dalam percontohan sedimen sungai dengan kadar yang tertinggi dan diolah untuk mendapatkan zona anomalinya. Dalam hal ini software SPSS 21.0 dipakai untuk penentuan anomalinya berdasarkan nilai korelasi antar unsur, maka di daerah penelitian terdapat dua asosiasi unsur yang memiliki kekerabatan sesuai dengan data statistik univariat, multivariat dengan uji analisis faktor. Kedua asosiasi kekerabatan unsur tersebut adalah: 1) Ni- Co -Li-K-Cr, Pembentukan Faktor 1 memperlihatkan adanya hubungan yang kuat antara Ni serta asosiasi Co, Li, K dan Cr yang dikaitkan dengan kondisi geologi regional daerah penelitian, yaitu ditempati oleh dominasi batuan beku basa dan ultrabasa. 2) Cu-Zn-Mn-Ag-Fe. Pembentukan Faktor 2 didapat berdasarkan penggabungan hasil analisis data geokimia yang tercerminkan dari asosiasi unsur di lingkungan permukaan Komplek Bijih Sulfida. Keberadaan mineral ini erat kaitannya dengan alterasi hidrotermal. Kata Kunci: Geokimia, mineralisasi, metoda Atomotic Absorbtion Spectrometri Logametri (AAS).
2017-12-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15102 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v15i3.15102
1671999 #5790 PETROLEUM SYSTEM CEKUNGAN KUTAI BAGIAN BAWAH, DAERAH BALIKPAPAN DAN SEKITARNYA, PROPINSI KALIMANTAN TIMUR -, Yuyun Yuniardi
Oil and gas potential in Lower Kutai Basin were probably exist, those condition have checked from well petroleum system to support oil and gas accumulation in this area. Data integration of source rock, reservoir rock, cap rock, trap assotiation, and migration system in Lower Kutai Basin could be doing advance research to proving oil and gas accumulation.
Petroleum System, Kutai Basin 2012-04-03 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8274 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v10i1.8274
1671998 #5790 EVOLUSI METAMORFISME METAVOLKANIK DI DAERAH CIGABER DAN SEKITARNYA, KABUPATEN LEBAK Patonah, Aton
Alfadi, Muhammad Kurniawan
Penelitian dilakukan di daerah Cipeundeuy dan sekitarnya, Kabupaten Lebak dengan tujuan untuk mengidentifikasi karakteristik metavolkanik dengan pendekatan inklusi fluida primer yang terjebak pada mineral kuarsa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metavolkanik tersusun atas sekis biotit klorit dan sekis klorit yang diduga berasosiasi dengan burial metamorphism, dicirikan dengan kehadiran struktur milonit, eye’s texture, dan relik tekstur plagioklas sebagai jejak protolith vulkanik. Selanjutnya, hasil identifikasi inklusi fluida primer yang terjebak dalam kuarsa memperlihatkan cluster dan trail texture diduga berasosiasi dengan syn-metamorphism dari awal - akhir metamorfisme sampai ekshumasi. Adapun komposisi fluida didominasi oleh dua fase likuid+gas dan 1 fase tunggal berupa likuid, semuanya berasal dari air metamorfik. Hasil pengukuran mikrotermometer menunjukkan bahwa temperatur pembentukan metavolkanik, sekis biotit klorit, pada 310°C - 340°C dan tekanan 92,64 Bar - 113,34 Bar dengan kedalaman sampai 1.377,81 meter. Batuan ini mengalami penurunan derajat metamorfismenya sampai 233oC dengan tekanan sampai 13.47 Bar. Ini menunjukkan bahwa batuan tersebut diperkirakan terangkat sampai kedalaman 45.24 meter. Hal ini didukung dengan kehadiran struktur brittle berupa urat yang diisi oleh epidot, klorit, dan kuarsa sebagai hasil dari pos metamorfisme; dan penggantian biotit oleh klorit pada batuan metavolkanik.
2024-12-27 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/59074 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v22i3.59074
1671997 #5790 Duboisia santeng (BOVIDAE, ARTIODACTYLA) DARI BUMIAYU Suharyogi, Ifan Yoga Pratama
Wibowo, Unggul Prasetyo
Insani, Halmi
Setiyabudi, Erick
Telah ditemukan sebuah spesimen fosil tanduk bovidae sebelah kiri pada penelitian lapangan tahun 2016 di Kali Santanaya, Cisaat (Bumiayu). Fosil tanduk tersebut disebandingkan dengan fosil Boselaphus tragocamelus, Tetracerus quadricornis, Bibos palaeosondaicus, Bibos javanicus, Bubalus palaeokerabau, Epileptobos groeniveldtii, dan Duboisia santeng berdasarkan morfologi dan ukurannya. Walaupun merupakan temuan permukaan, namun berdasarkan analisa geologinya disimpulkan berasal dari Formasi Gintung dan berdasarkan biostratigrafi fauna vertebrata dimungkinkan termasuk Unit Fauna Kedung Brubus dengan lingkungan hidup berupa lingkungan hutan yang terbuka.
2019-04-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/20639 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v17i1.20639
Menampilkan 1.161 - 1.180 dari total 1.550.696 data