| ID ↓ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1671876 | #7423 | ANALISIS KOMUNIKASI PEMASARAN BERBASIS MEDIA SOSIAL DI KALANGAN RESTORAN ELIT DAN MENENGAH DI KOTA BANDUNG |
Esperanza, Dhany Fatimah, Sri Kusno, Rani A. B. |
ABSTRAKKeberlanjutan sektor pertanian saat ini menjadi isu besar terkait dengan semakin menurunnyaaktivitas sektor pertanian. Kegiatan kuliner sesungguhnya mampu menggerakkan hulu dan hiliragribisnis dalam bentuk produksi input kuliner yaitu bahan-bahan mentah hasil pertanian. Sektorkuliner juga menjadi kegiatan yang dilirik generasi muda sebagai pilihan usaha, namun masihbanyak entrepreneur yang memerlukan pencerahan untuk dapat berkembang. Antara lain dalam halakses ke konsumen melalui promosi dan secara khusus pemilihan media promosi. Pada saat inimedia sosial dipandang dapat mengefektifkan upaya promosi. Tujuan penelitian adalah untukmengetahui karakteristik konsumen di restoran elit dan menengah Kota Bandung, juga mengetahuidampak media sosial bagi penyedia jasa kuliner. Penelitian ini menggunakan metode kualitatifdengan teknik studi kasus dan analisis deskriptif. Penelitian dilaksanakan di beberapa lokasi restoranyang mewakili klaster elit dan menengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa restoran klaster elitdinilai belum cukup intensif menggunakan saluran pemasaran berbasis media sosial, sedangkanrestoran menengah dinilai bahwa penggunaan media sosial tidak berpengaruh terhadap kondisirestoran saat ini. Konsumen dari kedua klaster restoran senang menginformasikan restoran melaluimedia sosial bila memiliki keunikan.Kata kunci: media sosial, kuliner, promosi, agribisnis, studi kasusABSTRACTSustainability of the agricultural sector is currently a major issue due to decline in its activities.Culinary is actually able to move upstream and downstream agribusiness, namely culinary rawmaterials from agricultural products. As well, younger generation sees culinary as the choice ofbusiness, despite entrepreneurs still need awareness to be able to thrive. Particularly access toconsumers through promotions and specific opt for media campaign. At the time being social mediais seen for its superiority to further facilitate and streamline promotional efforts. This study aims tounderstand the characteristics of consumers in elite and medium-class restaurants in Bandung city,also knowing the impact of social media for culinary service providers. The results showed that theelite restaurant cluster was considered not sufficiently using social media as marketing mean, whilethe medium-class restaurants was regarded indifferent to its current condition despite using socialmedia. Consumers of both clusters pleased to inform the restaurant via social media when it isunique.Keywords: social media, culinary, promotion, agribusiness, case study
|
2016-12-23 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22718 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v1i2.22718 | |
| 1671875 | #7423 | DINAMIKA AGROINDUSTRI GULA INDONESIA: TINJAUAN ANALISIS SISTEM |
Heryanto, Mahra Arari Suryatmana, Eddy Renaldi |
AbstrakAgroindustri gula memiliki peran yang penting dan strategis bagi ekonomi masyarakat Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda sampai dengan saat ini. Produksi gula mengalami stagnasi sejak tahun 1994, ditandai dengan produksi yang menurun sementara permintaan terus bergerak naik. Sementara itu, impor gula terus dilakukan dan cenderung meningkat seiring dengan permintaan yang terus bertambah. Artikel ini menganalisis kompleksitas persoalan yang mengakibatkan berbagai dinamika dalam agroindustri gula terutama stagnasi produksi gula nasional. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan analisis sistem berdasarkan data sekunder dan literatur mengenai berbagai indikator yang terkait dengan agroindustri gula. Hasil pembahasan menunjukan bahwa dinamika agroindustri gula Indonesia yang cenderung mengalami kemunduran diakibatkan oleh inefisensi usahatani tebu, inefisiensi usaha pabrik gula/PG, dan distorsi oleh pasar gula internasional. Inefisiensi usahatani tebu berdampak langsung kepada inefisiensi PG dalam rantai agroindustri gula. Sementara itu, persoalan kompetisi penggunaan lahan antara tanaman padi dan tebu secara tidak langsung berimplikasi kepada inefisiensi PG. Inefisiensi agroindustri gula kemudian menjadi lebih kompleks dengan adanya distorsi harga gula di pasar internasional yang menjatuhkan harga gula dunia. Guna mengatasi dinamika persoalan di atasm pengembangan industri tebu sebaiknya dilakukan oleh pihak swasta dengan mengoptimalkan lahan pertanian di luar Jawa.Kata Kunci: tebu, analisis sistem, impor gula, usahatani, hargaAbstractSugar agroindustry has an important and strategic role for Indonesia since from the Dutch colonial era until present. Sugar production has been stagnating since 1994, indicated by decreasing production while demand continues to rise. Meanwhile, sugar import continues and tended increasing in line with growing demand. This article analyses the problems complexity of that have resulted various dynamics in sugar agroindustry, especially the stagnation of national sugar production. The method used is a systems analysis approach which based on secondary data and literature review on various indicators related to sugar agroindustry. The result show that the dynamics of Indonesia's sugar agroindustry which tends to decline caused by inefficiency in sugarcane farming, inefficiency of sugar factories/PG, and distortion by the international sugar market. Inefficiency in sugarcane farming has a direct impact on the inefficiency of PG in the sugar agroindustry chain. Meanwhile, the issue of land use competition between rice and sugar cane, indirectly has implications for PG inefficiency. Sugar agroindustry inefficiency then became more complex with the distortion of sugar prices on the international market which dropped international sugar prices. In order to overcome the problems, the development of sugarcane industry should be carried out by private sector by optimizing agricultural land outside Java.Keywords: sugarcane, system analysis, imported sugar, farming, price
|
2020-12-16 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/32100 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v5i2.32100 | |
| 1671874 | #7423 | KONTRIBUSI PENDAPATAN PEREMPUAN PEDAGANG SAYUR DI PASAR PAGI KOTA PANGKALPINANG TERHADAP PENDAPATAN KELUARGA |
Pratami, Indah Evahelda, Evahelda Astuti, Rufti Puji |
AbstrakPeran perempuan dalam membantu perekonomi keluarga semakin meningkat pada saat ini, baik di sektor formal maupun informal, seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan yang diakibatkan peningkatan harga bahan pokok. Salah satu jenis pekerjaan di sektor informal adalah pedagang sayur yang dianggap relatif mudah karena tidak menuntut keahlian khusus, dapat dilakukan dengan modal kecil dan jumlah jam kerja yang tidak terlalu lama. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pendapatan dan kontribusi perempuan pedagang sayur terhadap pendapatan keluarga serta mengetahui hubungan antara variabel curahan waktu dengan variabel pendapatan perempuan sebagai pedagang sayuran di Pasar Pagi Kota Pangkalpinang. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan teknik sampling yaitu simple random sampling, sampel yang diambil sebanyak 30 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata perempuan pedagang sayur yang sewa lapak dan tidak sewa lapak di Pasar Pagi Kota Pangkalpinang yaitu sebesar Rp8.718.924,16 dan Rp3.386.139,28 per bulan. Kontribusi perempuan pedagang sayur yang sewa lapak dan tidak sewa lapak di Pasar Pagi Kota Pangkalpinang terhadap pendapatan keluarga dikatakan berkontribusi tinggi, yaitu sebesar 79% dan 72%, serta terdapat hubungan tidak signifikan atau tidak berarti antara tingkat curahan waktu kerja dengan pendapatan perempuan pedagang sayur di Pasar Pagi Kota Pangkalpinang.Kata kunci: kontribusi, perempuan, pedagang sayuran.AbstractThe phenomenon of women playing a role in helping the family's economy is currently increasing, one of which is developing, namely women who are vegetable traders at the Morning Market in Pangkalpinang City. This study aims to determine the income and contribution of women vegetable traders to family income. And to find out the relationship between the time allocation variable and the income variable of women as vegetable traders in the Morning Market of Pangkalpinang City. The method used in this research is a survey method with a sampling technique that is simple random sampling, the sample is taken as many as 30 respondents. Data analysis techniques used are income analysis, descriptive statistical analysis and Spearman rank correlation analysis. Based on the results of the study, it was found that the average income of female vegetable traders who rented stalls and did not rent stalls at the Morning Market in Pangkalpinang City was Rp. 8,718,924.16 and Rp. 3,386,139.28 per month. The contribution of women vegetable traders who rent stalls and do not rent stalls in Pasar Pagi Pangkalpinang City to family income is said to have a high contribution of 79% and 72%, respectively. The results also found that there was an insignificant or insignificant relationship between the level of working time and the income of women vegetable traders at the Morning Market, Pangkalpinang City.Keywords: contribution, woman, vegetable trader.
|
Agribisnis | 2023-03-06 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40760 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v7i2.40760 |
| 1671873 | #7423 | KONDISI DAN POTENSI WILAYAH PESISIR KABUPATEN BANTUL SEBAGAI SENTRA BUDIDAYA TAMBAK UDANG BERKELANJUTAN DI PANTAI SELATAN INDONESIA |
Cahyaningrum, Desti Christian Gunawan, Wawan Rosmiati, Mia |
ABSTRAKPeluang peningkatan perekonomian melalui kegiatan budidaya udang masih sangat terbuka bagiIndonesia, namun harus memperhatikan aspek keberlanjutan usaha budidaya maupun lingkungan.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi dan potensi wilayah pesisir Kabupaten Bantulsebagai sentra budidaya tambak udang berkelanjutan di pantai selatan Indonesia. Metode yangdigunakan adalah studi kasus melalui observasi dan wawancara, serta analisis data secara deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi tambak udang dilihat dari aspek lingkungan memilikikualitas air yang baik akibat tidak adanya pencemaran dari luar, karena kawasan tersebut bukanmerupakan wilayah industri. Namun, keberadaan tambak dikawatirankan dapat merusak lingkunganapabila tidak dikelola dengan baik. Kondisi yang ada saat ini menunjukkan bahwa pengelolaantambak masih kurang baik karena tidak adanya sistem pengolahan limbah yang berdampak padamunculnya penyakit berak putih udang pada tahun 2016. Dilihat dari aspek ekonomi, keberlanjutanterjadi karena permintaan ekspor udang yang masih sangat tinggi dan belum bisa terpenuhi. Aspeksosial menunjukkan bahwa lokasi tambak udang di wilayah penelitian menimbulkan konflik sosialdengan adanya permasalahan status kepemilikan lahan, perijinan usaha, serta benturan dengankebijakan pemerintah setempat.Kata kunci: potensi, tambak udang, pesisir Bantul, konflik, berkelanjutanABSTRACTOpportunities to increase the economy sector by shrimp ponds farming activities are still very openfor Indonesia, but must consider the aspect of the sustainability of the cultivation and theenvironment. This study aims to examine the condition and potency of thr coastal areas of BantulRegency as a center for sustainable shrimp ponds farming in the southern coast of Indonesia. Themethod used is case study through observation and interview. then data were analysed descriptively.The results showed that the condition of shrimp ponds in terms of environment has good air qualitydue to the absence of pollution from the outside, because there is not an industrial area. However,the existence of the ponds are considered to damage the environtment if not properly managed. Inaddition, the condition of pond management is still not good because there is no sewage treatmentsystem, and cause the disease berak putih in 2016. From the economic aspect, the sustainability iscaused by the great number of demand that can not to be fulfill yet. Social aspects show that locationof shrimp ponds emerge conflict by the problems of land-planting status, business licensing, andcollision with the government.Keywords: potency, shrimp farm, Bantul’s coastal, conflict, sustainability
|
2019-07-23 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15072 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v2i1.15072 | |
| 1671872 | #7423 | STRATEGI PEMBERDAYAAN KOPERASI “LOLIT TUNGRO” DALAM MENDUKUNG PEREKONOMIAN PETANI |
Akhsan, Akhsan Rahim, Abd |
AbstrakKoperasi Lolit Tungro merupakan salah satu koperasi yang bergerak di bidang pengembangan agribisnis pedesaan. Koperasi Lolit Tungro senantiasa berupaya untuk mensejahterakan anggota dan petani melalui berbagai strategi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis Srategi yang digunakan oleh koperasi Lolit Tungro untuk meningkatkan produktivitas petani yang diharapkan berimbas pada perbaikan perekonomian petani. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif-interaktif yang menekankan pada pendalaman bahan kajian kepada objek penelitian. Data yang diperoleh dilakukan proses reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh strategi koperasi Lolit Tungro dalam mendukung pertanian yaitu: Peningkatan Kapasitas Anggota, Pengembagan usaha anggota, dan peningkatan kesejahteraan anggota.Kata Kunci: Koperasi, strategi, ekonomi.AbstractLolit Tungro Cooperative is a rural agribusiness co-op working to improve the lives of farmers and members. This study looks into the strategies they use to help farmers boost their productivity and, in turn, their economic situation. Using a qualitative-interactive approach, we delved deep into the cooperative's operations. Our findings show that Lolit Tungro focuses on three main strategies: enhancing members' skills, growing their businesses, and improving their overall well-being.Keywords: Cooperative, strategy, economy.
|
Sosial Ekonomi Pertanian, Agribisnis | 2025-02-12 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/59437 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v9i2.59437 |
| 1671871 | #7423 | KESEIMBANGAN HARGA DAN KUANTITAS PASAR SUSU SEGAR DI INDONESIA |
Ichdayati, Lilis Imamah Dwiningsih, Eny Putri, Risma Kurnia |
Produksi susu dalam negeri hanya mampu memenuhi kebutuhan permintaan konsumsi susu sebesar 30 % saja, sisanya 70 % dipasok dari impor. Di sisi lain tingkat konsumsi susu perkapita Indonesia relatif rendah. Hal ini menjadi peluang bagi usaha ternak sapi perah dalam menyediakan susu sapi segar. Tujuan penulisan artikel ini adalah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi biaya produksi susu segar, harga dan kuantitas susu segar sebagai keseimbangan permintaan dan penawaran dalam pasar susu segar. Sumber data sekunder periode 1993-2017. Instrumen analisis menggunakan metode persamaan simultan two stage least square (2LSL).Hasil analisis adalah model persamaan biaya produksi susu segar dipengaruhi oleh variabel biaya pakan, listrik dan air, obat-obatan dan bahan bakar. Model persamaan produksi susu segar dipengaruhi oleh variabel jumlah sapi laktasi dan jumlah pakan konsentrat. Dari sisi pasar susu segar, model persamaan penawaran susu segar dipengaruhi oleh variabel jumlah susu segar dan harga teh sebagai komplementer, diikuti varibel harga susu segar dan harga kopi sebagai substitusi. Sedangkan dari model persamaan permintaan yang berpengaruh adalah variabel pendapatan perkapita, jumlah produksi, harga teh dan harga kopi sebagai produk komplementer dan substitusi. Model persamaan harga susu segar dipengaruhi oleh variabel total biaya produksi dan jumlah permintaan susu segar.
|
2020-02-14 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/25358 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v4i2.25358 | |
| 1671870 | #7423 | MINAT ANGGOTA KELOMPOKTANI TERHADAP PENERAPAN GOOD AGRICULTURAL PRACTICES (GAP) PADA KOMODITAS CABAI MERAH (Capsicum annuum L.) DI KECAMATAN TAROGONG KALER KABUPATEN GARUT |
Zaini, Muhamad Fahrul Maryani, Ait Maryani, Ait Musyadar, Achmad Musyadar, Achmad |
AbstrakPeraturan Menteri Pertanian Nomor 48 Tahun 2009 mengamanatkan pelaksanaan pedoman budidaya buah dan sayur yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP) pada tingkat petani sebagai upaya perwujudan pertanian berkelanjutan dan peningkatan produktivitas hasil. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) mendeskripsikan karakteristik responden, (2) mengetahui tingkat dukungan faktor eksternal dan minat responden dan (3)mengetahui faktor eksternal yang berpengaruh terhadap minat anggota kelompoktani pada penerapan GAP cabai merah. Unit analisis adalah individu, anggota kelompoktani responden penelitian. Populasi dalam penelitian adalah semua petani yang berada di Desa Rancabango, Sirnajaya dan Panjiwangi, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut. Diambil sampel petani sebanyak 50 orang responden dengan menggunakan rumus slovin. Pengambilan sampel petani menggunakan teknik cluster random sampling method. Metode pengambilan data menggunakan metode wawancara terstruktur, pengisian kuesioner dan studi pustaka. Analisis data dalam penelitian ini mencangkup (1) analisis deskriptif, distribusi frekuensi; (2) analisis inferensial regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukan; (1) mayoritas responden berusia produktif, tingkat pendidikan rendah, cukup berpengalaman dan memiliki luas lahan sempit (2) indikator faktor eksternal dan indikator minat petani memiliki indeks rata-rata pada kategori sedang, tinggi dan sangat tinggi; (3) Analisis regresi linear berganda menunjukan indikator faktor eksternal berpengaruh nyata secara simultan dan parsial terhadap minat anggota kelompoktani dalam penerapan GAP cabai merah, dengan arah pengaruh positif.Kata Kunci: faktor eksternal, minat petani, GAPAbstractMinister of Agriculture Regulation No. 48/2009 mandates the implementation of Good Agricultural Practices (GAP) guidelines at the farm level as an effort to achieve sustainable agriculture and increase yield productivity. This research aims to; (1)describe the characteristics of respondents, (2 find out the level of support of external factors and the interests of respondents and (3) find out the external factors that affect the interest of group members in the application of the red chili GAP. The unit of analysis is the individual, group members of the respondents of the study. The population in this study were all farmers in the villages of Rancabango, Sirnajaya and Panjiwangi, District of Tarogong Kaler, Garut Regency. Samples of farmers were taken as many as 50 respondents using the Slovin formula. Farmer sampling using cluster random sampling method. The data collection method uses structured interview methods, questionnaires and literature study. Analysis of the data in this study includes (1) descriptive analysis, frequency distribution; (2) inferential analysis of multiple linear regression. The results showed (1) The majority of respondents were of productive age, low level of education, experienced enough and had narrow land (2) indicators of external factors and indicators of farmer interest had an average index in the medium, high and very high categories; (3) Multiple linear regression analysis shows the external factors indicators have a significant and simultaneous effect on the interest of farmer group members in the application of red chili GAP, with the direction of positive influenceKey Word : external factors, farmer interest, GAP
|
2021-08-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28890 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v6i1.28890 | |
| 1671869 | #7423 | KAJIAN PENGEMBANGAN INDUSTRI GULA KRISTAL PUTIH INDONESIA |
Fikri, Rasheeda Ernah, Ernah |
AbstrakGula merupakan salah satu bahan pokok yang diperdagangkan di seluruh dunia yang berbahan dasar tanaman tebu. Namun, saat ini produksi gula yang dihasilkan cenderung menurun setiap tahunnya dan tidak dapat memenuhi permintaan Gula Kristal Putih (GKP) masyarakat Indonesia sehingga pemerintah melakukan impor gula kristal mentah atau raw sugar untuk menutup kekurangan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaan dan strategi pengembangan industri GKP Indonesia berdasarkan analisis matriks IFAS, EFAS, IE, dan analisis SWOT. Metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara kepada informan dan studi literatur yang akan dibahas secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri GKP Indonesia masih aman karena berada pada sel V, yaitu posisi hold and maintain. Faktor yang dapat dipertahankan pada industri GKP adalah sumber daya lahan yang tersedia di luar Pulau Jawa, kapasitas produksi yang besar, kebutuhan pasar gula tinggi, dan investasi pabrik gula terbuka. Sementara faktor yang harus dipelihara adalah produksi tebu, laju konversi lahan, penggunaan teknologi, serta adopsi teknologi modern. Berdasarkan posisi tersebut, industri GKP Indonesia dapat berkembang dengan menerapkan strategi W – T yaitu pembenahan sistem pendanaan dan memperbaiki sistem tata niaga gula.Kata Kunci: produktivitas, strategi, gula kristal putih, pabrik gula, produksi.AbstractSugar is one of the main commodities traded worldwide which is made from sugar cane. However, currently the production of sugar produced tends to decrease every year and cannot meet the demand for white crystal sugar for the Indonesian people, so the government closes the shortage of sugar by importing raw crystal sugar or raw sugar. This study aims to analyze the performance and development strategy of the Indonesian white crystal sugar industry (GKP) based on matrix analysis of IFAS, EFAS, IE, and SWOT analysis. The data collection method was carried out through interviews with informants and literature studies which will be discussed in a qualitative descriptive manner. Based on the results of the research, it shows that the Indonesian white crystal sugar industry is still safe because it is in cell V, namely the hold and maintain position. Factors that can be maintained in the GKP industry are available land resources outside Java Island, large production capacity, high demand for sugar market, and investment in open sugar mills. While the factors that must be maintained are sugar cane production, land conversion rate, use of technology, and the adoption of modern technology. Based on this position, Indonesia's white crystal sugar industry can develop by implementing the W-T strategy, namely improving the funding system and improving the sugar trading system.Keywords: productivity, strategy, white crystal sugar, sugar factory, production.
|
Agribisnis | 2024-02-14 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/44984 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v8i2.44984 |
| 1671868 | #7423 | KESESUAIAN LAHAN UNTUK SISTEM AGROFORESTRY DI KABUPATEN PURWOREJO BERDASARKAN POTENSI PERTANIAN SETEMPAT |
Widiyanto, Ary Suhartono, Suhartono |
ABSTRAK Sektor pertanian berkontribusi sekitar 31% pada pendapatan domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Purworejo. Meskipun demikian, pada beberapa tahun terakhir terjadi alih guna lahan pertanian menjadi non-pertanian. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan ekstensifikasi lahan pertanian di lahan hutan atau disebut agroforestry. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesesuaian lahan untuk agroforestry dengan mempertimbangkan potensi pertanian dan produk unggulan setempat. Metode yang digunakan adalah dengan pengecekan lokasi (ground check) dan menggunakan Sistem Informasi Geografis menggunakan software Arc GIS. Hasil penelitian menunjukan, di kabupaten Purworejo, sekitar 7.731 ha atau 7,47% termasuk kategori sesuai dan sekitar 5.715 atau 5,56% termasuk kategori sedang untuk pengembangan agroforestry. Lokasi terluas untuk pengembangan agroforestry adalah di Kecamatan Kemiri dengan area seluas 2.578 ha. Produk pertanian unggulan setempat yang direkomendasikan adalah kambing etawa (PE) dalam pola agrosilvopasture, tanaman penghasil obat (temulawak, kajibeling, lempuyang) dibawah tegakan pinus dalam pola silvofarmaka, dan papaya, manggis, dan durian dikombinasikan kayu sengon (Paraserianthes falcataria) dalam pola agrosilvikultur. Kata kunci: Agroforestry, kesesuaian lahan, potensi pertanian, produk unggulan ABSTRACT Agricultural sector contributed about 31% to Purworejo Regency’s Gross Regional Domestic Product (GRDP). Nevertheless, there were many land uses changing from agriculture to non-agriculture in recent years. One solution to overcome this problem is agriculture extensification in forest land, or known by agroforestry system. This research aimed to study land suitability for agroforestry system by considering local agricultural potensial and superior. The methods used are ground check and by using Geographical Information System with Arc GIS software. The results show that, in Purworejo Regency, about 7.731 ha or 7,47% of area is categorized as suitable and about 5.715 or 5,56% is categorized as medium for agroforestry system. The largest area for agroforestry development is Kemiri sub district with total area 2.578 ha. Local agricultural products recommendation is etawa goat (PE) in agrosilvopasture pattern, medicinal plants (temulawak, kajibeling, lempuyang) under pine tree in silvofarmaka pattern, and papaya, mangosteen, and durian combine with sengon (Paraserianthes falcataria) in agrosilvikultur pattern. Keywords: Agroforestry, land suitability, agricultural potential, superior products
|
2019-12-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15146 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v2i2.15146 | |
| 1671867 | #7423 | PENERAPAN PRINSIP PEMBIAYAAN DALAM PENILAIAN KREDIT KEPADA PETANI CABAI DI KECAMATAN PARAKANSALAK KABUPATEN SUKABUMI |
Putri, Anggi Aulia Milla, Amalia Nur Meilani, Ema Hilma |
AbstrakAkses permodalan menjadi aspek penting guna mendukung keberlanjutan usaha tani, khususnya bagi petani hortikultura seperti petani cabai. Namun, tidak semua petani memiliki akses yang mudah dalam memperoleh kredit karena berbagai persyaratan dan mekanisme yang diterapkan oleh lembaga pembiayaan. Penelitian ini berfokus pada bagaimana petani cabai di Kecamatan Parakansalak memandang dan mengalami penerapan prinsip pembiayaan dalam proses pengajuan dan penilaian kredit. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bagaimana prinsip pembiayaan diterapkan, melalui prinsip 5C (character, capacity, capital, collateral, dan condition) sebagai indikator utama akses permodaln. Hasil penelitiann menunjukkan bahwa prinsip pembiayaan ini masih secara aktif di praktikkan baik oleh lembaga keuangan formal maupun nonformal. Namun petani masih menghadapi berbagai tantangan dalam mengakses kredit seperti kendala ekonomi, sosial, dan risiko alam yang mempengaruhi produksi. Sumber pembiayaan yang dimanfaatkan berasal dari berbagai saluran baik lembaga formal maupun nonformal.Kata kunci: Petani cabai, permodalan pertanian, akses kredit, prinsip pembiayaan.AbstractAccess to capital is an important aspect to support the sustainability of farming, especially for horticultural farmers such as chili farmers. However, not all farmers have easy access to credit due to various requirements and mechanisms applied by financing institutions. This research focuses on how chili farmers in Parakansalak Sub-district perceive and experience the application of financing principles in the process of applying for and assessing credit. The main objective of this research is to identify how financing principles are applied, particularly the 5C principles (character, capacity, capital, collateral, and condition) as a key indicator of access to capital. The results show that these financing principles are still actively practiced by both formal and non-formal financial institutions. However, farmers still face various challenges in accessing credit such as economic, social, and natural risks that affect production. The sources of financing utilized come from various channels both formal and non-formal institutions.Keywords: Chili farmers, agricultural capital, credit access, financing principles.
|
Agribisnis | 2025-07-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63095 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i1.63095 |
| 1671866 | #7423 | ANALISIS SISTEM SOSIAL-EKOLOGI LADA PUTIH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG |
Heryanto, Mahra Arari Nugraha, Adi |
ABSTRAKLada putih merupakan komoditas perkebunan yang seluruhnya dikembangkan oleh perkebunan rakyat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penurunan harga lada putih yang cukup drastis di tingkat petani menjadi persoalan yang dihadapi oleh petani, hal ini menandakan persoalan sosial dalam bidang ekonomi yang berimplikasi kepada persoalan ekologi, yaitu penurunan produktivitas. Hasil penelitian menunjukan bahwa Sistem sosial dan sistem ekologi dalam usahatani lada putih membentuk umpan balik (feedback loop) yang sangat banyak, sehingga sistem sosial dan ekologi tidak bisa dipisahkan. Produksi lada putih, keputusan penanaman lada dan sistem kolektif adalah tiga unsur utama dengan kompleksitas tertinggi dalam sistem sosial-ekologi lada putih. Rekayasa sosial (kelembagaan) yang mengarah kepada penguatan sistem kolektif (kelompok) perlu banyak dilakukan bersamaan dengan insentif teknologi pasca panen yang memadai agar keberlanjutan komoditas lada putih dapat terjaga, baik secara sosial maupun ekologi.Kata kunci: Keberlanjutan, Sistem Sosial, Sistem Ekologi, Ekonomi, Lada Putih ABSTRACTWhite pepper is a plantation commodity which is developed by smallholder in the Bangka Belitung Province. Declining price of white pepper at farm level is a problem for the farmers, this indicates a social problem in economic that has implication ecologically, decrease of yield productivity. The research showed that social systems and ecological systems in white pepper farming establish many feedback loops, so that the social and ecological systems could not be separated. White pepper production, pepper planting decisions and the collective system are the three main elements which have highest complexity in the social-ecological system of white pepper. Social engineering (institution) through the strengthening of the collective (group) action system needs to be developed in line with post-harvest technology policy in order to create the sustainability in the white pepper commodity, both socially and ecologically.Keywords : Sustainability, Social System, Ecological System, Economy, White Pepper
|
2018-12-04 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/20882 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v3i2.20882 | |
| 1671865 | #7423 | PENINGKATAN KINERJA PENYULUH KEHUTANAN PADA PENGEMBANGAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN GOWA (STUDI KASUS KELOMPOK TANI HUTAN DI KECAMATAN TINGGIMONCONG) |
Ayyub, Erwin Ibrahim, Helda Yunus, Awaluddin Zain, Majdah M |
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengurai peningkatan kinerja penyuluh kehutanan pada program pengembangan hutan kemasyarakatan (HKm) melalui kompetensi penyuluh dalam berkomunikasi dengan kelompok tani perhutanan (KTH), pengetahuan teknis penyuluh pada pengelolaan hutan, kompetensi interpersonal, serta keterampilan penyuluh memecahkan masalah terkait pengelolaan HKm di Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa. Metode penelitian yang digunakan adalah survei kuantitatif yang melibatkan responden kelompok tani hutan (KTH) sebanyak 25 orang dipilih secara purposive sampling, dan 4 orang penyuluh kehutanan sebagai informan penelitian yang terlibat dalam pengelolaan hutan kemasyarakatan di Kecamatan Tinggimoncong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja penyuluh kehutanan atas pengelolaan hutan (HKm) ditinjau dari aspek kompetensi penyuluh dalam berkomunikasi, pengetahuan teknis, kompetensi interpersonal dan keterampilan penyuluh dalam memecahkan masalah, berada pada kategori “sangat baik”, dengan skala rata-rata presentase (90,8%). Penelitian ini memberikan rekomendasi peningkatan kompetensi penyuluh melalui pelatihan berkala, peningkatan keterampilan pemanfaatan teknologi informasi (e-extension) upaya mendukung penyuluhan yang lebih efektif dan efisien.Kata kunci: Peningkatan Kinerja, Penyuluh Kehutanan, Pengembangan Hutan Kemasyarakatan.AbstractThis study aims to analyze the improvement in the performance of forestry extension workers in the community forestry development program (HKm) through the extension workers' competence in communicating with forestry farmer groups (KTH), their technical knowledge of forest management, their interpersonal skills, and their problem-solving skills related to HKm management in Tinggimoncong Subdistrict, Gowa Regency. The research method used was a quantitative survey involving 25 forest farmer group (KTH) respondents selected by purposive sampling and four forestry extension workers as research informants involved in community forest management in Tinggimoncong Subdistrict. The results showed that the performance of forestry extension workers in forest management (HKm), in terms of their competence in communication, technical knowledge, interpersonal competence, and problem-solving skills, was in the “very good” category, with an average percentage scale of 90.8%. This study recommends improving the competence of extension workers through regular training, improving their skills in utilizing information technology (e-extension) to support more effective and efficient extension servicesKeywords: Performance Improvement, Forestry Extension Workers, Forest Development, Community Development.
|
FAKULTAS PERTANIAN; S2 AGRIBISNIS | 2025-12-22 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/66552 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i2.66552 |
| 1671864 | #7423 | KINERJA TENAGA PENDAMPING PROFESIONAL DI KABUPATEN ACEH BESAR |
Mujiburrahmad, Mujiburrahmad Deli, Anwar Manyamsari, Ira Yaqin, Muhammad Husnul |
AbstrakPeraturan Kementerian Desa Nomor 3 Tahun 2015 Tentang Pendamping Profesional, sebagai kegiatan untuk melakukan tindakan pemberdayaan masyarakat melalui asistensi, pengorganisasian, pengarahan dan fasilitasi Desa. Dalam Pasal 3 Ruang lingkup pendampingan Desa, Pendampingan masyarakat Desa dilaksanakan secara berjenjang untuk memberdayakan dan memperkuat Desa. Dalam pendampingan desa salah satu pihak yang berhadapan langsung dengan masyarakat adalah Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa. Tujuan dari penelitian ini adalah (a). Untuk mengetahui Kinerja Pendamping Lokal Desa di Kabupaten Aceh Besar, dan (b). Untuk mengetahui apa saja faktor berhubungan dengan Kinerja Pendamping Lokal desa di Kabupaten Aceh Besar. Pengambilan data diperoleh dari wawancara (survey) terhadap 12 Pendamping Lokal Desa di Kecamatan Indrapuri. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan model Skala Likert dan uji statistik Korelasi Spearman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kinerja Pendamping Lokal Desa di Kabupaten Aceh Besar memiliki peran yang sangat efektif untuk peningkatan program Pemberdayaan dan Pembangunan Desa (P3MD), sebesar 83,33% masuk kedalam kategori tinggi, dan sebesar 16,67% masuk kedalam kategori sedang. Hubungan karakteristik Eksternal memiliki hubungan dengan Kinerja Pendamping Lokal Desa antara lain yaitu Sarana Prasarana (X2.3), Jarak kerja (X2.1), dan Lingkungan Kerja (X2.2). Sedangkan untuk karakteristik Internal tidak memiliki hubungan yaitu Pendidikan (X1.1), Masa Kerja (X3.2), dan Usia (X1.3).Kata kunci: Kinerja, Pendamping, Masyarakat, Desa.AbstractMinistry of Village Regulation Number 3 of 2015 concerning Professional Assistance, as an activity to carry out community empowerment actions through village assistance, organization, direction and facilitation. In Article 3 the scope of Village assistance, Village community assistance is carried out in stages to empower and strengthen the Village. In village assistance, one of the parties who deal directly with the community is the Village Facilitator and the Village Local Facilitator. The aims of this research are (a). To find out the Performance of Local Village Facilitators in Aceh Besar District, and (b). To find out what factors are related to the Performance of Village Local Facilitators in Aceh Besar District. Data collection was obtained from interviews (surveys) of 12 Village Local Facilitators in Indrapuri District. The analytical method in this study uses a Likert Scale model and Spearman Correlation statistical test. The results of this study indicate that the Performance of Local Village Facilitators in Aceh Besar District has a very effective role in improving the Village Empowerment and Development (P3MD) program, 83.33% in the high category, and 16.67% in the medium category. The relationship of External characteristics has a relationship with the Performance of Local Village Facilitators, among others, namely Infrastructure (X2.3), Work Distance (X2.1), and Work Environment (X2.2). Meanwhile, the internal characteristics have no relationship, namely education (X1.1), tenure (X3.2), and age (X1.3).Keywords: Performance, Facilitator, Community, Village
|
2022-02-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/38070 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v6i2.38070 | |
| 1671863 | #5605 | Pemodelan Gerak Orbit Planet secara Komputasi Menggunakan Matlab |
Prakoso, Arif Bagus Adityas, Himawan Setianto, Mutahhari Nurhaqi, |
Hukum Kepler menyebutkan bahwa bentuk lintasan planet pada umumnyaberbentuk elips dengan eksentrisitas tertentu. Studi ini berfokus pada pembandingan dan penggunaan metode komputasi pada planet dan hasilnya. Metode yang lebih baik digunakan untuk variasi kecepatan dan pemodelan gerak planet. Dari dua metode yang digunakan; Euler dan Runge-Kutta orde 4; diperoleh metode Runge-Kutta lebih baik dalam hal kecepatan dan keakuratan. Step optimal diperoleh dengan besar 0.002. Orbit planet Terrestrial berhasil dimodelkan dan variasi kecepatan bumi yang memenuhi hukum Kepler berada dalam rentang 1.0π - 2.0π AU / tahun.
|
2019-01-29 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/20622 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v3i1.20622 | |
| 1671862 | #5605 | Karakteristik Calcium Carbonat (CaCO3) pada Cangkang Kerang Tiram (Crassosstrea Gigas) sebagai Material Baku Thermochemical Energy Storage (TCES) |
Kafrita, Nova Nazarudin, Nazarudin |
Material baku untuk proses Thermochemical energy storage (TCES) yang selama ini berasal dari bahan tambang yaitu CaCO3. CaCO3 bisa didapatkan dari cangkang organisme laut. Pada makalah ini bertujuan mengkaji pada temperatur berapa cangkang kerang tiram dapat menghasilkan CaCO3 yang dapat digunakan sebagai bahan baku Thermochemical energy storage (TCES) dan jenis mineral CaCO3. Sampel Cangkang kerang tiram (Crassosstrea gigas) disintering pada suhu selama 5 jam menggunakan Furnace. Produk sintering kemudian dikarakterisasi dengan X-Ray Diffraction (XRD). Hasil penelitian menunjukkan terjadinya peningkatan suhu sintering akan menguraikan senyawa CaCO3. Cangkang kerang tiram yang dapat menghasilkan CaCO3 tampa adanya senyawa lain yaitu cangkang kerang tiram yang dikalsinasi pada temperatur Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa cangkang kerang tiram yang dikalsinasi pada suhu berpotensi sebagai material baku Thermochemical energy storage (TCES).
|
2020-08-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/24914 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v4i2.24914 | |
| 1671861 | #5605 | Analisis Morfologi dan Struktur Karbon Aktif Kulit Salak Wedi dengan Aktivator Bertingkat |
Ardianti, Aprillia Dwi M. Ivan Ariful Fathoni, Pelangi Eka Yuwita, |
Karbon aktif merupakan bahan material yang berpotensi untuk dijadikan elektroda pada superkapasitor karena memiliki densitas energi yang lebih tinggi daripada baterai dan sel bahan bakar serta densitas daya yang lebih tinggi daripada kapasitor konvensional. Telah ada penelitian sebelumnya membuat karbon aktif dari tempurung kelapa dengan aktivator ZnCl2 menghasilkan karbon aktif dengan hasil luas permukaan spesifik yang besar dalam pembuatan elektroda superkapasitor. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan karbon aktif dari kulit salak wedi dengan variasi aktivator bertingkat ZnCl2 dan KOH. Karakteristik sifat fisis karbon aktif kulit salak wedi dianalisis menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) untuk melihat morfologi serbuk karbon aktif kulit salak. Pengujian menggunakan Difraksi sinar-X (XRD) untuk melihat struktur karbon aktif kulit salak yang berpotensi untuk dijadikan elektroda pada superkapasitorKata kunci: Karbon aktif, Salak, Aktivasi ZnCl2 dan KOH
|
2022-02-07 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/37720 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v6i1.37720 | |
| 1671860 | #5605 | Analisis Gugus Fungsi, Morfologi dan Ukuran Partikel Manganese Ferrite yang Disintesis dari Pasir Besi |
Kiswanto, Heri Nurhidayati, Indah Hendartono, Ario Harsono, Prijo Ngatmin, Ngatmin |
Manganese ferrite (Mn ferrite) telah berhasil disintesis dengan metode kopresipitasi pada suhu 60 ℃. Mn ferrite disintesis dari pasir besi sebagai prekusornya. Tujuan dari penelitian ini untuk mensintesis Mn ferrite dari pasir besi dan menganalisis gugus fungsi serta morfologinya. Sampel dibuat dengan memvariasikan NaOH yaitu 3 M, 6 M dan 9 M. Struktur kristal, gugus fungsi dan morfologi dikarakterisasi dengan X-ray Difractometer (XRD), Fourier Transform Infra Red (FTIR), dan Transmission Electron Microscopy (TEM). Hasil spektra FTIR mengkonfirmasi adanya gugus fungsi metal-oxide (M-O) pada kisi tetrahedral dan oktahedral pada bilangan gelombang masing-masing 462 cm-1 dan 578 cm-1. Hal ini diidetifikasi sebagai gugus Mn-O dan Fe-O sekaligus mengkonfirmasi pembentukan struktur spinel. Pengamatan morfologi menunjukkan bahwa sampel terlihat mengalami aglomerasi karena adanya interaksi magnetik. Hasil pengamatan ukuran partikel berada pada kisaran 30 – 50 nm yang diukur menggunakan software Image-J. Ukuran butir terlihat lebih besar dibandingkan hasil perhitungan ukuran kristalit berdasarkan data XRD karena sampel mengalami aglomerasi sehingga beberapa butir menggumpal menjadi satu dan terlihat seperti satu partikel.Kata kunci: Mn-ferrite, gugus fungsi, morfologi, ukuran partikel
|
2023-08-11 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/47022 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v7i2.47022 | |
| 1671859 | #5605 | Sifat Optik dan Struktur Kristal Material Perovskite yang Disintesis dari Baterai Bekas Mobil |
Bahtiar, Ayi Asy Syifa, Nabila Siti Nurazizah, Euis Safriani, Lusi |
Sel-surya berbahan aktif material perovskite telah banyak menarik perhatian banyak peneliti, karena mampu menghasilkan efisiensi di atas 20%, mendekati sel-surya komersial Silikon. Namun, material timbal halida (PbI2) sebagai material utama pembentuk material perovskite CH3NH3PbI3,harganya masih cukup mahal, sehingga menjadi kendala untuk dapat digunakan sebagai material aktif sel-surya, jika sel-surya diproduksi secara massal. Diperlukan sumber material lain yang tersedia melimpah, murah dan mudah dalam pemrosesannya untuk membuat material PbI2. Sebagai alternatif, sumber material timbal untuk membuat material timbal iodida (PbI2) yang tersedia melimpah adalah baterai mobil. Material elektroda dari baterai mobil terdiri dari timbal sebagai katoda dan timbal dioksida sebagai anoda. Material-material tersebut berupa bubuk sehingga mudah untuk disintesis menjadi PbI2 melalui reaksi kimia sederhana. Keberhasilan mensintesis material PbI2 dari material bekas elektroda mobil menjadi kunci bagi pengembangan sel-surya perovskite yang berbiaya murah. Telah dilakukan sintesis PbI2 dari elektroda bekas baterai mobil melalui reaksi kimia. Hasil pengukuran EDS menunjukkan bahwa PbI2 hasil sintesis memiliki kemurnian 95% dan memiliki komposisi atomik yang lebih baik daripada produk komersial. Spektra UV-Vis dan XRD dari film PbI2 hasil sintesis memiliki karakteristik yang sama dengan produk komersial, sehingga hasil sintesis ini dapat dijadikan sebagai material perovskite CH3NH3PbI3 untuk sel-surya. Material perovskite yang dispin-coating di atas lapisan titanium dioksida memperlihatkan struktur kristal perovskite. Hasil riset ini menunjukkan bahwa material elektroda baterai bekas mobil dapat dijadikan sebagai material aktif sel-surya perovskite yang murah, sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi limbah baterai bekas melalui pemanfaatan timbal menjadi material perovskite yang bernilai tinggi.
|
2017-07-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/12466 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v1i02.12466 | |
| 1671858 | #5605 | Pembuatan Prototipe Instalasi Uji Meter Air Elektronik Tipe Vertikal Metode Gravimetrik dan Pengaruh Kekeruhan terhadap Akurasi Pengukuran | Firmansyah, Dudi Adi |
Meter air merupakan alat ukur yang digunakan untuk menunjukan jumlah volume air atau laju alir dari fluida yang dialirkan melalui saluran pipa. Agar dapat menunjukan hasil pengukuran yang akurat, meter air harus dikalibrasi dengan memenuhi semua kondisi yang dipersyaratkan, termasuk di dalamnya kondisi air uji yang digunakan di dalam instalasi uji. Sesuai dengan Rekomendasi OIML R 49-2, air uji tersebut harus memenuhi persyaratan air minum, tidak mengandung bahan yang dapat merusak meter air dan berbahaya bagi manusia. Salah satu parameter kualitas air yang dapat merusak meter air adalah tingkat kekeruhan. Untuk menguji parameter kekeruhan, prototipe instalasi uji dibuat agar dapat mengukur kekeruhan dan mengalirkan air uji secara vertikal menuju meter air lalu air keluarannya ditimbang pada suhu tertentu untuk diubah menjadi volume dan dibandingkan dengan volume dari meter air. Prototipe ini menggunakan berbagai sensor dan hasil kalibrasinya menunjukan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi yaitu sensor loadcell 99,8% dan 99,9%; sensor volume 95,4% dan 93,6%; sensor suhu 96,3% dan 95,9%; dan sensor kekeruhan dengan tingkat kesalahan 0,5% dan RSD 3,3%. Hasil pengujian pada meter air digital tipe vertikal menunjukan peningkatan tingkat kesalahan dari 0,5% menjadi 3,0% dan 4,7% pada saat kekeruhan dinaikan dari 17,1 NTU (air bersih) menjadi 36,9 NTU dan 95,6 NTU melalui penambahan tanah pada air uji. Efek kekeruhan lebih terlihat saat menggunakan densitas hidrometer, peningkatan tingkat kesalahan dari 0,9% menjadi 4,5% dan 7,2% teramati.
|
2021-02-12 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/31297 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v5i1.31297 | |
| 1671857 | #5605 | Rancang Bangun Alat Monitoring Pasang Surut Air Laut Berbasis IoT dengan NodeMCU ESP8266 dan HC-SR04 |
Agustin, Ria Dwi Sucahyo, Imam Yantidewi, Meta |
Peristiwa pasang surut air laut yaitu proses naik turunnya air laut secara periodik yang disebabkan perbedaan gravitasi dari pergantian posisi antara matahari, bulan relatif terhadap satu titik pada permukaan bumi. Fenomena pasang surut penting untuk dikaji guna menunjang kehidupan manusia, seperti dalam hal transportasi, dan mitigasi bencana. Pada penelitian ini memiliki tujuan untuk membuat alat monitoring pasang surut air laut berbasis Internet of Things (IoT) menggunakan NodeMCU ESP8266 dan HC-SR04 sebagai sensor pengukur ketinggian air. Alat ini dihubungkan dengan web ThingSpeak sebagai platform IoT dengan API terbuka yang berguna sebagai server basis data sehingga dapat diakses secara realtime. Selain itu data hasil pengukuran juga disimpan pada micro SD card sehingga data dapat diakses secara offline. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa alat monitoring pasang surut air laut dapat bekerja dengan baik dengan rata – rata eror sebesar 1,263%.Kata kunci: pasang surut air laut, Internet of Things (IoT), ThingSpeak, micro SD card
|
2022-08-09 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40345 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jiif.v6i2.40345 |