| ID ↓ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1671696 | #3358 | PENGARUH KALIUM PERMANGANAT DAN BERBAGAI MASSA ARANG KAYU TERHADAP MUTU BUAH JAMBU BIJI ‘CRYSTAL’ (PSIDIUM GUAJAVA L.) SELAMA PENYIMPANAN |
Desmonda, Yurika Novita, Dwi Dian Lanya, Budianto |
Salah satu cara memperlambat proses pematangan jambu biji (Psidium guajava L.) adalah dilakukan pengoksidasian etilen dengan menggunakan kalium permanganat (KMnO4) dan arang kayu sawo sebagai bahan pembawanya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui massa campuran arang dan KMnO4 terbaik selama penyimpanan pada suhu ruang (26° - 30°C) dan suhu rendah (10° - 12°C), mengamati perubahan fisik dan kimia buah jambu biji ‘crystal’, dan mengetahui umur simpan buah jambu biji ‘crystal’. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap 5 perlakuan pada suhu ruang dan suhu rendah yaitu campuran 2g arang dan KMnO4, 4g arang dan KMnO4, 6g arang dan KMnO4, 8g arang dan KMnO4, 10g arang dan KMnO4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan KMnO4 sebagai pengoksidasi etilen mampu memperlambat penurunan kekerasan, dan peningkatan kandungan padatan terlarut. Perlakuan terbaik penyimpanan suhu ruang adalah Ta1 (2g arang+ KMnO4) dan Tc1 (2g arang+ KMnO4) pada suhu rendah. Hasil analisis statistik pada α = 5 % pada penyimpanan suhu ruang menunjukkan perlakuan berpengaruh nyata terhadap parameter kandungan padatan terlarut, sedangkan pada suhu rendah perlakuan berpengaruh nyata terhadap parameter kekerasan dan kandungan padatan terlarut.Kata kunci: arang kayu, etilen, jambu biji ‘crystal’, larutan KMnO4.
|
2017-03-08 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/10333 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1671695 | #3358 | PENGKAJIAN PENGGUNAAN POWER THRESHER TERHADAP MUTU GABAH DAN BERAS DI KABUPATEN KARAWANG |
Rachman, Adetiya Histifarina, Dian |
Pengaruh proses perontokan padi dengan cara konvensional dan mekanik terhadap kualitas gabah dan beras perlu diidentifikasi. Metode penelitian deskriptif dilakukan dengan. pendekatan “Participatory on farm Research”. Aplikasi teknologi perontokan yang dilakukan meliputi cara petani, dan alat perontok mekanik/power thresher. Hasil Pengkajian menunjukkan kualitas gabah dan beras yang dihasilkan power thresher tidak berbeda nyata dengan cara perontokan gebot yang biasa dilakukan petani. Kualitas beras yang dihasilkan memenuhi SNI 6128 2008 tentang beras yang menunjukkan kualitas beras standar mutu kelas III, yaitu memenuhi standar mutu beras pada beras kepala minimum 78 persen dan pada beras patah maksimum 20 persen. Kata kunci: Pascapanen padi, Perontokan, Power thresher, Mutu gabah dan beras
|
2011-09-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6305 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1671694 | #3358 | Optimasi Suhu Pemanasan Minuman Fungsional Ubi Jalar Ungu : Bioaktif, BAL dan Organoleptik | Optimasi Suhu Pemanasan Minuman Fungsional Ubi Jalar Ungu : Bioaktif, BAL dan Organoleptik |
Basrin, Fitriani Sulfianti, Sulfianti Berlian, Miming Andi Pallawa, Nadirah B Indriasari, Yuanita If'all, If'all Chaniago, Ramadhani |
Tren gaya hidup sehat mendorong pengembangan minuman fungsional berbasis ubi jalar ungu karena praktis, bergizi, dan digemari masyarakat. Namun, tantangan utama terletak pada proses pengolahan, khususnya pemanasan. Antosianin sangat sensitif terhadap suhu tinggi, pH, oksidasi, dan cahaya, sehingga mudah terdegradasi selama pemrosesan. Selain itu, viabilitas bakteri asam laktat sebagai mikroba probiotik sangat bergantung pada suhu pemrosesan. Untuk perlu dilakukan kajian tentang pengaruh suhu pemanasan terhadap bioaktif, viabilitas bakteri asam laktat dan organoleptik minuman fungsional ubi jalar ungu agar diperoleh suhu pemrosesan yang optimal. Penelitian ini didesain menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan faktor suhu pemanasan yaitu 70oC; 80oC; 90oC; 100oC. Perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga diperoleh 20 sampel percobaan yang diuji kadar antosianin, aktivitas antioksidan, total bakteri asam laktat dan tingkat kesukaan secara organoleptik (uji hedonik) menggunakan 20 orang panelis terlatih. Perlakuan pemanasan dengan berbagai suhu (70 – 100oC) terbukti berpengaruh signifikan terhadap bioaktif seperti kadar antosianin dan aktivitas antioksidan, viabilitas bakteri asam laktat, dan tingkat kesukaan minuman fungsional ubi jalar ungu, dimana penggunaan suhu 70oC masih dapat mempertahankan bioaktif dari produk minuman fungsional dengan kadar antosianin sebesar 81,72 mg/L dan aktivitas antioksidan (IC50) sebesar 11,61 µg/mL (aktivitas antioksidan sangat kuat). Untuk viabilitas BAL perlakuan suhu 70 – 100oC terbukti menurunkan jumlah BAL yang ada di dalam produk secara signifikan (<107 CFU/L) dengan total BAL berkisar 0,0407 – 6,06 x 104 CFU/L. Sementara tingkat kesukaan secara organoleptik diperoleh suhu 80oC mampu menghasilkan produk minuman fungsional yang paling disukai oleh panelis baik tekstur (4,5), rasa (4,55), aroma (3,65) dan warnanya (3,45). | Tren gaya hidup sehat mendorong pengembangan minuman fungsional berbasis ubi jalar ungu karena praktis, bergizi, dan digemari masyarakat. Namun, tantangan utama terletak pada proses pengolahan, khususnya pemanasan. Antosianin sangat sensitif terhadap suhu tinggi, pH, oksidasi, dan cahaya, sehingga mudah terdegradasi selama pemrosesan. Selain itu, viabilitas bakteri asam laktat sebagai mikroba probiotik sangat bergantung pada suhu pemrosesan. Untuk perlu dilakukan kajian tentang pengaruh suhu pemanasan terhadap bioaktif, viabilitas bakteri asam laktat dan organoleptik minuman fungsional ubi jalar ungu agar diperoleh suhu pemrosesan yang optimal. Penelitian ini didesain menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan faktor suhu pemanasan yaitu 70oC; 80oC; 90oC; 100oC. Perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga diperoleh 20 sampel percobaan yang diuji kadar antosianin, aktivitas antioksidan, total bakteri asam laktat dan tingkat kesukaan secara organoleptik (uji hedonik) menggunakan 20 orang panelis terlatih. Perlakuan pemanasan dengan berbagai suhu (70 – 100oC) terbukti berpengaruh signifikan terhadap bioaktif seperti kadar antosianin dan aktivitas antioksidan, viabilitas bakteri asam laktat, dan tingkat kesukaan minuman fungsional ubi jalar ungu, dimana penggunaan suhu 70oC masih dapat mempertahankan bioaktif dari produk minuman fungsional dengan kadar antosianin sebesar 81,72 mg/L dan aktivitas antioksidan (IC50) sebesar 11,61 µg/mL (aktivitas antioksidan sangat kuat). Untuk viabilitas BAL perlakuan suhu 70 – 100oC terbukti menurunkan jumlah BAL yang ada di dalam produk secara signifikan (<107 CFU/L) dengan total BAL berkisar 0,0407 – 6,06 x 104 CFU/L. Sementara tingkat kesukaan secara organoleptik diperoleh suhu 80oC mampu menghasilkan produk minuman fungsional yang paling disukai oleh panelis baik tekstur (4,5), rasa (4,55), aroma (3,65) dan warnanya (3,45).
|
Antioksidan; bakteri asam laktat; organoleptik; suhu pemanasan; ubi jalar ungu Antioksidan; bakteri asam laktat; organoleptik; suhu pemanasan; ubi jalar ungu | 2025-12-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/66911 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol19n3.10 |
| 1671693 | #3358 | Analisis Pindah Panas Pada Pengeringan Tepung Singkong (Manihot utilissima) Menggunakan Pneumatic Flash Dryer |
Wijaya, Rizza K, Mokhamad Fatoni Handayani, Anna Mardhiana |
Singkong merupakan tanaman yang dapat mudah kita jumpai di Indonesia, bahan pangan ini juga merupakan salah satu yang memiliki jumlah karbohidrat tinggi. Beberapa permasalahan pada pengolahan tepung singkong ini, antara lain: proses pengeringan parutan singkong, teknologi pembuatan tepung singkong, dan parameter kualitas tepung singkong. Metode pengeringan secara mekanis diharapkan dapat lebih baik dibandingkan dengan metode penjemuran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui performa dari alat pengering flash dryer paa pengeringan tepung singkong. Pengeringan dengan menggunakan langkah tradisional membutuhkan 3-5 jam, sehingga dapat menghambat untuk proses selanjutnya. Pada penelitian ini dilakukan pengeringan dengan memanfaatkan pengering tipe pneumatic (flash) dryer. Pengeringan pada debit udara bukaan 50% (14,63 m3/s) mampu menghasilkan suhu pengeringan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pengeringan pada debit udara bukaan 75% (20,57 m3/s). Kadar air akhir bahan setelah proses pengeringan sudah sesuai dengan SNI tepung singkong yaitu kurang dari 15 %. Efisiensi pengeringan berkisar antara 47 – 53 %.
|
Teknologi Pertanian efisiensi; pengeringan; pneumatic flash dryer; singkong Mekanisasi Pertanian | 2021-12-21 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/36728 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol15n2.5 |
| 1671692 | #3358 | KARAKTERISTIK SPASIAL HUJAN PADA MUSIM KEMARAU DAN MUSIM PENGHUJAN DI JAWA TIMUR |
arto, Ind Widodo, Suhardjo Setyeni, Fentry Ayu |
Artikel memaparkan karakteristik spasial hujan-bulanan di Jawa Timur. Analisa dilakukan dengan membedakan karakteristik hujan bulanan pada musim kemarau dan musim penghujan. Data hujan dari 943 stasiun hujan yang mencakup seluruh wilayah Jawa Timur digunakan untuk analisa. Data hujan bulanan tersebut selanjutnya dibagi menjadi dua bagian: (1) musim kemarau, dan (2) musim penghujan. Selanjutnya, analisa stasitik spasial dilakukan dengan menggunakan fitur Exploratory Spatial Data Analysist (ESDA) yang ada pada ArcGIS Geostatistical Analyst. Fitur ESDA yang digunakan, meliputi : Trend Analisys, QQPlot, Histogram, dan Voronoi Map. Distribusi spasial hujan bulanan selanjutnya diinterpolasi dari titik-titik pengukuran menggunakan metode interpolasi Inverse Distance Weightin (IDW). Hasil analisa menunjukkan bahwa distirbusi spasial hujan pada musim penghujan tidak merata. Wilayah di bagian selatan Jawa Timur (Tulungagung, Blitar, Kediri, Pacitan, Jember, Probolinggo, dan Malang) menerima curah hujan lebih banyak. Analisa juga menunjukkan adanya perbedaan awala musim kemarau di internal wilayah Jawa Timur. Kata kunci : karakteristik spasial, hujan bulanan, EDSA, Jawa Timur.
|
2012-09-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6346 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1671691 | #3358 | KAJIAN POTENSI ANTIMIKROBA DAN FITOKIMIA EKSTRAK BUAH KETAPANG BADAK (Ficus lyrata Warb) SEBAGAI PENGAWET ALAMI |
Wira, Dwi Wahyudha Djali, Mohammad Balia, Roostita L. |
Jenis pelarut yang efektif untuk mengekstraksi senyawa anti-mikroba (agen pengawet alami) pada buah ketapang badak (Ficus lyrata Warb) perlu diidentifikasi. Kajian dilakukan dengan metode ekstraksi maserasi dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Dalam proses ekstraksi maserasi digunakan 3 jenis pelarut (air, etanol 70 %, dan etil asetat) untuk mengekstrak senyawa metabolit sekunder seperti fenol, flavonoid dan tanin (senyawa anti mikroba) yang diketahui memiliki efek menghambat perkembangan bakteri penyebab penurunan kualitas produk pangan. Efeknya diujikan kepada 3 jenis bakteri uji, yaitu; Pseudomonas aeruginosa, Eschericia coli, dan Bacillus subtilis. Hasil studi mengindikasikan terbentuknya zona bening pada media tes yang membuktikan bahwa ekstraksi dari buah ketapang badak memang memiliki aktivitas anti-mikroba. Etil asetat terbukti lebih banyak melarutkan flavonoid (13,6 mg/L) daripada air (12,73 mg/L) atau etanol 70 % (13,13 mg/L), sehingga lebih efektif dalam menghambat perkembangan ketiga bakteri uji. Selain itu, flavonoid memiliki diameter penghambat berturut-turut lebih tinggi 2,97 mm, 4,70 mm, dan 5,98 mm daripada Pseudomonas aeruginosa, Eschericia coli; dan Bacillus subtilis. Berdasarkan uji kualitatif dan kuantitatif, senyawa dominan yang dimiliki ekstrak buah ketapang badak adalah tannin (27, 5 mg/l - 38.75 mg/l) dan senyawa fenolik (28.5 - 38,25 mg/l). Tingginya konsentrasi metabolit sekunder, terutama tanin, flavonoid dan senyawa fenol, menjadikan buah ketapang badak potensial digunakan sebagai bahan baku anti mikroba alami. Kata kunci: pelarut, ekstraksi, buah Ketapang badak, anti-mikroba, pengawet alami
|
2014-08-12 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4798 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1671690 | #3358 | Analisis Perbandingan Kualitas Biji Kakao (Theobroma cacao L.) dengan Berbagai Wadah Fermentasi Menggunakan Kultur Campur |
Sucipto, Christhoperus William Vincent Handoko, Yoga Aji |
Sebagian besar kualitas biji kakao di Indonesia pada umumnya menghasilkan kualitas yang rendah, baik secara fisik ataupun cita rasa. Masih sedikit para petani yang melakukan proses fermentasi biji kakao, padahal biji kakao fermentasi memiliki kualitas yang lebih baik daripada biji kakao non fermentasi. Terbatasnya jumlah panen biji kakao menyebabkan petani enggan melakukan fermentasi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk memperoleh potensi wadah fermentasi ukuran kecil dalam fermentasi biji kakao dengan bantuan kultur campur Lactobacillus plantarum, Acetobacter tropicalis, dan Saccharomyces cerevisiae. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 8 perlakuan dan 4 kali ulangan. Setiap wadah fermentasi dari kotak kayu, besek, bambu, dan paralon menggunakan biji kakao basah sebanyak 1 kg yang difermentasi dengan pemberian kultur campur (10%) dan tanpa pemberian kultur sebagai kontrol. Parameter pengujian yang dilakukan yaitu pH, suhu, rendemen, kadar air, cut test, gula reduksi, total asam, kadar lemak, dan organoleptik yang meliputi: tekstur, warna, aroma, rasa. Hasil terbaik diperoleh dari perlakuan kotak kayu dengan perlakuan kultur campur dengan nilai rendemen (36,18%), kadar air (6,67%), cut test (93%), gula reduksi (2,74%), asam total (0,35%), lemak (46,75%), organoleptik tekstur (4/S), warna (4,5/SS), aroma (4,15/S) dan rasa (3,85/S).
|
teknik pengolahan hasil pertanian fermentasi, kakao, kultur campur, wadah Teknik pengolahan | 2023-02-22 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/42697 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol16n3.8 |
| 1671689 | #3358 | Pemetaan Zonasi Banjir Bandang Menggunakan Metode Frekuensi Rasio dan Weight of Evidence di Sumberjambe Jember |
Amiluddin, Afif Derka, Icha Tatrisya Faradella, Maulida Sugianti, Devi Hanurani Katminto, Katminto Novita, Elida Hidayah, Entin |
Bencana banjir bandang di kecamatan Sumberjambe mengakibatkan kerusakan saluran air bersih bagi masyarakat. Kondisi tersebut menunjukan perlunya informasi area yang aman untuk pemasangan pipa air bersih. Hal ini menunujukan diperlukannya informasi mengenai zonasi area banjir bandang, sebagai bentuk antisipasi dan mitigasi supaya tidak berdampak serupa dan mengurangi potensi korban jiwa. Tujuan umum Penelitian ini adalah membuat peta zonasi bencana banjir bandang berbasis Sistem Informasi geografis (SIG) dan Penginderaan Jauh. Tujuan Khusus penelitian mencakup, Identifikasi dan inventarisasi data berbasis survei lapangan dan penginderaan jauh. Menentukan faktor alam yang berpengaruh yaitu, Elevasi, Kemiringan Tanah, Indeks kesehatan tanaman (NDVI), Tataguna Lahan, Jarak Terhadap Sungai, Kepadatan Sungai, dan Indeks Kelembapan Topografi (TWI). Menentukan faktor yang memiliki kontribusi besar terhadap kejadian menggunakan statistik bivariat Frekuensi Rasio (FR) dan Weight of Evidence (WoE). Penelitian ini terdiri dari survei lapangan kejadian banjir bandang, pembagian sampel, inventarisasi data faktor, perhitungan bobot faktor, perhitungan faktor dan Analisis Area Under the Curve (AUC). Hasil evaluasi AUC menunjukan tingkat akurasi FR 0.96 dan WoE0.82, FR menghasilkan model dengan akurasi yang lebih baik di wilayah studi.
|
Geohydrodynamics Banjir bandang; pemetaan kerentanan; sistem informasi geografis; penginderaan jauh; rasio frekuensi; weight of evidence; mitigasi bencana Geomatics engineering | 2026-04-29 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/69967 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol20n1.13 |
| 1671688 | #3358 | SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN BERBASIS JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK PERAMALAN HARGA TANAMAN PANGAN |
Simanungkalit, Ferlando Jubelito Sutiarso, Lilik Purwadi, Didik |
Peramalan harga tanaman pangan perlu dirancang untuk memberikan stimulus kepada para pengambil keputusan terkait dengan kebijakan stabilisasi harga pangan, tendensi harga masa depan, dan jadwal tanam yang dapat memaksimumkan laba. Kajian dilakukan berdasarkan tingkat harga bulanan komoditas tanaman pangan bulan Januari 2000-Juli 2011 di Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta. Metode penilaian Mean Square Error (MSE) dan Mean Absolute Percentage Error (MAPE) dengan toleransi validitas 15 persen digunakan untuk menentukan komoditas tanaman pangan dari 324 percobaan yang memiliki performansi terbaik. Dari 6 jenis komoditas tanaman pangan yang menjadi objek kajian, arsitektur JST yang paling baik diperoleh dari komoditas beras IR64 dengan arsitekur [12 – 32 – 1], nilai laju pembelajaran 1,75 dan kisaran transformasi data terletak pada [0 dan 1], dengan nilai MSE dan MAPE pelatihan, pengujian dan validasi berturut-turut adalah [0,00125 dan 2,807 %], [0,0219 dan 3,289 %], [0,0244 dan 3,575 %]. Kata kunci: sistem pendukung keputusan, jaringan syaraf tiruan, peramalan harga, tanaman pangan.
|
2013-09-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6387 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1671687 | #3358 | PENGARUH IMBANGAN TEPUNG SORGUM DENGAN TEPUNG MASA JAGUNG (MASA FLOUR) TERHADAP BEBERAPA KARAKTERISTIK TORTILLA CHIPS |
Suntari, Ike Dewi Hudaya, Saripah Miranti, Mira |
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besar imbangan yang tepat antara tepung sorgum dengan tepung masa jagung sehingga dihasilkan tortilla chips dengan karakteristik inderawi yang disukai. Metode penelitian yang digunakan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan yang diulang 6 kali.Hasil penelitian menunjukkan bahwa imbangan sorgum dengan tepung masa jagung memberikan perbedaan pengaruh yang nyata terhadap kadar air, kadar protein, daya serap minyak, warna, kerenyahan, kenampakan dan kekerasan tetapi tidak memberikan perbedaan pengaruh yang nyata terhadap rasa dan aroma tortilla chips. Perlakuan terbaik adalah imbangan tepung sorgum dengan masa jagung 40%:60% dengan karakteristik kadar air 3,60%, kadar protein 8,64%, daya serap minyak 12,14%, kadar pati 69,43%, skor kesukaan terhadap warna 3,27 (biasa), aroma 3,33 (biasa), kerenyahan 3,70 (biasa), kenampakan 3,13 (biasa), serta kekerasan 1050,83 gf. Kata kunci: Tepung sorgum, Tepung masa jagung, Tortilla chips
|
2014-12-17 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4851 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1671686 | #3358 | Ekstraksi Minyak Atsiri Kulit Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia (Christm) Swingle) dengan Perbedaan Waktu Pengeringan |
Putri, Farinissa Deliana Nurjanah, Sarifah Widyasanti, Asri Nuranjani, Farah |
Kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia (Christm) Swingle) merupakan bagian dari buah jeruk nipis yang minim dimanfaatkan. Adanya kandungan minyak atsiri di dalamnya dapat menjadi nilai jual yang tinggi untuk kulit jeruk nipis. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kondisi optimum dari bahan berdasarkan lama waktu pengeringan terhadap rendemen yang dihasilkan. Pengeringan dilakukan dengan cara kering angin. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental menggunakan analisis deskriptif dengan variabel bebas adalah kondisi bahan baku yaitu segar, kering angin 1 hari, kering angin 2 hari, kering angin 3 hari, dan kering angin 4 hari. Setiap perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 2 kali. Ekstraksi dilakukan dengan metode hidrodistilasi selama 4 jam dan rasio pelarut 1:9 (b/v). Pengujian dilakukan terhadap kadar air bahan, nilai rendemen, warna, densitas, indeks bias, dan GC-MS. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kondisi bahan kering angin selama 4 hari memberikan nilai rata - rata rendemen yang paling tinggi yaitu 3,42% dengan warna dan nilai rata – rata densitas yang memenuhi standar ISO 3519:2005 yaitu warna bening kekuningan dan 0,862 g/cm2. Nilai indeks bias minyak atsiri kulit jeruk nipis berkisar antara 1,472 – 1,473 dan hasil GC-MS yang menunjukkan terdapat 3 senyawa komponen utama yaitu limonene (40,44%), β-Pinene (23,59%), dan citral (6,93%).
|
Kulit jeruk nipis; kering angin; hidrodistilasi; rendemen. | 2023-12-19 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/47962 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol17n3.7 |
| 1671685 | #3358 | Uji Aktivitas Antijamur pada Minyak Nilam Hasil Destilasi dan Fraksinasi Terhadap Jamur C. Albicans dan T. Mentagrophytes |
Setyaningrum, Prisilia Ratna Nurjanah, Sarifah Widyasanti, Asri Zain, Sudaryanto |
Senyawa patchouli alcohol (PA) pada minyak nilam diduga memiliki fungsi sebagai agen antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fraksinasi pada aktivitas antijamur miyak nilam. Minyak nilam yang diujikan: minyak nilam tanpa fraksinasi (100; Kadar PA: 35,28%), minyak nilam fraksi 2 (F2; Kadar PA: 25,62%), minyak nilam fraksi 7 (F7; Kadar PA: 34,86%), dan minyak nilam fraksi 8 (F8; Kadar PA: 54,59%). Minyak nilam ini diujikan pada Candida albicans dan Trichophyton mentagrophytes. Penelitian eksperimental ini dilakukan dengan metode difusi agar yang diulang sebanyak 3 kali. Hasil kemudian dianalisis dengan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dan diuji lanjut dengan Uji Dunnet dan Uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan keempat jenis minyak nilam memiliki aktivitas antijamur terhadap kedua jenis jamur. Pada jamur C. albicans, DDH (diameter daya hambat) terluas pada ukuran 9,24 mm (F8) dan DDH terkecil senilai 5,89 mm (F2). Pada jamur T. mentagrophytes, DDH terluasnya adalah 7,70 mm (F8). DDH terkecilnya senilai 6,18 mm (F2). Dari hasil dapat dilihat bahwa fraksinasi minyak memengaruhi aktivitas antijamur, dimana ukuran DDH yang dihasilkan berbanding lurus dengan kadar patchouli alcohol dari minyak tersebut. Sehingga, minyak nilam dengan aktivitas antijamur terbaik adalah minyak nilam dengan kadar PA tertinggi, yaitu minyak nilam fraksi 8.Kata kunci : antijamur, fraksinasi, minyak nilam, patchouli alcohol.
|
2017-07-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/11243 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol11n1.9 | |
| 1671684 | #3358 | KAJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana L ) DALAM RANGKA PEMANFAATAN LIMBAH KULIT MANGGIS DI KECAMATAN PUSPAHIANG KABUPATEN TASIKMALAYA |
Mardawati, Efri Filianty, Fitry Marta, Herlina |
Kulit manggis merupakan cangkang yang dibuang oleh konsumen atau dapat disebut sebagai limbah hasil pertanian. Kulit buah Manggis diketahui mengandung senyawa xanthone sebagai antioksidan, antiproliferativ, dan antimikrobial yang tidak ditemui pada buah-buahan lainnya Untuk itu perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji kandungan dan aktivitas antioksidan yang terdapat dalam kulit buah manggis yang ada di Kabupeten Tasikmalaya yang merupakan salah satu sentra produksi manggis di Indonesia, sehingga dapat menambah sumber antioksidan alami yang sangat dibutuhkan untuk kesehatan manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh ekstrak kasar kulit mangggis yang mengandung antioksidan dengan rendemen ekstraksi serta aktivitas antioksidan yang tertinggi dari tiga pelarut yang digunakan yaitu pelarut methanol, etanol dan etil asetat. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode dpph Metode penelitian yang digunakan adalah deskritif atau explanatory research. Percobaan terdiri dari 3 perlakuan pelarut yang diulang sebanyak tiga kali.Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa ekstrak kulit manggis memiliki antioksidan sangat kuat hal ini dibuktikan pada semua fraksi pelarut baik fraksi methanol, etanol dan etil asetat yang memiliki EC50 kurang dari 50. dan aktivitasnya lebih besar jika dibandingkan dengan antioksidan yang menjadi balangko. Fraksi Metanol mempunyai nilai EC50 yang lebih kecil yatiu 8,00 mg/L, berarti mempunyai aktivitas antioksidan yang lebih besar dibanding dengan fraksi etanol dengan nilai EC50 sebesar 9,26 mg/L dan etit asetat yang memberikan nilai EC50 sebesar 29,48 mg/L. Berdasarkan hasil penghitungan nilai rendemen ekstrak kasar antioksidan yang dihasilkan terlihat bahwa pada fraksi methanol memiliki nilai rendemen yang terbesar yaitu 22,27% kemudian diikuti oleh fraksi etanol (18,99%) dan etil asetat (11,54) Kata kunci : Kulit Manggis, Anti oksidan, Xanthone, Metode DPPH
|
2014-12-23 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4888 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1671683 | #3358 | Pengembangan Sistem Klasifikasi Non-Destruktif Pembusukan Buah Salak Berbasis Sensor Warna dan Aroma |
Fahrurozi, Muh Ushada, Mirwan Mulyani, Yun Prihantina |
Pemanfaatan teknologi dalam industri pertanian di Indonesia secara umum masih sangat minim khususnya di kalangan petani buah salak. Hal ini menyebabkan hasil produksi kurang optimal terutama pada proses pemisahan buah berdasarkan kualitas. Secara visual, kulit buah salak matang umumnya tidak mudah berubah warna, namun seringkali daging di dalamnya sudah mulai membusuk. Akibatnya, petani harus menyiapkan tenaga tambahan untuk melakukan pemilahan buah, yang mana hal ini sangat tidak efisien dan efektif. Untuk mempermudah, teknologi otomasi dapat digunakan dengan sistem kalibrasi sensor. Penelitian ini memperkenalkan metode baru untuk deteksi dini pembusukan buah salak, berdasarkan warna dan kandungan gas (amonia) tanpa kontak fisik langsung dengan buah. Prinsip dan Praktik Rekayasa Sistem dipilih sebagai metode pengembangan sistem, dan decision tree sebagai model algoritmanya. Sebanyak 60 kumpulan data yang digunakan untuk melatih dua kelas sistem yaitu matang dan busuk, dan 30 kumpulan data digunakan untuk menguji sistem. Hasil pengujian kemudian dievaluasi dengan confusion matrix. Hasil uji menunjukkan bahwa sistem mempunyai nilai presisi untuk prediksi salak busuk sebesar 88%, recall sebesar 93%, serta tingkat akurasi sebesar 90%. Oleh karena itu, secara evaluasi kinerja, performa sistem yang dibuat cukup handal dalam mendeteksi dini kebusukan buah salak secara non destruktif. Berdasarkan tingkat kriteria ROC Curve, performansi sistem berada di antara kriteria excellent dan good classification.
|
Teknik Sistem; Teknologi Industri Pertanian; Teknik Mesin dan Industri Deteksi dini; kalibrasi sensor; kebusukan buah; klasifikasi kualitas; teknologi pertanian; teknologi otomasi. | 2024-12-09 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/56499 buka_link ↗ Highlight_link |
| 1671682 | #3358 | Analisis Kriteria dan Bobot untuk Penentuan Lokasi Jalan Pertanian di Provinsi Jambi | Daulay, Asnelly Ridha |
Jalan pertanian sangat dibutuhkan untuk lalu lintas pengangkutan sarana produksi pertanian dan hasil panen. Namun, proses seleksi lokasi untuk pembangunan jalan tersebut dilakukan secara subjektif, tanpa kriteria yang baku dan kerap dilatari kepentingan politis. Penelitian ini bertujuan menggali kondisi eksisting pembangunan jalan pertanian di Provinsi Jambi, termasuk gambaran partisipasi masyarakat untuk merawat jalan tersebut, serta menyusun kriteria dan bobotnya masing-masing untuk penentuan lokasi pembangunan jalan pertanian. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, serta studi pakar. Data-data ini kemudian dianalisis menggunakan Simple Multi Attribute Rating Technique (SMART). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat delapan masalah utama terkait jalan pertanian di Provinsi Jambi yaitu konstruksi model, perawatan, pemanfaatan, konektivitas, pendanaan, alih fungsi lahan pertanian, daya tahan, dan pola pengerjaan jalan pertanian. Terdapat 4 kriteria yang dikembangkan sebagai pertimbangan dalam menentukan lokasi jalan pertanian dengan bobot masing-masing sebagai berikut: lokasi (0,23), kelembagaan/kelompok tani (0,36), kualifikasi kebun/sawah (0,24) dan sharing perawatan jalan pertanian (0,17).
|
lingkungan dan bangunan pertanian alih fungsi lahan; fasilitas produksi; jalan pertanian; partisipasi masyarakat | 2019-08-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/19734 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol13n1.3 |
| 1671681 | #3358 | GASIFIKASI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT MENGGUNAKAN UPDRAFT GASIFIER |
Purwantana, Bambang Prastowo, Bambang Abineno, Jemseng Carles |
Limbah tandan kosong kelapa sawit sebanyak 6 juta ton/tahun dengan kandungan energi dalam bentuk gas sebesar 17.08 MJ/kg tandan perlu dimanfaatkan. Namun belum terungkap sejauh mana energi tersebut dapat dipanen secara efektif dengan alat gasifikasi yang ada. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kinerja gasifikasi tandan kosong kelapa sawit menggunakan updraft gasifier. Metode deskriptif analisis dilakukan pada beberapa variasi ukuran potongan bahan, pemadatan umpan, dan laju aliran udara input, dimana kinerja gasifikasi ditentukan berdasarkan parameter laju gasifikasi, efisiensi, suhu proses, suhu nyala api pembakaran syngas, dan prosentase residu yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gasifier tipe updraft cukup efektif untuk proses gasifikasi tandan kosong kelapa sawit dengan efisiensi proses 60–80 %, laju proses 2,75 – 3,50 kg/jam, dan menghasilkan syngas dengan suhu bakar 320 - 570 ºC. Kinerja gasifikasi terbaik dicapai pada debit udara input 300 - 400 lpm, ukuran potongan bahan < 4 cm, dan tekanan pada bahan 0,05-0,06 kg/cm2. Pada perlakuan tersebut dicapai laju proses sebesar 3-3,5 kg/jam, efektivitas proses 14 menit/kg, efisiensi proses 80 %, suhu nyala api syngas 540 °C. Kata kunci: gasifikasi, TKKS, ukuran, tekanan, kinerja
|
2013-01-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6361 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1671680 | #3358 | PENGARUH IMBANGAN TEPUNG RASI (BERAS AMPAS SINGKONG), TEPUNG JAGUNG, DAN TEPUNG KACANG HIJAU TERHADAP BEBERAPA KARAKTERISTIK FLAKES TRIPLE MIXED ”SI JAGO” |
Sunyoto, Marleen Sukarti, Tati Marina, Tika |
Tepung rasi merupakan alternatif sumber pangan yang kaya akan energi dan berbasis pada potensi lokal karena terbuat dari rasi yang merupakan produk olahan dari limbah pembuatan pati singkong atau tapioka. Tepung rasi mempunyai kandungan energi yang hampir setara dengan beras, yaitu sebesar 359 kkal/100 gram bahan sehingga dapat dimanfaatkan menjadi makanan sarapan seperti flakes. Flakes harus memiliki karakteristik yang renyah sehingga diperlukan bahan tambahan lain seperti tepung jagung untuk memperbaiki sifat organoleptik dari produk. Selain itu, ditambahkan pula tepung kacang hijau yang memiliki kandungan protein tinggi sehingga dapat meningkatkan nilai gizi protein dari flakes. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan imbangan yang tepat antara tepung rasi, tepung jagung dan tepung kacang hijau yang digunakan dalam pembuatan flakes agar dihasilkan flakes triple mixed ”Si Jago” dengan karakteristik yang baik dan disukai oleh panelis. Metode penelitian yang digunakan adalah metode percobaan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan terdiri dari imbangan tepung rasi, tepung jagung dan tepung kacang hijau, yaitu 40:10:50, 40:20:40, 40:30:30, 40:40:20, dan 40:50:10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa imbangan tepung rasi, tepung jagung dan tepung kacang hijau 40:10:50 memberikan hasil yang terbaik dengan kandungan kadar air 3,5 %, kadar protein 12,5 %, daya rehidrasi 27,6 %, berwarna kuning kecoklatan, rendemen 90,6 %, kekerasan 936 gF dan memiliki sifat organoleptik (aroma, warna, rasa, kerenyahan, dan kerenyahan dalam susu) yang dapat diterima oleh panelis. Kata kunci : Tepung rasi, Tepung jagung, Tepung kacang hijau, flakes
|
2014-07-21 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4807 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1671679 | #3358 | Pengaruh Kerapatan Unggun Bahan pada Distilasi Uap terhadap Rendemen dan Komposisi Minyak Jeruk Purut |
Dewi, Luthfi Kurnia Cahyani, Chandrawati Wardani, Novelia Puspa Sella, Hasanuddin |
Minyak jeruk purut (kaffir lime oil) banyak digunakan dalam industri flavor, minuman, makanan, farmasi, pewarna, dan parfum. Komponen utama dalam minyak jeruk purut yaitu sitronelal, sitronelol, geraniol, dan linalool. Minyak jeruk purut dapat dihasilkan dengan menggunakan metode distilasi uap. Dalam proses distilasi uap, kerapatan unggun bahan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi jumlah rendemen dan kualitas minyak yang dihasilkan karena kerapatan unggun berkaitan dengan aliran uap yang melalui tumpukan bahan yang dapat mempengaruhi jumlah minyak yang dapat terbawa oleh uap tersebut menjadi kondensat. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kerapatan unggun (daun dan batang jeruk purut) pada proses distilasi terhadap jumlah rendemen dan komposisi minyak jeruk purut yang dihasilkan. Pada penelitian ini menggunakan metode distilasi uap indirect selama 6 jam, tekanan 1,2 kg/cm2 (gauge), laju alir uap sebesar 2 L/jam. Perbandingan berat bahan daun dan batang 1:1. Kerapatan unggun divariasi sebesar 0,075 kg/L, 0,100 kg/L dan 0,125 kg/L. Berdasarkan hasil penelitian, kerapatan unggun daun dan batang jeruk purut berpengaruh terhadap rendemen minyak jeruk purut yang dihasilkan yaitu pada kerapatan unggun 0,075 kg/L, 0,100 kg/L dan 0,125 kg/L menghasilkan rendemen berturut-turut sebesar 0,979%, 0,854% dan 0,647%. Kerapatan unggun 0,075 kg/L merupakan kerapatan yang terbaik dengan rendemen dan kadar sitronelal (78,98%) tertinggi. Kata kunci: distilasi uap; kerapatan unggun bahan; minyak jeruk purut; rendemen; sitronelal
|
teknik pengolahan hasil pertanian distilasi uap; kerapatan unggun bahan; minyak jeruk purut; rendemen; sitronelal | 2023-04-28 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/44409 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol17n1.8 |
| 1671678 | #3358 | APLIKASI IRIGASI PORTABLE SPRINKLER PADA TANAMAN PAKCOY (BRASSICA JUNCEA L.) DI DESA MARGA AGUNG KECAMATAN JATI AGUNG LAMPUNG SELATAN |
Okvidiantoro, Kiki Dwi Tusi, Ahmad Lanya, Budianto |
Mayoritas petani di Desa Marga Agung menggunakan air hujan sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan air tanaman. Pada musim kemarau, petani tidak dapat melakukan aktivitas budidaya tanaman karena terbatasnya sumber air. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi dan efesiensi pemakaian air irigasi yang tepat guna yaitu dengan menggunakan irigasi sprinkler. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kinerja dan aplikasi portable sprinkler pada budidaya tanaman pakcoy (Brassica juncea L.). Hasil menunjukkan laju infiltrasi tanah (52 mm/jam) di lokasi penelitian lebih besar dibandingkan laju aplikasi sprinkler sebesar (6.49 mm/jam), sehingga pada saat dilakukan penyiraman tidak terjadi aliran permukaan (run off). Nilai koefisien keseragaman/coeficient uniformity (CU) sebesar 53.13%. Rendahnya nilai koefisien keseragaman yang diperoleh disebabkan karena penggunaan metode single nozzle head sprinkler dan tingginya kecepatan angin yang terjadi di lokasi penelitian sebesar 0.66 m/det. Hasil produksi tanaman pakcoy sebesar 1.7 kg/m2 dengan berat per tanaman 70 gram/tanaman.Kata kunci: irigasi portable sprinkler, tanaman pakcoy, pompa.
|
2016-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8827 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1671677 | #3358 | PENGARUH PENGGUNAAN JENIS GULA DAN KONSENTRASI SARIBUAH TERHADAP KESUKAAN KARAKTERISTIK SIRUP JERUK KEPROK GARUT (CITRUS NOBILIS LOUR) |
Marta, Herlina Widyasanti, Asri Sukarti, Tati |
Penelitian untuk menentukan jenis gula dan konsentrasi saribuah yang tepat sehingga dihasilkan sirup Jeruk Keprok Garut yang mempunyai karakteristik baik dan disukai panelis telah dilakukan di Laboratorium Teknologi Pengolahan Pangan FTIP, UNPADBandungdari April sampai Oktober 2007. Metode percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan terdiri dari 8 perlakuan, yang diulang sebanyak 4 kali. Perlakuan yang dicobakan adalah kombinasi penggunaan jenis gula (sukrosa, fruktosa) dan konsentrasi saribuah (30% v/v, 35% v/v, 40% v/v dan 45% v/v) terhadap karakteristik sirup Jeruk Keprok Garut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis gula sukrosa dengan konsentrasi saribuah 40% menghasilkan sirup Jeruk Keprok Garut yang lebih disukai dibandingkan dengan perlakuan lain dengan nilai kesukaan (skor 1 = tidak suka; 2 = agak tidak suka; 3 = biasa; 4 = agak suka; dan 5 = suka); warna (4,42 = agak suka); aroma (3,42 = biasa); kekentalan (4,59 = suka); warna hasil pengenceran (4,33 = agak suka); aroma hasil pengenceran (3,33 = biasa); dan rasa hasil pengenceran (4,17 = agak suka); dengan kadar gula total 69,7%; kadar vitamin C 1,76 mg/100 g; dan nilai pH 3,15. Kata kunci: Jeruk keprok garut, Sirup, Karakteristik
|
2014-12-23 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4865 buka_link ↗ Highlight_link |