Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↓ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1671396 #5790 ANALISIS GEOKIMIA MATERIAL POTENTIALLY ACID FORMING DAN NON ACID FORMING MELALUI UJI NET ACID GENERATION PADA PIT SL AREA MSBS PT. GPU MUSIRAWAS UTARA, SUMATERA SELATAN Setiawan, Budhi
Putri, Zahrah Belinda
Air asam tambang merupakan limbah pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas penambangan. Limbah air asam tambang terbentuk karena adanya proses oksidasi mineral pirit (FeS2) dan bahan mineral sulfida lainnya yang tersingkap pada permukaan tanah. Identifikasi air asam tambang perlu dikaji sebagai usaha untuk menentukan potensi material membentuk asam melalui parameter analisis geokimia dengan metode net acid generation pada sampel material. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap yaitu pengambilan sampel yang dilakukan dengan metode komposit pada 6 jenis material yang diambil dari 21 lokasi pengamatan yang ditentukan dengan menggunakan metode simple ramdom sampling. Sampel material dianalisis pada laboratorium dengan menggunakan analisis geokimia metode net acid generation (NAG) dengan 4 parameter acuan yaitu : total sulfur, acd neutralizing capacity, maximum potentially acidity, net acid production potential. Hasil analisis geokimia kemudian di klasifkasikan berdsarkan sifat keasaman menjadi material potentially acid forming atau non acid forming. Hasil pengujian menyimpulkan Mz1 merupakan material topsoil pada lapisan overburden, Mz2 merupakan material subsoil overburden, Mz3 merupakan material claystone overburden, Mz4 merupakan material siltstone overburden, dan Mz5 merupakan material sandstone overburden diidentifikasi sebagai material non acid forming atau material non acid forming tipe 1. Mz6 merupakan material claystone interburden berdasarkan diidentifikasi sebagai material potentially acid forming atau material potentially acid forming tipe 3.
2024-04-26 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/50817 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v22i1.50817
1671395 #5790 Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik Berdasarkan Aspek Geologi Lingkungan Menggunakan Metode Simple Additive Weighting (SAW) di Kabupaten Kuningan Destirani, Sagita -
Suyono, Oon
Atang, .
Muslim, Dicky
Iskandarsyah, Teuku Yan W. M.
ABSTRAKKabupaten Kuningan hingga saat ini belum memiliki Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik(SPALD). Pertimbangan untuk mengatasinya adalah dengan melakukan inventarisasi, survei danpemetaan geologi lingkungan. Dalam zonasi wilayah calon pengembangan, belum secaraoptimal ditentukan kondisi geologi setempat. Dilakukan penelitian ini yang bertujuan untukmengetahui parameter geologi lingkungan yang berperan dalam menentukan lokasi pembangunanpengolahan limbah yang sesuai standar dan prosedur, dengan mempertimbangkan segala aspek terutamageologi. Metode yang digunakan yakni dengan mengolah data sekunder menggunakan metode SimpleAdditive Weighting (SAW) untuk mendapatkan peta kesesuaian lahan yang selanjutnya akan dilakukantahap analisa dari overlay peta (superimposed). Parameter yang digunakan sebanyak sebelas parameter,terdiri atas parameter fisik dan non-fisik, dari hasil overlay peta maka akan didapatkan zona prioritasdengan proses skoring, yang merupakan salah satu metode yang membantu melakukan prediksiberdasarkan parameter yang telah disesuaikan. Didapatkan lokasi yang sesuai untuk pembangunan di limakecamatan, yakni Kecamatan Jalaksana, Cigugur, Kramatmulya, Kuningan, dan Lebakwangi. Penentuanlokasi lebih mendetail diperlukan untuk penentuan akhir pembangunan SPALD-T yang ideal.Kata Kunci: Pengolahan limbah, Simple Additive Weighting (SAW), Overlay, Scoring, KabupatenKuningan
2018-08-03 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/17874 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v16i2.17874
1671394 #5790 ZONA LAYAK TAMBANG BAHAN GALIAN NON-LOGAM KECAMATAN PAMONA, KABUPATEN POSO, SULAWESI TENGAH -, Geni Dipatunggoro
Research at the Poso river Tentena – Sulewana segmen and Meko river, North Pamona district and West Pamona District, Poso regenc, Central Sulawesi Province. Rock there research area is river alluvial with the potential mining are sand and rock boulders, the mechanical laboratory of rock boulders of point load test result 207,005 – 744,797 Kg/Cm square, fullselment required for building material. Environmental condition of Poso river there are infrastructure for people housing, road of Poso – Tentena (Trans Sulawesi) and Poso Hydroelectric Power at the Sulewana village and the bridge, Meko river there are people housing and the bridge of Tentena Pendolo, and the forest and the many people garden. At the Poso river Tentena – Sulewana segmen sand can mine but the water level of river much be constant the water level of river much be constant until save the Poso Hydroelectric Power, at the Poso lake sand mining is problem with use the sump machin of sand until 20 meters depth, means the lateral pressure is not save to lake wall and to bellow the safety factor from 1,25 to 1,00 is critical condition, if there little tremble is sliding. At the Meko River there are bridge facility of road Tentena – Pendolo much be not disturb.
Environmental condition, mining potential 2013-04-11 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8287 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v11i1.8287
1671393 #5790 Evaluating The Feasibility Of CO2 Storage Through A Geomechanical Approach : A Case Study Of The Talang Akar Formation, Crestal Area Of Asri Basin, LUF Well Lathifah, Lista Ummu Fadzilatul
Muslin, Dicky
Muljana, Budi
Laranarko, Dwandari
Santosa, Ardian Aby
Asri Basin is one of Indonesia’s sedimentary basins, and it is the carbon dioxide storage target in Carbon Capture Storage (CCS) technology. A study of carbon dioxide storage containers must be carried out based on geological aspects, namely geological and rock conditions. This research aims to identify reservoir feasibility values in the Asri Basin, such as pore pressure and fracture pressure, along with other factors affecting reservoir stability, in order to minimize leakage during the carbon dioxide injection process. The identification process in this research uses quantitative and qualitative studies based on well data. Eaton's method was used to estimate the research well pore pressure and fracture pressure in the research wells. The research well is located in the crestal area of the Asri Basin and has a pore pressure with a normal pressure trend. The fracture pressure value gets smaller in the depth range of the Talang Akar Formation. There is a process of diagenesis of the clay mineral smectite into illite, which begins to be found at a depth of 3000 - 3500 ftTVDSS. The developed stress regime is a normal stress regime with the vertical stress value as the largest. The injection process in the Asri Basin can be carried out in the Talang Akar Formation with several five storage intervals at a depth of 3560 - 4130 ftTVDSS.
2025-08-07 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/64157 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v23i2.64157
1671392 #5790 KONDISI TEKTONIK RENCANA TAPAK BENDUNGAN PELOSIKA BERDASARKAN ANALISIS CITRA SATELIT DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Sukiyah, Emi
Jaassin, Andi Makkawaru
ABSTRAKBendungan Pelosika direncanakan memiliki kapasitas tampung air sebesar 822,26 m3 dengan luas lahan genangan 160.000 hektar. Keberadaan bendungan diharapkan dapat mengurangi debit banjir sebesar 10,359 m3/detik, menyediakan air baku dengan debit sebesar 0,20 m3/detik dan dapat membangkitkan listrik sebesar 10 MW. Konstruksi Bendungan tipe Rock Fill Dam berlokasi di Sungai Konaweha yang merupakan salah satu sungai terbesar di Sulawesi Tenggara. Irigasi untuk lahan seluas 20.040 Ha di Kabupaten Kolaka Timur dan Konawe diharapkan dapat terpenuhi. Geomorfologi lokasi rencana Bendungan Pelosika terdiri dari Pegunungan dan pedataran. Wilayah ini tersusun oleh batuan metamorfik berumur Paleozoikum dan endapan aluvium berumur Kuarter. Studi awal kondisi tektonik lokasi rencana Bendungan Pelosika menggunakan pendekatan morfometrik berdasarkan analisis indeks rasio lebar dan tinggi lembah (Vf) dan sinusitas muka gunung (Smf). Pengolahan citra satelit dan Sistem Informasi Geografis (SIG) digunakan dalam metode penelitian. Variabel morfometrik dan data indikasi tektonik diperoleh dari hasil pengolahan citra Landsat 8 OLI dan SRTM 30 m. Hasil analisis kelurusan geomorfologi menunjukkan arah umum UBL-STG yang berimpit dengan sesar-sesar yang ada di wilayah tersebut. Elevasi tertinggi berada pada 2.852 mdpl dan elevasi terendah -100 mdpl. Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 715.041 Ha dengan panjang total sungai sekitar 145,85 Km. Analisis morfotektonik pada empat lokasi terpilih menunjukkan nilai Vf antara 0,25 hingga 0,75 dan nilai Smf antara 1,06 hingga 1,17. Berdasarkan hasil analisis kedua variabel morfotektonik tersebut diketahui bahwa daerah rencana dudukan Bendungan Pelosika berada di daerah dengan kondisi tektonik menengah hingga aktif.Kata Kunci: Bendungan Pelosika, morfometrik, tektonik, citra satelit, SIGABSTRACTPelosika Dam is planned to have a water holding capacity of 822.26 m3 with an inundation area of 160,000 hectares. This dam is planned to reduce flood discharge by 10.359 m3 / second, provide raw water with a discharge of 0.20 m3 / second and can generate electricity by 10 MW. The Rock Fill Dam type of construction is located on the Konaweha River which is one of the largest rivers on the mainland of Southeast Sulawesi. It is also expected to be able to flow through irrigation of 20,040 hectares in the districts of East Kolaka and Konawe. Regionally, geomorphology is in the form of mountains and plain. The constituent rocks are Paleozoic metamorphic rocks and Quaternary alluvium deposits. The initial study of tectonic conditions of the Pelosika Dam site plan uses a morphometric approach based on the analysis of the valley width and height ratio (Vf) and sinuosity mountain front (Smf). Satellite imagery processing and Geographic Information Systems (GIS) are used in research methods. Morphometric variables and tectonic indication data obtained from Landsat 8 OLI and SRTM 30 m imageries processing. The results of the geomorphological lineament analysis indicate that the general direction is North Northwest - South Southeast which coincides with faults in the region. The highest elevation was 2,852 meter after sea level and the lowest elevation was -100 meter after sea level. Watershed covering an area of 715,041 hectares with a total river length of around 145.85 kilo meters. Morphotectonic analysis at four selected locations showed a Vf value between 0.25 to 0.75 and a Smf value between 1.06 to 1.17. Based on the results of the analysis of the two morphotectonic variables, it is known that the Pelosika Dam area designation is in an area with medium to active tectonic conditions.Key words: Pelosika Dam, morphometric, tectonic, satellite imagery, GIS
2019-08-13 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/23010 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v17i2.23010
1671391 #5790 KARAKTERISTIK BATUAN SEDIMEN BERDASARKAN ANALISIS PETROGRAFI PADA FORMASI KALIBENG ANGGOTA BANYAK Purasongka, Novianti Wahyuni
Syafri, Ildrem
Jurnaliah, Lia
Administratively, the research areas included in the district of Semarang, Central Java Province. This research was conducted at Jeragung River with the object of claystone and sandstone. In physiographic, rocks in the study area are in Kendeng Basin, and parts of Anggota Banyak Kalibeng Formation. This study aims to determine the characteristics of sedimentary rocks mainly sandstones, based on petrographic analysis to determine the source of the sediment and diagenesis processes that formed. Based on observations of six sandstone samples from areas of research included in Feldspatic Wacke. Provenance analysis of six samples of sandstone with using Dickinson and Suczek triangles, shows the origin of sediment is arc magmatic. Diagenesis phase which occurs is eogenesis characterized by compacting and leaching, mesogenesis marked by cementation and recrystallization, as well as the replacement and deformation marks telogenesis process.
2015-04-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8382 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v13i1.8382
1671390 #5790 GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN FORMASI CIKAPUNDUNG BERDASARKAN ANALISIS GEOLISTRIK DI DESA CIPICUNG, MANGGAHANG, KECAMATAN BALE ENDAH, KABUPATEN BANDUNG -, Undang Mardiana
Sub-District Of Manggahang, District of Bale Endah have hilly and plain morphology with enough difference of height. Geologically is compiled by volcanic rock which consist of brecia, tuff, and lava which product of Old Volcanic. It is included in Cikapundung Formation which Middle Plistosen age (Silitonga, 1979) and lake sediment representing interval of fine clasticas clayey tuff, silty tuff, locality is found the existence of plant pickings, fine-coarse sandstone till with congelation rock fragment, this sediment is Quater age.Based on resistivity value, rock stratigraphy in study area have resisitivity which vary start from value set of Ωm (soil), tens of Ωm (brecia/tuff weathered), hundreds of Ωm (brecia-tuff), thousands of Ωm (lava 1), tens of thousand Ωm (lava 2), and hundreds of thousand Ωm (lava 3), third of him represent of andesitic lava (porfiry andesit at upper, and porfiry diorit at bottom).At high elevation covered by soil which thiner than foot-hill with spreading follow topography. Bellow of soil are interval of brekcia and tufa disseminating until assumption point GL - 02. and more thinning at foot area (to southern). Below interval of brecia and tuf, there are andesitic lava. At top hill, there is lava at 800 m elevation and in GL-02 having elevation 700 m. Hence if taken by elevation 700 m representing boundary of lower elevation, hence is andesitic lava from 100 m till 10 m.
Volcanic rock. Resistivity 2006-08-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8124 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v4i2.8124
1671389 #5790 PERBANDINGAN POTENSI GUNUNG KENDENG DAN GUNUNG PATUHA BERDASARKAN STUDI VULKANOSTRATIGRAFI Nandiwardhana, Damar
Hidayat, Ryan
Rakhmatan, Chikal
Proses pemetaan daerah vulkanik merupakan salah satu metode survei eksplorasi pendahuluan sistem panasbumi vulkanik. Akan tetapi proses ini memiliki kendala yaitu kesulitan dalam membedakan berbagai macam produk erupsi berdasarkan pusat erupsinya, hal ini dikarenakan adanya kenyataan bahwa perbedaan sumber erupsi dapat menghasilkan susunan produk gunungapi yang memiliki karakteristik fisik hampir serupa di lapangan. Pada penelitian ini manfaat pemetaan vulkanostratigrafi yang berada pada daerah Ciwidey, Jawa Barat digunakan untuk mengkaji prospek panasbumi Gunung Kendeng dengan perbandingan terhadap Gunung Patuha yang telah berproduksi. Metodologi penelitian ini mengacu pada konsep eksplorasi panasbumi yang dibuat oleh Wohletz (1992). Interpretasi peta tofografi sekala 1:50.000 terdapat 5 khuluk (Khuluk Padang, Khuluk Patuha, Khuluk Rancabali, Khuluk Ciwide dan Khuluk Kendeng) dan 12 Gumuk (Gumuk Rancabali, Gumuk Ciwidey, Gumuk Prug, Gumuk Kunti, Gumuk Putri, Gumuk Tambagruyeng, gumuk Kutalak, Gumuk Tikukur, Gumuk Cadas, Gumuk Wayang, Gumuk Tilu, Gumuk Cadaspanjang dan Gumuk Masigit). Volume Gunung Kendeng sebesar 137,9 km3 dengan energi panas yang tersimpan sebesar 2,1 X 1018 Joule dan Volume Gunung Patuha sebesar 61,5 km3 dengan energi panas sebesar 1.8 x 1017 Joule. Berdasarkan Perbandingan Volume dan energi panas yang tersimpang maka Gunung Kendeng memiliki prospek panasbumi yang lebih berpotensi jika dibandingkan dengan Gunung Patuha.
2021-01-06 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/31124 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v18i3.31124
1671388 #5790 HYDROGEOLOGICAL CONDITIONS USING AN INTEGRATION OF AQUIFER GEOMETRY MODEL AND GROUNDWATER CHARACTERISTICS IN THE BANDUNG CITY AREA Kombara, Prayoga Satyagraha
Barkah, Mochammad Nursiyam
Listiawan, Yudhi
Hadian, Mohammad Sapari Dwi
ABSTRACTThe rapid population and economic growth in Bandung City has driven increased groundwater use, necessitating an understanding of hydrogeological conditions to prevent negative consequences. This study aimed to identify the distribution of subsurface rocks, hydrostratigraphy, and groundwater characteristics in shallow aquifer systems through aquifer geometry modeling and ground-based observations. The model was developed by integrating regional geological data, 22 one-dimensional geophysical points, 7 well logging points, andprevious research results, and analyzed using modeling software and GIS software. Resistivity interpretation reveals aquifer lithology consisting of coarse tuff, lapilli, and tuffaceous sandstone (21–103 Ohm.m), aquiclude lithology consisting of fine tuff, tuffaceous claystone (0–30 Ohm.m), and volcanic breccia (101–350 Ohm.m), and aquifug lithology in the form of lava (>350 Ohm.m). The model shows the dominance of tuff sandstone in the northwest, fine tuff in the northeast, and tuff claystone in the southeast. The model revealed two types ofdeveloped aquifers, unconfined aquifer at a depth of 0–34.08 m (shallow aquifer system) and confined aquifer at 41.75–68.5 m (deep aquifer system). The characteristics of groundwater in the shallow aquifer system are categorized as fresh groundwater with EC values of 183–897 µS/cm, TDS 92–447 mg/l, and pH 5.4–6.86. Spatial distribution analysis of EC, TDS, and pH values is influenced by lithology, topography, and land cover. Vegetation in the upstream area preserves groundwater quality, while the dominance of built-up land and plantations increases EC, TDS, and pH to close to neutral levels. The results of this study emphasize the need for vegetation conservation in the upstream area, control of land use change, and urban spatial planning based on recharge to maintain the sustainability of groundwater resources in shallow aquifer system in the Bandung City area.Keywords: Groundwater, Hydrostratigraphy, Model, Aquifer, Groundwater Characteristic
2026-04-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/68906 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v24i1.68906
1671387 #5790 KUALITAS BATUGAMPING BERDASARKAN ANALISIS KLASIFIKASI GEOMEKANIK DI GOA SEROPAN, GUNUNG KIDUL, YOGYAKARTA Nugroho, Bani
Pranantya, Pulung Arya
Utomo, Edi Prasetyo
Seropan cave is one of the caves in Semanu sub District, located in the karst region, Gunung Kidul, Yogyakarta. Based on reserach of Karlsruhe Institut of Teknology (KIT) German, is known underground river in the cave is very potential to be developed. Underground dams and micro hydro installations built to pump water upwards the river. These are used as raw water for daily needs and irrigation in the surface.  For this purpose it is necessary to study the stability of the rock mass in the cave Seropan. The stability of a tunnel or cave is heavily influenced by geological and non-geological factors. The most dominant geological factors in general are geological structures, can be muscular or fault, the type of rock and rock mass quality.The rocks at the cave Seropan in general are limestones. Based on rock mass classification of Rock Mass Rating (Bieniawski, 1989) otherwise known as the geomechanics classification, these rocks are included in class III and class IV. These rocks include moderate to bad quality. Until now the cave conditions remained relatively stable and secure. This is due to the naturally formed cave. The process of distribution of stresses around the cave coincided with the formation of caves and takes place in a relatively long time. However, in some parts of the cave should be because the effect of fractures can lead to collapse of the roof of the cave.
2016-10-13 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/9792 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v14i1.9792
1671386 #5790 THE INFLUENCE OF GEOMORPHOLOGY TO LANGUAGE VARIATION IN THE WESTERN PART OF JAVA, INDONESIA -, Evi Haerani
-, Dicky Muslim
In Indonesia, the western part of Java Island is known as a place with very diverse culture. There are 3 provinces in this region, namely West Java, Banten, and Jakarta Capital Special Region with more than 40 million populations. Sundanese is a main culture within this region, where focal area is around Bandung City. It is accompanied by 3 other subcultures, i.e. Cirebonese (around Cirebon City), Betawinese (Jakarta City and surrounding) and Bantenese (around Serang City).Geomorphological configuration of the study area is characterized by mountainous to coastal plain areas. It implies to the characteristic diversity of culture for every community including the development of local languages. This paper is aimed to map the relationship of local languages diversity (dialect) with their geomorphological conditions in the study area.Result of the study shows that Sundanese people commonly speak humble in polite manner and live on mountainous to hilly area. The Cirebonese speaks rather Javanese combined with impolite Sundanese and lives on the northern Java coastal plain as transition area between Sundanese and Javanese. Betawinese speak rather impolite and live on the coastal plain around Gulf of Jakarta. Bantenese speak rather impolite and live on coastal plain to gentle hilly area. This result suggests that there is relationship between the characteristics of utterances of people with the nature they live on.
Geomorphology, language mapping, sundanese 2008-12-05 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8161 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v6i2.8161
1671385 #5790 UMUR DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN SUB CEKUNGAN TARAKAN, KALIMANTAN UTARA BERDASARKAN DATA PALINOLOGI SUMUR RANU RISMAYANA, FADHILAH NUR
Sanusi, Winantris
Jurnaliah, Lia
Kurniadi, Dedy
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui zonasi umur dan lingkungan pengendapan purba dari aspek palinologinya. Studi palinologi telah dilakukan terhadap 25 sampel cutting terpilih dari Sumur Ranu yang dibor di Sub-cekungan Tarakan yang terletak di Kalimantan Utara pada interval kedalaman 1270 sampai 11050 kaki. Metode asam standar teknik preparasi palinologi dilakukan untuk memisahkan polen dan spora dari sedimen, deskripsi dan determinasi untuk melihat karakteristik polen dan spora yang terdapat pada sampel penelitian menggunakan perhitungan kuantitatif berdasarkan kelimpahan individu. Melalui pendekatan zona selang, maka sumur ini dibagi menjadi 2 zona palinologi yaitu zona Florschuetzia meridionalis bagian atas sampai zona Stenochlaenidites papuanus bagian bawah dan zona Stenochlaenidites papuanus bagian atas yang dibatasi oleh kemunculan awal Stenochlaenidites papuanus. Selanjutnya taksa dikelompokkan berdasarkan kesamaan habitat lingkungannya dan dilakukan analisis lingkungan pengendapan purba dengan mengadaptasi klasifikasi lingkungan delta karena terdiri dari keberlimpahan mangrove, back-mangrove, peatswamp, dan freshwater. Hasil analisis menunjukkan bahwa umur relatif dari Subcekungan Tarakan berdasarkan data palinologi Sumur Ranu adalah Miosen Tengah sampai Pliosen Awal dengan lingkungan pengendapan dari lower delta plain (distal) sampai upper delta plain (distal).
2022-09-29 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/41232 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v20i2.41232
1671384 #5790 ANALISIS KANDUNGAN MINERAL LOGAM DENGAN MENGGUNAKAN XRD DAN XRF PADA SINGKAPAN BERALTERASI TINGGI DAN RENDAH DI LOKASI PENAMBANGAN OPEN PIT KALIKUNING DAN LEROKIS PT. BATUTUA TEMBAGARAYA PROVINSI MALUKU SIRAJU, ASRUL
Hutabarat, Johanes
Sukiyah, Emi
Haryanto, Agus Didit
ABSTRAKPenelitian ini dilakukan di 4 lokasi singkapan batuan Vulkanik yang termanifestasi dengan alterasi hidrothermal wilayah tambang KaliKuning dan Lerokis Open PIT                        PT Batutua Tembagaraya. Metode penelitian yang dilakukan dengan survey lapangan dan pengambilan sampel batuan Vulkanik dari singkapan yang secara visual beralterasi rendah dan tinggi yang berada di 4 lokasi tersebut. Setelah pengambilan sampling batuan, batuan sampel disiapkan untuk pengamatan Petrografi, XRD,XRF serta analisis hasil pengukuran kandungan mineral dan logam oksida. Hasil pengamatan Petrografi, analisa hasil pengukuran XRD dan XRF maka dijumpai komposisi minireal penyusun utama maupun ubahan pada wilayah KaliKuning lebih bervariasi daripada Lerokis. Sedangkan kandungan unsur logam pada wilayah singkapan KaliKuning pada sampel KK-FW dan pada sampel Lerokis LR-FW memiliki komposisi logam oksida yang lebih dominan dari sampel KaliKuning KK-HW dan sampel Lerokis LR-HW. Dari hasil pengamatan wilayah KaliKuning Sampel KK-FW yang berada di Selatan-Barat, memiliki intensitas ubahan sedang, mineral sekunder yang teramati Klorit, Epidot, Okslda Besi, Kalsit, Kuarsa, Biotit dan Mineral Opak, menunjukan Meneral utama yang terkandung dilokasi ini adalah Kuarsa (SiO2)61,98%, Clinochlore, Group Piroksen dan Illite. Sedangkan logam oksida yang paling menonjol adalah Alluminium Oksida (Al2O3) 16,24%, Oksida Besi (Fe2O3) 7,46%, serta Mangan Oksida (MgO) 5,22%. Bagian Utara-Timur KaliKuning, sampel KK HW teridentifikasi Mineral yang mengalami ubahan sedang yaitu Klorit, Kuarsa, Biotit, Kalsit, Mineral Opak dan Illite. Mineral primer yaitu Kuarsa Cristobalite, Kristal Feldspar , Plagioklas. Hasil pengukuran XRD dan XRF menunjukan meneral utama yang terkandung dilokasi ini adalah Kuarsa Cristobalite (SiO2) 65,26%, Kristal Feldspar  dan Plagioklas. Logam oksida yang paling dominan yakni Alluminium Oksida (Al2O3) 16,55%, Oksida  Besi (Fe2O3) 3,9% dan Mangan Oksida (MgO) 0,82%. Sedangkan wilayah Lerokis sampel LR-FW yang berada di Selatan, mineral utama yang teramati yakni Kuarsa dan Plagioklas dengan intensitas ubahan kuat. Plagioklas tergantikan oleh Serisit dan Masadasar yang hampir seluruhnya terubah oleh Kuarsa, Serisit dan Mineral Opak. Hasil data pengukuran XRD dan XRF  menunjukan meneral utama dilokasi ini adalah Plagioklas dan Kuarsa (SiO2) 67,3%. Unsur logam oksida paling menonjol adalah Alluminium Oksida (Al2O3) 18,73% dan Oksida Besi (Fe2O3) 2,13%. Untuk Lerokis LR-HW bagian Selatan memiliki Mikrokristalin Plagioklas dan Gelas vulkanik dengan intensitas ubahan tinggi, terubahkan oleh Mineral Lempung, Klorit dan Serisit. Hasil pengukuran XRD dan XRF menunjukan Kuarsa, Clinochlore, Group Piroksen dan Illite. Logam oksida yang paling tinggi adalah Aluminium Oksida (Al2O3) 15,88%, Oksida Besi (Fe2O3) 7,15% dan Mangan Oksida (MgO) 7,36%.Kata Kunci: Wetar, KaliKuning, Lerokis, Alterasi, Mineral dan Logam Oksida
2019-01-16 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/18661 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v16i3.18661
1671383 #5790 SURVEY GEOFISIKA METODE RESISTIVITAS 2-D UNTUK MITIGASI BENCANA LONGSOR DI LINTASAN KERETA API PURWAKARTA - PADALARANG -, Nana Sulaksana
-, Inu Zaini Yasir
Landslide problems can result in loss of life or property, environmental damage, destruction of infrastructure and public facilities, as well as disrupt the livelihood of the community. Purwakarta area is indicated as one of the distribution area of Subang claystone formation. This area will potentially somelandslides disasters. Track of rail traffic in this region requires the evaluation of the stability of soil for mitigation purposes. The results showed that the locations of landslide-prone areas lie in the intermediate group resistivity (sand or silty sand or its weathered) which rest on a group of high resistivity of compact claystone.
landslide, mitigation, landslide-prone areas 2013-12-06 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8296 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v11i3.8296
1671382 #5790 PALEOTEMPERATUR KALA MIOSEN TENGAH BERDASARKAN ANALISIS KELIMPAHAN FORAMINIFERA PLANKTONIK PADA DAERAH CISANGKAL, KECAMATAN LANGKAPLANCAR, KABUPATEN PANGANDARAN, JAWA BARAT Pramudya, Rayhan Fatih
Haitami, Riza Rohmatul
Jurnaliah, Lia
Fauzielly, Lili
Winantris, .
Dinamika kondisi suhu yang selalu berubah-ubah terjadi dari masa lampau hingga saat ini dan mempengaruhi keberadaan mikroorganisme laut seperti foraminifera. Lokasi penelitian yang secara administratif terletak pada daerah Cisangkal, Kecataman Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat, dengan koordinat 108°30’41,61’’ BT dan 7°36’17,10’’ LS sampai 8°30’40,48’’ BT dan 7°36’19,78’’ termasuk dalam Formasi Pamutuan memiliki potensi informasi yang banyak mengenai paleotemperatur berkenaan dengan foraminifera yang melimpah,Penelitian ini bertujuan untuk menentukan umur dan paleotemperatur. Melalui analisis kuantitatif diperoleh sebanyak 16.072 individu foraminifera planktonik dengan total 60 spesies yang didapatkan dari total 10 conto batuan yang ada dari satuan Anggota Tuff Napalan Formasi Pamutuan (Tmpt). Terdapat total 6192 individu spesies penciri temperatur hangat, 1896 individu temperatur sedang, dan 584 individu temperatur dingin. Melihat dari dominansi spesies penciri temperatur hangat pada daerah penelitian mengindikasikan bahwa paleotemperatur pada daerah tersebut masuk ke dalam kategori temperatur yang relatif hangat (>20°C).Kata Kunci : Foraminifera Planktonik, Formasi Pamutuan, Paleotemperatur
2025-12-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/59458 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v23i3.59458
1671381 #5790 Karakteristik Kimia Organik Pada Akifer Bebas di Beberapa Lokasi Pemanfaatan Lahan Daerah Jatinangor Dan sekitarnya wahyudi, .
Suganda, Bombom Rahmat
Hadian, Sapari Dwi
Sendjaja, Yoga Andriana
Irawan, Budi
Daerah Jatinangor secara umum dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian, permukiman dan industri. Peningkatan pemanfaatan lahan permukiman berpotensi mengakibatkan penurunan kualitas airtanah. Objek penelitian ini untuk mengetahui perbedaan sifat kimia organik airtanah pada akifer dangkal di beberapa jenis pemanfaatan lahan. Penentuan konsentrasi sifat kimia organik airtanah dilakukan dengan pengujian laboratoium KMnO4, BOD dan COD sebagai parameter yang menjadi indikator bahan organik di perairan. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan konsentrasi paramater kimia organik airtanah pada jenis pemanfaatan lahan permukiman dan industri terutama pada musim hujan.
2020-01-21 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/23120 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v17i3.23120
1671380 #5790 LIMESTONE BEDS DEVELOPMENT OF THE MIDDLE–LATE MIOCENE JATILUHUR FORMATION IN THE BOGOR TROUGH, WEST JAVA -, Abdurrokhim
-, Hendarmawan
The sedimentary rock succession of the Jatiluhur Formation comprises of mixed siliciclastic and carbonate sedimentary rocks. Two intervals of limestone beds are observed along the Cipamingkis River, on the lower and upper part of succession. Limestone in the lower part is typified by coarse-grained slump-scar-fill deposits that deposited during middle Miocene. It is largely consisting of skeletal fragments that have been delivered from the shallow marine carbonate reef of the Upper Cibulakan Formation during relative sea level fall. The punctuated mixing of siliciclastic and carbonate detritus took place during the middle Miocene in the Bogor Trough. Limestone beds in the upper part are characterized by thick- to very thick bedded limestone intercalated with thin- to very thin laminated siltstone, claystone, and fine-grained sandstone, which are interpreted to have been deposited in the shelf margin environment during late Miocene. The limestone consists of various characteristic of packstone, grainstone, rudstone and boundstone. Carbonate reef of the Klapanunggal Formation is interpreted to be the source of thick-bedded limestone in the upper part. The facies mixing of siliciclastic and carbonate sediments occurred in the middle part of Jatiluhur Formation during the late Miocene.
2015-08-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8395 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v13i2.8395
1671379 #5790 SEJARAH PERKEMBANGAN GEOLOGI : DEFINISI, CABANG-CABANG ILMU DAN APLIKASINYA -, Agung Mulyo
Istilah “Geology” berarti pelajaran tentang Bumi. Kata ini pertama kali digunakan oleh Richard de Bury (1473) sebagai nama lain untuk Ilmu Pengetahuan Bumi (Earthly Science), seperti halnya penggunaan istilah Theologi bagi mereka yang tidak setuju dengan nama Ilmu Pengetahuan Surgawi (Heavenly Science). Dengan demikian awalnya definisi geologi berarti merupakan ilmu pengetahuan alam untuk menjelaskan dan memecahkan berbagai masalah mengenai Bumi. Akan tetapi pada abad ke-20 berbagai disiplin ilmu berkembang menjadi spesialisasi yang didasarkan pada kesamaan objek kajiannya.
2007-01-03 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8136 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v5i1.8136
1671378 #5790 KARAKTERISASI RESERVOAR MENGGUNAKAN METODE SEISMIK INVERSI IMPEDANSI AKUSTIK DAN MULTIATRIBUT SERTA APLIKASI METODE SIMULASI MONTE CARLO UNTUK ESTIMASI SUMBERDAYA PADA LAPANGAN PRO Rizki Ordas, Perdana
Karakteristik reservoar sangat penting di dalam ekspiorasi hidrokarbon.  Penelitian ini dilakukan di Lapangan “PRO” Cekungan Bonaparte.  Analisis karakter fisis pada reservoar batupasir pada penelitian ini menggunakan metode inversi impedansi akustik dan multiatribut seismik.  Dengan menggunakan metode ini, kita dapat memisahkan dengan baik antara batupasir dan serpih Formasi Plover yang terdapat pada Lapangan “PRO” Cekungan Bonaparte. Metode seismik inversi akustik yang digunakan dalam penelitian yaitu Modelbased, sedangkan seismik multiatribut yang digunakan adalah multiatribut regresi linier dalam memetakan volume densitas, porositas dan saturasi air (Sw). Reservoar batupasir yang mengandung hidrokarbon dominan berada pada bagian selatan daerah penelitian ditunjuukkan oleh nilai impedansi akustik sebesar 10.000-35.000 (ft/s)*(g/cc), serta nilai densitas sebesar 2.4-2.6 gr/cc, nilai porositas efektif sebesar 15-20%, dan nilai Sw yang rendah sekitar 10-20% yang mengindikasikan hidrokarbon berupa gas.  Hasil dari inversi impedansi akustik dan multiatribut seismik dapat digunakan dalam melakukan perhitungan sumberdaya. Metode yang digunakan adalah metode simulasi Monte Carlo yang merupakan pemodelan probabilistik karena pada bawah permukaan memiliki uncertainty (ketidakpastian) yang tinggi.  Berdasarkan perhitungan sumber daya dengan metode simulasi Monte Carlo, didapatkan P10 nilai sumber daya yang terdapat di dalam reservoir hidrokarbonya sebesar 365.72 BCF (bilion cubic feet), kemudian pada P50 214.04 BCF (bilion cubic feet) dan P90 memiliki nilai sumber daya sebesar 86.32 BCF (bilion cubic feet). Kata kunci: inversi, multiatribut seismik, saturasi air, Monte Carlo.
2021-05-06 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/31234 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v19i1.31234
1671377 #5790 PENGARUH SESAR CITANDUY TERHADAP POLA JURUS LAPISAN BATUAN DI DAERAH BANTARUJEG-MAJALENGKA, PROVINSI JAWA BARAT Ismawan, Ismawan
Haryanto, Iyan
Fold pattern of the Tertiary sedimentary rock in Majalengka represents east-west orientation as a partof Jawa fault thrust belts. In the Bantarujeg area, the orientation of those folds are slightly different tothe major east-west orientations due to different shear strength that controls this region as a product ofheterogenity block movement in orientation and speed. It was causing rock mass break laterally andproduce tear faults and/or strike-slip faults. Along the faults, strain direction rotated and bend thestratification of sedimentary rocks along the fault. However, pattern of stratification is depend on thetime development of fault system since the stratifications are not influenced by faults.Step of works of this research was starting by interpret structure and lineament from DEM data, thuscombined by field work data that consists of strike and dip of stratification, lithology and stratigraphysuccession.Keywords : rotation, copel, strain system, anjakan fold, strike pattern, stereographic projection Pola struktur lipatan pada batuan sedimen Tersier di daerah Majalengka, merupakan bagian dari polastruktur lipatan anjakan Jawa yang secara regional berarah barat-timur. Di daerah Bantarujeg, sebagiandari pola struktur ini membusur karena adanya pengaruh tegasan kopel. Tegasan kopel terjadi ketikamasa batuan yang bergerak memiliki kecepatan yang berbeda di setiap segmennya. Peristiwa inimenyebabkan masa batuan robek secara lateral yang akhirnya membentuk tear fault atau sesarmendatar lokal. Selama berlangsungnya peristiwa ini, arah tegasan berotasi dan menyebabkan lapisanbatuan melengkung secara lateral di sekitar zona sesarnya. Tidak semua sesar mendatar merubah polajurus lapisan batuan, hal ini tergantung kepada waktu pembentukannya, yaitu apakah lipatan seret initerbentuk bersamaan dengan pembentukan struktur lipatan anjakan ataukah terjadi sesudahnya.Metoda penelitian dilakukan dengan menganalisis kelurusan struktur melalui DEM, dilanjutkan denganmengukur kedudukan strike dan dip lapisan di lapangan. Selanjutnya dengan mengkompilasi aspekmorfologi dan stratigrafinya, akan diketahui sejauh mana kontrol tear fault merubah pola jurus di daerahini. Pengolahan data struktur dilakukan dengan analisis dem, rekontruksi pola jurus dan proyeksistereografi.Kata kunci : rotasi, kopel, sistem tegasan, lipatan anjakan, pola jurus, proyeksi sterografi.
2016-10-13 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/9805 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v14i2.9805
Menampilkan 1.781 - 1.800 dari total 1.550.696 data