| ID ↓ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1671416 | #5790 | INTERPRETASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI SCHLUMBERGER UNTUK IDENTIFIKASI ANOMALI RONGGA DAN GUA DI KECAMATAN SEPAKU, KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR |
Santoso, Hendra Situmorang, Roni Marudut |
Daerah Sepaku merupakan daerah potensi batu gunung, berupa batu gamping, batu pasir dan batu lempung, dengan morfologi bergelombang kuat dan sedang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis batuan penyusun struktur bawah permukaan berdasarkan nilai resistivitas batuan di sekitar. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode geolistrik Bawono (Modified: Naniura NRD 300 HRF) konfigurasi Schlumberger dengan mengukur nilai tahanan jenis lapisan tanah di daerah Sepaku sebanyak 10 lintasan. Pemodelan dan inversi data lapangan dilakukan menggunakan software Res2DinV. Hasil penelitian menunjukkan keberadaan batu gamping memiliki nilai tahanan jenis antara 300 – 1870 Ωm, batu pasir 30 – 300 Ωm, dan batu lempung 3 – 30 Ωm. Litologi batuan secara keseluruhan didominasi perselingan batu pasir dan lempung, sedangkan batu gamping hanya memiliki ketebalan 15 – 40 meter. Litologi batu gamping memiliki gua di Lintasan GL1, dan rongga atau rekahan di semua lintasan.
|
2023-08-09 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/47210 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v21i2.47210 | |
| 1671415 | #5790 | SURVEI MAGNETOTELURIK DAERAH PANAS BUMI MARANDA, KABUPATEN POSO, PROVINSI SULAWESI TENGAH |
Awaludin, Winarno Hutabarat, Johanes Syafri, Ildrem Sugianto, Asep |
ABSTRAKSurvei Magnetotelurik (MT) telah dilakukan di daerah panas bumi Maranda yang terletak di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Pola struktur geologi di daerah Maranda didominasi oleh arah utara-selatan yang berasosiasi dengan arah sesar naik Poso yang berada di bagian baratnya dan pola struktur berarah relatif barat-timur sebagai antitetiknya. Hasil perhitungan dengan geotermometer silika baik pada kondisi conductive cooling maupun adiabatic cooling menunjukkan nilai yang hampir sama dimana suhu reservoir berdasarkan geotermometer kelompok mata air panas Maranda berkisar antara 125-184°C. Tujuan survei ini adalah untuk mengetahui struktur tahanan jenis bawah permukaan yang berkorelasi dengan sistem panas bumi. Pengukuran MT di daerah panas bumi Maranda telah dilakukan pada 42 titik ukur yang tersebar membentuk 8 buah lintasan berarah baratdaya-timurlaut dengan jarak antar titik ukur sekitar 1000 m. Peta tahanan jenis (MT) memperlihatkan adanya pola kelurusan berarah baratlaut-tenggara dengan sebaran tahanan jenis tinggi di sebelah baratdaya dan sebaran tahanan jenis rendah di sebelah timurlaut. Batuan penudung yang dicirikan dengan nilai tahanan jenis rendah berada di sebelah timurlaut di antara mata air panas Maranda dan mata air panas Kawende dengan pola yang membuka ke arah timurlaut. Batuan penudung ini diperkirakan berada di dekat permukaan hingga kedalaman 750 meter dengan ketebalan 500-750 meter. Kata kunci: magnetotelurik, panas bumi, Maranda, Sulawesi Tengah ABSTRACTMagnetotelluric (MT) surveys have been conducted in the Maranda geothermal area located in Poso District, Central Sulawesi. The geological structure pattern in the Maranda region is dominated by the north-south direction associated with the Poso thrust fault in the west and the structures pattern of relative east-west trending as their antithetes. The results of calculations with silica geotherm meter in both conductive cooling and adiabatic cooling conditions show almost the same value that the reservoir temperature based on the geothermometric of the Maranda hot springs ranges from 125-184 ° C. The purpose of this survey is to knowing the structure of the subsurface resistivity that correlates with the geothermal system. Measurements of MT in geothermal Maranda have been done on 42 scattered points forming 8 trajectory direction southwest-northeast with the distance between the measuring point about 1000 m. The type resistance maps (MTs) show an alignment pattern in northwest-southeast direction with high resistance range in the south-west and low-end resistance range to the northeast. The cap rocks that are characterized by low-end resistance values are northeast of Maranda's hot springs and Kawende's hot springs with a pattern that opens to the northeast. The cap rocks are estimated to be near the surface to a depth of 750 meters with a thickness of 500-750 meters. Keywords: magnetotelluric, geothermal, Maranda, Central Sulawesi
|
2017-12-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15098 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v15i3.15098 | |
| 1671414 | #5790 | STRATIGRAPHY REVIEW OF KUNINGAN AREA IN RELATION TO THE PETROLEUM POTENTIAL | -, Edy Sunardi |
The West Java area is part of back arc basin comprising a number of North-South oriented half graben and sub-basin situated at the southernmost edge of the Sunda Platform. The area chosen for this study is called as Kuningan Area, located at the Bogor Trough, which has a complete sequence of rifting events. However, limited wells are available; therefore, a basin fill history could not be identified.It is predicted that this area has a hydrocarbon potential. Play concepts in the Northwest Java Basin, especially focused on syn-rift and post-rift sediments, whilst in the past they concentrated on carbonate build-ups on structural highs and the Jatibarang volcanics.In the offshore of NW Java Basin, to the north of this area, the proven oil and gas province are scattered in the several sub-basins such as Northwest Java Basin and Arjuna Basin. A number of different plays as shown in structural cross section in W-NE direction of the West Java Basin show the presence of extensive block faulting in the basement forming graben-like structures. The deposition of carbonate build-up is clearly indicated as Baturaja Formation in the lower part and Parigi Formation in the upper part. It is hoped that this configuration extends to the Kuningan Area which is mostly covered by thick Quaternary volcanic rocks.
|
hydrocarbon potential, Northwest Java Basin | 2011-12-10 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8269 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v9i3.8269 |
| 1671413 | #5790 | HUBUNGAN ANTARA INDEKS GRADIEN PANJANG SUNGAI DAN HIPSOMETRI PADA RESPON MORFOTEKTONIK DI CEKUNGAN BANDUNG BAGIAN TIMUR |
Rendra, Pradnya Paramarta Raditya Sukiyah, Emi Hadian, Mohamad Sapari Dwi Daliman, Shaparas Binti Sulaksana, Nana |
Penelitian dilakukan di Cekungan Bandung bagian timur yang secara geologi tersusun oleh dominasi batuan vulkanik berumur Kuarter. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap hubungan antar aspek morfotektonik yang terdiri dari indeks gradien panjang sungai (SL) dan hipsometri (HI) dalam merespon aktivitas tektonik di daerah penelitian. Penelitian dilakukan menggunakan media citra DEM (Digital Elevation Model) melalui dukungan SIG (Sistem Informasi Geografis) di studio. Perangkat lunak ArcGIS 10.0 digunakan dalam proses pengolahan citra serta Microsoft Excel digunakan dalam proses perhitungan dan analisis data. Berdasarkan hasil penelitian, daerah penelitian terdiri dari enam DAS, yaitu DAS Citarik Hulu, Cijalupang, Ciwirama, Ciburial, Cikeruh, dan Cimande yang sebagian besar berada pada morfologi perbukitan dan gunung hingga pedataran dengan kemiringan lereng mulai dari sangat curam hingga datar. Daerah penelitian memiliki enam pola pengaliran sungai, yaitu pola radial, subradial, subdendritik, parallel, subparallel, dan anastomotik. Secara umum, keenam pola pengaliran tersebut menunjukkan bahwa daerah penelitian didominasi area berlereng curam hingga sangat curam dan tersusun oleh batuan vulkanik di bagian utara, timur, dan selatan, berlereng landai hingga datar dan tersusun oleh material lepasan di bagian tengah hingga barat, serta dipengaruhi struktur geologi minor. Hal ini dibuktikan dari hasil perhitungan nilai SL (113,24 – 409,75) dan HI (0,22 – 0,50) yang menunjukkan respon aktivitas tektonik rendah hingga cukup tinggi. Selain itu, korelasi nilai SL dan HI menunjukkan tingkat hubungan sangat kuat yang tercermin dari koefisien korelasi (r) = 0,932, yaitu semakin besar nilai SL maka semakin besar pula nilai HI.
|
2024-12-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/56414 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v22i3.56414 | |
| 1671412 | #5790 | Pengaruh Kontrol Struktur Geologi Daerah Vulkanik terhadap Aliran Air Tanah di Daerah Gekbrong, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat |
Ismawan, Ismawan Hendarmawan, Hendarmawan Hutabarat, Johanes Isnaniawardhani, Vijaya |
Aliran air dari hulu ke hilir dipengaruhi oleh berbagai hal, terutama adalah jenis batuan penyusun di daerah resapan serta intensitas deformasinya. Kombinasi struktur sesar dan kekar dapat memodifikasi variasi permeabilitas dari sangat permeabel (akuifer bagus) sampai dengan sangat kedap (akuiklud). Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kondisi geologi, baik kondisi geologi permukaan maupun bawah permukaan yang terdiri atas batuan penyusun, tatanan tektonik dan pola strukturnya serta pengaruhnya terhadap aliran airtanah. Secara administratif daerah penelitian meliputi daerah Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.Daerah penelitian dibagi menjadi 3 satuan geomorfologi, yaitu Satuan Geomorfologi Tubuh Gunungapi Strato, Satuan Geomorfologi Kaki Gunungapi Strato dan Satuan Geomorfologi Perbukitan. Urutan satuan stratigrafinya, dari yang tua sampai yang muda, adalah Satuan Breksi Tuff, Satuan Breksi Vulkanik, Satuan Tuff Breksian, Satuan Lava Andesit dan Lava Basaltik. Batuan di daerah penyelidikan umumnya berasal dari endapan volkanik dan dapat dikelompokan berdasarkan kisaran nilai tahanan jenisnya. Sesar-sesar yang ada di permukaan adalah : Sesar Gekbrong, Sesar Cibeleng dan Sesar Cipadang, ketiganya berarah relatif baratdaya – timurlaut, sedangkan sesar di bawah permukaan berarah timurlaut – baratdaya tidak diberi nama. Daerah resapan dibatasi sesuai dengan batas sesar yang berarah timurlaut – baratdaya, mengindikasikan bahwa sesar ini bertindak sebagai sealing fault.Kata Kunci: Gekbrong, Endapan Vulkanik, Struktur Geologi, Daerah Resapan, Resistivitas
|
2019-01-16 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/18683 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v16i3.18683 | |
| 1671411 | #5790 | PERHITUNGAN POTENSI AIRTANAH DI KAWASAN KAMPUS UNPAD JATINANGOR DENGAN METODE NUMERIK |
Barkah, M. Nursiyam Setiadi, Djajang Jedi Hadian, Moh. Sapari Dwi |
Geological conditions Jatinangor campus is a volcanic deposits that have 3 potential aquifer, the unconfined aquifer is a depth of 0-60 m, confined aquifer 1 at a depth of 80-90 m and confined aquifer 2 at a depth of 120-200 m. The results of groundwater potential calculation is done using the method of numerical groundwater flow pattern is obtained relative trending Northwest - Southeast tend to follow topographical pattern. This is consistent with the geological-geophysical mapping data that the geometry and pattern of shallow groundwater aquifers configuration follows the pattern of topographic contours. However, the groundwater in the aquifer geometry and pattern configuration does unfollow the pattern of topographic contours, but follows the pattern of the stratigraphy and structural geology. The quality of groundwater in the shallow aquifer or aquifer in not affected by topography, groundwater quality is controlled by the pattern of stratigraphic and structural geology. Ground water Chemical typehas results are Ca-HCO3; Mg ; Mg-HCO3 and No-type. The results of measurements of physical character in the field, existing groundwater generally meet the requirements of the quality standards for drinking water. The test results of the pumping test wells 10 point values obtained transmissivity (T) ranged from 86.4 to 467.9 m2 / day and Permeability (K) ranging between 1.2 x 10-4 - 6.3 x 10-6 cm / sec. Based on the well test results obtained transmissivity values diversity and rock permeability significantly, it could be interpreted that the distribution of the research areas of uneven rocks.
|
2015-12-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8412 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v13i3.8412 | |
| 1671410 | #5790 | INVENTARISASI BAHAN TAMBANG DI WILAYAH CIBADAK, CIEMAS DAN CISAAT, KABUPATEN SUKABUMI |
-, M. Sapari D. Hadian -, Cipta Edyana |
Nowaday natural resources have to be optimalized for humanitarian welfare, It needed manajemen of mining effort that have the same with characterization of each natural resourses, then it needed to take inventory of appearance of natural resources itself. All the information of mineral deposits be fitured in Map that covered in Identification and Mapping Potential Mineral Resourses Work.South Mountained Zone is a Table Land which developed a triangle with its top at southern Bandung have direction west to east, from The Pelabuhan Ratu Bay until Nusakambangan. Width of South Mountained Zone is about 50km. This zone is divided into 3 subzones, which is Jampang Subzone, Pangalengan Subzone, and Karangnunggal Subzone. The research area is included in Jampang subzone that contain Pra-tertiary Rock and Tertiary Sediment and appears in western of this zone. The Oldest rock found at South Mountained Block West Java consist igneous rock, ultrabase, and basalt (Van Bemmelen, 1949) and Skish which appears in Pra-tertiary age (Mark, 1957). Endang Toyib (1975) comment that complex melange deposits which is consist in Ciletuh area are the oldest rock (Mps, Mgg, Mgp). Those rocks formed by ofiolith and metamorphic rock and sedimentary rock consist black clay that scraped and mixed tectonically.
|
identification & mapping, natural resources | 2007-12-05 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8151 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v5i3.8151 |
| 1671409 | #5790 | Interpretasi Lapisan Akuifer Menggunakan Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger di Desa Tamansari Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas |
Octaviani, Tri Sehah, . |
Desa Tamansari Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas merupakan salah satu desa yang sering mengalami kekeringan. Kegiatan eksplorasi sumber air tanah telah dilakukan menggunakan teknik geolistrik dengan konfigurasi Schlumberger. Teknik geolistrik ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kedalaman lapisan akuifer air tanah dan struktur batuan bawah permukaan berdasarkan nilai resistivitasnya. Akuisisi data geolistrik resistivitas dilakukan di empat titik sounding dengan panjang masing-masing lintasan adalah 400 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur lapisan batuan bawah permukaan berdasarkan nilai resistivitasnya tersusun atas tanah penutup (0,18 – 5,25 m), batupasir konglomeratan (24,38 – 155,26 Ωm), batulempung pasiran (5,07 – 20,19 Ωm), batulempung karbonatan (napal) (2,57 – 3,41 Ωm), pasir lempungan (2,82 – 6,26 Ωm) dan batuan breksi (101,45 – 153,00 Ωm). Jenis akuifer air tanah yang diperoleh adalah akuifer tertekan, dimana lapisan akuifer ini ditemukan pada titik-titik sounding Sch-1, Sch-2, Sch-3, dan Sch-4 dengan kedalaman berkisar 48,89 – 145,64 m dari permukaan topografi. Litologi lapisan akuifer tertekan ini adalah pasir lempungan dengan ketebalan 46,11 – 84,5 m. Akuifer tertekan merupakan lapisan akuifer yang berpotensi di daerah penelitian. Sedangkan akuifer bebas tidak ditemukan di daerah penelitian.
|
2022-01-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/37302 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v19i3.37302 | |
| 1671408 | #5790 | Characteristic of volcanic deposits in the southern part of Gunung Karang, Pandeglang - West Java |
Abdurrokhim, Abdurrokhim Ismawan, Ismawan |
In the southern part slope of Gunung Karang in Pandeglang, there are many well-outcrops of volcanic materials that developed during Quaternary. The deposits represent various lithofacies both vertically and laterally.In general the lithologic characteristics that are found in the study area can be grouped into three units, (1). Tertiary sedimentary rock, which is consists of tuffaceous mudstones interbedded with fine-grained tuffaceous sandstone and siltstone, (2) primary volcanic product consist of andesite lava flow, volcanic breccia/agglomerate, and pyroclastic rocks (ash tuff, lapilli tuff, bomb/block, and lapilli tuff breccia, and (3) secondary volcanic products, which is consisting of laharic breccia and coarse-grained thick-bedded sandstone.In general the deposits become younger to the top of topography (Gunung Karang), but locally the deposits are most likely overlapping each other’s.Keywords: Volcanic deposits, Gunung Karang
|
2016-12-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/11055 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v14i3.11055 | |
| 1671407 | #5790 | PETROLOGI AMFIBOLIT KOMPLEK MELANGE CILETUH, SUKABUMI, JAWABARAT |
-, Aton Patonah -, Haryadi Permana |
Amphibolite is part of Ciletuh mélange complex that was exposed together with serpentinite, harzburgite, dunite, gabro and basalt. The rock is dominated by amphibole and andesine and rarely can be observed quartz. At some locations, the rocks have changed to ampbibolite epidote (oligoclase + hornblende + actinolite + epidote + chlorite). The result of mineral paragenesis and measurement of pressure and temperature indicates that amphibolites was formed of 5 kbar – 6 kbar with temperature 640oC – 660oC. Meanwhile amphibolites epidote was formed of 4 kbar – 5 kbar with temperature 410oC – 455oC. Obtaining pressure and temperature from amphibolites is indicated as result of obduction and then it has retrograded metamorphism to amphibolites epidote because of accretion and uplifting at Upper Oligosen. The indication is characterized by actinolite changed to chlorite, albite and epidote have replaced andesine, and another indication is the rim of hornblende is replaced by actinolite.
|
amphibolites, amphibolites epidote, obduction, Uplift, retrograde metamorphism | 2010-08-06 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8245 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v8i2.8245 |
| 1671406 | #5790 | PENGARUH LITOLOGI TERHADAP KARAKTERISTIK BENTUKAN MORFOLOGI DAERAH SUNGAI KINANTAN BESAR, KABUPATEN SAROLANGUN, JAMBI |
Arnoly, Muhammad Farhan Idarwati, . |
Secara administratif, lokasi penelitian berada di Daerah Sungai Kinantan Besar dan Sekitarnya, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Kenampakan bentang alam dengan bentukan lahan beragam memiliki bukti dengan adanya proses kejadian geologi yang terjadi pada suatu daerah, baik bersifat endogen dan eksogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik bentukan morfologi terhadap persebaran litologi batuan penyusunnya. Metode penelitian meliputi studi pendahuluan, observasi lapangan, kerja studio dan analisis laboratorium. Studi pendahuluan meliputi studi literatur untuk mengumpulkan informasi mengenai kondisi geologi regional dan keadaan geologi lokal daerah penelitian. Observasi lapangan meliputi pengamatan singkapan dan pengambilan sampel dan pengamatan bentukan morfologi dengan aspek-aspek geomorfologi. Kerja studio meliputi pembuatan peta-peta dengan mengelola pada data Digital Elevation Model (DEM) dengan skala peta 1: 25.000, diolah menggunakan software Global Mapper, ArcGis 10.6 dan ArcScene 10.6. Terakhir, analisis laboratorium dengan menggunakan plate thin section dengan ketebalan sekitar 0,03 mm dapat dilihat menggunakan mikroskopis polarisasi untuk mengetahui komposisi penyusun batuan tersebut. Pengelompokan dan pembagian bentukan lahan yang terbentuk pada daerah penelitian dipengaruhi oleh litologi. Hasil pembagian bentuk bentang alam daerah penelitian terbagi menjadi 4 bentuk lahan utama yaitu Perbukitan Zona Sesar (PZS) didominasi oleh litologi Batusabak, Bukit Intrusi (BI) didominasi dengan litologi Andesit, Perbukitan Berlereng Curam (PBC) didominasi dengan litologi Granit dan Meander River (MR).Administratively, the research location is in the Kinantan Besar River Area and its surroundings, Batang Asai District, Sarolangun Regency, Jambi. The appearance of landscapes with diverse landforms has evidence of the process of geological events that occur in an area, both endogenous and exogenous. This study aims to determine the characteristics of morphological formation on the lithological distribution of its constituent rocks. Research methods include preliminary studies, field observations, studio work, and laboratory analysis. Preliminary studies include literature studies to gather information on regional geological conditions and local geological conditions of the study area. Field observations include outcrop observations and sampling and observations of morphological formations with geomorphological aspects. Studio work includes making maps by managing Digital Elevation Model (DEM) data with a map scale of 1: 25,000, processed using Global Mapper software, ArcGis 10.6, and ArcScene 10.6. Finally, laboratory analysis using a thin section plate with a thickness of about 0.03 mm can be seen using microscopic polarization to determine the composition of the rock constituents. The grouping and division of landforms formed in the study area are influenced by lithology. The results of the division of landscape forms of the study area are divided into 4 main landforms, namely Fault Zone Hills (PZS) dominated by Batusabak lithology, Intrusion Hills (BI) dominated by Andesite lithology, Steep Sloped Hills (PBC) dominated by Granite lithology and Meander River (MR).
|
2023-12-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/47304 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v21i3.47304 | |
| 1671405 | #5790 | PENENTUAN STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN MENGGUNAKAN APLIKASI GAYABERAT PADA DAERAH PANAS BUMI SOLOK |
Mayasari, Verna Syafri, Ildrem Haryanto, Agus Didit Sugianto, Asep |
Metode gayaberat dapat menggambarkan kondisi struktur bawah permukaan berdasarkanvariasi medan gravitasi bumi yang disebabkan oleh perbedaan densitas antar batuan di bawahpermukaan pada daerah panas bumi Solok. Hasil metode gayaberat berupa peta anomalibouguer, peta anomali bouguer regional, peta anomali bouguer residual beserta penampangyang akan memberikan gambaran keadaan batuan bawah permukaan. Hasil pemodelangayaberat menunjukkan liniasi kontur yang mengindikasikan struktur geologi berupa sesardengan arah baratdaya-timurlaut dengan nilai densitas batuan2.85 gr/cc yang berada padalapisan batuan vulkanik tersier. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahamanterhadap karakteristik anomali gayaberat dan membantu tahapan eksplorasi lebih lanjut. Kata kunci : anomali, bouguer, densitas, gayaberat, regional, struktur bawah permukaan,panas bumi.
|
2018-05-18 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/16769 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1671404 | #5790 | KARAKTERISTIK GEOLOGI DAERAH GUNUNGAN LUMPUR CIUYAH |
-, Faizal Muhamadsyah -, Edy Sunardi -, Vijaya Isnaniawardhani |
The mud flow which identified in Ciuyah area is located in Ciniru village, District Ciniru, Kuningan regency, West Java. Study of morphometry through the deployment of slope classes have described the class as a concentric distribution with location of Ciuyah mud flow in the middle. Annular’s drainage pattern at the regional scale is reflected of the circular in the Ciniru area, at around of site Ciniru extrusion Ciuyah mud mound. Circular patterns of distribution shown by the slope zone, and annular flow patterns in the river a more regional scale is suggest updoming beneath the surface. Interpreted that the migration channel and the possible fluid circulation is controlled by faults that developed in the study area. Structural geology are factors that contribute to the release or migration of fluid to the surface, and provide an outlet for material and fluid under conditions of excessive stress, clayey material which forming of bedrock formations is elusiation experience process, and eventually formed mountains of mud intrusion on the surface
|
mud flows, morphometry, geological structure | 2012-08-08 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8278 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v10i2.8278 |
| 1671403 | #5790 | PERAN INTENSITAS HUJAN TERHADAP STABILITAS LERENG DI DAERAH JATISARI, KECAMATAN BOJONGPICUNG, KABUPATEN CIANJUR, PROVINSI JAWA BARAT |
Sholtan, Devanya Anantasya Sophian, Raden Irvan Hardiyono, Adi ., Iskandar |
Pada tanggal 25 April 2024 diketahui telah terjadi peristiwa gerakan tanah di daerah Jatisari, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Menurut keterangan warga sekitar, persitiwa tersebut terjadi setelah hujan dengan durasi yang cukup panjang. Studi ini bertujuan untuk melihat keterkaitan hujan dengan persitiwa gerakan tanah yang terjadi di daerah Jatisari. Metode yang dilakukan pada penelitian ini meliputi pengamatan lapangan, pembuatan geometri lereng, pengujian laboratorium, dan pemodelan. Pemodelan yang dilakukan berupa analisis rembesan air hujan dengan perangkat lunak Geostudio SEEP/W dan analisis kestabilan lereng dengan perangkat lunak Geostudio Slope/W. Dari analisis tersebut diketahui hujan yang terjadi selama 12 hari dengan intensitas 1.8 mm/jam atau hujan 6 hari dengan intensitas 60 mm/jam dapat menurunkan faktor keamanan (FK) hingga rentang nilai 0.684 – 0.763. Mekanisme berkurangnya kestabilan lereng ini terjadi akibat hilangnya matric suction. Hilangnya matric suction merupakan pengaruh dari infiltrasi air hujan ke dalam permukaan lereng.
|
2024-12-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/59017 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v22i3.59017 | |
| 1671402 | #5790 | Karakteristik dan Lingkungan Pengendapan Batubara Eosen Formasi Batu Ayau Cekungan Kutei Atas Bagian Barat Di Daerah Murung Raya Dan Sekitarnya, Kalimantan Tengah |
Suryanegara, Yoga Wardhani, Vijaya Isnania Sunardi, Edy |
Endapan batubara di daerah penelitian termasuk ke dalam Formasi Batu Ayau yang merupakan bagian dari Kelompok Tanjung pada Cekungan Kutei Atas bagian Barat. Diidentifikasi terdapat sebanyak 22 lapisan batubara dimana 4 (empat) lapisan batubara merupakan seam utama yaitu (dari bawah ke atas): seam B (1.05m), C (1.19m), D (1.43m) dan J (1.44m). Deskripsi megaskopis lapisan batubara: berwarna hitam yang didominasi pita terang (bright) – sangat terang (very bright), pecah blocky – concoidal, dan abundant cleat. Berdasarkan analisa maseral, batubara Eosen ini dapat diklasifikasikan sebagai tipe Vitrinite A. Rank batubara di daerah penelitian adalah low – medium volatile bituminous – semi antrasite (Rv: 1.75 – 2.0 dengan VM-daf: 13.78% – 28.14%) dan memiliki kualitas batubara metalurgi dengan CSN 8.5. Fasies sedimen pembawa batubara berupa perselingan fasies batupasir dengan batulanau dengan sisipan lapisan batubara. Fasies batulanau sisipan batubara diinterpretasikan merupakan endapan rawa yang dipengaruhi oleh aktivitas limpas banjir sedangkan fasies batupasir merupakan tipe endapan channel dan point bar. Kedua fasies sedimen ini diendapkan pada lingkungan fresh water atau sistem lingkungan pengendapan fluvial dengan pola meandering dan/atau braided system yang dipengaruhi oleh floodplain. Lingkungan pengendapan ini terbagi menjadi empat siklus sekuen lingkungan pengendapan fluvial. Berdasarkan analisa kualitas conto diketahui bahwa proses coalification batubara secara vertikal dikontrol oleh proses burial depth dan secara lateral dikontrol oleh adanya struktur geologi yang diidentifikasi sebagai bagian akhir dari Adang Flexure serta oleh adanya intrusi batuan beku Sintang yang tidak tersingkap ke permukaan. Kata kunci: Batubara Eosen, Type, Rank, Batubara Metalurgi, Fluvial System, Coalification.
|
2019-04-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/20953 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v17i1.20953 | |
| 1671401 | #5790 | KARAKTERISTIK GEOLOGI DAERAH VOLKANIK KUARTER KAKI TENGGARA GUNUNG SALAK |
Suganda, Bombom Rahmat Isnaniawardhani, Vijaya |
Gunung Salak land forms hills and valleys, composed of typical volcanic deposit that controlled by geology structures. The research was conducted in several stages, there are: references study, field study or geological mapping (observation of geomorphology or landforms, rock type and genesis, geology structure indication) as well as data analysis. Landform of southeast part of Gunung Salak can be devided into steep hill geomorphological unit that lied on high land, formed by Salak volcanic deposits, with radial drainage pattern; and sloping hill geomorphology unit with smooth contours that lied on lowland, formed by Salak and Pangrango mixing volcanic deposits. The southeast part of Gunung Salak foothills from lower to upper consecutively composed by pumiceous tuf volcanic deposit; laharic breccia; lapili and pumiceous tuf with paleosoil layer intercalations; and andesitic lava. Geology structure indications was difficulty observed because of thin soil cover and sloping dip of rock layer (<10º).
|
2014-08-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8370 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v12i2.8370 | |
| 1671400 | #5790 | PETROGRAFI BATUAN BEKU VOLKANIK BAWAH LAUT KOMPLEKS GUNUNG KOMBA, LAUT FLORES, INDONESIA |
-, Johanes Hutabarat -, Agus Didit Haryanto -, L. Sarmili |
This study focuses on the petrography characteristics of the volcanic rocks in Mount Komba, Flores Sea, Nusa Tenggara Timur.Based on textural and mineralogical characteristics, volcanic rocks Mount Komba are composed of andesite-basaltic lava flows. It is chiefly porphyritic, intergranular, intersertal to glomeroporphyritic clots textures that contains variable proportion of plagioclase, pyroxene, biotite, hornblende and opaque oxide minerals phenocryst in very fine grained groundmass contains clinopyroxene, plagopclase laths, devitrified glass and opaque oxide minerals. Plagioclase phenocrysts show sieve-textured cores, opaque inclusions, compositional zoning, and skeletal melt pockets. Pyroxenes are strong zones with rims. Some are poikilitic. Biotite commonly exhibits a deep russet color parallel to its slow ray, the perpendicular direction being light to medium yellow brown. Some are altered to an asseblage of chlorite and finely granular opaque oxide minerals. Hornblende is perhaps slightly less abundant than biotite and occurs typically in euhedral to subhedralo crystals. It is pleochroic in shade of olive green and brownish yellow, rarely exhibiting a bright apple-green shade. Among the accessory minerals, opaque oxide minerals occurs as euhedral wedge-shape or blocky to slightly rounded, broken grains are common and also as a fine grainded alteration product associated with chlorite, formed from biotite and hornblende. Fresh glass is present, though in most cases the glass is devitrified.Some Mount Komba volcanic rocks studied exhibit varying degrees of propylitic or sericitic alteration. Feldspars plagioclase in particular, in most of the intensely hydrothermally altered Mount Komba volcanic rocks have been replaced by fine grained sericite, clay minerals, carbonate, chlorite, epidote and opaque oxide minerals.
|
Characteristic, volcanic rock | 2006-01-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8115 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v4i1.8115 |
| 1671399 | #5790 | Karakteristik Endapan Batu Lempung Pulau Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau |
Bastira, Shahnaz Noveta Hadian, Mohammad Sapari Dwi Muljana, Budi Putra, Dewandra Bagus Eka |
Pulau Bengkalis memiliki kondisi geologi yang sebagian besarnya terisi oleh endapan yang paling tua yaitu endapan alluvium dan sebagiannya lagi oleh gambut. Endapan alluvium yang terdiri dari lempung, lanau, dan pasir serta sebagian gambut. Endapan alluvium tersebut sebagian besar memiliki mineral lempung dibandingkan dengan mineral kuarsa. Karakteristik endapan alluvium dengan material lempung, lanau, dan pasir secara umum memiliki warna abu – abu kehitaman dengan butiran yang didominasi oleh lempung, lanau, dan pasir yang terendapkan secara perselingan dan juga memiliki tekstur kebundaran yang sangat bundar dengan kemas yang terbuka. Pada sebagian daerah penelitian yang terisi oleh gambut memiliki komposisi yang berupa akar – akar tumbuhan yang berserabut. Pada daerah penelitian terdiri atas empat satuan batuan yaitu satuan batupasir, satuan batulempung, satuan batulanau, satuan endapan alluvium dan sebagian gambut. Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa daerah penelitian memiliki mineral lempung jenis kaolinit dengan persentase sebanyak 7% dengan komposisi AL2Si205(OH)4 serta mineral penyerta terdiri atas mineral kuarsa dengan komposisi Si02 sebanyak 85%, clinochlore sebanyak 4% dengan komposisi Mg5Al2(Si,Al)4O10()H)8, muscovite sebanyak 4% dengan komposisi KAl2(Si3Al)O10(OH,F)2. Geomorfologi pada daerah penelitian terdiri atas dua satuan geomorfologi yaitu satuan geomorfologi pedataran landai alluvial dan satuan gemorfologi pedataran agak landai alluvial. Tujuan penelitian ini mengetahui kondisi geologi Pulau Bengkalis berdasarkan pada pengamatan geologi daerah penelitian serta mengetahui karakteristik endapan batulempung pada daerah penelitian berdasarkan hasil analisis mineral lempung.Kata kunci : batulempung, kuarsa, kaolinit, chinochlore, muscovite, XRD (X-ray diffraction).
|
2020-08-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28897 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v18i2.28897 | |
| 1671398 | #5790 | PERANAN ASPEK STRATIGRAFI DAN GEOLOGI DALAM MENGKAJI POTENSI GERAKAN TANAH DI KECAMATAN PELABUHAN RATU, KABUPATEN SUKABUMI |
Firmansyah, Yusi Ganjar Gani, Reza Mohammad Setiadi, Djadjang Djedi Adycipta, Adycipta |
ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk menilai potensi gerakan tanah yang mengacu kepada aspek-aspek geologi yang berkembang pada daerah penelitian. Secara astronomis daerah penelitian terletak pada 7o 0’ 3.15” – 7o 5’ 26.89” LS dan 106o 37’ 43.84” – 106o 43’ 10.28” BT, dengan dimensi 10x10 Km. Aspek geologi yang digunakan untuk mengidentifikasi pergerakan tanah antara lain geomorfologi, stratigrafi dan geologi struktur, selain dari ketiga aspek tersebut kami juga mempertimbangkan aspek tutupan lahan sebagai pemicu pergerakan tanah. Dalam menganalisa potensi pergerakan tanah metoda yang digunakan adalah skoring, dimana variabel yang akan digunakan diberi nilai dan dimasukan kedalam kelas-kelas. Dari hasil analisis potensi gerakan tanah, dapat disimpulkan bahwa daerah penelitian didominasi oleh zona stabil hingga kurang stabil. Sedangkan untuk daerah yang dianggap tidak stabil berada dibeberapa titik dari lereng sungai cimandiri yang juga merupakan zona sesar cimandiri dan sesar hegarmanah, dengan litologi batubeku andesit, batugamping dan alluvium. Kata kunci : Longsor, Pergerakan Tanah, Pemetaan Geologi ABSTRACTThis study was conducted to assess the potential for ground movement, which refers to the geologic aspects of developing the research area. In astronomical research area lies in 7o 0’ 3.15” – 7o 5’ 26.89” LS dan 106o 37’ 43.84” – 106o 43’ 10.28” BT, with dimensions of 10x10 km. Geological aspects are used to identify the movement of the ground, among others, geomorphology, stratigraphy and geologic structure, apart from these three aspects we also take into consideration aspects of land cover as a trigger for ground movement. In analyzing the potential for ground movement is scoring method used, where the variables to be rated and incorporated into classes. From the analysis of the potential for ground movement, it can be concluded that the study area is dominated by stable to less stable zone. As for areas that are considered unstable are several points of the slope Cimandiri river which is also the fault zones and fault Cimandiri Hegarmanah, with lithology batubeku andesite, limestone and alluvium. Keywords : Landslide, Soil Movement, geological mapping
|
2017-04-27 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/11995 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v15i1.11995 | |
| 1671397 | #5790 | PEMETAAN GEOLOGI NIKEL LATERIT DAERAH SP UNIT 25 DAN SEKITARNYA KECAMATAN TOILI BARAT, KABUPATEN BANGGAI, PROPINSI SULAWESI TENGAH | -, Geni Dipatunggoro |
The morphology of investigated area is a flat area and hilly area at elevation reaching 20 meters above the sea level. The lateritic nickel is a residual soil from weathering, resulting from serpentinite, hasburgite and dunite being ultramafic complex according to the geologic map of Batui sheets, Celebes.The extent of investigation is 8000 hectare as the permit from the regency of Banggai, and the thichness of nickel bearing lateritic soil averaging 2 meters, and therefore is roughly estimated 160.000.000 cubic meters. If the specivic gravity of lateritic soil is 2.6 and nickel content average 0.8 %, the reserve of lateritic nickel is will be 160,000,000 M³x 2.6 x 0.8% = 3,328,000 Tons. It is suggested to be mined by open pit method because the lateritic soil on the surface with only averaging thichness of soil 2 meters.
|
mapping, lateritic nickel | 2010-12-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8255 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v8i3.8255 |