Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↓ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1671356 #5790 PERUBAHAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN PADA KALA MIOSEN AKHIR-PLIOSEN AWAL BERDASARKAN KUMPULAN FORAMINIFERA BENTONIK KECIL PADA LINTASAN KALI JRAGUNG, KABUPATEN DEMAK, JAWA TENGAH Jurnaliah, Lia
Syafri, Ildrem
Sudrajat, Adjat
Kapid, Roebiyanto
ABSTRACTResearch area is located in Demak regency, Northern Central Java. Sixteen samplesediments was carried out from 140 meter section in Jragung River with 10 meter interval.Species and specimen of small benthic foraminifera was quantified in every 1 (one) gramdry sample sediment. Cluster analyses of small benthic foraminifera assemblages showedthat research area is comprises of 4 (four) biofacies. There are Biofacies A-JR (deep seawith middle bathyal zone), biofacies B-JR (shallow sea with outer shelf zone), biofacies C-JR (deep sea with middle bathyal – abyssal zone) and biofacies D-JR (deep sea withmiddle bathyal – lower bathyal zone). Eventually, during Late Miocene – Early Pliocenethere were 8 (eight) times fluctuate environmental (bathymetric zone) changes from deepsea to shallow sea.Key words: Small benthic foraminifera, biofacies, deep sea, shallow seaABSTRAKDaerah penelitian terletak di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Sebanyak 16 sampelsedimen diambil pada LIntasan Kali Jragung sepanjang 140 meter dengan interval 10meter. Penghitungan jumlah spesies dan jumlah individu foraminifera bentonik kecildilakukan pada setiap 1 (satu) gram sampel sedimen kering. Berdasarkan analisis klusterterhadap kumpulan foraminifera bentonik kecil, daerah penelitian terbagi menjadi 4(empat) biofasies, yaitu: Biofasies A-JR dengan lingkungan laut dalam (zona batialtengah); Biofasies B-JR dengan lingkungan laut dangkal (zona paparan luar); BiofasiesC-JR dengan lingkungan laut dalam (zona batial tengah-zona abisal) dan Biofasies D-JRdengan lingkungan laut dalam (zona batial tengah-zona batial bawah). Selama KalaMiosen Akhir-Pliosen Awal daerah penelitian mengalami 8 (delapan) kali perubahanlingkungan laut (zona batimetri) yang fluktuatif dari laut dalam menjadi laut dangkal.Kata Kunci: Foraminifera bentonik Kecil, biofasies, laut dalam, laut dangkal
2017-04-10 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/11742 buka_link ↗ Highlight_link
1671355 #5790 POTENSI TANAH MENGEMBANG DI KABUPATEN PURWAKARTA, JAWA BARAT -, Zufialdi Zakaria
-, Edi Tri Haryanto
Based on Geological Map of Pamanukan Sheet (scale 1:100.00) and Karawang Sheet (1:100.000), at northern ward of Purwakarta Regency, there are some rocks formation, e.g. Jatiluhur Formation, Subang Formation, and some Aluvials. Swelling potential analysis is based on Seed Method (Seed, et al.,1962, from Hunt, 2007). Soil samples at Aluvial terrain shows swelling characteristics very high (usually at clay of Subang Formation), its activity value is 1.31, predicted monmorilonitic (Bowles, 1989). Soil sample at clay terrain of Subang Formation shows low swelling potential (its not characteristic of Subang Formation), activity value is 0.21 (is predicted Illitic based on Bowles, 1989), and soil sample at clay terrain of Jatiluhur Formation, shows medium swelling potential characteristic with activity value is 0.52.
formation, swelling potential, activity value 2010-08-06 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8249 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v8i2.8249
1671354 #5790 GIS-BASED LANDSLIDE HAZARD ANALYSIS BASED ON WEIGHTED OVERLAY METHOD IN SAMARINDA, EAST KALIMANTAN Raharjanti, Ni'matul Azizah
Sutan, Syamsidar
Ismunandar, Wisnu
Alam, Fajar
Andhika, Muhammad Wira
Samarinda has experienced a frequent landslide disaster, accounting for 30% from the total disaster occurring in 2019. Based on these data, it is necessary to carry out the analysis on the landslide hazard as the mitigation to minimize the damage that may be caused by the landslides. The research was conducted in GIS based processing, by collecting secondary data supported by field observations and quantitative analysis to produce the landslide hazard map. Slope gradient, geology, soil type, and rainfall are the parameters used to determine the landslide susceptibility zonation in the research area. These parameters are then processed using a weighted overlay method. The zoning results show most of Samarinda is included in the intermediate landslide hazard zone, followed by the high landslide hazard zone, and the low landslide hazard zone which has the narrowest distribution. The high landslide hazard zone has a distribution associated with geological structures identified as fold which are included in the Samarinda anticlinorium and thrust fault in north-south direction. The distribution of the landslide hazard zones indicates that the slope gradient, lithology which consist of sedimentary rock, and fold and fault structures, are the main controlling factors for landslides in Samarinda.
2023-12-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/51968 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v21i3.51968
1671353 #5790 Karakteristik Musiman Debit Sungai Cikapundung di Kawasan Bandung Utara, Jawa Barat Tanuwijaya, Zamzam A.J.
Hendarmawan, .
Sudrajat, Adjat
Kuntjoro, W.
Debit sungai di DAS Cikapundung KBU (Kawasan Bandung Utara) secara umum mengandung oleh komponen musiman dan komponen anomali. Dalam penelitian ini diterapkan analisis harmonik terhadap komponen musiman untuk mengekstrak siklus-siklus yang membangun komponen ini. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa rataan normal debit dibangun oleh tiga siklus utama: siklus tahunan, tengah tahunan, dan 4 bulanan. Hasil ini diperkuat oleh analisis spektral terhadap data mentah debit yang memunculkan sinyal-sinyal signifikan pada tiga periode tersebut. Berdasarkan analisis spektrum silang dan koherensi, dapat disimpulkan bahwa determinan utama variasi debit adalah pola curah hujan di cekungan drainase Lembang (DAS Cikapundung Hulu). Puncak debit sungai rata-rata terjadi pada masa musim penghujan kedua (Monsun Australia), sedangkan puncak curah hujan rata-rata terjadi pada masa musim penghujan pertama (Monsun Asia). Kata kunci: debit, musiman, monsun, harmonik, koherensi
2018-05-18 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15018 buka_link ↗ Highlight_link
1671352 #5790 INITIAL SURVEY OF IRON SAND, AT THE MALANG, PEJAGRAN & KEBURUHAN VILLAGES, NGOMBOL SUBDISTRICT, PURWOREJO REGENCY, CENTRAL JAVA PROVINCE -, Geni Dipatunggoro
Initial Survey of iron sand Including geological mapping and shallow drilling (which only 10 meter penetration), this activity is a pilot project of PT. Karya Buana Abadi as the fander and trusted to geological engineering department survey team of Padjadjaran University Bandung and used Q Muria Swasindo flag as permission letter keeper from Purworejo Regency.Iron sand resources which fand in research area was rich, start from the surface of the soik to the bottom of shallow drilling, from its 50 Ha area there are 14 million ton deposit of iron sandwhich in the future wilk sold to Korea for industrial need.
iron sand, deposit 2012-08-09 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8282 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v10i2.8282
1671351 #5790 ANALISIS LINGKUNGAN PENGENDAPAN PURBA BERDASARKAN BIOFASIES ANGGOTA TUF NAPALAN FORMASI PAMUTUAN Haitami, Riza Rohmatul
Fatih, Rayhan
Jurnaliah, Lia
Winantris, .
Foraminifera merupakan organisme mikroskopik yang terdiri atas satu sel dan termasuk dalam filum Protista yang terbagi atas dua jenis yaitu foraminifera planktonik dan bentonik. Foraminifera bentonik kecil merupakan organisme yang dapat digunakan untuk merekonstruksi lingkungan purba dikarenakan cara hidupnya yang terbatas pada ekologi tertentu. Terdapat sepuluh sampel yang diambil dengan menggunakan metode acak pada singkapan permukaan litologi batugamping sisipan pasir Anggota Tuf Napalan Formasi Pamutuan. Analisis kluster menggunakan software SPSS digunakan untuk mengetahui biofasies daerah penelitian untuk selanjutnya dianalisis lebih lanjut dalam interpretasi lingkungan pengendapan purba. Penentuan lingkungan pengendapan purba dilakukan dengan menghitung dan interpretasi spesies-spesies foraminifera bentonik kecil yang mendominasi pada setiap biofasies. Daerah penelitian memiliki tujuh biofasies yang berkembang dengan lingkungan pengendapan purba umumnya yaitu transisi hingga laut dalam.Kata kunci: Foraminifera Bentonik Kecil, Pamutuan, Biofasies, Lingkungan Pengendapan
2025-04-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/59691 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v23i1.59691
1671350 #5790 DESTINATION BRANDING KAWASAN WISATA CILETUH- PELABUHAN RATU SUKABUMI MELALUI GEOPARK Mustikaningsih, Marlina
Novianti, Evi
S, Diah Fatma
Ciletuh adalah sebuah daerah yang berada di pelosok Sukabumi berada di sepanjang pesisir pantai selatan –barat Sukabumi Jawa Barat. Ciletuh telah di resmikannya sebagai  kawasan Geopark   Ciletuh –Pelabuhan Ratu pada tanggal 17 April 2018  oleh UNESCO menjadi Ciletuh - Palabuhanratu UNESCO Global. Sejak itulah Ciletuh mulai dikenalkan sebagai sebuah kawasan geopark. “Destination Branding kawasan wisata Ciletuh-Sukabumi melalui Geopark”.  Membangun brand sebuah kawasan  wisata di wilayah  Suabumi melalui potensi yang dimiliki yaitu geopark, sehingga lebih terarah dan bermanfaat secara maksimal untuk keberlanjutan serta kemandirian sebuah komunitas masyarakat di kawasan wisata.
2019-08-13 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21779 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v17i2.21779
1671349 #5790 EKLOGIT TERUBAH DAN BATUAN ASOSIASINYA SEBAGAI INDIKATOR SUBDUKSI PURBA SELAMA EOSEN ATAS HINGGA OLIGOSEN BAWAH DI SABUK METAMORFIK SULAWESI TENGAH BAGIAN TIMUR - INDONESIA Syafri, Ildrem
Eclogite is a metamorphic of rock derived from the continental crust or oceanic crust that can provide important information about the early stages of the orogenic process. In the Sulawesi island, eclogite or eclogite facies known expose in several places (Tectonic Complex of Bantimala, Palu valley and Bongka River Valley). In addition to these locations, eclogite have been also decouvert in the melange complex of Wasuponda. Wasuponda Eclogites shows a different textural and mineralogical composition than Bantimala eclogite or eclogite facies of Palu valley on the response of different processes occured. These rocks formed in a different geological times which provides information about two ancient subduction zones in the western and eastern parts of Central Sulawesi metamorphic belt.This study aims to obtain meaningful information about the chronology of the Sulawesi island in the Cretaceous and post Cretacepous periods. Some selected examples of eclogite and its associated rocks have been observed in petrographic and rock forming minerals of these rocks have been analyzed chemically using Microprobe Camebax and SX 50. The results of chemical analysis allows us to classify minerals appropriately used in the pressure and temperature condition of the rock formation. The maximum pressure and temperature conditions obtained from the application of geotermobarometer is 21.6 kbar for a temperature in 580 °C, while the application Thermocalc program provides pressure with an average of 20.7 ± 2.6 kbar at temperature in 500 ± 29 ° C. The pressure and temperature are very similar to the P-T conditions of eclogite formation of complex tectonic of Bantimala. Taking into account the uncertainty of the values for pressure, then the pressure obtained indicate that the eclogite formation was in depth of 61 to 80 km.Altered eclogite from Wasuponda undergone retromorphose towards the amphibolite - and green schist facies, while in stability field of amphibolite facies, these rocks are associated with garnet quartz, rutile, phengit, epidote schist and garnet, hornblende, quartz, rutile, muscovite, epidote schist and they have emerged to the surface and presented as a component melange of Wasuponda. Pressure and temperature conditions obtained from the study indicates that the direction of the P-T path of Wasuponda eclogite is clockwise. This condition is contrary to the results obtained by Parkinson (1991) of the blue schist and rock associations derived from Melange Peleru.Eclogite from Wasuponda Melange Complex likely originated from the ancient oceanic crust and are classically referred to layer 3 which is expected a gabbroic by composition. Magmatic paragenesis on this rock observed under the microscope are: clinopyroxene, plagioclase and opaque minerals, while eclogitic paragenesis are garnet, omphasite, phengite and rutile. Mineral paragenesis indicating retromorphose stage are calco-sodic amphibole, sphene and plagioclase, and they are present in the matrix.When a rock undergones a retrograde stage (toward the surface), the eclogite experienced an oceanic metamorphism indicated by the presence of edenite, edenitic hornblende, also hematite, quartz and chlorite showing the amphibolitation process, while minerals like zoisite, albite, white mica, calcite and zeolite states sausuritisation process that occured at high temperature and low pressure.
2014-12-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8374 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v12i3.8374
1671348 #5790 KARST CITEUREUP UNTUK SUPLEMEN DOKUMEN AMDAL DAN PENAMBANGAN BATUGAMPING -, Geni Dipatunggoro
Karst can be defined as a peculiar and dry landscape developed as a result of dominantly dissolutional erosion of limestone by rain origin water which enter into the limestone and circulate in the underground drainage then resurgent to the surface as springs. The term karst is derived from the Yugoslavian language “kras” meaning “stone”, and has a root of Italian place Carso. This term is applied to a relative narrow strip of limestone extending along the northeastern coast of the Adriatic Sea.The composition of rocks in the investigated area consists of bioclastic Miocene aged limestone of the Kelapanunggal Formation overlying alternating claystone and sandstone belonging to the Cibulakan Formation of the same age.The Karst developed in investigation areas : 1. Dolines and 2. Kockpit Doline, 3. Swallow Holes, 4.Collapse Cave, 5. Singking Stream and 6. Uvala.
Karst 2006-08-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8119 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v4i2.8119
1671347 #5790 Identifikasi Awal Zona Resapan Berdasarkan Kondisi Geologi Dan Sifat Fisik Air Daerah Cipatat Dan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat Freitas, Cecilia Soares
Trisnadiansyah, Moch Ridfan
Mutaqin, Deden Zaenudin
Barkah, M Nursiyam
Hadian, M Sapari Dwi
Daerah resapan air merupakan daerah yang perlu dijaga keberadaannya. Kawasan pegunungan pada umumnya merupakan daerah tangkapan sekaligus daerah resapan air hujan yang sangat baik. Daerah dengan kapabilitas tangkapan air yang baik perlu dikonservasi atau dilakukan suatu pengaturan agar daerah tersebut tidak ditutup sebagai lahan pemukiman. Terkhusus pada daerah Cipatat dan Padalarang merupakan salah satu daerah yang termasuk kedalam cekungan air tanah Batujajar. Daerah ini di dominasi oleh endapan vulkanik muda berupa breksi fragmen supported, breksi matriks supported, lava andesit dan lapili tuf yang berasal dari produk gunung Tangkuban Perahu serta endapan vulkanik tua berupa lapili skoria. Sumber daya air berpotensi baik dengan media akuifer kombinasi rekahan dan pori. Identifikasi awal zona resapan daerah penelitian menggunakan analisa kondisi geologi, kemiringan lereng, fault fracture density (FFD) dan drainage density (Dd), parameter sifat fisik air berupa EC-TDS dan debit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian teridentifikasi zona resapan berada di bagian timur laut pada elevasi 750 mdpl – 901 mdpl dengan kemiringan lereng berkisar 35o - 55o dengan litologi penyusun berupa breksi matriks supported, lapili tuf dan lava andesit. Hubungan antara airtanah dengan air permukaan pada zona ini bersifat influent, debit sungai kecil dengan nilai 4,54 L/s yang bersumber dari sungai Cipada. Zona ini memiliki nilai densitas FFD dan Dd sedang yaitu 0,2-0,8 m/km2 dan0-0,6 km/km2 dengan sifat fisik airtanah pada mata air memiliki rentang TDS antara 42-99 mg/l dan EC 62-144 µS/cm, sumur memiliki rentang TDS 11- 76 mg/l dan EC 17 – 118 µS/cm.
2021-01-06 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/29333 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v18i3.29333
1671346 #5790 KARAKTERISTIK GEOMORFOLOGI DAERAH CIMARAGANG DAN SEKITARNYA, KECAMATAN CIDAUN DAN CISEWU, KABUPATEN CIANJUR DAN GARUT, PROVINSI JAWA BARAT Pahlevia, Sarah
Sukiyah, Emi
Penelitian ini dilakukan di daerah Cimaragang dan sekitarnya yang secara administratif berada di Kecamatan Cidaun dan Cisewu, Kabupaten Cianjur dan Garut, Provinsi Jawa Barat. Secara regional, daerah penelitian termasuk ke dalam Zona Pegunungan Selatan Jawa Barat yang terbentuk akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia di bawah Lempeng Asia sejak Oligosen Akhir. Kondisi tektonik tersebut menghasilkan keragaman bentang alam yang mencerminkan interaksi antara proses geologi endogen dan eksogen sehingga daerah ini memiliki karakteristik geomorfologi yang menarik untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik geomorfologi daerah penelitian berdasarkan aspek morfografi, morfometri, dan morfogenetik sebagai dasar dalam pengelompokan satuan geomorfologi. Penelitian dilakukan melalui analisis data Digital Elevation Model (DEM), interpretasi citra satelit, serta verifikasi lapangan. Analisis morfografi digunakan untuk mengidentifikasi bentuk lahan dan pola pengaliran, morfometri untuk klasifikasi kemiringan lereng, dan morfogenetik untuk mengkaji proses endogen dan eksogen yang berperan dalam pembentukan bentang alam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian didominasi oleh bentuk lahan perbukitan dengan elevasi 50–675 mdpl dan kemiringan lereng yang bervariasi dari sangat landai hingga sangat curam, dengan dominasi kelas lereng curam yang menunjukkan intensitas proses geomorfologi yang relatif tinggi. Pola pengaliran yang berkembang meliputi subparalel, radial, dan braided yang mencerminkan pengaruh kontrol struktur geologi, morfologi vulkanik, serta suplai sedimen yang tinggi pada segmen sungai tertentu. Secara morfogenetik, bentang alam daerah penelitian terbentuk akibat interaksi proses endogen dan eksogen. Proses endogen meliputi aktivitas vulkanik yang menghasilkan litologi breksi vulkanik dan tuf serta aktivitas tektonik yang mengontrol struktur geologi dan kemiringan lereng. Sementara itu, proses eksogen berupa pelapukan dan erosi berperan dalam memodifikasi bentuk lahan yang telah terbentuk sebelumnya. Berdasarkan integrasi aspek morfografi, morfometri, dan morfogenetik, geomorfologi daerah penelitian diklasifikasikan ke dalam empat satuan, yaitu Perbukitan Vulkanik Curam, Perbukitan Struktural, Perbukitan Vulkanik Landai, dan Lembah Fluvial. Klasifikasi ini memberikan gambaran mengenai pengaruh proses geologi terhadap perkembangan bentang alam di daerah penelitian.
2026-04-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/70102 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v24i1.70102
1671345 #5790 HUBUNGAN NILAI GAMMA RAY DENGAN BATUAN PIROKLASTIK DI DAERAH CIBIRU DAN SEKITARNYA, KOTA BANDUNG, PROVINSI JAWA BARAT Hadiasti, Widia
Muslim, Dicky
Zakaria, Zulfialdi
Surface gamma ray measurements were conducted at 40 sites in Cibiru area, Bandung, West Java. This location is part of Digital Topographic Map of Indonesia (Bakosurtanal) Lembar Bandung (Silitonga, 1973).  Geographically is located between E 1070 42’ 22” to 1070 45’ 05” and S 060 53’ 30” to 060 57’ 15”. This study aims to determine the value of gamma ray measured, its relationship with the content of feldspar minerals and its relationship with pyroclastic rock. Geological mapping was conducted in this research area and gamma ray measured using a gamma ray detector Radi PA-100 Horiba, and then carried out petrographic analyses of rock samples to determine the mineral content. The result reveals that the study area is consisted of coarse tuff, fine tuff and volcanic breccia with gamma ray values are different at each sites. The average value of gamma ray in coarse tuff is 0.046 ± 0.028 nSv/h, in fine tuff is 0.046 ± 0.028 nSv/h and for breccia is 0.059 ± 0.018 nSv/h. High feldspar mineral content contained in the breccia 79%, and low feldspar mineral content in fine tuff 13%. The study reveals that the value of gamma ray is relationship with the content of feldspar mineral. The relationship between value of gamma ray and pyroclastic rock that can be known from the content of feldspar mineral. High feldspar mineral content contained in pyroclastic rock that are intermediate to acid. Keywords : gamma ray,  feldspar, pyroclastic rocks.Pengukuran nilai gamma ray telah dilakukan pada 40 stasiun di daerah Cibiru dan sekitarnya, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Secara administratif, lokasi penelitian tercakup dalam peta topografi Lembar Bandung (Silitonga, 1973) skala 1:25000 dan secara geografis daerah penelitian terletak pada 1070 42’ 22” BT sampai 1070 45’ 05” BT dan 060 53’ 30” LS sampai 060 57’ 15” LS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai gamma ray dengan batuan piroklastik dilihat dari kandungan mineral feldspar (plagioklas  (NaAlSi3O8) dan k-feldspar (KAlSi3O8)) pada batuan. Metode penelitian yaitu dengan melakukan pemetaan geologi dan pemetaan nilai gamma ray dilakukan dengan menggunakan alat detektor Radi PA-100 Horiba kemudian dilakukan analisis petrografi untuk mengetahui kandungan mineral feldspar ( plagioklas dan k-feldspar) pada batuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa litologi penyusun daerah penelitian memiliki nilai gamma ray yang berbeda-beda. Nilai gamma ray pada Satuan tuf kasar rata-ratanya yaitu 0,046 ± 0,028 µSv/h, pada Satuan tuf halus rata-ratanya yaitu 0,047 ± 0,021 µSv/h dan rata-rata nilai gamma ray pada breksi yaitu 0,059 ± 0,018 µSv/h. Hubungan nilai gamma ray dengan batuan piroklastik dapat diketahui dari kandungan mineral feldspar yang terdapat dalam tuf kasar, tuf halus dan breksi monomik. Semakin tinggi kandungan mineral feldspar pada tuf kasar, tuf halus dan breksi monomik maka nilai gamma ray-nya pun makin tinggi dan sebaliknya. Komposisi mineral feldspar yang tinggi (unsur K tinggi) terdapat dalam batuan piroklastik yang bersifat menengah sampai asam. Kata kunci : gamma ray, feldspar, batuan piroklastik.
2016-10-13 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/9787 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v14i1.9787
1671344 #5790 PALEONTOLOGI FORMASI NYALINDUNG -, Syarifin
Nyalindung area is known for its collection of abundant mollusca fauna. That fossils are contained in the sandstone and silt. Nyalindung area became a location type for Nyalindung Formation. Nyalindung Formation spread from the north district Nyalindung, there is along Cimandiri drainage area, to Bantarkalong Village and Cimerang high plains. This formation is spread to Bojonglopang shoutheastern, there is along the road of Nyalindung-Bojonglopang.Determination of age based on the collection of molluscas. Found 18% of Recent species that show Miocene age, based on clues fossil prompts (Siposiprarea caputviverae and Vicaria veurnelli Calossa) that indicate of Middle Miocene age. Based on forams L. (tribiolepidina) ruteeni and L. (tribiolepidina) kalahabensis showed Tf-3 age. Deposition environment of Nyalindung Formation based on lithology, paleontology and sedimentary structures. As a whole of deposition occurs in the open sea in the vicinity of Cileungsir river to estuaries up around the marshy area of western and eastern section investigation.
Nyalindung Formation, clues fossil 2011-04-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8259 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v9i1.8259
1671343 #6375 ANALISIS PENGEMBANGAN KAMPUNG WISATA GEBLAK JAMBANGAN SEBAGAI IMPLEMENTASI CSR PT PERTAMINA (PERSERO) IT SURABAYA DITINJAU DARI PERSPEKTIF PEKERJAAN SOSIAL Resnawaty, Risna
Rivani, Rivani
Nulhakim, Soni A.
Artikel ini merupakan hasil penelitian pada program CSR PT. Pertamina (Persero) dalam mengembangkan desa wisata Kampung Geblak. Fenomena CSR terus berkembang dari tahun ke tahun, pengembangan desa wisata menjadi salah satu model CSR yang dilakukan oleh perusahaan. desa wisata ini dinilai mampu meningkatkan perekonomian masyarakat, namun tidak hanya itu pengembangan desa wisata menyentuh aspek keberfungsian sosial dalam perspektif Pekerjaan sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan fenomena pengembangan desa wisata terkait pemenuhan aspek kompas keberlanjutan serta pengaruhnya pada individu, kelompok dan masyarakat sebagai penerima manfaat program dalam menjalankan keberfungsian sosialnya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara, observasi serta studi literatur pada subjek penelitian yaitu masyarakat penerima manfaat, pelaksana program, dan menghimpun informasi dari artikel maupun hasil penelitian sebelumnya. Temuan hasil lapangan menyatakan bahwa pengembangan kampung wisata Jambangan bukan hanya meningkatkan pendapatan masyarakat namun meningkatkan keberfungsian sosial warga khususnya dalam menjalankan perannya di dalam pembangunan, sehingga wellbeing dapat tercipta sebab lingkungan fisik (environment) yang dibangun menghasilkan harmonisasi dalam interaksi antar warga masyarakat. Kesimpulan menyatakan bahwa pengembangan kampung wisata mampu memenuhi kriteria kompas keberlanjutan secara ekonomi, sosial, lingkungan serta kesejahteraan uang mendukung pada keberfungsian sosial masyarakat. This article is the result of research on CSR program of PT Pertamina (Persero) in developing the Kampung Geblak tourist village. The development of tourist villages is one of most popular model the CSR implementation by companies. This tourist village not only improve the community's economy capability but also touches social functioning aspects from a social work perspective. The aim of this research is to discover the phenomenon of tourism village development related to fulfilling the sustainability compass aspect and its influence on individuals, groups and communities as beneficiaries in carrying out their social functions. The research method used is a qualitative approach by conducting interviews, observations and literature studies on research subjects; beneficiary, program implementers, also collecting information from articles and previous research results. The findings of it state that the development of the Jambangan tourist village not only increases community income but also the social functioning of residents, especially in carrying out their role in development, so that wellbeing can be created due to the physical environment which produces harmonization in interactions between community members. The conclusion states that the development of a tourist village is able to meet the criteria of sustainability compass economically, socially, environmentally and welfare and support the social functioning of the community.
CSR, keberfungsian sosial, kompas keberlanjutan, Desa Wisata. 2024-02-11 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/53287 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jkrk.v6i1.53287
1671342 #6375 KONFLIK ANTARA PLTU INDRAMAYU II DENGAN WARGA MEKARSARI DILIHAT DARI TEORI KEBUTUHAN MANUSIA SIMON FISHER Gamayanti, Rosa
Nulhaqim, Soni Akhmad
Konflik merupakan salah satu bentuk dari permasalahan sosial yang ada di masyarakat. Konflik dapat terjadi dikarena berbagai macam hal. Salah satunya dikarenakan oleh kebutuhan manusia yang tidak terpenuhi atau adanya perebutan atas hak yang dimiliki oleh masing-masing pihak yang sedang berkonflik. Konflik yang terjadi di antara PLTU Indramayu II dengan warga Mekarsari merupakan salah satu contoh nyata akibat tidak terpenuhinya kebutuhan diantara pihak yang berkonflik serta adanya perebutan kepemilikan lahan diantara keduanya. Konflik yang terjadi tersebut dapat menimbulkan perpecahan, kekerasan, dan kerugian yang dapat dialami oleh kedua belah pihak. Berbagai macam upaya perlu dilakukan untuk menghentikan konflik tersebut. Salah satu langkah yang dapat dilakukan yaitu dengan mengadakan resolusi konflik untuk kedua pihak yang sedang berkonflik. Melalui resolusi konflik diharapkan pihak yang berkonflik dapat mencapai kesepakatan terbaik untuk memenuhi kebutuhan dasar semua pihak yang berkaitan.   Conflict is a form of social problems that exist in society. Conflicts can occur due to various things. One of them is due to unmet human needs or the struggle for rights owned by each party in conflict. The conflict between the PLTU Indramayu II and the residents of Mekarsari is one concrete example of the lack of fulfillment of the needs of those in conflict and the struggle for land ownership between the two. The conflict that occurs can lead to divisions, violence, and losses that can be experienced by both parties. Various kinds of efforts need to be made to stop the conflict. One step that can be done is by holding conflict resolution for both parties in conflict. Through conflict resolution it is hoped that the conflicting parties can reach the best agreement to meet the basic needs of all parties concerned
Konflik, Kebutuhan Manusia, Resolusi Konflik 2019-02-13 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/20888 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jkrk.v1i1.20888
1671341 #6375 ANALISIS PENAHAPAN KONFLIK DAN SEGITIGA MULTI TINGKAT DALAM PENYELESAIAN KONFLIK PEMBANGUNAN BANDARA INTERNASIONAL DI MAJALENGKA Haryani, Zakiah Alfi
Nulhaqim, Soni Akhmad
Penelitian dari konflik bandara internasional di majalengka dilatarbelakangi oleh perbedaan kepentingan antara pemerintah dengan masyarakat setempat yang bermata pencaharian sebagai petani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan tahapan konflik yang terjadi dan menganalisis strategi mengelola konflik yang terjadi. teori yang digunakan adalah teori penahapan konflik dan segitiga multi tingkat dari Simon Fisher dalam bukunya yang berjudul “mengelola konflik”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui studi literature mengenai isu terkait. Hasil penelitian menunjukan bahwa prakonflik pertama kali dipicu oleh isu penggusuran lahan petani masyarakat sekitar, konfrontasi terjadi ketika pemerintah mengeluarkan surat pengosongan lahan, krisis terjadi ketika terjadi kekerasan dalam pengosongan lahan, akibat dari krisis yang terjadi adalah pemerintah dapat menaklukan masyarakat dengan adanya kompensasi yang diberikan, pascakonflik melibatkan kedua belah pihak yang berdamai dan dilanjutkan dengan pembangunan bandara internasional majalengka yang sekarang sudah dapat beroperasi.
penahapan konflik, segitiga multi tingkat, mengelola konflik 2021-01-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/31971 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jkrk.v3i1.31971
1671340 #6375 PEMETAAN KONFLIK PANJANG ARAB SAUDI DAN IRAN Arsyad, Humairah
Perkembangan rivalitas Arab Saudi dan Iran di regional Timur Tengah dipicu oleh perbedaan paham keagamaan (sektarianisme) Sunni dan Syi’ah. Selain itu, ada yang berpendapat bahwa konflik dipicu oleh usaha Amerika Serikat dan Uni Soviet untuk dapat menguasai dan mengendalikan Timur Tengah secara politik dan ekonomi. Untuk melihat konflik antara Arab Saudi dan Iran, penulis akan menggunakan teori pemetaan konflik dari Paul Wehr. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Data diperoleh dari data sekunder melalui teknik pengumpulan data berupa studi dokumentasi. Analisis data menggunakan tahapan reduksi data, analisis data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis ini dapat memberikan gambaran tentang konflik Arab Saudi dan Iran mulai dari bagaimana awal konflik yang terjadi, siapa yang berkonflik, siapa yang bersekutu, dan lain-lain.
Timur Tengah, Sunni, Syi’ah, Pemetaan Konflik 2022-12-15 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/37265 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jkrk.v4i2.37265
1671339 #6375 PENERAPAN TERAPI PERILAKU KOGNITIF TERHADAP PENARIKAN SOSIAL PENYANDANG DISABILITAS FISIK DI DESA CAMPAKA, KABUPATEN ANDIR, BANDUNG Andayani, Rini Hartini Rinda
Muraidandini, Puspa Sari
Azman, Azlinda
Penyandang disabilitas fisik seringkali harus berurusan dengan masalah yang berasal dari dalam dirinya sendiri, dan juga dari lingkungannya. Kecenderungan menarik diri dari lingkungan disebabkan pemahaman bahwa ia berbeda dari orang lain, dan juga lingkungan memberikan perlakukan yang berbeda terhadap mereka. Pola pikir negatif tersebut kemudian mempengaruhi perilaku menjadi mal adaptif. Kondisi ini memerlukan perhatian agar penyandang disabilitas dapat terbebas dari distorsi kognitif atau pemikiran negatif dan perilaku mal adaptif, sehingga dapat berdampak pada peningkatan kualitas hidup dirinya dan juga keluarganya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis 1) karakteristik responden penyandang disabilitas fisik, 2) penerapan CBT dalam mengurangi perilaku mengasingkan diri, 3) penerapan CBT dalam mengatasi perilaku yang cepat tersinggung, 3) penerapan CBT dalam mengatasi perilaku apatis, 4) penerapan CBT mengatasi perilaku sering melamun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain subjek tunggal (SSD) dan model A-B-A. Teknik pengumpulan data utama dengan menggunakan kuesioner, dilengkapi dengan observasi dan wawancara. Pengujian hipotesis menggunakan analisis statistik deskriptif dengan analisis dalam kondisi dan analisis antar kondisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan CBT dapat mengurangi perilaku mengasingkan diri, perilaku cepat tersinggung, apatis dan perilaku yang sering melamun. Implikasi praktis dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan CBT pada penyandang disabilitas fisik harus mempertimbangkan keterlibatan keluarga, terapi dilakukan dalam kelompok, kombinasi teknik penguatan yang berulang, serta kemampuan terapis untuk mengubah pemikiran negatif.
cognitive behavior therapy, perilaku menarik diri, penyandang disabilitas fisik 2019-08-15 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/23244 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jkrk.v1i2.23244
1671338 #6375 PRAKTIK KEWIRAUSAHAAN SOSIAL INDUSTRI RUMAH TANGGA DI DESA CIBODAS SOLOKAN JERUK JAWA BARAT (SEBUAH STUDI KASUS MENGGUNAKAN KERANGKA KANVAS MODEL BISNIS) Wibowo, Hery
Meidita, Aliya Nur
Aulia, Andrea
Astuti, Yuwanti Winda
Ardhianty, Devina Alifia
Hutapea, Anggi Adrian
Irfan, Maulana
ABSTRAKPraktik kewirausahaan sosial saat ini semakin banyak dan tersebar di berbagi wilayah Indonesia. Sejumlah kajian telah menyatakan bahwa praktik ini bermanfaat dalam membangun nilai sosial dan kesejahteraan sosial. Maka berangkat dari hal tersebut, semakin diperlukan kiranya penelitian yang semakin mendalam terkait isu ini untuk dapat mendokumentasi dan menghasilkan kerangka-kerangka model kewirausahaan yang semakin baik.Penelitian ini mencoba mendeskripsikan praktik kewirausahaan sosial di Desa Cibodas, Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung denga menggunakan kanvas model bisnis. Skema industri ini dibangun dengan memberdayakan masyarakat sekitar dalam produksi keset, sehingga ikut membantu dalam mensejahterakan warga. Warga yang menjadi pekerja adalah para ibu rumah tangga yang mendapatkan pelatihan pembuatan keset.
kewirausahaan sosial; pemberdayaan masyarakat; UMKM; business model canvas. 2021-02-08 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/32145 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jkrk.v3i1.32145
1671337 #6375 TRADISI TUDANG SIPULUNG SEBAGAI BASIS PERDAMAIAN DALAM PERSPEKTIF GEREJA TORAJA JEMAAT SERITI Ruminding, Valentino
Tampake, Tony
Harisantoso, Imanuel Teguh
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi dalam rekonstruksi dan reaktualisasi Tudang Sipulung sebagai basis perdamaian, dengan memfokuskan perhatian pada pemaknaan Gereja Toraja Jemaat Seriti. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan jenis deskriptif. Dari hasil penelitian, Gereja Toraja Jemaat Seriti memaknai tradisi Tudang Sipulung sebagai basis perdamaian. Karena tradisi Tudang Sipulung dapat menjadi ruang negosiasi dan mediasi yang berlangsung berdasarkan prinsip-prinsip demokratis, dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal seperti Sipakatau (saling menghormati atau menghargai), Sipakainge’ (saling menasehati atau mengingatkan) dan Sipakalebbi (saling memuliakan). Tudang Sipulung berasal dari bahasa Bugis, Tudang berarti duduk dan Sipulung berarti bersama atau berkumpul. Tudang Sipulung memuat makna kerendahan hati untuk mau duduk bersama dalam memecahkan suatu persoalan secara bersama-sama sehingga terbangun keselarasan dan kebersamaan yang penuh cinta kasih dan damai sejahtera. This research aims to contribute to the reconstruction and re-actualization of Tudang Sipulung as a basis for peace, by focusing attention on the meaning of the Seriti Congregation Toraja Church. The research method used is qualitative with a descriptive type. From the results of the research, the Toraja Church Seriti Congregation interprets the Tudang Sipulung tradition as a basis for peace. Because the Tudang Sipulung tradition can be a space for negotiation and mediation that takes place based on democratic principles, by prioritizing local wisdom values such as Sipakatau (mutual respect or respect), Sipakainge' (advise or remind each other) and Sipakalebbi (glorify each other). Tudang Sipulung comes from the Bugis language, Tudang means sitting and Sipulung means together or gathering. Tudang Sipulung contains the meaning of humility to want to sit together to solve a problem together so that harmony and togetherness full of love and peace can be built.
Perdamaian, Tudang Sipulung, Gereja 2023-12-17 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/44995 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jkrk.v5i1.44995
Menampilkan 1.821 - 1.840 dari total 1.550.696 data