Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↑ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1672581 #5790 PENDUGAAN KETERDAPATAN AKIFER AIRTANAH DENGAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI SCHLUMBERGER DI SUB-DAS CISATANG - KABUPATEN CIANJUR Mardiana, Undang
Endyana, Cipta
Geoelectric measurements committed in an attempt to obtain the presence, depth, thickness, number and spread of the aquifer. From the interpretation of Schlumberger geoelectric method (Sounding) acquired seven units of lithology, three units are classified as permeable layer, and four units as impermeable layers. The layer that functions as the aquifer has a resistivity value between 200-400 Ωm which is interpreted as a breccia with component-gravel gravel unit, 100-200 Ωm which is interpreted as breccia matrix supported by granule-sized components peble unit, and 50-100 Ωm which is interpreted as breccia matrix supported with gravel-sized component unit. Distribution of the three rocks in the study area is dominated by a nearly breccia grain supported. While units with resistivity values above 400 Ωm and under 50 Ωm interpeted as an impermeable layer-semipermeable. Faults that developed in the study area has direction a northwest-southeast. Those fault caused the fracture system that developed on volcanic deposits in this area. Therefore the zone bounded by two faults are thought to have better porosity values as the aquifer is supported by fracture with a higher intensity in surrounding area.
2014-08-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8366 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v12i2.8366
1672582 #5790 Duboisia santeng (BOVIDAE, ARTIODACTYLA) DARI BUMIAYU Suharyogi, Ifan Yoga Pratama
Wibowo, Unggul Prasetyo
Insani, Halmi
Setiyabudi, Erick
Telah ditemukan sebuah spesimen fosil tanduk bovidae sebelah kiri pada penelitian lapangan tahun 2016 di Kali Santanaya, Cisaat (Bumiayu). Fosil tanduk tersebut disebandingkan dengan fosil Boselaphus tragocamelus, Tetracerus quadricornis, Bibos palaeosondaicus, Bibos javanicus, Bubalus palaeokerabau, Epileptobos groeniveldtii, dan Duboisia santeng berdasarkan morfologi dan ukurannya. Walaupun merupakan temuan permukaan, namun berdasarkan analisa geologinya disimpulkan berasal dari Formasi Gintung dan berdasarkan biostratigrafi fauna vertebrata dimungkinkan termasuk Unit Fauna Kedung Brubus dengan lingkungan hidup berupa lingkungan hutan yang terbuka.
2019-04-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/20639 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v17i1.20639
1672583 #5790 EVOLUSI METAMORFISME METAVOLKANIK DI DAERAH CIGABER DAN SEKITARNYA, KABUPATEN LEBAK Patonah, Aton
Alfadi, Muhammad Kurniawan
Penelitian dilakukan di daerah Cipeundeuy dan sekitarnya, Kabupaten Lebak dengan tujuan untuk mengidentifikasi karakteristik metavolkanik dengan pendekatan inklusi fluida primer yang terjebak pada mineral kuarsa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metavolkanik tersusun atas sekis biotit klorit dan sekis klorit yang diduga berasosiasi dengan burial metamorphism, dicirikan dengan kehadiran struktur milonit, eye’s texture, dan relik tekstur plagioklas sebagai jejak protolith vulkanik. Selanjutnya, hasil identifikasi inklusi fluida primer yang terjebak dalam kuarsa memperlihatkan cluster dan trail texture diduga berasosiasi dengan syn-metamorphism dari awal - akhir metamorfisme sampai ekshumasi. Adapun komposisi fluida didominasi oleh dua fase likuid+gas dan 1 fase tunggal berupa likuid, semuanya berasal dari air metamorfik. Hasil pengukuran mikrotermometer menunjukkan bahwa temperatur pembentukan metavolkanik, sekis biotit klorit, pada 310°C - 340°C dan tekanan 92,64 Bar - 113,34 Bar dengan kedalaman sampai 1.377,81 meter. Batuan ini mengalami penurunan derajat metamorfismenya sampai 233oC dengan tekanan sampai 13.47 Bar. Ini menunjukkan bahwa batuan tersebut diperkirakan terangkat sampai kedalaman 45.24 meter. Hal ini didukung dengan kehadiran struktur brittle berupa urat yang diisi oleh epidot, klorit, dan kuarsa sebagai hasil dari pos metamorfisme; dan penggantian biotit oleh klorit pada batuan metavolkanik.
2024-12-27 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/59074 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v22i3.59074
1672584 #5790 PETROLEUM SYSTEM CEKUNGAN KUTAI BAGIAN BAWAH, DAERAH BALIKPAPAN DAN SEKITARNYA, PROPINSI KALIMANTAN TIMUR -, Yuyun Yuniardi
Oil and gas potential in Lower Kutai Basin were probably exist, those condition have checked from well petroleum system to support oil and gas accumulation in this area. Data integration of source rock, reservoir rock, cap rock, trap assotiation, and migration system in Lower Kutai Basin could be doing advance research to proving oil and gas accumulation.
Petroleum System, Kutai Basin 2012-04-03 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8274 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v10i1.8274
1672585 #5790 ZONASI ANOMALI UNSUR GEOKIMIA DI WEDA, KABUPATEN HALMAHERA TENGAH, MALUKU UTARA BERDASARKAN DATA UNIVARIAT DAN MULTIVARIAT Fadhly, Ahmad
Syafri, Ildrem
Abdurrokhim, .
ABSTRACTThe research area is located in the Weda Region, Central Halmahera Regency, is a path of metal mineralization which belongs to the Halmahera magmatic arc. The study area has a coverage area of 10 km x 15 km. The purpose of this study is to reveal the availability of major elements content (Cu, Pb, Zn, Co, Ni, Mn, Ag, Li, K, Fe, Cr and Au) on river deposits in the form of maps of the major elements content. Geochemical data collection is done on intermittent river. The identification of the metal content of the samples taken was done in the PSMBP geochemistry laboratory using the Atomotic Absorbtion Spectrometry Logametri (AAS) method. A total of 12 elements have been analyzed for the levels in the highest samples of stream sediment and treated to obtain anomaly zone. In this case SPSS 21.0 software is used for identification anomaly based on the correlation value between elements, then the research area there are two elemental associations that have kinship in accordance with univariate statistics, multivariate with factor analysis test. The two elemental association elements: 1) Ni-Co-Li-K-Cr. The formation of Factor 1 shows a strong relationship between Ni as well as the associations Co, Li, K and Cr associated with the regional geological conditions of the study area, which is occupied by rock dominance mafic rock and ultramafiic rock. 2) Cu-Zn-Mn-Ag-Fe. The formation of Factor 2 was obtained based on the incorporation of geochemical data analysis results reflected from elemental associations in the surface environment of the Sulfide Ore Complex. The existence of this mineral is closely related to hydrothermal alteration. Keywords: Geochemistry, mineralization, Atomotic Absorbtion Spectrometry Logametri (AAS) method. ABSTRAKDaerah penelitian terletak di Daerah Weda, Kabupaten Halmahera Tengah, merupakan jalur mineralisasi logam yang termasuk ke dalam Halmahera magmatic arc, dan mempunyai cakupan wilayah 10 km x 15 km. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan keterdapatan kandungan unsur logam (Cu, Pb, Zn, Co, Ni, Mn, Ag, Li, K, Fe, Cr dan Au) pada endapan sungai dalam bentuk peta kandungan unsur logam tersebut. Pengambilan data geokimia dilakukan pada sungai intermitten. Identifikasi kandungan unsur logam dari contoh yang diambil dilakukan di laboratorium geokimia PSMBP menggunakan metoda Atomotic Absorbtion Spectrometri Logametri (AAS). Sebanyak 12 unsur telah dianalisis kadarnya di dalam percontohan sedimen sungai dengan kadar yang tertinggi dan diolah untuk mendapatkan zona anomalinya. Dalam hal ini software SPSS 21.0 dipakai untuk penentuan anomalinya berdasarkan nilai korelasi antar unsur, maka di daerah penelitian terdapat dua asosiasi unsur yang memiliki kekerabatan sesuai dengan data statistik univariat, multivariat dengan uji analisis faktor. Kedua asosiasi kekerabatan unsur tersebut adalah: 1) Ni- Co -Li-K-Cr, Pembentukan Faktor 1 memperlihatkan adanya hubungan yang kuat antara Ni serta asosiasi Co, Li, K dan Cr yang dikaitkan dengan kondisi geologi regional daerah penelitian, yaitu ditempati oleh dominasi batuan beku basa dan ultrabasa. 2) Cu-Zn-Mn-Ag-Fe. Pembentukan Faktor 2 didapat berdasarkan penggabungan hasil analisis data geokimia yang tercerminkan dari asosiasi unsur di lingkungan permukaan Komplek Bijih Sulfida. Keberadaan mineral ini erat kaitannya dengan alterasi hidrotermal. Kata Kunci: Geokimia, mineralisasi, metoda Atomotic Absorbtion Spectrometri Logametri (AAS).
2017-12-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15102 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v15i3.15102
1672586 #5790 EVOLUSI SESAR MENDATAR Studi kasus pada Tambang Emas Bawah Permukaan Cineam, Tasikmalaya, Jawa Barat Muljana, Budi
Secara geologi daerah penelitian termasuk kedalam Formasi Jampang yang tersusun umumnya oleh breksi andesit (volcanogenic) yang telah mengalami proses hydrothermal fase epithermal sebagai akibat tektonik dan volkanisme yang kuat. Cebakan emas pada daerah ini diperkirakan terbentuk sebagai emas native dalam urat-urat kuarsa yang biasanya berasosiasi dengan mineral-mineral sulphida seperti pirit halus, kalkopirit, sphalerit, galena dimana semua mineral tersebut sebagai indikator cebakan emas.Aktifitas penambangan pada daerah ini telah dilakukan sejak lama, terutama pada penambangan emas bawah permukaan. Yang menjadi masalah utama adalah metode penambangannya masih relatif tradisional tanpa mengindahkan aspek-aspek keamanan dalam penambangan. Faktor keamanan ini dapat diketahui dengan memperhatikan kondisi tektonik berupa arah tegasan dari sesar yang berkaitan dengan skala daerah penelitian.
2023-08-09 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/48495 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v21i2.48495
1672587 #5790 LITOSTRATIGRAFI CEKUNGAN OMBILIN BERDASARKAN INTERPRETASI CITRA SATELIT -, Yuyun Yuniardi
Stratigraphy of Ombilin Basin area was interesting for make some research. The research did use remote sensing interpretation to made geological interpretation map which is containing information about lithostratigraphic unit distribution in Ombilin Basin area. LithoStratigraphic of Ombilin Basin from old to young were Brani Formation, Sangkarewang Formation, Sawahlunto Formation, Sawahtambang Formation, and Ombilin Formation.
Ombilin Basin, Remote Sensing, Lithostratigraphic 2010-04-03 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8241 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v8i1.8241
1672588 #5790 Dampak Limbah Penambangan Emas Tanpa Izin (Peti) Terhadap Kualitas Air Sungai Limun Kabupaten Sarolangun Propinsi Jambi - The Impact Of Illegal Gold Mining Activity To The Water Quality Of Limun River, Sarolangun District, Jambi Province Yulianti, Rita
Sukiyah, Emi
Sulaksana, Nana
Daerah penelitian terletak di desa Muaro Limun, Kecamatan Limun Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi. Sungai limun, salah satu sungai besar di daerah kabupaten sarolangun yang dimanfaatkan oleh mayarakat sekitarnya sebagai sumber penghidupan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kegiatan penambangan terhadap kualitas air sungai Batang Limun, dan perubahan sifat fisik dan  kimia yang diakibatkan   kegiatan penambangan.Metode yang digunakan adalah  metode grab sampel, serta stream sedimen untuk dianalis di laboratorium. Sejumlah sampel diambil di beberapa lokasi Penambangan Emas berdasarkan Aliran Sub-DAS dan dibandingkan dengan beberapa sampel lain yang diambil pada lokasi yang belum terkontaminasi oleh kegiatan penambangan. Analisis kualitas air mengacu pada  SMEWWke 22 tahun 2012 dan standar baku mutu air kelas II dalam PP No 82 yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan No. 492/Menkes/Per/IV/2010. Diketahui sungai Batang Limun telah mengalami perubahan karakteristik fisika dan kimia. Dari grafik  kosentrasi kekeruhan, pH, TSS, TDS  Cu, Pb, Zn, Mn, Hg terlihat bahwa penambang emas tanpa izin (PETI) dengan cara amalgamasi yang menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air sungai. Sejak tahun 2009 sampai tahun 2015  sungai Limun dan sekitarnya terus mengalami penurunan kualitas air. Penurunan kualitas yang cukup tinggi terjadi  yaitu peningkatan nilai Rata-rata konsentrasi merkuri pada sungai Batang Limun dari 0,18ppb (0,00018 mg/l)  menjadi 0,3ppb (0,0003 mg/l), peningkatan tersebut dipengaruhi oleh proses kegiatan penambangan dan nilai tersebut masih dibawah standar baku mutu air kelas II  pp nomor 82 tahun 2010.Kata kunci :   Kualitas Air, Sungai Limun,TSS, Merkuri, PETI Limun river is one of the major rivers in the area of Sarolangun, which utilized by the society as a source of livelihood. The aim of study  to analyze the effect of mining activities on  the water quality of Batang Limun River, and the changes of physical and chemical properties of water. The method used are grab  and stream samples to  sediment analyzed in the laboratory. A number of samples were taken at several locations based Flow Gold Mining Sub-watershed and compared to some other samples taken at the location that has not been contaminated by mining activities. Water quality analysis referring to SMEWW, 22nd edition 2012 and refers to Regulation No 82 that issued by Minister of Health No. 492 / Menkes / Per / IV / 2010.The results showed that the Limun river has undergone chemical changes in physical characteristics. These symptoms can be seen from the discoloration of clear water in the river before the mine becomes brownish after mining, based on graphic of muddiness concentration: pH, TSS, TDS Cu, Pb, Zn, Mn, Hg have seen that  the illegal miner which used amalgamation caused deterioration in water quality, data from 2009 to 2015 Limun river and surrounding areas continue to experience a decrease in water quality. The decreasing of water quality showed in the TSS parameter which found in the area is to high based on  the standard of water quality class II pp number 82 of 2010. An increase in the value of average concentrations of mercury in the Batang Limun river before mine 0,18ppb (0.00018 mg / l) into 0,3ppb (0.0003 mg / l) on the river after the mine. The increase was affected by the mining activities and the value is still below the air quality standard Grade II pp numbers 82 years 2010, although the value is still below with the standards quality standard, the mercury levels in water should still be a major concern because if it accumulates continuously in the water levels will increase and will be bad for health. In contrast to the concentration of mercury in sediments that have a higher value is 153 ppb (0,513ppm ) .Key Words :   Water Quality, Limun River, Mercury, Illegal gold mining
2017-01-26 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/10969 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v14i3.10969
1672589 #5790 GEOSTATISTIK DALAM PEMODELAN TEMPERATUR BAWAH PERMUKAAN DENGAN RADIAL BASIS FUNCTIONS DI TAMBANG EMAS TOGURACI, INDONESIA Irwanda, Dharma
Nur, Andi Agus
Lesmana, Denny
Geostatistik telah menjadi ilmu yang sangat berkembang dan telah secara luas digunakan di industri pertambangan. Kebutuhan untuk mengaplikasikan geostatistik dalam estimasi maupun pemodelan geologi juga didukung oleh para pengembang perangkat lunak (software) yang terus melakukan peningkatan kemampuan software-nya dengan menggunakan geostatistik sebagai hal yang wajib dalam algoritma yang mereka buat, untuk membantu mempermudah dan mempercepat pekerjaan pengolahan data spasial. Salah satu metode yang akan digunakan pada penelitian ini adalah radial basis functions yang mempunyai keunggulan pada metode interpolasi dan ekstrapolasinya yang bersifat global. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengaplikasikan konsep geostatistik untuk pemodelan temperature bawah permukaan di Toguraci dengan bantuan software LeapfrogTM menggunakan metode radial basis functions. Model yang dibuat dengan metode ini memperlihatkan adanya potensi sumber panas di sebelah baratdaya dan selatan tambang bawah tanah toguraci, dengan model isovalue temperatur ≥60oC berjarak relatif 500-600m dari tambang saat ini. Model yang dihasilkan diharapkan dapat membantu memberikan pemahaman yang lebih baik bagi kepentingan keselamatan operasi penambangan bawah tanah terkait keberadaan sumber panas atau air panas. Juga, berbagi informasi dan memperkaya wawasan tentang perkembangan aplikasi geostatistik dan penggunaan software di industri pertambangan kepada lingkungan akademis, terutama lingkup ilmu kebumian, dan pada akhirnya mendorong adanya penelitian lanjutan dengan sudut pandang kajian geologi yang lebih mendalam.
2021-09-15 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/35252 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v19i2.35252
1672590 #5790 STUDI GEOKIMIA BATUAN VULKANIK PRIMER KOMPLEKS GUNUNG SINGA - GUNUNG HULU LISUNG, BOGOR - JAWA BARAT -, Johanes Hutabarat
The research about study on geochemistry volcanic rocks of Gunung Singa - Gunung Hulu Lisung, Nanggung, Bogor, West Java.Samples of the Gunung Singa-Gunung Hulu Lisung were extensively analyzed for major oxides and trace elements. Compositions of geochemical samples have been plotted and are used in drawing petrogenetic inferences. volcanic rocks Gunung Singa - Gunung Hulu Lisung belong to the medium calc-alkalic to high Calc-alkalic dacite suite, and have SiO2 contents in the range of 61,34-68,55%, high Al2O3 (14,99-19,63%) and low TiO2 content and relatively high K2O (1,90-2,55%)Oxide variation diagrams for the Gunung Singa-Gunung Hulu Lisung show linear trend with much scatter. This is partially due to the fact that SiO2 makes up an increasing percentage of silicic rocks allowing less scatter in the other oxides. However, we suggest that mich of the scatter is due to mixing of variably fractionated basaltic magma with silicic magma
geochemistry, volcanic rock. 2007-12-05 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8147 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v5i3.8147
1672591 #6191 Relationship between tooth loss count and cognitive function of the elderly with no dentures in Natuna: Study cross-sectional Shavitri, Nadya
Asia, Asyurati
Priandini, Dewi
ABSTRACT           Introduction: Every individual will experience aging process which is a natural process of change including changes in the oral tissue. Dentition is one of the factors that plays an important role. WHO sets a standard that can be considered normal that the number of teeth for elderly people aged ≥ 60 years is  at least 20. Poor oral conditions are the cause of tooth loss in the elderly so that it can increase the risk of decreased cognitive function due to disruption of masticatory function. This study aimed to analyse the correlation between the number of teeth and cognitive function of the elderly, who do not use dentures. Methods: Observational analytic with cross-sectional design was conducted. Interviews with 53 respondents used MMSE to assess cognitive function ability and distinguish normal cognitive function, mild or severe cognitive impairment, as well as examination of the amount of tooth loss. There are five aspects assessed, namely orientation, registration, attention and calculation, recalling, and language. Results: The results showed that the older the age of the elderly, the more the number of tooth loss. Elderly people who experienced tooth loss > 12 pieces (88.67%) experienced mild to severe cognitive impairment, while elderly people who experienced tooth loss ≤ 12 pieces (11.32%) had normal cognitive function. Conclusions: Elderly people with no dentures in Natuna, and who had lost > 12 teeth tend to be more prone to decreased cognitive function.KEY WORDS: tooth loss, cognitive function, elderlyKorelasi jumlah kehilangan gigi terhadap fungsi kognitif lansia yang tidak menggunakan gigi tiruan: studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Setiap individu akan mengalami proses penuaan yang merupakan proses alami terjadinya perubahan termasuk perubahan pada jaringan rongga mulut. Gigi geligi merupakan salah satu faktor yang berperan penting. World Health Organization (WHO) menetapkan standar yang dapat dianggap normal bahwa jumlah gigi lansia usia lebih dari atau sama dengan 60 tahun minimal memiliki 20 buah gigi yang dapat mendukung fungsi pengunyahan, bicara, dan estetik.Kondisi rongga mulut yang buruk merupakan penyebab kehilangan gigi pada lansia sehingga dapat meningkatkan risiko penurunan fungsi kognitif karena terganggunya fungsi mastikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara jumlah gigi terhadap fungsi kognitif pada lansia, yang tidak menggunakan gigi tiruan. Metode: Observasional analitik dengan rancangan cross-sectional. Wawancara pada 53 responden menggunakan kuesioner Mini Mental State Examination (MMSE) untuk menilai kemampuan fungsi kognitif dan membedakan fungsi kognitif normal, gangguan kognitif ringan, atau berat, serta pemeriksaan jumlah kehilangan gigi. Terdapat lima aspek yang dinilai yaitu orientation, registration, attention and calculation, recall, and language. Uji korelasi Spearman digunakan untuk menguji hipotesis adanya hubungan antara jumlah gigi dengan fungsi kognitif pada lansia. Hasil: Semakin bertambah usia lansia maka jumlah kehilangan gigi juga semakin banyak. Lansia yang mengalami kehilangan gigi > 12 buah (88,67%) mengalami gangguan kognitif ringan sampai berat, sedangkan lansia yang mengalami kehilangan gigi ≤ 12 buah (11,32%) memiliki fungsi kognitif normal. Simpulan: Lansia di Natuna, yang tidak menggunakan gigi tiruan dan mengalami kehilangan gigi > 12 buah cenderung lebih rentan mengalami penurunan fungsi kognitif. KATA KUNCI: Kehilangan gigi, fungsi kognitif, lansia
Kehilangan gigi, fungsi kognitif, lansia, tooth loss, cognitive function, elderly 2024-03-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/53066 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i1.53066
1672592 #6191 Tingkat kecemasan dental anak usia 7-12 tahun yang akan melakukan ekstraksi gigiDental anxiety level of 7 - 12-years old children who will perform tooth extraction at dental hospital Mathius, Ni Putu Nathalia Emilly
Sembiring, Linda Sari
Rohinsa, Meilani
Pendahuluan: Kecemasan merupakan suatu hal yang sering dialami oleh sebagian pasien yang akan melakukan prosedur perawatan dental. Kecemasan dental merupakan respon kecemasan yang hampir identik dengan respon rasa takut, yang keduanya memiliki fisiologis, kognitif serta komponen perilaku. Kecemasan dental sendiri merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan karena tidak hanya akan menyebabkan stres kepada pasien melainkan juga pada dokter gigi saat akan melakukan perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan dental anak usia 7-12 tahun yang akan melakukan ekstraksi gigi di Rumah Sakit Gigi dan Mulut  Maranatha. Metode: Jenis penilaian kecemasan dilakukan dengan pengisian kuisioner MDAS serta penilaian perilaku anak dilakukan dengan Frankl behaviour rating scale. Hasil: Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan dari segi psikologis sebanyak tujuh anak (64%) memiliki tingkat kecemasan rendah dan empat anak (36%) memiliki tingkat kecemasan sedang. Perilaku anak menunjukkan sikap pasti positif dan positif saat menjalani prosedur ekstraksi gigi, serta dari segi fisiologis terdapat peningkatan tekanan darah dan denyut nadi pada saat anak berada di kursi gigi. Simpulan: Tingkat kecemasan dental anak usia 7-12 tahun yang akan melakukan ekstraksi gigi di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Maranatha paling banyak dalam kategori rendah dengan perilaku menunjukkan sikap pasti positif dan positif saat menjalani prosedur ekstraksi gigi.Kata kunci: Kecemasan gigi, tekanan darah, denyut nadi, MDAS, skala penilaian perilaku Frankl. ABSTRACTIntroduction: Anxiety is a common thing experienced by some patients who will perform dental procedures. Dental anxiety is an anxious response which almost identical to the fear response, both of which have physiological, cognitive and behavioral components. Dental anxiety is one of the things that has to be considered because not only will cause stress to the patient but also to the dentist when the treatment is about to start. This study was aimed to determine the level of dental anxiety of 7 - 12-years old children who will perform tooth extraction at Maranatha Dental Hospital. Methods: Anxiety assessment was done by filling out the MDAS questionnaire as well as the child's behavioural assessment performed with the Frankl behaviour rating scale. Results: From the research that has been done, in terms of psychological, seven children (64%) had low anxiety level and four children (36%) had moderate anxiety level. Child behavior showed positive and definitely positive attitude while they were undergoing dental extraction Conclusion: The level of dental anxiety of 7 - 12-years old children who will perform tooth extraction at Maranatha Dental Hospital mostly found in the lowest category, with a very positive and positive attitude when undergoing tooth extraction procedures.Keywords: Dental anxiety, blood pressure, pulse rate, MDAS, Frankl behaviour rating scale
Kecemasan gigi, Tekanan darah, denyut nadi, MDAS, skala penilaian perilaku Frankl, dental anxiety, blood pressure, pulse rate 2019-07-12 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22486 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i1.22486
1672593 #6191 Phytochemical profile of pineapple peel (Ananas comosus) based eco enzyme and antibacterial activity against Lactobacillus Acidophilus ATCC 4356: Study experimental Sari, Morita
Imani, Cavita Nur
Wardani, Astrid Pramudya
ABSTRACTIntroduction: Dental caries is one of the dental and oral diseases with a high incidence in Indonesia. This disease occurs due to damage to hard tooth tissue triggered by the activity of microorganisms in the oral cavity, one of which is Lactobacillus acidophilus. Various caries prevention efforts have been developed, but most still rely on chemical agents that have the potential to cause side effects if used in the long term. Eco enzyme made from pineapple peel (Ananas comosus) has the potential as a natural antibacterial agent because it contains various bioactive compounds. This study aims to evaluate the ability of pineapple peel eco enzyme to inhibit and kill Lactobacillus acidophilus ATCC 4356. Methods: This study is an in vitro laboratory experiment. The positive control group includes chlorhexidine, while the negative control group contains distilled water; the treatment group includes pineapple peel eco enzyme at doses of 100%, 50%, 25%, 12.5%, 6.25%, 3.12%, and 0.78%. The tests to be carried out include phytochemical tests and antibacterial tests to determine the Zone of Inhibition (ZOI), Minimum Inhibitory Concentration (MIC), and Minimum Bactericidal Concentration (MBC). Data analysis used Kruskal-Wallis. Results: Pineapple peel eco enzyme is proven to contain flavonoids, saponins, tannins, phenolics, alkaloids, steroids, anthraquinones, glucose, and terpenoids which act as antibacterials. The ZOI test showed the largest inhibition zone diameter at a concentration of 100% of 15.51 mm with a strong category. The MIC value was obtained at a concentration of 3.12%, while the MBC was found at a concentration of 6.25%. The results of the Kruskal-Wallis statistical test obtained that Sig 0.437 (p > 0.05). Conclusions: Pineapple peel eco enzyme (Ananas comosus) has antibacterial activity in inhibiting and killing Lactobacillus acidophilus ATCC 4356, so it has the potential to be developed as a natural antibacterial agent for caries prevention. KEY WORDS: Eco_enzyme, Pineapple_peel, Antibacterial, Lactobacillus_acidophilus, PhytochemicalProfil fitokimia eco enzyme berbahan dasar kulit nanas (Ananas comosus) dan daya antibakteri terhadap Lactobacillus acidophilus ATCC 4356: Studi eksperimentalABSTRAK Pendahuluan: : Karies gigi merupakan salah satu penyakit gigi dan mulut yang memiliki angka kejadian tinggi di Indonesia. Penyakit ini terjadi akibat kerusakan jaringan keras gigi yang dipicu oleh aktivitas mikroorganisme dalam rongga mulut, salah satunya Lactobacillus acidophilus. Berbagai upaya pencegahan karies telah dikembangkan, namun sebagian besar masih bergantung pada agen kimia yang berpotensi menimbulkan efek samping apabila digunakan dalam jangka panjang. Eco enzyme berbahan dasar kulit nanas (Ananas comosus) memiliki potensi sebagai agen antibakteri alami karena mengandung berbagai senyawa bioaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan eco enzyme kulit nanas (EE-KN) dalam menghambat dan membunuh Lactobacillus acidophilus ATCC 4356. Metode: Penelitian ini merupakan eksperimen laboratorium in vitro. Kelompok kontrol positif meliputi klorheksidin, sedangkan kelompok kontrol negatif berisi air suling; kelompok perlakuan meliputi eco enzyme kulit nanas pada dosis 100%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, 3,12%, dan 0,78%. Uji yang akan dilakukan meliputi uji fitokimia serta uji antibakteri untuk menentukan Zone of Inhibition (ZOI), Minimum Inhibitory Concentration (MIC), dan Minimum Bactericidal Concentration (MBC). Analisis data menggunakan Kruskal-Wallis. Hasil: Eco enzyme kulit nanas terbukti mengandung senyawa flavonoid, saponin, tanin, fenolik, alkaloid, steroid, antrakuinon, glukosa, dan terpenoid yang berperan sebagai antibakteri. Uji ZOI menunjukkan diameter zona hambat terbesar pada konsentrasi 100% sebesar 15,51 mm dengan kategori kuat. Nilai MIC diperoleh pada konsentrasi 3,12%, sedangkan MBC ditemukan pada konsentrasi 6,25%. Hasil uji statistik Kruskal-Wallis didapatkan Sig 0,437 (p > 0,05). Simpulan: Eco enzyme kulit nanas (EE-KN) memiliki aktivitas antibakteri dalam menghambat dan membunuh Lactobacillus acidophilus ATCC 4356, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai agen antibakteri alami untuk pencegahan karies.KATA KUNCI: Eco_enzyme, Kulit_nanas, Antibakteri, Lactobacillus_acidophilus, Fitokimia
Eco_enzyme, Pineapple_peel, Antibacterial, Lactobacillus_acidophilus, Phytochemical; Eco_enzym; Kulit_nanas; Antibakteri; Lactobacillus_acidophilus; Fitokimia, 2026-02-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/69125 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v10i1.69125
1672594 #6191 Efek analgesik ektrak daun trembesi (Samanea Saman (jacq.) Merr.) terhadap mencit putih (Mus musculus)Analgesic effect of trembesi leaf extract (Samanea saman (Jacq.) Merr.) on white mice (Mus musculus) Sa'adah, Nikmatus
Chasanah, Niswatun
Pertami, Sawitri Dwi Indah
Rohmaniar, Puspa Dila
Adriansyah, Agus Aan
Ulah, Ahda Mas
ABSTRAKPendahuluan: Nyeri merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan. Senyawa metabolit sekunder flavonoid dan steroid ekstrak daun Trembesi (Samanea saman (Jacq.) Merr.) berfungsi sebagai analgesik dengan menghambat mediator-mediator inflamasi sehingga pelepasan asam arakidonat dan kerja enzim siklooksigenase terblokir. Tujuan penelitian menganalisis efek analgesik ekstrak daun Trembesi terhadap mencit putih (Mus musculus). Metode: Penelitian eksperimental laboratoris ini menggunakan teknik simple random sampling dengan sampel 30 ekor mencit dibagi menjadi 5 kelompok. Ekstrak daun trembesi yang digunakan dosis 25 mg/kgBB, 50 mg/kgBB, 100 mg/kgBB, kontrol negatif CMC.Na 0,5%, dan kontrol positif asetosal, pada masing-masing kelompok mencit putih jantan diberikan secara per oral, kemudian diinduksi nyeri dengan asam asetat 1% secara intraperitonial. Jumlah geliat mencit diamati setiap 5 menit selama 30 menit, lalu dihitung presentase efektivitas analgesiknya dengan membandingkan persentase proteksi analgesik kelompok senyawa uji terhadap persentase proteksi analgesik kelompok kontrol positif. Hasil: Ekstrak daun Trembesi dosis 100 mg/kgBB memberikan efek analgesik yang lebih besar yaitu 76,62% dibandingkan dengan ekstrak daun Trembesi dosis 25 mg/kgBB (24,63%) dan 50 mg/kgBB (49,34%).  Nilai signifikansi hasil uji Kruskal Wallis sebesar 0,001 sehingga dapat diartikan terdapat perbedaan efektivitas analgesik ekstrak daun Trembesi yang signifikan antar kelompok. Simpulan: Terdapat efek analgesik ekstrak daun Trembesi (Samanea saman (Jacq.) Merr.) pada mencit putih (Mus musculus).Kata kunci: nyeri; analgesik; samanea saman, tikus putih ABSTRACTIntroduction: Pain is an sensory and emotional unpleasant experience because of tissue damage. Secondary metabolites of flavonoids and steroids from Trembesi (Samanea saman (Jacq.) Merr.) leaf extract have a function as analgesics by inhibiting inflammatory mediators so the release of arachidonic acid and the action of the cyclooxygenase enzyme is blocked. This study aimed to analyzed the analgesic effect of Trembesi leaf extract on white mice (Mus musculus). Methods: This experimental laboratory study used a simple random sampling technique with 30 mice samples divided into 5 groups. Trembesi leaf extract used was dose of 25 mg/kgBW, 50 mg/kgBW, 100 mg/kgBW, negative control CMC.Na 0.5%, and positive control Acetosal, given oral to each group, then induced pain with 1% acetic acid intraperitoneally. Number of stretching mice was observed every 5 minutes for 30 minutes, then the percentage of analgesic effectiveness was calculated by comparing the percentage of analgesic protection of the test group to the percentage of analgesic protection of the positive control group. Results: Trembesi leaf extract at a dose of 100 mg/kgBW gave a great analgesic effect, 76.62% compared to Trembesi leaf extract at a dose of 25 mg/kgBW (24.63%) and 50 mg/kgBW (49.34%). The significance value of the Kruskal Wallis test results is 0.001 so it can be interpreted that there is a significant difference in the analgesic effectiveness of Trembesi leaf extract between groups. Conclusion: There is an analgesic effect of Trembesi (Samanea saman (Jacq.) Merr.) leaf extract on white mice (Mus musculus).Keywords: pain; analgesic effect; saman leaf extract (samanea saman (jacq.) merr.); white mice
nyeri; analgesik; samanea saman, tikus putih 2022-06-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/38880 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i2.38880
1672595 #6191 The effect of galo-galo honey extract (heterotrigona itama) on the formation of pseudomonas aeruginosa biofilm: study experimental Julianingsih, Wulan
Amly, Dina Auliya
Ferdina, Resa
ABSTRACTIntroduction: Pseudomonas aeruginosa is a Gram-negative bacterium resistant to antibiofilm agents and a major pathogen responsible for nosocomial infections. This can be prevented with chlorhexidine; however, this substance may cause oral irritation. One natural alternative is Galo-galo bee honey (Heterotrigona itama), which contains various antibiofilm components, including fructose, hydrogen peroxide, and flavonoids. This study aims to analyze the effect of Galo-galo bee honey extract on the biofilm formation of Pseudomonas aeruginosa. Methods: The research was conducted using an experimental method. The Galo-galo bee honey extract was obtained through centrifugation, and the supernatant was then used for antibiofilm activity testing, measuring absorbance at 540 nm (λ 540 nm). Parametric statistical analysis using ANOVA Welch indicated significant differences in the inhibitory effects on biofilm formation of Pseudomonas aeruginosa among the treatment groups with different concentrations of Galo-galo bee honey extract (p<0.05). Post hoc Games Howell tests revealed no significant difference (p>0.05) between the 0.09% concentration and the 0.19% and 0.39% concentrations. Results: Significant increases (p<0.05) were identified at concentrations of 6.25%, 3.125%, 1.56%, and 0.78% compared to concentrations ≤ 0.39%. Other significant increases were also found at concentrations of 50%, 25%, and 12.5% compared to concentrations ≤ 6.25%, with further significant differences (p<0.05) observed between the 50% concentration and both the 25% and 12.5% concentrations, as well as between the 25% and 12.5% concentrations. Conclusion: There is a difference effect of Galo-galo bee honey extract on the formation of Pseudomonas aeruginosa biofilm. Higher concentrations of Galo-galo bee honey extract are more effective in inhibiting biofilm formation by Pseudomonas aeruginosaKEY WORDS: Antibiofilm, Galo-galo bee honey (Heterotrigona itama), Pseudomonas aeruginosa.Perbedaan efek ekstrak madu lebah galo-galo (heterotrigona itama) terhadap pembentukan biofilm pseudomonas aeruginosa: Studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri Gram-negatif yang resisten terhadap antibiofilm dan patogen utama penyebab infeksi nosokomial. Hal ini dapat dicegah dengan chlorhexidine tetapi bahan ini dapat menyebabkan iritasi mulut. Salah satu bahan alternatif adalah madu lebah Galo-galo (Heterotrigona itama) memiliki berbagai kandungan antibiofilm, yaitu fruktosa, hidrogen peroksida dan flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak madu lebah Galo-galo (Heterotrigona itama) terhadap pembentukan biofilm Pseudomonas aeruginosa. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental. Ekstrak madu lebah Galo-galo (Heterotrigona itama) diperoleh dengan cara disentrifugasi lalu diambil supernatannya kemudian dilakukan uji aktivitas antibiofilm dan diukur absorbansinya (λ 540 nm). Analisis statistik parametrik ANOVA Welch menunjukkan bahwa terdapat perbedaan efek hambat pembentukan biofilm Pseudomonas aeruginosa yang signifikan (p<0,05) diantara kelompok perlakuan konsentrasi ekstrak madu lebah Galo-galo (Heterotrigona itama). Uji post hoc Games Howell menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan (p>0,05) antara konsentrasi 0,09% dengan konsentrasi, 0,19%, dan 0,39%. Results: Peningkatan signifikan (p<0,05) teridentifikasi pada konsentrasi 6,25%, 3,125%, 1,56%, dan 0,78% dengan konsentrasi ≤ 0,39%. Peningkatan signifikan antibiofilm yang lainnya juga ditemui pada konsentrasi 50%, 25%, dan 12,5% dengan konsentrasi ≤ 6,25, lebih lanjut perbedaan yang signifikan (p<0,05) juga ditemui antara konsentrasi 50% dengan 25% dan 12,5%, serta konsentrasi 25% dengan 12,5%. Simpulan: terdapat perbedaan efek ekstrak madu lebah Galo-galo (Heterotrigona itama) terhadap pembentukan biofilm Pseudomonas aeruginosa. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak madu lebah Galo-galo (Heterotrigona itama) maka semakin efektif dalam menghambat pembentukan biofilm Pseudomonas aeruginosa.KATA KUNCI: Madu lebah Galo-galo (Heterotrigona itama), antibiofilm, Pseudomonas aeruginosa.
Madu lebah Galo-galo (Heterotrigona itama), antibiofilm, Pseudomonas aeruginosa, Antibiofilm, Galo-galo bee honey (Heterotrigona itama), Pseudomonas aeruginosa. 2025-06-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/61755 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i2.61755
1672596 #6191 Perbedaan antara perlekatan Candida albicans pada glass fiber non dental dan e-glass fiber dental reinforced polymer setelah perendaman dalam NaOCl 0,5%The difference between the adhesion of Candida albicans on glass fiber non-dental and e-glass fiber dental reinforced polymer after immersion in 0.5% NaOCl Sari, Widya Puspita
Surya, Leny Sang
Pratiwi, Chitra Annesha
Pendahuluan: Porositas merupakan salah satu sifat fisik yang dapat membuat resin akrilik rentan terhadap perlekatan debris dan mikroorganisme seperti Candida albicans. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan penambahan fiber. Resin akrilik yang ditambahkan fiber mempunyai sifat fisis yang lebih baik dibandingkan dengan resin tanpa penambahan fiber. E-glass fiber sering digunakan dalam bidang kedokteran gigi, namun di Indonesia harganya relatif mahal dan sulit diperoleh sehingga perlu pemesanan yang cukup lama. Alternatif seperti Glass fiber non dental banyak tersedia dengan harga yang terjangkau. Tujuan penelitian adalah menganalisis perbedaan perlekatan Candida albicans pada fiber reinforced polymer antara glass fiber non dental dan e-glass fiber dental setelah perendaman NaOCl 0,5%. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan metode eksperimental laboratorium menggunakan rancangan posttest control group design. Jumlah total sampel adalah 12 buah, dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok kontrol (polymer tanpa penambahan fiber), kelompok perlakuan 1 (glass fiber non dental reinforced polymer), dan kelompok perlakuan 2 (e-glass fiber dental reinforced polymer). Analisis statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis, selanjutnya untuk mengetahui kelompok mana yang terdapat perbedaan maka selanjutnya dilakukan uji lanjutan (post-hoc) menggunakan uji Mann-Whitney untuk mengetahui adanya perbedaan pada tiap kelompok. Hasil: Perlekatan Candida albicans pada kelompok kontrol (0,68%), glass fiber non dental (0,56%), dan e-glass fiber dental (0,43%). Hasil uji statistik nilai p= 0,007<0,05. Hasil uji Post hoc 0,021. Simpulan: Terdapat perbedaan perlekatan Candida albicans antara glass fiber non dental dan e-glass fiber dental reinforced polymer setelah perendaman dalam larutan sodium hipoklorit (NaOCl) 0,5 %.Kata kunci: Candida albicans, glass fiber non dental, e-glass fiber dental reinforced polymer, natrium hipoklorit 0,5%. ABSTRACTIntroduction: Porosity is one of the mechanical properties that makes acrylic resin susceptible to the attachment of debris and microorganisms such as Candida albicans. The addition of fiber can overcome this problem. The addition of fiber will leads to acrylic resin with better physical properties than without the addition. E-glass fiber is often used in dentistry. However, in Indonesia, the price is relatively high and difficult to obtain, requiring quite a long order. Alternatives such as non-dental glass fiber are widely available at affordable prices. This study was aimed to analyse the difference in the adhesion of Candida albicans on glass fiber non-dental and e-glass fiber dental reinforced polymer after immersion in 0.5% NaOCl. Methods: The type of research was quantitative research with experimental laboratory methods using a posttest control group design. The total number of samples was 12, divided into three groups: the control group (polymer without fiber addition), treatment group 1 (glass fiber non-dental reinforced polymer), and treatment group 2 (e-glass fiber dental reinforced polymer). Statistical analysis used was the Kruskal-Wallis test. Then, to determine which groups had differences, an advance test (post-hoc) was carried out using the Mann-Whitney test to determine the differences in each group. Results: Adhesion of Candida albicans in the control group (0.68%), non-dental glass fiber (0.56%), and dental e-glass fiber (0.43%). The result of the statistical test resulted in p-value=0.007; p<0.05. The result of the post-hoc test was 0.021. Conclusion: There is a difference in the adhesion of Candida albicans between non-dental glass fiber and dental e-glass fiber dental re-inforced polymer after immersion in 0.5% sodium hypochlorite (NaOCl) solution.Keywords: Candida albicans, glass fiber non dental, e-glass fiber dental reinforced polymer, 0.5% sodium hypochlorite.
Candida albicans; glass fiber non dental; e-glass fiber dental reinforced polymer; natrium hipoklorit 0,5%; 0.5% sodium hypochlorite 2021-04-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/30886 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i1.30886
1672597 #6191 Antibacterial activity of ethanol fraction of capsicum annuum l. against streptococcus mutans ATCC 25175: Experimental study Garinanda, Yasmine Aliyah
Yohana, Winny
Pramesti, Hening Tjaturina
ABSTRACT Introduction: Streptococcus mutans is the main bacteria that causes dental caries. This bacteria has the features of being tightly adhered to the tooth surface and produce organic acid that cause tooth demineralization. Therefore, controling its growth is necessary to decrease the risk of caries. Capsicum annuum L. (cayenne red pepper) is believed to possess antibacterial activity. This study aims to determine the antibacterial activity of the fraction ethanol of C. annum (FECA) against S. mutans ATCC 25175 in vitro. Methods: This was a experimental laboratory research. The extraction of cayenne red pepper used the maceration technique and the testing method used the serial microdilution with concentrations of 900; 800; 400; 200; 100; 50; 40; 25; 20; 12,5; 10; 6,25; 5; 2,5; 1,25; and 0,625 mg/ml. Chlorhexidine Gluconate 0,2% was used as the positive control, whereas Brain Heart Infusion Broth (BHIB) media was used as the negative control. Brain Heart Infusion Broth (BHIB) media was added with a suspension of S. mutans without the test material. Results: FECA at a 0.625-900 mg/ml concentration did not show S. mutans ATCC 25175 growth inhibition. There was no significant difference in mean absorbance between FECA at concentrations of 0,625-900 mg/ml and negative control based on the Mann Whitney test. There were colony growth of S. mutans in subcultures of FECA at concentrations of 0.625-900 mg/ml. Conclusion: The ethanol fraction of Capsicum annuum L. (cayenne red pepper) has no antibacterial activity against S. mutans ATCC 25175. KEYWORDS: Capsicum annuum L, ethanol fraction, antibacterial activity, Streptococcus mutansAktivitas antibakteri fraksi etanol capsicum annuum L. (cabai merah rawit domba) terhadap streptococcus mutans ATCC 25175: Studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Karies gigi adalah infeksi bakteri pada rongga mulut yang mengakibatkan kerusakan lokal pada struktur gigi. Salah satu bakteri penyebab karies adalah Streptococcus mutans sehingga pengontrolan pertumbuhan bakteri ini diduga menurunkan risiko karies. Capsicum annuum L. (Cabai Merah Rawit Domba) diyakini memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antibakteri, konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi bakterisidal minimum (KBM) fraksi etanol C. annum (FECA) terhadap S. mutans ATCC 25175 secara in vitro. Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris menggunakan metode pengenceran seri dengan Chlorhexidine Gluconate 0,2% sebagai kontrol positif dan campuran media Brain Heart Infusion Broth dan suspensi S. mutans sebagai kontrol negatif. Data dianalisis dengan menggunakan uji statistik Mann-Whitney. Hasil: FECA pada konsentrasi 0.625-900 mg/ml tidak menghambat pertumbuhan S. mutans. Tidak terdapat perbedaan rata-rata absorbansi yang signifikan antara FECA pada konsentrasi 0.625-900 mg/ml dan kontrol negatif berdasarkan uji Mann Whitney. Terdapat pertumbuhan koloni S. mutans pada subkultur FECA pada konsentrasi 50-900 mg/ml di media Brain Heart Infusion Agar. Simpulan: Fraksi etanol C. annuum varietas Cabai Merah Rawit Domba Kabupaten Pangalengan tidak memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. mutans ATCC 25175.
Capsicum annuum L.; fraksi etanol; aktivitas antibakteri; konsentrasi hambat minimum; konsentrasi bunuh minimum; Streptococcus mutans 2024-10-07 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/55925 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i2.55925
1672598 #6191 Pengalaman karies dan status periodontal pada ibu hamilCaries experience and periodontal status of pregnant women Pinanty, Ajeng
Suwargiani, Anne Agustina
Susilawati, Sri
Pendahuluan: Kehamilan dapat menyebabkan perubahan pada beberapa anggota tubuh, termasuk rongga mulut. Kesehatan gigi dan mulut selama masa kehamilan sangat perlu dijaga, agar ibu hamil terhindar dari peningkatan resiko terjadinya karies dan penyakit periodontal. Upaya ini akan menghindari terjadinya resiko yang menyebabkan prematur dan kelahiran berat bayi lahir rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman karies dan status periodontal ibu hamil agar dapat melakukan perawatan dan pencegahan dini. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan menggunakan teknik survei. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang datang dan sedang memeriksakan kehamilannya ke poli KIA Puskesmas Sukajadi Bandung. Pengambilan responden menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 65 ibu hamil di Puskesmas Sukajadi Bandung. Pengalaman karies diukur dengan indeks DMFT, status periodontal dengan Community Periodontal Index (CPI). Hasil: Indeks DMF-T ibu hamil sebesar 6,82. Hasil CPI yaitu periodontal sehat 3,08%, perdarahan gusi 1,54%, terdapat kalkulus 26,15%, poket 4–5 mm 63,08%, poket  ≥ 6 mm 6%. Simpulan: Pengalaman karies pada ibu hamil termasuk pada kriteria rendah, sedangkan status jaringan periodontal yang paling banyak ditemui pada ibu hamil di Puskesmas Sukajadi yaitu terdapat poket 4-5 mm.Kata kunci: Ibu hamil, indeks CPI, indeks DMFT, Puskesmas. ABSTRACTIntroduction: Pregnancy can cause changes in the body, including the oral cavity. Dental and oral health during pregnancy is essential to reduce the risk of caries and periodontal disease. This effort is expected to prevent the risk of premature birth and low birth-weight babies. This study was aimed to determine the caries experience and periodontal status of pregnant women to obtain early treatment and prevention. Methods: Descriptive method using a survey technique was used in this study. The population of this study were all pregnant women who came and checked their pregnancy to the Maternal and Child Health Centre of Sukajadi Community Health Centre Bandung. A total sample of 65 pregnant women at Sukajadi Community Health Centre Bandung was obtained through purposive sampling. The caries experience and periodontal status was measured using the DMFT index and Community Periodontal Index (CPI), respectively. Results: Pregnant women showed DMF-T index of 6.82, the CPI state showed healthy periodontal status with 3.08% of gingival bleeding, 1.54% of calculus, 26.15% of 4-5 mm pocket, and 63.08% of ≥ 6 mm pocket. Conclusion: Caries experience in pregnant women at the Sukajadi Community Health Centre is categorised as low. At the same time, the presence of 4-5 mm pockets is most commonly found in the periodontal status of pregnant women.Keywords: Pregnant women, CPI index, DMFT index, Community Health Centre.
Ibu hamil, indeks CPI, indeks DMFT, Puskesmas, pregnant women, CPI index, DMFT index, Community Health Centre. 2020-04-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/24847 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v4i1.24847
1672599 #6191 Lip pattern types among mandailing bataknese and sundanese in padang city, sumatera barat province, indonesia: Study cross-sectional Amalia, Afifah Fitri
Nismal, Harfindo
Sari, Desy Purnama
ABSTRACT Introduction: The immigrant community from West Sumatra comes from various ethnic groups in Indonesia, including Batak Mandailing (proto-Malay) and Sundanese (deutro-Malay). West Sumatra is known as a "Disaster Supermarket" region, so antemortem data is important for individuals in determining identity, one of which is lip prints. The advantages of lip patterns include being permanent because it does not change from the age of six weeks intraurine until death,  being specific, unique and individual, and being simple and cheap to apply. This study aims to determine the dominant lip print pattern of the Mandailing and Sundanese Batak Tribes in West Sumatra based on the Suzuki and Tsuchihashi classifications. Methods: The type of research is descriptive observational study using a cross-sectional approach with survey methods. The sample consisted of 28 respondents from the Mandailing Batak tribe and 28 respondents from the Sundanese tribe. The ethnicity of the respondents was determined by the previous two descendants, aged 17–40 years, with lips that had no inflammation or abnormalities and had never had surgery. Lip prints are taken using lipstick, then printed with cellophane and analyzed using a computerized system. Next, the types of lip prints are classified based on the Suzuki and Tsuchihashi classifications. Results: The dominant lip print patterns of the Mandailing Batak tribe are type I (60,7%) and type III (28,6%); while Sundanese lip print pattern is type I (82.1%). Conclusion: The dominant lip print patterns of the Mandailing Batak and Sundanese tribe are types I (complete vertical).KEY WORDS:  pattern, lip prints, ethnicity, suzuki, and tsuchihashi, classificationPola sidik bibir suku Batak Mandailing dan Sunda di Kota Padang, sumatera barat, Indonesia berdasarkan klasifikasi suzuki dan tsuchihashi: Studi cross-sectionalABSTRAK Pendahuluan: Masyarakat pendatang Sumatera Barat berasal dari berbagai suku bangsa di Indonesia, diantaranya Batak Mandailing (proto-melayu) dan Sunda (deutro-melayu). Sumatera Barat dikenal sebagai daerah “Supermarket Bencana” sehingga data antemortem menjadi hal penting bagi individu dalam menentukan identitas, salah satunya dengan sidik bibir. Keunggulan iidentifikasi dengan sidik bibir diantaranya yaitu bersifat permanen sebab tidak berubah sejak usia 6 minggu intrauterine hingga meninggal dunia, bersifat khas, unik dan personal serta mudah dan murah untuk diaplikasika.  Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sidik bibir dominan pada Suku Batak Mandailing dan Sunda di Sumatera Barat berdasarkan klasifikasi Suzuki dan Tsuchihashi. Metode: Jenis penelitian ini merupakan deskriptif observasional menggunakan pendekatan cross sectional dengan metode survei. Sampel berjumlah 28 responden Suku Batak Mandailing dan 28 Suku Sunda. Penentuan etnis responden ditetapkan dari dua generasi sebelumnya, berusia 17-40 tahun, dengan kondisi bibir tidak mengalami inflamasi, kelainan dan tidak pernah dilakukan operasi. Pengambilan sidik bibir menggunakan lipstik, kemudian dicetak dengan selofan dan dianalisis menggunakan sistem komputerisasi. Selanjutnya tipe sidik bibir diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi Suzuki dan Tsuchihashi. Hasil: Pola sidik bibir yang ditemukan pada Suku Batak Mandailing adalah tipe I (60,7%) dan tipe III (28,6%), Sunda tipe I (82,1%). Simpulan: Pola sidik bibir berdasarkan klasifikasi Suzuki dan Tsuchihashi, paling banyak dijumpai pada Suku Batak Mandailing dan Suku Sunda di Kota Padang, Sumatera Barat adalah tipe I (vertikal lengkap).KATA KUNCI: pola, sidik bibir, suku, klasifikasi, suzuki dan tsuchihashi
Pola, Sidik Bibir, Suku, Klasifikasi, Suzuki dan Tsuchihashi, pattern, lip prints, ethnicity, suzuki, and tsuchihashi, classification 2023-11-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/50334 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i3.50334
1672600 #6191 Hubungan tingkat keparahan maloklusi dengan status karies pada remajaRelationship of malocclusion severity with caries status in adolescents Dayataka, Raka Putri
Herawati, Hilda
Darwis, Rudi Satria
Pendahuluan: Maloklusi adalah ketidaksesuaian hubungan gigi dan rahang yang dapat menimbulkan beberapa dampak. Salah satu dampak maloklusi adalah retensi plak yang memicu terjadinya karies karena proses demineralisasi terjadi pada permukaan gigi yang berjejal dan sulit dibersihkan. Tujuan penelitian mengetahui hubungan antara tingkat keparahan maloklusi dengan status karies pada remaja di SMPN 1 Kota Cimahi. Metode: Jenis penelitian adalah analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh remaja di SMPN 1 Kota Cimahi. Teknik sampling yang digunakan stratified random sampling. Pemeriksaan rongga mulut dilakukan pada 61 siswa usia 12-15 tahun, sebagai subyek penelitian. Penilaian tingkat keparahan maloklusi menggunakan indeks Handicapped Maloclussion Assesment Record (HMAR) dan penilaian status karies menggunakan indeks DMF-T. Hasil: Persentase maloklusi siswa SMP Negeri 1 Kota Cimahi sebesar 96,7%, sedangkan persentase karies didapat sebesar 83,6%. Tingkat keparahan maloklusi terbanyak yang ditemukan adalah kategori sangat berat, sangat perlu perawatan, sedangkan status karies yang paling banyak ditemukan adalah kategori moderat. Analisis korelasi menggunakan metode statistik Rank Spearman dan didapat nilai p=0,036 (p<0,05). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat keparahan maloklusi dengan status karies pada remaja di SMP Negeri 1 Kota Cimahi.Kata kunci: Tingkat keparahan maloklusi, status karies, HMAR, DMF-T, remaja ABSTRACTIntroduction: Malocclusion is a misalignment between the teeth and jaws that can cause several effects. One of the malocclusion effects is plaque retention that triggers caries because the demineralisation process occurs on the crowded tooth surface, which is difficult to clean. The purpose of the study was to determine the relationship between the malocclusion severity and caries status in adolescents at 1 Junior High School of Cimahi. Methods: This research was correlational analytic with a cross-sectional approach. The study population was all adolescents at 1 Junior High School of Cimahi. The sampling technique used was stratified random sampling. Oral examination was performed on 61 students aged 12-15 years old, as the subject of the study. Assessment of malocclusion severity was performed using the Handicapped Malocclusion Assessment Record (HMAR) index, and assessment of caries status was performed using the DMF-T index. Results: Percentage of malocclusion of students in 1 Junior High School of Cimahi was 96.7%, while the percentage of caries was 83.6%. The highest malocclusion severity found was a very severe category, intensive treatment necessary; while the most found caries status was a moderate category. Correlation analysis was performed using Rank Spearman statistical method which obtained the p-value = 0.036 (p < 0.05). Conclusion: There is a significant relationship between the malocclusion severity and caries status in adolescents at 1 Junior High School of Cimahi.Keywords: Malocclusion severity, caries status, HMAR, DMF-T, adolescents
Tingkat keparahan maloklusi, status karies, HMAR, DMF-T, remaja, malocclusion severity, caries status, adolescents 2019-07-12 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22224 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i2.22224
Menampilkan 1.550.101 - 1.550.120 dari total 1.550.696 data
« Awal ‹ Prev Next › Akhir »