Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↑ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1672641 #6191 Differences in density and particles of the left and right in patients with type 2 diabetes mellitus and non-diabetes mellitus: A descriptive study Hadiputri, Felicia
Epsilawati, Lusi
Damayanti, Merry Annisa
Tjahajawati, Sri
Hadikrishna, Indra
ABSTRACTIntroduction: One of the complications of diabetes melitus  is the impairment of bone health. Various analyses can be used to assess bone quality in patients with type 2 DM, including calculating the number of particles and bone density. This study aims to examine the differences in the density and particles count values of the left and right mandibular bones in patients with and without type 2 DM. Methods: This research utilized an observational descriptive method with a cross-sectional study design. The population comprised all panoramic radiographs from patients with and without T2DM, while the sample was determined by selecting data that met specific criteria. A total of 34 radiographs with T2DM and 34 radiographs without T2DM were included in the study. ImageJ software was used to analyze the density and the number of bone particles of each panoramic radiograph, both on the left and right side. The data were processed with statistical analysis, specifically the Mann-Whitney U test with significance determined at a p-value >0.05. Results: The average density values for the right and left sides in patients with T2DM were 92.998, while in patients without T2DM, it was 102.582. The difference in mandibular density was significant, with p-values 0.01 for the right side and 0.009 for the left side.The average number of bone particles in patients with T2DM is 24.087, compared to 25.205 in patients without T2DM, and not significantly different, with p-values 0.466 for the right side and 0.051 for the left side. Conclusions: Differences in mandibular density were observed between patients with and without T2DM, leading to increased fragility of the mandibular bone in T2DM patients. However, no significant differences were found in the number of bone particles between patients with and without T2DM.Perbedaan densitas dan partikel tulang mandibula kiri dan kanan pada penderita diabetes melitus tipe 2 dan bukan diabetes melitus tipe 2 menggunakan : studi deskriptifABSTRAK Pendahuluan: Salah satu komplikasi diabetes melitus adalah terganggunya kesehatan tulang. Banyak analisis yang dapat digunakan untuk menilai kualitas tulang pada penderita DM tipe 2, seperti menghitung jumlah partikel dan densitas tulang. Tujuan penelitian ini adalah melihat perbedaan nilai densitas dan jumlah partikel pada tulang mandibula kiri dan kanan pasien penderita dan bukan penderita DM tipe 2. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode deskripsi observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi merupakan semua radiograf panoramik dari pasien penderita dan bukan penderita DM tipe 2, sedangkan sampel ditentukan dengan memilih data yang sesuai kriteria. Data keseluruhan yang terkumpul berjumlah 34 radiograf dari pasien penderita DM tipe 2 dan 34 radiograf pada pasien bukan penderita DM tipe 2. Setiap radiograf panoramik, baik mandibula kiri maupun kanan, dianalisis nilai densitas dan jumlah partikelnya menggunakan software ImageJ. Data kemudian diolah dengan uji statistik Mann-Whitney U dengan p-value >0,05 dianggap signifikan. Hasil: Nilai rerata densitas kanan dan kiri pasien penderita DM tipe 2 adalah 92,998 dan pasien bukan penderita DM tipe 2 adalah 102,582. Perbedaan densitas bernilai signifikan dengan p-value 0,01 pada sisi kanan dan 0,009 pada sisi kiri. Nilai rata-rata partikel tulang pasien penderita DM tipe 2 adalah 24,087 dan pasien bukan penderita DM tipe 2 adalah 25,205, namun tidak berbeda signifikan, dengan p-value 0,466 untuk sisi kanan dan 0,051 untuk sisi kiri. Simpulan: Ditemukan perbedaan pada nilai densitas pasien penderita DM tipe 2 dibandingkan dengan pasien bukan penderita DM tipe 2. Hal ini menyebabkan tulang mandibula menjadi lebih rapuh sekalipun jumlah partikel tulang pada pasien penderita DM tipe 2 tidak mengalami perbedaan dibandingkan pasien bukan penderita DM tipe 2.
Mandibula, densitas, partikel tulang, DM tipe 2 2024-06-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/54091 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i2.54091
1672642 #6191 Kebersihan gigi tiruan lepasan pada kelompok usia 45-65 tahunRemovable denture cleanliness in the 45-65 years age group Ratnasari, Desi
Isnaeni, Rheni Safira
Fadilah, Rina Putri Noer
Pendahuluan: Gigi tiruan lepasan adalah sebuah jenis restorasi yang dapat memperbaiki fungsi stomatognatik yang terganggu akibat kehilangan gigi. Pemakaian gigi tiruan dapat mengembalikan fungsi mastikasi, memulihkan fungsi bicara, memperbaiki estetika dan memelihara atau mempertahankan kesehatan jaringan mulut yang masih ada sehingga mencegah kerusakan berlanjut. Kebersihan gigi tiruan lepasan yang kurang terjaga dapat meningkatkan akumulasi plak yang dapat menyebabkan berbagai masalah pada rongga mulut sehingga mempengaruhi kesehatan rongga mulut secara umum. Kebersihan gigi tiruan dapat dinilai dengan menggunakan indeks, salah satunya adalah denture cleanliness index (DCI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebersihan gigi tiruan lepasan pada kelompok usia 45-65 tahun di Kota Cimahi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan pada 3 Puskesmas di Kota Cimahi. Penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan cluster random sampling yang sesuai dengan kriteria inklusi sehingga didapatkan sampel sebanyak 69 orang. Penentuan kebersihan gigi tiruan menggunakan denture cleanliness index (DCI). Hasil: Kebersihan gigi tiruan lepasan dalam kategori sedang yaitu sebanyak 51 orang (74%), kategori buruk sebanyak 15 orang (22%) dan kategori bersih sebanyak 3 orang (4%). Simpulan: Kebersihan gigi tiruan lepasan pada kelompok usia 45-65 tahun di Kota Cimahi didapatkan kategori terbanyak adalah kategori sedang diikuti dengan kategori buruk dan paling sedikit adalah kategori bersih.Kata kunci: Denture cleanliness index (DCI), gigi tiruan lepasan, kebersihan gigi tiruan. ABSTRACTIntroduction: Removable denture is the type of restoration that can improve the stomatognathic function that is disrupted due to tooth loss. The use of dentures able to restore the masticatory function, restore the speech function, improve aesthetics and maintain the health of the remaining oral tissues to prevent continued damage. Poorly maintained removable denture cleanliness could increase plaque accumulation which can cause various problems in the oral cavity that affect general oral health. Denture cleanliness can be assessed using an index, one of which is the denture cleanliness index (DCI). This study was aimed to determine the cleanliness of removable dentures in the age group 45-65 years in Cimahi City. Methods: This research was a descriptive study conducted at 3 Community Health Centre (Puskesmas) in the City of Cimahi. Determination of the sample in this study using random cluster sampling following the inclusion criteria to obtain a sample of 69 people. Determination of denture cleanliness using denture cleanliness index (DCI). Results: Removable denture cleanliness mostly found in the medium category (51 people (74%)), poor category in 15 people (22%), and clean category in 3 people (4%). Conclusion: Removable denture cleanliness in the 45-65 years age group in Cimahi found mostly in the medium category followed by the poor category and found the least in the clean category.Keywords: Denture cleanliness index (DCI), removable denture, denture cleanliness.
Denture cleanliness index (DCI), gigi tiruan lepasan, kebersihan gigi tiruan. removable denture, denture cleanliness. 2019-11-09 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/23573 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i2.23573
1672643 #6191 Radiographic study of alveolar bone profiles of chronic periodontitis patients: Study descriptive Hidayat, Muhammad Firman
Pudjiastuti, Peni
supriyadi, Supriyadi
ABSTRACTIntroduction: Chronic periodontitis is a common periodontal disease; prevalence at the age of over 35 years above 75%. Chronic periodontitis is often assessed by the presence of bone loss, namely by the degree of alveolar bone loss and the bone loss pattern. The bone loss profile is very important for assessing periodontitis associated with treatment and treatment planning. This study aims to determine alveolar bone profiles in chronic periodontitis patients. Methods: This descriptive study used periapical radiograph samples from patients with a diagnosis of chronic periodontitis at Dental Hospital, University of Jember in November to December 2022 which were taken using a total sampling technique. Bone loss is determined by measuring the distance from the point CEJ-ABC on the radiograph using a caliper. The pattern of bone loss was visualized and classified into vertical and horizontal patterns. Results: The percentage of horizontal bone loss patterns is 92% and 8% vertical. The average bone loss in males is greater than in females by 1.16mm, bone loss in the maxillary bone is greater than that of the mandible by 1.04mm, the largest bone loss is in the maxillary incisors by 2mm. Conclusion: There are more horizontal bone loss patterns than vertical ones. Bone loss in men is greater than in women. The maxillary teeth have a greater average bone loss than the mandible. Upper incisors show the greatest bone loss compared to other regions.KEY WORDS: alveolar bone, chronic periodontitis, periapical radiograph, bone loss, bone loss patternRadiografi profil kehilangan tulang alveolar pada pasien periodontitis kronis: studi deskriptifABSTRAKPendahuluan: Periodontitis kronis merupakan penyakit periodontal yang umum terjadi prevalensinya pada usia diatas 35 tahun dengan persentase hingga 75%. Periodontitis kronis sering dinilai dari adanya kehilangan tulang alveolar (bone loss), yaitu tingkat kehilangan tulang alveolar dan pola kerusakannya. Profil bone loss sangat penting untuk penilaian periodontitis yang dikaitkan dengan rencana perawatan dan perawatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui profil kehilangan tulang alveolar pada pasien periodontitis kronis. Metode: Penelitian deskriptif ini menggunakan sampel radiografi periapikal dari pasien dengan diagnosis periodontitis kronis  di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Jember pada bulan November-Desember 2022 yang diambil menggunakan  teknik total sampling yang memenuhi kriteria. Pengukuran bone loss dilakukan dengan cara menentukan titik cemento enamel junction (CEJ) - alveolar bone crest (ABC) pada radiografi menggunakan jangka sorong. Pengamatan pola kerusakan tulang alveolar dilakukan secara visual dan diklasifikasikan menjadi pola kerusakan vertikal dan horizontal. Hasil: Pola kerusakan alveolar crest horizontal 92% dan vertikal 8%. Rerata bone loss   pada laki-laki lebih besar dibandingkan dengan perempuan sebesar 1,16mm, bone loss pada rahang atas lebih besar dibandingkan dengan rahang bawah sebesar 1,04mm, bone loss terbesar adalah pada gigi insisivus rahang atas sebesar 2mm. Simpulan: Pola bone loss horizontal lebih banyak dibandingkan vertikal. Bone loss pada laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan. Geligi rahang atas memiliki rerata bone loss yang lebih besar dibandingkan dengan rahang bawah. Gigi insisivus rahang atas menunjukkan rerata bone loss terbesar dibandingkan dengan regio lainnya.KATA KUNCI: tulang alveolar, periodontitis kronis, radiografi periapikal, bone loss, pola kerusakan.
Tulang alveolar, Periodontitis kronis, Radiografi periapikal, Kehilangan tulang, Pola kerusakan 2023-08-26 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/47683 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i2.47683
1672644 #6191 Pengetahuan radiografi di bidang kedokteran gigi pada siswa Sekolah Menengah Atas Raidha, Fauza
Epsilawati, Lusi
Wardani, Riana
Pendahuluan: Remaja merupakan sosok yang membutuhkan perawatan gigi yang khusus disebabkan remaja sering mengalami beberapa masalah kesehatan  gigi dan mulut. Keberhasilan dari perawatan gigi yang dilakukan akan lebih maksimal apabila ditunjang oleh pemeriksaan radiografi. Masyarakat harus mengetahui peran dan fungsi, minimnya bahaya radiasi yang dapat ditimbulkan, serta proteksi radiasi yang harus dilakukan pada pemeriksaan radiografi kedokteran gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengetahuan radiografi di bidang kedokteran gigi pada siswa SMAN 1 Cipatat. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Penelitian dilakukan di SMAN 1 Cipatat pada Februari 2018. Metode menggunakan kuesioner. Teknik analisis data menggunakan persentase yang dikategorikan menjadi tiga kriteria objek pengetahuan yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Hasil: Sebanyak 4,87% siswa memiliki pengetahuan yang tinggi, 59,75% memiliki pengetahuan yang sedang, dan 35,36% memiliki pengetahuan yang rendah megenai radiografi kedokteran gigi. Tiap variabel mempunyai rata-rata persentase yang menjawab benar. Berdasarkan rata-rata tersebut, pengetahuan yang paling rendah yaitu mengenai proteksi radiasi yaitu hanya sebesar 39,42%. Simpulan: Pengetahuan radiografi di bidang kedokteran gigi pada siswa SMAN 1 Cipatat dinyatakan sedang, namun pengetahuan mengenai proteksi radiasi masih sangat rendah.Kata kunci: Pengetahuan, radiografi kedokteran gigi, remaja
2018-10-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21449 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i1.21449
1672645 #6191 Adaptasi lintas budaya dan validitas kuesioner untuk dokter gigi dalam melakukan tindakan pencegahan kariesCross-cultural adaptation of questionnaire to know dentists barriers in caries prevention measures Abigayl, Ivana
Adiatman, Melissa
Setiawati, Febriana
ABSTRAKPendahuluan: Penyakit gigi dan mulut diakui sebagai beban berat, baik bagi individu maupun masyarakat. Proporsi masalah kesehatan gigi dan mulut terbesar di Indonesia adalah gigi berlubang, yaitu sebesar 45,3%. Karies preventif adalah salah satu cara lain untuk mencegah karies. Primary Health Care (PHC) memiliki fungsi preventif, meskipun memiliki berbagai kendala. Belum ada alat ukur yang dapat digunakan untuk penelitian yang membahas hambatan dokter gigi dalam melakukan tindakan pencegahan. Tujuan penelitian ini adalah membuat alat ukur yaitu kuesioner untuk mengetahui hambatan dokter gigi dalam melakukan tindakan pencegahan karies. Metode: Desain penelitian dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitik dengan studi observasional menggunakan desain penelitian cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah dokter gigi di Puskesmas Kota Bandung, yang dipilih dengan teknik simple random sampling, dengan jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 30 responden. Hasil: Peneliti melakukan adaptasi lintas budaya kemudian melakukan uji validitas. Sebagian besar item memiliki korelasi yang tinggi atau kuat dalam uji validitas. Uji reliabilitas menunjukkan bahwa semua faktor menyajikan nilai lebih tinggi dari 0,9, menunjukkan bahwa item kuesioner memiliki konsistensi internal yang tinggi. Simpulan: Kuesioner memiliki tingkat konsistensi internal yang baik, sehingga dinyatakan valid dan reliabel serta dapat digunakan sebagai alat ukur untuk mengetahui hambatan dokter gigi dalam melakukan tindakan pencegahan karies.Kata kunci: karies; pencegahan kedokteran gigi; hambatan; puskesmasABSTRACTIntroduction: Dental and oral disease is recognized as a heavy burden, both for individuals and communities. The largest proportion of dental and oral health problems in Indonesia is cavities, as much as 45.3%. Preventive caries is one of the other ways to prevent caries. Primary Health Care (PHC) service, has a preventive function, even though it has various obstacles. However, no measuring instrument can be used for research that discusses dentists’ barriers to taking preventive treatment at PHC. The purpose of this study was to make a measuring instrument, to determine the barriers to dentists taking caries prevention measures. Methods: The research design in this study was descriptive-analytic with an observational study using a cross-sectional research design. The sample in this study were dentists at the Bandung Health Center, which were selected by simple random sampling technique, with the number of samples in this study 30 respondents. Results: Researchers conducted cross-cultural adaptations and then conducted a validity test. Most of the items have a high or strong correlation in the validity test. The reliability test shows that all factors present a value higher than 0.9, indicating that the questionnaire items have high internal consistency. Conclusion: The questionnaire has a good level of internal consistency, so it is declared valid and reliable and can be used as a measuring tool to determine the dentist’s obstacles in carrying out caries preventive measures.Keywords: caries; preventive dentistry; barriers; primary health care.
karies; pencegahan kedokteran gigi; hambatan; puskesmas; caries; preventive dentistry; barriers; primary health care. 2022-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40599 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i3.40599
1672646 #6191 Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa tentang Pencegahan COVID-19 dengan Praktik Pelayanan di RSKGM FKG UI Studi pada Mahasiswa Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Konservasi Gigi | Perbedaan pengetahuan, sikap dan tindakan pencegahan COVID-19 berdasarkan tahun angkatan pendidikan dan lama pengalaman bekerjaDifferences in knowledge, attitudes, and preventive practices for COVID-19 based on years of education and length of work experience Ricardo, Shalina
Amalia, Adisvia Ramadhanty
Margono, Anggraini
Latar Belakang: Pandemi COVID-19 di Indonesia memiliki dampak besar pada praktik pelayanan kedokteran gigi. Dokter gigi memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi COVID-19 dalam prosedur kedokteran gigi. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan pencegahan penularan COVID-19 dalam bentuk kontrol infeksi yang merupakan salah satu indikator penilaian kualitas dalam praktik pelayanan kedokteran gigi. Tujuan: Penelitian ini menjelaskan hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang pencegahan COVID-19 dengan praktik pelayanan di RSKGM FKG UI pada mahasiswa PPDGS Konservasi Gigi. Metode: Penelitian deskriptif analitik potong-lintang pada 58 mahasiswa PPDGS Konservasi Gigi FKG UI berbasis kuesioner yang dibagikan secara daring. Hasil: Berdasarkan Uji Mann-Whitney dan Kruskal Wallis, tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik (p > 0,05) antara pengetahuan, sikap dan praktik pencegahan COVID-19 berdasarkan lama pengalaman kerja dan tahun angkatan pendidikan. Uji korelasi Spearman menunjukkan tidak ada hubungan (p > 0,05) pengetahuan dan sikap mahasiswa tentang pencegahan COVID-19 terhadap praktik pelayanan kedokteran gigi. Kesimpulan: Mahasiswa PPDGS Konservasi Gigi memiliki tingkat pengetahuan baik, sikap positif dan praktik yang baik terkait pencegahan COVID-19. Tidak ada hubungan antara pengetahuan dan sikap responden tentang pencegahan COVID-19 dengan praktik pelayanan di RSKGM FKG UI serta tidak terdapat perbedaan yang bermakna pengetahuan, sikap, dan praktik pencegahan COVID-19 berdasarkan lama pengalaman kerja dan tahun angkatan pendidikan. | Pendahuluan: Pandemi COVID-19 di Indonesia memiliki dampak besar pada praktik pelayanan kedokteran gigi. Dokter gigi memiliki risiko tinggi terinfeksi COVID-19 pada praktik kedokteran gigi. Hal ini menunjukkan pentingnya tindakan pencegahan penularan COVID-19 dalam bentuk kontrol infeksi yang merupakan salah satu indikator penilaian kualitas praktik pelayanan kedokteran gigi. Protokol dan tindakan pencegahan dilakukan RS untuk kontrol infeksi, residen sebagai operator menjadi faktor yang berpengaruh dalam implementasi keselamatan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan pengetahuan, sikap dan tindakan pencegahan COVID-19 berdasarkan tahun angkatan pendidikan dan lama pengalaman bekerja. Metode: Jenis penelitian observasional cross-sectional dengan teknik total population sampling pada 58 mahasiswa Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (PPDGS) Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia berbasis kuesioner daring yang terdiri dari 34 pertanyaan meliputi data pengetahuan, sikap, dan tindakan pencegahan COVID-19. Hasil: PPDGS Konservasi Gigi memiliki tingkat pengetahuan dan tindakan pencegahan yang baik, serta sikap yang positif mengenai pencegahan COVID-19. Uji Mann-Whitney dan Kruskal Wallis menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik (p>0,05) antara pengetahuan (p=0,15), sikap (p=0,61) dan tindakan pencegahan COVID-19 berdasarkan tahun angkatan pendidikan (p=0,32) dan lama pengalaman kerja (p=0,41). Simpulan: Tidak terdapat perbedaan pengetahuan, sikap, dan tindakan pencegahan COVID-19 berdasarkan tahun angkatan pendidikan dan lama pengalaman bekerja.Kata kunci: pengetahuan; sikap; tindakan pencegahan; COVID-19 ABSTRACTIntroduction: The COVID-19 pandemic in Indonesia has significantly impacted dental services. Dentists are at high risk of contracting COVID-19 in their dental practice. This situation shows the importance of preventing the spread of COVID-19 in infection control, which is one of the indicators for assessing dental practice quality. The hospital carries out protocols, and preventive measures for infection control, the resident as an operator is an influential factor in the implementation of safety. The purpose of this study was to analyse differences in knowledge, attitudes, and preventive practices for COVID-19 based on years of education and length of work experience. Methods: An observational cross-sectional study was conducted on 58 students of the Conservative Dentistry Specialist Program (PPDGS) Faculty of Dentistry University of Indonesia, taken as samples with a total population sampling technique, with an online questionnaire consisting of 34 questions concerning data on knowledge, attitudes, and preventive practices for COVID-19. Results: Students of the Conservative Dentistry Specialist Program have a good level of knowledge and preventive measures and a positive attitude regarding COVID-19 prevention. The Mann-Whitney and Kruskal Wallis tests showed no significant difference (p>0.05) between knowledge (p=0.15), attitude (p=0.61), and COVID-19 preventive practices based on the year of education (p=0.32) and length of work experience (p=0.41). Conclusions: There are no differences in knowledge, attitudes, and preventive practices for COVID-19 based on years of education and length of work experience.Keywords: knowledge; attitude; practice; prevention; COVID-19
Knowledge; Attitude; Practice; Conservative Dentistry Specialty Program Student; COVID-19 prevention pengetahuan; sikap; tindakan pencegahan; COVID-19; knowledge; attitude; practice; prevention 2022-02-27 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/36179 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i1.36179
1672647 #6191 Effect of fluoride varnish application on enamel surface roughness of bleached teeth: Study experimental Syahriani, Alyana
Eriwati, Yosi Kusuma
Indrani, Decky Joesiana
ABSTRACTIntroduction: Tooth bleaching enhances aesthetics but may increase enamel surface roughness, leading to food particle accumulation and biofilm formation. This study aims to evaluate the effect of fluoride varnish on the enamel surface roughness after bleaching. Methods: Thirty-six premolar specimens were divided into six groups: HP-35% with Clinpro White Varnish (3M-ESPE), HP-35% with MI Varnish (GC Corp), HP-3% with Clinpro White Varnish (3M-ESPE), HP-3% with MI Varnish (GC Corp), and two control groups immersed in HP-35% and HP-3%, followed by artificial saliva immersion. Surface roughness was measured initially, after bleaching (HP-35% for 1 hour or HP-3% for 42 hours), and after remineralization (6 hours at 37°C). Data were analyzed using the Friedman test. Results: Statistically significant differences (p<0.05) were observed in mean surface roughness before and after HP immersion, as well as between post-bleaching and post-FV application. However, despite a reduction in roughness values, no significant differences (p>0.05) were found between initial and post-FV application. Conclusions: The enamel surface roughness of bleached teeth exhibited varying effects depending on the treatment. Roughness increased after immersion in HP-35% and HP-3% solutions, but decreased following the application of FV Clinpro White Varnish (3M-ESPE) and MI Varnish (GC Corp).KEY WORDS: Enamel surface roughness, fluoride varnish, hydrogen peroxide, demineralization, remineralizationEfek aplikasi fluoride varnish pada gigi yang telah dilakukan pemutihan gigi terhadap kekasaran permukaan email: Studi eksperimentalABSTRAK Pendahuluan: Penggunaan material pemutih gigi dapat meningkatkan estetika, namun berisiko meningkatkan kekasaran permukaan email, yang dapat memicu akumulasi partikel makanan dan pembentukan biofilm. Tujuan penelitian ini adalah Efek aplikasi fluoride varnish pada gigi yang telah dilakukan pemutihan gigi terhadap kekasaran permukaan email. Metode: Tiga puluh enam spesimen gigi premolar dibagi menjadi enam: kelompok HP-35% dan Clinpro White Varnish (3M-ESPE), kelompok HP-35% dan MI Varnish (GC Corp), kelompok HP-3% dan Clinpro White Varnish (3M-ESPE), kelompok HP-3% dan MI Varnish (GC Corp), dan dua kelompok kontrol yang dilakukan perendaman ke dalam larutan HP-35% dan HP-3%, dilanjutkan perendaman saliva buatan. Seluruh spesimen dilakukan uji kekasaran sebelum perendaman HP, setelah perendaman pada HP-35% selama 1 jam dan HP-3% selama 42 jam, serta kekasaran akhir setelah remineralisasi selama 6 jam suhu 370C. Hasil data diuji statistik uji Friedman. Hasil: Terdapat perbedaan bermakna (p<0,05) pada nilai rerata kekasaran permukaan email sebelum dan sesudah perendaman HP, serta terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05) nilai rerata kekasaran permukaan email gigi sesudah perendaman HP dan sesudah pengaplikasian FV. Walaupun terdapat penurunan nilai kekasaran, namun tidak terdapat perbedaan bermakna (p>0,05) nilai rerata kekasaran sebelum perendaman HP dan setelah aplikasi FV. Simpulan: Pemutihan gigi menimbulkan efek beragam terhadap kekasaran permukaan email. Terdapat peningkatan kekasaran permukaan email sesudah perendaman pada larutan HP-35% dan HP-3%, serta terdapat penurunan kekasaran pada permukaan email sesudah aplikasi FV Clinpro White Varnish (3M-ESPE) dan MI Varnish (GC Corp).KATA KUNCI: Kekasaran permukaan email, fluoride varnish, hidrogen peroksida, demineralisasi, remineralisasi.
Kekasaran permukaan email, fluoride varnish, hidrogen peroksida, demineralisasi, remineralisasi. 2025-03-26 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/59226 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i1.59226
1672648 #6191 Hubungan antara keparahan gingivitis dan indeks massa tubuh (IMT) pada lanjut usiaCorrelation between severity of gingivitis and body mass index (BMI) of elderly Federika, Lisa Wahyu Zelda
Hamzah, Zahreni
Probosari, Niken
Pendahuluan: Tingginya prevalensi gingivitis merupakan masalah kesehatan rongga mulut yang membutuhkan perhatian khusus, terutama pada kaum lanjut usia (lansia). Gingivitis dapat terjadi karena penumpukan plak pada daerah yang tidak digunakan mengunyah sehingga terjadi penurunan saliva yang menyebabkan self-cleansing tidak bekerja pada sisi tersebut. Mekanisme tersebut menyebabkan terganggunya status gizi lansia, karena pada kondisi gingivitis terjadi penurunan kemampuan mastikasi sehingga terjadi pembatasan diet dan berkurangnya asupan nutrient oleh tubuh yang menyebabkan terjadinya penurunan Indeks Massa Tubuh (IMT) pada lansia. Tujuan penelitian menganalisis hubungan antara keparahan gingivitis dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) pada lansia. Metode: Jenis penelitian observasi analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional study. Subjek penelitian lansia dengan kelompok usia mulai dari pra lansia 45-59 tahun, lansia 60-74 tahun, dan usia lanjut 75 tahun keatas, yang mengisi informed consent dan bersedia menjadi subjek penelitian, minimal memiliki 2 gigi indeks yang dapat diperiksa dengan probing depth 3<x<5 mm. Pengambilan data dilakukan dengan pemeriksaan gingivitis menggunakan klasifikasi pengukuran Gingival Index (GI) oleh Loe dan Silness tahun 1963, kemudian dilakukan pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) menggunakan kalsifikasi berdasarkan WHO tahun 2000. Data yang terkumpul, ditabulasi dan diuji dengan korelasi Pearson. Hasil: Hasil analisis hubungan antara Gingival Index (GI) dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) didapatkan koefisien korelasi (r) sebesar -0,247 dengan p=0,002 (p<0,05). Simpulan: Terdapat hubungan antara keparahan gingivitis dengan IMT pada lansia. Semakin bertambahnya usia pada lansia menunjukkan peningkatan pada Gingival Index  dan penurunan Indeks Massa Tubuh.Kata kunci: Lansia, gingival Index (GI), indeks massa tubuh (IMT) ABSTRACTIntroduction: The high prevalence of gingivitis is an oral health problem that requires special attention, especially in the elderly. Gingivitis can occur due to plaque buildup in areas that are not used for chewing, resulting in a decrease in the salivary volume, which causes self-cleansing to not work on the area. This mechanism disrupts the nutritional status of the elderly because decreasing mastication ability caused by gingivitis, which resulting in dietary restrictions and reduced of nutrients intake, thus causes a decrease in the Body Mass Index (BMI) of the elderly. The purpose of this study was to determine the relationship between the severity of gingivitis and Body Mass Index (BMI) of the elderly. Methods: This research was an observational analytic study, correlational with a cross-sectional approach. The subjects of this study were elderly with age groups ranging from youngest-old (45-59 years old), middle-old (60-74 years old), and oldest-old (over 75 years old), who filled out informed consent and willing to participate as research respondents, and at least having two index teeth that could be examined with a probing depth of 3 < x < 5 mm. Data were collected by examining the gingivitis using the Gingival Index (GI) measurement with the classification of Loe and Silness, then the measurement of Body Mass Index (BMI) was performed using classifications based on WHO 2000. Afterwards, data was collected, tabulated, and analysed with the Pearson correlation test. Results: The results of the analysis of the relationship between the Gingival Index (GI) and Body Mass Index (BMI) obtained correlation coefficient (r) of -0.247 with p = 0.002 (p < 0.05). Conclusion: There is a relationship between the severity of gingivitis and the BMI of the elderly. Increasing age of the elderly will also increase the GI and decrease the BMI.Keywords: Elderly, gingival index (GI), body mass index (BMI).
Lansia; Gingival Index (GI); Indeks Massa Tubuh (IMT); elderly 2020-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28867 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v4i2.28867
1672649 #6191 Compliance level of healthcare personnel in providing services at the Padjadjaran Pavilion of Padjadjaran University Dental and Oral Hospital: cross-sectional study Permatasari, Shafira
Harsanti, Andriani
Gayatri, Gita
Latief, Deni Sumantri
Sunaryo, Iwa Rahmat
ABSTRACTIntroduction: Hospitals are institutions that provide health services and have established criteria to evaluate the quality of services. Quality indicators can be used to evaluate and assist the process of improving the quality of health services. Compliance of healthcare personnel at Padjadjaran Pavilion RSGM Unpad has not been fully measured. The purpose of this study is to determine the compliance level of health workers in providing services at the Padjadjaran Pavilion of RSGM Unpad by using the quality indicators. Methods: This research is using a observational descriptive method with a cross sectional approach. The population in this study were all healthcare who served in the Padjadjaran Pavilion of RSGM Unpad. The research sample consisted of 35 Dental Specialists and 5 Dental and Oral Therapists who served at the Padjadjaran Pavilion throughout April 2022 and those were selected using a total sampling technique.Results: Achieved patient compliance is at 43%. The average waiting time for patients is around 51.6 minutes. The compliance with the use of national formulary is at 100%. Hand hygiene compliance is at 75%. The compliance with clinical pathways is at 91%. The compliance with the use of Personal Protective Equipment (PPE) is at 92%. Conclusion: The compliance level of healthcare personnel in providing services at the Padjadjaran Pavilion of RSGM Unpad, which is assessed using quality indicators, still have not reached the target.KEY WORDS: compliance, healthcare personnel, health services, quality indicators, hospitalEvaluasi kepatuhan tenaga kesehatan berdasarkan indikator mutu dalam memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di poliklinik spesialis: studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Rumah sakit merupakan institusi yang memberikan pelayanan kesehatan dan memiliki kriteria yang ditetapkan untuk menilai mutu pelayanan. Indikator mutu dapat digunakan untuk menilai dan membantu proses peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Kepatuhan tenaga kesehatan di Paviliun Padjadjaran RSGM Unpad belum terukur sepenuhnya. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi kepatuhan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan di poliklinik spesialis menggunakan indikator mutu. Metode: Penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian adalah seluruh tenaga kesehatan yang bertugas di Paviliun Padjadjaran RSGM Universitas Padjadjaran. Sampel penelitian terdiri dari 35 dokter gigi spesialis dan 5 Terapis Gigi dan Mulut yang bertugas di Paviliun Padjadjaran selama bulan April 2022 dan dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kriteria indikator mutu yang ditetapkan oleh RSGM Unpad.  Target pencapaian indikator mutu kepatuhan identifikasi pasien, kepatuhan kebersihan tangan, kepatuhan terhadap clinical pathway, dan kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) adalah sebesar 100%. Target pencapaian waktu tunggu rawat jalan ≤60 menit, dan target kepatuhan penggunaan formularium nasional sebesar ≥80%. Hasil: Pencapaian kepatuhan identifikasi pasien sebesar 43%. rerata waktu tunggu pasien rawat jalansebesar 51,6 menit. Kepatuhan penggunaan formularium nasional sebesar 100%. Kepatuhan kebersihan tangan sebesar 75%. Kepatuhan terhadap clinical pathway sebesar 91% dan kepatuhan penggunaan (APD) sebesar 92%. Simpulan: Evaluasi kepatuhan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang dinilai dengan menggunakan indikator mutu masih banyak yang belum mencapai target. KATA KUNCI: kepatuhan, tenaga kesehatan, pelayanan kesehatan, indikator mutu, rumah sakit
kepatuhan, tenaga kesehatan, pelayanan kesehatan, indikator mutu, rumah sakit, compliance, healthcare personnel, health services, quality indicators, hospital 2023-08-10 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40503 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i2.40503
1672650 #6191 Perbedaan nilai kekasaran permukaan hasil finishing dengan menggunakan batu Arkansas dan fine diamond bur pada komposit Nanofiller Maretta, Sheilla Fauzia
Prisinda, Diani
Muryani, Anna
Pendahuluan: Tahap akhir prosedur restorasi yaitu finishing dan polishing. Prosedur finishing perlu dilakukan dengan baik untuk menghasilkan kontur dan hasil restorasi yang optimal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai kekasaran permukaan dari restorasi resin komposit nanofiller yang dilakukan finishing dengan batu Arkansas dan fine diamond bur. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental semu. Sampel penelitian yaitu komposit nanofiller berbentuk silinder dengan ukuran diameter 6 mm dan tinggi 3 mm.  Jumlah sampel adalah 32 buah yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari 16 sampel yang dilakukan finishing dengan batu Arkansas dan kelompok kedua dengan fine diamond bur. Kekasaran permukaan sampel diukur dengan alat uji Surface Roughness Tester. Analisis data menggunakan uji statistik T-Test Independent. Hasil: Rata-rata nilai kekasaran permukaan finishing batu Arkansas 0.59 μm dan fine diamond bur 0.77 μm. Kelompok resin komposit nanofiller yang dilakukan finishing dengan fine diamond bur lebih kasar dibandingkan dengan batu Arkansas. Simpulan: terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai kekasaran permukaan komposit nanofiller hasil finishing antara batu Arkansas dengan fine diamond bur. Kata kunci: Kekasaran permukaan, finishing, batu Arkansas, fine diamond bur, nanofiller
2018-10-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21435 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i2.21435
1672651 #6191 Pengetahuan guru terkait manajemen kedaruratan gigi avulsi pada siswa sekolah dasarTeachers’ knowledge regarding emergency management of tooth avulsion in elementary school students Majdiyana, Majdiyana
Bahar, Armasastra
Darwita, Risqa Rina
ABSTRAKPendahuluan: Cedera akibat trauma pada gigi sering terjadi pada murid di sekolah. Guru adalah orang pertama yang bertanggungjawab merespon kejadian ini. Para guru perlu memiliki pengetahuan yang baik tentang penanganan kedaruratannya. Manajemen kedaruratan yang tepat pada kejadian ini akan meningkatkan prognosa gigi yang cedera. Tujuan penelitian mengetahui pengetahuan guru sekolah dasar terkait manajemen kedaruratan gigi avulsi. Metode: Penelitian deskriptif dengan desain cross sectional yang dilakukan di Kota Pontianak Kalimantan Barat dengan mengikutsertakan 378 guru sekolah dasar negeri yang dipilih secara purposive sampling. Penilaian terhadap pengetahuan guru dilakukan dengan menggunakan kuesioner dari beberapa penelitian yang diadaptasi lintas budaya. Analisis data dilakukan dengan menghitung distribusi frekuensi relatif. Hasil: Sebanyak 77,51 % responden belum pernah mendapatkan pelatihan atau informasi tentang manajemen kedaruratan cedera trauma dental. Hanya 28,84% responden yang mengetahui bahwa gigi avulsi  masih dapat diselamatkan dan dikembalikan ke posisi semula. 22,22% responden tidak mengetahui waktu berpengaruh dalam menyelamatkan gigi avulsi. 8,99% tidak mengetahui media yang tepat untuk membawa gigi yang avulsi. 78,4% yakin bahwa setelah mendapatkan pelatihan, mereka dapat melakukan pertolongan pertama pada kejadian cedera trauma dental. Simpulan: Pengetahuan guru sekolah dasar di Kota Pontianak terkait manajemen kedaruratan gigi avulsi masih kurang,Kata kunci: pengetahuan; guru sekolah; trauma gigi; gigi avulsi ABSTRACTIntroduction: Dental trauma often occur in students at school. Teachers are the first person who responsible for responding to this incident. Teachers need to have a good knowledge of an emergency management. Appropriate emergency management will improve the prognosis of injured teeth. The purpose of the study was to determine the knowledge of elementary school teachers about tooth avulsion. Methods: Descriptive research with cross sectional design conducted in Pontianak City, West Kalimantan, involving 378 State Elementary School teachers who were selected by purposive sampling. Assessment of teachers’ knowledge and attitudes was carried out from several studied and questionnaire has been adapted. Data analyse counted by calculating the relative frequency distributor.  Results: as much as 77.51% of respondents have never received training or information on emergency management of traumatic dental injuries. Only 28.84% of respondents who know that avulsed teeth can be saved and repositioned . 22.22% of respondents did not know that time had an effect on saving avulsed teeth. 8.99% did not know the right medium to carry avulsed teeth. 78.4% believe that after receiving training, they can perform first aid in the event of a dental trauma injury. Conclusion: Knowledge of elementary school teachers in Pontianak City regarding emergency management of tooth avulsion is still lacking.Keywords: knowledge; school teacher; dental trauma; tooth avulsion
pengetahuan; guru sekolah; trauma gigi; gigi avulsi;knowledge; school teacher; dental trauma; tooth avulsion 2022-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40325 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i3.40325
1672652 #6191 Correlation between the level of orthodontic treatment need and dental anxiety among undergraduate dental students: Study observasional Gabriella, Rut Sahatna
Laviana, Avi
Suryanti, Netty
ABSTRAKIntroduction: The aesthetic component of the Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN-AC) assesses the need for orthodontic treatment as well as its psychosocial impact. One common psychosocial impact is dental anxiety, which can hinder individuals from undergoing orthodontic treatment. This study aimed to analyze the level of orthodontic treatment need using IOTN-AC and dental anxiety, as well as to analyze the correlation between both variables among dental students. Methods: This correlational analytic study with an observational approach employed a purposive sampling technique involving dental students of Universitas Padjadjaran. Data were collected online through a Google Form containing a dental anxiety questionnaire and IOTN-AC assessment. The subjects consisted of 46 active undergraduate dental students from the 2021 and 2022 batches who had never received fixed or removable orthodontic treatment. Data were analyzed using the Spearman rank correlation test. Results: A total of 60.9% of respondents did not require orthodontic treatment, 28.3% had a mild need, and 10.8% had a moderate need. Among those with no treatment need, 6.5% reported no anxiety, 26.1% low anxiety, 24% moderate anxiety, and 4.3% high anxiety. Among those with mild to moderate treatment need, 2.2% reported no anxiety, 15.2% low, 17.4% moderate, and 4.3% high anxiety. Spearman’s test showed a negative correlation between treatment need and dental anxiety (p=0.032; r=-0.506). Conclusions: The higher the level of orthodontic treatment need, the lower the level of dental anxiety among dental studentsKEY WORDS: Index of orthodontic treatment need, dental anxiety, malocclusion, undergraduate studentsKorelasi antara tingkat kebutuhan perawatan ortodonti dengan dental anxiety mahasiswa program studi sarjana kedokteran gigi: Studi observasionalABSTRACTPendahuluan:  Komponen estetika Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN-AC) menilai kebutuhan perawatan ortodonti serta dampak psikososialnya. Dampak psikososial yang umum terjadi adalah dental anxiety yang dapat menghambat individu menjalani perawatan ortodonti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kebutuhan perawatan ortodonti menggunakan IOTN-AC dan dental anxiety serta korelasi antara keduanya pada mahasiswa kedokteran gigi. Metode: Penelitian analitik korelasional dengan pendekatan observasional dan menggunakan teknik purposive sampling pada mahasiswa Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Pengumpulan data secara daring melalui google form yang berisi kuesioner dental anxiety dan penilaian IOTN-AC. Subjek penelitian adalah 46 mahasiswa aktif Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran angkatan 2021, 2022 dan belum pernah mendapatkan perawatan ortodonti cekat maupun lepasan. Analisis data menggunakan uji korelasi rank spearman; Hasil: 60,9% responden tidak membutuhkan perawatan ortodonti, 28,3 kebutuhan ringan, dan 10,8% kebutuhan sedang. Responden yang tidak membutuhkan perawatan menunjukan 6,5% tidak cemas, 26,1% kecemasan rendah, 24% kecemasan sedang, 4,3% kecemasan tinggi. Kebutuhan perawatan ringan dan sedang menunjukkan 2,2% tidak cemas, 15,2% kecemasan rendah, 17,4% kecemasan sedang dan 4,3% kecemasan tinggi. Uji spearman menunjukan korelasi negatif antara tingkat kebutuhan perawatan ringan dan sedang dengan tingkat dental anxiety (p-value=0,032; r= -0,506). Simpulan: Semakin tinggi tingkat kebutuhan perawatan ortodonti, maka tingkat dental anxiety cenderung semakin rendah pada mahasiswa sarjana kedokteran gigi.KATA KUNCI: Indeks kebutuhan perawatan ortodonti, dental anxiety, maloklusi, mahasiswa
Indeks kebutuhan perawatan ortodonti, dental anxiety, maloklusi, mahasiswa, Index of orthodontic treatment need, dental anxiety, malocclusion, undergraduate students 2026-01-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/64851 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i3.64851
1672653 #6191 Daya antibakteri fraksi etil asetat daun kemangi (Ocimum basilicum) terhadap Streptococcus mutans ATCC 25175 pada clear retainer secara in vitroAntibacterial potential of the ethyl acetate fraction of basil (Ocimum basilicum) leaves on Streptococcus mutans ATCC 25175 on a clear retainer Evangelina, Ida Ayu
Syafitri, Fuccy Utamy
Mardiati, Endah
Laviana, Avi
ABSTRAKPendahuluan: Penggunaan alat ortodonti dapat mempengaruhi ekosistem rongga mulut seperti meningkatnya jumlah bakteri Streptococcus mutans. Clear retainer merupakan alat ortodonti yang memerlukan sterilisasi sebelum dapat digunakan kembali. Penggunaan tanaman herbal kemangi (Ocimum basilicum) dikembangkan menjadi alternatif bahan sterilisasi alami. Penelitian ini bertujuan menganalisis daya antibakteri melalui zona hambat, konsentrasi hambat minimum (KHM), konsentrasi bunuh minimum (KBM), dan penghitungan jumlah koloni bakteri Streptococcus mutans pada clear retainer ortodonti yang telah disterilisasi dengan fraksi etil asetat daun kemangi dan Chlorhexidine. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratoris, menggunakan fraksi etil asetat kemangi  5%. Kontrol penelitian adalah Chlorhexidine 2%. Populasi dan sampel  adalah satu ose  Streptococcus mutans ATCC 25175. Pengujian zona hambat dan jumlah koloni dilakukan pada media agar yang sudah ditumbuhi bakteri setelah diinkubasi pada suhu 370C selama 48 jam, pengujian KHM KBM  dilakukan dengan metoda mikrodilusi menggunakan microplate 96 yang diinkubasi pada suhu 370C selama 48 jam. Pengukuran KHM dan KBM menggunakan spektrofotometer pada ELISA reader.  Hasil penelitian dianalisis dengan uji statistik t-test. Hasil: Terdapat zona hambat pada sampel kemangi dengan konsentrasi 5%, sedangkan Chlorhexidine 2%. KHM dan KBM daun kemangi pada 3125 ppm dan 6250 ppm, sedangkan Chlorhexidine pada 3,125 ppm dan 6,250 ppm. Uji statistik t-test memperlihatkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada penurunan jumlah koloni bakteri Streptococcus mutans yang telah disterilisasi dengan daun kemangi dan Chlorhexidine. Simpulan: Fraksi etil asetat kemangi memiliki daya antibakteri terhadap Streptococcus mutans, terlihat dengan adanya zona hambat pada pemeriksaan KHM, KBM, dan penurunan koloni bakteri pada media agar. Kata kunci: uji daya antibakteri; Ocimum bacilicum; Streptococcus mutans ATCC 25175; clear retainer ABSTRACTIntroduction: Orthodontic appliances can affect the oral cavity ecosystem by increasing the number of Streptococcus mutans bacteria. A clear retainer is an orthodontic appliance that requires sterilisation prior to usage. The basil plant (Ocimum basilicum) was developed as an alternative natural sterilisation material. This study was aimed to analyse the inhibitory zone, minimum inhibitory concentration (MIC), minimum killing concentration (MKC), and count the number of Streptococcus mutans bacteria on clear retainers that have been sterilised with ethyl acetate fraction of basil leaves and chlorhexidine. Methods: This research was an experimental laboratory that used the 5% basil ethyl acetate fraction and 2% chlorhexidine as control. The population and sample were one ose of Streptococcus mutans ATCC 25175. Examination of the inhibitory zone and the number of colonies was performed on agar media with cultured bacteria after being incubated at 37°C for 48 hours. Microdilution testing was performed using the microdilution method using a 96 microplate incubated at 37°C for 48 hours. MIC and MKC were measured using a spectrophotometer on an ELISA reader. The results of the study were analysed with the t-test. Results: There was an inhibitory zone found in the basil group with a concentration of 5% and the control group (2% chlorhexidine). MIC and MBC of basil leave at 3,125 ppm and 6,250 ppm, while chlorhexidine at 3,125 ppm and 6,250 ppm, respectively. Statistical t-test results showed no significant difference in the decreasing number of Streptococcus mutans colonies after sterilisation with basil leaves and chlorhexidine. Conclusions: The ethyl acetate fraction of basil has antibacterial potential on Streptococcus mutans, as seen by the presence of an inhibitory zone during the MIC and MKC examination and decreasing number of bacterial colonies on agar media.Keywords: antibacterial potential; Ocimum basilicum; Streptococcus mutans; clear retainer
daya antibakteri; Ocimum bacilicum; Streptococcus mutans ATCC 25175; clear retainer; antibacterial potential; Ocimum basilicum; Streptococcus mutans; clear retainer 2021-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28065 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i2.28065
1672654 #6191 The effect of Al-quran murottal therapy intervention on the patient anxiety levels before tooth extraction procedure at minor surgery clinic: Study quasi experimental Praptiwi, Yenni Hendriani
Septianingsih, Dewi
Laut, Deru Marah
Widyastuti, Tri
ABSTRACTIntroduction: The ideal tooth extraction procedure minimizes pain and trauma to the teeth and supporting tissues. The use of sharp instruments like needles, elevators, and forceps can cause discomfort. Listening to murottal Al-Quran and classical music has been proven to reduce patient anxiety, improve physical and mental health, and activate the production of endogenous opioids. The aim of this study is to measure the effect of murottal Al-Quran therapy on the anxiety levels of patients before tooth extraction at the minor surgery clinic of RSGM Unpad. Methods: This quantitative study uses a quasi-experimental method with a non-equivalent control group design. A total of 30 samples were divided into two groups: 15 samples in the experimental group and 15 samples in the control group. Anxiety levels were measured using the Facial Image Scale (FIS) before and after the intervention, and the data was analyzed using the non-parametric Wilcoxon test. Results: The mean difference in anxiety levels in the intervention group before murottal Al-Quran therapy was 0.86, while in the control group with classical music therapy it was 0.33. The mean difference in pulse rates in the intervention group before and after murottal Al-Quran therapy was 6.4, while in the control group with classical music therapy it was 5.47. The Wilcoxon test showed a p-value of 0.002 in the intervention group, indicating p < 0.05. Conclusion: Murottal Al-Quran therapy can reduce patient anxiety before tooth extraction. KEY WORDS: Tooth extraction, dental anxiety, murottal Al-Quran, classical music, Facial Image ScalePengaruh intervensi terapi murottal Al-Quran terhadap tingkat kecemasan pasien pra tindakan ekstraksi gigi di poliklinik bedah minor : studi eksperimental semuABSTRAKPendahuluan: Prosedur pencabutan gigi yang ideal adalah yang minim rasa sakit dan trauma pada gigi serta jaringan pendukungnya. Penggunaan alat tajam seperti jarum, bein, dan yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan. Mendengarkan murottal Al-Quran dan musik klasik terbukti menurunkan kecemasan, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, serta mengaktifkan produksi opioid endogen. Tujuan penelitian ini adalah mengukur pengaruh terapi murottal Al-Quran terhadap kecemasan pasien sebelum ekstraksi gigi di poliklinik bedah minor RSGM Unpad. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan metode quasi-eksperimen dengan desain non-equivalent control group. Total ada 30 sampel yang dibagi menjadi dua kelompok: 15 sampel eksperimen dan 15 sampel kontrol. Tingkat kecemasan diukur menggunakan Facial Image Scale (FIS) sebelum dan sesudah intervensi, dianalisis dengan uji non-parametrik Wilcoxon. Hasil: Rerata selisih kecemasan pada kelompok intervensi sebelum diberi terapi murottal Al-Quran adalah 0,86, sedangkan pada kelompok kontrol dengan terapi musik klasik adalah 0,33. Rerata selisih denyut nadi pada kelompok intervensi sebelum dan sesudah terapi murottal Al-Quran adalah 6,4, sedangkan pada kelompok kontrol dengan terapi musik klasik adalah 5,47. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p sebesar 0,002 pada kelompok intervensi, yang berarti p < 0,05. Simpulan: Terapi murottal Al-Quran dapat menurunkan kecemasan pasien sebelum tindakan ekstraksi gigi.KATA KUNCI: Ekstraksi gigi, kecemasan dental, murottal Al-Quran, musik klasik, Facial Image Scale
Ekstraksi gigi, kecemasan dental, murottal Al-Quran, musik klasik, Facial Image Scale, Tooth extraction, dental anxiety, murottal Al-Quran, classical music, Facial Image Scale 2024-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/58445 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i3.58445
1672655 #6191 The effect of hydrogel extract of kampung chicken feet (gallus domesticus) on the number of fibroblast cells in the wound healing process after tooth extraction in male wistar white rats (Rattus Norvegicus): Study experimental Putra, Andrika Fitriyan
Edrizal, Edrizal
ABSTRACTIntroduction: Wound healing after tooth extraction is a complex process involving several phases, including proliferation, where fibroblasts play a vital role in tissue regeneration. Chicken feet hydrogel extract (Gallus domesticus) is rich in collagen, amino acids, omega-3, and calcium, which have the potential to enhance fibroblast numbers and accelerate wound healing.  This study aimed to analysis the effect of chicken feet hydrogel extract on the number of fibroblasts during the wound healing process following tooth extraction in male Wistar rats (Rattus norvegicus). Methods: This experimental study used a true experimental design with a positive control group (Povidone Iodine), a negative control group, and three treatment groups with hydrogel extract concentrations of 5%, 10%, and 15%. Observations were conducted on days 3, 7, and 14 to calculate the number of fibroblasts using histopathological techniques. The data obtained from the observation results were tested for normality. The normality test used was the Shapiro-Wilk test because the data was less than 50 and the results were as follows: The conclusion of the Shapiro-Wilk test is that the data is generally normal. Next, the Levene test was performed. Next, an ANOVA test was performed because the data requirements are normally distributed and homogeneous. Next, the LSD test was performed. Results: A significant increase in fibroblast numbers was observed in the treatment groups compared to the negative control group. The 15% concentration demonstrated the highest effectiveness in increasing fibroblast numbers on day 7. A decrease in fibroblast numbers was noted on day 14, coinciding with the tissue remodeling phase. Conclusion: Chicken feet hydrogel extract significantly enhances fibroblast numbers during the wound healing process after tooth extraction, particularly at a 15% concentration. These results indicate the potential of this extract as a natural alternative to accelerate wound healing.KEY WORDS: Hydrogel Extract, Chicken Feet, Fibroblasts, Wound Healing, Tooth ExtractionPerbedaan efek ekstrak hydrogel ceker ayam kampung (gallus domesticus) terhadap jumlah sel fibroblas pada proses penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi pada tikus putih wistar jantan (rattus norvegicus): Studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi merupakan proses kompleks yang melibatkan berbagai fase, termasuk proliferasi, di mana fibroblas memainkan peran penting dalam regenerasi jaringan. Ekstrak hydrogel ceker ayam kampung (Gallus domesticus) kaya akan kolagen, asam amino, omega-3, dan kalsium, yang berpotensi meningkatkan jumlah sel fibroblas dan mempercepat penyembuhan luka. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan efek ekstrak hydrogel ceker ayam kampung terhadap jumlah sel fibroblas pada proses penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi pada tikus putih wistar jantan (Rattus norvegicus). Metode: Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan kelompok kontrol positif (Povidone Iodine), kontrol negatif, dan tiga kelompok perlakuan dengan konsentrasi ekstrak hydrogel ceker ayam kampung 5%, 10%, dan 15%. Observasi dilakukan pada hari ke-3, 7, dan 14 untuk menghitung jumlah sel fibroblas menggunakan teknik histopatologi. Data yang didapatkan pada hasil pengamatan dilakukan Uji Normalitas. Uji normalitas yang digunakan adalah Shapiro-Wilk karena data kurang dari 50 diperoleh hasilnya sebagai berikut: Kesimpulan pada uji Shapiro-Wilk adalah secara keseluruhan data terbukti normal. Selanjutnya dilakukan uji Levene Test.  Selanjutnya dilakukan pengujian ANOVA karena syarat data berdistribusi normal dan homogen. Selanjutnya dilakukan uji LSD. Hasil: Terdapat peningkatan jumlah sel fibroblas yang signifikan pada kelompok perlakuan dibandingkan kontrol negatif. Konsentrasi 15% menunjukkan efektivitas tertinggi dalam meningkatkan jumlah fibroblas pada hari ke-7. Penurunan jumlah fibroblas diamati pada hari ke-14, seiring dengan fase remodeling jaringan. Simpulan: Ekstrak hydrogel ceker ayam kampung secara signifikan meningkatkan jumlah sel fibroblas pada proses penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi, terutama pada konsentrasi 15%.KATA KUNCI: Ekstrak hydrogel ceker ayam kampung, Fibroblas, Penyembuhan luka, Ekstraksi gigi
Ekstrak hydrogel ceker ayam kampung, Fibroblas, Penyembuhan luka, Ekstraksi gigi, Hydrogel Extract, Chicken Feet, Fibroblasts, Wound Healing, Tooth Extraction 2025-06-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/61795 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i2.61795
1672656 #6191 Photometrics analysis of frontal and facial profiles of class II division 1 skeletal malocclusion patients before and after compromised orthodontic treatment (proffit and steiner analysis): Study descriptive | Analisis fotometri frontal dan profil wajah pasien maloklusi skeletal kelas II Divisi 1 sebelum dan setelah perawatan ortodonti kompromi (Metode Proffit dan Steiner): Studi deskriptif mulkhairul, Ilham
Mardiati, Endah
Laviana, Avi
Evangelina, Ida Ayu
ABSTRACTIntroduction: The aesthetics of the face is a concern in orthodontic treatment as it directly relates to appearance.. Class II division 1 malocclusion patients often exhibit a convex facial profile, which frequently affects facial aesthetics. The aim of this study is to determine the differences in frontal photometry using the Proffit method and profile photometry using the Steiner method in Class II division 1 skeletal malocclusion patients before and after compromised orthodontic treatment. Methods:  This was a descriptive analytical comparative study. The sample population was determined through purposive sampling of compromised orthodontic treatment patients with Class II division 1 malocclusion treated at the Orthodontic PPDGS Clinic, RSGM Unpad, from 2016 to 2021, totaling 11 patients. Paired t-test were used to analyze the differences in frontal photometry using the Proffit method and profile photometry using the Steiner method in Class II division 1 skeletal malocclusion patients before and after compromised orthodontic treatment. (p – value < 0.05). Results: There were significant differences in the lower third of facial height (p-value 0.0023 < 0.05) and the position of the upper lip relative to the S-line (p-value 0.0014 < 0.05). There were no significant differences in the upper third of facial height, facial proportions from helixsrt – exochantion (exrt), facial proportions from exochantion (exrt) – endochantion (enrt), facial proportions from endochantion (enrt) - endochantion (enlt), proportions face from endochantion (enlt) – exochantion (exlt), facial proportions from exochantion (exlt) – helixslt, position of the lower lip relative to the S-line (p-value > 0.05). Conclusion: Compromised orthodontic treatment for Class II division 1 malocclusion with extraction of two upper premolars results in change to soft tissue profile in the lower third of facial height and the position of the lower lip relative to the S-line, as analyzed by frontal photometry using the Proffit method and profile photometry using the Steiner method.KEY WORDS: skeletal malocclusion class II division 1, compromised treatment, Proffit, and Steiner analysisAnalisis fotometri frontal dan profil wajah pasien maloklusi skeletal kelas II Divisi 1 sebelum dan setelah perawatan ortodonti kompromi (Metode Proffit dan Steiner): Studi deskriptifABSTRAKPendahuluan: Estetika wajah menjadi perhatian dalam perawatan ortodonti karena berhubungan langsung dengan penampilan. Pasien maloklusi kelas II divisi 1 mempunyai wajah cembung dan sering kali mengganggu estetik wajah. Tujuan penelitian mengetahui perbedaan fotometri frontal metode Proffit dan fotometri profil metode Steiner pasien maloklusi skeletal kelas II divisi 1 sebelum dan setelah perawatan ortodonti kompromi. Metode: Penelitian bersifat deskriptif analitis komparatif. Populasi sampel ditentukan secara purposive sampling terhadap pasien perawatan ortodonti kompromi maloklusi kelas II divisi 1 yang dirawat di klinik PPDGS Ortodonti RSGM Unpad tahun 2016-2021, sejumlah 11 pasien. Uji t-test berpasangan digunakan untuk menganalisis perbedaan fotometri frontal metode Proffit dan fotometri profil metode Steiner pasien maloklusi skeletal kelas II divisi 1 sebelum dan setelah perawatan ortodonti kompromi. (p – value < 0,05). Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan pada tinggi wajah sepertiga bagian bawah (p-value 0,0023 < 0,05) dan posisi bibir atas terhadap S-line (p-value 0,0014 < 0,05). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tinggi wajah sepertiga bagian atas, proporsi wajah dari helixsrt – exochantion (exrt), proporsi wajah dari exochantion (exrt) – endochantion (enrt), proporsi wajah dari endochantion (enrt) – endochantion (enlt), proporsi wajah dari endochantion (enlt) – exochantion (exlt), proporsi wajah dari exochantion (exlt) – helixslt, posisi bibir bawah terhadap S-line (p-value > 0,05). Simpulan: Perawatan ortodonti kompromi maloklusi kelas II divisi I dengan pencabutan dua premolar rahang atas menghasilkan perubahan profil jaringan lunak pada sepertiga wajah bagian bawah dan posisi bibir bawah terhadap S-line, berdasarkan analisis fotometri frontal metode Proffit dan fotometri profil metode Steiner.KATA KUNCI: maloklusi skeletal kelas II divisi 1, perawatan kompromi, analisis Proffit, dan Steiner. | ABSTRAKPendahuluan: Estetika wajah menjadi perhatian dalam perawatan ortodonti karena berhubungan langsung dengan penampilan. Pasien maloklusi kelas II divisi 1 mempunyai wajah cembung dan sering kali mengganggu estetik wajah. Tujuan penelitian mengetahui perbedaan fotometri frontal metode Proffit dan fotometri profil metode Steiner pasien maloklusi skeletal kelas II divisi 1 sebelum dan setelah perawatan ortodonti kompromi. Metode: Penelitian bersifat deskriptif analitis komparatif. Populasi sampel ditentukan secara purposive sampling terhadap pasien perawatan ortodonti kompromi maloklusi kelas II divisi 1 yang dirawat di klinik PPDGS Ortodonti RSGM Unpad tahun 2016-2021, sejumlah 11 pasien. Uji t-test berpasangan digunakan untuk menganalisis perbedaan fotometri frontal metode Proffit dan fotometri profil metode Steiner pasien maloklusi skeletal kelas II divisi 1 sebelum dan setelah perawatan ortodonti kompromi. (p – value < 0,05). Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan pada tinggi wajah sepertiga bagian bawah (p-value 0,0023 < 0,05) dan posisi bibir atas terhadap S-line (p-value 0,0014 < 0,05). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tinggi wajah sepertiga bagian atas, proporsi wajah dari helixsrt – exochantion (exrt), proporsi wajah dari exochantion (exrt) – endochantion (enrt), proporsi wajah dari endochantion (enrt) – endochantion (enlt), proporsi wajah dari endochantion (enlt) – exochantion (exlt), proporsi wajah dari exochantion (exlt) – helixslt, posisi bibir bawah terhadap S-line (p-value > 0,05). Simpulan: Perawatan ortodonti kompromi maloklusi kelas II divisi I dengan pencabutan dua premolar rahang atas menghasilkan perubahan profil jaringan lunak pada sepertiga wajah bagian bawah dan posisi bibir bawah terhadap S-line, berdasarkan analisis fotometri frontal metode Proffit dan fotometri profil metode Steiner.KATA KUNCI: maloklusi skeletal kelas II divisi 1, perawatan kompromi, analisis Proffit, dan Steiner.Differences of frontal photometries and face profiles of patients before and after other ontic Treatment of compromise skeletal malocclusion class ii division 1 (Using Profit and Steiner Analysis): Study descriptiveABSTRACT Introduction: Facial aesthetics is a concern in orthodontic treatment because it is directly related to appearance. Class II division 1 malocclusion patients have convex faces and often have facial disfigurement. Objective to determine the difference between Proffit method frontal photometry and Steiner method profile photometry in patients with class II division 1 skeletal malocclusion before and after compromised orthodontic treatment. Methods: The research is descriptive comparative analytical in nature. The sample population was determined by purposive sampling of patients with orthodontic treatment for compromised class II division 1 malocclusion who were treated at the PPDGS Orthodontic clinic at RSGM Unpad in 2016-2021. The paired t-test was used to analyze the differences between Proffit method frontal photometry and Steiner method profile photometry in patients with class II division 1 skeletal malocclusion before and after compromised orthodontic treatment. (p – value < 0.05). Results: There were significant differences in the height of the lower third of the face (p-value 0.0023 < 0.05), the position of the upper lip towards the S-line (p-value 0.0014 < 0.05). There were no significant results in the upper third of facial height, facial proportions from helixsrt – exochantion (exrt), facial proportions from exochantion (exrt) – endochantion (enrt), facial proportions from endochantion (enrt) - endochantion (enlt), proportions face from endochantion (enlt) – exochantion (exlt), facial proportions from exochantion (exlt) – helixslt, position of the lower lip relative to the S-line (p-value > 0.05). Conclusion: Orthodontic treatment of compromised class II division I malocclusion by removing two maxillary premolars resulted in changes in the soft tissue profile in the lower third of the face and the position of the lower lip relative to the S-line Key words: skeletal malocclusion class II division 1, compromised treatment, Proffit, and Steiner analysis
maloklusi skeletal kelas II divisi 1, pencabutan premolar, analisis Proffit, dan analisis Steiner. maloklusi skeletal kelas II divisi 1, perawatan kompromi, analisis Proffit, dan Steiner., skeletal malocclusion class II division 1, compromised treatment, Proffit, and Steiner analysis 2024-03-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/35821 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i1.35821
1672657 #6191 Pola dan terapi infeksi Herpes simpleks virus-1 pada rongga mulut di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode 2013-2017The pattern and therapy of the Herpes simplex virus-1 infection in the oral cavity at Dr Hasan Sadikin Hospital Bandung in 2013-2017 Azizah, Farhani
Sufiawati, Irna
Satari, Mieke Hemiawati
Pendahuluan: Salah satu virus yang menginfeksi rongga mulut adalah Herpes Simpleks Virus-1 (HSV-1). Virus ini menjadi patogen utama pada berbagai macam inang dan dapat menyebabkan berbagai macam penyakit orofasial. Tatalaksana infeksi HSV-1 memiliki pola terapi yang beragam bergantung pada kondisi klinis pasien. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh data mengenai pola dan terapi penyakit mulut karena infeksi HSV-1. Metode: Data yang dikumpulkan merupakan data sekunder berasal dari logbook dan rekam medik pasien di Poliklinik Gigi dan Mulut RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode 2013-2017. Sampel penelitian ditentukan menggunakan metode purposive sampling, yaitu rekam medik pasien dengan diagnosis penyakit mulut karena infeksi HSV-1. Hasil: Pola penyakit mulut pada instalasi rawat jalan yaitu Recurrent Intraoral Herpes (RIH) sebanyak 84,91%, Herpes Associated Erythema Multiforme (HAEM) 9,43%, Herpes labialis 3,77%, dan Primary Herpetic Gingivo Stomatitis (PHGS) 1,89%. Pola penyakit mulut pada rawat inap yaitu Recurrent Intraoral Herpes (RIH) sebanyak 85,71% dan Herpes labialis sebanyak 14,29%. Pemberian terapi sangat bervariatif yaitu kombinasi asiklovir, antiseptik, multivitamin, antiinflamasi steroid, NSAID, pelembab bibir, antibiotik, antihistamin, dan antifungal. Simpulan: Penyakit mulut karena infeksi HSV-1 yang paling sering ditemukan baik pada instalasi rawat jalan maupun rawat inap adalah recurrent intraoral herpes. Pemberian terapi yang paling sering digunakan pada instalasi rawat jalan yaitu kombinasi obat antiinflamasi steroid dan multivitamin, sedangkan pada instalasi rawat inap yaitu multivitamin dan kombinasi asiklovir, antiseptik, dan multivitamin.Kata kunci: Pola penyakit mulut, pola terapi, infeksi Herpes Simpleks Virus-1 ABSTRACTIntroduction: One of the viruses that infect the oral cavity is Herpes Simplex Virus-1 (HSV-1). This virus becomes the primary pathogen in various types of hosts and can cause various kinds of orofacial diseases. Management of HSV-1 infection has a diverse pattern of therapy depending on the clinical condition of the patient. The purpose of this study was to obtain data on the patterns and treatment of oral diseases due to HSV-1 infection. Methods: Data collected was secondary data from the logbook and medical records of patients at the Dental Polyclinic of Dr Hasan Sadikin Hospital Bandung in 2013-2017. The study sample was determined using a purposive sampling method, namely medical records of patients with a diagnosis of oral disease due to HSV-1 infection. Results: The pattern of oral disease in outpatient installations, namely Recurrent Intraoral Herpes (RIH) 84.91%, Associated Erythema Multiforme (HAEM) Herpes 9.43%, Herpes labialis 3.77%, and Primary Herpetic Gingivo Stomatitis (PHGS) 1.89%. The pattern of oral disease in inpatient installations, namely Recurrent Intraoral Herpes (RIH) as much as 85.71% and Herpes labialis 14.29%. Given therapy was very varied, namely a combination of acyclovir, antiseptic, multivitamin, anti-inflammatory steroid, NSAIDs, lip moisturisers, antibiotics, antihistamines, and antifungal. Conclusion: Oral disease due to HSV-1 infection that is most often found both in outpatient and inpatient installations is recurrent intraoral herpes. The most commonly used therapy in outpatient installations is a combination of steroid anti-inflammatory drugs and multivitamins, while in inpatient installations are multivitamins and a combination of acyclovir, antiseptic, and multivitamins.Keywords: Oral disease patterns, therapy patterns, Herpes Simplex Virus-1 infection
Pola penyakit mulut, pola terapi, Infeksi Herpes simpleks virus-1, oral disease patterns, therapy patterns, Herpes Simplex Virus-1 infection 2019-07-12 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22501 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i1.22501
1672658 #6191 The relationship between blood type and the incidence of caries influenced by saliva ph in dental students: Study cross-sectional Ariani, Nola
Amran, Ricky
ABSTRACTIntroduction: Caries is a chronic disease of the oral cavity characterized by demineralization of dental tissue and damage to the organic components of teeth, resulting in tooth decay. Environmental factors such as dental plaque, diet, and oral hygiene are considered the main etiological factors, so most studies focus on these factors. However, genetic factors such as blood type are thought to play a role in an individual's susceptibility to dental caries. This study aims to determine the relationship between blood type and the incidence of caries influenced by saliva pH Methods: This quantitative study used an analytical survey approach with a cross-sectional design. The research was conducted at Baiturrahmah University, Padang, from November to December 2025, involving 160 participants selected through purposive sampling. Data were collected from blood type records and clinical examinations of dental caries and salivary pH. Univariate analysis was presented in the form of frequency and percentage distributions, while bivariate analysis used the chi-square test and logistic regression. Data processing was performed using the IBM SPSS version 26.0 software. Results: Blood type B has the highest percentage of DMF-T seen from the very high category (17.9%) compared to other blood types. In addition, blood type O has the highest percentage of neutral salivary pH (95.3%). Conclusion: There is a relationship between blood type and saliva pH, there is a relationship between blood type and the incidence of caries, and the most influential factor on the incidence of caries in dental students at Baiturrahmah University is saliva pH.KEY WORDS: caries incidence, blood type, salivary pH, dental students, cross-sectional studyHubungan golongan darah terhadap kejadian karies yang dipengaruhi pH saliva pada mahasiswa pendidikan dokter gigi: Studi cross-sectionalABSTRAKPendahuluan: Karies merupakan penyakit kronis pada rongga mulut yang ditandai dengan demineralisasi jaringan gigi serta kerusakan komponen organik gigi, sehingga menyebabkan kerusakan pada gigi. Faktor lingkungan seperti plak gigi, diet, dan kebersihan mulut dianggap sebagai faktor etiologi utama, sehingga sebagian besar penelitian lebih banyak berfokus pada faktor-faktor tersebut. Namun, faktor genetik seperti golongan darah diduga berperan dalam kerentanan individu terhadap karies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan golongan darah terhadap kejadian karies yang dipengaruhi ph saliva. Tujuan umum pada penelitian ini yaitu bertujuan untuk mengetahui hubungan golongan darah terhadap kejadian karies yang dipengaruhi ph saliva pada mahasiswa pendidikan dokter gigi universitas baiturrahmah padang. Tujuan penelitian menganalisis hubungan antara golongan darah terhadap saliva dan Untuk mengetahui hubungan antara saliva terhadap karies. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis survei analitik menggunakan desain cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Universitas Baiturrahmah Padang pada bulan November–Desember 2025 dengan jumlah sampel sebanyak 160 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui pendataan golongan darah serta pemeriksaan karies gigi dan pH saliva. Analisis univariat disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase, sedangkan analisis bivariat dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil: Golongan darah B memiliki persentase DMF-T tertinggi dilihat dari kategori sangat tinggi (17,9%) dibandingkan golongan darah lain. Selain itu, golongan darah O memiliki persentase pH saliva netral tertinggi (95,3%). Simpulan: Adanya hubungan antara golongan darah terhadap pH saliva, terdapat hubungan antara golongan darah terhadap kejadian karies dan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian karies pada mahasiswa pendidikan dokter gigi universitas baiturrahmah adalah pH saliva. KATA KUNCI: kejadian karies, golongan darah, pH saliva, mahasiswa kedokteran gigi, studi cross-sectional
kejadian karies, golongan darah, pH saliva, mahasiswa kedokteran gigi, studi cross-sectional, Caries incidence, blood type, salivary pH, dental students, cross-sectional study 2026-02-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/69510 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v10i1.69510
1672659 #6191 Hubungan tingkat pengetahuan mengenai COVID-19 dengan tingkat kecemasan Dokter Gigi dalam menghadapi pandemi COVID-19The Relationship Between Knowledge Level of COVID-19 with Anxiety Level of Dentists in Facing the COVID-19 Pandemic Luthfiana, Aliyya
Pertiwi, Arlette Suzy Puspa
Lubis, Wilda Hafny
Jasrin, Tadeus Arufan
ABSTRAKPendahuluan: Dokter gigi merupakan profesi yang rentan terinfeksi coronavirus disease 19 (COVID-19). Pesatnya penyebaran COVID-19 di seluruh dunia menyebabkan kecemasan meluas di kalangan masyarakat dan tenaga medis. Salah satu faktor yang memengaruhi kecemasan adalah pengetahuan. Pengetahuan mengenai COVID-19 diduga berhubungan erat dengan kecemasan yang dialami oleh dokter gigi pada masa pandemi COVID-19. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan mengenai COVID-19 dengan tingkat kecemasan yang dialami oleh dokter gigi dalam menghadapi pandemi COVID-19. Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik korelasi dengan menggunakan metode cross-sectional dan uji korelasi rank Spearman. Sampel yang digunakan adalah 64 orang dokter gigi Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Unpad yang direkrut dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner tingkat pengetahuan mengenai COVID-19 dan kuesioner modifikasi Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7). Pengumpulan data dilakukan secara online dengan menggunakan google form. Hasil: Tingkat pengetahuan dokter gigi tergolong baik dengan nilai rerata 83,59%, sementara tingkat kecemasan secara keseluruhan berada dalam kategori tidak cemas dengan nilai rerata 5,45. Hasil analisis SPSS menunjukan nilai p-value 0,443>0,005, dan nilai koefisien korelasi -0,098. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan mengenai COVID-19 dan tingkat kecemasan dokter gigi dalam menghadapi pandemi COVID-19.Kata kunci: Pengetahuan; kecemasan; dokter gigi; COVID-19; GAD-7 ABSTRACTIntroduction: Dentist is a profession that is vulnerable to coronavirus disease 19(COVID-19) infection. The worldwide spread of COVID-19 is causing anxiety among the public and medical workers. One of the factors that influence anxiety is knowledge.  In this case, lack of knowledge of COVID-19 was thought to be closely related to dentist’s anxiety when facing the COVID-19. This study aimed on determining whether there is a relationship between the knowledge level of COVID-19 with the anxiety level of dental health care workers in facing the COVID-19 pandemic. Methods: This analytic correlational study was conducted by using a cross-sectional method and Spearman’s rank correlation test. Sixty-four dentists of Rumah Sakit Gigi dan Mulut(RSGM) Unpad, with a purposive sampling technique were used as sample. A questionnaire about COVID-19 and modified Generalized Anxiety Disorder-7(GAD-7) were used as instruments. Data was collected online via google form. Results: The knowledge level of dental health care workers about COVID-19 was in a good category with an average level of 83.59%, while the anxiety level mean was in not anxious category with an average level of 5,45. The result of SPSS analysis showed 0.443>0.005 as the amount of p-value, while the correlation coefficient was in the amount of -0.098. Conclusion: There’s no relationship between the knowledge level of COVID-19 with the anxiety level of dental health care workers in facing the COVID-19 pandemic.  Keywords: Knowledge; anxiety; dentist; COVID-19; GAD-7
Pengetahuan; kecemasan; dokter gigi; COVID-19; GAD-7; Knowledge; anxiety; dentist; COVID-19; GAD-7 2022-07-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/35360 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i2.35360
1672660 #6191 Antibacterial effectiveness test of red dragon fruit seed extract (hylocereus costaricensis) in inhibiting the growth of streptococcus sanguinis on acrylic resin plates Harahap, Nadira Azzhani
Ferdina, Resa
Zia, Hanim Khalida
ABSTRACTIntroduction: Tooth loss is a significant problem in oral health because it can affect masticatory function, phonation, aesthetics, and self-confidence. One solution to overcome tooth loss is the use of dentures with a heat-polymerized acrylic resin base. The rough surface of acrylic resin can cause plaque buildup, making it easier for Streptococcus sanguinis bacteria to adhere to the denture base. This can be prevented by cleaning dentures with sodium hypochlorite, but this material has disadvantages in acrylic resin. One natural ingredient that can be used as a denture cleaner is red dragon fruit seeds (Hylocereus costaricensis) which contain antibacterial compounds, such as flavonoids, alkaloids, and tannins. Methods: The purpose of this study was to determine the antibacterial effectiveness of dragon fruit seed extract on the growth of Streptococcus sanguinis on acrylic resin plates. This type of research used a laboratory experimental method using a Post Test Control Group Design. The sample in the study was a block-shaped plate with dimensions of 10 x 10 x 1 mm. The sample size was 5 treatment groups with concentrations of 5%, 10%, and 15%, positive control using 0.5% sodium hypochlorite and negative control using distilled water which was repeated 5 times, so that the number of samples became 25 treatments using the One way ANOVA test. Results: Red dragon fruit seed extract (Hylocereus costaricensis), effective in inhibiting the growth of Streptococcus sanguinis. A concentration of 5% produced the lowest number of bacterial growth compared to other concentrations. Conclusion: From the results of this study, there is an antibacterial effectiveness of red dragon fruit seed extract in inhibiting the growth of Streptococcus sanguinis on acrylic resin plates and with the best extract at a concentration of 5%. This finding provides a natural alternative that can be used to maintain oral health in denture users..KEY WORDS: Antibacterial, Red dragon fruit seed (Hylocereus costaricensis), Streptococcus sanguinis, Hot polymerization acrylicUji efektivitas antibakteri ekstrak biji buah naga merah (hylocereus costaricensis) dalam menghambat pertumbuhan streptococcus sanguinis pada plat resin akrilik : Studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Kehilangan gigi merupakan masalah yang signifikan dalam kesehatan gigi dan mulut karena dapat memengaruhi fungsi mastikasi, fonasi, estetika, serta kualitas kepercayaan diri seseorang. Salah satu solusi untuk mengatasi kehilangan gigi adalah penggunaan gigi tiruan dengan basis resin akrilik polimerisasi panas. Permukaan kasar pada resin akrilik dapat menyebabkan terjadinya penumpukan plak, sehingga memudahkan bakteri Streptococcus sanguinis melekat pada basis gigi tiruan. Hal tersebut dapat dicegah dengan membersihkan gigi tiruan dengan sodium hipoklorit, tetapi bahan ini memiliki kekurangan pada resin akrilik. Salah satu bahan alami yang dapat dimanfaatkan sebagai pembersih gigi tiruan adalah biji buah naga merah (Hylocereus costaricensis) yang mengandung senyawa antibakteri, seperti flavonoid, alkaloid, dan tanin. Metode: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas antibakteri ekstrak biji buah naga terhadap pertumbuhan Streptococcus sanguinis pada plat resin akrilik. Jenis penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratorium menggunakan dengan rancangan Post Test Control Grup Design. Sampel pada penelitian adalah lempeng berbentuk balok dengan ukuran 10 x 10 x 1 mm. Besar sampel ada 5 kelompok perlakuan dengan konsentrasi 5%, 10%, dan 15%, kontrol positif menggunakan sodium hipoklorit 0,5% dan kontrol negatif menggunakan aquadest yang diulang sebanyak 5 kali pengulangan, sehingga jumlah sampel menjadi 25 perlakuan menggunakan uji One way ANOVA. Hasil: Ekstrak biji buah naga merah (Hylocereus costaricensis), efektif dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus sanguinis. Konsentrasi 5% menghasilkan jumlah pertumbuhan bakteri terendah dibandingkan dengan konsentrasi lainnya. Simpulan: Dari hasil penelitian ini terdapat efektivitas antibakteri ekstrak biji buah naga merah dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus sanguinis pada plat resin akrilik dan dengan ekstrak terbaik pada konsentrasi 5%. Temuan ini memberikan alternatif alami yang dapat digunakan untuk menjaga kesehatan mulut pada pengguna gigi tiruan.KATA KUNCI: Antibakteri, biji buah naga merah (Hylocereus costaricensis), streptococcus sanguinis, resin akrilik polimerisasi panas
Antibakteri, biji buah naga merah (Hylocereus costaricensis), streptococcus sanguinis, resin akrilik polimerisasi panas, Antibacterial, Red dragon fruit seed (Hylocereus costaricensis), Streptococcus sanguinis, Hot polymerization acrylic 2025-09-19 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/61793 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i2.61793
Menampilkan 1.550.161 - 1.550.180 dari total 1.550.696 data