Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↑ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1672661 #6191 Perbedaan intensitas transmitansi pelepasan senyawa hidroksil mineral trioxide aggregate, nano silika sekam padi hasil metode sol-gel dan pirolisisDifferences in the transmittance intensity of hydroxyl release from mineral trioxide aggregate, sol-gel, and pyrolysis nano-silica of rice husk Aprillia, Iffi
Sarmayana, Sarmayana
Suprastiwi, Endang
Pendahuluan: Mineral trioxide aggregate (MTA) diketahui memanfaatkan sifat reaktif gugus hidroksil dari permukaan nano silika yang dikandungnya untuk remineralisasi jaringan. Sementara itu, silika berukuran nano dapat diekstraksi dari sekam padi melalui metode sol-gel dan pirolisis. Tujuan penelitian menganalisis perbedaan intensitas transmitansi pelepasan senyawa hidroksil yang dihasilkan oleh MTA, nano silika sekam padi hasil metode sol-gel dan pirolisis. Metode: Jenis penelitian eksperimen laboratori. Sebanyak 3 sampel yang terdiri dari masing-masing bubuk sampel MTA, nano silika sekam padi sol-gel dan nano silika sekam padi pirolisis sebanyak 0,14 mg dicampurkan dengan 0,2 ml aquades dan dibiarkan mengeras selama 15 menit. Hasil campuran kemudian diukur menggunakan alat Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan dilihat intensitas transmitansinya. Hasil karakteristik FTIR kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil: Ketiga sampel uji melepaskan gugus fungsi -OH di kisaran gelombang 3000-3500. Sampel MTA memperlihatkan intensitas puncak transmitansi gugus -OH paling tinggi. Sample nano silika sol-gel memperlihatkan intensitas puncak transmitansi gugus –OH lebih tinggi dibandingkan nano silika pirolisis. Sampel MTA memperlihatkan keberadaan gugus karbonat (CO3-2) yang tidak terdapat pada kedua sampel nano silika, sementara kedua sampel nano silika memperlihatkan gugus siloksan (Si-O-Si) yang tidak terdapat pada sampel MTA. Simpulan: MTA menghasilkan intesitas transmitans senyawa hidroksil paling tinggi, yang menandakan MTA dapat melepaskan gugus hidroksil paling banyak dibandingkan sampel nano silika sol-gel dan nano silika pirolisis.Kata Kunci: Mineral Trioxide Aggregate (MTA), nano silika sekam padi metode sol-gel, nano silika sekam padi metode pirolisis, pelepasan senyawa hidroksil, Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). ABSTRACT Introduction: Mineral trioxide aggregate (MTA) is known to take advantage of the reactive properties of the hydroxyl groups from the surface of the nano-silica for tissue remineralisation. Meanwhile, nano-sized silica can be extracted from rice husks through sol-gel and pyrolysis methods. The research objective was to analyse the differences in the transmittance intensity of hydroxyl compounds released by MTA, nano-silica of rice husks resulting from the sol-gel method and pyrolysis. Methods: This research was an experimental laboratory. A total of 3 samples consisted of MTA powder, sol-gel nano-silica rice husk and pyrolysis nano-silica rice husk, 0.14 mg each, mixed with 0.2 ml of distilled water and hardened still for 15 minutes. The mixture results was then measured using a Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) instrument, and then the intensity of the transmittance was observed. The results of the FTIR characteristics were then analysed qualitatively. Results: All samples release the -OH functional group in the wave range of 3000-3500. The MTA sample showed the highest intensity of the -OH group transmittance. The sol-gel nano-silica samples showed higher intensity of the –OH group transmittance than the pyrolysis nano-silica. The MTA sample showed a carbonate group (CO3-2) which was not present in another two nano-silica samples, while the two nano-silica samples showed a siloxane (Si-O-Si) group that was not present in the MTA sample. Conclusion: MTA produces the highest transmittance intensity of hydroxyl compounds, which indicates that MTA can release the most hydroxyl groups compared to sol-gel nano-silica and pyrolysis nano-silica samples.Keywords: MTA (mineral trioxide aggregate), sol-gel nano-silica rice husk, pyrolysis nano-silica rice husk, hydroxyl compounds release, Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR).
mineral trioxide aggregate (MTA); nano-silika sekam padi metode sol-gel; nano-silika sekam padi metode pirolisis; pelepasan senyawa hidroksil; Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR); MTA (mineral trioxide aggregate); sol-gel nano-silica rice husk 2021-04-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/31350 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i1.31350
1672662 #6191 Relationship between tooth brushing skills and PHP plaque index score of SDN ciburial 01 children: An observational study | Relationship between tooth brushing skills and PHP plaque index score of SDN ciburial 01 children: An observational study Himawati, Marlin
Ardan, Rachman
Randi, Randi
ABSTRACT Introduction:  Indonesian children are considered to pay less attention to oral health. Various oral problems that are often found in the community are caries and periodontal disease. This is due to not maintaining oral hygiene. Many studies state that proper brushing will affect the status of oral hygiene including the plaque index to be good. purpose of this research is to analyze relationship between tooth brushing skills and the plaque index score of Ciburial 01 Elementary School children. Methods: This research method is observational research with a cross-sectional approach. The cause variable in this study is tooth brushing skills and the effect variable is the plaque index score of SDN Ciburial 01 children occurring simultaneously at one time. The population in this study were students of SDN Ciburial 01 consisting of grades 4, 5 and 6. The minimum sample size from the calculation of the sample size formula for the correlation test was 50 people at SDN Ciburial 01 students. Results: The results of this study show that the Pearson correlation test shows a p-value (0.0001), meaning that there is a significant relationship between tooth brushing skills and plaque index scores. Based on the assessment of the correlation coefficient (r = 0.811), it means that the better the brushing skills, the lower the plaque index score with the strength of the relationship, which is very strong. Conclusion: The conclusion obtained is that there is a relationship between tooth brushing skills and the plaque index score of SDN Ciburial 01 children with an inverse relationship direction, which means that the better the tooth brushing skills, the lower the plaque index score with a level of relationship strength that is very strong.KEY WORDS: Toothbrushing skills, plaque index score, cariesHubungan antara keterampilan menyikat gigi dengan skor indeks plak anak SDN Ciburial 01: studi observasionalABSTRAKPendahuluan:  Anak-anak Indonesia dianggap kurang memperhatikan kesehatan gigi dan mulut. Berbagai masalah gigi dan mulut yang sering ditemui di masyarakat adalah karies dan penyakit periodontal. Hal ini disebabkan tidak terjaganya kebersihan gigi dan mulut. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa menyikat gigi dengan tepat akan memengaruhi status kebersihan gigi dan mulut termasuk indeks plak menjadi baik. Tujuan penelitian menganalisis hubungan antara keterampilan menyikat gigi dengan skor indeks plak anak SDN Ciburial 01.  Metode: Metode penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu keterampilan menyikat gigi dan variabel terikat yaitu skor indeks plak anak SDN Ciburial 01 terjadinya bersamaan dalam satu waktu. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SDN Ciburial 01 terdiri dari kelas 4, 5 dan 6. Jumlah sampel minimal dari hasil perhitungan rumus besar sampel untuk uji korelasi adalah 50 orang pada siswa SDN Ciburial 01. Hasil: Uji korelasi Pearson menunjukkan nilai p-value (0,0001) berarti terdapat hubungan yang signifikan antara keterampilan menyikat gigi dengan skor indeks plak. Berdasarkan penilaian koefisien korelasi (r=-0,811) artinya semakin baik keterampilan menyikat gigi maka semakin rendah skor indeks plaknya dengan tingkat kekuatan hubungan yaitu sangat kuat. Simpulan: Kesimpulan yang didapat yaitu terdapat hubungan antara keterampilan menyikat gigi dengan skor indeks plak anak SDN Ciburial 01 dengan arah hubungan terbalik, yang artinya semakin baik keterampilan menyikat gigi maka semakin rendah skor indeks plaknya dengan tingkat kekuatan hubungan yang sangat kuat.KATA KUNCI: Keterampilan menyikat gigi, skor indeks plak, karies | ABSTRACT Introduction:  Indonesian children are considered to pay less attention to oral health. Various oral problems that are often found in the community are caries and periodontal disease. This is due to not maintaining oral hygiene. Many studies state that proper brushing will affect the status of oral hygiene including the plaque index to be good. purpose of this research is to analyze relationship between tooth brushing skills and the plaque index score of Ciburial 01 Elementary School children. Methods: This research method is observational research with a cross-sectional approach. The cause variable in this study is tooth brushing skills and the effect variable is the plaque index score of SDN Ciburial 01 children occurring simultaneously at one time. The population in this study were students of SDN Ciburial 01 consisting of grades 4, 5 and 6. The minimum sample size from the calculation of the sample size formula for the correlation test was 50 people at SDN Ciburial 01 students. Results: The results of this study show that the Pearson correlation test shows a p-value (0.0001), meaning that there is a significant relationship between tooth brushing skills and plaque index scores. Based on the assessment of the correlation coefficient (r = 0.811), it means that the better the brushing skills, the lower the plaque index score with the strength of the relationship, which is very strong. Conclusion: The conclusion obtained is that there is a relationship between tooth brushing skills and the plaque index score of SDN Ciburial 01 children with an inverse relationship direction, which means that the better the tooth brushing skills, the lower the plaque index score with a level of relationship strength that is very strong.KEY WORDS: Toothbrushing skills, plaque index score, caries Hubungan antara keterampilan menyikat gigi dengan skor indeks plak PHP anak SDN Ciburial 01: studi observasionalABSTRAKPendahuluan:  Anak-anak Indonesia dianggap kurang memperhatikan kesehatan gigi dan mulut. Berbagai masalah gigi dan mulut yang sering ditemui di masyarakat adalah karies dan penyakit periodontal. Hal ini disebabkan tidak terjaganya kebersihan gigi dan mulut. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa menyikat gigi dengan tepat akan memengaruhi status kebersihan gigi dan mulut termasuk indeks plak menjadi baik. Tujuan penelitian menganalisis hubungan antara keterampilan menyikat gigi dengan skor indeks plak anak SDN Ciburial 01.  Metode: Metode penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu keterampilan menyikat gigi dan variabel terikat yaitu skor indeks plak anak SDN Ciburial 01 terjadinya bersamaan dalam satu waktu. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SDN Ciburial 01 terdiri dari kelas 4, 5 dan 6. Jumlah sampel minimal dari hasil perhitungan rumus besar sampel untuk uji korelasi adalah 50 orang pada siswa SDN Ciburial 01. Hasil: Uji korelasi Pearson menunjukkan nilai p-value (0,0001) berarti terdapat hubungan yang signifikan antara keterampilan menyikat gigi dengan skor indeks plak. Berdasarkan penilaian koefisien korelasi (r=-0,811) artinya semakin baik keterampilan menyikat gigi maka semakin rendah skor indeks plaknya dengan tingkat kekuatan hubungan yaitu sangat kuat. Simpulan: Kesimpulan yang didapat yaitu terdapat hubungan antara keterampilan menyikat gigi dengan skor indeks plak anak SDN Ciburial 01 dengan arah hubungan terbalik, yang artinya semakin baik keterampilan menyikat gigi maka semakin rendah skor indeks plaknya dengan tingkat kekuatan hubungan yang sangat kuat.KATA KUNCI: Keterampilan menyikat gigi, skor indeks plak, karies
Keterampilan menyikat gigi, skor indeks plak Keterampilan menyikat gigi, skor indeks plak 2024-11-08 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/57701 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i3.57701
1672663 #6191 Pengukuran kekerasan karbonat apatit dengan penguat zirkonia sebagai aplikasi implan gigiHardness evaluation of carbonate apatite reinforced with zirconia as a dental implant Sidiqa, Atia Nurul
Rahaju, Asih
Trilarasati, Titis
Khoirunnisa, Meutia
Pendahuluan: Karbonat apatit adalah material keramik yang memiliki karakteristik menyerupai struktur tulang  dan dapat meningkatkan konsentrasi ion kalsium dan fosfat yang dibutuhkan untuk pembentukan tulang yang baru. Sifat karbonat apatit yang memiliki kelemahan, yaitu bentuk dan ukuran pori-pori tidak teratur serta tidak saling berhubungan satu sama lain. Kelemahan karbonat apatit tersebut dapat diatasi dengan penambahan bahan keramik lainnya, yaitu zirkonia yang memiliki sifat biokompatibilitas dan mekanik yang baik yang akan meningkatkan nilai kekerasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan zirkonia pada nilai kekerasan karbonat apatit sebagai material dasar implan gigi. Metode: Penelitian ini merupakan eksperimental murni dengan total 24 sampel yang dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol, karbonat apatit murni (n=6); kelompok A karbonat apatit dengan penambahan 10% berat zirkonia (n=6); kelompok B karbonat apatit dengan penambahan 20% berat zirkonia (n=6); dan kelompok C karbonat apatit dengan penambahan 30% berat zirkonia (n=6). Nilai kekerasan masing masing kelompok diuji menggunakan alat vickers hardness tester dengan satuan VHN. Data dianalisis menggunakan statistik One Way Anova. Hasil: Pengukuran nilai kekerasan yang didapatkan adalah 209,98±87,70 VHN pada kelompok campuran karbonat apatit-zirkonia 30%, 154,14±43,58 VHN pada kelompok campuran karbonat apatit-zirkonia 20% dan  140,57±62,01 VHN pada kelompok karbonat apatit-zirkonia 10%. Berdasarkan tes Tukey pada penelitian ini terdapat perbedaan bermakna antara nilai kekerasan kelompok kontrol dengan kelompok C (campuran karbonat apatit-zirkonia 30%) dengan nilai p 0,003 (p<0.05) Simpulan: Semakin tinggi persentasi zirkonia yang ditambahan pada karbonat apatit maka semakin tinggi pula nilai kekerasan karbonat apatit-zirkonia yang diperoleh.Kata kunci: Implan keramik , karbonat apatit, kekerasan, zirconia. ABSTRACTIntroduction: Carbonate apatite is a ceramic implant material with similar characteristics with bone and able to increase the concentration of calcium ion and phosphate required for the formation of new bone. However, carbonate apatite has the weaknesses that the shape and size of the pores are irregular and does not relate to each other. The weakness of carbonate apatite can be overcome by the addition of different ceramic materials such as zirconia that has good biocompatibility and mechanical properties that could increase the hardness of the material. The purpose of this study was to determine the effect of zirconia on the hardness of carbonate apatite as dental implants application. Methods: This study was a pure experimental with a total of 24 samples divided into 4 groups. Carbonate apatite and zirconia (0-30 weight%) were mixed homogeneously. The hardness value was tested using Vickers hardness tester with VHN as a unit . The statistical data were treated by analysis of variance. Results: The results showed that the increasing of zirconia concentration could enhance the hardness of the material. The hardness obtained were 209.98 ± 87.70 VHN in the 30% carbonate apatite-zirconia, 154,14 ± 43,58 VHN in 20% carbonate apatite-zirconia, and 140.57 ± 62.01 VHN in 10% carbonate apatite-zirconia. There was a significant difference between the hardness value of the control group and the 30% carbonate apatite-zirconia group, with the p-value of 0.003 (p < 0.05) based on analysis of variance (ANOVA) in the Tukey test for all pairs. Conclusion: The higher the percentage of zirconia added to carbonate apatite, the higher the hardness value of carbonate apatite-zirconia obtained. Keywords: Ceramic implant, carbonate apatite, hardness, zirconia.
Implan keramik, karbonat apatit, kekerasan, zirkonia, ceramic implant, carbonate apatite, hardness, zirconia. 2020-04-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/25710 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v4i1.25710
1672664 #6191 The effect of (3-aminopropyl) triethoxysilane and curcumin coating on the physicochemistry of Fe 3 O 4 particles as theranostics of oral cancer: qualitative study descriptive Yohannes, Gabriel
Djustiana, Nina
Mardhian, Deby Fajar
Sukotjo, Cortino
Aripin, Dudi
ABSTRACTIntroduction: Superparamagnetic iron oxide nanoparticles (SPION) has been used in MRI and have the capability to conjugate with different ligands. One of the active ingredients of interest in biomedical application is curcumin (Cur), which has been shown to have anti-inflammatory effect, wound healing property, and anti-cancer activity. However, such conjugation may need to be facilitated by polymer, such as 3-aminopropyltrimethoxysilane (AMPTS). This study aims to describe the effect of coating materials AMPTS and Cur on the physicochemistry of Fe3O4 particles as a diagnostic of oral cancer. Methods: Modified SPIONs were synthesized by a simple coprecipitation method. Fe3O4 particles were characterized using Fourier transform infrared spectroscopy (FTIR) to analyze the conjugation yield. Next, modified SPIONs were analyzed using dynamic light scattering (DLS) to examine size distribution. Furthermore, zeta potential of the particles was examined. Results: DLS showed size increases after modification of SPION with different materials. In addition, there were slight changes in zeta potential. However, FTIR showed no differences in peaks, indicating that no conjugation was successful. Conclusion: Although FTIR showed no differences in peaks, DLS and zeta potential showed changes with different coatings, which may indicate conjugation. However, further analyses must be carried out to quantify the conjugation yield.KEYWORDS: AMPTS, curcumin, iron oxide, oral cancer, coprecipitationPengaruh bahan pelapis AMPTS dan kurkumin terhadap fisikokimia partikel Fe3O4 sebagai teragnostik kanker mulut: studi deskriptifABSTRAKPendahuluan: Superparamagnetic iron oxide nanoparticle (SPION) telah digunakan dalam MRI dan memiliki kemampuan untuk dikonjugasi dengan berbagai ligan. Salah satu bahan aktif yang menjadi sorotan di bidang biomedis adalah curcumin yang memiliki sifat anti-inflamasi, penyembuhan luka, dan aktivitas anti-kanker. Akan tetapi, konjugasi tersebut biasanya memerlukan fasilitator berupa polimer, seperti 3-aminopropyltrimethoxysilane (AMPTS). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh bahan pelapis 3-aminopropyltrimethoxysilane (AMPTS) dan kurkumin (Cur) terhadap fisikokimia partikel Fe3O4 sebagai teragnostik kanker mulut. Metode: SPION disintesis dan dimodifikasi dengan bahan-bahan pelapis tersebut melalui metode kopresipitasi sederhana. Untuk menganalisis hasil konjugasi, sampel dikarakterisasi dengan fourier transform infrared spectroscopy (FTIR). Berikutnya, sampel dianalisis dengan dynamic light scattering (DLS) untuk melihat distribusi ukuran. Kemudian, potensial zeta sampel diukur. Hasil: DLS menunjukkan peningkatan ukuran setelah modifikasi SPION dengan bahan pelapis. Selain itu, ada perubahan dalam potensial zeta. Akan tetapi, analisis FTIR tidak menunjukkan perbedaan puncak serapan yang mengindikasikan ketiadaan konjugasi. Simpulan: Meskipun FTIR tidak menunjukkan perbedaan puncak serapan setiap sampel, DLS dan potensial zeta menunjukkan perubahan nilai untuk setiap sampel dengan coating berbeda, yang boleh jadi mengindikasikan konjugasi. Akan tetapi, analisis lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengkuantifikasi konjugasi.KATA KUNCI: AMPTS, kurkumin, besi oksida, kanker mulut, kopresipitasi
AMPTS; kurkumin; besi oksida; kanker mulut; kopresipitasi 2023-10-31 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/48079 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i3.48079
1672665 #6191 Proporsi gambaran radiografis lesi periapikal gigi nekrosis pada radiograf periapikalRadiographic image proportion of necrotic teeth periapical lesions on periapical radiographs Utami, Istri Dwi
Pramanik, Farina
Epsilawati, Lusi
Pendahuluan: Karies merupakan penyakit yang paling banyak terjadi. Pada tahun 2013 kerusakan gigi masyarakat Indonesia adalah 460 buah gigi per 100 orang. Jika dibiarkan tidak dirawat akan berkembang mengarah pada kematian pulpa dan akan menyebar menyebabkan infeksi periapikal. Tahun 2010 penyakit pulpa dan periapikal menempati posisi ke 7 dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit di Indonesia. Teknik radiograf yang dapat digunakan untuk diagnosis penyakit pulpa dan periapikal adalah teknik radiografi periapikal. Tujuan penelitian adalah mendapatkan informasi mengenai proporsi gambaran radiografis lesi periapikal gigi nekrosis di RSGM Unpad. Metode: Jenis penelitian deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh radiograf periapiakal gigi nekrosis dengan lesi periapikal pada bulan November 2018 – Januari 2019 di Instalasi Radiologi Kedokteran Gigi RSGM Unpad. Sampel penelitian ditentukan dengan metode purposive sampling. Jumlah sampel sebanyak 54 radiograf periapikal. Hasil: Proporsi gambaran radiografis lesi periapikal yaitu abses periapikal sebanyak 42 kasus (77,78%), granuloma periapikal 8 kasus (14,81%) dan kista periapikal 4 kasus (7,40 %). Simpulan: Proporsi gambaran radiografis lesi periapikal gigi nekrosis di RSGM Unpad didapatkan proporsi tertinggi adalah abses periapikal diikuti granuloma periapikal dan yang terakhir adalah kista periapikal.Kata Kunci: Gigi nekrosis, lesi periapikal, radiograf periapikal ABSTRACTIntroduction: Caries is the most common disease. In 2013, tooth decay of Indonesian people was 460 teeth per 100 people. If left untreated, it will develop, leading to pulp death and will spread, causing periapical infection. In 2010, pulp and periapical diseases were ranked 7th out of the ten most diseases in outpatients of the hospitals in Indonesia. A radiographic technique that can be used for the diagnosis of pulp and periapical disease is a periapical radiographic technique. This study was aimed to obtain information about the radiographic image proportion of necrotic teeth periapical lesions at Universitas Padjadjaran Dental Hospital. Methods: This study was descriptive, with study population was all radiographs of the necrotic teeth periapical lesions in November 2018 - January 2019 at Dentomaxillofacial Radiology Installation of Universitas Padjadjaran Dental Hospital. The research sample was determined by purposive sampling method. The number of samples was 54 periapical radiographs. Results: The radiographic image proportion of necrotic teeth periapical lesions, namely periapical abscesses in 42 cases (77.78%), periapical granuloma in 8 cases (14.81%) and periapical cysts in 4 cases (7.40%). Conclusion: The radiographic image proportion of necrotic teeth periapical lesions at Universitas Padjadjaran Dental Hospital mostly are periapical abscesses, followed by periapical granuloma, and the least is periapical cysts.Keywords: Necrotic teeth, periapical lesions, periapical radiographs
Gigi nekrosis, lesi periapikal, radiograf periapikal, necrotic teeth, periapical lesions, periapical radiographs 2019-07-12 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22306 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i1.22306
1672666 #6191 The success rate of dental implant placement using sinus lift vertical approach technique without bone grafting: Scoping review Oktariani, Anisa Nabilah
Hardianto, Andri
Putri, Dian Maifara
ABSTRACTIntroduction: Dental implants are a treatment aimed at restoring the function and aesthetics of teeth in the oral cavity. They must have stable integrity in the local bone where they are placed. Sinus lift vertical approach without bone graft is a procedure that can be used to place dental implants in cases of maxillary atrophy. The objective is to map the available evidence regarding the success of dental implant placement using the sinus lift vertical approach without bone graft. Methods: This study was conducted using a scoping review method in accordance with PRISMA-ScR (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analytic for Scoping Review) based on predetermined inclusion and exclusion criteria. Articles were obtained from three databases, namely PubMed, Scopus, and Cochrane focusing on randomized controlled/clinical trial (RCT) study designs published between 2014 and 2023.  The analyzed data included the year of publication, study design, number of patients, patient characteristics, implant length, follow-up duration, lifting technique, outcome measurement method, implant survival rate, bone height gain, other success indicators, and complications. Results: Nine articles were included in the review (six two-group RCTs and three three-group RCTs). The results showed a high implant survival rate, ranging from 94.1%-100% and bone height gain up to 4.1 ± 1.0 mm. Reported complications included mucositis and perforation of the mucous membrane. Conclusion: The sinus lift vertical approach without bone graft can be a valid technique and provides good results for dental implant placement in atrophic maxillary conditions requiring bone height gain of less than 4 mm.KEYWORDS: dental implants, sinus lift vertical approach, bone grafting, bone height gain, implant survivalTingkat keberhasilan pemasangan implan gigi dengan teknik sinus lift vertical approach tanpa menggunakan bone graft: Scoping reviewABSTRAKPendahuluan: Implan gigi merupakan perawatan yang berfungsi untuk mengembalikan fungsi dan estetik gigi di dalam rongga mulut.  Implan gigi harus memiliki integritas yang stabil pada tulang lokal tempat implan gigi dipasang. Sinus lift vertical approach tanpa menggunakan bone graft merupakan salah satu prosedur yang dapat digunakan untuk memasang implan gigi pada kasus atrofi maksila. Tujuan untuk menganalisis tingkat keberhasilan pemasangan implan gigi dengan teknik sinus lift vertical approach tanpa menggunakan bone graft. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode scoping review sesuai dengan PRISMA-ScR (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analytic for Scoping Review) berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Artikel berasal dari tiga database, yaitu PubMed, Scopus, dan Cochrane dengan desain penelitian randomized controlled/clinical trial (RCT) yang terbit dari tahun 2014-2023. Data yang dianalisis berupa tahun publikasi, desain penelitian, jumlah pasien, karakteristik pasien, panjang implan, durasi follow-up,  teknik lifting, metode pengukuran hasil, implant survival rate, bone height gain, indikator keberhasilan lainnya, dan komplikasi. Hasil: Sembilan artikel dimasukkan setelah analisis, terdiri dari 6 artikel RCT two groups dan 3 artikel RCT three groups. Artikel yang ditinjau melaporkan implan gigi yang dipasang menggunakan teknik sinus lift vertical approach tanpa menggunakan bone graft dapat memberikan hasil bone height gain mencapai 4,1 ± 1,0 mm dan implant survival rate berkisar antara 94,1-100%. Komplikasi yang mungkin terjadi setelah prosedur ini adalah mukositis dan perforasi membran mukosa. Simpulan: Sinus lifting vertical approach tanpa menggunakan bone graft dapat menjadi teknik yang valid dan memberikan hasil yang baik untuk pemasangan implan gigi pada kondisi atrofi maksila yang memerlukan penambahan tulang tidak lebih dari 4 mm.KATA KUNCI: implan gigi, elevasi membrane sinus, cangkok tulang, pertambahan tinggi tulang, kelangsungan hidup implant
Implan gigi, elevasi membrane sinus, cangkok tulang, pertambahan tinggi tulang, kelangsungan hidup implan 2026-02-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/66918 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v10i1.66918
1672667 #6191 Temporomandibular joint disorders due to edentulous spaces in young adults Nasution, Aulia Nadhira Rayendra
Wahyuni, Siti
ABSTRACTIntroduction: Acrylic resin artificial teeth are one of the components for dentures which are substitutes for natural teeth that have been lost and used to restore masticatory, speech, and aesthetic functions. Denture cleaning is necessary to avoid the colonization of microorganisms that can cause denture stomatitis. Natural denture cleaners are used as an alternative to minimize the effects of chemical denture cleaners that can affect the physical properties of acrylic resins such as surface roughness. 12.5% basil leaves extract was used as an alternative denture cleaning agent The purpose: To determine the effect on surface roughness value of acrylic resin artificial teeth immersed with 12.5% basil leaves extract. Methods: This research was an experimental laboratory. The samples used were 30 maxillary central incisor acrylic resin artificial teeth, combined with a square-shaped base measuring 20x20x6 mm, divided into 3 immersion groups: 10 in 12.5% basil leaves extract; 10 in alkaline peroxide; and 10 in aquabides. Measurement using a profilometer on the labial surface of artificial teeth. The results of the data were analyzed by One-way Anova. Results: The average surface roughness of acrylic resin artificial teeth after immersion in 12.5% basil leaves extract for 5 days was 0,246 ± 0,033 µm, alkaline peroxide 0,266 ± 0,016 µm, and aquabides 0,199 ± 0,020 µm with a value of p=0.0001(p<0.05). Conclusion:There is an effect of immersing acrylic resin artificial teeth in 12.5% basil leaves extract.KEY WORDS: teeth, artificial, resin, acrylic, extract, basil leaves, roughness.Pengaruh perendaman gigi artifisial resin akrilik dalam ekstrak daun kemangi terhadap kekasaran permukaanABSTRAKPendahuluan: Gigi artifisial resin akrilik merupakan salah satu komponen gigi tiruan sebagai pengganti gigi asli yang telah hilang dan digunakan untuk memulihkan fungsi pengunyahan, fungsi bicara, dan estetik. Pembersihan gigi tiruan diperlukan agar terhindar dari kolonisasi mikroorganisme yang dapat menyebabkan denture stomatitis. Bahan pembersih alami digunakan sebagai alternatif untuk meminimalkan efek yang ditimbulkan oleh pembersih gigi tiruan berbahan kimia yang dapat memengaruhi sifat fisik resin akrilik seperti kekasaran permukaan. Ekstrak daun kemangi 12,5% digunakan sebagai alternatif bahan pembersih gigi tiruan. Tujuan penelitian menganalisis pengaruh nilai kekasaran permukaan gigi artifisial resin akrilik yang direndam dengan ekstrak daun kemangi 12,5%. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratoris. Sampel yang digunakan adalah 30 gigi artifisial resin akrilik insisivus sentral rahang atas, disatukan dengan basis berbentuk persegi ukuran 20x20x6 mm, dibagi 3 kelompok perendaman yaitu perendaman dalam ekstrak daun kemangi 12,5%; alkalin peroksida; dan akuabides. Pengukuran menggunakan alat profilometer pada permukaan labial gigi artifisial. Hasil data dianalisis dengan uji One-way Anova. Hasil: Nilai rerata kekasaran permukaan gigi artifisial resin akrilik setelah direndam dalam ekstrak daun kemangi 12,5% selama 5 hari adalah 0,246 ± 0,033 µm, alkalin peroksida adalah 0,266 ± 0,016 µm, dan akuabides adalah 0,199 ± 0,020 µm dengan nilai p=0,0001(p<0,05). Simpulan: Ada pengaruh perendaman gigi artifisial resin akrilik dalam ekstrak daun kemangi 12,5% terhadap kekasaran permukaan.KATA KUNCI: gigi, artifisial, resin, akrilik, ekstrak, kemangi, warna.
Gigi artifisial resin akrilik, ekstrak daun kemangi, kekasaran permukaan. 2023-03-03 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/42405 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i1.42405
1672668 #6191 Improvements in tooth brushing behavior in children with autism spectrum disorder using mobile dentistry game application: study experimental Putri, Tarisya Permata
Suwargiani, Anne Agustina
Sukmasari, Susi
Sasmita, Inne Suherna
ABSTRACTIntroduction: Autism Spectrum Disorder (ASD) is a neurodevelopmental disorder characterized by abnormalities in social interaction, limited interests, and repetitive habits. ASD children have motor, sensory, and communication limitations and difficulties that affect daily activities, namely brushing teeth, therefore education is needed to improve the tooth brushing behavior of ASD children. Education can use the Mobile Dentistry Game Application, namely Pokémon Smile which is one application that can be used to help increase knowledge and education of children with ASD in brushing teeth. The purpose of the study was to analyze improvement  in the tooth brushing behavior of children with ASD using the mobile dentistry game application. Methods: A quasi-experimental study with 16 children was conducted in November 2024. The study consisted of measuring tooth brushing behavior before using Pokémon Smile, followed by using the game and measuring tooth brushing behavior after using the game. Results: There was a significant change with a p-value (p<0.05) 0.004. The average score of children's tooth brushing behavior before the use of Pokémon Smile was 5.25 with most behavior levels being very poor and after the use 6.86 with most behavior levels being moderate. There was an increase in the mean score of tooth brushing behavior by 17.05, reflecting a change in the level of tooth brushing behavior of ASD children from the poor category to moderate. Conclusion: Tooth brushing behavior of children with autism spectrum disorder (ASD) using a mobile dentistry game application has improved. This improvement is reflected in positive behavioral changes observed after using the application. KEY WORDS: mobile dentistry game application, health app, visual pedagogy, tooth brushing behavior, autism spectrum disorder, childrenPerilaku menyikat gigi pada anak gangguan spektrum autisme menggunakan mobile dentistry game application: studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Gangguan Spektrum Autisme (GSA) merupakan gangguan neurodevelopmental yaitu gangguan perkembangan saraf  yang memiliki ciri khas berupa kelainan pada interaksi sosial serta minat yang terbatas dan kebiasaan yang repetitif atau berulang. Anak GSA memiliki keterbatasan dan kesulitan motorik, sensorik, dan komunikasi yang mempengaruhi kegiatan sehari-hari diantaranya menyikat gigi sehingga diperlukan edukasi untuk meningkatkan perilaku menyikat gigi anak GSA. Edukasi dapat menggunakan Mobile Dentistry Game Application, yaitu Pokémon Smile yang merupakan salah satu aplikasi yang dapat digunakan untuk membantu meningkatkan pengetahuan serta edukasi anak dengan ASD dalam menyikat gigi. Tujuan penelitian adalah menganalisis perbaikan perilaku menyikat gigi anak dengan GSA menggunakan mobile dentistry game application. Metode: Penelitian berupa quasi eksperimental dengan sampel 16 anak telah dilaksanakan pada November 2024. Penelitian terdiri dari pengukuran perilaku menyikat gigi sebelum penggunaan Pokémon Smile, dilanjutkan dengan penggunaan permainan, dan pengukuran perilaku menyikat gigi setelah penggunaan permainan. Hasil: Terdapat perubahan signifikan dengan p-value (p<0,05) 0,004. Rerata skor perilaku menyikat gigi anak sebelum penggunaan Pokémon Smile 5,25 dengan mayoritas tingkat perilaku sangat buruk dan setelah penggunaan 6,86 dengan mayoritas tingkat perilaku menjadi cukup. Terdapat peningkatan rerata nilai perilaku menyikat gigi sebesar 17,05 mencerminkan adanya perubahan tingkat perilaku menyikat gigi anak GSA dari kategori buruk menjadi cukup. Simpulan: Perilaku menyikat gigi anak dengan Gangguan Spektrum Autisme (GSA) menggunakan mobile dentistry game application mengalami peningkatan. Peningkatan terlihat dari perubahan perilaku ke arah positif setelah menggunakan aplikasi. KATA KUNCI: mobile dentistry game application, visual pedagogi, perilaku menyikat gigi, gangguan spektrum autisme, anak
mobile dentistry game application, visual pedagogy, tooth brushing behavior, autism spectrum disorder, child 2025-08-13 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/60752 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i2.60752
1672669 #6191 Evaluasi perubahan profil jaringan lunak bibir sebelum dan setelah perawatan ekspansi lengkung gigi menggunakan alat ortodonti lepasan Evaluation of Lips Soft Tissue Profile Changes Before and After Dental Arch Expansion Treatment Using Removable Appliances | Perubahan profil jaringan lunak bibir sebelum dan setelah perawatan ekspansi lengkung gigi menggunakan alat ortodonti lepasanChanges of the lip soft tissue profile before and after dental arch expansion treatment using removable orthodontic appliances Candraningtyas, Araminta Nariswari
Sunaryo, Iwa Rahmat
Laviana, Avi
ABSTRAK Pendahuluan: Penggunaan alat ortodonti lepasan dengan sekrup ekspansi bertujuan untuk memperoleh ruangan pada kasus gigi berjejal dengan cara melebarkan lengkung gigi. Pergerakan gigi yang dihasilkan dapat berpengaruh pada salah satu komponen estetika wajah yaitu profil jaringan lunak. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi perubahan profil jaringan lunak bibir sebelum dan setelah  perawatan ekspansi lengkung gigi menggunakan alat ortodonti lepasan. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik menggunakan metode purposive sampling pada subjek yang merupakan pasien ortodonti di Klinik Profesi Dokter Gigi RSGM Unpad yang dirawat menggunakan alat lepasan akrilik dengan sekrup ekspansi lateral maksila dan mandibula. Terdapat 4 subjek yang memenuhi kriteria inklusi yaitu sepuluh kali aktivasi yang dilakukan setiap minggu dalam waktu tiga bulan.  Subjek dilakukan foto lateral wajah dengan posisi standar sebelum dan setelah aktivasi. Pengukuran dilakukan menggunakan jangka sorong digital dari bibir atas (Ls) terhadap E-line (Ns-Pog), bibir bawah (Li) terhadap E-line (Ns-Pog), dan busur derajat digital untuk mengukur sudut nasolabial(Ns-Sn-Ls). Hasil dan Pembahasan: Nilai rerata perubahan jarak bibir atas terhadap E-line yaitu 0,59 mm, nilai rerata perubahan jarak bibir bawah terhadap E-line yaitu 0,63 mm dan nilai rerata perubahan sudut nasolabial yaitu -2,03o. Penelitian ini menunjukkan adanya perubahan posisi bibir  menjadi lebih ke anterior setelah dilakukan aktivasi sekrup ekspansi lateral rahang atas dan rahang bawah sebanyak 10 kali. Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yaitu  posisi bibir atas dan bibir bawah yang menjadi lebih ke anterior dan tidak terdapat perbedaan pada sudut nasolabial setelah dilakukan 10 kali aktivasi sekrup ekspansi lateral pada alat ortodonti lepasan.Kata kunci: perbedaan profil jaringan lunak; alat ortodonti lepasan; ekspansi lengkung gigi; sekrup ekspansi. ABSTRACT Introduction: The use of removable orthodontic appliance with expansion screws aim to gain a space in crowding teeth by expanding the dental arch. The resulting tooth movement can affect one of the aesthetic components of the face, the  soft tissue profile. The aim of this study to evaluate the change of lip soft tissue profile before and after treatment of dental arch expansion using removable orthodontic appliance. Method: The research method used is descriptive analysis and purposive sampling in patients of Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran’s Orthodontic Clinic treated by using removable appliance with lateral expansion screw in maxilla and mandible. There are 4 patients who meet the inclusion, namely the srew is activated 10 times, once every week in 3 months. Subjects photographed in lateral position before and after activation. Measurement is done by using a calipers from upper lip to E-line, lower lip to E-line, and nasolabial angle using a digital protractor. Results and Discussion: The average of the changes in upper lip to E-line distance are 0,59 mm, the average of the changes in lower lip to E-line distance are 0,63 mm, and the average of the changes in nasolabial angle are -2,03o . This study showed a lip position that became more anterior after 10 times the activation of the maxillary and mandibular expansion screws. Conclusions: The results showed a difference in the position of the upper lip and lower lip which became more anterior and there is no difference in nasolabial angle after 10 times the activation of lateral screws in removable appliances.Keywords: soft tissue profile differences; removable orthodontic appliances; dental arch expansion;  expansion screws. | Pendahuluan: Penggunaan alat ortodonti lepasan dengan sekrup ekspansi bertujuan untuk memperoleh ruangan pada kasus gigi berjejal dengan cara melebarkan lengkung gigi. Pergerakan gigi yang dihasilkan dapat berpengaruh pada salah satu komponen estetika wajah yaitu profil jaringan lunak. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan profil jaringan lunak bibir sebelum dan setelah  perawatan ekspansi lengkung gigi menggunakan alat ortodonti lepasan. Metode: Jenis penelitian deskriptif analitik menggunakan metode purposive sampling pada subjek penelitian yaitu pasien ortodonti di Instalasi Integrasi RSGM Unpad yang dirawat menggunakan alat lepasan akrilik dengan sekrup ekspansi lateral maksila dan mandibula. Terdapat 4 subjek yang memenuhi kriteria inklusi yaitu sepuluh kali aktivasi yang dilakukan setiap minggu dalam waktu tiga bulan.  Subjek dilakukan foto lateral wajah dengan posisi standar sebelum dan setelah aktivasi. Pengukuran dilakukan menggunakan jangka sorong digital dari bibir atas (Ls) terhadap E-line (Ns-Pog), bibir bawah (Li) terhadap E-line (Ns-Pog), dan busur derajat digital untuk mengukur sudut nasolabial(Ns-Sn-Ls). Hasil: Nilai rerata perubahan jarak bibir atas terhadap E-line yaitu 0,59 mm, nilai rerata perubahan jarak bibir bawah terhadap E-line yaitu 0,63 mm dan nilai rerata perubahan sudut nasolabial yaitu -2,03o. Penelitian ini menunjukkan adanya perubahan posisi bibir menjadi lebih ke anterior setelah dilakukan aktivasi sekrup ekspansi lateral rahang atas dan rahang bawah sebanyak 10 kali. Simpulan: Terdapat perbedaan profil jaringan lunak bibir sebelum dan sesudah perawatan ortodonti yaitu  posisi bibir atas dan bibir bawah yang menjadi lebih ke anterior dan tidak terdapat perbedaan pada sudut nasolabial setelah dilakukan 10 kali aktivasi sekrup ekspansi lateral pada alat ortodonti lepasan.Kata kunci: Perbedaan profil jaringan lunak, alat ortodonti lepasan, ekspansi lengkung gigi, sekrup ekspansi. ABSTRACTIntroduction: The use of removable orthodontic appliances with an expansion screw aims to obtain space in tooth crowding by expanding the dental arch. The tooth movement can affect one of the facial aesthetic components, which is the soft tissue profile. This study was aimed to analyse the changes of the lip soft tissue profile before and after dental arch expansion treatment using removable orthodontic appliances. Methods: Descriptive analytic research with purposive sampling method was conducted on orthodontic patients of the Integrated Installation of Universitas Padjadjaran Dental Hospital treated using removable acrylic appliances with maxillary and mandibular lateral expansion screws. Four subjects met the inclusion criteria, namely ten activations every week within three months. The subjects were subjected to lateral facial photographs in standard positions before and after activation. Measurements were performed using a digital calliper from the upper lip (Ls) to the E-line (Ns-Pog) and the lower lip (Li) to the E-line (Ns-Pog), while a digital protractor was used to measure the nasolabial angle (Ns-Sn- Ls). Results: The mean value of change in the distance of the upper lip to the E-line was 0.59 mm; the lower lip to the E-line was 0.63 mm; the nasolabial angle was -2.03o. This study showed a change in the position of the lips to be more anterior after ten times activation of the maxillary and mandibular lateral expansion screws. Conclusions: There is a difference in the lip soft tissue profile before and after orthodontic treatment, which is the change of the upper and lower lips position, which becomes more anterior. There is found no difference in the nasolabial angle after ten times activation of the lateral expansion screw on removable orthodontic appliances.Keywords: Soft tissue profile differences, removable orthodontic appliances, dental arch expansion, expansion screw.
Kata kunci: perbedaan profil jaringan lunak; alat ortodonti lepasan; ekspansi lengkung gigi; sekrup ekspansi. Keywords: soft tissue profile differences; removable orthodontic appliances; dental arch expansion; expansion screws. perbedaan profil jaringan lunak; alat ortodonti lepasan; ekspansi lengkung gigi; sekrup ekspansi; soft tissue profile differences; removable orthodontic appliances; dental arch expansion; expansion screw 2021-04-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/26744 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v5i1.26744
1672670 #6191 Effectivity of red dragon seed extract (hylocereus costaricensis (f.a.c weber) britton & rose) ongrowth of streptococcus mutans atcc 25175 on acrylic resin plate: Descriptive study Angellika, Pricilia
Ferdina, Resa
Amran, Ricky
Introduction: Tooth loss is a problem that can disrupt body health in general, especially oral health, and can increase with age. Tooth loss is caused by several factors, namely periodontal disease, tooth extraction due to extensive caries that cannot be restored, dentoalveolar trauma, tooth impaction, orthodontic needs, hypoplasia, and severe attrition. The treatment for tooth loss is the creation of dentures, however, microorganisms such as Streptococcus mutans have the potential to accumulate in the plaque that forms on the acrylic plate of the denture and affect oral health. The aim of this study was to analyze the effectiveness of dragon fruit seed extract (Hylocereus costaricensis (F.A.C Weber) Britton & Rose), on the growth of Streptococcus mutans ATCC 25175 on acrylic resin plates with concentrations of 5%, 10% and 15%, compared to the positive control ( sodium hypochlorite), and negative control (distilled water). Methods: This type of research uses experimental laboratory methods using a Post Test Control Group Design. The sample is a block-shaped acrylic plate with dimensions of 10 x 10 x 1 mm. The total sample size was 25, divided into 5 treatment groups, each of which was repeated 5 times. Results: LSD test results showed that all concentrations of red dragon fruit seed extract tested had activity to inhibit the growth of Streptococcus mutans ATCC 25175 on hot polymerized acrylic resin plates (significance value p<0.000) and the best value was at a concentration of 15%, which was better than sodium hypochlorite. Conclusion: Concentration of red dragon fruit seed extract is effective in inhibiting the growth of Streptococcus mutans ATCC 25175 on acrylic resin.KEY WORDS: disclosing solution, HI BOGI, plaqueUji efektivitas ekstrak biji buah naga merah (Hylocereus ostaricensis (F.A.C Weber) Britton & Rose) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans ATCC 25175 pada resin akrilik polimerisasi panasABSTRAKPendahuluan: Kehilangan gigi merupakan masalah yang dapat mengganggu kesehatan tubuh pada umumnya, terutama kesehatan gigi mulut, dan dapat meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Kehilangan gigi disebabkan oleh beberapa faktor yaitu penyakit periodontal, pencabutan gigi karena karies yang luas dan tidak dapat direstorasi, trauma pada dentoalveolar, impaksi gigi, kebutuhan ortodontik, hypoplasia, dan atrisi yang berat. Tatalaksana kehilangan gigi adalah pembuatan gigi tiruan, namun mikroorganisme seperti Streptococcus mutans berpotensi terakumulasi pada plak yang terbentuk pada plat akrilik gigi tiruan dan mempengaruhi kesehatan rongga mulut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas ekstrak biji buah naga (Hylocereus costaricensis (F.A.C Weber) Britton & Rose), terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans ATCC 25175 pada plat resin akrilik dengan konsentrasi 5%, 10%, dan 15%, dibandingkan dengan kontrol positif (sodium hipoklorit), dan kontrol negatif (aquadest). Metode: Jenis penelitian menggunakan metode experimental laboratorium menggunakan rancangan Post Test Control Group Design. Sampel adalah plat lempeng akrilik berbentuk balok dengan ukuran 10 x 10 x 1 mm. Besar total sampel adalah 25 buah terbagi dalam 5 kelompok perlakuan yang masing-masing diulang sebanyak 5 kali. Hasil: Hasil uji LSD menunjukkan semua konsentrasi ekstrak biji buah naga merah  yang diujikan memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans ATCC 25175 pada plat resin akrilik polimerisasi panas (nilai signifikansi p<0,000) dan nilai terbaik pada konsentrasi 15% yaitu lebih baik daripada sodium hipoklorit. Simpulan: Konsentrasi ekstrak biji buah naga merah memiliki efektivitas dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans ATCC 25175 pada resin akrilik
biji buah naga, resin akrilik, streptococcus mutans. 2024-06-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/54751 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v8i2.54751
1672671 #6191 Perbedaan teknik pencetakan two step dengan spacer coping metal dan polyethylene sheet terhadap cacat permukaan dan akurasi dimensi model kerja gigi tiruan cekatDifference between two step printing techniques with spacer coping metal and polyethylene sheet to surface defects and dimensional accuracy of fixed denture working models Guntara, Dicky
Ritonga, Putri Welda Utami
Pendahuluan: Pencetakan merupakan hasil dari cetakan gigi dan struktur jaringan pendukung. Untuk mendapatkan hasil cetakan yang baik, maka diperlukan teknik cetakan yang mampu menghasilkan permukaan cetakan yang halus dan akurasi dimensi yang tepat sehingga meningkatkan keberhasilan pembuatan gigi tiruan cekat. Salah satu teknik pencetakan untuk mendapatkan hasil cetakan yang baik adalah teknik two step dengan spacer. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui cacat permukaan dan perbedaan nilai akurasi dimensi model kerja gigi tiruan cekat pada pencetakan two–step dengan spacer coping metal 1 mm, coping metal 2 mm, dan polyethylene sheet 0,5 mm. Metode: Sampel pada penelitian ini diperoleh dari pencetakan model induk berdasarkan spesifikasi ANSI/ADA No.19. Sampel tersebut diperlukan untuk melihat cacat permukaan dan perhitungan akurasi. Jumlah sampel yang akan digunakan untuk diberi perlakuan sebanyak 8 sampel setiap kelompok yaitu putty/wash two step unspacer (kelompok A), putty/wash two step spacer coping metal 1 mm (kelompok B), putty/wash two step spacer coping metal 2 mm (kelompok C), putty/wash two step spacer polyethylene sheet 0,5 mm (kelompok D). Hasil: Tidak ada perbedaan yang signifikan pada cacat permukaan cetakan dan ada perbedaan yang signifikan pada akurasi dimensi model kerja gigi tiruan cekat pada hasil pencetakan two step dengan spacer coping metal 1 mm, coping metal 2 mm, dan polyethylene sheet 0,5 mm. Simpulan: Bila dilihat dari cacat permukaan maka hasil pencetakan two step dengan spacer polyethylene sheet 0,5 mm yang paling baik digunakan. Bila dilihat dari akurasi dimensi maka pencetakan two step dengan spacer coping metal 2 mm yang paling baik digunakan.Kata kunci: Pencetakan, two – step,  spacer, cacat, akurasi.ABSTRACTIntroduction: Imprint is the result of teeth and supporting tissue structures cast. To get a good impression, we need an imprint technique that can produce a smooth imprint surface and precise dimensional accuracy to increase the success of fixed denture manufacturing. One of the imprint technique to get a good impression is the two-step technique with a spacer. The purpose of this study was to determine surface defects and differences in dimensional accuracy value of fixed denture working models fabricated with two-step impression with 1 mm metal coping spacer, 2 mm metal coping sheet, and 0.5 mm polyethylene sheet. Methods: The sample in this study was obtained from the master model cast based on ANSI / ADA No.19 specifications. These samples were needed for surface defects observation and accuracy calculation. The number of samples that will be used for treatment was 8 samples per group, namely putty / wash two-step unspacer (group A), putty / wash two-step 1 mm metal coping spacer (group B), putty / wash two-step 2 mm metal coping spacer (group C), putty / wash two-step 0.5 mm polyethylene sheet spacer (group D). Results: There was no significant difference in the surface defects, and there were significant differences in dimensional accuracy of fixed denture working models fabricated with two-step imprint technique with 1 mm metal coping spacer, 2 mm metal coping spacer, and 0.5 mm polyethylene sheet. Conclusion: Assessed from the surface defects, two-step imprint technique with 0.5 mm polyethylene sheet is the best imprint technique. While from dimensional accuracy, two-step imprint technique with 2 mm metal coping spacer is the best imprint technique.Keywords: Imprint, two-step, spacer, defect, accuracy.
Kata kunci: Pencetakan, two – step, spacer, cacat, akurasi. Keywords: Imprint, two-step, spacer, defect, accuracy. 2019-11-09 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/23798 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v3i2.23798
1672672 #6191 Condylar asymmetry and TMD symptoms in edentulous patients: observational study Amara, Rauzanya
Sam, Belly
Lita, Yurika Ambar
ABSTRACTIntroduction:Condylar asymmetry refers to a disproportion in the vertical height of the left and right condyles. Edentulism can interfere with mastication, esthetics, and speech function. Pathological migration of teeth caused by tooth loss can lead to malocclusion, further overloading the TMJ. Overload of the TMJ has been associated with differences in the morphology of the right and left condyles. The relationship between condylar asymmetry and edentulism is still a subject that is rarely studied. This study aims to look at the asymmetry of the condyle height in edentulous patients along with TMD symptoms. Methods: A cross-sectional descriptive study was performed on edentulous patients who came to the Radiology Installation of Padjadjaran University Dental Hospital to take a panoramic radiograph. Subjects were asked to fill out a questionnaire. The patients’ panoramic radiograph data was taken to evaluate condylar asymmetry using the Habets asymmetry index. Results:The results of the questionnaire and panoramic data were used to divide the sample clusters. 54 samples with posterior edentulism were obtained. Condylar asymmetry was found more commonly in women and samples aged 50 to 60 years. Based on edentulism, samples with 6 to 10 missing teeth, samples with missing teeth in 4 quadrants, and samples with a duration of edentulism for 3 months - 1 year had more condylar asymmetry. Condylar asymmetry was also more prevalent in samples with negative TMD-DI results. Conclusion:The number of edentulous patients with condylar asymmetry is slightly greater than that with condylar symmetry. Only a few samples displayed TMD symptomsKEY WORDS: Condylar asymmetry, edentulism, TMD, panoramic radiography, Habets indexAsimetri ketinggian kondilus dan gejala temporomandibular disorder pada pasien edentulous: studi observasionalABSTRAKPendahuluan: Asimetri kondilus merupakan keadaan terjadinya disproporsi ketinggian vertikal kondilus kiri dan kanan. Edentulisme, atau keadaan hilangnya gigi, dapat mengganggu fungsi mastikasi, estetik, dan bicara.  Migrasi patologis gigi yang disebabkan oleh kehilangan gigi dapat menyebabkan maloklusi, yang selanjutnya memberikan beban berlebih pada TMJ.  Beban berlebih telah dihubungkan dengan perbedaan morfologi kondilus kanan dan kiri. Peneliti belum banyak menemukan publikasi mengenai hubungan edentulous dengan asimetri kondilus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asimetri kondilus serta gejala TMD pada pasien edentulous. Metode: Penelitian observasional secara potong lintang dilakukan pada pasien edentulous yang datang ke Instalasi Radiologi RSGM Unpad untuk mengambil foto radiograf panoramik. Pasien diminta untuk mengisi kuesioner pertanyaan TMD-DI dan pertanyaan terkait keterangan edentulous pasien. Radiograf panoramik dilakukan pengukuran menggunakan indeks Habets untuk menentukan ada atau tidaknya asimetri kondilus. Hasil: Hasil kuesioner dan data panoramik digunakan untuk membagi kluster sampel. Data ditampilkan dalam distribusi frekuensi. Didapatkan 54 sampel yang mengalami edentulous parsial pada gigi posterior. Asimetri kondilus ditemukan pada 51.85% sampel. Asimetri kondilus lebih sering ditemukan pada sampel perempuan dan sampel di kelompok usia 50-60 tahun. Berdasarkan variabel edentulous, sampel lebih sering mengalami asimetri kondilus pada kelompok kehilangan 6–10 gigi, sampel dengan kehilangan gigi di 4 kuadran, dan sampel dengan durasi edentulous 3 bulan – 1 tahun. Asimetri kondilus juga lebih sering ditemui pada sampel yang mendapatkan hasil skoring TMD-DI negatif. Simpulan: Asimetri kondilus banyak ditemukan pada pasien edentulous. Pasien edentulous dengan gejala TMD tidak banyak ditemui pada penelitian ini.KATA KUNCI: Asimetri kondilus, edentulisme, TMD, radiografi panoramik, indeks Habets
Asimetri kondilus, edentulisme, TMD, radiografi panoramik, indeks Habets, Condylar asymmetry, edentulism, TMD, panoramic radiography, Habets index 2023-11-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/48118 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i3.48118
1672673 #6191 Pola makan makanan kariogenik dan non kariogenik serta pengalaman karies anak usia 11-12 tahun Armilda, Dela
Aripin, Dudi
Sasmita, Inne Suherna
Pendahuluan: Karies merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh demineralisasi email dan dentin serta erat hubungannya dengan makanan kariogenik. Umumnya anak usia sekolah dasar memiliki kebiasaan makan makanan kariogenik yang bersifat lengket dan mudah hancur di dalam mulut sehingga dapat meningkatkan risiko karies. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran distribusi pola makan makanan kariogenik dan non kariogenik serta pengalaman karies pada anak usia 11-12 tahun di SDN Cikawari, Kabupaten Bandung. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 41 anak dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah: Food Frequency Questionaire, formulir DMF-T, alat tulis, instrumen dasar pemeriksaan gigi dan mulut, cahaya senter, dan alat pelindung diri standar. Hasil: Persentase tertinggi pola makan makanan kariogenik adalah snack (46,13%),  roti (43,9%) dan permen (41,46%).  Persentase tertinggi pola makan makanan non kariogenik adalah nasi (70,73%), sayuran (48,78%), dan mie instan (43,9%) serta rerata indeks DMF-T adalah 3,95. Simpulan: Distribusi pola makan makanan kariogenik tertinggi pada anak usia 11-12 tahun di SDN Cikawari, Kabupaten Bandung, adalah snack, roti dan permen, serta distribusi pola makan makanan non kariogenik tertinggi adalah nasi, sayuran dan mie instan. Pengalaman karies menunjukkan rerata indeks DMF-T yang termasuk kategori sedang.Kata kunci: Pola makan makanan kariogenik, pola makan makanan non kariogenik, pengalaman karies anak.
Pola makan makanan kariogenik, pola makan makanan non kariogenik, pengalaman karies anak 2017-10-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22125 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i1.22125
1672674 #6191 Differences in Esthetic Line (e-line) of class III skeletal malocclusion before and after orthognathic surgery treatment using ricketts cephalometric analysis: Study descriptive Hadi, Azmil
Mardiati, Endah
Evangelina, Ida Ayu
Laviana, Avi
ABSTRACTIntroduction: Class III skeletal malocclusion is a complex dentoskeletal disorder and is the most difficult malocclusion to treat, especially in patients who have completed their pubertal growth period. In severe cases, orthodontic treatment and orthognathic surgery are required. There are various methods to evaluate the results of orthognathic surgery, one of which is the Ricketts Esthetic Line (E-line) analysis that can be used to view soft tissue changes before and after orthognathic surgery. The aim of the study was to analyze changes in the soft tissue profile of the lips using Ricketts Esthetic line (E-line) analysis in class III skeletal malocclusion after orthognathic surgery for both one-jaw surgery and two-jaw surgery. Methods: This research is descriptive comparative analysis. The study samples were lateral cephalograms before and after orthognathic surgery with one or two jaw surgery techniques. The study subjects were 8 patients with skeletal class III malocclusion who underwent orthognathic surgery at the Oral Surgery Department of the Padjadjaran University Hospital in Bandung. Cephalometric analysis was tested by paired t-test to see differences in lip soft tissue before and after orthognathic surgery based on Ricketts E-line analysis. Results: There were significant differences in the results of analysis of the soft tissue of the upper and lower lips on the Esthetic line (E-Line) before and after orthognathic surgery. orthognathic was also significantly different p < 0.0204. The results of the comparison test between before after orthognathic surgery compared to standard normal Ricketts E-line analysis showed that the e-line at the distance of the upper lip was significantly different p<0.0072, while for the lower lip it was not significantly different p>0.2413. Conclusion: Orthodontic treatment with orthognathic surgery in class III skeletal malocclusion can significantly change the Ricketts E-line method, except that the distance of the lower lip to the Ricketts e-line norm is not significantly differentKEY WORDS: skeletal class III malocclusion, orthognatic surgery, Ricketts esthetic line (E-line) analysis.Perbedaan esthetic line (e-line) maloklusi skeletal kelas III sebelum dan setelah perawatan bedah ortognati menggunakan analisis sefalometri rickettsABSTRAKPendahuluan: Maloklusi skeletal kelas III merupakan kelainan dentoskeletal yang kompleks dan merupakan suatu maloklusi yang perawatannya paling sulit terutama pada pasien yang sudah selesai masa pertumbuhan pubertalnya, dimana pada kasus yang parah diperlukan perawatan ortodonti dan bedah ortognati. Terdapat berbagai metode untuk mengevaluasi hasil perawatan bedah ortognati, salah satunya adalah analisis Ricketts Esthetic Line (E-line) yang dapat digunakan untuk melihat perubahan jaringan lunak sebelum dan setelah perawatan bedah ortognati. Tujuan penelitian menganalisis perubahan profil jaringan lunak bibir  menggunakan analisis Ricketts Esthetic line (E-line) pada maloklusi skeletal kelas III setelah perawatan  bedah ortognati baik pada pembedahan satu rahang dan pembedahan dua rahang. Metode: Jenis penelitian deskriptif analitis komparatif. Sampel penelitian berupa sefalogram lateral sebelum dan setelah perawatan bedah ortognati dengan teknik pembedahan satu ataupun dua rahang Subjek penelitian 8 pasien dengan maloklusi skeletal kelas III yang menjalani bedah ortognati di bagian Bedah Mulut RSGM UNPAD Bandung. Analisis sefalometri diuji dengan uji- t berpasangan untuk melihat perbedaan jaringan lunak bibir sebelum dan setelah bedah ortognati berdasarkan analisis E-line Ricketts. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan hasil analisis jaringan lunak bibir atas dan bawah terhadap Esthetic line (E-Line) sebelum dan setelah bedah ortognati jarak bibir atas sebelum dan setelah bedah ortognati berbeda secara bermakna p<0,0148, untuk jarak bibir bawah sebelum dan setelah edah ortognati juga berbeda secara bermakna p<0,0204. Hasil uji perbandingan antara sebelum  setelah bedah ortognati dibandingkan dengan standar normal analisis E-line Ricketts maka e-line pada  jarak bibir atas berbeda secara bermakna  p<0,0072, sedangkan untuk bibir bawah tidak  berbeda secara bermakna p>0,2413. Simpulan: Perawatan ortodonti dengan bedah ortognati pada maloklusi skeletal kelas III dapat mengubah E-line metode Ricketts secara signifikan, kecuali jarak bibir bawah terhadap norma e-line Ricketts yang tidak  berbeda secara bermaknaKATA KUNCI: maloklusi skeletal kelas III, bedah ortognati, analisis Ricketts Esthetic Line (E-line).
2023-03-03 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/35814 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i1.35814
1672675 #6191 Analysis of predisposition factors for caries incidence in school children with mixed dentition: Study observasional Sari, Morita
Varianziana, Fauzia
Ananda, Gita Alivia
ABSTRACT Introduction: The mixed dentition period is a period of teeth that determines the sustainability of the health of permanent teeth. Children are between 6-12 years old at elementary school and tend to like new things but also easily adopt bad habits, such as snacking and drinking soft drinks. Therefore, the mixed dentition period is susceptible to caries predisposition factors where the permanent tooth enamel is still young histologically. This study aimed to determine the caries predisposition factors focusing on salivary pH and plaque index using regression analysis. Methods: This study is an observational analytical study with a cross-sectional design. The purposive sampling technique was used to take samples, then the samples were given treatment for calculating caries rates (DMF-T / def-t), taking saliva regimens, and measuring plaque index. Data analysis used SPSS statistical software with regression analysis. Results: Salivary pH factor has a predictor coefficient (β) = [-] 2.493, determination coefficient (r2)= 0.492 and ρ value: 0.000 then for the plaque index factor has a predictor coefficient (β) = [+] 0.985 determination coefficient (r2) = 0.158 and ρ value = 0.000. The interpretation is that every one-unit increase in salivary pH will decrease the caries rate by 2.493 and every one-unit increase in plaque index will increase the caries rate by 0.985, from the determination coefficient shows 49.2% caries occurs due to salivary pH factor and 15.8% is caused by plaque index. Conclusion: Students with mixed teeth at SDN Mojosongo VI Surakarta are susceptible to predisposition factors that can affect the decrease in salivary pH and increase in plaque index. KEY WORDS:  Faktor predisposisi, pH saliva, Indeks plak, kejadian karies, gigi bercampur.Analisis pengaruh pH saliva dan indeks plak terhadap kejadian karies pada anak sekolah dengan gigi bercampur: Studi observasionalABSTRAKPendahuluan: Periode gigi bercampur adalah periode gigi yang menentukan keberlanjutan keadaan kesehatan gigi permanen selanjutnya. Anak-anak yang berada pada usia sekolah dasar antara 6-12 tahun serta mempunyai kecenderungan menyukai hal-hal baru namun juga mudah mengadopsi kebiasaan jelek yaitu kebiasaan jajan makanan dan minuman ringan. Periode gigi bercampur rentan oleh faktor predisposisi karies dimana secara histologis email gigi permanen masih muda. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor predisposisi karies pada pH saliva dan Indeks plak menggunakan regresi analisis. Metode: penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan cross sectional study design. Teknik purposive sampling digunakan untuk mengambil 90 sampel kemudian sampel diberi perlakuan untuk perhitungan angka karies (DMF-T/def-t) pengambilan regimen saliva dan pengukuran Indeks plak. Instrumen penelitian berupa lembar DMF-T/def-t dan lembar pengukuran indeks plak. Analisis data menggunakan software statistik SPSS dengan uji analisis regresi bivariabel. Hasil: Faktor pH saliva memiliki koefisien predictor (β) = [-] 2,493, koefisien determinasi (r2)= 0,492 dan ρ value: 0,001 kemudian untuk faktor Indeks plak memiliki koefisien predictor (β) = [+] 0,985 koefisien determinasi (r2)= 0,158 dan ρ value=0,001. Interpretasinya bahwa setiap satu unit kenaikan dari pH saliva akan menurunkan angka karies sebesar 2,493 dan setiap satu unit kenaikan dari Indeks plak akan menaikkan angka karies sebesar 0,985, dari koefisien determinasi menunjukkan 49,2% karies terjadi karena faktor pH saliva dan 15,8% disebabkan oleh Indeks plak. Simpulan: Murid-murid dengan gigi bercampur rentan terhadap faktor-faktor predisposisi karies yang dapat mempengaruhi penurunan pH saliva dan kenaikan Indeks plak.KATA KUNCI: Faktor predisposisi, pH saliva, Indeks plak, kejadian karies, gigi bercampur.
Faktor predisposisi, pH saliva, Indeks plak, kejadian karies, gigi bercampur, Faktor predisposisi, pH saliva, Indeks plak, kejadian karies, gigi bercampur. 2025-06-28 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63052 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i2.63052
1672676 #6191 Perbedaan ukuran mahkota dan servikal gigi kaninus mandibula dan molar pertama maksila melalui pengukuran diagonal pada laki-laki dan perempuan dalam penentuan dimorfisme seksualDifferences in the crown and cervical sizes of mandibular canines and maxillary first molars measured with diagonal measurements in males and females in determining sexual dimorphism Rini, Kartika Artha
Novita, Masniari
Apriyono, Dwi Kartika
ABSTRAKPendahuluan: Indonesia merupakan negara yang rentan terhadap bencana alam. Penentuan jenis kelamin menjadi prioritas utama dalam proses identifikasi korban dengan memanfaatkan perbedaan karakteristik gigi antara laki-laki dan perempuan. Metode pengukuran gigi dapat digunakan dalam menentukan jenis kelamin setelah gigi erupsi. Metode pengukuran gigi secara linear dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor sehingga kemudian dikembangkan metode pengukuran diagonal. Tujuan penelitian menganalisis perbedaan ukuran mahkota dan servikal gigi kaninus mandibula dan molar pertama maksila melalui pengukuran diagonal pada laki-laki dan perempuan dalam penentuan dimorfisme seksual. Metode: Jenis penelitian crossectional. Sampel terdiri dari 9 model gigi laki-laki dan 36 model gigi perempuan yang diukur lebar mesiobukal-distolingual dan mesiolingual-distobukal mahkota dan servikal gigi kaninus mandibula dan molar pertama maksila dengan kaliper digital. Analisis data menggunakan uji paired t-test dan independent two sample t-test. Hasil: Rerata ukuran gigi kaninus mandibula dan molar pertama maksila pada laki-laki lebih besar dari perempuan. Diameter mahkota dan servikal mesiobukal-distolingual dan mesiolingual-distobukal gigi kaninus mandibula dan molar pertama maksila hampir seluruhnya menunjukkan perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan (p<0,05), kecuali pada gigi kaninus kiri mandibula dimensi servikal mesiolingual-distobukal (0,189) dan molar pertama kiri maksila dimensi mahkota mesiolingual-distobukal (0,084). Simpulan: Terdapat Perbedaan ukuran mahkota dan servikal mesiobukal-distolingual dan mesiolingual-distobukal gigi kaninus mandibula dan molar pertama maksila menunjukkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, sedangkan gigi kaninus kiri mandibula dimensi servikal mesiolingual-distobukal dan molar pertama kiri maksila dimensi mahkota mesiolingual-distobukal tidak menunjukkan perbedaan. Gigi yang menunjukkan dimorfisme seksual tertinggi yaitu gigi kaninus kanan mandibula dan gigi molar pertama kanan maksila.Kata kunci: dimorfisme seksual; pengukuran diagonal; kaninus mandibula; molar pertama maksilaABSTRACTIntroduction: Indonesia is a country that is prone to natural disasters. Sex determination is a top priority in the victim identification process by utilising the differences in dental characteristics between males and females. Odontometric measurement can be used in determining sex after tooth eruption. However, odontometric linear can be affected by various factors. As a result, alternative diagonal measurement methods were developed. The study aimed to analyse the differences in the crown and cervical sizes of mandibular canines and maxillary first molars measured with diagonal measurements in males and females in determining sexual dimorphism. Methods: The research was cross-sectional, conducted on nine male dental models and 36 female dental models measured mesiobuccal-distolingual and mesiolingual-distobuccal widths of the crown and cervical canines of the mandibular and maxillary first molars with digital calli-pers. Data analysis using paired t-test and independent two-sample t-test. Results: The mean size of the mandibular canines and maxillary first molars in males were higher than that of females. Almost all mesiobuccal-distolingual and mesiolingual-distobuccal crown and cervical diameters of mandibular canines and maxillary first molars showed significant differences between males and females (p<0.05), except for the mesiolingual-distobuccal left mandibular canine (0.189) and maxillary first molars and maxillary left first molar mesiolingual-distobuccal crown dimension (0.084). Conclusions: There are differences in the mesiobuccal-distolingual and mesiolingual-distobuccal crown and cervical sizes of the mandibular canines and maxillary first molars between males and females while the left mandibular canines mesiolingual-distobuccal cervical dimensions and maxillary left first molars did not show any difference in the mesiolingual-distobuccal dimensions of the crown. The teeth that showed the highest sexual dimorphism were the right mandibular canine and the maxillary right first molar.Keywords: sexual dimoprhism; diagonal measurement; mandibular canine; maxillary first molar
dimorfisme seksual; pengukuran diagonal; kaninus mandibula; molar pertama maksila 2022-02-27 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/34079 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v6i1.34079
1672677 #6191 The difference in the effect of immersing heat-polymerized acrylic resin denture base in basil (Ocimum basilicum) leaf extract and chlorhexidine on the quantity of Candida albicans: study experimental Nasution, Assajdah
Wahyuni, Siti
Tarigan, Slamat
ABSTRACTIntroduction: Denture material that is often used as a base is heat-cured polymethyl methacrylate (PMMA) acrylic resin (hot polymerized acrylic resin). This material has microporosity which causes easy accumulation of food residue. Essential oils in basil leaves can inhibit several bacteria and fungi such as Candida albicans. This study aims to analyze the difference in the effect of immersing heat-polymerized acrylic resin (HPAR) denture base in basil (Ocimum basilicum) leaf extract at concentrations of 15%, 20%, 25%, as well as chlorhexidine, on the quantity of Candida albicans. Methods: This type of research is a laboratory study with RAPP denture base samples soaked in basil leaf extract 15%, 20%, 25%, and chlorhexidine for 15 minutes with samples measuring 10x10x1 mm as many as 30 samples. Each sample was measured using a spectrophotometer. Samples were analyzed by hapiro-Wilk, Kruskal-Wallis, and Mann-Whitney tests. Results: The results of the Kruskal-Wallis test showed that there was an effect of soaking RAPP denture base in basil leaf extract of 15%, 20%, 25%, and chlorhexidine after being compared with aquabidest (control) on the number of Candida albicans with a value of p = 0.019 (p <0.05). Conclusion: Immersing HPAR denture base in basil (Ocimum basilicum) leaf extract for 15 minutes has a significantly greater effect in inhibiting the growth of Candida albicans compared to chlorhexidine.KEY WORDS: Acrylic denture, chlorhexidine, basil leaf extract, acrilyc, Candida albicansPerbedaan pengaruh perendaman basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dalam ekstrak daun kemangi (Ocimum basilicum) dan klorheksidin terhadap jumlah Candida albicans: Studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan:  Bahan gigi tiruan yang sering digunakan sebagai basis adalah resin akrilik polimethyl methacrylate (PMMA) jenis heat cured (resin akrilik polimerisasi panas). Bahan tersebut memiliki mikroporositas yang menyebabkan mudah terjadi akumulasi sisa makanan. Minyak atsiri pada daun kemangi mampu menghambat beberapa bakteri dan jamur seperti Candida albicans. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan pengaruh perendaman basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dalam ekstrak daun kemangi (Ocimum basilicum) 15%, 20%, 25% dan klorheksidin terhadap jumlah Candida albicans. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian laboratorium dengan sampel basis gigi tiruan RAPP yang direndam dalam ekstrak daun kemangi 15%, 20%, 25%, dan klorheksidin selama 15 menit dengan sampel berukuran 10x10x1 mm sebanyak 30 sampel. Setiap sampel diukur menggunakan spektrofotometer. Sampel dianalisis dengan uji Shapiro-Wilk, Kruskal-Wallis, dan Mann-Whitney. Hasil: Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa, ada pengaruh perendaman basis gigi tiruan RAPP dalam ekstrak daun kemangi 15%, 20%, 25%, dan klorheksidin setelah dibandingkan dengan akuabides (kontrol) terhadap jumlah Candida albicans dengan nilai p=0,019 (p<0,05). Simpulan: Perendaman basis gigi tiruan RAPP dalam ekstrak daun kemangi selama 15 menit memiliki perbedaan pengaruh yang lebih signifikan dibandingkan dengan klorheksidin dalam menghambat pertumbuhan jumlah Candida albicans.KATA KUNCI: Gigi tiruan akrilik, klorheksidin, ekstrak daun kemangi, akrilik, candida albicans
2025-03-26 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/61155 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v9i1.61155
1672678 #6191 Karakteristik karies periode gigi campuran pada anak usia 6-7 tahun Prisinda, Diani
Wahyuni, Indah Suasani
Andisetyanto, Prima
Zenab, Yuliawati
Pendahuluan: Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi di Indonesia. Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan status karies gigi masyarakat masih tinggi. Banyak orang beranggapan bahwa gigi sulung tidak perlu dirawat karena akan digantikan oleh gigi permanen sehingga kurang memperhatikan kesehatan gigi sulung anak, akibatnya keadaan gigi sulung yang dijumpai di praktek dokter gigi seringkali sudah mengalami kerusakan parah. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan data mengenai karakteristik karies periode gigi campuran pada anak usia 6-7 tahun, sebagai dasar penelitian karies gigi lebih lanjut. Metode: Jenis penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah anak usia 6-7 tahun dan siswa SD kelas 1 di Kecamatan Tanjungsari, Sumedang. Teknik purposive sampling mendapatkan subyek penelitian sejumlah 52 anak usia 6-7 tahun yang merupakan siswa kelas 1 dari salah satu SD. Instrumen penelitian yaitu: sinar lampu, kaca mulut, sonde, alat tulis dan formulir pemeriksaan. Data hasil pemeriksaan diolah menggunakan program Excel Office. Hasil: Permukaan gigi permanen yang paling banyak mengalami karies adalah oklusal, sedangkan pada gigi sulung adalah permukaan mesial. Kedalaman karies yang paling banyak ditemukan pada gigi permanen adalah superfisial, sedangkan pada gigi sulung adalah profunda. Ditemukan sejumlah 22 gigi permanen mengalami kerusakan, 343 gigi sulung mengalami kerusakan dan 108 gigi sulung hilang karena karies. Simpulan: Terdapat perbedaan karakteristik karies gigi permanen dan gigi sulung pada periode gigi campuran anak usia 6-7 tahun di Kecamatan Tanjungsari Sumedang.Kata kunci: Karakteristik karies, periode gigi campuran, gigi permanen, gigi sulung.
Karakteristik karies, periode gigi campuran, gigi permanen, gigi sulung. 2017-10-30 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22520 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v1i1.22520
1672679 #6191 The effectiveness and safety of probiotics for radiation and chemotherapy-induced oral mucositis: A Systematic Review Yuliana, Yuliana
Dewi, Tenny Setiani
ABSTRACTIntroduction:  Oral mucositis is inflammation of the oral mucosa that occurs due to radiotherapy or chemotherapy in the management of head and neck cancer and can cause several signs and symptoms, including ulcerated lesions, erythema, pain, dysphagia, and malnutrition. Radiotherapy and chemotherapy are options besides surgery in the management of head and neck cancer. Administration of probiotics (lactobacillus and bifidobacterium) is an alternative therapy in the management of oral mucositis.  The aim of this systematic review was to analyze the effectiveness and safety of using probiotics to reduce the incidence, pain, and severity of oral mucositis. Method: The writing of this systematic review followed the PRISMA guidelines. Article search using electronic databases, namely PubMed, EBSCO, Science Direct, and Scopus The population in this systematic review was comprised of patients diagnosed with head and neck cancer who developed oral mucositis following radiation therapy. Five articles were found that met the search criteria, namely, journals with full text in English and using the randomized controlled trial (RCT) research method. Results: Four articles stated that probiotics were effective in reducing the incidence, pain, and severity of oral mucositis by increasing the patient's immunity. Conclusion: Most studies prove the use of probiotics to be effective and safe in reducing the incidence, pain, and severity of oral mucositis. KEY WORDS: probiotics, lactobacillus, bifidobacterium, oral mucositisEfektivitas dan keamanan penggunaan probiotik terhadap mukositis oral yang diinduksi radiasi dan kemoterapi: Systematic reviewABSTRAKPendahuluan: Mukositis oral adalah inflamasi mukosa mulut yang terjadi karena radioterapi atau kemoterapi pada penatalaksanaan kanker kepala dan leher, yang dapat menimbulkan beberapa tanda dan gejala antara lain lesi  dengan bentuk ulserasi, eritema, rasa nyeri, disfagia dan malnutrisi. Radioterapi dan kemoterapi merupakan pilihan selain pembedahan dalam penatalaksanaan kanker kepala dan leher. Pemberian probiotik (lactobacillus dan bifidobacterium) merupakan salah satu alternatif terapi dalam penatalaksanaan mukositis oral. Tujuan tinjauan sistematik ini adalah untuk menganalisis efektivitas dan keamanan penggunaan probiotik untuk menurunkan insidensi, rasa nyeri, dan derajat keparahan pada mukositis oral.Metode: Penulisan tinjauan sistematik ini mengikuti pedoman PRISMA. Pencarian artikel dengan menggunakan database elektronik yaitu PubMed, EBSCO, Science Direct, dan Scopus. Populasi pada tinjauan sistematik ini adalah pasien yang terdiagnosis kanker kepala dan leher yang mengalami mukositis oral setelah mendapatkan terapi radiasi. Didapatkan lima artikel yang memenuhi kriteria pencarian yaitu, jurnal dengan teks lengkap dalam bahasa inggris dan menggunakan metode penelitian Randomized Controlled Trial (RCT). Hasil: Empat artikel menyatakan bahwa probiotik efektif dalam mengurangi tingkat insidensi terjadinya mukositis oral, rasa nyeri dan derajat keparahan mukositis oral melalui peningkatan imunitas pasien. Simpulan: Sebagian besar penelitian membuktikan penggunaan probiotik efektif dan aman dalam mengurangi insidensi, rasa nyeri, dan derajat keparahan pada mukositis oral.KATA KUNCI: probiotik, lactobacillus, bifidobacterium, mukositis oral
probiotik, lactobacillus, bifidobacterium, mukositis oral, probiotics, lactobacillus, bifidobacterium, oral mucositis 2023-08-11 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/46400 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v7i2.46400
1672680 #6191 Perbedaan tingkat kecemasan pada orang tua penderita celah bibir dan langit-langit yang belum dan telah dioperasi Anindita, Sarasti Laksmi
Gunawan, Kirana Lina
Hadikrishna, Indra
Pendahuluan: Orang tua dengan anak penderita celah bibir dan langit-langit yang akan dioperasi sering mengalami kecemasan, baik penderita celah bibir dan langit-langit yang belum dan telah dioperasi.Tujuan penelitian menganalisis perbedaan tingkat kecemasan yang terjadi pada orang tua dari anak penderita celah bibir dan langit-langit baik yang belum maupun telah dilakukan operasi. Metode: Penelitian ini merupakan studi komparatif dengan jumlah responden 17 orang tua dari penderita yang belum dioperasi dan 13 orang tua dari penderita yang telah dioperasi. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan instrumen penelitian berupa kuesioner Stait Trait Anxiety Inventory (STAI). Hasil: State dan trait anxiety berada dalam kategori sedang. State anxiety lebih tinggi dibandingkan dengan trait anxiety. Analisis perbandingan masing-masing state dan trait pada kedua kelompok menunjukkan H0 diterima (p>0,05). Kecemasan dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, status ekonomi, dan pekerjaan. Simpulan: tidak terdapat perbedaan signifikan antara orang tua dari penderita celah bibir dan langit-langit yang belum dioperasi dan orang tua dari penderita celah bibir dan langit-langit yang telah dioperasi.Kata kunci: Celah bibir dan langit-langit, kecemasan
2018-03-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/21445 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/pjdrs.v2i2.21445
Menampilkan 1.550.181 - 1.550.200 dari total 1.550.696 data
« Awal ‹ Prev Next › Akhir »