| ID ↓ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1670836 | #7423 | STRATEGI PEMBERDAYAAN KOPERASI “LOLIT TUNGRO” DALAM MENDUKUNG PEREKONOMIAN PETANI |
Akhsan, Akhsan Rahim, Abd |
AbstrakKoperasi Lolit Tungro merupakan salah satu koperasi yang bergerak di bidang pengembangan agribisnis pedesaan. Koperasi Lolit Tungro senantiasa berupaya untuk mensejahterakan anggota dan petani melalui berbagai strategi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis Srategi yang digunakan oleh koperasi Lolit Tungro untuk meningkatkan produktivitas petani yang diharapkan berimbas pada perbaikan perekonomian petani. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif-interaktif yang menekankan pada pendalaman bahan kajian kepada objek penelitian. Data yang diperoleh dilakukan proses reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh strategi koperasi Lolit Tungro dalam mendukung pertanian yaitu: Peningkatan Kapasitas Anggota, Pengembagan usaha anggota, dan peningkatan kesejahteraan anggota.Kata Kunci: Koperasi, strategi, ekonomi.AbstractLolit Tungro Cooperative is a rural agribusiness co-op working to improve the lives of farmers and members. This study looks into the strategies they use to help farmers boost their productivity and, in turn, their economic situation. Using a qualitative-interactive approach, we delved deep into the cooperative's operations. Our findings show that Lolit Tungro focuses on three main strategies: enhancing members' skills, growing their businesses, and improving their overall well-being.Keywords: Cooperative, strategy, economy.
|
Sosial Ekonomi Pertanian, Agribisnis | 2025-02-12 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/59437 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v9i2.59437 |
| 1670835 | #7423 | STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS BUAH CIPLUKAN (Physalis peruviana) DI WAAIDA FARM, JAWA BARAT |
Akbar Nugraha, Muhammad Kemalvin Ernah, Ernah |
ABSTRAKWaaida Farm merupakan perusahaan pionir agribisnis ciplukan berjenis Physalis peruviana di Indonesia. Waaida Farm mulai fokus untuk membudidayakan ciplukan karena melihat besarnya peluang pasar ciplukan di Indonesia. Namun sejauh ini Waaida Farm baru mampu memenuhi permintaan dari Pulau Jawa disebabkan oleh produksi yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan solusi mengenai strategi pengembangan agribisnis ciplukan berdasarkan analisis faktor internal dan eksternal yang dapat dilakukan di Waaida Farm. Penelitian dilakukan dengan desain deskriptif kualitatif dan teknik penelitian studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan studi literatur. Dalam menentukan strategi pengembangan yang tepat, diperlukan analisis matriks IFAS, EFAS, IE, SWOT dan QSP. Hasil analisis SWOT menghasilkan lima rumusan strategi yang dapat diterapkan oleh Waaida Farm. Hasil analisis matriks QSP menghasilkan prioritas strategi yang tepat untuk diterapkan oleh Waaida Farm yaitu menginvestasikan profit perusahaan untuk pembelian boks pendingin yang berguna untuk mengatasi kekurangan produksi di periode tertentu dan meningkatkan angka penjualan. Kata kunci: Ciplukan, Strategi Pengembangan Agribisnis, SWOT, QSPM.ABSTRACTWaaida Farm is a pioneer company of agribusiness of Physalis peruviana “ciplukan” in Indonesia. Waaida Farm started its cultivation of “ciplukan” with the considerations of “ciplukan” that has a big market opportunity. However, Waaida Farm could just fulfill the demand from Java so far because of its low production. The object of this research is to give a solution regarding the agribusiness developing strategy of “ciplukan” based on internal and external factors analysis which can be done at Waaida Farm. This research uses descriptive-qualitative design and study case research technique. Data collecting method used in this research is through interview and literature study. In needs to find the right developing strategy, there needs to be a matrix analysis of IFAS, EFAS, IE, SWOT and QSP. The SWOT analysis resulted five strategy formulations that can be implemented at Waaida Farm. The matrix QSP analysis resulted the right priority strategy for Waaida Farm, that is to invest the company’s profit for purchasing cooler boxes to overcome production shortages in certain periods and to increase the number of sales.Keywords: “Ciplukan”, Agribusiness Developing Strategy, SWOT, QSPM.
|
2018-12-04 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/20664 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v3i2.20664 | |
| 1670834 | #7423 | KARAKTERISTIK KONSUMEN DAN POLA PERILAKU BERBELANJA PANGAN PREMIUM: STUDI KASUS PADA PEMASARAN PRODUK BERLABEL SEHAT |
Utami, Hesty Nurul Pratiwi, Putri Gita Wiyono, Sulistyodewi Nur |
Konsumsi produk pangan semakin meningkat di kalangan konsumen saat ini karena berbagai alasan terutama kesehatan dan keamanan pangan. Perusahaan produk pangan memperoleh peluang untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan pasar ini dengan menciptakan bebagai inovasi produk pangan berlabel pangan sehat yang dijual dengan harga premium. Penelitian ini melakukan survei kepada konsumen produk pangan tempe premium yang sudah tersertifikasi menunjukkan hasil bahwa target pasar produk tempe sehat ini adalah kelompok dewasa yang sebagian besar secara rutin berbelanja produk ini sebanyak tiga kali dalam satu minggu sehingga dikategorikan sebagai pelanggan setia. Alasan terbanyak pembelian produk tempe premium berlabel sehat ini adalah karena produk dan harga produk tempe ini dinilai berkualitas yang dianggap dapat memberikan manfaat kesehatan saat dikonsumsi, dan harga yang dibayarkan sepadan dengan kualitas yang diterima konsumen. Keputusan pembelian konsumen juga dinilai strategis dan dekat secara lokasi pembelian dengan lokasi pelanggan. Promosi pemasaran yang banyak diterima konsumen adalah karena pemasar memberikan persuasi yang tepat kepada pelanggan membeli produk serta informasi mulut-ke-mulut yang dilakukan pelanggan lain. Penelitian ini memberikan kontribusi keilmuan terkait pemahaman pola perilaku berbelanja produk pangan berlabel premium dan kontribusi praktis terkait strategi bauran pemasaran produk pangan premium berdasarkan karakteristik target pasar.
|
perilaku konsumen, pemasaran pangan, agribisnis | 2025-06-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63512 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i1.63512 |
| 1670833 | #7423 | ANALISIS KOMUNIKASI PEMASARAN BERBASIS MEDIA SOSIAL DI KALANGAN RESTORAN ELIT DAN MENENGAH DI KOTA BANDUNG |
Esperanza, Dhany Fatimah, Sri Kusno, Rani A. B. |
ABSTRAKKeberlanjutan sektor pertanian saat ini menjadi isu besar terkait dengan semakin menurunnyaaktivitas sektor pertanian. Kegiatan kuliner sesungguhnya mampu menggerakkan hulu dan hiliragribisnis dalam bentuk produksi input kuliner yaitu bahan-bahan mentah hasil pertanian. Sektorkuliner juga menjadi kegiatan yang dilirik generasi muda sebagai pilihan usaha, namun masihbanyak entrepreneur yang memerlukan pencerahan untuk dapat berkembang. Antara lain dalam halakses ke konsumen melalui promosi dan secara khusus pemilihan media promosi. Pada saat inimedia sosial dipandang dapat mengefektifkan upaya promosi. Tujuan penelitian adalah untukmengetahui karakteristik konsumen di restoran elit dan menengah Kota Bandung, juga mengetahuidampak media sosial bagi penyedia jasa kuliner. Penelitian ini menggunakan metode kualitatifdengan teknik studi kasus dan analisis deskriptif. Penelitian dilaksanakan di beberapa lokasi restoranyang mewakili klaster elit dan menengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa restoran klaster elitdinilai belum cukup intensif menggunakan saluran pemasaran berbasis media sosial, sedangkanrestoran menengah dinilai bahwa penggunaan media sosial tidak berpengaruh terhadap kondisirestoran saat ini. Konsumen dari kedua klaster restoran senang menginformasikan restoran melaluimedia sosial bila memiliki keunikan.Kata kunci: media sosial, kuliner, promosi, agribisnis, studi kasusABSTRACTSustainability of the agricultural sector is currently a major issue due to decline in its activities.Culinary is actually able to move upstream and downstream agribusiness, namely culinary rawmaterials from agricultural products. As well, younger generation sees culinary as the choice ofbusiness, despite entrepreneurs still need awareness to be able to thrive. Particularly access toconsumers through promotions and specific opt for media campaign. At the time being social mediais seen for its superiority to further facilitate and streamline promotional efforts. This study aims tounderstand the characteristics of consumers in elite and medium-class restaurants in Bandung city,also knowing the impact of social media for culinary service providers. The results showed that theelite restaurant cluster was considered not sufficiently using social media as marketing mean, whilethe medium-class restaurants was regarded indifferent to its current condition despite using socialmedia. Consumers of both clusters pleased to inform the restaurant via social media when it isunique.Keywords: social media, culinary, promotion, agribusiness, case study
|
2016-12-23 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22718 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v1i2.22718 | |
| 1670832 | #7423 | DINAMIKA AGROINDUSTRI GULA INDONESIA: TINJAUAN ANALISIS SISTEM |
Heryanto, Mahra Arari Suryatmana, Eddy Renaldi |
AbstrakAgroindustri gula memiliki peran yang penting dan strategis bagi ekonomi masyarakat Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda sampai dengan saat ini. Produksi gula mengalami stagnasi sejak tahun 1994, ditandai dengan produksi yang menurun sementara permintaan terus bergerak naik. Sementara itu, impor gula terus dilakukan dan cenderung meningkat seiring dengan permintaan yang terus bertambah. Artikel ini menganalisis kompleksitas persoalan yang mengakibatkan berbagai dinamika dalam agroindustri gula terutama stagnasi produksi gula nasional. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan analisis sistem berdasarkan data sekunder dan literatur mengenai berbagai indikator yang terkait dengan agroindustri gula. Hasil pembahasan menunjukan bahwa dinamika agroindustri gula Indonesia yang cenderung mengalami kemunduran diakibatkan oleh inefisensi usahatani tebu, inefisiensi usaha pabrik gula/PG, dan distorsi oleh pasar gula internasional. Inefisiensi usahatani tebu berdampak langsung kepada inefisiensi PG dalam rantai agroindustri gula. Sementara itu, persoalan kompetisi penggunaan lahan antara tanaman padi dan tebu secara tidak langsung berimplikasi kepada inefisiensi PG. Inefisiensi agroindustri gula kemudian menjadi lebih kompleks dengan adanya distorsi harga gula di pasar internasional yang menjatuhkan harga gula dunia. Guna mengatasi dinamika persoalan di atasm pengembangan industri tebu sebaiknya dilakukan oleh pihak swasta dengan mengoptimalkan lahan pertanian di luar Jawa.Kata Kunci: tebu, analisis sistem, impor gula, usahatani, hargaAbstractSugar agroindustry has an important and strategic role for Indonesia since from the Dutch colonial era until present. Sugar production has been stagnating since 1994, indicated by decreasing production while demand continues to rise. Meanwhile, sugar import continues and tended increasing in line with growing demand. This article analyses the problems complexity of that have resulted various dynamics in sugar agroindustry, especially the stagnation of national sugar production. The method used is a systems analysis approach which based on secondary data and literature review on various indicators related to sugar agroindustry. The result show that the dynamics of Indonesia's sugar agroindustry which tends to decline caused by inefficiency in sugarcane farming, inefficiency of sugar factories/PG, and distortion by the international sugar market. Inefficiency in sugarcane farming has a direct impact on the inefficiency of PG in the sugar agroindustry chain. Meanwhile, the issue of land use competition between rice and sugar cane, indirectly has implications for PG inefficiency. Sugar agroindustry inefficiency then became more complex with the distortion of sugar prices on the international market which dropped international sugar prices. In order to overcome the problems, the development of sugarcane industry should be carried out by private sector by optimizing agricultural land outside Java.Keywords: sugarcane, system analysis, imported sugar, farming, price
|
2020-12-16 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/32100 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v5i2.32100 | |
| 1670831 | #7423 | KONTRIBUSI PENDAPATAN PEREMPUAN PEDAGANG SAYUR DI PASAR PAGI KOTA PANGKALPINANG TERHADAP PENDAPATAN KELUARGA |
Pratami, Indah Evahelda, Evahelda Astuti, Rufti Puji |
AbstrakPeran perempuan dalam membantu perekonomi keluarga semakin meningkat pada saat ini, baik di sektor formal maupun informal, seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan yang diakibatkan peningkatan harga bahan pokok. Salah satu jenis pekerjaan di sektor informal adalah pedagang sayur yang dianggap relatif mudah karena tidak menuntut keahlian khusus, dapat dilakukan dengan modal kecil dan jumlah jam kerja yang tidak terlalu lama. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pendapatan dan kontribusi perempuan pedagang sayur terhadap pendapatan keluarga serta mengetahui hubungan antara variabel curahan waktu dengan variabel pendapatan perempuan sebagai pedagang sayuran di Pasar Pagi Kota Pangkalpinang. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan teknik sampling yaitu simple random sampling, sampel yang diambil sebanyak 30 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata perempuan pedagang sayur yang sewa lapak dan tidak sewa lapak di Pasar Pagi Kota Pangkalpinang yaitu sebesar Rp8.718.924,16 dan Rp3.386.139,28 per bulan. Kontribusi perempuan pedagang sayur yang sewa lapak dan tidak sewa lapak di Pasar Pagi Kota Pangkalpinang terhadap pendapatan keluarga dikatakan berkontribusi tinggi, yaitu sebesar 79% dan 72%, serta terdapat hubungan tidak signifikan atau tidak berarti antara tingkat curahan waktu kerja dengan pendapatan perempuan pedagang sayur di Pasar Pagi Kota Pangkalpinang.Kata kunci: kontribusi, perempuan, pedagang sayuran.AbstractThe phenomenon of women playing a role in helping the family's economy is currently increasing, one of which is developing, namely women who are vegetable traders at the Morning Market in Pangkalpinang City. This study aims to determine the income and contribution of women vegetable traders to family income. And to find out the relationship between the time allocation variable and the income variable of women as vegetable traders in the Morning Market of Pangkalpinang City. The method used in this research is a survey method with a sampling technique that is simple random sampling, the sample is taken as many as 30 respondents. Data analysis techniques used are income analysis, descriptive statistical analysis and Spearman rank correlation analysis. Based on the results of the study, it was found that the average income of female vegetable traders who rented stalls and did not rent stalls at the Morning Market in Pangkalpinang City was Rp. 8,718,924.16 and Rp. 3,386,139.28 per month. The contribution of women vegetable traders who rent stalls and do not rent stalls in Pasar Pagi Pangkalpinang City to family income is said to have a high contribution of 79% and 72%, respectively. The results also found that there was an insignificant or insignificant relationship between the level of working time and the income of women vegetable traders at the Morning Market, Pangkalpinang City.Keywords: contribution, woman, vegetable trader.
|
Agribisnis | 2023-03-06 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/40760 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v7i2.40760 |
| 1670830 | #7423 | KONDISI DAN POTENSI WILAYAH PESISIR KABUPATEN BANTUL SEBAGAI SENTRA BUDIDAYA TAMBAK UDANG BERKELANJUTAN DI PANTAI SELATAN INDONESIA |
Cahyaningrum, Desti Christian Gunawan, Wawan Rosmiati, Mia |
ABSTRAKPeluang peningkatan perekonomian melalui kegiatan budidaya udang masih sangat terbuka bagiIndonesia, namun harus memperhatikan aspek keberlanjutan usaha budidaya maupun lingkungan.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi dan potensi wilayah pesisir Kabupaten Bantulsebagai sentra budidaya tambak udang berkelanjutan di pantai selatan Indonesia. Metode yangdigunakan adalah studi kasus melalui observasi dan wawancara, serta analisis data secara deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi tambak udang dilihat dari aspek lingkungan memilikikualitas air yang baik akibat tidak adanya pencemaran dari luar, karena kawasan tersebut bukanmerupakan wilayah industri. Namun, keberadaan tambak dikawatirankan dapat merusak lingkunganapabila tidak dikelola dengan baik. Kondisi yang ada saat ini menunjukkan bahwa pengelolaantambak masih kurang baik karena tidak adanya sistem pengolahan limbah yang berdampak padamunculnya penyakit berak putih udang pada tahun 2016. Dilihat dari aspek ekonomi, keberlanjutanterjadi karena permintaan ekspor udang yang masih sangat tinggi dan belum bisa terpenuhi. Aspeksosial menunjukkan bahwa lokasi tambak udang di wilayah penelitian menimbulkan konflik sosialdengan adanya permasalahan status kepemilikan lahan, perijinan usaha, serta benturan dengankebijakan pemerintah setempat.Kata kunci: potensi, tambak udang, pesisir Bantul, konflik, berkelanjutanABSTRACTOpportunities to increase the economy sector by shrimp ponds farming activities are still very openfor Indonesia, but must consider the aspect of the sustainability of the cultivation and theenvironment. This study aims to examine the condition and potency of thr coastal areas of BantulRegency as a center for sustainable shrimp ponds farming in the southern coast of Indonesia. Themethod used is case study through observation and interview. then data were analysed descriptively.The results showed that the condition of shrimp ponds in terms of environment has good air qualitydue to the absence of pollution from the outside, because there is not an industrial area. However,the existence of the ponds are considered to damage the environtment if not properly managed. Inaddition, the condition of pond management is still not good because there is no sewage treatmentsystem, and cause the disease berak putih in 2016. From the economic aspect, the sustainability iscaused by the great number of demand that can not to be fulfill yet. Social aspects show that locationof shrimp ponds emerge conflict by the problems of land-planting status, business licensing, andcollision with the government.Keywords: potency, shrimp farm, Bantul’s coastal, conflict, sustainability
|
2019-07-23 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15072 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v2i1.15072 | |
| 1670829 | #7423 | PENINGKATAN KINERJA PENYULUH KEHUTANAN PADA PENGEMBANGAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI KABUPATEN GOWA (STUDI KASUS KELOMPOK TANI HUTAN DI KECAMATAN TINGGIMONCONG) |
Ayyub, Erwin Ibrahim, Helda Yunus, Awaluddin Zain, Majdah M |
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengurai peningkatan kinerja penyuluh kehutanan pada program pengembangan hutan kemasyarakatan (HKm) melalui kompetensi penyuluh dalam berkomunikasi dengan kelompok tani perhutanan (KTH), pengetahuan teknis penyuluh pada pengelolaan hutan, kompetensi interpersonal, serta keterampilan penyuluh memecahkan masalah terkait pengelolaan HKm di Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa. Metode penelitian yang digunakan adalah survei kuantitatif yang melibatkan responden kelompok tani hutan (KTH) sebanyak 25 orang dipilih secara purposive sampling, dan 4 orang penyuluh kehutanan sebagai informan penelitian yang terlibat dalam pengelolaan hutan kemasyarakatan di Kecamatan Tinggimoncong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja penyuluh kehutanan atas pengelolaan hutan (HKm) ditinjau dari aspek kompetensi penyuluh dalam berkomunikasi, pengetahuan teknis, kompetensi interpersonal dan keterampilan penyuluh dalam memecahkan masalah, berada pada kategori “sangat baik”, dengan skala rata-rata presentase (90,8%). Penelitian ini memberikan rekomendasi peningkatan kompetensi penyuluh melalui pelatihan berkala, peningkatan keterampilan pemanfaatan teknologi informasi (e-extension) upaya mendukung penyuluhan yang lebih efektif dan efisien.Kata kunci: Peningkatan Kinerja, Penyuluh Kehutanan, Pengembangan Hutan Kemasyarakatan.AbstractThis study aims to analyze the improvement in the performance of forestry extension workers in the community forestry development program (HKm) through the extension workers' competence in communicating with forestry farmer groups (KTH), their technical knowledge of forest management, their interpersonal skills, and their problem-solving skills related to HKm management in Tinggimoncong Subdistrict, Gowa Regency. The research method used was a quantitative survey involving 25 forest farmer group (KTH) respondents selected by purposive sampling and four forestry extension workers as research informants involved in community forest management in Tinggimoncong Subdistrict. The results showed that the performance of forestry extension workers in forest management (HKm), in terms of their competence in communication, technical knowledge, interpersonal competence, and problem-solving skills, was in the “very good” category, with an average percentage scale of 90.8%. This study recommends improving the competence of extension workers through regular training, improving their skills in utilizing information technology (e-extension) to support more effective and efficient extension servicesKeywords: Performance Improvement, Forestry Extension Workers, Forest Development, Community Development.
|
FAKULTAS PERTANIAN; S2 AGRIBISNIS | 2025-12-22 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/66552 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i2.66552 |
| 1670828 | #7423 | KESEIMBANGAN HARGA DAN KUANTITAS PASAR SUSU SEGAR DI INDONESIA |
Ichdayati, Lilis Imamah Dwiningsih, Eny Putri, Risma Kurnia |
Produksi susu dalam negeri hanya mampu memenuhi kebutuhan permintaan konsumsi susu sebesar 30 % saja, sisanya 70 % dipasok dari impor. Di sisi lain tingkat konsumsi susu perkapita Indonesia relatif rendah. Hal ini menjadi peluang bagi usaha ternak sapi perah dalam menyediakan susu sapi segar. Tujuan penulisan artikel ini adalah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi biaya produksi susu segar, harga dan kuantitas susu segar sebagai keseimbangan permintaan dan penawaran dalam pasar susu segar. Sumber data sekunder periode 1993-2017. Instrumen analisis menggunakan metode persamaan simultan two stage least square (2LSL).Hasil analisis adalah model persamaan biaya produksi susu segar dipengaruhi oleh variabel biaya pakan, listrik dan air, obat-obatan dan bahan bakar. Model persamaan produksi susu segar dipengaruhi oleh variabel jumlah sapi laktasi dan jumlah pakan konsentrat. Dari sisi pasar susu segar, model persamaan penawaran susu segar dipengaruhi oleh variabel jumlah susu segar dan harga teh sebagai komplementer, diikuti varibel harga susu segar dan harga kopi sebagai substitusi. Sedangkan dari model persamaan permintaan yang berpengaruh adalah variabel pendapatan perkapita, jumlah produksi, harga teh dan harga kopi sebagai produk komplementer dan substitusi. Model persamaan harga susu segar dipengaruhi oleh variabel total biaya produksi dan jumlah permintaan susu segar.
|
2020-02-14 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/25358 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v4i2.25358 | |
| 1670827 | #7423 | MINAT ANGGOTA KELOMPOKTANI TERHADAP PENERAPAN GOOD AGRICULTURAL PRACTICES (GAP) PADA KOMODITAS CABAI MERAH (Capsicum annuum L.) DI KECAMATAN TAROGONG KALER KABUPATEN GARUT |
Zaini, Muhamad Fahrul Maryani, Ait Maryani, Ait Musyadar, Achmad Musyadar, Achmad |
AbstrakPeraturan Menteri Pertanian Nomor 48 Tahun 2009 mengamanatkan pelaksanaan pedoman budidaya buah dan sayur yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP) pada tingkat petani sebagai upaya perwujudan pertanian berkelanjutan dan peningkatan produktivitas hasil. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) mendeskripsikan karakteristik responden, (2) mengetahui tingkat dukungan faktor eksternal dan minat responden dan (3)mengetahui faktor eksternal yang berpengaruh terhadap minat anggota kelompoktani pada penerapan GAP cabai merah. Unit analisis adalah individu, anggota kelompoktani responden penelitian. Populasi dalam penelitian adalah semua petani yang berada di Desa Rancabango, Sirnajaya dan Panjiwangi, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut. Diambil sampel petani sebanyak 50 orang responden dengan menggunakan rumus slovin. Pengambilan sampel petani menggunakan teknik cluster random sampling method. Metode pengambilan data menggunakan metode wawancara terstruktur, pengisian kuesioner dan studi pustaka. Analisis data dalam penelitian ini mencangkup (1) analisis deskriptif, distribusi frekuensi; (2) analisis inferensial regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukan; (1) mayoritas responden berusia produktif, tingkat pendidikan rendah, cukup berpengalaman dan memiliki luas lahan sempit (2) indikator faktor eksternal dan indikator minat petani memiliki indeks rata-rata pada kategori sedang, tinggi dan sangat tinggi; (3) Analisis regresi linear berganda menunjukan indikator faktor eksternal berpengaruh nyata secara simultan dan parsial terhadap minat anggota kelompoktani dalam penerapan GAP cabai merah, dengan arah pengaruh positif.Kata Kunci: faktor eksternal, minat petani, GAPAbstractMinister of Agriculture Regulation No. 48/2009 mandates the implementation of Good Agricultural Practices (GAP) guidelines at the farm level as an effort to achieve sustainable agriculture and increase yield productivity. This research aims to; (1)describe the characteristics of respondents, (2 find out the level of support of external factors and the interests of respondents and (3) find out the external factors that affect the interest of group members in the application of the red chili GAP. The unit of analysis is the individual, group members of the respondents of the study. The population in this study were all farmers in the villages of Rancabango, Sirnajaya and Panjiwangi, District of Tarogong Kaler, Garut Regency. Samples of farmers were taken as many as 50 respondents using the Slovin formula. Farmer sampling using cluster random sampling method. The data collection method uses structured interview methods, questionnaires and literature study. Analysis of the data in this study includes (1) descriptive analysis, frequency distribution; (2) inferential analysis of multiple linear regression. The results showed (1) The majority of respondents were of productive age, low level of education, experienced enough and had narrow land (2) indicators of external factors and indicators of farmer interest had an average index in the medium, high and very high categories; (3) Multiple linear regression analysis shows the external factors indicators have a significant and simultaneous effect on the interest of farmer group members in the application of red chili GAP, with the direction of positive influenceKey Word : external factors, farmer interest, GAP
|
2021-08-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/28890 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v6i1.28890 | |
| 1670826 | #7423 | KAJIAN PENGEMBANGAN INDUSTRI GULA KRISTAL PUTIH INDONESIA |
Fikri, Rasheeda Ernah, Ernah |
AbstrakGula merupakan salah satu bahan pokok yang diperdagangkan di seluruh dunia yang berbahan dasar tanaman tebu. Namun, saat ini produksi gula yang dihasilkan cenderung menurun setiap tahunnya dan tidak dapat memenuhi permintaan Gula Kristal Putih (GKP) masyarakat Indonesia sehingga pemerintah melakukan impor gula kristal mentah atau raw sugar untuk menutup kekurangan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaan dan strategi pengembangan industri GKP Indonesia berdasarkan analisis matriks IFAS, EFAS, IE, dan analisis SWOT. Metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara kepada informan dan studi literatur yang akan dibahas secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri GKP Indonesia masih aman karena berada pada sel V, yaitu posisi hold and maintain. Faktor yang dapat dipertahankan pada industri GKP adalah sumber daya lahan yang tersedia di luar Pulau Jawa, kapasitas produksi yang besar, kebutuhan pasar gula tinggi, dan investasi pabrik gula terbuka. Sementara faktor yang harus dipelihara adalah produksi tebu, laju konversi lahan, penggunaan teknologi, serta adopsi teknologi modern. Berdasarkan posisi tersebut, industri GKP Indonesia dapat berkembang dengan menerapkan strategi W – T yaitu pembenahan sistem pendanaan dan memperbaiki sistem tata niaga gula.Kata Kunci: produktivitas, strategi, gula kristal putih, pabrik gula, produksi.AbstractSugar is one of the main commodities traded worldwide which is made from sugar cane. However, currently the production of sugar produced tends to decrease every year and cannot meet the demand for white crystal sugar for the Indonesian people, so the government closes the shortage of sugar by importing raw crystal sugar or raw sugar. This study aims to analyze the performance and development strategy of the Indonesian white crystal sugar industry (GKP) based on matrix analysis of IFAS, EFAS, IE, and SWOT analysis. The data collection method was carried out through interviews with informants and literature studies which will be discussed in a qualitative descriptive manner. Based on the results of the research, it shows that the Indonesian white crystal sugar industry is still safe because it is in cell V, namely the hold and maintain position. Factors that can be maintained in the GKP industry are available land resources outside Java Island, large production capacity, high demand for sugar market, and investment in open sugar mills. While the factors that must be maintained are sugar cane production, land conversion rate, use of technology, and the adoption of modern technology. Based on this position, Indonesia's white crystal sugar industry can develop by implementing the W-T strategy, namely improving the funding system and improving the sugar trading system.Keywords: productivity, strategy, white crystal sugar, sugar factory, production.
|
Agribisnis | 2024-02-14 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/44984 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v8i2.44984 |
| 1670825 | #7423 | KESESUAIAN LAHAN UNTUK SISTEM AGROFORESTRY DI KABUPATEN PURWOREJO BERDASARKAN POTENSI PERTANIAN SETEMPAT |
Widiyanto, Ary Suhartono, Suhartono |
ABSTRAK Sektor pertanian berkontribusi sekitar 31% pada pendapatan domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Purworejo. Meskipun demikian, pada beberapa tahun terakhir terjadi alih guna lahan pertanian menjadi non-pertanian. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan ekstensifikasi lahan pertanian di lahan hutan atau disebut agroforestry. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesesuaian lahan untuk agroforestry dengan mempertimbangkan potensi pertanian dan produk unggulan setempat. Metode yang digunakan adalah dengan pengecekan lokasi (ground check) dan menggunakan Sistem Informasi Geografis menggunakan software Arc GIS. Hasil penelitian menunjukan, di kabupaten Purworejo, sekitar 7.731 ha atau 7,47% termasuk kategori sesuai dan sekitar 5.715 atau 5,56% termasuk kategori sedang untuk pengembangan agroforestry. Lokasi terluas untuk pengembangan agroforestry adalah di Kecamatan Kemiri dengan area seluas 2.578 ha. Produk pertanian unggulan setempat yang direkomendasikan adalah kambing etawa (PE) dalam pola agrosilvopasture, tanaman penghasil obat (temulawak, kajibeling, lempuyang) dibawah tegakan pinus dalam pola silvofarmaka, dan papaya, manggis, dan durian dikombinasikan kayu sengon (Paraserianthes falcataria) dalam pola agrosilvikultur. Kata kunci: Agroforestry, kesesuaian lahan, potensi pertanian, produk unggulan ABSTRACT Agricultural sector contributed about 31% to Purworejo Regency’s Gross Regional Domestic Product (GRDP). Nevertheless, there were many land uses changing from agriculture to non-agriculture in recent years. One solution to overcome this problem is agriculture extensification in forest land, or known by agroforestry system. This research aimed to study land suitability for agroforestry system by considering local agricultural potensial and superior. The methods used are ground check and by using Geographical Information System with Arc GIS software. The results show that, in Purworejo Regency, about 7.731 ha or 7,47% of area is categorized as suitable and about 5.715 or 5,56% is categorized as medium for agroforestry system. The largest area for agroforestry development is Kemiri sub district with total area 2.578 ha. Local agricultural products recommendation is etawa goat (PE) in agrosilvopasture pattern, medicinal plants (temulawak, kajibeling, lempuyang) under pine tree in silvofarmaka pattern, and papaya, mangosteen, and durian combine with sengon (Paraserianthes falcataria) in agrosilvikultur pattern. Keywords: Agroforestry, land suitability, agricultural potential, superior products
|
2019-12-03 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/15146 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v2i2.15146 | |
| 1670824 | #7423 | PENERAPAN PRINSIP PEMBIAYAAN DALAM PENILAIAN KREDIT KEPADA PETANI CABAI DI KECAMATAN PARAKANSALAK KABUPATEN SUKABUMI |
Putri, Anggi Aulia Milla, Amalia Nur Meilani, Ema Hilma |
AbstrakAkses permodalan menjadi aspek penting guna mendukung keberlanjutan usaha tani, khususnya bagi petani hortikultura seperti petani cabai. Namun, tidak semua petani memiliki akses yang mudah dalam memperoleh kredit karena berbagai persyaratan dan mekanisme yang diterapkan oleh lembaga pembiayaan. Penelitian ini berfokus pada bagaimana petani cabai di Kecamatan Parakansalak memandang dan mengalami penerapan prinsip pembiayaan dalam proses pengajuan dan penilaian kredit. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bagaimana prinsip pembiayaan diterapkan, melalui prinsip 5C (character, capacity, capital, collateral, dan condition) sebagai indikator utama akses permodaln. Hasil penelitiann menunjukkan bahwa prinsip pembiayaan ini masih secara aktif di praktikkan baik oleh lembaga keuangan formal maupun nonformal. Namun petani masih menghadapi berbagai tantangan dalam mengakses kredit seperti kendala ekonomi, sosial, dan risiko alam yang mempengaruhi produksi. Sumber pembiayaan yang dimanfaatkan berasal dari berbagai saluran baik lembaga formal maupun nonformal.Kata kunci: Petani cabai, permodalan pertanian, akses kredit, prinsip pembiayaan.AbstractAccess to capital is an important aspect to support the sustainability of farming, especially for horticultural farmers such as chili farmers. However, not all farmers have easy access to credit due to various requirements and mechanisms applied by financing institutions. This research focuses on how chili farmers in Parakansalak Sub-district perceive and experience the application of financing principles in the process of applying for and assessing credit. The main objective of this research is to identify how financing principles are applied, particularly the 5C principles (character, capacity, capital, collateral, and condition) as a key indicator of access to capital. The results show that these financing principles are still actively practiced by both formal and non-formal financial institutions. However, farmers still face various challenges in accessing credit such as economic, social, and natural risks that affect production. The sources of financing utilized come from various channels both formal and non-formal institutions.Keywords: Chili farmers, agricultural capital, credit access, financing principles.
|
Agribisnis | 2025-07-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/63095 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i1.63095 |
| 1670823 | #7423 | ANALISIS SISTEM SOSIAL-EKOLOGI LADA PUTIH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG |
Heryanto, Mahra Arari Nugraha, Adi |
ABSTRAKLada putih merupakan komoditas perkebunan yang seluruhnya dikembangkan oleh perkebunan rakyat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penurunan harga lada putih yang cukup drastis di tingkat petani menjadi persoalan yang dihadapi oleh petani, hal ini menandakan persoalan sosial dalam bidang ekonomi yang berimplikasi kepada persoalan ekologi, yaitu penurunan produktivitas. Hasil penelitian menunjukan bahwa Sistem sosial dan sistem ekologi dalam usahatani lada putih membentuk umpan balik (feedback loop) yang sangat banyak, sehingga sistem sosial dan ekologi tidak bisa dipisahkan. Produksi lada putih, keputusan penanaman lada dan sistem kolektif adalah tiga unsur utama dengan kompleksitas tertinggi dalam sistem sosial-ekologi lada putih. Rekayasa sosial (kelembagaan) yang mengarah kepada penguatan sistem kolektif (kelompok) perlu banyak dilakukan bersamaan dengan insentif teknologi pasca panen yang memadai agar keberlanjutan komoditas lada putih dapat terjaga, baik secara sosial maupun ekologi.Kata kunci: Keberlanjutan, Sistem Sosial, Sistem Ekologi, Ekonomi, Lada Putih ABSTRACTWhite pepper is a plantation commodity which is developed by smallholder in the Bangka Belitung Province. Declining price of white pepper at farm level is a problem for the farmers, this indicates a social problem in economic that has implication ecologically, decrease of yield productivity. The research showed that social systems and ecological systems in white pepper farming establish many feedback loops, so that the social and ecological systems could not be separated. White pepper production, pepper planting decisions and the collective system are the three main elements which have highest complexity in the social-ecological system of white pepper. Social engineering (institution) through the strengthening of the collective (group) action system needs to be developed in line with post-harvest technology policy in order to create the sustainability in the white pepper commodity, both socially and ecologically.Keywords : Sustainability, Social System, Ecological System, Economy, White Pepper
|
2018-12-04 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/20882 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v3i2.20882 | |
| 1670822 | #7423 | KINERJA TENAGA PENDAMPING PROFESIONAL DI KABUPATEN ACEH BESAR |
Mujiburrahmad, Mujiburrahmad Deli, Anwar Manyamsari, Ira Yaqin, Muhammad Husnul |
AbstrakPeraturan Kementerian Desa Nomor 3 Tahun 2015 Tentang Pendamping Profesional, sebagai kegiatan untuk melakukan tindakan pemberdayaan masyarakat melalui asistensi, pengorganisasian, pengarahan dan fasilitasi Desa. Dalam Pasal 3 Ruang lingkup pendampingan Desa, Pendampingan masyarakat Desa dilaksanakan secara berjenjang untuk memberdayakan dan memperkuat Desa. Dalam pendampingan desa salah satu pihak yang berhadapan langsung dengan masyarakat adalah Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa. Tujuan dari penelitian ini adalah (a). Untuk mengetahui Kinerja Pendamping Lokal Desa di Kabupaten Aceh Besar, dan (b). Untuk mengetahui apa saja faktor berhubungan dengan Kinerja Pendamping Lokal desa di Kabupaten Aceh Besar. Pengambilan data diperoleh dari wawancara (survey) terhadap 12 Pendamping Lokal Desa di Kecamatan Indrapuri. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan model Skala Likert dan uji statistik Korelasi Spearman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kinerja Pendamping Lokal Desa di Kabupaten Aceh Besar memiliki peran yang sangat efektif untuk peningkatan program Pemberdayaan dan Pembangunan Desa (P3MD), sebesar 83,33% masuk kedalam kategori tinggi, dan sebesar 16,67% masuk kedalam kategori sedang. Hubungan karakteristik Eksternal memiliki hubungan dengan Kinerja Pendamping Lokal Desa antara lain yaitu Sarana Prasarana (X2.3), Jarak kerja (X2.1), dan Lingkungan Kerja (X2.2). Sedangkan untuk karakteristik Internal tidak memiliki hubungan yaitu Pendidikan (X1.1), Masa Kerja (X3.2), dan Usia (X1.3).Kata kunci: Kinerja, Pendamping, Masyarakat, Desa.AbstractMinistry of Village Regulation Number 3 of 2015 concerning Professional Assistance, as an activity to carry out community empowerment actions through village assistance, organization, direction and facilitation. In Article 3 the scope of Village assistance, Village community assistance is carried out in stages to empower and strengthen the Village. In village assistance, one of the parties who deal directly with the community is the Village Facilitator and the Village Local Facilitator. The aims of this research are (a). To find out the Performance of Local Village Facilitators in Aceh Besar District, and (b). To find out what factors are related to the Performance of Village Local Facilitators in Aceh Besar District. Data collection was obtained from interviews (surveys) of 12 Village Local Facilitators in Indrapuri District. The analytical method in this study uses a Likert Scale model and Spearman Correlation statistical test. The results of this study indicate that the Performance of Local Village Facilitators in Aceh Besar District has a very effective role in improving the Village Empowerment and Development (P3MD) program, 83.33% in the high category, and 16.67% in the medium category. The relationship of External characteristics has a relationship with the Performance of Local Village Facilitators, among others, namely Infrastructure (X2.3), Work Distance (X2.1), and Work Environment (X2.2). Meanwhile, the internal characteristics have no relationship, namely education (X1.1), tenure (X3.2), and age (X1.3).Keywords: Performance, Facilitator, Community, Village
|
2022-02-13 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/38070 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v6i2.38070 | |
| 1670821 | #7423 | ANALISIS BIAYA TRANSAKSI PADA DISTRIBUSI DAN PENJUALAN PUPUK BERSUBSIDI (NPK DAN UREA) DI KECAMATAN JATINANGOR |
Alawi, Muhammad Ridwan Souw, Antonius Puteri, Arneta Fergiane Salsabila, Dinia Athaya Maritza, Aurelia Claressa |
AbstrakBiaya transaksi yang tinggi merupakan suatu ciri-ciri dari imperfect market, yang mana biaya transaksi dapat ditekan namun tidak dapat dihilangkan. Biaya transaksi pada distribusi dan penjualan pupuk bersubsidi akan berpengaruh terhadap pendapatan usaha pedagang pupuk bersubsidi karena terjadinya pengurangan surplus yang cukup besar dari pedagang ke pihak lain. Oleh sebab itu penelitian ini berusaha untuk menganalisis saluran distribusi pupuk bersubsidi, pendapatan pedagang, dan biaya transaksi pada distribusi dan penjualan pupuk bersubsidi di Kec. Jatinangor, Kab. Sumedang, Jawa Barat dengan metode analisis pendapatan dan analisis rasio biaya transaksi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa berdasarkan analisis pendapatan pedagang, dapat dikatakan bahwa usaha pupuk toko WG Tani dan Tani Berkah Jaya masih mengalami keuntungan. Sementara analisis biaya transaksi menunjukan biaya terbesar yang harus ditanggung oleh pedagang adalah biaya pelaksanaan dalam proses penjualan dan distribusi pupuk bersubsidi, serta biaya koordinasi.Kata kunci: Biaya Transaksi, Pupuk bersubsidi, Pendapatan, Distribusi.AbstractHigh transaction costs are a characteristic of imperfect markets, where transaction costs can be suppressed but cannot be eliminated. The transaction costs on the distribution and sale of subsidized fertilizers will have an impact on the business income of the subsidised fertilizer trader due to the significant reduction of surpluses from the trader to the other party. Therefore, the study aims to analyze the distribution channels, the traders' revenue, and the transaction cost on distribution and sales of subsidised fertilizer in Jatinangor District, Sumedang Regency, West Java. The results of this study show that based on the analysis of traders' income, it can be said that the business of WG Tani and Tani Berkah Jaya's fertilizer stores is still profitable. Whereas the transaction cost analysis shows that the largest costs to be borne by traders are implementation costs in the process of sale and distribution of subsidized fertilizers, as well as coordination costs.Keywords: Transaction Costs, Subsidized Fertilizer, Income, Distribution.
|
agribisnis, sosial ekonomi pertanian | 2024-08-12 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/54089 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v9i1.54089 |
| 1670820 | #7423 | MOTIVASI PETANI MUDA DALAM PENERAPAN TEKNIK BUDIDAYA PADI SAWAH SECARA ORGANIK DENGAN METODE SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (STUDI KASUS DI KELOMPOK TANI MEKAR SARI IV, DESA CIAPUS, KECAMATAN BANJARAN, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT) |
Fathurrahman, Akmal Trimo, Lucyana |
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat motivasi petani muda dalam menerapkan teknik budidaya padi sawah organik dengan metode SRI, serta mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan motivasi petani muda tersebut dalam penerapan teknik budidaya padi sawah organik dengan metode SRI. Penelitian ini dilakukan di Kelompok Tani Mekar Sari IV, Desa Ciapus, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Teknik pengambilan data dilakukan secara sensus terhadap petani muda anggota kelompok tani tersebut yang menerapkan teknik budidaya padi sawah organik dengan metode SRI, yang berjumlah 30 orang. Desain penelitian ini adalah kualitatif, dengan ditunjang data kuantitatif untuk menyatakan hubungan antara faktor-faktor internal dan eksternal petani muda dengan motivasinya untuk menerapkan teknik budidaya padi sawah tersebut. Teknik penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan korelasional, serta dilakukan uji korelasi Tau B-Kendall untuk mengolah data kuantitatif yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat motivasi petani muda untuk menerapkan teknik budidaya padi sawah tersebut tergolong kategori tinggi. Faktor internal petani muda yang berhubungan nyata terhadap motivasinya dalam menerapkan teknik budidaya padi sawah tersebut adalah umur petani, pendidikan non formal dan akses informasi, sedangkan faktor eksternalnya adalah ketersediaan sarana dan prasarana produksi, serta karakteristik inovasi teknik budidaya padi sawah tersebut. Kata kunci: motivasi, petani muda, padi organik, metode SRI ABSTRACT This research aimed to identify level of young farmer’s motivation and discover factors related to the motivation of young farmers at implementing organic wet paddy cultivation technique with SRI method. This research is held in Kelompok Tani Mekar Sari IV, Desa Ciapus, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Data in this research obtained with sensus technique to 30 members in young age of Kelompok Tani Mekar Sari IV. Desain of this research is qualitative, supported by quantitative data to state relation between internal and external factors of young farmers in their motivation to implement organic wet paddy cultivation technique used. This research applies descriptive technique with correlational approach. Correlaton Tau B-Kendall test is used to process quantitative data obtained. The result of this research shows level of young farmers motivation to implement organic wet paddy cultivation technique with SRI method is classified in high category. The internal factors of young farmers that significantly correlate to their motivation in implementation of organic wet paddy cultivation technique with SRI method are farmer’s age, non formal education, and information access. The external factors of young farmers that significantly correlate to their motivation in implementation of organic wet paddy cultivation technique with SRI method are the availability of farming facilities, and the characteristics of innovation. Keywords: motivation, young farmers, organic paddy, SRI method
|
2019-12-04 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/11564 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v3i1.11564 | |
| 1670819 | #7423 | Analisis Pengaruh Harga Bahan Pokok Penting Terhadap Inflasi di Kota Samarinda (Studi Kasus: Toko Siap Jaga Harga dan Pasokan Pasar Segiri) |
Handayani, Tiara Dwina Imang, Ndan Mariyah, Mariyah |
AbstrakSektor pertanian berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), salah satunya subsektor tanaman pangan yang menghasilkan komoditas beras. Tingkat konsumsi komoditas beras memiliki jumlah yang cukup tinggi yang diikuti dengan beberapa bahan makanan tambahan lain seperti gula dan minyak goreng sehingga ketiganya tergolong ke dalam bahan pokok penting (bapokting). Pemerintah berupaya menstabilkan harga dan pasokan melalui inisiatif seperti Toko Siap Jaga Harga dan Pasokan (Sigap) di Pasar Segiri. Penelitian ini dilakukan pada Oktober-Desember 2024 di Kota Samarinda. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perkembangan harga bahan pokok penting dan inflasi dan menganalisis pengaruh harga bahan pokok penting terhadap inflasi. Data bulanan yang digunakan yaitu dari bulan April 2022-September 2024 diperoleh dari PIHPS Nasional dan BPS Kota Samarinda yang dianalisis menggunakan metode deskriptif dan regresi linear berganda. Harga beras menunjukkan Rp12,450/kg-Rp17,300/kg, harga gula menunjukkan Rp14,750/kg-Rp18,600/kg, dan minyak goreng menunjukkan Rp19,200/L-Rp30,500/L. Inflasi tertinggi di Samarinda mencapai 1,05%, sementara deflasi sebesar -0,2% yang dipengaruhi oleh efek dasar dari inflasi rendah pada tahun sebelumnya dan pelaksanaan operasi pasar. Secara keseluruhan, harga gula, minyak goreng, dan keberadaan Toko Sigap tidak signifikan memengaruhi inflasi di Kota Samarinda. Namun, secara parsial, harga minyak goreng memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap inflasi.Kata kunci: Beras, gula, harga, inflasi, minyak goreng.AbstractThe agricultural sector contributes to Gross Domestic Product (GDP), including the food crop subsector that produces rice. Level of consumption of rice is quite high, followed by several other additional foodstuffs such as sugar and cooking oil, so that all classified as essential goods (bapokting). The government aims to stabilize prices and supply through initiatives like the Ready-to-Guard Price and Supply Store (Sigap) at Segiri Market. The research aims to analyze the price developments of essential goods, inflation and the influence of important essential goods prices on inflation. The research was conducted from October to December 2024 in Samarinda City. Monthly data from April 2022 to September 2024 was obtained from the National Strategic Food Price Information Center and Statistics of Samarinda Municipality to be using descriptive methods and multiple linear regression. The prices for rice ranged from Rp12.450/kg to Rp17.300/kg, sugar from Rp14.750/kg to Rp18.600/kg, and cooking oil from Rp19.200/L to Rp30.500/L. The highest inflation in Samarinda reached 1.05%, while deflation was recorded at -0.2%, influenced by low inflation effects from the previous year and market operations. Overall, the prices of sugar and cooking oil and the presence of Toko Sigap, did not significantly affect inflation in Samarinda. However, cooking oil prices partially had a positive and significant impact on inflation.Keywords: Cooking oil, inflation, price, rice, sugar.
|
Agribisnis; Sosial Ekonomi Pertanian | 2025-07-02 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/62091 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i1.62091 |
| 1670818 | #7423 | ANALISIS EFEKTIFITAS PENDEKATAN HUMAN CENTER DESIGN DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL MENENGAH DI KAWASAN PEDESAAN | Rahmah, Devi M. |
Pendekatan human center design merupakan sebuah pendekatan dengan menitikberatkan manusiasebagai pusat dalam setiap aktifitas di dalam sistem. Industri manufaktur telah lebih dulu menerapkanpendekatan ini dalam meningkatkan produktifitas, efisiensi, dan efektifitas proses kerja sistemindustri. Pendekatan ini jika dianalisis lebih dalam dapat diterapkan pada sistem yang jauh lebih kecildan sederhana. IKM merupakan sistem industri yang lebih sederhana. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui efektitas penerapan pendekatan human center design dalam Industri Kecil menengahditinjau dari produktifitas usaha yang dijalankan. Penelitian dilakukan di Paguyuban IKM yang ada diDesa Pagedangan Kec.Indramayu. Metode yang dilakukan adalah dengan wawancara terstruktur padapelaku IKM seteah pendekatan Human center design ini diterapkan sebelumnya. Hasil Penelitianmenunjukkan bahwa terdapat peningkatan efektifitas aktifitas usaha yang dilakukan terhadappeingkatan motivasi pelaku IKM untuk mengembangkan IKM yang dikelolanya sejumlah 75%,peningkatan omset penjualan sebesar 25%, penguatan jejaring pasar, serta kemampuan melakukaninovasi produk.Kata kunci : human center design, IKM pedesaan
|
2016-07-23 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/22686 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v1i1.22686 | |
| 1670817 | #7423 | PERANAN WANITA TANI DALAM KETAHANAN PANGAN KELUARGA PETANI CABAI RAWIT PADA SISTEM PERTANIAN TROPIS |
Nurhayati, Novi Nilasari, Dwi Tri Selvia, Jerry |
AbstrakUsahatani cabai rawit di Kecamatan Arut Selatan mempunyai prospek untuk dikembangkan. Wanita tani merupakan istri dari para suami petani cabai rawit. Salah satu peran wanita tani dalam rumah tangga adalah menjaga ketahanan pangan keluarga dalam hal pemenuhan ketersedian, keterjangkauan dan keamanan pangan. Tujuan penelitian mengetahui peran wanita tani dalam mendukung ketahanan pangan keluarga petani cabai rawit pada sistem pertanian tropis dalam aspek produksi, distribusi dan konsumsi pangan; mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi peran wanita tani dalam mendukung ketahanan pangan keluarga pada aspek sosial, ekonomi dan budaya. Jenis penelitian deskriptip kuantitatif. Penelitian ini menggunakan data primer dan data skunder. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 67 responden. Alat analisis yang dipergunakan analisis deskriptip kuantitatif dengan bantuan skala Likert dan regresi linier berganda. Hasilnya adalah peranan wanita tani dalam produksi pangan sebesar 71,16%,, distribusi pangan sebesar 77,43% dan konsumsi pangan sebesar 66,86%. Faktor sosial, ekonomi dan budaya berpengaruh secara signifikan terhadap peranan wanita tani dalam mendukung ketahanan pangan keluarga petani cababai rawit dalam sistem pertanian tropis.Kata kunci: Wanita Tani, Ketahanan Pangan, Keluarga Petani, Cabai Rawit, Pertanian Tropis.Abstract Chili pepper farming in South Arut District has potential for development. Female farmers are the wives of husbands who farm chili peppers. One of the roles of female farmers in the household is to maintain family food security in terms of fulfilling the availability, affordability and safety of food. The purpose of this study is to determine the role of female farmers in supporting the food security of chili pepper farming families in tropical agricultural systems in the aspects of food production, distribution and consumption; to determine the factors that influence the role of female farmers in supporting family food security in social, economic and cultural aspects. This type of research is quantitative descriptive. This study uses primary data and secondary data. The sampling technique used in this study was simple random sampling, with a sample size of 67 respondents. The analytical tool used is quantitative descriptive analysis with the help of a Likert scale and multiple linear regression. The results of this study are the role of female farmers in food production of 71.16%, food distribution of 77.43% and food consumption of 66.86%. Social, economic and cultural factors significantly influence the role of women farmers in supporting the food security of cayenne pepper farming families in tropical agricultural systems.Keywords: Female Farmers, Food Security, Farming Families, Cayenne Pepper, Tropical Agriculture.
|
Sosial Ekonomi Pertanian; Ekonomi Pertanian; Agribisnis | 2025-12-22 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/66343 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/agricore.v10i2.66343 |