| ID ↓ | ID URL | Judul | Penulis | Deskripsi / Abstrak | Subjek / Kata Kunci | Tanggal | Link Identifier |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1672256 | #3358 | Optimasi Suhu Pemanasan Minuman Fungsional Ubi Jalar Ungu : Bioaktif, BAL dan Organoleptik | Optimasi Suhu Pemanasan Minuman Fungsional Ubi Jalar Ungu : Bioaktif, BAL dan Organoleptik |
Basrin, Fitriani Sulfianti, Sulfianti Berlian, Miming Andi Pallawa, Nadirah B Indriasari, Yuanita If'all, If'all Chaniago, Ramadhani |
Tren gaya hidup sehat mendorong pengembangan minuman fungsional berbasis ubi jalar ungu karena praktis, bergizi, dan digemari masyarakat. Namun, tantangan utama terletak pada proses pengolahan, khususnya pemanasan. Antosianin sangat sensitif terhadap suhu tinggi, pH, oksidasi, dan cahaya, sehingga mudah terdegradasi selama pemrosesan. Selain itu, viabilitas bakteri asam laktat sebagai mikroba probiotik sangat bergantung pada suhu pemrosesan. Untuk perlu dilakukan kajian tentang pengaruh suhu pemanasan terhadap bioaktif, viabilitas bakteri asam laktat dan organoleptik minuman fungsional ubi jalar ungu agar diperoleh suhu pemrosesan yang optimal. Penelitian ini didesain menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan faktor suhu pemanasan yaitu 70oC; 80oC; 90oC; 100oC. Perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga diperoleh 20 sampel percobaan yang diuji kadar antosianin, aktivitas antioksidan, total bakteri asam laktat dan tingkat kesukaan secara organoleptik (uji hedonik) menggunakan 20 orang panelis terlatih. Perlakuan pemanasan dengan berbagai suhu (70 – 100oC) terbukti berpengaruh signifikan terhadap bioaktif seperti kadar antosianin dan aktivitas antioksidan, viabilitas bakteri asam laktat, dan tingkat kesukaan minuman fungsional ubi jalar ungu, dimana penggunaan suhu 70oC masih dapat mempertahankan bioaktif dari produk minuman fungsional dengan kadar antosianin sebesar 81,72 mg/L dan aktivitas antioksidan (IC50) sebesar 11,61 µg/mL (aktivitas antioksidan sangat kuat). Untuk viabilitas BAL perlakuan suhu 70 – 100oC terbukti menurunkan jumlah BAL yang ada di dalam produk secara signifikan (<107 CFU/L) dengan total BAL berkisar 0,0407 – 6,06 x 104 CFU/L. Sementara tingkat kesukaan secara organoleptik diperoleh suhu 80oC mampu menghasilkan produk minuman fungsional yang paling disukai oleh panelis baik tekstur (4,5), rasa (4,55), aroma (3,65) dan warnanya (3,45). | Tren gaya hidup sehat mendorong pengembangan minuman fungsional berbasis ubi jalar ungu karena praktis, bergizi, dan digemari masyarakat. Namun, tantangan utama terletak pada proses pengolahan, khususnya pemanasan. Antosianin sangat sensitif terhadap suhu tinggi, pH, oksidasi, dan cahaya, sehingga mudah terdegradasi selama pemrosesan. Selain itu, viabilitas bakteri asam laktat sebagai mikroba probiotik sangat bergantung pada suhu pemrosesan. Untuk perlu dilakukan kajian tentang pengaruh suhu pemanasan terhadap bioaktif, viabilitas bakteri asam laktat dan organoleptik minuman fungsional ubi jalar ungu agar diperoleh suhu pemrosesan yang optimal. Penelitian ini didesain menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan faktor suhu pemanasan yaitu 70oC; 80oC; 90oC; 100oC. Perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga diperoleh 20 sampel percobaan yang diuji kadar antosianin, aktivitas antioksidan, total bakteri asam laktat dan tingkat kesukaan secara organoleptik (uji hedonik) menggunakan 20 orang panelis terlatih. Perlakuan pemanasan dengan berbagai suhu (70 – 100oC) terbukti berpengaruh signifikan terhadap bioaktif seperti kadar antosianin dan aktivitas antioksidan, viabilitas bakteri asam laktat, dan tingkat kesukaan minuman fungsional ubi jalar ungu, dimana penggunaan suhu 70oC masih dapat mempertahankan bioaktif dari produk minuman fungsional dengan kadar antosianin sebesar 81,72 mg/L dan aktivitas antioksidan (IC50) sebesar 11,61 µg/mL (aktivitas antioksidan sangat kuat). Untuk viabilitas BAL perlakuan suhu 70 – 100oC terbukti menurunkan jumlah BAL yang ada di dalam produk secara signifikan (<107 CFU/L) dengan total BAL berkisar 0,0407 – 6,06 x 104 CFU/L. Sementara tingkat kesukaan secara organoleptik diperoleh suhu 80oC mampu menghasilkan produk minuman fungsional yang paling disukai oleh panelis baik tekstur (4,5), rasa (4,55), aroma (3,65) dan warnanya (3,45).
|
Antioksidan; bakteri asam laktat; organoleptik; suhu pemanasan; ubi jalar ungu Antioksidan; bakteri asam laktat; organoleptik; suhu pemanasan; ubi jalar ungu | 2025-12-30 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/66911 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol19n3.10 |
| 1672255 | #3358 | Analisis Pindah Panas Pada Pengeringan Tepung Singkong (Manihot utilissima) Menggunakan Pneumatic Flash Dryer |
Wijaya, Rizza K, Mokhamad Fatoni Handayani, Anna Mardhiana |
Singkong merupakan tanaman yang dapat mudah kita jumpai di Indonesia, bahan pangan ini juga merupakan salah satu yang memiliki jumlah karbohidrat tinggi. Beberapa permasalahan pada pengolahan tepung singkong ini, antara lain: proses pengeringan parutan singkong, teknologi pembuatan tepung singkong, dan parameter kualitas tepung singkong. Metode pengeringan secara mekanis diharapkan dapat lebih baik dibandingkan dengan metode penjemuran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui performa dari alat pengering flash dryer paa pengeringan tepung singkong. Pengeringan dengan menggunakan langkah tradisional membutuhkan 3-5 jam, sehingga dapat menghambat untuk proses selanjutnya. Pada penelitian ini dilakukan pengeringan dengan memanfaatkan pengering tipe pneumatic (flash) dryer. Pengeringan pada debit udara bukaan 50% (14,63 m3/s) mampu menghasilkan suhu pengeringan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pengeringan pada debit udara bukaan 75% (20,57 m3/s). Kadar air akhir bahan setelah proses pengeringan sudah sesuai dengan SNI tepung singkong yaitu kurang dari 15 %. Efisiensi pengeringan berkisar antara 47 – 53 %.
|
Teknologi Pertanian efisiensi; pengeringan; pneumatic flash dryer; singkong Mekanisasi Pertanian | 2021-12-21 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/36728 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol15n2.5 |
| 1672254 | #3358 | KARAKTERISTIK SPASIAL HUJAN PADA MUSIM KEMARAU DAN MUSIM PENGHUJAN DI JAWA TIMUR |
arto, Ind Widodo, Suhardjo Setyeni, Fentry Ayu |
Artikel memaparkan karakteristik spasial hujan-bulanan di Jawa Timur. Analisa dilakukan dengan membedakan karakteristik hujan bulanan pada musim kemarau dan musim penghujan. Data hujan dari 943 stasiun hujan yang mencakup seluruh wilayah Jawa Timur digunakan untuk analisa. Data hujan bulanan tersebut selanjutnya dibagi menjadi dua bagian: (1) musim kemarau, dan (2) musim penghujan. Selanjutnya, analisa stasitik spasial dilakukan dengan menggunakan fitur Exploratory Spatial Data Analysist (ESDA) yang ada pada ArcGIS Geostatistical Analyst. Fitur ESDA yang digunakan, meliputi : Trend Analisys, QQPlot, Histogram, dan Voronoi Map. Distribusi spasial hujan bulanan selanjutnya diinterpolasi dari titik-titik pengukuran menggunakan metode interpolasi Inverse Distance Weightin (IDW). Hasil analisa menunjukkan bahwa distirbusi spasial hujan pada musim penghujan tidak merata. Wilayah di bagian selatan Jawa Timur (Tulungagung, Blitar, Kediri, Pacitan, Jember, Probolinggo, dan Malang) menerima curah hujan lebih banyak. Analisa juga menunjukkan adanya perbedaan awala musim kemarau di internal wilayah Jawa Timur. Kata kunci : karakteristik spasial, hujan bulanan, EDSA, Jawa Timur.
|
2012-09-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6346 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1672253 | #3358 | KAJIAN POTENSI ANTIMIKROBA DAN FITOKIMIA EKSTRAK BUAH KETAPANG BADAK (Ficus lyrata Warb) SEBAGAI PENGAWET ALAMI |
Wira, Dwi Wahyudha Djali, Mohammad Balia, Roostita L. |
Jenis pelarut yang efektif untuk mengekstraksi senyawa anti-mikroba (agen pengawet alami) pada buah ketapang badak (Ficus lyrata Warb) perlu diidentifikasi. Kajian dilakukan dengan metode ekstraksi maserasi dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Dalam proses ekstraksi maserasi digunakan 3 jenis pelarut (air, etanol 70 %, dan etil asetat) untuk mengekstrak senyawa metabolit sekunder seperti fenol, flavonoid dan tanin (senyawa anti mikroba) yang diketahui memiliki efek menghambat perkembangan bakteri penyebab penurunan kualitas produk pangan. Efeknya diujikan kepada 3 jenis bakteri uji, yaitu; Pseudomonas aeruginosa, Eschericia coli, dan Bacillus subtilis. Hasil studi mengindikasikan terbentuknya zona bening pada media tes yang membuktikan bahwa ekstraksi dari buah ketapang badak memang memiliki aktivitas anti-mikroba. Etil asetat terbukti lebih banyak melarutkan flavonoid (13,6 mg/L) daripada air (12,73 mg/L) atau etanol 70 % (13,13 mg/L), sehingga lebih efektif dalam menghambat perkembangan ketiga bakteri uji. Selain itu, flavonoid memiliki diameter penghambat berturut-turut lebih tinggi 2,97 mm, 4,70 mm, dan 5,98 mm daripada Pseudomonas aeruginosa, Eschericia coli; dan Bacillus subtilis. Berdasarkan uji kualitatif dan kuantitatif, senyawa dominan yang dimiliki ekstrak buah ketapang badak adalah tannin (27, 5 mg/l - 38.75 mg/l) dan senyawa fenolik (28.5 - 38,25 mg/l). Tingginya konsentrasi metabolit sekunder, terutama tanin, flavonoid dan senyawa fenol, menjadikan buah ketapang badak potensial digunakan sebagai bahan baku anti mikroba alami. Kata kunci: pelarut, ekstraksi, buah Ketapang badak, anti-mikroba, pengawet alami
|
2014-08-12 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4798 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1672252 | #3358 | Analisis Perbandingan Kualitas Biji Kakao (Theobroma cacao L.) dengan Berbagai Wadah Fermentasi Menggunakan Kultur Campur |
Sucipto, Christhoperus William Vincent Handoko, Yoga Aji |
Sebagian besar kualitas biji kakao di Indonesia pada umumnya menghasilkan kualitas yang rendah, baik secara fisik ataupun cita rasa. Masih sedikit para petani yang melakukan proses fermentasi biji kakao, padahal biji kakao fermentasi memiliki kualitas yang lebih baik daripada biji kakao non fermentasi. Terbatasnya jumlah panen biji kakao menyebabkan petani enggan melakukan fermentasi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk memperoleh potensi wadah fermentasi ukuran kecil dalam fermentasi biji kakao dengan bantuan kultur campur Lactobacillus plantarum, Acetobacter tropicalis, dan Saccharomyces cerevisiae. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 8 perlakuan dan 4 kali ulangan. Setiap wadah fermentasi dari kotak kayu, besek, bambu, dan paralon menggunakan biji kakao basah sebanyak 1 kg yang difermentasi dengan pemberian kultur campur (10%) dan tanpa pemberian kultur sebagai kontrol. Parameter pengujian yang dilakukan yaitu pH, suhu, rendemen, kadar air, cut test, gula reduksi, total asam, kadar lemak, dan organoleptik yang meliputi: tekstur, warna, aroma, rasa. Hasil terbaik diperoleh dari perlakuan kotak kayu dengan perlakuan kultur campur dengan nilai rendemen (36,18%), kadar air (6,67%), cut test (93%), gula reduksi (2,74%), asam total (0,35%), lemak (46,75%), organoleptik tekstur (4/S), warna (4,5/SS), aroma (4,15/S) dan rasa (3,85/S).
|
teknik pengolahan hasil pertanian fermentasi, kakao, kultur campur, wadah Teknik pengolahan | 2023-02-22 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/42697 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol16n3.8 |
| 1672251 | #3358 | Pemetaan Zonasi Banjir Bandang Menggunakan Metode Frekuensi Rasio dan Weight of Evidence di Sumberjambe Jember |
Amiluddin, Afif Derka, Icha Tatrisya Faradella, Maulida Sugianti, Devi Hanurani Katminto, Katminto Novita, Elida Hidayah, Entin |
Bencana banjir bandang di kecamatan Sumberjambe mengakibatkan kerusakan saluran air bersih bagi masyarakat. Kondisi tersebut menunjukan perlunya informasi area yang aman untuk pemasangan pipa air bersih. Hal ini menunujukan diperlukannya informasi mengenai zonasi area banjir bandang, sebagai bentuk antisipasi dan mitigasi supaya tidak berdampak serupa dan mengurangi potensi korban jiwa. Tujuan umum Penelitian ini adalah membuat peta zonasi bencana banjir bandang berbasis Sistem Informasi geografis (SIG) dan Penginderaan Jauh. Tujuan Khusus penelitian mencakup, Identifikasi dan inventarisasi data berbasis survei lapangan dan penginderaan jauh. Menentukan faktor alam yang berpengaruh yaitu, Elevasi, Kemiringan Tanah, Indeks kesehatan tanaman (NDVI), Tataguna Lahan, Jarak Terhadap Sungai, Kepadatan Sungai, dan Indeks Kelembapan Topografi (TWI). Menentukan faktor yang memiliki kontribusi besar terhadap kejadian menggunakan statistik bivariat Frekuensi Rasio (FR) dan Weight of Evidence (WoE). Penelitian ini terdiri dari survei lapangan kejadian banjir bandang, pembagian sampel, inventarisasi data faktor, perhitungan bobot faktor, perhitungan faktor dan Analisis Area Under the Curve (AUC). Hasil evaluasi AUC menunjukan tingkat akurasi FR 0.96 dan WoE0.82, FR menghasilkan model dengan akurasi yang lebih baik di wilayah studi.
|
Geohydrodynamics Banjir bandang; pemetaan kerentanan; sistem informasi geografis; penginderaan jauh; rasio frekuensi; weight of evidence; mitigasi bencana Geomatics engineering | 2026-04-29 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/69967 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol20n1.13 |
| 1672250 | #3358 | SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN BERBASIS JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK PERAMALAN HARGA TANAMAN PANGAN |
Simanungkalit, Ferlando Jubelito Sutiarso, Lilik Purwadi, Didik |
Peramalan harga tanaman pangan perlu dirancang untuk memberikan stimulus kepada para pengambil keputusan terkait dengan kebijakan stabilisasi harga pangan, tendensi harga masa depan, dan jadwal tanam yang dapat memaksimumkan laba. Kajian dilakukan berdasarkan tingkat harga bulanan komoditas tanaman pangan bulan Januari 2000-Juli 2011 di Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta. Metode penilaian Mean Square Error (MSE) dan Mean Absolute Percentage Error (MAPE) dengan toleransi validitas 15 persen digunakan untuk menentukan komoditas tanaman pangan dari 324 percobaan yang memiliki performansi terbaik. Dari 6 jenis komoditas tanaman pangan yang menjadi objek kajian, arsitektur JST yang paling baik diperoleh dari komoditas beras IR64 dengan arsitekur [12 – 32 – 1], nilai laju pembelajaran 1,75 dan kisaran transformasi data terletak pada [0 dan 1], dengan nilai MSE dan MAPE pelatihan, pengujian dan validasi berturut-turut adalah [0,00125 dan 2,807 %], [0,0219 dan 3,289 %], [0,0244 dan 3,575 %]. Kata kunci: sistem pendukung keputusan, jaringan syaraf tiruan, peramalan harga, tanaman pangan.
|
2013-09-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6387 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1672249 | #3358 | PENGARUH IMBANGAN TEPUNG BONGGOL PISANG BATU (Musa brachycarph) DAN TEPUNG JAGUNG TERHADAP BEBERAPA KARAKTERISTIK COOKIES |
Sumanti, Debby Moody Rahimah, Souvia Andoyo, Robi Gunawan, Asriyanti Septiani |
Tepung bonggol pisang sebagai bahan baku pengganti terigu dalam pembuatan cookies, mempunyai rasa sepat dan mengandung protein yang rendah. Penambahan tepung jagung dapat mengurangi rasa sepat dan meningkatkan nilai protein cookies. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan imbangan tepung bonggol pisang dan tepung jagung yang tepat sehingga dihasilkan cookies yang mempunyai karakteristik baik dan disukai oleh panelis. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan terdiri dari imbangan tepung bonggol pisang dan jagung 90:10 ; 80:20 ; 70:30 ; 60:40 ; 50:50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa imbangan tepung bongol pisang dan tepung jagung 50 : 50 memberikan hasil yang terbaik dari segi kandungan kimia (kadar air 1,30%, kadar abu 3,79%, kadar protein 3,26%, kadar lemak 36,10%, karbohidrat 55,53%, nilai kalori 560,14 kkal) dan sifat organoleptik (warna, aroma, rasa, kerenyahan, keremahan dan kenampakan keseluruhan) yang dapat diterima oleh panelis. Kata kunci: Rasio tepung bonggol pisang dan jtepung jagung, Kandungan kimia, Tes organoleptik
|
2014-12-23 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/5001 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1672248 | #3358 | Back Matter | Team, Teknotan Editorial |
Tidak ada deskripsi
|
2024-12-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/60793 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1672247 | #3358 | Analisis Nilai Tambah Agroindustri Barang Jadi Karet di Propinsi Lampung |
Hidayati, Sri Suroso, Erdi Setiawan, Teguh Septiyan, Joshua Kurniawan, Agus |
Lampung merupakan salah satu sentra perkebunan karet yang belum banyak memiliki pabrik pengolahan barang jadi karet. Harga karet yang cenderung menurun menyebabkan penurunan pendapatan petani karet. Upaya untuk mendapatkan added value karet adalah dengan mengolah karet menjadi produk barang jadi karet. Beberapa jenis agroindustri barang jadi karet yang tidak memerlukan teknologi yang tinggi seperti kasur busa, sarung tangan, selang kateter, dan dot dapat diaplikasikan di Lampung. Penelitian bertujuan untuk menentukan jenis industri barang jadi karet yang potensial di Provinsi Lampung dan lokasi yang cocok untuk pendirian agroindustri barang jadi karet. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survei dan wawancara secara mendalam kepada pakar karet dan industri serta data sekunder dari literatur, artikel, jurnal dan data statistik. Pemilihan produk potensial dan lokasi usaha dilakukan dengan menggunakan metode Bayes dan menghitung nilai tambah dari produk terpilih dengan menggunakan metode Hayami. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan metode Bayes maka pemilihan komoditas unggulan untuk di Provinsi Lampung adalah kasur busa dengan nilai Metode Bayes sebesar 4,048 dan lokasi terpilih adalah kabupaten Lampung Utara dengan nilai 3,875. Berdasarkan metode Hayami maka nilai tambah yang dihasilkan jika lateks pekat diolah menjadi kasur busa adalah Rp. 8549,56/kg lateks pekat dengan nilai rasio nilai tambah adalah sebesar 18,45%.
|
lateks; karet; metode Bayes; metode Hayami | 2020-08-21 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/24302 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol14n1.1 |
| 1672246 | #3358 | PEMANFAATAN KULIT LIDAH BUAYA (Aloe vera Linn.) DAN BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa Linn.) DALAM PEMBUATAN MINUMAN HERBAL |
siska, Ten Sumanti, Debby M. Sari, Vika Heiditika |
Rasa pahit, bau langu dan warna pucatnya, minuman herbal dari kulit pelepah daun lidah buaya dapat dihilangkan dengan campuran imbangan tertentu dengan bunga Rosella. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 5 perlakuan imbangan antara kulit daun lidah buaya kering dan bunga Rosella kering, yaitu: 80:20, 75:25, 70:30, 65:35 dan 60:40 persen. Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan uji organoleptik, perlakuan dengan imbangan 65:35 persen telah menghasilkan minuman herbal yang paling disukai panelis, yaitu pada pH 4.51, asam sitrat 0.0817 persen, kisaran warna merah ungu (red purple) berdasarkan nilai 0Hue, kadar vitamin C 0.015 persen berdasarkan titrasi iodimetri, kadar tanin minuman 5.10 persen dan aktivitas antioksidan 407.58 ppm berdasarkan nilai IC50 (Inhibition concentration 50%). Kata kunci : Lidah buaya, Bunga rosela, Minuman herbal
|
2012-01-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6315 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1672245 | #3358 | Back Matter | Team, Teknotan Editorial |
Tidak ada deskripsi
|
2025-08-05 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/66356 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1672244 | #3358 | Potensi Tepung Biji Durian (Durio zibenthinus Murr) dan Tepung Biji Nangka (Artocarpus heterophyllus) Sebagai Prebiotik |
Rosahdi, Tina Dewi Kurniasih, Nunung Supriadin, Asep Sari, Fitri Ayu Novita Aisah, Dewi Siti |
Biji nangka dan biji durian merupakan limbah organik yang belum dimanfaatkan secara optimal. Biji durian mempunyai kandungan serat sebesar 22,48 % sedangkan biji nangka 7,46 %, yang dapat dimanfaatkan sebagai pangan fungsional. Senyawa oligosakarida yang terdapat dalam kedua biji tersebut dapat dijadikan sebagai sumber prebiotik pada bakteri asam laktat (BAL). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas tepung biji nangka dan durian sebagai media pertumbuhan bakteri Lactobacillus casei. Pengujian hasil fermentasi tepung dilakukan pada jam ke 0, 24, 48, dan 72 dengan dilakukan analisis jumlah bakteri, pH, total asam, dan gula reduksi. Fermentasi 48 jam merupakan waktu puncak untuk pertumbuhan Lactobacillus casei. Jumlah bakteri pada tepung biji nangka sebanyak 3,24×1010 sel/ml, sedangkan pada tepung biji durian 3,04 × 1010 sel/ml. Nilai pH dari tepung biji nangka yaitu pH 3,8, sedangkan tepung biji durian 4,3. Total asam pada substrat tepung biji nangka yaitu 0,357 % dan 0,354 % pada tepung biji durian. Kadar gula reduksi pada tepung biji nangka 2,4658 mg/ml, sedangkan tepung biji durian 2,4925 mg/ml. Dengan membandingkan jumlah bakteri, nilai pH dan total asam diketahui bahwa tepung biji nangka lebih efektif sebagai prebiotik bagi bakteri L. casei daripada tepung biji durian.
|
teknik pengolahan hasil pertanian pangan fungsional; prebiotik; tepung biji nangka; tepung biji durian; total asam pangan | 2022-04-15 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/36216 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol16n1.5 |
| 1672243 | #3358 | GASIFIKASI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT MENGGUNAKAN UPDRAFT GASIFIER |
Purwantana, Bambang Prastowo, Bambang Abineno, Jemseng Carles |
Limbah tandan kosong kelapa sawit sebanyak 6 juta ton/tahun dengan kandungan energi dalam bentuk gas sebesar 17.08 MJ/kg tandan perlu dimanfaatkan. Namun belum terungkap sejauh mana energi tersebut dapat dipanen secara efektif dengan alat gasifikasi yang ada. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kinerja gasifikasi tandan kosong kelapa sawit menggunakan updraft gasifier. Metode deskriptif analisis dilakukan pada beberapa variasi ukuran potongan bahan, pemadatan umpan, dan laju aliran udara input, dimana kinerja gasifikasi ditentukan berdasarkan parameter laju gasifikasi, efisiensi, suhu proses, suhu nyala api pembakaran syngas, dan prosentase residu yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gasifier tipe updraft cukup efektif untuk proses gasifikasi tandan kosong kelapa sawit dengan efisiensi proses 60–80 %, laju proses 2,75 – 3,50 kg/jam, dan menghasilkan syngas dengan suhu bakar 320 - 570 ºC. Kinerja gasifikasi terbaik dicapai pada debit udara input 300 - 400 lpm, ukuran potongan bahan < 4 cm, dan tekanan pada bahan 0,05-0,06 kg/cm2. Pada perlakuan tersebut dicapai laju proses sebesar 3-3,5 kg/jam, efektivitas proses 14 menit/kg, efisiensi proses 80 %, suhu nyala api syngas 540 °C. Kata kunci: gasifikasi, TKKS, ukuran, tekanan, kinerja
|
2013-01-01 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/6361 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1672242 | #3358 | PENGARUH IMBANGAN TEPUNG RASI (BERAS AMPAS SINGKONG), TEPUNG JAGUNG, DAN TEPUNG KACANG HIJAU TERHADAP BEBERAPA KARAKTERISTIK FLAKES TRIPLE MIXED ”SI JAGO” |
Sunyoto, Marleen Sukarti, Tati Marina, Tika |
Tepung rasi merupakan alternatif sumber pangan yang kaya akan energi dan berbasis pada potensi lokal karena terbuat dari rasi yang merupakan produk olahan dari limbah pembuatan pati singkong atau tapioka. Tepung rasi mempunyai kandungan energi yang hampir setara dengan beras, yaitu sebesar 359 kkal/100 gram bahan sehingga dapat dimanfaatkan menjadi makanan sarapan seperti flakes. Flakes harus memiliki karakteristik yang renyah sehingga diperlukan bahan tambahan lain seperti tepung jagung untuk memperbaiki sifat organoleptik dari produk. Selain itu, ditambahkan pula tepung kacang hijau yang memiliki kandungan protein tinggi sehingga dapat meningkatkan nilai gizi protein dari flakes. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan imbangan yang tepat antara tepung rasi, tepung jagung dan tepung kacang hijau yang digunakan dalam pembuatan flakes agar dihasilkan flakes triple mixed ”Si Jago” dengan karakteristik yang baik dan disukai oleh panelis. Metode penelitian yang digunakan adalah metode percobaan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan terdiri dari imbangan tepung rasi, tepung jagung dan tepung kacang hijau, yaitu 40:10:50, 40:20:40, 40:30:30, 40:40:20, dan 40:50:10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa imbangan tepung rasi, tepung jagung dan tepung kacang hijau 40:10:50 memberikan hasil yang terbaik dengan kandungan kadar air 3,5 %, kadar protein 12,5 %, daya rehidrasi 27,6 %, berwarna kuning kecoklatan, rendemen 90,6 %, kekerasan 936 gF dan memiliki sifat organoleptik (aroma, warna, rasa, kerenyahan, dan kerenyahan dalam susu) yang dapat diterima oleh panelis. Kata kunci : Tepung rasi, Tepung jagung, Tepung kacang hijau, flakes
|
2014-07-21 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4807 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1672241 | #3358 | Pengaruh Kerapatan Unggun Bahan pada Distilasi Uap terhadap Rendemen dan Komposisi Minyak Jeruk Purut |
Dewi, Luthfi Kurnia Cahyani, Chandrawati Wardani, Novelia Puspa Sella, Hasanuddin |
Minyak jeruk purut (kaffir lime oil) banyak digunakan dalam industri flavor, minuman, makanan, farmasi, pewarna, dan parfum. Komponen utama dalam minyak jeruk purut yaitu sitronelal, sitronelol, geraniol, dan linalool. Minyak jeruk purut dapat dihasilkan dengan menggunakan metode distilasi uap. Dalam proses distilasi uap, kerapatan unggun bahan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi jumlah rendemen dan kualitas minyak yang dihasilkan karena kerapatan unggun berkaitan dengan aliran uap yang melalui tumpukan bahan yang dapat mempengaruhi jumlah minyak yang dapat terbawa oleh uap tersebut menjadi kondensat. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kerapatan unggun (daun dan batang jeruk purut) pada proses distilasi terhadap jumlah rendemen dan komposisi minyak jeruk purut yang dihasilkan. Pada penelitian ini menggunakan metode distilasi uap indirect selama 6 jam, tekanan 1,2 kg/cm2 (gauge), laju alir uap sebesar 2 L/jam. Perbandingan berat bahan daun dan batang 1:1. Kerapatan unggun divariasi sebesar 0,075 kg/L, 0,100 kg/L dan 0,125 kg/L. Berdasarkan hasil penelitian, kerapatan unggun daun dan batang jeruk purut berpengaruh terhadap rendemen minyak jeruk purut yang dihasilkan yaitu pada kerapatan unggun 0,075 kg/L, 0,100 kg/L dan 0,125 kg/L menghasilkan rendemen berturut-turut sebesar 0,979%, 0,854% dan 0,647%. Kerapatan unggun 0,075 kg/L merupakan kerapatan yang terbaik dengan rendemen dan kadar sitronelal (78,98%) tertinggi. Kata kunci: distilasi uap; kerapatan unggun bahan; minyak jeruk purut; rendemen; sitronelal
|
teknik pengolahan hasil pertanian distilasi uap; kerapatan unggun bahan; minyak jeruk purut; rendemen; sitronelal | 2023-04-28 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/44409 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol17n1.8 |
| 1672240 | #3358 | APLIKASI IRIGASI PORTABLE SPRINKLER PADA TANAMAN PAKCOY (BRASSICA JUNCEA L.) DI DESA MARGA AGUNG KECAMATAN JATI AGUNG LAMPUNG SELATAN |
Okvidiantoro, Kiki Dwi Tusi, Ahmad Lanya, Budianto |
Mayoritas petani di Desa Marga Agung menggunakan air hujan sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan air tanaman. Pada musim kemarau, petani tidak dapat melakukan aktivitas budidaya tanaman karena terbatasnya sumber air. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi dan efesiensi pemakaian air irigasi yang tepat guna yaitu dengan menggunakan irigasi sprinkler. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kinerja dan aplikasi portable sprinkler pada budidaya tanaman pakcoy (Brassica juncea L.). Hasil menunjukkan laju infiltrasi tanah (52 mm/jam) di lokasi penelitian lebih besar dibandingkan laju aplikasi sprinkler sebesar (6.49 mm/jam), sehingga pada saat dilakukan penyiraman tidak terjadi aliran permukaan (run off). Nilai koefisien keseragaman/coeficient uniformity (CU) sebesar 53.13%. Rendahnya nilai koefisien keseragaman yang diperoleh disebabkan karena penggunaan metode single nozzle head sprinkler dan tingginya kecepatan angin yang terjadi di lokasi penelitian sebesar 0.66 m/det. Hasil produksi tanaman pakcoy sebesar 1.7 kg/m2 dengan berat per tanaman 70 gram/tanaman.Kata kunci: irigasi portable sprinkler, tanaman pakcoy, pompa.
|
2016-10-31 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8827 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1672239 | #3358 | PENGARUH PENGGUNAAN JENIS GULA DAN KONSENTRASI SARIBUAH TERHADAP KESUKAAN KARAKTERISTIK SIRUP JERUK KEPROK GARUT (CITRUS NOBILIS LOUR) |
Marta, Herlina Widyasanti, Asri Sukarti, Tati |
Penelitian untuk menentukan jenis gula dan konsentrasi saribuah yang tepat sehingga dihasilkan sirup Jeruk Keprok Garut yang mempunyai karakteristik baik dan disukai panelis telah dilakukan di Laboratorium Teknologi Pengolahan Pangan FTIP, UNPADBandungdari April sampai Oktober 2007. Metode percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan terdiri dari 8 perlakuan, yang diulang sebanyak 4 kali. Perlakuan yang dicobakan adalah kombinasi penggunaan jenis gula (sukrosa, fruktosa) dan konsentrasi saribuah (30% v/v, 35% v/v, 40% v/v dan 45% v/v) terhadap karakteristik sirup Jeruk Keprok Garut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis gula sukrosa dengan konsentrasi saribuah 40% menghasilkan sirup Jeruk Keprok Garut yang lebih disukai dibandingkan dengan perlakuan lain dengan nilai kesukaan (skor 1 = tidak suka; 2 = agak tidak suka; 3 = biasa; 4 = agak suka; dan 5 = suka); warna (4,42 = agak suka); aroma (3,42 = biasa); kekentalan (4,59 = suka); warna hasil pengenceran (4,33 = agak suka); aroma hasil pengenceran (3,33 = biasa); dan rasa hasil pengenceran (4,17 = agak suka); dengan kadar gula total 69,7%; kadar vitamin C 1,76 mg/100 g; dan nilai pH 3,15. Kata kunci: Jeruk keprok garut, Sirup, Karakteristik
|
2014-12-23 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/4865 buka_link ↗ Highlight_link | |
| 1672238 | #3358 | Soil Color Comparison Using Munsell Soil Color Chart and Calibrated Smartphone Camera |
Kautsar, Valensi Faizah, Kuni Uktoro, Arief Ika |
Soil color is a crucial property in soil fertility assessment and monitoring. However, the subjective nature of the Munsell Soil Color Chart (MSCC) can lead to uncertainty in the analysis. To address this issue, a study was conducted to develop a soil color classification model from smartphone digital imagery based on color analysis and MSCC. The study involved taking 26 soil samples from various soil types and locations in the Special Region of Yogyakarta, Indonesia. Digital images of the soil were taken through a smartphone camera and compared with observations using MSCC to compare color differences (ΔE) based on Lab values. Soil images obtained from indoor studio conditions and calibration using spydercheckr in indoor and outdoor conditions are compared with MSCC and Chromameter values. The L*a*b color space was found to be superior to RGB for predicting and detecting small differences in color. The study also found that the Munsell soil color chart (MSCC) had a lower color difference than the chromameter in all lighting conditions, indicating that the MSCC or visual assessment can better detect the main soil color or soil matrix, while chromameter readings may have errors due to soil impurities.
|
Agriculture; soil science color difference (∆E); L*a*b; RGB; image processing. | 2024-04-14 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/52499 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol18n1.3 |
| 1672237 | #3358 | Kajian Pengaruh Rasio Refluks Terhadap Karakteristik Minyak Nilam Hasil Distilasi Fraksinasi |
Amrullah, Rifki Nurjanah, Sarifah Widyasanti, Asri Muhaemin, Mimin |
Minyak nilam yang diproduksi oleh petani lokal umumnya masih memiliki mutu rendah yang disebabkan oleh proses penyulingan yang relatif singkat serta masih menggunakan metode dan peralatan yang sederhana. Rasio refluks pada distilasi fraksinasi dapat digunakan sebagai perlakuan untuk meningkatkan mutu minyak nilam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari rasio refluks terhadap mutu dan karakteristik minyak nilam hasil distilasi fraksinasi serta kondisi proses yang terjadi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan analisis deskriptif. Penelitian ini dilakukan dengan tiga variabel penelitian yaitu rasio refluks (20:1), (30:1), dan (40:1) dengan pengulangan sebanyak tiga kali, serta diatur untuk menghasilkan 3 fraksi (cut) pada masing-masing variabel penelitian. Parameter yang diukur meliputi rendemen proses, kadar patchouli alcohol, warna, bobot jenis, indeks bias, bilangan asam, dan kelarutan dalam etanol 90%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio refluks tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap karakteristik minyak nilam yang dihasilkan pada cut yang sama, kecuali pada nilai bilangan asam. Rasio refluks (20:1) sudah cukup baik dalam menghasilkan mutu minyak nilam, khususnya pada cut 3 karena memiliki kadar patchouli alcohol yang tinggi sebesar 85,39%, serta serta memiliki kondisi proses paling efisien karena memiliki waktu proses paling singkat, yaitu 13,28 jam serta menghasilkan rendemen tertinggi sebesar 95%.Kata Kunci: distilasi fraksinasi, minyak nilam, rasio refluks
|
Teknik Pengolahan Hasil Pertanian; distilasi; | 2017-10-26 | oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/13910 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/jt.vol11n2.8 |