Hasil Scrape Artikel 1.550.696 Paper

ID ↓ ID URL Judul Penulis Deskripsi / Abstrak Subjek / Kata Kunci Tanggal Link Identifier
1671436 #5790 KAJIAN STRUKTUR GEOLOGI DAN PENGARUHNYA TERHADAP KESTABILAN LAHAN DI DAERAH PINO BARU DAN SEKITARNYA, KABUPATEN BENGKULU SELATAN, PROVINSI BENGKULU Heriani, Nova
Sutriyono, Edy
Desa Pino Baru merupakan salah satu wilayah administratif di Kecamatan Air Nipis, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. Studi ini berfokus memberikan informasi terkait kestabilan lahan di daerah Air Nipis dan sekitarnya yang didukung dengan fenomena geologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara struktur geologi dan implikasinya terhadap kestabilan lahan di daerah penelitian. Observasi lapangan didukung dengan analisa data struktur geologi untuk menginterpretasikan struktur daerah penelitian. Satuan batuan pada lokasi penelitian meliputi 2 formasi, yaitu: Formasi Seblat dan Formasi Lemau dengan struktur geologi berupa lipatan dan sesar. Analisis remote sensing berupa NDVI untuk menampilkan tingkat kerapatan vegetasi, kemudian analisa ruggedness index menunjukkan tingkat resiko tanah yang tidak stabil, dan analisa dissection index menunjukkan tingkat resiko pergerakan tanah di daerah penelitian. Berdasarkan analisis secara keseluruhan, dapat dihasilkan interpretasi bahwa daerah dengan tingkat kerentanan longsor di daerah penelitian paling tinggi berada pada arah WSW–ENE atau di Desa Batu Ampar, Desa Pino Baru, dan Desa Sukarami.
2024-08-07 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/54429 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v22i2.54429
1671435 #5790 VULKANISME DAN KARBONAT UMUR MIOSEN DI DAERAH BANJAR-PANGANDARAN, JAWA BARAT Haryanto, Iyan
Ilmi, Nisa Nurul
Adhiperdana, Billy G.
Fauziely, Lili
Sunardi, Edy
Daerah Banjar-Pangandaran merupakan bagian dari Zona Pegunungan Selatan yang sebagian besar disusun batuan volkaniklastik Formasi Jampang. Batuannya didominasi oleh breksi, tuf dan batupasir kasar. Seluruhnya membentuk morfologi perbukitan sedang hingga terjal, dengan punggungan berarah barat-timur. Di bagian tepi dari lereng perbukitannya, tersingkap batugamping yang berumur lebih muda, yaitu Formasi Klapangunggal dan Formasi Pamutuan. Di lapangan tidak ditemukan kontak litologi, namun berdasarkan pada umur batuan yang menerus, serta kedudukannya di lapangan diduga keduanya memiliki hubungan stratigrafi yang selaras. Penelitian ini masih dalam tahap awal yang dilakukan hanya berdasarkan pada data singkapan. Analisis dilakukan dengan melakukan rekontruksi pola struktur (pola jurus), serta dipandu dengan interpretasi geologi melalui DEM.Hasil sementara menunjukan bahwa pertumbuhan carbonate mulai berlangsung ketika aktivitas volkanisma pawa waktu Miosen Bawah Berakhir. Pada saat itu di antara tinggian volkanik, memiliki lingkungan marin yang tenang dan dangkal, sehingga memungkinkan terbentuknya pertumbuhan carbonate. Di lihat dari peyebarannya, carbonate disimpulkan sebagai barrier kecil dan lainnya sebagai pitch reef.
2018-09-03 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/17293 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v16i2.17293
1671434 #5790 DISTRIBUSI VERTIKAL OSTRACODA DAN HUBUNGANNYA DENGAN PERUBAHAN LINGKUNGAN DI PERAIRAN TELUK JAKARTA -, Lili Fauzielly
A vertical distributions from quantitative analysis of ostracods and Total Organic carbon (TOC) was recorded from short sediment core from inner part of Jakarta Bay. A total of 56 ostracod species were obtained from 9 core samples. The dominant species were Keijella carriei and Loxoconcha wrighti, which are common in areas with high TOC and TN contents. According to analysis of ostracod assemblages and CNS analysis, the site began to be influenced by organic contamination from around 1950. Although the population of Jakarta City has increased rapidly since then, TOC and TN contents which were low, have gradually increased (0.58%–0.9%). The increased sedimentation rate after 1950 resulted in an increasing TOC ratio.
Ostracoda, TOC, CNS analysis, Jakarta Bay 2013-08-07 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8292 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v11i2.8292
1671433 #5790 FACIES AND PETROGRAPHIC CHARACTERISTICS OF CILETUH FORMATION IN THE MANDRAJAYA AREA, CIEMAS SUBDISTRICT, WEST JAVA Sayaf, Ival Umar
Isnaniawardhani, Vijaya
Hardiyono, Adi
Natasia, Nanda
The Eocene Ciletuh Formation, exposed within the Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark, provides a key record of syn-tectonic sedimentation in West Java. While its general submarine fan setting is known, detailed facies and petrographic studies in specific localities are limited. This study aims to characterize the sedimentology of the Ciletuh Formation sandstone in the Mandrajaya area through an integrated analysis of lithofacies, petrography, and their spatial distribution to reconstruct its depositional environment. The methodology involved geological mapping to document outcrop characteristics and collect samples, followed by petrographic analysis of sandstones and conglomerates. Four primary lithofacies were identified: (a) matrix-supported polymictic conglomerate, (b) graded sandstone, (c) parallel-laminated sandstone, and (d) massive sandstone. Petrographic analysis reveals that the sandstones are texturally immature Lithic Arenites, and the conglomerates contain polymictic clasts of gabbro and recycled sandstone within a similar lithic arenite matrix. The spatial distribution of these facies delineates a submarine fan architecture, characterized by channel-fill deposits (conglomerates and massive sandstones) flanked by associated levee and overbank deposits (graded and laminated sandstones). The lithofacies association and petrographic composition confirm deposition within a dynamic submarine fan system sourced from a "Recycled Orogenic" belt, specifically the uplifted Ciletuh mé‎lange complex, within a tectonically active Paleogene fore-arc basin.Keywords: Submarine Fan, Lithic Arenite, Conglomerate, Fore-arc Basin, Sedimentation, Turbidite, Eocene.
2025-08-07 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/65345 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v23i2.65345
1671432 #5790 ANALISIS GEOLOGI TEKNIK PADA KESTABILAN LUBANG BUKAAN TAMBANG BAWAH TANAH MENGGUNAKAN METODE LEMEN HINGGA Adnyano, A.A Inung Arie
Fallah, Rizqi Fahrizal
Salah satu permasalahan yang sering dihadapi pada sistem penambangan bawah tanah adalah kestabilan lubang bukaan. Potensi ketidakstabilan yang terjadi pada lubang bukaan bawah tanah akan selalu membutuhkan penanganan khusus terutama untuk menjaga keselamatan pekerja, dan mencegah terganggunya produksi (Koesnaryo, 1999). Kestabilan lubang bukaan dan peranan ketebalan pilar yang ditinggalkan berkaitan erat dengan penggunaan sistem penyangga. Peranan pilar penting untuk aktifitas penambangan, semakin tipis pilar yang ditinggalkan, semakin besar perolehan bijih, akan tetapi potensi terjadi keruntuhan akan semakin besar.  menunjukan bahwa pilar harus kuat dan mampu menahan beban dalam jangka waktu tertentu agar proses penambangan dapat berlangsung dengan baik. Maka dari itu, diperlukan analisis kestabilan dan dimensi pilar agar resiko akibat ketidakstabilan dapat teratasi. Penelitian ini dilakukan di CKN_975_XC12_STH PT. Cibaliung Sumberdaya, yang terletak di Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kekuatan batuan yang digali dengan memperkiran nilai Faktor Keamanan (FK) lubang bukaan. Pengklasifikasian batuan dilakukan dengan RMR system dan nilai FK diperoleh menggunakan kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb. Pemodelan lubang bukaan dengan menggunakan metode elemen hingga. Berdasarkan karakterisasi massa batuan disekitar lubang bukaan adalah terkekarkan kelas IV (poor) dengan kisaran nilai RMR 30 – 35. Lubang bukaan yang diteliti adalah Sistem penyangga existing CKN_975_XC12_STH double drift dengan jarak 5 meter layak digunakan.Kata Kunci : geoteknik, tambang bawah tanah, faktor keamanan.
2020-01-21 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/24900 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v17i3.24900
1671431 #5790 SISTEM PANASBUMI BERDASARKAN ANALISIS GEOKIMIA AIR PANAS DAERAH AMOHOLA DAN SUMBERSARI, KECAMATAN MORAMO, KABUPATEN KONAWE SELATAN, PROVINSI SULAWESI TENGGARA Aprilia, Fitriani Dewi
Yuningsih, Euis Tintin
Patonah, Aton
Rezky, Yuano
Yushantarti, Anna
Nurdin, Asep
The research area is located in Amohola and Sumbersari, Moramo sub-district, Konawe South regency, Southeast Sulawesi Province. Geographically located between 122°35’6,07" – 122°45'58,94" BT dan 4°5'20,28" – 4°16'10,85" LS. The research areas have a stratigraphy consisted of Meta-limestones, Phylite, Schist, Quartzite, Conglomerates, Limestones, Carbonate Sandstone, Claystone, and sediment surface. Hot waters have temperatures ranging from 37,5oC to 50oC. The fluid geochemical data affirm that the Amohola area has Chloride type of water, which indicates it is close to the heat source, whereas in Sumbersari area has Bicarbonate water type, which indicates that the fluid has affected by meteoric water. Geothermal system in these two areas assumed that has separated by tectonic activity and the emersion of the lithology affected the chemical content of the hot fluid. The Geotermometer indicates that the subsurface of Amohola manifestations temperatures are around 146°C (medium enthalpy), whereas in Sumbersari 43°C (low enthalpy).
2015-04-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8391 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v13i1.8391
1671430 #5790 STUDI PROVENANCE BATUPASIR FORMASI - FORMASI DI CEKUNGAN OMBILIN, SUMATRA BARAT -, Euis Tintin Yuningsih
Based on rock composition percentage of feldspar, quartz and rock fragment on Q-F-L triangle diagram, the sandstone provenance of Brani Formation is continental block, otherwise Sawahlunto and Sawahtambang Formations is recycled orogen. Qm-F-L triangle diagram shows the provenance of Brani, Sawahlunto and Sawahtambang Formations is continental block, Sangkarewang and Ombilin Formations is transitional magmatic arc placed in the Cretaceous orogen belt as a result of convergency of Mergui-Woyla microplates. Based on rock composition percentage on the Qp-Lv-Ls triangle diagram, the source for Brani and Sawahtambang Formations is mixed orogenic sand, Sawahlunto Formation is collision orogen and mixed orogenic sand, otherwise the source for Sangkarewang and Ombilin Formations is arc orogen where the zone of collision is the suturing of Mergui-Woyla microplates, Qm-P-K triangle diagram shows that Brani, Sawahlunto and Sawahtambang Formations have high maturity or stability from continental block indicated the source of stable micro continen (continental block provenances) as a part of Mergui-Woyla terrane, Sangkarewang Formation has low maturity or stability
continental block, recycled orogen, transitional magmatic arc, mixed orogenic sand, collision orogen, arc orogen, maturity, stability 2007-01-03 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8132 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v5i1.8132
1671429 #5790 KORELASI BIOSTRATIGRAFI FORAMINIFERA PLANKTON DAN NANNOPLANKTON TERSIER INDONESIA BAGIAN TIMUR (Studi Kasus: Pulau Sumba) Isnaniawardhani, Vijaya
Abdullah, Chalid Ilham
Pratiwi, Santi Dwi
ABSTRAKStudi korelasi biostratigrafi Tersier dilakukan di Pulau Sumba yang tersusun oleh batuan sedimen klastik hasil pengendapan di lingkungan laut dalam. Foraminifera plankton dan nannoplankton dijumpai melimpah pada singkapan-singkapan batuan yang secara stratigrafi bisa ditelusuri kemenerusannya. Zonasi biostratigrafi foraminifera plankton dan korelasinya dengan zonasi biostratigrafi nannoplankton ditentukan berdasarkan batas pemunculan dan kepunahan spesies indeks. Tatanan biostratigrafi foraminifera plankton Pulau Sumba dapat dikelompokkan menjadi 12 zona, yang berurutan dari tua ke muda sebagai berikut: (1) zona selang Globigerina tripartita - Globorotalia centralis, (2) zona kisaran Globorotalia mexicana, (3) zona kisaran Globorotalia centralis, (4) zona kisaran Globigerina tapuriensis, (5) zona kisaran Globigerina ampliapertura, (6) zona kisaran Globigerinoides quadrilobatus altiaperturus, (7) zona kisaran Praeorbulina glomerosa curva, (8) zona kisaran Sphaeroidinella subdehiscens, (9) zona selang Globorotalia acostaensis – Globorotalia plesiotumida, (10) zona selang Globorotalia plesiotumida - Globorotalia tumida, (11) zona selang Globorotalia tumida - Sphaeroidinella dehiscens, dan (12) zona kisaran Sphaeroidinella dehiscens. Tatanan biostratigrafi nannoplankton Pulau Sumba dapat dibedakan menjadi 11 zona, yaitu: (1) zona kisaran Discoaster tani nodifer, (2) zona selang Chiasmolithus oamaruensisSphenolithus pseudoradians, (3) zona selang Sphenolithus pseudoradians – Sphenolithus distentus, (4) zona selang Sphenolithus distentus – Discoaster druggi, (5) zona selang Discoaster druggi - Helicosphaera ampliapertura, (6) zona selang Helicosphaera ampliapertura - Sphenolithus heteromorphus, (7) zona kisaran Discoaster hamatus, (8) zona selang Discoaster hamatus – Discoaster quinqueramus, (9) zona kisaran Discoaster quinqueramus, (10) zona selang Discoaster quinqueramus - Discoaster asymmetricus, dan (11) zona kisaran Discoaster asymmetricus. Korelasi biostratigrafi berdasarkan foraminifera plankton dan nannoplankton pada urutan batuan Paleogen yang umumnya tersingkap di Sumba Barat; maupun Neogen yang tersingkap di Sumba Barat dan Timur menunjukkan resolusi yang baik dalam penentuan umur.Kata Kunci:biostratigrafi, foraminifera plankton, sumba barat, paleogen, penentuan umur.ABSTRACTTertiary biostratigraphy correlation studies were carried out on Sumba Island which is composed of clastic sedimentary rocks deposited in the deep-sea environment. Plankton foraminifera and nannoplankton are abundantly found in rock outcrops which can be traced stratigraphically. The plankton foraminifera biostratigraphy zonation and its correlation with the nannoplankton biostratigraphy zonation was determined based on the occurrence and extinct of index species. The plankton foraminifera succession on Sumba Island can be grouped into 12 zones, from old to young as follows: (1) Globigerina tripartita - Globorotalia centralis interval zone, (2) Globorotalia mexicana range zone, (3) Globorotalia centralis range zone, (4) ) Globigerina tapuriensis range zone, (5) Globigerina ampliapertura range zone, (6) Globigerinoides quadrilobatus altiaperturus range zone, (7) Praeorbulina glomerosa curva range zone, (8) Sphaeroidinella subdehiscens range zone, (9) Globorotalia acostaensis - Globorotalia plesiotumida interval zone, (10) Globorotalia plesiotumida - Globorotalia tumida interval zone, (11) Globorotalia tumida - Sphaeroidinella dehiscens interval zone, and (12) Sphaeroidinella dehiscens range zone. The nannoplankton biostratigraphic succession on Sumba Island can be divided into 11 zones, namely: (1) Discoaster tani nodifer range zone, (2) Chiasmolithus oamaruensis - Sphenolithus pseudoradians interval zone, (3) Sphenolithus pseudoradians - Sphenolithus distentus interval zone, (4) Sphenolithus distentus - Discoaster druggi interval zone, (5) Discoaster druggi - Helicosphaera ampliapertura interval zone, (6) Helicosphaera ampliapertura - Sphenolithus heteromorphus interval zone, (9) Discoaster hamatus range zone, (8) Discoaster hamatus - Discoaster quinqueramus interval zone, (9) Discoaster quinqueramus range zone, (10) Discoaster quinqueramus - Discoaster asymmetricus interval zone, and (11) Discoaster asymmetricus range zone. Biostratigraphic correlation based on foraminifera plankton and nannoplankton in Paleogene rock sequences which are generally exposed in West Sumba; and Neogene exposed in West and East Sumba show a good resolution in age determination.Keyword: biostratigraphy, plankton foraminifera, west sumba, paleogen, age determination.
2021-05-06 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/33039 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v19i1.33039
1671428 #5790 Studi Awal Potensi Bahan Galian Pada Daerah Kabupaten Belitung Timur, Indonesia Natasia, Nanda
Barkah, Muhammad Nursiyam
Saputra, Dian Hari
Alfadli, Muhammad Kurniawan
The mining development is influences the economy growth and support to increases the society prosperity. East Belitung be able to execute the mining development which have some potential mining resources such tin, galena, iron ore, bauxite, granite, quartz sand, and kaolin. The research method is field observation to find out the geological condition and the mining material resources along with GIS analysis for representation the geomorphology and geology in East Belitung. East Belitung geomorphology consist of plains and hills with elevation more than 600 msl. The plain area is used for tin exploration and oil palm plantation, while the hill area for protected forest. East Belitung geology consist of alluvium, carbon sand, Tajam Formation, Kelapakampit Formation, Siantu Formation, Tanjungpandan Granite, Baginda Adalemite, Burungmandi Granodiorite, Batubesi Quartz Diorite. The geology structure in East Belitung are fold, fault and crack. Generally, the fold direction is NW-SE, the fault direction is NE-SE. Based on geochemical analysis and the distribution of mining material resources can be concluded that East Belitung area have large potential of mining material resources, it seen from galena, iron ore and bauxite materials that have intermediate until good quality. Besides that, from the delineation of potential distribution map shown the mining material have extensive distributions and can be optimization for regional development and society prosperity. Keywords : Mining Material, East Belitung, Delineation of Potential Distribution, Mining ABSTRAKPerkembangan area pertambangan sangat berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi suatu daerah dan membantu dalam peningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu daerah yang dapat melakukan pengembangan area pertambangan adalah Belitung Timur yang memiliki beberapa potensi bahan galian antara lain timah, galena, biji besi, bauksit, granit, pasir kuarsa, dan kaolin. Metode penelitian berupa pengamatan lapangan untuk mengetahui kondisi geologi dan sumberdaya bahan galian serta analisis GIS untuk mendapatkan gambaran geomorfologi dan geologi Kepulauan Belitung. Geomorfologi pada daerah Belitung Timur berupa pedataran dan perbukitan yang ketinggiannya berada diatas 600 mdpl. Pedataran lebih banyak dipergunakan untuk penambangan timah dan perkebunan sawit, sedangkan perbukitan dimanfaatkan untuk hutan lindung. Geologi pada daerah Belitung Timur terdiri dari Aluvium, Pasir berkarbon, Formasi Tajam, Formasi Kelapakampit, Formasi Siantu, Granit Tanjungpandan, Adalemit Baginda, Granodiorit Burungmandi, Diorit Kuarsa Batubesi. Struktur geologi yang berkembang pada kawasan ini adalah lipatan, sesar dan kekar .Arah sumbu lipatan umumnya Baratlaut-Tenggara, sedangkan sesar berarah Timurlaut-Baratdaya. Berdasarkan analisis geokimia dari sampel lapangan dan sebaran dari bahan galian yang ada dapat disimpulkan bahwa daerah kawasan Belitung Timur memiliki potensi bahan galian yang besar, terlihat dari kandungan bahan galian galena, biji besi, dan bauksit yang memiliki kadar menengah hingga tinggi. Selain itu, dari hasil deliniasi sebaran potensi memperlihatkan sebaran bahan galian berpotensi yang berada pada kawasan Belitung Timur sangat besar dan dapat dioptimalisasi agar berguna untuk pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kata kunci : Bahan Galian, Belitung Timur, Deliniasi Sebaran Potensi, Pertambangan.
2016-10-13 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/9801 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v14i2.9801
1671427 #5790 POTENSI GEOWISATA KAWASAN GUNUNG BADAK, TELUK CILETUH-SUKABUMI -, Mega F. Rosana
Gunung Badak area, Ciletuh Bay, Sukabumi is area that has a rare diversity of rock at West Java region. Morphology of this area is interesting enough for one of the aspects of tourism, especially geological asptect (geotourism).This reveals the general geotourism potential in the Ciletuh Bay area. Method used in this study is a survey directly in the field and a review of some aspects of the geological literature Ciletuh. There are three groups of objects geotourism that can be developed in this area, namely: Amphiteater Morphology of Ciletuh Bay; Mandra Island; Manuk Island; Kunti Island and Lava pillows; G. Badak and G. Aseupan.Management and effective supervision are required to develop this potential to be geotourism, considering this area is part of Nature Reserve Cibanteng. Development potential to the south towards Ujung Genteng geotourism quite well developed for tourism towards the coast, and the green turtle protection.
Gunung Badak, Geotourism, Ciletuh Bay 2008-12-03 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8166 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v6i2.8166
1671426 #5790 KERENTANAN POTENSI BANJIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI CITARIK BAGIAN HULU, KABUPATEN BANDUNG, PROVINSI JAWA BARAT Wahyuni, Sri
Listiawan, Yudhi
Sulaksana, Nana
Alfadli, Muhammad Kurniawan
Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarik Bagian Hulu secara administratif berada di Kabupaten Bandung dan sebagian Kabupaten Sumedang. Sungai Citarik merupakan anak dari Sungai Citarum yang melewati beberapa daerah seperti Cicalengka dan Rancaekek. Perkembangan wilayah yang pesat didaerah yang dilewati oleh Sungai Citarik ini menyebabkan sering terjadinya banjir saat musim hujan. Banjir yang terjadi didaerah ini selain disebabkan karena perubahan tutupan lahan yang masif juga dipengaruhi oleh faktor alamiah seperti peningkatan curah hujan dan faktor morfologi dari Sungai Citarik itu sendiri. Daerah penelitian dibagi menjadi 20 daerah tangkapan air (catchment area). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kerentanan potensi banjir berdasarkan analisis morfometri. Parameter morfometri yang digunakan yaitu rasio kebundaran (Rc), kerapatan pengaliran (Dd), gradien sungai, dan kemiringan lereng. Parameter tersebut sebagai aspek kuantitatif bentuk lahan. Selain itu, parameter curah hujan dan penggunaan lahan juga digunakan sebagai parameter penentuan kerentanan banjir pada daerah penelitian. Hal ini ditunjukkan dengan hasil analisis karakteristik morfometri pada daerah penelitian memiliki bentuk DAS membundar - memanjang, kerapatan pengaliran sedang, gradien sungai rendah, curah hujan agak rendah, dan kemiringan lereng yang bervariasi dari datar-sangat curam. Terdapat 3 tingkat kerentanan banjir di daerah penelitian yaitu Wilayah Tidak Rentan di sebelah utara dan selatan daerah penelitian, Wilayah Sedikit Rentan pada bagian utara hingga selatan, dan Wilayah Agak Rentan pada bagian barat hingga tenggara daerah penelitian.
2023-01-10 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/43018 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v20i3.43018
1671425 #5790 POTENSI AKUIFER KAMPUS ARJASARI BERDASARKAN PENGAMATAN NILAI TAHAN JENIS BATUAN Mohamad, Febriwan
Mardiana, Undang
Yuniardi, Yuyun
Nur, Andi Agus
Alfadli, Muhammad Kurniawan
ABSTRACTGeoelectric measurement was done in order to obtain the presence, depth, thickness, quantity and distribution of aquifers in the study area. Geoelectric was done by applying 1-D Schlumberger configuration (DC sounding). Rock layer with a resistivity value ranges <20 μm indicates rocks with low resistance values, dominates the surface until 50 meters depth with varying thickness. This layer lithology thought to be composed of weathered soil, fine tuff and lapilli tuff. This layer is assumed to act as aquiclude, porous media that can store water but acts as barrier to the flow of groundwater. This lithology group can be filled by water during the rainy season, but in dry season contain very small amount of water. Rock layer with resistivity value ranges between 20 μm - 60 μm interpreted as coarse tuff intercalating with fine tuff, founded at 75 meters depths below the surface. Rock layers with high resistance values (> 60 μm), founded more than 75 meters in the north area, assumed to be volcanic breccia with tuff as matrix, and have small potential to act as aquifer. Keyword: Geoelectric, Schlumberger, Aquifer, Resistivity ABSTRAKPengukuran geolistrik yang dilakukan dalam upaya untuk mendapatkan kehadiran, kedalaman, ketebalan, jumlah dan penyebaran akuifer. Hasil  pengukuran geolistrik (Sounding) dengan konfigurasi Schlumberger Kelompok batuan dengan nilai tahanan jenis berkisar antara  <20 Wm yang mengindikasikan batuan dengan nilai tahanan jenis rendah mendominasi permukaan hingga kedalaman 50 meter dengan ketebalan bervariasi. Lapisan ini diduga memiliki litologi penyusun terdiri atas tanah lapukan, tuf halus dan tuf lapili. Lapisan ini diduga berperan sebagai akiklud, yaitu media berpori yang dapat menyimpan air tetapi tidak dapat mengalirkan airtanah yang dapat terisi oleh air pada musim hujan, namun pada musim kering tidak mengandung air. Lapisan batuan dengan nilai tahanan jenis antara 20 Wm - 60 Wm  diinterpretasi litologi tuf kasar berselingan dengan tuf halus, berada pada kedalaman mulai 75 meter di bawah permukaan. Lapisan batuan dengan nilai tahanan jenis tinggi (>60 Wm), mulai di kedalaman lebih dari 75 meter di bagian utara diperkirakan breksi vulkanik dengan matriks berupa tuf, dan memiliki potensi kecil sebagai akuifer. Kata Kunci: Geolistrik, Schlumberger, Akifer, Resistivitas
2017-08-14 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/13383 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v15i2.13383
1671424 #5790 POTENSI ENDAPAN EMAS SEKUNDER DAERAH MALINAU, KALIMANTAN TIMUR Hardiyono, Adi
The purpose study to recognize and interprete resources of gold deposit in Long Agung, Malinau District, East Kalimantan Province. The field work also to interprete system of gold deposit in research area.
2014-04-01 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8359 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v12i1.8359
1671423 #5790 PENELITIAN STRUKTUR GEOLOGI DAN KAITANNYA TERHADAP KEMUNGKINAN ADANYA POTENSI EMAS PRIMER DAERAH GUNUNG ASTANA BOGOR, JAWA BARAT Haryanto, Iyan
The study area that is mainly hilly, contains volcanics matters such as breccias, tufaceous lapili, tufand lava. Several outcrops are followed by mineralization where quartz vein also occurred.Developed structures in the study area are quite complex, where NE – SW faults pairing with NW –SE faults. Mineralization zones and quartz vein are found on faults segments, these evidence shows thatthere are primary Au prospect at the subsurface in the study area.
Volkanostratigraphy, Structural geology, vein. 2005-10-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/7454 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v3i2.7454
1671422 #5790 KAJIAN GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN FORMASI KARANGSAMBUNG SERTA FORMASI TOTOGAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN AKUIFER AIRTANAH DI DESA KALISANA KABUPATEN KEBUMEN Mareta, Nandian
Ansori, Chusni
AbstractKarangsambung-Totogan Formation is the most exposed rock unit in Kalisana Village, Karangsambung, Kebumen. These two formations also form the bedrock of the study area, which consists of claystone. The Karangsambung-Totogan Formation is composed of sedimentary groups which are mixed up due to the gravity process known as Olistostrome. Pieces of centimeter to hundreds of meters of sedimentary rocks are scattered randomly during the scaly clay matrix. Kalisana Village is around 20 kilometers from the center of Kebumen Regency. Kalisana Village has an area of 349 hectares, with 109.86 hectares of rice fields and 239.14 hectares of dry land. Rice field area consists of irrigated and non-irrigated rice fields. Every year this research area often experiences water shortages during the dry season. The purpose of this study is to get a reference in making decisions to overcome the shortage of raw water in areas affected by drought through groundwater sources. The research methods include the preparation stage (literature study, previous research studies, preparation of tools, review of maps, etc.), field orientation, field work/measurements, data compilation, data analysis, evaluation and data processing. The results obtained three geological rock units namely; claystone associated with the Karangsambung Formation, a fragmented claystone unit associated with the Totogan Formation and breccias associated with the Waturanda Formation. Based on the geoelectric sonding results at three sounding locations, a subsurface image is obtained. At first sonding was found sandstones at depth of 11-18 meters with an aquifer thickness of about 7 meters. Correlation of tree geoelectric sonding location successfully described the subsurface of the Karangsambung-Totogan Formation which forms the base. The maximum geoelectric depth is around 120 meters. Keyword: Karangsambung Formation, Totogan Formation, Karangsambung, Geoelectric, aquifer AbstrakFormasi Karangsambung-Totogan merupakan satuan batuan yang paling banyak tersingkap di Desa Kalisana, Karangsambung, Kebumen. Dua formasi ini juga menjadi batuan alas di lokasi penelitian, yang terdiri dari batulempung. Formasi Karangsambung-Totogan tersusun oleh kelompok sedimen yang tercampur aduk karena proses pelongsoran gaya berat yang dikenal dengan istilah Olistostrome. Bongkah-bongkah batuan sedimen berukuran centimeter hingga ratusan meter tersebar secara acak dalam masadasar lempung hitam bersisik (scaly clay). Desa Kalisana berjarak sekitar 20 Kilometer dari pusat Kabupaten Kebumen. Desa Kalisana mempunyai luas 349 Ha, dengan luas lahan sawah 109,86 Ha dan lahan kering seluas 239,14 Ha. Luas lahan sawah terdiri dari sawah irigasi dan non-irigasi. Setiap tahun lokasi penelitian ini sering mengalami kekurangan air saat musim kemarau. Maksud penelitian ini adalah mendapatkan acuan dalam pengambilan keputusan untuk mengatasi kekurangan air baku pada daerah yang terdampak kekeringan melalui pencarian sumber airtanah. Metode penelitian meliputi tahap persiapan (studi pustaka, studi penelitian terdahulu, persiapan alat, penelaahan peta-peta, dan lain-lain), orientasi lapangan, pekerjaan lapangan/pengukuran, kompilasi data, analisis data, evaluasi dan pengolahan data. Hasil yang didapatkan berupa tiga satuan batuan geologi yaitu; batulempung yang berkorelasi dengan Formasi Karangsambung, satuan batulempung berfragmen yang berkorelasi dengan Formasi Totogan dan breksi yang termasuk Formasi Waturanda. Berdasarkan hasil geolistrik di tiga lokasi sounding didapatkan gambaran bawah permukaan. Di lokasi sonding 1 ditemukan lapisan batupasir pada kedalaman 11-18 meter dengan ketebalan akuifer sekitar 7 meter. Korelasi 3 titik sonding geolistrik berhasil menggambarkan bawah permukaan Formasi Karangsambung-Totogan yang menjadi alas tersebut. Kedalaman maksimal geolistrik sekitar 120 meter.Kata kunci: Formasi Karangsambung, Formasi Totogan, Karangsambung, Geolistrik, akuifer
2020-05-13 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/26531 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v18i1.26531
1671421 #5790 PERAN TATA GUNA LAHAN TERHADAP DISTRIBUSI TINGKAT KERAWANAN EROSI DI KAWASAN CILETUH JAWA BARAT Sulaksana, Nana
Sjafrudin, Achmad
Sukiyah, Emi
Raditya, Pradnya P.
Abdulah, Fikri
Setiyanto, Puguh
Ciletuh located in Ciemas district, Sukabumi, West Java is known by its geological diversity (geodiversity). This area is located at the southwestern of Java Island and directly adjacent to the Indian Ocean. Ciletuh is a very attractive tourist visits area and deserve to be visited. This area is planned to be a National Geopark area and Global Geopark Network in 2016. This will certainly have an impact on the change of land use in the next few years. The change of land use will affect indirectly to the distribution of erosion rate in research area. The higher of land use changes, the higher of erosion rate that can cause environmental quality degradation. This research aims to reveal the land use changes can affect the level of of vulnerability to erosion in Ciletuh. This research method uses laboratory and studio analysis. Remote sensing analysis is used to delineate land use. The distribution rate of erosion in research area can be known through erosion calculation formula. Based on delineation of land use, Ciletuh have areas of land cover consisting of 6.666.104 m2 (9,7%) plantation, 10.444.567 m2 (15,2%) forests, 3.252.843 m2 (4,7%) settlements, 82.264 m2 (0,1%) swamps, 22.863.874 m2 (33,3%) paddy fields, 19.474.346 m2 (28,37%) bushes, 2.057.689 m2 (2,9%) vacant lands, and 3.788.699 m2 (5,5%) moors area. The result of early research identification indicates that the level of vulnerability to erosion associated with the greatest land cover is moor and vacant lands.
2015-08-02 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8402 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v13i2.8402
1671420 #5790 ZONASI DAERAH BAHAYA LONGSOR DI KAWASAN GUNUNG TAMPOMAS KABUPATEN SUMEDANG, JAWA BARAT -, Lucky Lukmantara
Research area generally have a big slope. Based on Van Zuidam classification (1983), the research area can be divided into 3 angle class or slope: 1) area which have surging hilly morphology with of slope range from 25 - 35 %, 2) area which have precipitous hilly morphology with slope range from 35 - 90 %, and 3) area which have hilly morphology cut sharply or hilly very precipitous with slope 90 – 150 %Area which including into landslide-zone in generally reside at area which have precipitous hilly and surging hilly morphology, there are at group 2 and 3. Both of the area of compiler rock generally not yet lihtificated powerfully, water content is high enough especially in rain season and rock generally relative soften
Landslide-zone, morphology 2007-04-04 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8141 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v5i2.8141
1671419 #5790 ANALISIS KONDISI POTENSIAL PANAS BUMI WKP SEMBALUN LOMBOK TIMUR, MELALUI PENERAPAN SISTEM INFORMASI GEOFRAFIS Nimah, Kafa Aisyana
Angelina, Riska
A., Bagus Raihan
Rosit, M. Doromit
P., M. Singgih
Sebagai negara dengan kekayaan panas bumi yang melimpah, sudah semestinya dapat memenuhi kebutuhan energi listrik lebih mudah. Salah satu indikator potensi panas bumi di sini yaitu keberadaan gunung api yang menerus dari barat hingga timur. Manifestasi panas bumi juga ditemui di daerah Sembalun, Lombok Timur. Sebagai bentuk dukungan mencapai target besar pemanfaatan panas bumi, dilakukan penelitian berupa identifikasi daerah potensial panas bumi dengan penginderaan jauh pada data citra landsat 8. Penelitian ini menggunakan parameter Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), dan Land Surface Temperatur (LST) didukung peta topografi dari data DEM dan peta geologi. Setelah dilakukan mapping dan overlaying menggunakan software ArcGIS, diperoleh hasil levalisasi potensi panas bumi daerah Sembalun yang terbagi menjadi 4, yaitu daerah dengan potensi tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah, dengan kawasan utara Gunung Rinjani menjadi area yang cukup tinggi dilihat parameter yang ada.Kata Kunci: Panas bumi, NDVI, LST, Topografi, Litologi
2021-09-15 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/34793 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v19i2.34793
1671418 #5790 HOST ROCK AND MINERALIZED ORES GEOCHEMISTRY OF BANTARHUNI VEIN, ARINEM DEPOSIT, WEST JAVA – INDONESIA Yuningsih, Euis Tintin
There are closed spatial relationship between the different phases, the different metallic minerals, the precious-metals bearing minerals, the volcanic host rock and the plutonic intrusions of the Arinem vein system. Nine samples from Bantarhuni vein including four samples from quartz-sulfide vein from different stages and level, and five samples from altered host rock were analyzed geochemically by Induced Couple Plasma (ICP) and Induced Couple Plasma Mass Spectrometer (ICP-MS) to identified the geochemical characteristics of Bantarhuni vein system. The geochemical data obtained from the quartz-sulfide vein and altered host rock of the Bantarhuni vein is mostly similar to those obtained from Arinem vein samples. Some samples from the alteration zone have contents similar to the less altered Jampang Formation and andesitic Miocene and Pliocene intrusions rocks, with a little depletion and enrichment for some oxides. The abundance of ore and gangue minerals vary among each stage of mineralization of Bantarhuni vein. The REE in the Arinem and Bantarhuni veins considered to have been extracted by water/rock interaction between hydrothermal solution and country rocks. Some REE pattern of the mineralized Bantarhuni vein show irregularly pattern and this is could be due to high content of sulfide minerals in the samples, or due to analytical error during sample dissolution. The gold and silver contents in the Arinem and Bantarhuni veins vary very much and there is relatively low Au and Ag concentrations occur in samples from any alteration zone. There is no correlation found between gold and other major ore elements except for Ag. The highest content of Au is having low ΣREE.   Keywords : Bantarhuni vein, Geochemical, quartz-sulfide vein, water-rock interaction.                                            Terdapat hubungan spasial antara fase yang berbeda, mineral logam yang berbeda, mineral yang mengandung logam mulia, batuan induk (host rock) vulkanik dan intrusi plutonik dalam sistem urat Arinem. Sembilan sampel dari urat Bantarhuni yang terdiri dari empat sampel dari urat kuarsa-sulfida dari stages dan kedalaman yang berbeda, dan lima sampel dari host rock yang terubah dianalisis secara geokimia degan Induced Couple Plasma (ICP) dan Induced Couple Plasma Mass Spectrometer (ICP-MS) untuk mengidentifikasi karakteristik geokimia dari sistem urat Bantarhuni. Data analisis geokimia yang diperoleh dari urat kuarsa-sulfida dan batuan induk terubah dari urat Bantarhuni sebagian besar sama dengan yang diperoleh dari sampel urat Arinem. Beberapa sampel dari zona alterasi memiliki kandungan mirip dengan Formasi Jampang yang terubah lemah dan batuan intrusi andesit berumur Miosen dan Pliosen, dicirikan dengan sedikit pengurangan dan pengayaan untuk beberapa oksida. Kelimpahan bijih dan mineral gang bervariasi di dalam setiap tahap mineralisasi di urat Bantarhuni. REE di urat Arinem dan Bantarhuni kemungkinan diekstraksi dengan adanya interaksi air/batuan antara fluida hidrothermal dan batuan sampingnya. Beberapa pola REE dari urat Bantarhuni yang termineralisasi menunjukkan pola yang tidak teratur dan hal ini kemungkinan disebabkan oleh tingginya kandungan mineral sulfida dalam sampel, atau karena kesalahan pada saat analisis dalam pelarutan sampel. Kandungan emas dan perak dalam urat Arinem dan Bantarhuni sangat bervariasi dan konsentrasi Au dan Ag pada sampel dari setiap zona alterasi relatif rendah. Tidak ada korelasi ditemukan antara emas dan unsur bijih utama lainnya kecuali dengan Ag. Sampel dengan kandungan Au tertinggi adalah sampel yang memiliki ΣREE rendah. Kata kunci: Urat Bantarhuni, geokimia, urat kuarsa-sulfida, interaksi air-batuan.
2017-01-26 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/10964 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v14i3.10964
1671417 #5790 MINERALISASI PADA BREKSI HIDROTERMAL, DAERAH TEPU, TAMBANG EMAS TERBUKA KELIAN, KECAMATAN LINGGANG BIGUNG, KABUPATEN KUTAI BARAT, PROPINSI KALIMANTAN TIMUR -, Antonius Bambang Yuniarto
-, Ildrem Syafri
This research was carried out at the southern pit wall in the open gold mining area of PT. Kelian Equatorial Mining, located at 00 00 '32, 56 "S - 00 05 '09, 14" South Latitude and 1150 23’ 29,02" - 1150 28' 04,73" East Longitude. Administratively, it located in the Tepu area, Subdistrict of Linggang Bigung, West Kutai, East Kalimantan province. Physiographically that area is a part of Central Kalimantan volcanic arc.Rocks exposed in this area can be divided into 4 (four) rock units, i.e. The Eocene Sandstone Unit; The Lower Miocene Andesitic Pluton Unit; The Middle Miocene Hydrothermal Breccia Unit; and The Early Miocene Diatreme Breccia Unit.Geological structures that developped in this area were joints and faults. The faults are dilational structures types, in the form of sinistral- and dextral normal faults. These geological structures facilitated the penetration of andesite, followed by the appearence of hydrothermal fluids which produced the formation of hydrothermal breccia, and diatreme breccia. Hydrothermal breccia fragment consisting of andesite and sandstone, usually in jigsaw textured which are arranged in a matrix rock flour (Sillitoe, 1985), i.e. very fine grained material that came from milling process of breccia fragments. The carbonate minerals in the form of bladed texture are dominat minerals that filled the interfragments and matrix cavities. Partially, apart of carbonate minerals, the bladed silica was also present in cavity filling. The cavity filling minerals are associated with the appearence of metallic minerals.The alteration zones in the research area can be grouped into three zones, namely: 1.) Zone containing chlorite + clay + sericite + adularia + carbonate 2.) Zone containing sericite + carbonate + clay + adularia ± quartz and 3.) Zone containing carbonate + clay + sericite + adularia + quartz / silica. These alterations are classified as subpropylitic - until phyllic zones (Corbett & Leach, 1996). Metal mineralization such as sphalerite, galena, pyrite, covellite, arsenopyrite and chalcopyrite are associated with carbonate alteration ± adularia ± quartz ± sericite ± clay were primarily formed as a cavity filling and veins in hydrothermal breccia. The analysis results of Au and Ag contents in some rocks samples of hydrothermal breccia ranged from 0.04 grams / ton to 8.96 grams / ton Ag and 0.55 to 11.8 grams / ton, while the recovery of Au ranged between 16.08% up to 85.12%. The highest content and % recovery value of Au was founded in hydrothermal breccia.The mineralization stages can be divided into three stages: 1). The pre-brecciation stage that associated with the occurence of chlorite, sericite, adularia, clay and pyrite dissemination as well as the formation of carbonate veinlets and quartzs in direction of the Northwest - Southeast, 2) The syn-brecciation stage, it related to the formation of hydrothermal breccia, i.e. the occurence of carbonate and silica enrichment and the alteration minerals such as sericite, adularia, clay that related to the deposition of base metals as cavity filling and as veinlets in the direction of Southwest-Northeast. 3) Post-breccia stage was related to the occurence of carbonate veinlets ± base metals which associated with the clay minerals. Those cut the fragments, rock flour matrix, cavities filling minerals in hydrothermal breccia after the their formation in the direction of Southwest-Northeast.Mineralization in the area of study occured as ore deposits in hydrothermal breccia and in the veins as well as the veinlets. Hydrothermal breccia formed by two processes, i.e.; structural control and high-pressure hydrothermal fluids, at the temperature more than 200° - 250° C, with the acidity condition of (pH) 6, 6-8, 3. This condition is classified as a system of low sulphidation that related to porphiry with gold-carbonate base metal deposits (Corbett & Leach, 1996).
mineralization 2009-11-05 oai:ojs.jurnal.unpad.ic.id:article/8236 buka_link ↗ Highlight_link 10.24198/bsc.v7i2.8236
Menampilkan 1.741 - 1.760 dari total 1.550.696 data